Author's Note:
Wihiiiii~
Updet ter-express nih :D terima kasih kepada sekolah yang begitu bijaknya meliburkan siswanya di hari ini!
YAAAAAAAAAAAAAAAY! *jingkrakjingkrak*
Huehe X)
Nah chapter ini dipersembahkan untuk menjawab "Kurapika diapain Kuroro?"
Juga setelah di tiga chapter sebelumnya baik Kurapika, Gon dan Leorio sudah muncul..
Akhirnya, ada juga review yang menanyakan Killua! Wahahahaha!
Di chapter ini Killua muncul perdana, tapi cuma sebentar sebagai perkenalan
Enjoy! :3
XxX
Disclaimer: Yoshihiro Togashi
Title: Kisah Hunter di Sekolah
Chapter Four: Kurapika x Kesal x Murid Menyebalkan!
XxX
Wajahku memanas. Ya, dapat kurasakan itu. Dan betapa aku tidak ingin mengakui bahwa aku merasa sedikit –sedikit, sangat sangat sedikit!– deg -degan. Meskipun aku sudah berjalan menjauh, tapi koridor sedang sepi! Sementara telingaku cukup tajam untuk mendengar gumamannya. Tapi seharusnya aku tidak perlu deg-degan begini kan? Grgrgrgrgrgrgrgr..
BRUK!
Kuhempas buku-buku pelajaran matematika kelas tiga di meja untuk menumpahkan kekesalanku.
"Wuiiih, kalau marah-marah nanti cepat tua loh, jeng!" sahut suara yang tak kukenal.
Aku mendongak. Seorang pria sedang duduk di meja depan mejaku. Siapa si rambut putih ini?
"Idih, melotot begitu. Tidak enak dilihat loh."
Baiklah. Perasaanku baru saja dibuat kesal dan tak karuan oleh seorang muridku yang menyebalkan dan sekarang seseorang yang tidak kukenal sepertinya ingin menambah itu semua.
"Anda siapa ya?" tanyaku, tanpa sadar sepertinya nada suaraku sedikit ketus.
"Widih, jutek." sabarlah diriku, kataku dalam hati. "Belum tau ya? Halo, aku guru baru disini!" jawabnya dengan senyum ringan.
"Oh, guru biologi baru untuk kelas dua ya?"
"Bingo! Tapi baru mulai mengajar besok, sih. Sekarang baru mau lihat-lihat dulu," katanya.
"Hmmm," aku mengambil buku-buku untuk mengajar selanjutnya. Lalu dia bertanya lagi,
"Mau ngajar ya? Sensei mengajar apa?"
Sambil membereskan aku menjawab, "Matematika untuk kelas tiga. Biologi dan Fisika untuk kelas dua. Kimia untuk kelas satu."
Dia bengong. "Eng.. Itu kamunya yang kelewat pintar atau gimana? Sampai diborong semua begitu.."
"Hmm. Aslinya cuma mengajar matematika untuk kelas tiga dan fisika di kelas dua. Biologi hanya sebagai guru pengganti, tapi karena kamu sudah datang berarti tidak perlu lagi. Kimia juga sama, gurunya sedang cuti hamil."
"Nggak capek apa ya?"
"Lumayan. Tapi kan gajiku dinaikkin," jawabku enteng.
Lelaki itu manggut-manggut, "Oh ya, aku belum tau nama sensei?"
"Kurapika. Kamu..?"
"Killua," dia mengulurkan tangan. "Killua Zaoldyeck."
Aku menyambut uluran tangannya untuk berjabat. "Salam kenal, mohon bantuannya!" Killua tersenyum ramah. Entah kenapa aku seperti melihat bunga-bunga berterbangan di belakangnya?
"Ya, salam kenal juga," aku membalas senyumnya. Cukup tampan, senyumnya menawan, sikapnya manis, tipe yang akan menempati posisi nomor satu guru favorit untuk para siswi, kataku dalam hati.
Killua memiringkan sedikit kepalanya, kemudian tersenyum lagi. "Ternyata meskipun jutek, sensei Kurapika kalau tersenyum cantik sekali ya!"
Aku cepat-cepat menarik tanganku dari genggamannya. Siul, aku tersipu!
"Ehm.. Saya keluar dulu ya," tanganku segera meraih buku di meja dan melangkahkan kaki ke pintu.
