3.026 Words

.

Motor yang dikendarai Gaara sudah dekat dengan lokasi tempat Sakura harusnya menemui Sasuke sore tadi. Dengan gelisah Sakura mencari-cari sosok Sasuke di taman pusat kota dengan pencahayaan yang sedikit temaram itu, padahal taman itu cukuplah besar. Sakura sudah semakin gelisah semenjak langit semakin gelap dan tanda-tanda senja sudah pergi. Ia tidak begitu yakin jika Sasuke masih disana menunggunya. Tapi hal itu tidak membuat Sakura putus asa. Ia meminta diturunkan pada Gaara ditaman itu meskipun pemuda itu sedikit ragu melihat ekspresi gelisah yang dipasang Sakura.

"Apa benar orang yang akan kau temui sudah datang, Sakura?" tanya Gaara untuk ketiga kalinya. Ia sendiri pun merutuki lidahnya sendiri yang berani-beraninya mengeluarkan kata-kata sok peduli seperti itu.

"Hm..." Sakura mencoba tersenyum. "Aku yakin dia pasti sudah datang. Hanya saja aku belum melihatnya. Orang-orang di taman ini cukup ramai." Sekali lagi Sakura mengalihkan pandangannya pada orang-orang di taman.

Gaara mengikuti arah mata Sakura sebentar kemudian kembali melihat gadis yang sudah berdiri disampingnya itu. Ia menaikkan alisnya dan mengedikkan bahu, "terserahlah."

Sakura kembali melihat pada Gaara yang sudah sia-siap pergi, dan ia tersenyum manis, "terimakasih antarannya, Gaara-kun. Maaf merepotkanmu."

"Aa," Gaara mengangguk. "Kalau begitu aku tinggal," dan ia mendapat anggukan dari Sakura. "Sampai jumpa disekolah," sekali lagi Gaara merutuki lidahnya yang mengeluarkan kata-kata sangat-bukan-dirinya. Ada apa dengan diriku?–batinnya bingung dan gelisah meskipun ia masih memasang tampang stoic layaknya kesehariannya.

Sakura tersenyum manis lagi dan mengangguk sambil melambai, "sampai jumpa di sekolah, Gaara-kun!"

Setelah Gaara pergi, entah takdir atau keajaiban apa, mata jernihnya pun langsung menangkap sosok yang dicari-carinya sedang duduk disalah satu bangku taman. Dengan senyum lega yang terpasang diwajah dan gerakan langkah kaki yang tergesa-gesa menghampiri sosok yang sedang duduk dengan kepala tertunduk itu.

"Sasuke-kun!" panggilnya tanpa ragu.

Orang itu mendongak dan sekali lagi senyuman itu luntur dan hilang begitu saja dari wajah cantik Sakura.

Orang itu bukan Sasuke!

Sekali lagi waktu mereka selalu salah.

Sekali lagi takdir mempermainkan mereka.

Tanpa bisa dibendung lagi air mata yang sudah cukup sering ditahan itu pun akhirnya jatuh melimpah.


.

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

My Light © Yuzuru Tenshi

© 2014

Rate : T

.

.

.

.

.


Chapter 4

.

Dengan usaha yang cukup keras untuk kabur dari Itachi Sasuke kini menunggu Sakura ditempat janjian mereka. bukan janjian sebenarnya karena hanya dirinyalah yang menentukan tempat dan waktu untuk pertemuan mereka ini tanpa tahu apakah Sakura setuju atau mengetahuinya –mengingat bahwa Sasuke berpesan kepada Naruto untuk menyampaikannya pada Sakura hanya jika gadis itu menanyakan dirinya. Jadi, belum tentu juga jika Sakura menanyakan dirinya beberapa hari belakangan ini atau tidak. Jadi, tidak ada jaminan bahwa Sasuke pasti menemui gadis itu disini.

