Sasuke menghentikan langkahnya, melihat satu telapak tangannya yang masih basah karena cairan ludah milik Hinata. Dengan susah payah pemuda Uchiha itu meneguk ludahnya, merasakan gejolak aneh serta panas membanjiri seluruh tubuhnya yang mulai meremang karena desahan Hinata.

Dengan gerakan pelan, Sasuke mengangkat telapak tangannya seiring dengan kepalanya yang mulai merendah, detik selanjutnya –pemuda Uchiha itu menjulurkan lidahnya, berniat untuk mengecapi rasa air ludah Hinata yang masih menempel di telapak tangannya.

.

.

Semua karakter yang terlibat hanya milik Masashi Kishimoto sensei

This story based on Boys Love Anime (YAOI) of

Hyperventilation by Lewin

If you want, you can find the real story on Internet.

.

.

Saya hanya meminjam serta mengkonversi ke dalam Straight pair Sasuke x Hinata. Saya tidak mencari keuntungan apapun dari tulisan ini.

WARNING! MATURE CONTENT ALERT

.

.

HYPERVENTILATION

A Secret of Passion Story by Hexe

.

.

Bagian empat

THE SECRET

.

.

Warna hitam menyelimuti langit di siang hari. Suara-suara gemuruh serta kilat petir tampak meramaikan langit di musim hujan. Angin yang berhembus kencang menggerakan awan-awan yang berwarna hitam turut menghiasi permukaan langit yang kelabu.

Waktu menunjukan pukul dua siang, ini adalah jam pelajaran terakhir yang harus mereka tempuh sebelum waktu pulang tiba. Sastra Jepang menjadi penutup pelajaran yang terasa sangat membosankan hari ini, apalagi jika cuaca mendung serta hujan yang sebentar lagi akan turun membuat semua penghuni kelas merasakan kantuk dan bosan.

Kakashi-sensei berdiri di depan sambil membacakan sebuah tanka, beberapa penghuni kelas tampak menguap, beberapa lagi tampak menuliskan makna yang tersirat dari serangkaian kata-kata yang terucap dari Kakasho-sensei, dan sisanya tertidur pulas, menganggap tanka yang dibacakan oleh guru mereka adalah sebuah dongeng pengantar tidur.

Kakashi-sensei tidak pernah memperdulikan muridnya yang tertidur di kelas saat ia mengajar, jadi wajar saja jika Shikamaru dan Naruto sudah terlelap dengan nyaman di kursi mereka masing-masing.

Sasuke menggerak-gerakan pulpen di tangannya, mendengarkan tanka sambil memikirkan kondisi Hinata yang sedang istirahat di ruang UKS. Jujur saja, sang presiden siswa itu merasa khawatir dengan kondisi Hinata. Kejadian beberapa jam yang lalu tak lekas menghilang dari kepalanya. Hinata yang terbatuk dengan wajahnya yang memerah, Hinata yang berjalan sambil memegang baju bagian belakangnya, serta Hinata yang muntah cairan asam lambung di telapak tangannya.

Hingga seluruh tubuhnya meremang saat mengingat suara desahan Hinata kembali terngiang dalam pikirannya. Sasuke mengetuk-ngetukkan ujung pulpen itu pada permukaan meja, berusaha mengalihkan pikirannya dari Hinata.

.

.

Abaretaru

Kusa no iori ni

Moru tsuki o

Sode ni utsushite

Nagametsuru kana

.

.

(Ini bocor, bobrok

Atap rumput terbuka

Menatap bulan

Semuanya dicerminkan

Air mata di lengan.)

-LaFleur, Awesome Nightfall, 86

.

.

Chiru o mide

Kaeru kokoro ya

Sakurabana

Mukashi ni kawaru

Shirushi naruran

.

.

(Ini lamunan

Hanyut ke dalam rasa

Sakura gugur

Mungkin ini isyarat

Tak lebih diri saya.)

-LaFleur, Awesome Nightfall, 80

.

.

Suara pintu yang terbuka terdengar tepat setelah Kakashi-sensei menyelesaikan bacaannya, pria tinggi bersurai perak itu menolehkan kepalanya dan melihat Hinata berdiri dengan sebotol air mineral di tangannya.

