"Aku punya misi untukmu, Naruto," kata seorang wanita tua berambut krem yang diikat dua di bawahnya, dan mengenakan pakaian khas penyihir serba berwarna keunguan. Diketahui namanya adalah Senju Tsunade.
"Misi apa, Tsunade-sama?" tanya Naruto yang berdiri berhadapan dengan Tsunade.
SREK!
Tsunade memunculkan sesuatu di tangan kanannya secara ajaib. Dia meletakkan sesuatu itu ke atas meja.
"Ini... Sebuah perkamen rahasia yang harus diserahkan untuk dewi cahaya. Kau harus mengantarkannya langsung ke desa Goddess besok."
Naruto mengambil sesuatu yang ternyata sebuah bungkusan kain berwarna putih yang ujung atasnya diikat dengan tali. Entah apa isinya. Namun, yang pasti, bungkusan kain itu bersifat rahasia.
"Aku mengerti."
"Silahkan keluar sekarang."
"Baik."
Naruto pun keluar dari ruang sang Kepala Sekolah. Pintu terbuka dengan sendirinya dan menutup dengan sendirinya juga. Naruto berdiri sejenak di depan pintu ruang Kepala Sekolah itu. Memperhatikan bungkusan kain yang kini dia genggam di tangan kanannya.
'Dewi cahaya ya? Kalau tidak salah... Dia adalah Ootsutsuki Kaguya. Untuk apa Tsunade-sama mengirim perkamen rahasia ini pada Kaguya? Hmmm... Aku jadi penasaran,' batin Naruto yang menggema di dalam hatinya.
Intinya, semua murid akan mendapatkan misi khusus dari Kepala Sekolah, guna melatih diri mereka agar mereka terbiasa menghadapi apapun yang mereka kerjakan. Sehingga pengalaman mereka bertambah dan membuat mental mereka menjadi kuat. Karena setelah tamat dari sekolah sihir ini, mereka juga akan mendapatkan pekerjaan yang ditetapkan oleh Pemerintahan Kota Sihir. Tentunya pekerjaan itu sesuai dengan kemampuan yang dimiliki mereka.
Tanpa banyak berpikir lagi, Naruto langsung pergi dari sana. Berjalan santai menyusuri lorong yang temaram dan sepi. Menuju ke kelasnya karena bel tanda masuk telah berbunyi.
.
.
.
Disclaimer:
Naruto: Masashi Kishimoto
Fairy Tail: Hiro Mashima
.
.
.
Rabu, 13 September 2017
.
.
.
Note: terima kasih buat Rushifa yang beri ide buat kelanjutan cerita ini. Juga berterima kasih buat Bayu dan Nabili yang sudah beri saran yang bagus untuk adegan battle ini.
Silakan baca kelanjutannya di bawah ini ya!
.
.
.
NARUTO, NECROMANCER BARU
By Kinomoto Hoshiko
.
.
.
Chapter 4. Bertemu dengan Kaguya
.
.
.
Tampak dua gadis remaja sedang berdiri di tengah jalan perumahan yang begitu sepi. Mereka sedang menunggu seseorang yang belum datang, padahal sudah lewat setengah jam dari waktu yang telah dijanjikan.
Dua gadis remaja yang dimaksud adalah Erza dan Wendy. Mereka berencana akan pergi ke desa Goddess hari ini, tepatnya hari Sabtu, pada pukul 8 pagi.
Tapi, sekarang jam menunjukkan 08.30 pagi. Lucy yang ditunggu-tunggu, belum juga datang. Kedua orang yang menunggunya, jadi kesal dibuatnya.
"Huh... Lama sekali... Apa dia jadi pergi atau tidak sih?" celetuk Erza yang berkacak pinggang.
Erza menyandang tas berwarna merah di punggungnya dan mengenakan pakaian kasual berupa baju kaos merah yang dilapisi dengan jaket berbulu berwarna hijau. Bawahannya adalah celana jeans selutut berwarna hitam. Sepatu kets berwarna merah membungkus kedua kakinya.
"Sabar, Erza. Pasti sebentar lagi, dia juga datang," sahut Wendy yang kelihatan tenang.
