Ohisashiburi minnaa~

Gomen ne, Author lama ngepost chapter yg baru. Bukan karna Author gamau, tapi ini karena kebijakan pemerintah yang namanya 'Internet Positif', jadi Author ga bisa buka ffn, apalagi ngepost ffn. Hontou ni gomenn (TAT)

Sebagai rasa bersalah Author, Author akan membayar hutang-hutang(?) yang belum terbayar kepada readers sekalian.

Yosh, Selamat membaca dan berkomentar!

.

.

.

.

.

Shinichi yang sedari tadi berkeliling ke setiap sudut sekolah akhirnya berhasil menemukan ran juga. Ran berada di sudut koridor sekolah yang jarang sekali dilewati orang.

Dari kejauhan, Shinichi melihat ran dengan keadaan yang menyedihkan. Air matanya tak kunjung berhenti walaupun sudah beberapa kali diseka oleh tangannya. Shinichi pun segera menuju ke tempat ran berada..

"Ran..." Ucap Shinichi untuk pertama kalinya

"Ran... Aku ingin bicara..." Ucap Shinichi untuk kedua kalinya tetapi tidak direspon oleh lawan bicaranya

"Ran, dengarkan aku dulu..." Ucap Shinichi sambil memegang bahu sang lawan bicara. Tetapi alhasil, tidak ada jawaban sama sekali

"Ran Mouri! Dengarkan aku!" Teriak Shinichi dengan emosi, tetapi tetap tidak ada jawaban yang keluar dari mulut seorang Ran Mouri. Yang terdengar malah suara tangisnya yang semakin terisak.

Shinichi yang sudah emosi dengan semuanya langsung kembali tenang karena mengingat kata-kata dari Shiho Miyano, orang yang dicintainya itu. Shinichi yang masih memegang bahu sang lawan bicara tetap berbicara walaupun tak direspon sama sekali, tetapi kali ini dengan nada yang lembut dan penuh kasih sayang

"Ran... Yaa, walaupun kau tidak mau mendengarkanku, aku akan tetap bersikeras ngomong padamu sekalipun aku akan kelihatan seperti orang gila.."

"Aku cuma ingin mengatakan bahwa aku ingin meminta maaf padamu karena sudah membuatmu sakit hati karena kejadian tadi. Tapi mau gimana lagi? Aku mencintai Shiho, Ran.. Sangat-sangat mencintainya. Itu terpaksa kulakukan karena dia mengira aku pacaran denganmu, makanya aku melakukan itu semua."

"Tapi Ran, aku sungguh menyayangimu. Sangat-sangat menyayangimu. Tetapi rasa sayangku ini adalah sebatas rasa sayang seorang sahabat. Kita berteman sejak kecil, dan kau adalah salah satu orang yang paling aku sayangi di dunia ini. Kaulah sahabat terbaikku, Ran." Ucap shinichi sambil mengusap air mata yang mengalir di pipi sahabatnya itu

"Yah, Aku tau kalau aku keren. Tapi, apakah aku sekeren itu sampai bisa membuatmu menangis gara-gara aku, huh?" Ucap Shinichi dengan bercanda

"Dasar detektif bodoh. Kau tidak sekeren itu, tau.. Hiks hiks" Balas Ran yang tiba-tiba memeluk Shinichi

"Sudah.. Sudah.. Jangan nangis, bodoh. Kau akan tampak semakin bodoh kalau kau menangis." Ucap Shinichi sambil mengelus kepala Ran

Shiho yang sedari tadi mencari shinichi untuk memastikan bahwa Shinichi benar-benar meminta maaf atau tidak, tiba-tiba melihat 'Pemandangan Berpelukan' dari kejauhan. Shiho refleks bersembunyi dan hendak mengintip apa saja yang dilakukan oleh kedua orang itu.

Di sisi lain...

"Apa ini artinya bahwa kau sudah memaafkanku?" Ucap Shinichi melepas pelukannya

"Memaafkanmu tidak semudah membalikkan telapak tangan, bodoh. Aku akan memaafkanmu dan akan merelakanmu bersama Shiho asal kau memenuhi 1 syarat."

"1 Syarat? Apa itu?"