"Kau darimana, Hinata?"

Semua pasang mata menatap ke arah Hinata yang kini berdiri dengan rambutnya yang diikat tinggi secara asal-asalan. Wajah gadis pendiam itu masih pucat, meski tidak sepucat saat Sasuke membawanya ke ruang UKS.

"Dari ruang UKS, Kakashi-sensei."

Hinata meremas ujung seragam yang dikenakannya, merasa risih karena mereka masih menatapnya dalam diam.

"Baiklah, duduk di kursimu dan pelajari tanka di buku halaman 27. Sasuke, catat jika ada yang berisik dan mengobrol. Aku akan keluar karena ada urusan, jika kau membutuhkan sesuatu, datanglah ke ruang guru."

"Baik, sensei."

Kakashi-sensei berjalan keluar setelah melewati Hinata yang juga berjalan hendak duduk di kursinya, Sasuke melihat Hinata dengan wajah gadis itu yang terlihat muram, kembali duduk di kursinya lalu mengeluarkan sebuah buku dengan mp3 beserta earphone. Kedua manik jelaga itu terus memperhatikan gerak-gerik Hinata dalam diam.

CTARRR!

Suara petir diikuti gemuruh terdengar memekikan telinga, kilatan petir yang terlihat jelas lewat jendela kaca membuat cahaya yang berasal dari kilatan itu menerangi ruang kelas dalam sekejap. Beberapa detik selanjutnya, suara rintikan hujan berlomba menuruni atap sekolah, hujan turun dengan deras, membuat beberapa murid mengumpat karena tidak membawa mantel hujan atau payung.

Sasuke yang mendengar suara petir serta gemuruh yang menggema itu langsung melihat kearah Hinata yang kini menengadahkan kepalanya, raut wajah gadis itu terlihat cemas. Sasuke merasa was-was, dirinya takut jika gejala Hyperventilasi yang diidap Hinata akan kembali kambuh setelah mendengar suara petir dan gemuruh.

"Ah , sialan! Hujannya sangat lebat."

"He ... bagaimana ini? aku tidak membawa payung."

"Diamlah ..."

Sasuke memperingati beberapa murid yang mulai berisik.

"Kuso! Aku meninggalkan payungku di depan pintu rumah."

"Aku juga-"

"Aku bilang diam!"

Suara-suara itu menghilang seketika, Sasuke kembali menolehkan kepalanya dan kembali memperhatikan Hinata. Gadis Hyuuga itu masih tidak bergeming, namun beberapa detik selanjutnya –Sasuke melihat Hinata melepaskan satu earphone yang menempel di telinga gadis itu -masih dengan kepalanya yang menengadah.

Sasuke membulatkan kedua matanya saat melihat satu ulasan senyum sendu yang terlukis di wajah Hinata. Wajah Hinata terlihat begitu cantik dan manis dari tempat Sasuke duduk dan melihatnya, meski hanya terlihat dari samping, namun pemandangan itu membuat dada sang presiden siswa bergemuruh seketika.

Satu semburat merah tipis keluar dan menghiashi permukaan kulit pipi Sasuke yang putih, getaran serta debaran jantungnya yang menggila membuat tubuh Sasuke sedikit memanas. Senyuman itu belum hilang, Hinata masih tersenyum dan Sasuke melihat air mata berkumpul di sudut mata gadis itu.

Sasuke sedikit terperanjat kemudian memalingkan wajahnya dan menunduk dengan satu lengannya yang menutupi kedua matanya, menyadari tingkahnya yang cukup memalukan karena terus memandangi wajah Hinata kemudia bersemu setelahnya. Sasuke menggaruk keningnya, kemudian kembali melirikan kedua manik jelaganya ke arah Hinata –masih dengan degupan jantungnya yang mulai menggila entah untuk apa.

.

.

.

"Aku akan bergerak, Hinata."

Tidak ada tanggapan berarti yang keluar dari mulut Hinata, wanita itu sibuk dengan desahan dan erangannya ketika Sasuke memundurkan sedikit pinggulnya dan kembali memajukannya dengan pelan. Satu desahan lolos dari mulut Sasuke, membuat seluruh tubuh Hinata meremang seketika.

