Disclaimer : Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi

Warning : AU, Shounen-ai. Banyak kekurangan dalam fanfiksi ini, kritik dan saran diterima.

.

Langsung aja kalau begitu. Enjoy!

.

"Maaf Akashi-kun, mungkin setelah ini aku tak bisa menampakkan diriku lagi."

.

Mata Akashi membulat. Kuroko bilang tak bisa menampakkan diri?

Seharusnya Akashi masa bodoh, kan? Tapi apa ini? Kenapa ia merasa seakan tak terima saat Kuroko mengatakan hal tersebut?

"Heh? Kau tak bisa menampakkan dirimu lagi?" tanya Akashi dengan raut muka biasanya, menyembunyikan apa yang sebenarnya ia rasakan.

Dalam mode tak kasat mata, Kuroko tersenyum miris. "Gomenasai, Akashi-kun. Mungkin aku akan pergi."

Deg!

"Pergilah tak apa, jaga dirimu."

Sial! Kenapa mulut dan hatinya tak bisa bersingkronisasi untuk saat ini?

"Sayonara, Akashi-kun, Kise-kun, Aomine-kun, Kagami-kun," ucap Kuroko dengan nada yang semakin lirih.

Suasana sepi senyap, hanya ada keheningan yang semakin mencekam. "Akashicchi, kau membiarkannya pergi?" ucap Kise tak percaya.

Akashi diam, tak menyahuti kata-kata Kise. Atau mungkin ia tak mendengar suara Kise?

"Oi Akashi! Sebentar lagi kesialan akan menimpamu. Oi Akashi!"

"Diam Taiga, berisik!" bentak Akashi.

Semuanya terdiam, tak terkecuali Aomine yang baru akan membuka mulutnya. Sepertinya ia akan mengucapkan hal yang kurang lebih sama dengan Kagami, tapi tak jadi.

Kise mengambil tasnya dari atas meja. "Semoga kau tak mengalami kesialan, Akashicchi. Sepertinya kau telah 'baik-baik saja', aku pulang dulu ya?"

Lelaki berkepala kuning itu pergi, diikuti oleh Kagami dan Aomine.

Akashi tertawa, bingung dengan dirinya sendiri. Baru beberapa saat yang lalu Kuroko bisa ditemuinya (setelah menghilang kurang lebih satu minggu), tapi sekarang sosok itu pergi lagi. Ia mengucapkan sayonara, kan? Berarti sosok itu telah tak ada.

Tawanya berangsur menghilang, digantikan dengan keheningan. Keheningan yang lagi-lagi membuat Akashi ingin menjerit frustasi. Untuk kali ini, ia tak bisa menjelaskan apa yang tengah menimpanya. Ia merasa baik-baik saja tanpa Kuroko, tapi sisi lain hatinya ingin hantu itu ada di apartemennya.

Membingungkan.

V

"A-aku, aku tak sengaja Akashi-kun, sumimasen."

"Benarkah, Akashi-kun?"

"Okaerinasai, Akashi-kun."

"Oyasuminasai, Akashi-kun."

"Akashi-kun."

"Akashi-kun?"

"Aka—"

Akashi terlonjak di tempat tidur. "Tetsuya!"

Lelaki itu memijat pelipisnya. Hanya mimpi ternyata. Padahal ia baru saja merasa Zashiki Warashi itu telah kembali dan menyapanya seperti biasa. "Tetsuya ..." lirihnya sambil memandang ke luar jendela.

Hari masih gelap ternyata. Mungkin baru sekitar pukul tiga pagi. Karena merasa tak bisa memejamkan mata kembali (tak ingin bayangan Kuroko kembali menghantuinya), Akashi turun dari tempat tidur, kemudian melangkah ke dapur.

"Tempat ini," lirihnya lagi.

Ingat dapur? Tempat pertama kali ia bertemu dengan Kuroko. Awalnya ia merasa jengkel dan benci dengan kehadiran hantu itu. Tapi sekarang ia ragu dengan dirinya sendiri.

Entah kenapa sejak hilangnya Kuroko, Akashi menjadi sosok yang melankolis.

Lelaki itu menghela nafas. Sesegera mungkin diambilnya air dingin dari lemari es, berharap dengan itu bisa menjernihkan kepalanya.

"Akashi-kun."

Akashi terkekeh pelan. Sepertinya suara-suara dari hantu bernama Kuroko Tetsuya mulai masuk ke kepalanya. Kejamnya hidup.

"Akashi-kun, kau bisa mendengar suaraku?"

Tidak! Hentikan suara itu sekarang juga. Suara itu membuat Akashi menginginkan kehadiran Kuroko Tetsuya di dekatnya. Sepertinya salah, tanpa suara itu pun Akashi tetap menginginkan kehadiran Kuroko. Benar begitu, kan?

