Hallo minna . .

Aku kembali melanjutkan fanfic ini setelah dua bulan resmi hiatus, padahal janjinya cuman dua minggu. Aku tidak tahu harus berkata apalagi, aku tak bisa menepati janjiku tepat waktu.

Disini aku cuma bisa bilang maaf ya, I'm sorry, gomen ne watashi. m(_ _)m #ditendang para readers yang kecewa.

Oke deh, cuap – cuapnya dilanjut di akhir aja ya. Kita lanjut langsung ke cerita.

Happy Reading :')

Cerita Sebelumnya. . .

Ketika Lucy tengah mencari penginapan ' Real Life ', dia menabrak seorang pemuda bernama Sun Aozora. Sun mengajak Lucy ke suatu tempat yang ternyata adalah bangunan penginapan yang Lucy cari. Disana, Lucy bertemu dengan adik Sun, Tsuki Aozora. Sun berbincang sebentar dengan adiknya itu, sementara Lucy memperhatikan ke sekeliling ruang depan penginapan tersebut.

" Sudahlah, aku ada perlu penting dengannya. Jadi, kami akan ke ruanganku dan sebaiknya segera kamu buatkan teh. Ayo Lucy " ucap Sun malas, tampaknya dia lelah dan kalah beradu argument dengan adiknya itu.

" Ah, iya baiklah " balas Lucy yang segera mengikuti langkah Sun. Lucy sempat melirik Tsuki, gadis itu tersenyum ceria.

Sun dan Lucy segera menuju ke ruangan yang dimaksudkan Sun. Mereka melewati lorong – lorong yang luas, tiang – tiang penyangga lorong itu pun bergaya Yunani tetapi kamar – kamar para tamu seperti di onsen. Unik . Ketika mereka hendak sampai di ruangan yang dimaksudkan, Lucy merasakan ada sesuatu yang mengawasinya. Dia menoleh ke kanan kiri, namun tidak ada siapapun.

The Real Mission

Chapter 4

~ Lucy POV ~

Aku segera mengikuti langkah Sun dan kulirik Tsuki yang masih belum beranjak dari tempatnya, sedang tersenyum manis kepadaku. Aku dan Sun melewati lorong yang cukup luas, lorong bergaya arsitektur Yunani ini lumayan ramai dilalui oleh para pengunjung. ' Ramai sekali.. Sepertinya ini adalah lorong utama ' pikirku.

Tiba – tiba Sun berhenti di depan sebuah pintu geser ( maaf, author nggak tahu namanya. Hehe ).

" Sebelah sini " ucapnya singkat kemudian menggeser pintu tersebut dan masuk ke dalamnya.

" Cepat masuk " lanjut Sun yang menjauhkan badannya dari pintu itu akan tetapi, tangan kirinya memegang ujung pintu dari dalam.

Ku langkahkan kakiku masuk ke dalam ruangan tersebut sambil menunduk dan memejamkan mata sebentar, lalu kudengar Sun menggeser pintu itu kembali. Kuangkat wajahku untuk melihat ruangan itu namun, yang kudapati hanya satu kata yaitu gelap. Aku mulai cemas dan berusaha berjalan mundur agar bisa keluar. Tetapi, aku malah menabrak Sun yang tepat berada dibelakangku.

" Aww. . Ada apa Lucy ? " tanyanya.

" Hey, kenapa gelap ? Cepat nyalakan lampunya ! " Perintahku dengan panik pada Sun karena aku tak bisa melihat apa – apa yang ada disekelilingku sekarang.

" Oh maaf. . oke sebentar Lucy, bisa tutup matamu ? " ujar Sun. ' Apa lagi ini ? sudah gelap, kenapa disuruh tutup mata ? ' batinku. Namun, entah kenapa aku tetap saja mengikuti perintahnya untuk menutup mataku dan juga bingung kenapa aku semudah itu percaya kepadanya.

CTEKK. . JEESSHH. . BRRUUSSSHHH. .