Sasuke terus menggerakan dirinya, bergerak sebanyak dan sedalam-dalamnya untuk merasakan tubuh Hinata seutuhnya. Kedua manik jelaganya menatap sayu ke arah Hinata yang kini tengah memejamkan kedua matanya, mencoba menikmati seluruh rasa sakit namun nikmat yang diberikannya.

Ini sungguh luar biasa, Sasuke tidak bisa berkata apa-apa untuk mengambarkan perasaan nikmat yang dirasakannya saat bergumul dengan tubuh Hinata yang sedikit bergoyang karena hentakkan yang dilakukannya.

Tidak merasa cukup, Sasuke membalikan tubuh Hinata dan membuat tubuh sintal wanita Hyuuga itu menungging di depannya, Sasuke kembali memasukan dirinya, membuat tubuh Hinata kembali mengejang dengan sedikit lengkungan yang membuat belakang kepala wanita itu menyentuh permukaan wajah Sasuke.

Sasuke kembali mendesi saat merasakan kerapatan Hinata, satu tangannya menelusuri punggung Hinata kemudian sedikit menekannya agar lebih membungkuk dengan posisi menungging yang sebenarnya. Sasuke meraih satu sisi pinggang Hinata kemudian kembali menggerakan pinggulnya sendiri dan menghentak tubuh Hinata sehingga membuat tubuh wanita itu ikut bergerak.

Suara-suara aneh terdengar seiring hentakan yang diakukan Sasuke, suara erotis yang tercipta dari pertemuan kedua anggota bagian tubuh keduanya yang semakin menggilam. Suara decitan ranjang juga terdengar dan ikut memeriahkan pesta sesaat mereka.

Kilasan-kilasan sembilan tahun yang lalu barus saja telintas dalam benaknya, kilasan mengenai suara desahan lirih milik Hinata –juga ingatan tentang dirinya yang menatap wanita Hyuuga itu saat hujan lebat di sekolah. Degupan jantung yang menggila pada saat itu adalah karena dirinya merasa terpesona akan sosok Hinata. Raut wajah polos dengan tapan juga senyumannya yang sendu menggetarkan hati Sasuke hingga bagian yang terdalam.

Sasuke terus menggerakan dirinya meski napas Hinata sudah memendek dengan suara batuk yang mulai keluar dari mulutnya. Hinata, wanita itu disibukkan dengan rasa nikmat dan sakit yang dirasakannya, rasa nikmat menjalari seluruh pembuluh darahnya –sementara rasa sakit ia rasakan di dadanya yang terasa sedikit sesak.

Kedua lengan Hinata yang sudah tidak kuat menahan beban tubuhnya sendiri saat menungging terkulai hingga membuat kedua lengan itu tertintih oleh tubuhnya sendiri. Sasuke bisa mendengar suara napa pendek serta batukan-batukan kecil dari Hinata, pria Uchiha itu merendahkan tubuhnya tanpa menghentikan gerakannya lalu memeluk tubuh Hinata. Satu telapak tangannya merayap dari perut, leher, hingga menutupi mulut dan hidung Hinata. Sasuke menelusupkan kepalanya pada perpotongan leher Hinata, memberika kecupan juga jilatan yang membuat suara desahan serta batuk itu terdengar semakin kencang.

Tubuh Hinata bergetar saat merasakan puncak dari gelombang kenikmatan yang melanda, Hinata kembali menahan bobot tubuhnya dengan kedua lengannya, membuat Sasuke yang semulanya menindih ikut menegakkan tubuhnya yang dibanjiri keringat. Sasuke meremas paha dan perut Hinata saat dirinya mencapai puncak, mengeluarkan seluruh hasrat dan gairahnya dalam satu sentakkan kuat hingga membuat gigi-giginya bergemeletuk karena sensari dahsyat yang dirasakannya.

Hinata menarik napa lalu mengeluarkannya dengan kasar, napas wanita itu kembali memendek, namun batuknya sudah menghilang. Sasuke memegang sisi wajah Hinata kemudian menariknya supaya menoleh sedikit kebelakang, Sasuke mecium bibir Hinata dengan lembut, diirinngi dengan deraian air mata yang keluar dari sudut mata milik Hinata.

.

