-- Andante Excelsior--

Chapter Three

-- Sub Rosa--

B menguap lebar dan merenggangkan tubuhnya. Jam di dinding kamar Light menunjukkan pukul satu dini hari. Sudah setengah jam lebih berlalu sejak Light pergi mengambil cemilan dan minuman di dapur. B mengerutkan dahi curiga. Apa mungkin Light memutuskan untuk tidur di dapur karena tidak dapat menahan kantuk?

Tidak mungkin. Light bukan orang yang bisa tertidur di dapur begitu saja. Light adalah tipe orang yang berjuang untuk pergi ke tempat tidur walau harus tertidur di tengah jalan.

Ups, tampaknya ia harus pergi mencari Light.

Lagipula B merasa sedikit bersalah karena membuat Light sibuk mencari DVD Kriminologi dan Psikologi Forensik yang ia sembunyikan di balik CPU.

Dengan menghela nafas panjang, B bangkit dari posisi duduknya yang nyaman dan berjalan menyusuri lorong gelap Whammy House yang ia kenal sebaik telapak tangannya sendiri. Ia memutuskan memotong jalan melalui ruang permainan yang seharusnya kosong tengah malam itu. Banyak siswa yang menghindari ruang permainan kala malam karena rumor hantu yang bermunculan. Ada yang melihat robot-robotan bergerak sendiri dan ada yang bilang suara-suara aneh terdengar ketika tidak ada orang di ruang tersebut.

B tahu dengan jelas wujud asli dari misteri-misteri tersebut.

B membuka pintu ruang permainan tanpa suara. Dari jauh terlihat beberapa mainan dengan nyala hijau misterius melayang-layang di udara. Suara-suara aneh mulai terdengar dengan jelas mengisi ruang permainan yang kedap suara itu.

B menghidupkan lampu ruang permainan.

"Argh, B! Matikan lampunya aku jadi tidak bisa konsentrasi melawan boss level 22!" gerutu Matt terdengar dengan jelas dari sofa.

"Setting malam Batman yang kumainkan jadi rusak," keluh Near pelan dari lantai seberang ruangan. Mainan berlapis fluorescent miliknya tergeletak di lantai.

"Dasar kalong-kalong kecil. Kalau kalian begini terus mata kalian bisa rusak, tahu," sahut B sambil menggeleng. Ia tertegun sejenak melihat angka merah di atas kepala Matt. "Matt, kau merokok lagi, ya? Bukankah Roger sudah bilang akan menyita DS-mu kalau kau ketahuan merokok?"

Matt terlihat syok. "Sial, dari mana kau tahu? Aku cuma beli satu pak sewaktu jalan-jalan ke London!"

B menatap angka Matt yang belum bertambah. "Sebaiknya kau tidak mengulangi kebiasaan burukmu itu jika tidak ingin cepat mati."

Matt hanya menyisir rambutnya ke belakang dengan tangan. "Jangan menceramahiku! Kau kan tidak tahu kapan aku akan mati. Kau bukan dewa."

B terhenyak. Perkataan Matt seolah mengena tepat pada sasaran. B hanya bisa melihat angka merah di atas kepala Matt berkurang detik demi detik tanpa bisa berbuat apa-apa.

Tik. Tik. Tik. Tik. Nol.

B tertawa lemah. "Tentu saja aku tidak tahu, Matt. Tentu saja aku tidak tahu. Aku bukan dewa kematian, ya 'kan?"


L mengintai Light dengan hati-hati dari sudut matanya. Setelah menyapa L, Light meneruskan langkahnya dan membuka kulkas yang penuh dengan makanan cemilan dan minuman ringan. Light mengambil apel yang berada di rak kulkas paling bawah yang biasa dijauhi penghuni Whammy House karena hanya berisi buah-buahan; tidak terkecuali L ketika ia masih berada di Whammy House. Light juga mengambil sekaleng minuman bersoda dari kulkas dan sekantong besar kripik kentang dari lemari.