Wendy juga menyandang tas berwarna biru di punggungnya dan mengenakan dress berwarna biru selutut yang dilapisi dengan rompi berwarna putih. Rambutnya yang panjang diikat twintail. Sepatu datar membungkus kedua kakinya.
"Paling-paling dia terlambat bangun."
"Mungkin saja, Erza."
Keduanya saling mengobrol sambil memandang ke arah ujung jalan itu. Dimana tampak gadis berambut pirang tengah berlari terburu-buru seperti dikejar setan begitu. Dia benar-benar kalang kabut.
"WAAAAAAH! AKU TERLAMBAAAAAAT!" seru gadis berambut pirang itu. Dia tampak menyandang tas selempang kuning. Pakaian yang dia kenakan berupa baju berwarna kuning tanpa lengan dengan bawahan celana biru selutut yang bertali dua. Dua tali celananya digantungkan di dua bahunya. Sepatu sporty berwarna kuning membungkus kedua kakinya.
CIIIT!
Begitu tiba di dekat Erza dan Wendy, Lucy mengerem larinya dan tersengal-sengal sambil berkata.
"Se-Selamat pagi... Hosh... Hosh... Hosh..."
"Selamat pagi," jawab Wendy yang tersenyum.
"Huh... Kau telat lebih dari 30 menit, Lucy," gerutu Erza yang bersidekap dada.
"Ma-Maaf... Erza. Aku telat karena terlambat bangun."
"Sudah kuduga itu."
"Habisnya jam wekerku ternyata rusak."
"Alasanmu saja."
"Sekali lagi maaf."
"Ya sudahlah... Sebaiknya kita pergi sekarang!"
"Apa kita pakai sapu terbang menuju ke hutan kematian itu?"
"Tentu."
Erza mengangguk sambil memunculkan sapu terbangnya di tangan kanannya. Lucy dan Wendy juga begitu.
"Tapi, setelah tiba di hutan kematian, kita tidak bisa menggunakan sapu terbang lagi," ingat Wendy sebelum naik ke atas sapu terbangnya.
"Kenapa?" tanya Lucy yang penasaran.
"Karena di atas hutan kematian, ada pusaran angin aneh yang bertiup sangat kencang. Jika kita tetap terbang melintasinya, maka bisa-bisa kita masuk ke pusaran angin itu."
"Jadi, kita berjalan kaki saja saat melintasi hutan kematian itu?"
"Ya. Itulah solusinya."
Wendy mengangguk sambil naik ke atas sapu terbangnya. Erza mengangguk mengerti dan sudah duduk manis di atas sapu terbangnya.
"Baiklah... Kita berangkat sekarang!" Erza yang terbang duluan.
"Ya...," Wendy menyusul Erza.
"Aaah... Ini akan menjadi perjalanan yang mempertaruhkan nyawa...," Lucy menghelakan napasnya terlebih dahulu dan barulah menyusul kedua temannya itu.
WHUUUSH!
Sapu terbang yang dikendarai Lucy, terbang tinggi dengan kecepatan kilat. Mengikuti Erza dan Wendy yang sudah terbang jauh di ujung langit sana.
Cuaca yang sangat cerah, menemani perjalanan mereka.
.
.
.
Hutan kematian.
Hutan yang berada di luar kota Fairy. Hutan yang dipenuhi dengan pepohonan raksasa setinggi 20 meter, berbagai jenis tanaman aneh juga ditemukan di sana dan juga dihuni berbagai jenis makhluk sihir.
Di atas hutan tersebut, tepatnya di langit sana, terdapat pusaran angin seperti spiral yang bertiup sangat kencang. Konon, pusat pusaran angin itu adalah pintu portal keluar-masuk penjaga hutan kematian yang bernama "Guardian of Death Forest."
Guardian of Death Forest adalah sosok burung garuda raksasa berkepala tujuh yang memiliki tinggi sekitar 10 meter. Dia adalah sejenis makhluk sihir yang berkuatan sihir angin yang begitu kuat. Penjaga hutan kematian yang telah menjaga hutan ini sejak 200 tahun yang lalu.