*Chup*

Sebuah ciuman telah mendarat di bibir Shinichi. Ciuman sekilas dan refleks yang tidak didasari oleh apapun.

Shiho yang melihat kejadian itu dari balik tembok koridor merasa kaget dan kecewa dengan pemandangan yang ada di depannya. Shiho pun langsung kembali ke kelas dengan perasaan kecewa yang sangat besar. Bayangkan saja, dia yang seharusnya melihat aksi minta maaf dari Shinichi malah mendapatkan aksi yang tidak terduga, yaitu 'kemesraan' dua anak manusia. Setidaknya, itulah yang dilihatnya.

"A-Apa yang kau lakukan Ran?" Ucap Shinichi tidak percaya

"Yah, itulah 1 permintaan terakhir dariku, dan jujur, aku sangat menginginkan saat-saat ini bersamamu walaupun aku tau cintaku tak akan terbalas. Terima kasih, Shinichi. Berbahagialah bersama Shiho, aku mendukungmu. Jaa~" Ucap Ran pergi meninggalkan Shinichi

Shinichi yang masih membatu dengan kejadian tadi merasa sangat bersalah pada dirinya sendiri. Dia terduduk dengan bersandar pada dinding koridor sambil berpikir keras

"A-Apa yang telah kulakukan?"

"Itu adalah ciuman pertamaku. Tetapi kenapa aku melakukannya dengan Ran?"

"Seharusnya ciuman pertamaku adalah bersama Shiho. Tetapi, kenapa..."

"Arghh! Shinichi bodoh! Apa yang telah kau lakukan? Kau tidak pantas untuk dimaafkan" Teriak Shinichi dengan frustasi.

.

.

Shinichi yang kembali ke kelas dengan wajah frustasi tiba-tiba mendapatkan shiho yang sedari tadi tidak berbicara sepatah kata pun padanya. Dia semakin bertambah frustasi dengan kelakuan Shiho yang aneh dan tidak mau berbicara dengannya walaupun sudah diajak bicara beberapa kali, tetapi tetap saja tidak ada respon. Akhirnya Shinichi menyerah dan berniat menanyakannya setelah semuanya kembali dingin.

Setelah bel tanda pulang berbunyi, Shinichi berniat ingin pulang bersama Shiho, tetapi Shiho malah tidak mendengarkannya dan langsung pulang sendirian. Walaupun begitu, Shinichi tetap mengikuti Shiho dari belakang.

Di tengah perjalanan, Shinichi terus memandangi seseorang yang jauh di depannya dan berpikir

'Kenapa Shiho bersikap seperti ini padaku? Apa jangan-jangan... dia melihatku berciuman dengan Ran?'

'Ah tidak, kami kan bukan berciuman, tetapi dia yang menciumku... Tapi kalau nanti aku menjelaskannya, apa dia mau percaya? Mendengarkanku saja dia tak mau, gimana dengan percaya?'

'Arghhh apa yang harus kuperbuat? Seseorang tolonglah aku' Gumam Shinichi sambil mengacak-acak rambutnya

.

.

Di kediaman Professor Agasa

*Ting Tong.. Ting Tong..*

...

*Cklek*

'Bahkan membukakan pintu saja tidak.' Gerutu Shinichi dalam hati

Shinichi pun langsung pergi ke kamarnya untuk beristirahat. Awalnya ia berdiri sejenak saat melewati kamar shiho lalu berjalan menuju kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di kasur

"Huah... Sungguh hari yang melelahkan. Eh, Ibu kemana ya? Kenapa sampai sekarang tidak kelihatan? Merepotkan saja."

Saat Shinichi membalikkan badannya, dia melihat sepucuk surat tergeletak di mejanya. Dia pun bangkit dan mengambil surat itu lalu membukanya

"Surat... Dari ibu?"

Halo Shin-chan,
Gimana masalah kalian? Sudah selesai kan? Ibu harap begitu. Tapi ibu berfirasat bahwa kau tidak melakukannya dengan baik. Yaa jadi ibu memberimu kesempatan untuk menuntaskan masalahmu dengan Shiho malam ini, makanya ibu pergi meninggalkan kalian berdua.
Ingat! Gunakan kesempatan ini sebaik-baiknya bagaimanapun caranya terserah padamu, Shin-chan sayang..
Good luck ya, anak ibu.. *chuu*

"Ibu..." Gumam Shinichi pelan

"Memang.. Hanya ibu-lah yang selalu memberikan solusi di setiap permasalahanku. Masalah yang lebih rumit melebihi kasus manapun."