L hanya bisa menyaksikan dengan tertarik saat Light duduk di kursi di hadapan L. Anak berusia empat belas tahun itu terlihat santai saja memakan apel berwarna merah di hadapan L. Ia bertingkah seolah L hanya penghuni Whammy House lainnya dan bukan… bukan L.

Ia jadi teringat pada sikap Near dan Mello ketika L pertama kali menunjukkan keberadaannya via laptop pada anak-anak Whammy. Mereka bersikap acuh. Orang awam mungkin akan menganggap hal itu sebagai reverse psychology, bersikap acuh agar diperhatikan, tetapi L tahu lebih baik dan menganggap bahwa mereka berpikir L adalah saingan yang pasti akan mereka kalahkan. Figur yang tidak perlu dicontoh karena mereka pasti akan lebih baik.

Kesombongan, pikir L, akan menjadi kehancuran mereka.

Namun, hal itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu. L tidak dapat berkomentar tentang Near dan Mello yang sekarang.

Ketika Light telah selesai memangsa apel dan kripik kentangnya, L mulai bicara.

"Raito-kun," mulai L. Langsung ditanggapi dengan tatapan tajam dari Light.

"Ketika seorang anak tiba di Whammy House, ia harus memilih sebuah alias," ujar Light tegas, "apa gunanya ia memilih alias kalau saat berbicara ia dipanggil dengan nama aslinya?"

"Alias digunakan untuk mencegah musuh mengetahui identitas asli kita dan menggunakan informasi yang didapat dari nama asli untuk melawan kita," terang L. "Saat ini tidak ada musuh terlihat dan kita berada di teritori kita sendiri. Apa yang harus dikhawatirkan?"

Light tersenyum sinis. "Kau tidak akan pernah tahu kapan teman bisa menjadi musuh."

"Raito-kun," ujar L ketus, "Kecurigaan adalah akar dari perselisihan."

"L," sahut Light meniru nada yang dipakai L, "Orang yang tidak pernah curiga adalah orang yang pertama kali ditusuk dari belakang."

"Mungkin pengkhianatan adalah buah kecurigaan?"

"Mungkin seseorang tidak menyediakan payung ketika langit terlihat mendung?"

"Membawa payung di tengah terik matahari hanya akan terlihat konyol."

"Lebih baih daripada kehujanan dan masuk angin lagipula payung juga bisa—"

"Jadi," potong L sebelum diskusinya berlanjut lebih jauh, "maksudku datang menemuimu adalah untuk membicarakan soal keputusanmu setelah keluar dari Whammy."

Light yang tadinya terlihat sedikit tersinggung karena poin debatnya terpotong langsung terdiam.

"Pembicaraan ini tidak ada gunanya. Aku sudah memikirkan keputusanku masak-masak. Kalau Roger dan Mr. Whammy menyuruhmu ke sini hanya untuk mengubah pemikiranku, kau melakukan hal yang sia-sia."

"Aku tidak berminat mengubah pikiranmu," kata L tenang, "Aku hanya ingin tahu apa alasanmu sehingga kau tidak ingin menjadi L selanjutnya."


B berjalan dengan langkah santai menuju dapur. Sesampainya di depan pintu ia merasa heran dengan suasana sunyi yang menyelimuti tempat itu. Mungkin, pikir B, Light tertidur di dapur ketika makan cemilan. Mungkin saat itu Light jatuh terpuruk di jalan menuju pintu dapur. B memutar matanya, Light memang tipe orang yang suka memaksakan diri.

Ketika tangannya mulai menjamah gagang pintu ia terdiam. Pintu dapur itu terlihat baru. Ia kemudian teringat cerita Light bahwa Mello menghancurkan pintu dapur ketika mengejar Matt yang dituduh mencuri coklat. Siapapun yang telah memberi usul pada Mello untuk mengambil karate sebagai kelas tambahan patut diasingkan di kutub selatan seumur hidup. Tunggu dulu. Matt-lah yang telah memberi usul tersebut pada Mello. Mengingat Matt biasanya menjadi target jurus baru ciptaan Mello, ia merasa Matt telah menerima ganjaran yang setimpal.