Burung garuda ini memiliki keistimewaan karena bisa berumur panjang hingga 500 tahun. Jika dia mati, maka digantikan oleh penerusnya. Karena dia juga memiliki keturunan yang tinggal di hutan kematian tersebut.
Sarangnya tidak diketahui ada dimana. Namun, yang pasti, dia akan datang secara tiba-tiba jika ada orang yang mencoba memasuki hutan kematian ini. Dia akan menghalangi orang itu agar tidak masuk lebih dalam ke hutan itu.
TAP!
Erza dan dua temannya tiba juga di hutan kematian ini. Mereka tidak menggunakan sapu terbang lagi. Memilih berjalan kaki sesuai apa yang dikatakan Wendy tadi.
"Kita sudah tiba di hutan kematian," ucap Erza yang berdiri di depan hutan kematian itu.
"Kok rasanya seram ya?" Lucy memasang wajah horror saat melihat pemandangan hutan kematian yang begitu gelap seperti malam hari.
"Namanya juga hutan kematian...," kata Wendy yang tidak takut sama sekali.
"Ayo, kita masuk ke dalamnya!"
"Eh? Hei, tunggu! Erza, Wendy!"
Lucy panik dan segera mengejar kedua temannya yang pergi duluan meninggalkannya. Mereka bertiga pun masuk ke dalam hutan kematian itu.
Bayangkan saja, pemandangan hutannya sangat menyeramkan. Pohon-pohonnya besar sekali. Banyak tanaman yang bentuknya aneh. Suara-suara berisik dari makhluk sihir yang berkeliaran, menggema di hutan itu. Suasananya gelap, seram, dan menakutkan.
Entah mengapa Lucy merasa takut saat masuk ke hutan ini. Sehingga dia merangkul tangan Erza dengan erat. Erza pun sweatdrop melihatnya.
"Hei, kenapa kau memeluk tanganku?"
"Ha-Habisnya... A-Aku takut sekali, Erza."
"Ah... Masa penyihir bisa setakut ini sih?"
"Ssst... Diam. Ada yang datang..."
Wendy menghentikan langkahnya dan melihat ke arah depan. Erza dan Lucy berhenti berjalan di samping Wendy.
"Ada apa, Wendy?" Lucy penasaran sambil melihat ke depan.
SRIIIING!
Tiba-tiba, muncul kilatan cahaya putih yang berpijar. Membentuk sosok burung garuda putih yang berukuran 10 meter. Berkepala tujuh. Bermata tajam berwarna emas. Bersayap sangat besar dan lebar. Terbang mengambang sekitar 2 meter dari permukaan tanah. Dia adalah...
"Guardian of Death Forest," ungkap Wendy yang berwajah serius.
"Burung garuda itu!" seru Lucy yang semakin takut."Habislah kita!"
"Jadi, apa kita harus melawannya?" Erza tampak tenang.
"Ya. Tidak ada jalan lain selain melawannya. Karena burung garuda ini akan langsung menyerang siapa saja yang masuk ke dalam wilayah kekuasaannya," Wendy memasang wajah yang garang dan mengangkat tangan kanannya ke depan."Biar nagaku yang menghadapinya. SUMMON MAGIC, AZURE DRAGON!"
SRIIIING!
Tangan kanan Wendy bercahaya biru dan memunculkan pusaran cahaya biru di depannya. Cahaya biru yang sangat menyilaukan mata. Membentuk sosok naga berwarna biru yang memiliki tinggi sekitar 6 meter. Bermata tajam berwarna biru tua. Bersayap lebar dan kuat. Itulah naga biru peliharaan Wendy.
Namanya Azure Dragon. Biasa dipanggil Azure. Datang dari tempat lain, yaitu lembah Naga.
Naga biru itu memiliki elemen sihir api. Bisa digunakan untuk melawan burung garuda itu.
Dua makhluk bersayap saling berhadapan dalam jarak beberapa meter. Wendy berseru untuk memerintahkan naganya.
"Kalahkan dia, Azure Dragon!"
Sang Naga mengangguk, dia terbang cepat untuk menyerang lawannya.
BETS!