.

.

Sasuke terbangun saat dirinya tidak menemukan Hinata dalam pelukannya. Punggung telanjangnya terkena sinar matahari yang masuk melalui celah jendela, pria Uchiha itu menyapukan penglihatannya dan tidak menemukan eksistentsi Hinata di dalam kamar hotel. Sasuke menghembuskan napasnya kasar, menjambak rambut hitam kusutnya kemudian bergegas menuruni ranjang dan menyambar pakaiannya.

Cahaya matahari pagi menyentuh kepala dan surai sebahu milik Hinata, kini wanita Hyuuga itu sedang berdiri di stasiu kereta api. Kejadian semalam sungguh membuat dirinya merasakan perasaan bersalah, bagaimana bisa dirinya bercinta dengan pria yang sudah memiliki calon isteri? Bagaimana bisa dirinya membiarkan seluruh nafsu dan gairahnya meluap mengalahkan akal sehat dan logikanya?

Ciuman pria itu yang membuat seluruh tubuhnya meleleh terlintas dengan tanpa Hinata inginkan.

Hinata memejamkan kedua mata sambil memijit pelipisnya yang sedikit berdenyut, namun –wanita bersurai indigo itu kembali membuka matanya saat merasakan sesuatu yang menepel di salah satu jari manisnya. Hinata menjauhkan telapak tangannya, kedua maniknya membulat saat melihat benda berwarna emas itu melingkar di jari manisnya.

Itu adalah cincin yang menempel di jari manis Sasuke, itu adalah cincin pertungan milik Sasuke. Rambut Hinata bergoyang setelah kereta api melintas di depannya, pikirannya kembali kalut saat menyadari cincin itu melingkar dengan longgar di jarinya.

"Cincin. Lepaskan cincinnya."

Hinata berkata dengan desahan yang masih keluar dari mulutnya, Sasuke yang mendegar perkataan wanita Hyuuga itu langsung menjauhkan diri saat hendak memasukan kedua jarinya pada Hinata.

Kedua manik jelaganya menatap wajah Hinata yang memerah, satu ulasan senyum culas terpatri di wajahnya yang tampan.

"Apakah ini mengganggumu?"

Hinata memalingkan wajahnya kesamping, tidak ingin melihat senyuman yang diperlihatkan pria Uchiha itu padanya.

"Baiklah, aku akan melepaskannya. Ini bukanlah kesepakatan yang buruk ... sungguh."

.

.

.

Hinata mengerjapkan kedua matanya, kemudian berbalik dan berlari keluar dari stasiun. Hinata terus berlari tanpa memperdulikan orang-orang yang memandang heran ke arahnya. Napas yang terhirup oleh kedua hidungnya semakin menipis, membuat dadanya naik turun dengan cepat, rasa sesak dan mual mulai Hinata rasakan selama ia berlari. Sesekali dirinya terbatuk sambil meremas dadanya yang mulai terasa sakit. Hinata terus berlari, berlari hendak kembali ke hotel dan mengembalikan cincin emas yang tersemat di jari manisnya.

Hinata tidak mengerti, mengapa cincin itu ada pada dirinya? Seingtanya Sasuke hanya melepaskan cincin itu dan menyimpannya di atas nakas dekat ranjang sebelum mereka melanjutkan cumbuan mereka. Ini semua sungguh membingungkan dirinya. Kedatangan pria itu yang menghapirinya di pinggir toko, menciumnya di gang sempit, serta mencumbui dan mereka bercinta setelahnya.

"Aku tidak tahu sekarang kau menjadi seorang perokok."

"Kau datang ke acara reuni hanya untuk melihat dan bertemu denganku, bukan?"

"Aku melihatmu yang terus menatapku dari pojok meja sepanjang kau meminum sake."

"Kau tahu kau mencintaiku, Hinata."

Hinata menghentikan langkah kakinya tepat saat dirinya berada di seberang hotel, hinata mengambil napas sebanyak-banyaknya dan berusaha mengendalikan pernapasannya yang tidak terartur akibat dirinya yang berlari. Kilasan-kilasan pertemuan mereka memenuhi kepalanya. Hinata berusaha memfokuskan pandangan matanya yang sedikit mengabur karena kelelahan, setelah pandangannya mulai menjelas dengan perlahan, Hinata bisa melihat Sasuke yang berdiri di seberang jalan sambil memasukan kedua tangannya pada saku mantel hitam yang dikenakannya.

