Ketika rutinitas harus diubah paksa, Hinata hanya akan menerima tanpa banyak berkeluh kesah. Meski harus kehilangan kebersamaannya bersama Sasuke pada setiap akhir pekan, Hinata merasa dirinya akan baik-baik saja.

Hinata harus dapat mengurangi sifat manjanya. Pun situasi seolah menuntutnya untuk dapat bersikap dewasa. Menjadi mahasiswa tingkat akhir, tentunya membuat Sasuke akan lebih peduli pada tugas akhir dari pada kekasihnya. Mungkin ada sedikit rasa kecewa. Namun Hinata harus dapat mengatasinya.


.

.

.

Fluffy Love

Oleh Kecebong

Naruto milik Masashi Kishimoto

.

.

.


Dari sekian banyak tempat di kampusnya, Hinata selalu merasa canggung ketika harus memasuki gedung Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Tidak sedikit pasang mata yang memperhatikan setiap gerak-geriknya dengan pandangan sinis. Well, menjadi kekasih dari Uchiha Sasuke terkadang membuat Hinata harus menunjukkan sikap angkuh dan egois.

Hinata sudah lama menutup telinga, terutama sejak kali pertama ia menginjakkan kaki di Universitas Konoha. Uchiha adalah salah satu pemilik perusahaan besar yang memiliki peran penting dalam dunia bisnis Konoha. Dan keberadaannya sebagai kekasih putra tunggal Uchiha, tentunya menghadirkan suatu pro kontra yang menurut Hinata sama sekali tidak ada gunanya.

Mau orang lain berkata apa tentangnya, Hinata tetap akan teguh pada pendiriannya. Sasuke menyayanginya, Hinata pun sama, dan dua keluarga memberikan restu sejak lama. Jadi rasanya Hinata tidak perlu ambil pusing pada opini orang di sekitarnya.

Ketika sampai di depan ruang tujuan, Sasuke segera menghampiri Hinata. Lelaki itu memberikan satu kecupan singkat di dahi kekasihnya.

"Maaf merepotkanmu," Sasuke memberikan dua buku tebal yang menjadi referensi untuk tugas akhirnya.

"Kau ingin aku meminjamkan buku lainnya?" dengan segala kesibukan Sasuke, Hinata sudah mulai terbiasa. Pergeseran schedule bimbingan siang ini membuat Sasuke tidak dapat mengembalikan buku ke perpustakaan kota. Jadi, sebisa mungkin Hinata ingin membantunya.

"Tidak usah. Penelitianku sudah hampir selesai," Hinata tersenyum saat Sasuke membelai pelan puncak kepalanya.

Tiga tahun ke depan, Hinata pun akan merasakan hal yang sama. Berada dalam situasi yang mengharuskannya untuk berusaha sekuat tenaga. Tahun keempat adalah tahun yang istimewa. Selain harus menyelesaikan tugas akhir, setiap mahasiswa juga disibukan dengan bimbingan, mengikuti job hunting yang berlangsung pada April hingga Agustus, dan juga part time job yang harus dijalaninya.

Terlepas dari segala kesibukan mahasiswa tingkat empat, Hinata hanya akan menganggapnya sederhana. Itu semua adalah proses yang harus dialami sebelum seseorang memasuki dunia yang sebenarnya.

.

.

.


Hinata menghela napas perlahan kemudian melepas bingkai kacamata. Entah mengapa mengerjakan tugas matematika membuatnya merindukan sosok kekasihnya. Semester lalu, Sasuke masih sering membantu dalam mengerjakan tugas-tugas yang dianggap sulit oleh Hinata. Terkadang pada akhir pekan, ia menginap di kediaman Uchiha hanya untuk meminta sang kekasih mengajarinya membuat makalah.

Tenten dan Sakura sebenarnya sering menasehati Hinata untuk tidak terlalu bergantung pada sang Uchiha muda. Hinata kini bukan lagi seorang siswa SMA. Dan sifat manja seharusnya sudah mulai perlahan hilang ketika ia berstatus sebagai mahasiswa.

Hinata selalu menerima nasehat dua teman baiknya dengan hati yang terbuka. Hinata merasa senang ketika orang-orang yang disayanginya menunjukkan sikap peduli untuknya. Tenten dan Sakura akan selalu membantunya untuk belajar bersikap dewasa. Jadi ketika beberapa bulan yang lalu Sasuke meminta izin untuk fokus pada tugas akhirnya, Hinata dengan suka rela mengizinkannya. Ketika segala kesibukan telah berakhir, maka Hinata yakin Sasuke akan segera datang menemuinya.

Hinata menutup buku matematikanya. Sudah hampir pukul sepuluh malam dan rasa lelah mulai menghinggapi kedua mata pucatnya. Hinata mengambil ponsel untuk membaca satu pesan yang dikirim oleh sosok lelaki yang sedang dirindukannya.

'Kapan kau akan memakai gelangnya?'

Hinata memnggigit pelan bibir bawahnya. Ia segera membuka laci meja belajar untuk mengambil sebuah charm bracelet yang diberikan Sasuke saat ulang tahunnya. Charm bracelet adalah salah satu jenis gelang yang sangat disukai oleh Hinata. Sudah cukup lama ia hanya menyimpan gelangnya. Well, Hinata masih belum cukup memiliki keberanian untuk melingkarkan charm bracelet pada pergelangan tangannya.

Kelulusan Sasuke hanya tinggal beberapa bulan dan Hinata tentunya harus segera mengambil keputusan. Hinata memang sangat menyayangi Sasuke yang selalu membuatnya merasa nyaman. Namun untuk membina hubungan dalam ikatan pernikahan, masih banyak yang perlu Hinata pertimbangkan. Pernikahan bukan hanya untuk satu atau dua bulan. Dan bagi Hinata, pernikahan adalah ikatan yang akan berlaku hingga akhir kehidupan.