Secara bersamaan, burung garuda itu mengepakkan kedua sayapnya dengan cepat.
WHUUUSH!
Terciptalah angin yang bertiup sangat kencang. Mampu merobohkan pohon-pohon yang diterjangnya. Tiga gadis itu berusaha bertahan dari terjangan angin yang begitu kuat ini.
"WUAAAH! INI BADAI ANGIN!" teriak Lucy sekeras mungkin dan tetap berpegangan erat dengan Erza.
"SEMUANYA BERTAHANLAH!" pekik Wendy yang memunculkan sihir pelindungnya."SHELTER MAGIC!"
FWAAAATS!
Muncul sihir pelindung berbentuk kubus berwarna putih transparan. Mampu melindungi mereka bertiga dari terjangan angin kencang yang begitu kuat.
Tentu saja sang naga tidak terpengaruh. Dia bergerak dinamis, meliuk-liuk di tengah badai angin dengan gesit. Mata tajam burung garuda menangkap pergerakan sang naga yang hampir mencapainya.
BLIIZZT!
Secepat kilat. Sang naga tiba-tiba menghilang saat jarak mereka semakin tipis.
Burung garuda hanya bisa merasakan sakit, saat sang naga dengan tiba-tiba muncul sambil menghantamkan ekor panjangnya dari belakang. Burung garuda itupun jatuh ke tanah dengan cepat.
BUAK!
Burung garuda mampu menahan dirinya agar tidak terjatuh ke tanah. Badai angin tadi menghilang, sebagai gantinya sang naga yang balik menyerang.
BWOOOSH!
Sang naga menyemburkan api biru berukuran besar dari dalam mulutnya. Api biru itu meluncur ganas menuju burung garuda.
BWEEET!
Dengan menggunakan kedua sayapnya, burung garuda mampu menangkis api biru. Sang naga tetap terus menyerangnya dengan semburan api birunya.
BWOOOSH! BWOOOSH! BWOOOSH! BWOOOSH! BWOOSH! BWOOOSH!
Wendy dan kedua gadis itu menonton pertarungan itu di dalam kubus pelindung. Sang naga tetap berkutat dengan serangan semburan apinya. Tapi, sejauh ini bisa diatasi oleh burung garuda.
Tujuh kepala burung garuda bersuara nyaring. Menembus bola api yang ditembakan sang naga padanya, dia menyerbu ganas. Bergerak secepat angin guna menyeruduk sang naga secara langsung. Terjadilah adu fisik antara burung garuda dan sang naga.
Disertai badai angin, mereka bergulat. Saling seruduk. Beberapa kali mereka terhempas ke tanah setelah terkena seruduk.
Suara mereka berdua menggema nyaring di tepi hutan itu. Sesekali terjadi gempa bumi besar saat mereka terjatuh ke tanah. Bergulat tiada henti. Hingga pada akhirnya, mereka lelah untuk bergulat, dan beralih bertarung dengan kekuatan sihir lagi.
WHUUUSH!
Lagi-lagi badai angin bertiup kencang tatkala burung garuda mengepakkan kedua sayapnya. Kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Sampai sang naga terseret dibuatnya.
"GROAAAAAR!" sang naga berteriak kencang ketika badai angin ini berubah menjadi badai angin tornado.
Badai angin tornado ini membawa pohon-pohon terbang bersamanya. Dalam badai angin tornado itu, sang naga habis diseruduk oleh burung garuda secara membabi buta.
Wendy pun panik dan berteriak memanggil naga peliharaannya itu.
"AZURE!"
"GROAAAAAAR!"
Sang naga biru berteriak kesakitan karena diseruduk habis-habisan oleh burung garuda. Dia tidak bisa melawan lagi. Badannya melemah begitu saja dan pada akhirnya tumbang begitu saja.
Namun...
BRUUUK!
Tiba-tiba saja, Erza dan dua temannya juga tumbang ke tanah. Mereka pingsan ketika merasakan adanya tekanan aura kegelapan yang begitu kuat. Ditambah sihir pelindung Wendy juga menghilang.
Dalam badai angin itu, seseorang muncul secara tiba-tiba. Burung garuda menyadari kedatangannya.