Hinata memandang sendu ke arah Sasuke, kedua matanya mulai berkaca. Wanita Hyuuga itu tidak ingin kembali bertemu dengannya, Hinata tidak ingin kembali bertemu dengan Sasuke setelah ia membiarkan pria itu bercinta dengannya. Namun ia harus kembali dan mengembalikan cincin itu pada Sasuke, dan setelah itu, Hinata akan pergi menjauh dan mencoba melupakan cintanya yang sudah bertahan selama kurang lebih sembilan tahun lamanya.

"Hinata ...!"

Hinata masih menatap Sasuke, namun kedua manik ametisnya membulat saat pria yang dicintainya itu tersenyum sambil melambaikan satu tangannya. Sasuke berlalri menyebrangi jalan.

"Aku pikir kau pergi dan tidak akan kembali lagi!."

Hinata menggigit bibir bawahnya saat Sasuke berjalan dan semakin mengikis jarak keduanya. Riak-riak air mata berhamburan ingin segera keluar dan menuruni pipi Hinata. Hinata mengepalkan kedua telapak tangannya, berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis hingga permukaan wajahnya memerah di bawah sinar matahari pagi.

"Cincin ... ini karena cincinnya ..."

Suara Hinata bergetar, Sasuke segera memeluk Hinata setelah dirinya berada di depan wanita itu. Tangisan Hinata pecah seketika, membuat Sasuke tertawa sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh ringkih milik Hinata.

"Hahaha ..."

Hinata meremas punggung Sasuke yang terbalaut mantel, dirinya semakin tidak mengerti apa yang diinginkan dan direncakan pria itu padanya.

"A-aku ... cincinnya ..."

Sasuke kembali terkekeh, mengecup puncak kepala Hinata lalu berkata,

"Cincin itu, hanya untuk penampilan saja."

.

.

.

Fin

.

.

Sasuke mengusap air mata yang turun di pipi Hinata. Wanita Hyuuga itu langsung tertidur setelah percintaan mereka selesai. Kedua manik jelaganya menatap sendu ke arah Hinata yang kini tertidur dengan deraian air mata yang masih keluar.

Akhirnya, akhirnya dirinya menemukan dan kembali bertemu dengan Hinata setelah upacara perpisahan mereka di Senior High School. Sasuke sudah mengira dirinya akan bertemu kembali dengan wanita itu di acara reuni yang diadakan teman seangkatannya.

Dan semua rasa rindu serta hasratnya terpenuhi, Sasuke melihat cincin emas yang terletak di atas nakas, pria Uchiha itu mengulas senyum tipis dan bergegas merangkak ke sisi ranjang untuk mengambil cincin itu.

Sasuke memakaikan benda berkilau itu di jari manis Hinata, dirinya sedikit terkekeh saat melihat cincin itu melingkar dengan longgar di jari manis milik Hinata. Seharusnya, dirnya membeli saja yang sesuai ukuran dengan wanita itu. Namun semua rencana dan tujuannya tidak akan tercapai jika Sasuke tidak memakai cincin itu di depan Hinata.

Rencana dirinya untuk membongkar perasaan yang dirasakan Hinata padanya, perasaan wanita itu yang mencintainya selama ini. Dan semua itu sudah terjawab, semua pertanyaan Sasuke akan perasaan Hinata padanya sudah terjawab. Bahwa Hinata memanglah mencintainya, bahkan wanita itu masih mencintai dirinya sampai sekarang.

Dan hal itu membuat dirinya bahagia, karena wanita yang dia cintai ternyata menyimpan perasaan yang sama.

.

.

.

The End

.

.

Holllaaaaaa !

Akhirnya cerita ini selesai !

Saya ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada para readers tertjintah yang selalu setia menunggu dan membaca fic ini sampai selesai. Terima kasih atas vote, fav, serta commentnya yang sangat membantu.

Sekli lagi saya ucapkan terima kasih dan sampai jumpa di fic berikutnya !

Salam hangat,

hexe