Dan lagi, meskipun Sakura tahu, apakah ia berkenan untuk datang dan menemui Sasuke yang menyadari bahwa dirinya sendiri pun merasa bahwa ia menggantung gadis itu meskipun –tentu saja–tidak. Karena Sasuke tahu benar bahwa dirinya benar-benar telah jatuh hati pada gadis itu sudah sejak lama sekali. Entah kapan tepatnya pun ia tidak tahu dan tidak begitu yakin.

Jadian mereka pun tampaknya hanya karena pernyataan Sasuke yang lebih menjurus kepada perintah atau pemaksaan sepihak. Meskipun begitu, bagaimana pun Sasuke sudah bertekad untuk tidak melepaskan gadis yang dicintainya itu. Ya, ia memang bukan sekedar jatuh hati, tapi jatuh cinta kepada gadis itu. Maka, apa pun yang terjadi pastilah ia akan mempertahankan hubungan mereka ini dan tak 'kan melepaskan sesuatu yang sudah berada digenggamannya.

Itulah Uchiha.

Tapi, Uchiha Sasuke pun bukanlah seorang penyabar yang akan betah menunggu seseorang bergitu lamanya. Itu pun ia sudah termasuk penyabar tingkat dewa –bagi seorang yang berdarah Uchiha– untuk menunggu seseorang berjam-jam lamanya.

Itulah Uchiha Sasuke kini, seorang pembuat masalah yang mau-maunya membuang waktunya hanya untuk menuggu seorang gadis yang belum tentu akan mendatanginya.

Sekarang pun langit sudah gelap. Sasuke sudah duduk dengan posisi yang sama, meski menoleh sesekali untuk mencari sosok yang dicarinya, dalam waktu yang lama. Ia sudah menyerah, Sakura tak akan datang. Terakhir kali ia kembali mencari sosok yang dicarinya dengan mata onyx-nya yang segelam malam dan sekali lagi tidak menemukannya. Mengulas senyum miring Sasuke berdiri dengan badan sedikit bungkuk dan kepala tertunduk, sambil berjalan pergi ia membenamkan kedua tangannya kedalam saku celananya.

Terus berjalan seperti itu sambil mengasihani nasib dirinya hingga teriakan seseorang dengan suara yang sangat dikenal Sasuke memanggil namanya.

"Sasuke-kun!"

Betapa suara itu sangatlah dirindukannya. Sasuke mengulas senyum dan memejamkan mata menikmati suara yang memanggil namanya masihlah terngiang-ngiang ditelinganya. Merasa kekuatannya terisi kembali dengan perlahan Sasuke kembali menegakkan badannya dan membalik tubuh kearah sumber suara yang berada beberapa meter dibelakangnya.

Sasuke menaikkan alisnya melihat Sakura yang sedang membungkukkan badan dengan bahu yang naik turun seolah menarik napas panjang dihadapan seorang laki-laki yang sedang duduk dan menghadapnya dengan pandangan, yang Sasuke yakin, bingung.

Sasuke yakin sekali bahwa gadis pemilik surai merah muda itu adalah Sakura meskipun dibawah siraman cahaya lampu taman yang temaram. Sudah beberapa hari belakangan ini senyuman itu tak terpatri diwajah dingin milik Sasuke dan kini pun ia gadis itu mampu membuatnya tersenyum, lebih tepatnya menyeringai kecil.

Sasuke menyeringai menyaksikan Sakura dari kejauhan. Sakura sudah berdiri dengan benar dan menatap orang dihadapannya dengan tampang bingung dan kecewa –mungkin? Tak perlu hitungan detik air matanya pun jatuh membasahi pipi putihnya. Tak tahan melihat ini, meskipun benar-benar lucu bagi Sasuke, ia pun berjalan perlahann kearah Sakura.

Bagaimana bisa Sakura salah orang seperti itu.

Meskipun lega dan senang setengah mati, Uchiha tak pernah mempertontonkan rasa bahagianya, begitu pula dengan Sasuke. Meski masih menyeringai kecil diwajah dinginnya Sasuke berjalan dengan gerakan yang santai dan seperti tak merasa apa-apa.