B tanpa sadar menyusuri ukiran pada pintu kayu dapur tersebut. Lekukan pada kayu tersebut membentuk bunga mawar di tengah dengan daun, dahan, dan akar mengelilinginya. Alam bawah sadar B membisikkan kata 'sub rosa' padanya. B mengerjapkan matanya. Implikasi dari pernyataan 'di bawah mawar' dari abad pertengahan terngiang di benaknya.

"Ada beberapa alasan mengapa aku tidak ingin menjadi L." Suara Light terdengar dengan samar dari balik pintu. B membeku. Tanpa sengaja ia menguping pembicaraan yang terjadi di balik pintu dapur.


"Aku tidak ingin mengambil posisi yang sudah ada. Aku ingin membangun suatu posisi dari awal. Aku menginginkan sesuatu yang kudapat dari hasil kerjaku sendiri."

"Raito-kun, posisi L adalah posisi yang bisa kau ambil melalui hasil kerjamu di Whammy House," sanggah L.

"Tapi tetap tidak sama dengan posisi yang kumulai sendiri dari awal," Light menjelaskan, "Dengan menjadi L, aku harus menggantikan L yang lama. Dengan menggantikan L yang lama akan ada ekspektasi dari berbagai kalangan mengenai apa yang harus dan tidak boleh kulakukan sebagai L. Dengan adanya ekspektasi tersebut, gerakanku akan terbatasi. Aku hanya akan menjadi cetakan L."

"Kau tidak akan menjadi cetakan L."

"Selanjutnya," sahut Light tanpa mempedulikan sanggahan L, "Aku tidak bisa mengikuti konsep kebenaran L."

"Konsep kebenaran?"

Light mengangguk. "Dalam aksinya, L kadang harus melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum. Misalnya, bekerjasama dengan gembong pengedar untuk mengetahui lokasi kriminal yang dicari, atau memasang alat penyadap di rumah-rumah warga sipil secara diam-diam."

Light menatap lantai keramik putih di bawah sepatunya. "Aku… tidak bisa melakukan hal-hal tersebut. Bagiku kebenaran, keadilan yang patut diperoleh harus didapatkan dengan cara yang jujur, yang sesuai degan hukum. Karena ketika kita melanggar hukum, walau untuk menangkap kriminal sekalipun, kita telah menjadi kriminal itu sendiri."

"Dengan kata lain, mentalmu masih belum kuat untuk menjadi L?"

"Bukan. Bukannya mentalku tidak kuat, hanya saja aku berpikir bahwa moralku tidak akan dapat menerimanya bila aku menjadi seorang hipokrit."

"…Kau menganggapku hipokrit, Raito-kun?"

"Near, Mello, dan Matt bisa mengisi posisi L menggantikanmu," kata Light, mengacuhkan pertanyaan L. "Mereka… bisa dengan mudah menjadi L bila bekerja sama."

"Dulu Roger mengatakan bahwa Near dan Mello saja sudah cukup untuk mengalahkanku."

Light tersenyum sinis. "Ya. Tetapi kemungkinan Near dan Mello bekerja berdasarkan keinginan sendiri sama sangat kecil. Mello adalah orang ekstrovert, impulsif, terlahir sebagai pemimpin, dan sangat keras kepala. Near yang introvert dan hati-hati dapat mengimbanginya, tetapi gap di antara keduanya masih terlalu jauh. Matt dapat menjadi penengah dan mengimbangi keduanya. Lagipula, Matt dapat menjadi sumber informasi dengan kemampuan hackingnya yang jauh di atas rata-rata. Menurutku dia dapat menjadi Watari bagi Mello dan Near."

L mengangguk. "Urusan pengganti L sudah tidak menjadi masalah. Yang ingin saya tanyakan adalah apa yang kamu inginkan sesudah keluar dari Whammy House, Raito-kun?"

Light tersenyum getir. "Aku ingin menjadi detektif kepolisian."