Tujuh kepala berbunyi nyaring dan terbang secepat kilat untuk menyerang orang itu. Orang itu hanya menyeringai dan berseru keras.
"SHADOW KNIFE!"
Dari tubuh orang itu, keluarlah aura hitam yang meluncur dan berubah bentuk menjadi pisau. Pisau itu transparan dan tidak dapat dilihat oleh mata biasa.
WHUUUSH!
Satu pisau transparan meluncur tajam ke arah burung garuda itu. Pisau itu membelah satu kepala burung garuda.
SLASH!
Muncul enam pisau yang tidak terlihat lagi, meluncur dan menebas keenam kepala burung garuda yang tersisa. Darah merah segar merembes dari tiap kepala yang telah terpotong.
Sang burung garuda mengerang kesakitan dan pada akhirnya melayang jatuh ke bawah sana.
BRUAAAK!
Badannya yang besar, menghantam tanah hingga tanah itu bergoyang kuat seperti dilanda gempa bumi. Tidak bergerak lagi alias sudah mati.
Badai angin tornado menghilang. Sang naga biru juga terkapar di tanah karena babak belur. Kedua matanya sudah membentuk seperti obat nyamuk.
"Berhasil!" orang itu tampak senang, berdiri tak jauh dari kelompok Erza.
SET!
Dia adalah Naruto, berpenampilan kasual dan menyandang tas orange di punggungnya, namun kesannya sangat berbeda. Rambut pirang jabriknya masih sama, tapi kedua matanya berwarna merah kehitaman. Sekujur tubuhnya dipenuhi aura kegelapan yang sangat pekat.
"Hehehe... Guardian of Death Forest berhasil kukalahkan hanya dengan menggunakan Shadow Knife," tukas Naruto alias Yami itu."Ingat itu baik-baik, Naruto. Kau bisa menggunakan serangan Shadow Knife untuk menikam musuhmu secara diam-diam. Seperti yang kini kulakukan."
Yami yang menguasai tubuh Naruto, menyeringai sinis. Kemudian dia masuk kembali ke dalam tubuh Naruto bersama aura kegelapannya. Dia kembali "tertidur" dan akan terbangun lagi jika merasakan adanya ancaman bahaya.
Naruto tersentak dan baru sadar. Dia sendiri pun kaget dan celingak-celinguk seperti orang bodoh begitu.
"Lho? Lho? Dimana ini? Perasaan... Aku baru berangkat dari rumah tadi... Tapi, sekarang aku ada dimana?"
Dia menjadi bingung sendiri dan tidak tahu dengan apa yang terjadi. Lalu menyadari bahwa ada tiga gadis yang terkapar tak jauh darinya. Juga naga biru yang masih terbaring di sana.
"Ng... I-Itukan... Erza, Wendy, dan Lucy, kan?"
DRAP! DRAP! DRAP!
Naruto berlari kecil untuk menghampiri mereka bertiga. Bersamaan Erza yang sadar terlebih dahulu.
"Ah...," kedua mata Erza terbuka secara perlahan-lahan."A-Apa yang terjadi?"
"Hei, kau tidak apa-apa, Erza."
Erza menoleh ke arah samping kirinya dan mendapati Naruto yang berlutut.
"Hei, kau rupanya. Apa yang kau lakukan di sini?" Erza malah balik bertanya.
"Aku mau pergi ke desa Goddess itu," Naruto merengut.
"Oh. Untuk apa kau pergi ke sana?"
"Ada misi khusus dari Kepala sekolah. Aku harus memberikan perkamen rahasia pada Dewi Kaguya."
"Perkamen rahasia?"
"Ya. Tapi, aku tidak tahu apa isi perkamen rahasianya."
"Yang pasti bersifat rahasia."
"Iya sih."
Naruto mengangguk. Erza berusaha bangkit, Naruto pun membantunya untuk berdiri.
"Biar aku membantumu," Naruto menggerakkan dua tangannya ke arah Erza.
"Tidak usah!" Erza menepis kasar dua tangan Naruto yang hendak memeluknya.
"Aduuuh...! Kau kasar sekali!"
"Biarkan saja! Huh...!"