"Oi, pinku!" panggilnya.

Seolah tak percaya, Sakura dengan cepat menangkap sinyal Sasuke dan menoleh kearah pemuda yang sedang berjalan kearahnya itu. Air mata semakin membanjiri wajah Sakura meskipun dengan susah payah gadis itu mengusap dan menghapusnya, bukan menangis karena panggilan 'pinku' oleh Sasuke. Bahkan mungkin gadis itu tak menyadarinya. Benar-benar lucu menurut Sasuke.

Orang yang berada dihadapannya Sakura menoleh dengan bingung bergantian kepada dirinya dan Sasuke. Seolah mengerti –atau tergannggu–ia pun beranjak pergi dengan malas-malasan.

Sakura sendiri pun tidak mengerti kenapa air matanya melimpah ketika orang dihadapannya bukanlah Sasuke atau ia menangis ketika menemukan Sasuke berada beberapa meter darinya itu. Yang pasti, ia yakin sekali bahwa hatinya merasa bahagia dan lega luar biasa ketika melihat Sasuke dengan seringaiannya itu.

Mengusap air mata terakhirnya, sekali lagi Sakura memanggil Sasuke yang kini sudah berada dengan jarak satu meter dihadapannya, "Sasuke-kun..." Sakura tersenyum dengan wajahnya yang masih memerah dengan alasan yang dibuatnya sendiri karena menangis, "...aku kira aku tidak akan menemukanmu disini," katanya jujur dengan nada suara yang lega.

"Hn," angguk Sasuke dengan tampang datar. "Kau lama sekali," sama seperti Gaara, meski pun Sasuke tidak tahu tentu saja, ia juga merutuki lidahnya yang seenak jidat berkata sesuatu yang tajam seperti itu. Bagaimana kalau Sakura, yang tampaknya sudah berusaha untuk datang menemuinya, malah tersinggung oleh perkataannya.

Sakura membulatkan matanya. "Maaf," katanya murung. "Kami baru saja menyelesaikan tugas kelompok Oro-sensei," jawabnya jujur sambil ikut duduk disamping Sasuke yang telah duduk dibangku dihadapan mereka.

"Hn," balas Sasuke datar. Ia menatap Sakura dengan lembut dan mengusap kepala gadis itu dengan pelan, "terimakasih."

Wajah Sakura semakin memerah dengan perlakuan Sasuke seperti itu.

"Terimakasih sudah datang," ulang Sasuke seolah mengerti dengan tatapan bertanya Sakura.

.

.


"Jadi, apa yang mau kau katakan, Sasuke-kun?" tanya Sakura setelah mereka lama terdiam dengan suasana awkward. Lebih tepatnya Sakura saja mungkin, karena Sasuke lebih tenggelam pada pemikirannya dengan garis-garis samar yang terlukis diantara kedua alisnya.

Setelah beberapa saat bersabar menunggu jawaban, atau setidaknya tanggapan dari Sasuke, akhirnya Sakura mendapati pemuda disampingnya itu menghela napas panjang sekali sebelum berkata, "kau tahu aku siapa, Sakura." Dan perkataan Sasuke itu membuat Sakura bingung kearah mana pembicaraan mereka ini sebenarnya. "Aku sering terlibat masalah. Kau tahu itu, juga semua orang," katanya menoleh pada Sakura. Gadis itu tidak mengerti sebenarnya apa yang mau dibicarakan Sasuke.

Sasuke kembali menatap lurus kedepan dengan mulut dan hidung yang tertutup kedua tangannya yang saling bertaut didepan wajah. Sekali lagi ia menarik napas panjang sebelum berkata, "tiga hari selama aku tidak hadir ini aku dihukum. Diskors. Maafkan aku, mungkin kau bertanya-tanya kemana saja aku selama ini tanpa kabar dan mencemaskanku. Itu pun kalau ada..." kata-kata terakhir sebenarnya sulit diucapkan Sasuke yang tidak sanggup menerima kebenaran terburuk.