"Sensei!" panggilnya.
Aku menoleh. "Ya?"
"Sering-sering tersenyum, jangan cemberut terus! Ntar banyak keriput, loh!" kali ini dia tertawa, sepertinya sengaja ingin menggodaku. Gggrrrr..
DRAAK.
Pintu ruang guru kututup dengan kasar. Aku berjalan tergesa-gesa.
Kesal kesal kesal! Keriput itu kata tabu bagi wanita! Euh, maksudku.. Apa-apaan dia berbicara begitu, padahal kan baru kenal. Ehm, tapi bukannya itu wajar sebagai pendekatan diri? Mungkin memang dia tipe yang sedikit jail.. Tapi apanya yang cemberut? Apanya yang jutek? Kenapa dia ikut-ikutan memanggilku jutek seperti murid menyebalkan ituuu?
Baiklah. Masalahnya bukan di dia. Tapi di aku. Kenapa aku jadi kesal begini? Aaaaaa.. Apa ini gara-gara aku kesal setengah mati di kelas matematika tadi ya? Terus ditambah lagi mendengar 'itu'.. Ditambah lagi dijahili di saat yang sangat tidak tepat..
"Wahahahahaha!" tiga orang siswa tertangkap mataku sedang tertawa sambil kejar-kejaran di koridor. Dasar. "Hei! Jangan berlarian di koridor!" tegurku.
Anak-anak itu segera berhenti dan berjalan pelan-pelan melewatiku. "Maaf sensei.." begitu agak jauh, mereka berlari-lari lagi. "HEI!"
"Kaabuuuuuuurrr!"
Aaaaaaa kenapa semua lelaki menyebalkan sekali hari iniiii!
Hosh. Hosh.
Tenanglah, Kurapika. Stay cool. Be chill.
Fiuh.
Di saat emosi begini, rasanya aku ingin bertemu dengan.. Ah, tapi aku kan sehat-sehat saja? Atau aku lukai diriku sedikit lagu minta plester.. Ugh. Jangan konyol, Kurapika.
Aku menggeleng-gelengkan kepala menepis apa yang baru saja kupikirkan dan mulai berjalan kembali. Sepertinya aku masih punya jam kosong selama satu jam pelajaran, setelah itu baru ada kelas lagi. Aku mengangkat tanganku untuk melihat jam ketika tiba-tiba.. sebilah pisau melesat tepat di depanku.
TAK!
Pisau itu tertancap di dinding. Lebih beberapa senti saja aku tadi, tamat.
"AAAAAAAAAA! Maaf!"
Aku menoleh melihat asalnya suara sekaligus asal datangnya pisau.
"Maafkan aku! Uaaaaa, sensei Kurapika tidak apa-apa?" gadis itu memandangku khawatir.
"Aku tidak apa-apa koq, pisaunya tidak mengenaiku, sensei Menchi," aku mencoba menenangkannya.
"Sungguh? Aaaa tanganmu!"
Aku melihat tanganku, baru kusadari tangan kiriku tergores dan sedikit berdarah. Sepertinya pada saat aku mengangkat tangan tadi terkena.
Guru memasak itu terlihat semakin panik.
"Maaf! Sakit ya? Tadi aku sedang bersemangat menjelaskan sambil memotong daging dan tiba-tiba saja ada muridku yang berisik, aku jadi kesal dan menyuruhnya keluar. Sepertinya waktu tanganku yang ternyata sedang memegang pisau itu kuarahkan ke pintu, pisaunya.. HUUAAAA KUANTARKAN KE UKS YA!"
"Tidak apa, sungguh. Tidak sakit koq, ini cuma luka kecil. Aku bisa ke UKS sendiri, sensei lanjut mengajar saja!" hufh. Tentang guru memasak yang kadang-kadang ceroboh ini memang sudah kudengar. Tapi tak kusangka terjadi padaku..
"Baiklah. Hati-hati ya, sensei!"
"Tenang saja," aku tersenyum sebagai tanda aku baik-baik saja. "Permisi."
Aku berjalan menuju UKS.
Hmm.. Aku tidak tau mau menganggap ini musibah atau berkah, tapi dengan begini aku jadi bisa ke UKS deh. Tanpa bisa kukendalikan, bibirku tersenyum sendiri. Sudahlah, pertama-tama aku harus mengobati lukaku.
