.

.

(4)

.

.

Jemari mungilnya melukis lazuardi pekat di cakrawala malam. Menarik garis melintangi jelujur gemintang. Menyambungkan Altair, Vega, dan seketika 'plop' sebuah memori muncul ke permukaan.

"... Hei, kau tahu legenda Altair dan Vega?"

Insan di sampingnya mengernyit. Bola matanya bergulir melirik sang penanya, seakan menyiratkan tanya tentang mengapa ia menanyakan itu.

"Tahu tidak?"

"Tahu."

Yang ditanya menjawab cepat, seakan tak sabar mendengar alasan sang gadis yang bernama seirama dengan kembang api itu menanyakannya.

"... Aku berpikir, kita seperti Altair dan Vega, ya."

Pemuda itu kini menghadap sepenuhnya ke sang gadis yang bicara. Alis menukik semakin dalam.

"Ada yang mengganjal pikiranmu, Hanabi?"

"Tidak." Hanabi melengkungkan pelangi terbalik di bibirnya, tipis. "... Aku hanya mengatakan itu, memangnya salah?"

"Hana-"

"-kita selalu bertemu diam-diam seperti ini. Itupun kalau situasi memungkinkan." Hanabi menghela nafas. "... Kadang aku berfikir kembali, haruskah kita terus seperti ini?"

Konohamaru -sang pemuda- terdiam. Pertemuan diam-diam sekali sebulan, dibawah gemerlap gemintang. Inilah mereka.

"Jika Altair dan Vega setahun sekali, kita sebulan sekali." Helaan nafas sekali lagi meluncur dari bibir Hanabi. "Masing-masing punya kisah sendiri. Kita adalah Altair dan Vega dalam kisah kita sendiri."

"... Mau bagaimana lagi. Kita terpisah jauh. Ini juga harus diperjuangkan." Konohamaru menyela cepat.

Terpisah ratusan kilometer, perjuangan sebulan sekali menembus jarak menuju tempat yang dijanjikan -sebuah bukit kecil tempat Konohamaru kecil selalu berlari-, bertemu hanya satu malam sebab tuntutan akan segala hal, dan esok hari, keduanya harus kembali, menenggelamkan diri dalam hiruk-pikuk duniawi.

"Hanabi."

"Ya?"

"Kadang aku berpikir." Konohamaru menyeret tubuhnya, mendekati sang dara. "... Tidak bisakah burung-burung yang menyambungkan Altair dan Vega itu datang setiap hari? Kenapa harus setahun sekali?"

"... Itu legenda, Konohamaru."

"Aku tahu." Tangan merogoh kantung kemeja. "Tadi kaubilang kita Altair dan Vega dalam kisah kita sendiri, kan?"

Sang dara Hyuuga mengangguk. Helai maple-nya ikut bergoyang.

"Karena itu, kita tidak harus bertemu setahun-ataupun sebulan sekali, kan? Bagaimana jika setiap hari?"

"Konohamaru, apa yang kau-"

Suara sang dara tercekat di tenggorokan. Manik rembulan melebar melihat kilau benda di depannya.

Sederhana, hanya sebuah benda melingkar berhias permata safir. Terselip indah di sebuah kotak marun. Namun, dibaliknya, arti ribuan kata tersimpan.

"... Ayo kita menikah, Hanabi."

.

A/N

... Oke, ini termasuk semacam kinda-fail fluff T.T

Jadi ceritanya, Kono sama Hana LDR, tapi diem-diem ketemuan sekali sebulan, itupun cuma satu malam. Entah darimana idenya muncul tapi ah, sudahlah T.T

Ini jadi apdet terakhir FF ini untuk sementara. Dua minggu kedepan saya amat-sangat-sibuk-buanget. Entah sekolah saya yang kudet entah apa, UKK baru mulai minggu depan. Doain, ya. Satu review, satu doa. #leh

.

Mind to review?

p.s. : lupa bilang, kumpulan drebel ini bisa dianggap saling terhubung, bisa juga enggak, ya ^^