"–tidak! Itu tidak benar. Aku benar-benar mencemaskanmu, Sasuke-kun!" Sakura tidak mengerti dirinya. Kenapa ia berkata seperti itu. Apa benar ia mencemaskan Uchiha Sasuke?

Sasuke tersenyum lega dengan respon Sakura. Ia tidak yakin apakah Sakura jujur atau hanya mengasihaninya. Tapi ia tidak perduli, satu lagi yang ia tahu, gadis ini benar-benar baik dan mampu menjaga perasaannya. "Hn, terimakasih." Begitu seringnya Sasuke mengucapkan terimakasih hanya untuk gadis ini seorang. "Skors untuk tiga hari sebagai hukuman atas kenakalanku itu tidak sebanding. Tapi, kau tahu. Kepala sekolah pun meminta izin dulu kepada ayahku untuk menghukumku dan akhirnya hanya mendapat izin tiga hari. Namun, sebagai gantinya aku akan dikawal oleh dua orang pria berbadan besar setiap harinya, bahkan di sekolah sekalipun," terang Sasuke dengan nada yang tak mampu diartikan oleh Sakura.

Sakura tak tahu harus merespon Sasuke seperti apa, jadi ia hanya diam sebagai pendengar yang baik.

"Maafkan aku meninggalkanmu begitu saja pada hari terakhirku sekolah kemarin."

Sakura menggeleng dan tersenyum penuh pengertian. Ia cukup yakin dengan pemikirannya akan alasan Sasuke meninggalkannya beberapa hari yang lalu.

"...Dan hari-hari sebelumnya. Aku sadar kalau aku pria brengsek yang berani-beraninya menggantung perasaanmu, Sakura. Tapi, kau harus tahu bahwa aku tidak bermaksud seperti itu sedikit pun," kata Sasuke sungguh-sungguh meskipun ia tak menoleh pada Sakura sedikit pun.

Meskipun Sakura tak mengerti dan tak tahu alasan sikap Sasuke yang menggantungnya itu, namun ia merasa lega dan bahagia sekali mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulut pemuda berambut raven itu.

"Dan aku sudah bertekad, sebagai gantinya aku tidak akan bersikap seperti itu lagi dan ingin lebih dekat lagi denganmu, Sakura. Tapi, seperti yang kubilang tadi, untuk selanjutnya aku akan selalu dikawal dan diawasi. Dan sekali lagi aku tidak bisa lebih memperhatikanmu, tapi aku tak akan pernah mengabaikanmu."

Kedua iris emerald Sakura berkaca-kaca. Apapun yang keluar dari mulut Sasuke, yang ia ketahui selalu tajam dan kasar itu, kini sangat berbeda jauh dari pikirannya. Bahkan orang manapun tak akan percaya bahwa Sasuke kini mengucapkan kata-kata yang sangat manis dan menenangkan hati seorang gadis yang depresi sekali pun jika itu ditujukan padanya.

Sasuke menatap Sakura sungguh-sungguh dan menggenggam kedua tangan gadis itu dengan lembut dengan kedua tangannya yang hangat. Tidak hanya karena sentuhan kulit itu saja –yang meskipun terasa sangat nyaman, bahkan iris onyx Sasuke yang terkesan kelam, tajam, dan dingin itu mampu membuat diri Sakura merasakan sengatan listrik yang baru kali ini dirasakannya.

.

.


"Ehem!"

Entah sejak kapan seseorang telah berdiri dihadapan sepasang insan yang sedang saling menatap dengan kedua tangan yang saling menggenggam itu.

Dengan cepat Sakura menoleh kearah sumber deheman yang rasa-rasanya familiar itu. Benar Saja, ia manarik kedua tangannya dari genggaman Sasuke. Meskipun pemuda dihadapan mereka memasang helm hitam yang menutupi sebagian wajahnya itu namun Sakura sadar dan yakin sekali bahwa orang ini adalah kakaknya yang terlihat jelas dari postur tubuhnya yang sangat dikenal Sakura dan pakaiannya yang masih sama dengan terakhir kali Sakura lihat sebelum kakaknya itu pergi sebelum dirinya tadi.