"Selamat pagi, sensei!"
"Oh, selamat pagi," aku membalas teguran dua orang siswi berseragam olahraga. Sepertinya mereka terburu-buru. Belum berganti pakaian untuk pelajaran berikutnya mungkin.
CKLEK.
Pintu UKS kubuka pelan.
Aku masuk dan melihat pria berjas putih itu di balik mejanya.
"Oh, selamat pagi sensei Kurapika. Ada apa?" sapanya ramah.
"Tanganku tergores. Ada plester, dokter?"
"Ada dong. Sini, biar kuobati lukamu," dia menawariku. Perlahan-lahan kekesalanku berkurang.
"Hmm.." dia membuka pintu lemari kaca. "Ini dia plesternya!" saat ia mengambil kotak plester, sebuah botol di rak atas menunjukkan tanda-tanda akan jatuh.
"Awas, dok!"
Pluk.
Botol itu memantul di kepalanya.
"Aduduh! Ya ampun, botol obat sakit kepalanya koq jatuh sih," keluhnya. Kotak plester diletakkannya di meja. Ia meraih botol obat yang jatuh sementara tangan satunya lagi dipakai untuk mengelus kepalanya.
"Dokter tidak apa-apa?" tanyaku.
"Tidak apa. Botolnya plastik koq. Lagipula aku kan dokter!" candanya sambil tertawa.
Aku ikut tertawa. "Memangnya seorang dokter tidak bisa sakit?" sudah kuduga, bertemu dengannya adalah pilihan tepat. Memang kadang-kadang dia bertingkah konyol dan bisa agak menyebalkan, tapi aku senang berada di dekat dokter ceroboh ini.
"Hehe. Ayo sini, sensei. Lukanya harus ditutup," katanya.
Aku berjalan menghampirinya dan duduk di kursi. Tiba-tiba saja salah satu tirai pembatas ranjang terbuka.
Sreeek.
"AH!" responku kaget.
"Oh, jumpa lagi kita, sensei!" murid menyebalkan itu tersenyum ke arahku. Kenapa dia bisa ada disini!
"Kau bolos ya?" tanyaku langsung tepat sasaran.
"Tidak koq. Saya mengantuk, daripada tidur di kelas kan mending saya tidur disini."
"Sama saja," bantahku.
"Sensei kenapa disini? Ada yang terluka?" tanyanya sok perhatian (bagiku).
"Bukan urusanmu."
"Idih, jutek!" ejeknya. Aku mengutuk dalam hati.
"Haha. Kalian berdua akrab ya?" tanya Dokter Leorio yang membuatku segera membantah.
"Tidak juga. Dok, obati luka saya sa–"
Kata-kataku terhenti melihat punggung tangan kiriku yang sudah terbalut rapi. Cepet banget!
"Lukanya tidak dalam. Tunggu saja sampai lukanya mengering," kata Dokter sambil tersenyum.
Aku tersenyum membalas senyuman hangatnya itu. "Terima kasih, Dok." Sejenak aku melupakan kehadiran Kuroro di ruangan itu. Tanganku masih dipegang dan dilihat Leorio yang mungkin mengecek balutannya. Aku sama sekali tidak menyadari ada sepasang mata yang menatap pada kami. Semula aku merasa dunia ini aman tentram ketika tubuhku tiba-tiba ditarik yang membuatku berdiri dari kursi.
"Saya baru ingat, ada soal pelajaran yang mau saya tanyakan. Ikut dengan saya yuk, sensei!" si murid menyebalkan itu mendorongku ke arah pintu.
"Hei! Apa yang kau lakukan!" aku mencoba berhenti tapi tenaga laki-laki ini mendorongku terus berjalan keluar ruangan. Aku mendengar dia berkata. "Kami permisi dulu ya, dok!" tapi aku sama sekali tidak melihat kalau pada saat mengatakannya, Kuroro memandang Leorio dengan tatapan tajam.
Begitu kami berada agak jauh dari UKS, tenaga dorongannya berkurang sehingga aku bisa mengelak.
"Apa yang kau lakukan?" kataku.
"Mendorong," jawabnya ringan.
"Bukan itu! Kenapa kau mendorongku?" kesabaranku mulai habis.