"Baiklah Shinichi, ayo berjuang! Jangan buat ibumu kecewa. Ya!" Ucap Shinichi berkobar

.

.

.

Hari sudah menunjukkan pukul 12 malam, tetapi Shiho tetap saja tidak bisa tidur walaupun sudah beberapa kali mencoba. Masih teringat dipikirannya tentang kejadian tadi

"Sudah kuduga, Kudo-kun hanya mempermainkanku saja. Bagaimana mungkin dia bisa mencium gadis lain ditempat yang sepi dan gelap tanpa memperdulikan seseorang yang 'katanya' disukainya?"

"Dan lagi, setelah berciuman dengan gadis itu dia malah tidak berbicara sepatah-kata pun padaku. Ini terlalu sakit, Kudo-kun. Kau membuatku sakit dan tidak bisa berpikir jernih. Kau juga yang membuatku tidak bisa tidur hingga malam ini."

"Selamat malam Kudo-kun, mungkin aku terlalu bodoh memikirkan orang sepertimu" Gumam Shiho sambil menutup matanya

Beberapa menit setelahnya, Shinichi yang sedari tadi juga tidak bisa tidur akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamar Shiho.

Entah ini adalah sebuah keberuntungan atau takdir, ternyata kamar shiho tidak terkunci dan Shinichi berhasil masuk kedalamnya

"Aku tidak menyangka, ternyata Tuhan juga mendukungku." Gumam Shinichi pelan sambil menutup pintu kamar Shiho

Suasana di kamar itu sangatlah tenang, apalagi dengan penerangan yang minim dari lampu tidur membuat ruangan itu sangat nyaman untuk menjadi tempat istirahat. Ditemani oleh seorang gadis cantik yang sedang terbaring di tempat tidurnya membuat Shinichi ingin melakukannya. Tapi, dia jauhkan semua niat itu karena maksud dia datang ke kamar Shiho bukan untuk itu, tetapi untuk meminta maaf disaat gadis itu sedang terlelap, karena dia tidak berani untuk menyatakan permintaan maafnya dan takut kalau Shiho tidak mau mendengarkannya.

Lagipula, tidak mungkin dia melakukan hal itu kalau orang yang disukainya tidak membalas perasaannya, kan? Itu akan terkesan aneh dan kurang ajar jika dia berani melakukan hal itu.

Shinichi mengambil bangku yg berada tidak jauh dari tempatnya berdiri, lalu duduk tepat disamping tempat tidur gadis itu

"Shiho..." Ucap Shinichi pelan

"Maksud aku datang kesini adalah untuk meminta maaf padamu soal kejadian tadi. Yah, terserah mau mengatakan aku pecundang atau apalah. Aku memang tidak berani untuk meminta maaf padamu secara langsung, karena aku takut, takut kalau kau tidak akan mau mendengarkan penjelasanku. Aku tidak tau kenapa sifatmu berubah menjadi sangat aneh setelah kejadian tadi. Tetapi dari situ aku dapat menyimpulkan bahwa kau telah melihat aku dan Ran yang sedang berciuman.."

"..."

"Tapi, saat itu kami sedang tidak berciuman, Shiho.. Dia yang menciumku secara tiba-tiba dan ciuman itu tidak didasari oleh apapun.."

"Aku... " Ucap Shinichi pelan sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah Shiho. Dekat.. Dekat.. Semakin dekat, dan akhirnya bibir mereka pun bersentuhan dengan lembut.

"Hanya mencintaimu, Shiho.."

Shiho yang sadar dengan kelakuan dan pengakuan Shinichi pun terbangun dengan keterkejutan dan mata terbelalak. Sebenarnya dia masih belum tidur sedari tadi. Awalnya, dia ingin membuka matanya sewaktu Shinichi masuk ke kamarnya. Tetapi entah mengapa, dikurungkannya semua niat itu dan tetap mendengarkan Shinichi bicara hingga selesai, dan... Terjadilah hal ini.