"Akashi-kun?"

"Sepertinya suara dari hantu itu mulai masuk ke kepalaku."

"Aku ada di sini, Akashi-kun."

Lagi-lagi Akashi terkekeh. Sebegitu inginkah ia akan keberadaan Kuroko? Sampai-sampai delusi itu semakin menjadi-jadi saja.

Akashi membanting gelas ke counter, tak cukup keras sehingga hanya menimbulkan suara benturan kecil. Ia berbalik.

Matanya bertatapan dengan iris biru Kuroko.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Akashi menginginkan kejadian itu benar-benar nyata.

"Tetsuya?" tanya Akashi tak percaya.

"Akhir-akhir ini kau aneh, Akashi-kun. Jadi aku memutuskan untuk kembali menampakkan diri."

Apa bisa Akashi berharap untuk yang satu ini?

"Kau benar-benar Tetsuya?"

Kuroko mengangguk meyakinkan. "Ini benar-benar aku, Akashi-kun. Aku tak bisa berlama-lama dalam mode nyata, Akashi-kun. Jadi, bisa tolong lepaskan tanganku untuk sebentar saja?" tanya Kuroko dengan nada biasanya, datar.

Pandangan Akashi beralih dari iris Kuroko ke tangannya, yang ternyata memang menggenggam tangan hantu itu. Sepertinya tanpa sadar Akashi meraih tangan pucat milik sang hantu. Lelaki itu menggeleng. "Tidak, Tetsuya. Aku yakin, kau akan pergi kalau aku melepaskan tanganmu."

"Kalau memang itu yang Akashi-kun mau, baiklah."

Sosok Kuroko tiba-tiba menghilang. Membuat tangan Akashi jatuh untuk kedua kalinya.

"Tetsuya!"

"Aku di sini. Aku lelah, Akashi-kun."

Akashi baru ingat kalau Kuroko bisa juga lelah. "Kau di sini?"

"Benar. Sekarang, aku ingin meluruskannya, Akashi-kun."

Alis Akashi naik. Setelah mengetahui Kuroko tak pergi, ia memutuskan duduk nyaman di sofa. "Meluruskan?"

"Benar. Aku tak akan pergi dari sini, jadi Akashi-kun tak perlu khawatir."

"Berhenti bertele-tele Tetsuya, apa yang ingin kau luruskan?"

"Sebenarnya aku tak mau mengatakan ini, Akashi-kun. Tapi kalau aku tak melakukan apa yang harus kulakukan, maka aku akan kehabisan tenaga. Karena itu, aku tak bisa menemui Akashi-kun seperti biasa."

Benar juga. Manusia saja butuh makanan untuk suplai energi. Jadi harusnya Kuroko juga membutuhkan sesuatu untuk suplai energinya.

"Jadi, saat kau mengatakan kau akan pergi, itu tidak benar-benar pergi?"

Kuroko mengangguk. Dalam hati Akashi membatin lega. Setidaknya pemikiran-pemikiran buruknya selama ini hanya dugaannya saja.

"Kau membuatku gila," desis Akashi.

Kuroko memalingkan wajahnya, entah karena apa.

"Lalu,apa yang kau perlukan untuk memulihkan energimu? Tunggu ...kau bilang apa yang harus kau lakukan? Menjahili orang?"

Tepat sasaran.

Kuroko mengangguk.

"Lakukanlah kalau itu yang kau butuhkan. Mari kita rubah peraturannya."

"Masih ada peraturan?" tanya Kuroko dengan suaranya yang semakin samar.

"Tentu saja. Siapapun itu harus mengikuti apa yang kumau dan apapun yang kuatur. Tapi kali ini, hanya ada satu peraturan."

Kuroko mendekat ke arah Akashi, tanpa diketahui oleh sosok merah itu sendiri. "Apa itu, Akashi-kun?"

Mendengar suara Kuroko yang semakin mendekat, Akashi lantas menggeser posisi duduknya, meluangkan sudut sofa untuk Kuroko. "Duduklah di sini." Kuroko duduk, tak ingin membantah sang tuan rumah. "Kau dimana, Tetsuya?"

"Di sini, Akashi-kun," jawab Kuroko tepat di samping Akashi.

"Bagus. Ikuti perintahku. Tenang saja, aku tak akan memperlakukanmu dengan buruk. Jadi, peraturannya mudah. Peraturannya adalah, jangan pernah pergi dari sini."