SREK!
Dengan cepat, Erza berdiri. Naruto melototinya. Wendy dan Lucy akhirnya sadar juga.
"Ah...," Wendy membuka kedua matanya secara perlahan-lahan dan memilih duduk di tanah.
"Aduuuh... Ke-Kepalaku terasa sakit...," Lucy mengadu kesakitan pada kepalanya karena baru sadar kepalanya terhantam batu besar saat dia tumbang tadi. Juga memilih duduk di tanah.
"Hei, kalian berdua tidak apa-apa, kan?" Erza berlutut di depan Lucy dan Wendy.
"Ti-Tidak...," Lucy yang menjawab, sementara Wendy menggeleng.
"Tadi... Apa yang terjadi ya? Tiba-tiba, aku merasa napasku sesak. Tahu-tahu kita pingsan begini," ungkap Wendy.
"Iya, aku juga merasakannya."
"Aku juga, Erza."
"Hmmm... Ngomong-ngomong... Kok ada Naruto di sini?"
Lucy ternganga sambil menunjuk Naruto. Erza dan Wendy memandang ke arah Naruto.
"Dia juga pergi ke arah yang sama dengan kita," Erza yang menjelaskan.
"Oh, ke desa Goddess ya?" Lucy menurunkan tangan kanannya.
"Kalau begitu, kita sama-sama pergi saja, Naruto...," usul Wendy tiba-tiba."Soalnya kalau kita berjalan jauh lebih ke dalam hutan, akan banyak bertemu dengan makhluk sihir yang sangat buas."
"Aku mau saja sih ikut. Tapi, apa itu tidak merepotkan kalian bertiga? Lagipula... Erza tidak kelihatan suka kalau aku ikut dengan kalian," Naruto melirik Erza yang melototinya.
Semua mata tertuju pada Erza. Erza pun sweatdrop sendiri.
"EHEM!" Erza berdehem keras."Boleh saja sih, Naruto ikut dengan kita. Kalau pergi sendirian, itu pasti lebih berbahaya ya, kan?"
"Syukurlah... Erza mengizinkan Naruto ikut!" Lucy tampak senang.
"Terima kasih, Erza."
"Tidak perlu berterima kasih padaku."
Erza memalingkan wajahnya dari Naruto. Naruto hanya tertawa senang. Wendy memperhatikan keadaan sekitar lalu pandangannya tertancap pada naga biru tadi. Wendy terkejut.
"AZURE!" Wendy segera berlari menghampiri sang naga.
Ketiga orang itu memperhatikan Wendy yang sedang mengelus-elus kepala sang naga.
"Lho... Apa yang terjadi dengan burung garuda itu?" Lucy menunjuk ke arah bangkai burung garuda itu, tak jauh dari mereka.
"Iya. Tujuh kepalanya terpotong. Apa Azure yang melakukannya?" Erza memegang dagunya dengan tangan kanannya untuk berpikir.
"Berarti Azure memang berhasil mengalahkan burung garuda itu."
"Hn. Azure memang hebat."
Erza tersenyum dan melihat ke arah Wendy yang menggunakan sihirnya untuk mengembalikan sang naga ke tempat asalnya. Sang naga disuruh beristirahat untuk memulihkan tenaganya.
Keadaan kembali aman untuk sementara waktu.
"Terima kasih, Azure," Wendy tersenyum sambil menghilangkan sihirnya dari tangan kanannya.
"Kerja yang bagus, Wendy. Azure Dragon peliharaanmu memang berhasil mengalahkan Guardian of Death Forest itu," Erza datang mendekatinya.
"Ya. Aku kira dia tidak akan bisa mengalahkan Guardian of Death Forest."
"Kalau begitu, kita lanjutkan perjalanan kita."
"Baik."
Wendy mengangguk dan berjalan duluan. Dia bertindak sebagai navigator yang menuntun para anggotanya agar selamat sampai ke desa Goddess.
Dengan menggunakan sihir tingkat tingginya, Wendy mampu men-scanning area hutan ini untuk mendapatkan pemetaan yang sangat jelas. Guna mencari jalan yang aman dan jangan sampai mereka terlibat bahaya yang sangat serius. Karena banyak rintangan yang harus dihadapi saat menuju ke desa Goddess itu. Jika tidak hati-hati, nyawa yang menjadi taruhannya.