"Sa –Sasori-nii?" Sakura gagap dan harap-harap cemas kalau dirinya salah dan orang ini bukan kakaknya.

Mendengar bahwa Sakura memanggil pemuda yang tidak terlalu tinggi dihadapannya ini dengan sebutan kakak, lantas Sasuke menghormati dan ia pun bangkit dari duduknya dan mengangguk sopan.

Sasori menatap Sasuke tajam sebelum ia melepas helmnya dan bersedekap dengan helm yang tergantung disebelah tangannya. Rambut merahnya yang sewarna darah terlihat sedikit lembab karena terkurung dalan helm dan seidikit acak-acakan. Ia tak peduli dengan penamilan rambutnya karena masih asik dan menikmati untuk melempar pemuda berambut raven dihadapannya dengan tatapan tajam, dingin, dan menusuk.

Sasuke hanya membalas tatapan Sasori dengan tatapan datar. Meskipun dalam hatinya bergejolak panas untuk menonjok hidung orang ini jika saja ia bukanlah kakak Sakura.

Sakura menatap kedua pemuda tampan dihadapannya dengan takut-takut. Terutama pada kakaknya yang ia ketahui sangat protektif dan sangat menjaga dirinya. Bagaimana kalau Sasori berlaku yang tidak enak pada Sasuke? Apa lagi dilihat dari tatapan matanya yang semakin parah saja semenjak terakhir kali ia melemparkan tatapan tajam dan mengintimidasi kepada Inuzuka Kiba yang waktu itu datang ke rumah dan menanyakan Sakura untuk meminjam sebuah buku kesehatan hewan –yang kebetulan Sakura punya– atau Abumi Zaku yang menanyakan keberadaan pacarnya, Kin, di rumah Sakura. Atau pemuda-pemuda lain yang bagi Sasori mencurigakan untuk menemui Sakura dengan alibi tak masuk akal seperti Inuzuka Kiba dan Abumi Zaku.

"Ayo pulang, Sakura!" perintah Sasori meninggalkan Sasuke meskipun dengan nada suara yang datar.

"Ha –hai'" Sakura berjalan mengikuti Sasori dan melemparkan tatapan minta maaf pada Sasuke atas perlakuan Sasori padanya. "Gomenna," bisiknya pelan. "Sampai jumpa di sekolah Sasuke-kun!"

Sasuke mengangguk. Ia masih berdiri disana hingga Sakura menaiki motor dan memasang helm, yang tak Sasuke sadari sudah sedari tadi dibawa gadis itu, dan motor yang dikendarai kakak Sakura itu menghilang diperempatan jalan.

Ia berbalik kebelakang, dimana Itachi yang ia yakini sejak tadi tengah menyaksikan apa saja yang dilakukannya semenjak sore tadi, di sebuah cafe di seberang taman.

Tahu? Tentu saja. Bukankah Uchiha itu identik dengan orang-orang berotak cemerlang?

.

.


"Apa hubunganmu dengan dia, Sakura?" selidik Sasori tanpa basa-basi ketika mereka sudah beberapa menit terdiam diatas motor besar yang dikendarai kakak sepupunya itu.

"Hm...? Eh! Dia itu... Sa –Sasuke-kun itu–" Sakura sedikit gagap mendapati pertanyaan tiba-tiba dari Sasori. Jawaban pasti yang memang seharusnya tersampaikan dari mulutnya sendiri pun susah diucapakan Sakura –mengingat Sasori adalah tipe kakak yang over protective dan setipe sister complex.

"Tch..." decih Sasori memotong perkataan Sakura. "Jelas sekali kalau kau dan dia itu ada apa-apanya, Sakura!" jawabnya sendiri berdasar dari cara bicara Sakura yang gugup tak jelas.