Aku terkejut dengan suara yang aneh tepat disebelahku. Aku pun segera membuka mataku dan seketika pula sekujur tubuhku terasa kaku dan tidak dapat bergerak sama sekali. Ini bukan karena tersambar sihir petir Laxus ataupun beku oleh sihir es milik Gray melainkan karena rasa terkejutku melihat apa yang ada dihadapanku sekarang.

Sebuah ruangan, bukan, salah, tadinya kukira itu adalah sebuah ruangan, tetapi ternyata itu bukanlah sebuah ruangan melainkan lorong lain yang kini telah terang oleh cahaya dari lentera - lentera di kedua dinding lorong tersebut. Lorong ini tidak mirip dan tidak seluas seperti lorong utama tadi. Lorong ini lebih seperti di dalam gua, tetapi sama sekali tidak pengap walau tanpa satu pun ventilasi udara. Tiba – tiba suatu pertanyaan melesat di pikiranku. Dengan cepat ku tolehkan wajahku ke samping dan kudapati Sun tengah tersenyum memandang ke depan sambil berjalan melewatiku menelusuri lorong ini.

~ Normal POV ~

" Ayo kita jalan lagi " ujar Sun yang kini telah berjalan di depan Lucy.

Lucy pun mengikuti Sun dari belakang. Mereka berjalan menelusuri lorong tersebut, tidak ada suara yang terdengar selain bunyi langkah kaki mereka. Sepertinya tidak ada satu pun dari mereka yang berniat memulai pembicaraan.

Lucy terlihat tampak sedang berpikir dan Sun tetap berkonsentrasi berjalan pada lorong tersebut. Tidak terasa mereka telah sampai di ujung lorong itu. Disana terdapat sebuah pintu, pintu tersebut sepertinya terbuat dari batu dan tersegel besi seperti ikat pinggang. Pintu dengan dua daun pintu tersebut terdapat beberapa ukiran yang sulit diartikan. Selain itu segel besi hitam besar yang berpusat di tengah – tengah pintu, berbentuk lingkaran dimana disekitar lingkaran tersebut terdapat tulisan dan didalam lingkaran itu berbentuk pentagram.

Sun berdiri tepat didepan segel tersebut dan melakukan sesuatu terhadapnya. Dia seakan – akan mengucapkan suatu mantra namun dengan suara yang sangat kecil sehingga nyaris tidak terdengar sama sekali. Lalu, dia menggerakan tangannya menuju pada pentagram tersebut, membuat sudut – sudut pada pentagram tersebut bercahaya berwarna emerald, diikuti segel sabuk, dan pintu tersebut perlahan – lahan terbuka.

Lucy sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sejauh mata memandang, dia hanya melihat pohon – pohon. Jangan – jangan ini. . .

" Ya, ini adalah hutan Timeless. Ayo jalan " ucap Sun seakan mengerti apa yang tengah dipikirkan oleh Lucy. Namun Lucy tidak segera mengikuti langkah Sun, dia hanya terdiam. Sepertinya ada sesuatu hal yang sangat mengganggu pikirannya saat ini. Sun yang merasa dia tidak diikuti oleh gadis berambut blonde itu pun segera berhenti dan membalikkan badannya menghadap Lucy.

" Ada ap. . . " belum selesai Sun menyelesaikan kata - katanya, Lucy terlebih dahulu memotong pertanyaannya tersebut.

" Bagaimana bisa ? " Sun yang belum sempat menyelesaikan pertanyaannya pun telah dipotong dengan sebuah pertanyaan tidak jelas dari anak satu – satunya keluarga Hearfilia tersebut.

" Na ni ? " gumam Sun yang masih tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh Lucy.

" Bagaimana bisa kau menyalakan lentera – lentera itu ? dan aapa yang telah kau lakukan pada pintu itu ? " Tanya Lucy dengan tatapan tajam mengarah ke arah Sun. Dipikiran Lucy saat ini adalah bahwa Sun bukanlah penduduk biasa, pasalnya mana mungkin seseorang dapat menyalakan semua lentera sepanjang lorong ini hanya dalam waktu beberapa detik dan membuka pintu besar bersegel itu.

