Definition of Love

Summary : Kumpulan drabble bertemakan cinta. Pengertian cinta dari berbagai sudut pandang manusia. "Kuharap kalian mendukung keputusanku""A-APA INI?!" "Sebenarnya kau pergi kemana?" '...Hatiku akan selalu untukmu. Saranghae' its HaeHyuk

Title : I'm Sorry

Pairing : Donghae x Eunhyuk

.

Disclaimer : all cast belong to God. I only OWN the story.

.

.

Warning : DLDR! Boys Love, Miss Typo, Eyd Failure, Weirdo, No Edit.

.

.

~Cinta itu masalah~

Sentences by MuHaRe

.

.

.

Eunhyuk menghela napasnya. Ia duduk memandangi langit malam kota Seoul di balkon kamarnya. Tatapannya kosong seakan mencari sesuatu di balik hamparan angkasa tak berujung itu. Mungkin jika orang lain melihatnya kini, ia akan dikatakan gila, bagaimana tidak? Hanya dengan memakai kaos tipis dan celana kain selutut dimalam hari pada musim dingin. Apa ia ingin mati kedinginan?

Tapi Eunhyuk tak memeperdulikan itu. Terlalu banyak yang ia pikirkan, semakin ia memikirkan masalah yang dihadapinya, semakin beban itu terasa mencekiknya. Ia hanya ingin melepas penatnya sesaat. Memandangi hamparan bintang di langit setiap malamnya selalu membuat hati Eunhyuk membaik.

Meski tahu esoknya akan kembali terjerat dalam kepelikan hidupnya, setidaknya biarkan Eunhyuk bernapas sejenak. Mengandaikan dirinya hidup di negeri dongeng yang akan selalu berakhir dengan bahagia.

Eunhyuk memejamkan matanya. Kepalanya terangkat menyandar pada tiang balkon dibelakangnya. Setetes cairan bening itu jatuh. Ia sama sekali tak pedli. Membiarkan tetesan yang menganak pinak layaknya aliran sungai yang mengalir deras. Eunhyuk menangis. Ditengah dinginnya malam, seorang diri.

Eunhyuk menarik napas dalam, mencoba menghilangkan sesak yang seenaknya tinggal di hatinya. Jujur saja, ia lelah. Lelah menghadapi segala yang menimpanya. Lelah harus menahan sakit akibat janji sucinya. Lelah selalu tersenyum seakan segalanya baik baik saja sementara hatinya menjerit pilu. Lelah menunggu kebahagiaan yang tak kunjung mengetuk pintu kehidupannya. Ia lelah.. terlalu lelah.

"Hiks.. Eomma.. Hiks.. A-Appa" Eunhyuk memeluk kedua lututnya erat. Ia berharap kedua malaikatnya dapat menemaninya, berada bersamanya, memberinya ketenangan dengan memeluk tubuh ringkihnya itu. Ya.. Jika bisa ia ingin kedua malaikatnya itu masih hidup.

"Kuharap kalian mendukung keputusanku" Ucap Eunhyuk lirih.

Eunhyuk menghapus jejak air matanya dan beralih memandang langit. Tak ada keraguan di matanya. Kepedihan yang sebelumnya melingkupi kedua onyx jernih itu menghilang tanpa bekas. Dengan secercah harapan dan penyesalan yang tersisa.

.

.

.

"A-APA INI?!" Donghae membanting lembaran dokumen yang ia baca. Surat perceraian yang telah ditanda tangani Eunhyuk. Giginya bergemeletuk. Ia menatap nyalang bawahannya yang memberikan dokumen itu padanya. Tangannya mengepal kuat, berusaha meredam amarahnya.

"Je-Jeosonghamnida Tuan. Tuan Eunhyuk sudah pergi pagi pagi sekali. Ia tak memberitahu akan pergi kemana namun ia menitipkan map dan surat itu untuk Tuan."

"Kau cari keberadaannya. Cari dia kemanapun" Setelah mendengar perintah Donghae. Pria berjas itu membungkuk sopan. Dan meninggalkan Donghae yang terduduk lemas di sofa.

Donghae meremas rambutnya kasar. Berulang kali ia menelpon Eunhyuk, berulang kali pula operator yang menjawab panggilannya. Puluhan pesan ia kirim namun tak satupun yang mendapat balasan.

Donghae mengerang frustasi ia berdiri, menatap bingkai foto diatas lemari. Sebuah foto dirinya dan sang terkasih yang diambil saat mereka mengikat hubungan dijenjang pernikahan.

"Apa salahku Hyuk?"

Donghae mengelus permukaan foto Eunhyuk lembut. Matanya berkaca kaca. Ia beralih memandangi kamar bernuansa vintage itu. Memutar kenangan yang tertinggal di kamar milik nya dan Eunhyuk. Kamar yang selalu mengingatkannya pada sosok namja manis yang entah dimana keberadaannya sekarang.

.

.

.

Donghae menepikan Audi putihnya. Ia menyandarkan kepalanya pada setir mobil. Penampilannya jauh dari kata baik. Rambutnya acak acakan, pakaian yang kusut dengan dasi yang tak terikat sempurna, serta wajah lelahnya yang dihiasi kantung mata.

"Sebenarnya kau pergi kemana?"

Sudah dua hari donghae tak tidur. Ia bahkan hanya memakan ramyeon demi berkeliling mencari Eunhyuk. Waktunya ia habiskan untuk memutari Seoul berharap dapat menemukan 'istri'nya itu. Anak buahnya tak ada yang berhasil menemukan Eunhyuk. Mereka menemukan mobil Eunhyuk, namun mobil itu telah berganti nama. Entah sejak kapan Eunhyuk merencanakan ini. Keluarganya pun tak ada yang mengetahui keberadaannya.

Donghae putus asa. Hatinya terasa kosong sejak Eunhyuk pergi. Hatinya seakan mati. Ia hancur saat belahan niwanya pergi meninggalkannya menuju antah berantah.

Donghae bersandar pada jendela mobil. Donghae menjatuhkan air matanya. Tangannya menggenggam erat secarik kertas yang Eunhyuk tulis untuk nya.

.

'Hae.. Maaf. Maafkan aku atas tingkah kekanakanku. Maafkan aku atas semua kesalahanku selama ini. Aku ingin kita berhenti sampai disini. Aku ingin menyelesaikan ini semua. Bukannya aku tak ingin kita bersama. Aku mencintaimu. Sangat. Tapi aku lelah. Aku tak kuat lagi menanggung semua masalah ini. Aku menyerah. Aku tak ingin membebani mu lagi. Aku tak ingin membuat hidupmu sengsara karena aku.

Lihatlah ibumu Hae. Wanita yang melahirkanmu. Wanita yang membesarkanmu. Bukankah tak seharusnya kau menyakitinya? Ingatkah kau saat dirimu memberitahunya akan hubungan kita? Ia memang menerimaku, tapi aku tahu ia kecewa. Memang ia tak pernah menunjukkannya. Tapi mata tak pernah berbohong Hae. Banyak yang menentang kita. Cacian, hinaan, tatapan jijik, tak pernah hilang dari mereka. Aku sadar tak seharusnya kita menjalani ikatan ini, tak seharusnya ikatan ini ada. Karenanya aku ingin menghentikan semua ini. Aku pergi.

Maafkan aku atas keegoisanku mengambil keputusan. Maafkan aku yang terlalu pengecut hingga hanya mampu berucap lewat surat ini. Kau pasti menemukan orang lain yang lebih baik dariku. Aku selalu berdoa untuk kebahagaiaanmu. Hatiku akan selalu untukmu. Saranghae'

.

.

.

END