Sasori semakin mempercepat laju motornya dan menyelip-nyelip di jalanan kota yang ramai. Sakura pun juga mempererat pelukannya di pada Sasori untuk menjaga keselamatannya sendiri.

Sakura sadar kalau sikap over protective kakak sepupunya mulai keluar lagi. Ia mengembungkan pipi dan berkata dengan nada merajuk, "nii-san..."

Sasori tak mengindahkan panggilan Sakura dan tetap memfokuskan mata dan pikirannya pada jalanan di malam weekend yang padat. Ia tidak suka kalau adiknya–yang menurutnya belum pantas–dekat dan menjalin hubungan khusus dengan laki-laki manapun. Jangankan itu, kalau ada saja laki-laki yang mencoba mendekati adiknya pasti Sasori akan menindak lanjutinya. Tak peduli apa persepsi mereka soal dia, yang penting Sasori menjaga Sakura agar terjaga dari hal-hal yang tak diinginkan. Apalagi mengingat pada era modern seperti sekarang, seperti pergaulan bebas, dll.

Ditambah lagi sekarang malam minggu dan waktunya para pasangan kekasih untuk bertemu dan melakukan hal-hal yang romantis menurut mereka. Blah! Sasori ingin muntah dan marah membayangkan kalau si pantat ayam dengan tatapan datar tadi melakukan hal-hal yang tidak senonoh pada Sakura.

Catatan, Sasori tak akan membiarkan Sakura berhubungan dengan laki-laki bertampang datar seperti tadi (menurutnya tidak sopan sekali), apalagi sepertinya dia bukan anak baik-baik. Sasori pasti akan mencari tahu soal si pantat ayam dan melakukan hal yang serupa dengan laki-laki yang mencoba dekat dengan Sakura agar menjauh dan tak macam-macam dengan adik sepupu kesayangannya.

.

Masih memeluk Sasori, Sakura hanya bisa mengehembuskan napasnya karena tak dapat respon dari kakaknya. Ia tahu betul sikap Sasori itu seperti apa, semata-mata memang untuk menjaga dirinya. Sasori sudah seperti itu sejak dulu-dulu sekali, sejak Sakura belum tahu menahu soal apapun dan semenjak ia mulai mengingat bahwa dirinya adalah adik sepupu Sasori. Bahkan Sakura berpikir dan berpendapat kalau sikap seorang kakak itu memang seperti apa yang dilakukan oleh Sasori terhadap dirinya, itu sebelum ia mulai berinteraksi dan mendapatkan berbagai informasi dengan teman-teman di sekolah.

Barulah Sakura sadar kalau Sasori itu, seperti istilah-istilah sekarang, sister complex.

"Kenapa tidak langsung pulang?" tanya Sasori setelah mereka terdiam cukup lama, sekali lagi.

"Um... itu, aku ada janji," jawab Sakura jujur. harap-harap cemas kalau-kalau Sasori memarahinya.

"Janji? Kenapa malam-malam?" tanyanya tajam.

"Tidak," jawab Sakura cepat. "Sebenarnya bukan malam, tapi karena tadi kami harus menyelesaikan tugas kelompok hingga tuntas dulu. Makanya terlambat, nii-san."

"Tapi tetap saja malam, Sakura. Apalagi malam minggu," kata Sasori tak ingin dapat bantahan apapun, meskipun ia bicara dengan pelan namun terdapat penekanan disetiap katanya. Kemudian ia melanjutkan,"kalau pulang terlambat, kenapa tidak menghubungi?"

"Bukannya tadi kalau kau bilang akan pulang terlambat, nii-san?" tanya Sakura dengan maksud kalau ini bukan kesalahannya.

"Hh! Sudahlah."

Meskipun Sasori tak begitu membahas masalah ia dan Sasuke tadi, tapi Sakura cukup tahu dan curiga apa yang akan dilakukan Sasori jika ia tahu Sasuke itu siapa dan seperti apa. Apalagi mencari tahu tentang Sasuke sepertinya tidak sulit karena semua orang–terutama di sekolah mereka–mengetahui Sasuke itu orangnya seperti apa.