"Habisnya.."
Sepertinya dia sengaja memperlambat ucapannya. Aku diam saja menunggu penjelasannya.
"Habisnya sensei curang."
Jawabannya membuatku bingung. "Maksudmu?"
"Habisnya kalau sama Dokter Leorio, sensei mau bersikap lembut dan tersenyum manis begitu. Sementara aku dijutekin terus," katanya sambil memasang muka ngambek.
Jawabannya lagi-lagi membuatku bingung.
"Baiklah, aku sedikit tidak mengerti. Tapi, soal sikapku itu kan akibat perbuatanmu sendiri yang suka membuatku kesal. Jadi kamu dan Dokter Leorio itu beda!" kataku sambil memalingkan muka. Memang murid ini sangat menyebalkan. Selama menjadi guru aku tidak pernah bertemu dengan murid seaneh ini. Murid yang sepertinya tau hal-hal yang tidak kusukai selama pelajaran dan malah dilakukan. Suka tiba-tiba muncul kalau aku sedang berjalan sendirian. Suka menggodaku dan senyum-senyum mencurigakan. Pokoknya menyebalkan!
Telapak tangannya ditempelkan ke dinding, tubuhnya sedikit mendekat hingga membuatku tersandar di dinding.
"Apa bedanya aku dengan dia?"
Aku tertegun. Antara bingung, kaget, dan heran. Selama beberapa saat kami saling diam, dan akhirnya aku tersadar.
"Hei, aku ini gurumu. Mundur!"
Tapi dia malah semakin mendekat.
"Jadi kalau aku bukan muridmu lagi, boleh?" katanya dengan menatap lurus mataku.
Jantungku berdegup aneh. Kalau di depanku ada cermin, mungkin aku baru sadar kalau wajahku merona. "A.. Apanya?"
Dia tertawa sejenak. "Tidak mengerti ya?"
Baiklaaaaah aku bosan dibikin bingung seperti ini. "Apanya!" tanyaku ketus.
Tiba-tiba saja kepalanya begitu dekat denganku. Ia membisikkan sesuatu di telingaku.
"Aku cemburu, tau."
Aku terdiam. Sekarang aku benar-benar tidak mengerti.
"Cemburu? Maksudnya apalagi?"
Kuroro terkekeh. "Sensei. Meskipun sensei ini guru matematika plus fisika plus biologi plus kimia, ternyata lemot juga ya?"
"Jangan panggil aku lemot!"
Lagi-lagi dia terkekeh. Laki-laki ini membingungkan sekali!
Tangannya yang menempel di dinding sekarang meraih tanganku yang terbalut perban.
"Ini luka kenapa?"
"Cuma tergores."
"Hmmm.." dia menarik tanganku. "Semoga cepat sembuh," kemudian tanpa kusangka-sangka dia mengecup punggung tanganku!
PLAK!
"Tidak sopan!"
Aku mendorong tubuhnya yang menghalangi dan bergegas meninggalkannya. Jantungku berdetak terlalu cepat. Aku tidak mengerti. Katakan ini mimpi!
XxX
Author's Note:
Bagaimana?
Misteri sudah dibentang lebar, anda sekalian sudah tau kan apa yang terjadi?
Oh ya, mungkin saking shocknya, si Neon di chapter sebelumnya sampe ngga denger suara tamparan. wkwk ~
Berikut balesan review untuk chapter three, padahal baru diupdet semalem, makasih yaaaa X)
Mayu Azanuma : udah tau dong diapain? X) hehe. nyariin Killua yaa? itu ada tuh, jadi figuran. wkwk. tunggu tanggal mainnya killua jadi pemeran utama :D
Gabriela Zaoldyeck : iya loh. tanpa sadar yang tua jadi muda yang muda jadi tua.. ^_^' hehe. arigatou!
KuroPika X : nih udah express banget updetnya, takut yang penasaran pada gentayangan :D hehe. shizuku mah emang dari sananya lidahnya tajem :3
Fiuh. Libur pasti berlalu. Besok sekolah lagi deh. Author mau ngerjain pe er dulu yaa~
Huaaaaa Kurapikaaaaa bantuin bikin pe er kimiaaaaaaa!
PLAK!
(kritikan/masukan? klik review! :))