" Oh itu. . Hmmm. . Akan aku jelaskan nanti sesampainya disana " jawab Sun. Sun segera menarik lengan Lucy pelan melewati pintu tersebut.

Ketika beberapa langkah dari pintu itu, Lucy mendengar suara aneh dibelakangnya, seperti suara sesuatu bergeser. Ketika Lucy menengok ke belakang, ternyata pintu itu tertutup sendiri. Lucy mengalihkan pandangannya kembali pada Sun, mencari – cari sesuatu atau jawaban dari semua keanehan yang dilihatnya itu.

" Jangan memandangku seperti itu " ujar Sun tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan setapak yang mereka lalui.

Lucy tersentak, Sun bahkan tahu bahwa Lucy memandanginya. ' Ada yang aneh darinya ' pikir Lucy.

" Aku tidak aneh " ucap Sun tiba – tiba, namun berhasil membuat Lucy bertambah kaget.

" Hei, kau bisa membaca pikiranku ya ? " Tanya Lucy penuh curiga pada Sun. Lucy menyipitkan matanya, mempercepat langkahnya untuk menyusul Sun dan mendekatkan wajahnya yang kini tepat disamping Sun.

" Hei " protes Sun sambil melepaskan tangan Lucy yang sedari tadi dia genggam lalu menjauhkan diri dari Lucy.

" Kau aneh " ujar Lucy pada Sun.

" Kau lebih aneh Lucy " balas Sun.

" Hei aku tidak aneh Nat.. " Lucy menghentikan protesnya. Dia baru saja hampir salah menyebut nama orang.

" Nat ? " Tanya Sun meminta kelanjutan dari perkataan Lucy.

" Maaf, habis kau mengingatkanku dengan Natsu " jelas Lucy. Dia jadi ingat kepada Natsu yang sering meyebutnya aneh.

" Siapa dia ? Pacarmu ? " Tanya Sun yang berhasil membuat Lucy nyaris terjatuh karena hilang konsentrasi berjalannya.

" Bu, bu, bukan koq. . Dia hanya nakama, ya nakama haha " jawab Lucy gugup sambil tertawa tidak jelas.

"Oh " gumam Sun yang kembali.

Lucy hanya tersenyum dan kembali mengikuti langkah Sun. Selama ini Lucy memang hanya menganggap Natsu sebagai nakamanya, tetapi tidak dapat dipungkiri juga bahwa muncul perasaan aneh pada Natsu, perasaannya perlahan berubah. Mungkinkah dia menyukai Natsu ? Ayolah, Natsu itu jauh dari kriteria pangeran impiannya. Tapi walau tidak seperti pangeran, Natsu memppunyai banyak kelebihan pada dirinya, salah satunya yaitu selalu memperhatikan nakama – nakamanya. Itulah yang membuat Lucy selalu merasa nyaman dan senang disamping Natsu.

Lucy terus melangkah disamping Sun, tidak ada satu pun dari mereka memulai pembicaraan. Sun sepertinya sangat berkonsentrasi pada jalan setapak yang mereka lewati, sedangkan Lucy hanya mengikuti dengan sesekali mengarahkan pandangan ke sekitarnya yang dapat diketahui hanya ada pepohonan.

" Hey Sun " panggil Lucy.

" Hn " gumam Sun sambil menengok pelan ke arah Lucy.

" SAMPAI KAPAN KITA AKAN TERUS BERJALAN ? " teriak Lucy dengan muka yang tampak frustasi ditambah aura deathglarenya menatap tajam Sun, sehingga berhasil membuat pemuda bersurai merah itu mundur beberapa langkah dan bergidik ngeri melihat Lucy seperti itu.

" Eh ? " ucap Sun yang kaget.