Tapi satu yang sudah tercatat dalam pikiran Sakura. Ia bertekad untuk tidak membiarkan Sasori melakukan hal yang membuat hubungannya dan Sasuke berakhir begitu saja. Karena, Sakura sudah mendapat jawaban pasti kalau ia dan Sasuke benar-benar menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih dan Sakura akan menjalaninya seperti yang seharusnya. Lagi pula Sasori tidak seharusnya lagi bersikap seperti itu padanya, Sakura yakin kalau ia sudah cukup umur dan pandai menjaga diri. Sudah cukup ia sabar untuk menolak dan menjauhi laki-laki yang cukup menarik baginya karena takut Sasori akan bertindak tidak baik pada mereka.

.

.

つづく

Tsudzuku

.

.


A/N


Sedikit penjelesan dari chapter ini, Sasuke terlibat masalah lagi dan bahkan juga ditangani pihak kepolisian. Tapi hukumannya ditunda dulu hingga kepala sekolah menanyakan dan meminta persetujuan dari Fugaku dulu. Hal itu karena Fugaku mengirimkan banyak donasi dan sumbangan untuk sekolah mereka, dan ia juga seseorang yang berkuasa, meski anaknya terlibat masalah, pihak sekolah masih meminta persetujuan dari Fugaku untuk menghukum Sasuke. Dan akhirnya dapat hukuman juga, meski cuma skors selama tiga hari.

Tapi itu karena Fugaku juga berjanji untuk menghukum anaknya dengan caranya sendiri. Yaitu selalu dikawal dengan dua orang bodyguard, soal hukuam Fugaku itu (kalau dua orang bodyguard) ini masih hukuman kecil. Soal hukuman untuk Sasuke yang dibahasnya sama Mikoto dan Itachi akan dibahas di chapter-chapter depan.

Nah, kayaknya chapter-chapter awal dari ML udah selesai, nih. Dan chapter depan sudah mulai masuk pada inti permasalahannya. Dan aku harap masih ada yang baca dan menunggu-nunggu ML. Oh ya, aku nukar Image Manage-nya tuh, meski bukan milikku tapi aku yang ngedit lho, ckck.. masih jelek, maklum masih pemula.

Setelah dpt saran dn ilmu dr Mysticahime-senpai... aku baru tahu beberapa hal, jadi maaf buat warning di chapter awal AU/Fanon/AT dllnya itu ya. warningnya cukup AU aja, jdi maaf klau ada yg bingung ya, ditambah ini juga OOC. jadi harap maklum. dan terimakasih bnyk buat myticahime-senpai yg udah mau mengoreksi fic-ku ini.

Sekedar promosi, baca fic ku yg buat ultahnya Sasuke & Contest TomatCeri IV dong, juga ksih review (klo boleh mnta) soalnya kyaknya sepi ngt tuh, mski klau dilihat ckup bnyk yg baca tpi gk ada yg review, dan ada yg nge-fave tpi aku msih gk prcaya diri krna gk ada review itu lho DX apa krna gk ada yg musti dikatakan atau trlalu jelek? :,,,,(

meski di ML yg review cuma 3-4-5 disetiap chapter tpi aku udah cukup senang kok, meski 1 org sekali pun. Sungguh!

Karna review itu sbg bntuk dukungan yg spesial untuk author (setidaknya itu mnurut ku)

Oh iya, ada yg mau add aku di FB gk? kuharap ada. Mudah kok, dg penName yg sama. Yuzuru Tenshi (Esmeraldha Austin). kalau ada yg add psti bkal ku confirm, tpi sebaiknya ada pesan dulu klau tman2 dri . disana juga boleh kirim pesan dan chat sma aku sesuka hati, psti aku bakal senang bngt... boleh msalah FF atau yg lain, *serius. apalagi klau ada yg mau temanan.