Kuroko terkejut dengan peraturan yang baru saja dilontarkan Akashi. Haruskah ia menerima perintah dari sang surai merah itu? Masalahnya, ia adalah tipe hantu yang penurut. Kalau ia menerima peraturannya, itu sama dengan menerima sumpah sampai mati. Dan masalah yang lebih besar, Kuroko tak bisa mati. Sepertinya, hal yang sama akan terjadi pedanya untuk kedua kalinya. Kali pertama saat ia membuat janji yang berkaitan dengan Akashi. Kali ini, ia membuat janji dengan Akashi. Dunia sempit sekali.

Menurut Kuroko, keadaan ini lebih parah daripada ia yang terbelit kimono, ataupun ia yang tak memiliki tenaga sedikit pun. Padahal kedua keadaan itu adalah hal terburuk bagi sang Zashiki Warashi.

Baginya, peraturan ini mutlak, seperti terikat kontak seumur hidup.

Karena tak mendapat respon dari hantu itu, Akashi menyentuhkan telapak tangannya ke sisa sofa di sampingnya.

Tak dirasakannya apapun. Tapi anehnya, apa yang barusan dilakukannya membuat Kuroko bersuara kaget. "Ada apa, Tetsuya?"

"Akashi-kun ..."

"Hm?"

"Sepertinya aku harus mendapatkan tenaga sekarang juga. Keadaanku semakin tak seimbang. Harusnya kau bisa menyentuhku sekarang."

"Tak seimbang?" tanya Akashi tanpa kekhawatiran sama sekali.

"Benar."

Akashi menarik kembali tangannya. "Lantas, apa yang terjadi kalau kau tak seimbang?"

"Aku akan menghilang."

Nafas Akashi tercekat. Ada saja hal yang membuat keberadaan Kuroko terancam. "Kalau begitu, dapatkan tenaga secepat yang kau bisa?"

"Apa benar tak apa, Akashi-kun?" tanya Kuroko tak yakin. Kalau dilihat dengan figur nyata, mungkin sekarang terlihat Kuroko yang tengah mengerutkan dahinya dan melayangkan pandangan datar-ragu pada Akashi.

"Lakukan apa yang kau mau? Asal kau tak melanggar peraturan, itu diizinkan."

"Tapi aku belum menyetujui peraturannya."

Sang lelaki beririis dua warna terdiam. Benar juga, Kuroko kan belum menyetujui peraturan yang dibuatnya.

Melihat ekspresi sang tuan rumah yang mulai menegang, Kuroko memutuskan, "aku menyetujuinya, Akashi-kun."

"Baiklah. Sudah diputuskan. Jadi hal apa yang membuat tenagamu pulih lebih cepat?"

"Bagaimana kalau dimulai dengan menduduki perut?"

Akashi memucat di tempat.

V

"Kau terlihat senang, Akashi," celetuk Midorima saat mereka berkumpul di gedung olahraga sekolah.

Sebenarnya tak terlihat raut kebahagiaan apapun dari Akashi, tapi Midorima (yang sudah mengenalnya bertahun-tahun) mengerti. "Tak apa, Shintarou. Aku hanya kelebihan waktu tidur."

Alasan yang tidak masuk akal. Tapi setidak masuk akalnya alasan Akashi, Midorima tetap akan menganggapnya masuk akal.

Dasar sahabat setia.

"Akashicchi!" teriak Kise di pinggir ring basket.

Akashi melayangkan pandang ke arah si surai kuning itu. "Apa? Ryouta?"

"Kurokocchi tak jadi pergi?"

Pertanyaan bodoh Kise lantas membuat semua anggota klub basket yang ada di ruangan itu menoleh padanya. Lagi-lagi ia menjadi pusat perhatian.

Akashi kembali melayangkan pandang, tapi kali ini dengan tatapan mengancam menyertainya. Sepertinya pertanyaan Kise berhasil menjawab pertanyaan Midorima.

"Apa salahku-ssu?"

TBC

.

Buat yang review pake akun Vee bales pake PM aja ya...

Rea : Etto.. Vee nggak ngerti maksud Rea-san, jadi nggak bisa bales *hontou ni gomenasai.. mungkin teks sebelumnya hilang kali ya... Makasih udah mau baca... ^^

Guest(1) :Udah kejawab di chapter ini, kan? ^^ Kurokonya nggak pergi kok... dibilang unik? Arigatou... :D

Guest(2) : Ini dilanjut kok. Sebabnya udah kejawab di chapter ini :D... Maaf typonya, hehehe, Vee kurang teliti... Et-to.. bahasa yang rapi itu gimana? *gagal ikuti pelajaran ... Arigatou reviewnya ^^

Akhirnya Vee ngikutin ide dari Kanra-san (ngebuat Akashi ngegalau, meskipun nggak lama)... *karena pikiran lagi buntu. Arigatou, Kanra-san ^^

.

Terima kasih sudah membaca~