.

.

.


Membuat kue menjadi rutinitas akhir pekan yang selalu menyenangkan bagi Hinata selama beberapa bulan belakangan. Akhir pekan lalu Hinata membuat kue kering untuk Neji yang berada di Suna. Sama halnya Sasuke, Neji pun sedang disibukkan dengan segala kegiatan di tahun keempatnya.

Saat bimbingan karir di SMA dulu, Hinata sempat berdiskusi dengan ayah dan ibunya. Dengan latar belakang keluarga bisnis, Hinata tahu sang ayah sebenarnya mengingikannya untuk melanjutkan studi manajemen di Suna. Namun, kedua orangtuanya tidak akan memaksa. Jika Hinata memang memiliki minat di bidang lain, maka ayah ibu pun akan tetap mendukungnya.

Neji akan menjadi penerus tunggal bisnis retail keluarga Hyuuga. Keberadaan sang kakak tentunya membuat Hinata bebas untuk memilih masa depannya. Cukup Neji saja yang dipusingkan dengan mempelajari teori operasi produksi, marketing, finance, dan juga personalia. Hinata sama sekali tidak memiliki minat untuk mempelajarinya.

Dua hari yang lalu Sasuke menyampaikan kabar gembira pada Hinata. Penelitian Sasuke sudah mencapai final dan diterima oleh dosen pembimbing pertama maupun kedua. Sasuke hanya tinggal menyiapkan materi presentasi yang akan ia sampaikan pada sidang skripsinya. Bukan hal yang akan memakan waktu lama, sehingga sore ini Sasuke datang mengunjungi kediaman Hyuuga.

Hinata menyeduh teh dan menyiapkan satu toples choco chips cookies yang akan dibawa ke kamarnya. Sejak kembali tinggal di Konoha, Hinata mulai serius mengasah kemampuan memasaknya. Dan beberapa minggu belakangan, Hinatalah yang secara rutin menyiapkan makan malam untuk keluarganya.

Sasuke sedang menelefon ketika Hinata memasuki kamarnya. Ia meletakkan nampan di atas meja belajar kemudian ikut duduk bersama Sasuke di atas tempat tidurnya. Setelah selesai berbicara, Sasuke meletakkan ponsel di atas meja.

Sasuke mengambil kunci mobil dari saku celana yang juga ia letakkan di atas meja. Mata pucat Hinata memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan lelaki di sampingnya. Hinata tersenyum ketika telapak tangan kanan Sasuke menyentuh sisi kiri wajahnya.

"Merindukanku?" Hinata bertanya dengan suara lembutnya.

"Selalu," Hinata merasakan bibir Sasuke mengecup lembut bibirnya. Satu kecupan, dua kecupan, dan Hinata mulai kembali merasakan ciuman hangat yang selama ini dirindukannya.

Ciuman hangat yang diberikan oleh Sasuke selalu membuat Hinata merasa tergoda. Ketika merasakan ciuman Sasuke bergerak menuju lehernya, Hinata memejamkan kedua matanya. Membiarkan Sasuke melakukan apapun yang diinginkannya adalah opsi yang selalu dipilih oleh Hinata.


.

.

.

Sasuke selalu mengatakan bahwa Hinata termasuk kategori slow learner ketika harus mempelajari sesuatu yang baru. Jadi ketika semalam Hinata bersikeras ingin belajar menyetir mobil, jujur Sasuke merasa sedikit ragu. Menjauhkan Hinata dari segala situasi yang berbahaya sudah menjadi tanggung jawabnya sejak dulu. Namun, melihat kesungguhan yang ditunjukkan oleh Hinata membuat Sasuke luluh.

Hinata mengatakan bahwa setelah memasuki dunia kerja, Sasuke akan lebih banyak meluangkan waktu untuk pekerjaan dari pada untuknya. Hinata tidak ingin selalu bergantung kepada orang lain, sudah cukup baginya selalu dimanja oleh orang-orang di sekitarnya. Kini Hinata sudah beranjak dewasa dan ia ingin Sasukelah yang pertama kali mengakui kemandiriannya. Meski dengan perasaan yang masih sedikit cemas, Sasuke akhirnya menyetujuinya.

Jadi sabtu pagi ini, Sasuke akan mulai mengajari Hinata menyetir di kompleks stadion dekat taman kota. Melihat wajah Hinata yang sangat serius mendengar arahan, membuat Sasuke ingin menciuminya.

Bukan hal yang mustahil bagi Hinata untuk mendapatkan lisensi menyetir jika dia mau bersungguh-sungguh dalam belajarnya. Sasuke hanya perlu memberikan pengawasan lebih pada perempuan yang selalu ingin dilindunginya.

Lagi pula duduk di kursi penumpang ternyata rasanya tidak buruk juga. Dengan begitu selama perjalanan, Sasuke akan memiliki lebih banyak waktu untuk memandangi wajah Hinata. Dan kesempatan untuk menciumnya juga akan selalu ada untuknya.


.

.

.


Bong's Note:

Halo, Minna!

Bong masih pengen lanjutin ini fluffy fic. Moga mggak bosan yah!

Terimakasih buat Minna yang setia banget nungguin bong update. Walaupun ternyata yang diupdate bukan fic yang diharapkan.

Gomen, bong masih belum bisa lanjutin fic yang lain. Chapter ini fluff-nya dikiiiit yah. Tapi moga Minna tetep suka karya bong. Oke, cukup sekian dan sekali lagi bong ucapkan banyak terimakasih.