Review


Seperti biasa, ucapan terimakasih yang banyak saya tujukan pada semua readers (termasuk silent readers), reviewers, yang fave dan follow. Doumo arigatou gozaimasu! *bungkuk*

Bagi yang login silahkan check PM, ya?

Meme Chua : Pertama-tama, aku senang sekali karna Meme-san reviewnya pnjang lebar dan bnyak nanya,,, aku senang sekali. Nah, Aku dari Sumbar? sepertinya begitulah. Kota apa? hmm... kyaknya sama sprti Meme-san. hehe... #maaf gk ngasih jawaban psti. Makasih... di ptong di bgian itu spya bikin penasaran.. ckckck... Belum nentuin sampai chapter brpa tpi gk bkalan panjang2 amat kok krna plotnya sudah dibuat, mngkin kira-kira 5 chapter kali? bisa kurang bisa lebih juga sih. Rencana Fugaku itu? Menjodohkan Sasuke? ummm... lihat aja nnti deh, klau spoiler nnti gk seru dong. Itachi gk kenal Sakura, cuma ngingatin dia sma seseorang krna wrna rmbutnya yg unik. Gaara suka Sakura? mnurutmu? tpi di ML ini aku brusaha tdk mmbuat pihak ke-3, nnti smakin rumit dn chapternya mkin pnjang. tpi klau mau pihak ketiga nnti bisa di buat sequelnya #ada rencana juga sih. apa ini udah updet kilat? sbnrnya aku juga berusaha gtu sih, tpi kn aku juga punya dunia real (mski gk sibuk sih, untuk sekarang terutama) soalnya aku udah naik klas 3 SMA dn psti bkal bnyk prsiapan untk ujian *mski aku gk bgitu suka blajar* XD. klau msalah umur, skarang aku klas 3 SMA (cpet bngt , pdahal rasanya bru kmaren dftar SMA D:...) dn umurku 17 th 3 bulan 5 hri :D (klau gk slah hitung). Dan ini udah aku blas ;)

Big Thx for : Eagle Onyx, Secret's Girl, Meme-Chua, EmeraldAI, juga yg udah nge fave dan follow. gk bisa tulis satu2, gomenne...

.

.

Ini ada bonus!


おまけ

Omake

.

.

Awal minggu itu, dua hal yang menarik perhatian para penghuni sekolah adalah sosok-sosok kedua orang tampan. Yang pertama adalah sosok pria bertampang (benar-benar) tampan dan keren dengan usia belum tiga puluhan. Tanpa ragu pria itu masuk kedalam gedung sekolah, namun belum dapat dipastikan profesinya sebagai apa. Siswa?–tentu saja tidak. Satpam?–sepertinya sudah cukup satpam di sekolah ini. Petugas kebersihan baru?–terlalu keren. Guru?–penampilannya terlalu santai dibandingkan dengan guru-guru lainnya.

Dan yang kedua adalah seorang pemuda yang tidak diketahui kabar beritanya beberapa hari belakangan ini. Kehadirannya kembali membuat orang-orang cukup resah. Bagaimana kalau ia kembali berkelahi? Membuat masalah? Dan berlaku seenaknya saat pelajaran berlangsung? Meski hal itu tidak lagi sering terjadi semenjak tahun ajaran baru ini, tapi hal seperti itu masih terjadi beberapa kali. Dan orang-orang tidak menyukainya. Sosok yang biasanya dikelilingi oleh teman-temannya yang cukup berkuasa di sekolah itu kini berjalan didepan dua orang pria bertubuh besar dengan setelan pakaian serba hitam.

Apa lagi ini? Tidak cukupkah ia menarik perhatian orang-orang dengan tingkahnya selama ini? Dan kini pergi sekolah bahkan dikawal oleh dua orang bodyguard bertampang sangar!

.

.

See you to next chapter!


21:55

07292014

.

じゃ ね,

Yuzuru Tenshi