" JANGAN CUMAN BILANG EH ! " omel Lucy yang tidak puas dengan jawaban Sun itu. Dia tidak habis pikir, apa yang terjadi kepadanya sekarang. Oke benar, tadi dia hampir lupa bahwa dia kesini untuk sebuah misi, tapi semua ini tidak akan terjadi kalau dia tidak bertemu pemuda ini. Dia bertemu pemuda itu di jalan, lalu diseret untuk mengikutinya sampai sini tanpa tahu alasannya. Memang sih, Lucy sendiri yang penasaran, tetapi kalau sampai berjalan hampir 20 menit melewati hutan tanpa tahu tujuan begini sih siapa yang mau.

" Lu, Luc, Lucy, tenanglah. Sebentar lagi sampai koq, di balik pohon besar dan semak itu " ujar Sun berusaha menenangkan Lucy, kemudian dia juga menunjuk salah satu pohon besar yang tidak jauh dari hadapan mereka.

" Huh, Oke. Tapi awas kalau sampai kau berbohong " ancam Lucy yang amarahnya mulai mereda.

" eh, I, iya, aku janji " ucap Sun dengan memperlihatkan jari telunjuk dan tengah tangan kananya berbentuk V serta cengirannya kepada Lucy.

" Hmmmppfftt " Lucy berusaha menahan dirinya agar tidak tertawa melihat kelakuan Sun, untunglah Sun sudah beberapa langkah di depannya, sehingga mungkin dia tidak bisa melihat Lucy yang sedang tersenyum di belakangnya.

Sesampainya di depan pohon besar yang tampaknya sudah tua itu, Sun berjalan ke samping pohon dan menyibakkan semak – semak yang ada disekitarnya agar mereka bisa lewat. Lucy yang masih berada di depan pohon, memandang pohon itu dengan sangat intens. Dia merasa ada yang aneh dengan pohon itu, tapi dia sendiri tidak tahu pasti apa yang membuatnya aneh.

" Oy Lucy, lewat sini " seru Sun yang kini setengah tubuhnya telah berada di antara semak – semak.

" Ah, iya " sahut Lucy yang segera menyusul Sun.

" Kita sampai " ujar Sun yang telah berhasil keluar dari sisi lain semak tersebut.

" Ah " Alangkah terkejutnya Lucy dengan pemandangan yang tersuguhkan di depan matanya tersebut. Sebuah kastil ? di tengah hutan ?.

" Ayo Lucy " ajak Sun sembari menarik lengan Lucy agar ikut berjalan bersamanya.

Sementara itu, Lucy hanya berdecak kagum dengan kastil putih modern yang megah dan dikelilingi oleh taman bunga yang indah tersebut, ini hampir mengingatkannya tentang rumahnya dulu.

" Ah, Tuan muda. Selamat datang " sapa seorang wanita berambut ungu disusul sapaan beberapa orang lainnya sambil membungkuk. Sebelumnya Lucy melihat mereka sedang menyirami bunga – bunga yang ada di taman, ada yang sedang memotong tanaman, dan semacamnya.

" Aku pulang, hana, washi, yama, renai, sai, nagano, sakura, ryuu, yoo " balas Sun sambil melambaikan salah satu tangannya dan tersenyum. Lucy hanya bisa melongo, tuan muda ? jadi, pemuda di sampingnya sekarang adalah putera pemilik kastil besar ini ?. ' Oh, kami sama, ada apa sebenarnya ? kenapa hari ini penuh sekali dengan kejutan ? ' batin Lucy. Sementara Lucy sedang berkutat dipikirannya sendiri, dia tidak menyadari bahwa sekarang Sun dan dia telah berada di depan pintu masuk kastil tersebut. Sun menyapa para penjaga pintu dan Lucy yang telah sadar dari lamunannya hanya bisa diam melihat Sun dan pintu di depannya itu.

" Selamat datang tuan muda Sun " sapa seseorang dari balik Lucy. Lucy segera memutar tubuhnya, mencari sosok yang menyapa Sun.

" Ah, ternyata kau Rin " balas Sun menuju kepada laki – laki yang menurut Lucy 'cantik' tersebut.

Pemuda yang sepertinya bernama Rin itu mempunyai rambut hitam pendek, mata onyx yang bulat, kulit putih pucat ( hampir seperti salju ), dan setelah Lucy perhatikan baik – baik, dia mempunyai tattoo berbentuk bintang di dekat pelipis kanannya serta beberapa goresan di pipi kirinya. Sun juga tampaknya sangat akrab dengannya, terbukti sekarang Sun yang entah sejak kapan tengah berbincang – bincang sambil merangkul pundak pemuda bersurai hitam itu.

Lucy yang sedang melamun memperhatikan mereka, ternyata diperhatikan balik oleh Rin, dan entah kenapa Lucy merasa canggung karena pemuda itu meliriknya dengan sangat dingin. Sun yang menyadari Rin sedang menatap Lucy pun segera memecah kecanggungan mereka.

" Oh iya Rin, perkenalkan dia. . " belum sempat Sun menmperkenalkan Lucy, satu kata yang Rin lontarkan berhasil memotong perkataan Sun.

" Lucy " ucap Rin singkat dan masih menatap Lucy. Lucy yang

" Eh ? " gumam Sun dan Lucy yang bingung.

" Salam kenal nona Lucy Heartfilia " ujar Rin sambil membungkukkan setengah tubuhnya di hadapan Lucy.

" EKHH ? " gumam Lucy setengah berteriak.

' bagaimana dia bisa tahu namaku ? ' pikir Lucy. Dia menatap Rin tidak percaya, Sun hanya diam, sementara Rin yang telah mengangkat wajahnya hanya tersenyum tipis.

~ TO BE CONTINUE ~

Chapter 4 akhirnya selesai, masih pendek ya minna ? Maaf, habis aku sedang malas berimajinasi (-,-) #plak. Setelah chapter ini, aku ngga tahu kapan bisa melanjutkannya lagi. Jadi, beribu maaf aku sampaikan kepada para readers yang mungkin sudah sangat kecewa dengan author sepertiku. (_ _") #suram

Owh iya, sebelum chapter ini update, sebelumnya aku sudah mengupdate fanfic one shot yang berjudul ' The Rose ', bagi yang belum tahu, ini pairing romancenya NaLu loh. . fanfic ini juga sebagai permintaan maafku untuk para readers. Satu lagi, cover fanfic Real Mission yang baru ini, aku gambar sendiri, bagaimana ? :D . sebenarnya gambar aslinya landscape, tapi karena sebagai cover ngga bisa landscape, jadi aku fotonya cuma sebagian ( harusnya ada Plue and Happy di ujung tulisan fairy tail nya ). -,-

Yaudah, cukup deh cuap – cuap sendiri, saatnya balas review :

Mako – chan : wah, maaf. . sampai saat ini Sun belum terungkap siapa, tapi di chapter selanjutnya akan ketahuan koq. Maaf ya updatenya telat..

Velisia : iya, makasih ya. Maaf banget aku ngga bisa update tepat waktu, maaf sudah buat kamu dan para readers lain kecewa. Mudah-mudahan chapter ini bisa menutup sedikit saja rasa kecewa itu, walaupun tidak bisa seluruhnya. Maaf m(_ _)m #dibuang readers

Nnatsuki : Tenang aja koq, sampai sekarang si Sun belum ngapa – ngapain Lucy. Sama donk aku juga UN, Maaf ya updatenya telat…

Kuro Joker : Emmmh, kelas berapa ya? Mau tau aja, atau mau tau banget? Hehe #plak. Uhuk uhuk, aku sudah tua. ( bercanda tapi sedikit benar, mmh waktu itu UN ku untuk sma *malu* ). Maaf ya updatenya telat…

Hina Azureno : makasih ya, maaf juga karena ngga bisa update tepat waktu dan chapter ini juga kurang panjang. Maaf banget..

Tohko ohmiya : Oke, makasih ya. Maaf juga ya updatenya telat. .

Maaf dan terima kasih untuk semua yang telah membaca juga mereview fanfic buatan author yang mengecewakan ini. Jaa ne matta. . m(_ _)m #jangan lupa RnR nya ya :D