Seharian itu mereka berjalan. Selama dalam perjalanan, mereka banyak menemukan makhluk-makhluk sihir yang buas dan ganas. Sampai-sampai terlibat pertarungan sihir yang sengit.
Pada akhirnya, beberapa jam kemudian, mereka berempat pun sampai di luar hutan kematian. Langit senja jingga kemerah-merahan, menyambut kedatangan mereka saat tiba di dekat sungai yang berair jernih.
"Haaaah... Capek...," Lucy duduk di atas sebuah batu besar dengan tampang yang lesu.
"Akhirnya~ Kita terbebas dari hutan kematian itu~ Aaaah...," Naruto menghelakan napas leganya berkali-kali, dan duduk di atas batu besar.
"Aku jadi haus dan lapar nih...," Erza memegang perutnya yang tidak kompromi lagi dan juga ikut duduk di atas batu besar."Wendy, apa desa Goddess itu masih jauh dari sini?"
"Tidak jauh lagi kok. Tinggal menyeberang lewat jembatan kayu itu. Kita berjalan sekitar 3 meter lagi dan barulah sampai ke desa Goddess," Wendy menunjuk ke arah jembatan kayu yang tergantung di tengah sungai itu.
Semua mata tertuju pada jembatan kayu itu. Erza pun mengangguk.
"Tunggu apalagi... Ayo, kita jalan lagi sekarang!" Erza bangkit dari duduknya.
"Iya," Naruto dan Erza mengangguk.
Mereka berempat melanjutkan perjalanan lagi. Menyusuri jembatan kayu yang menggantung di tengah sungai. Di sekitar mereka, dipenuhi pepohonan hijau yang kecil dan rindang. Suasananya jauh lebih cerah dibanding suasana di hutan kematian.
Matahari kian tenggelam di ufuk barat, seiring langit senja yang semakin menghitam. Malam hari segera tiba untuk menyingkirkan siang. Menyambut kedatangan bintang dan bulan yang bersiap untuk menghiasi langit malam ini.
.
.
.
Desa Goddess, itulah nama desa terpencil yang didatangi kelompok Erza.
Sebuah desa yang damai dan sunyi, dihuni sebagian besar perempuan yang merupakan keturunan dari para dewi. Tidak ada pria di sana, namun jika kau yang datang ke desa tersebut, maka para dewi akan menyambutmu dengan senang hati dan memperlakukanmu sebagai tamu yang terhormat.
Bangunan-bangunan yang didirikan di sana, berbentuk tradisional. Banyak pepohonan rindang dan bunga-bunga yang menghiasi di berbagai sudut desa tersebut. Berudara sejuk. Berada di daratan tinggi.
Pemimpin desa ini adalah Dewi Kaguya, yang kini masih hidup. Dia berada di istana langit, yang terletak di puncak bukit, tak jauh dari desa tersebut.
Kaguya yang sedang berada di singgasana-nya, telah mengetahui kedatangan empat orang itu. Dia menunggu mereka sekarang.
Malam hari sudah tiba. Tampak bulan dan bintang muncul di langit yang begitu gelap. Seisi alam memberitahukan kedatangan empat orang itu pada sang Dewi Cahaya.
Menginjakkan kaki di pintu gerbang desa Goddess itu, kelompok Erza dikejutkan dengan kedatangan beberapa orang yang muncul tiba-tiba. Sekelompok gadis muda yang berpakaian kimono serba berwarna putih.
"Selamat datang di desa ini, wahai tamu terhormat dari kota Fairy!" seru semua gadis itu, yang merupakan kelompok pelayan Kaguya.
"Eh?" Erza dan tiga orangnya saling pandang karena heran.
SRIIING!
Tiba-tiba lagi, muncul cahaya putih yang sangat menyilaukan di depan kelompok pelayan itu. Cahaya putih itu berubah wujud menjadi sosok manusia.
"...!" kelompok Erza membelalakkan kedua mata masing-masing."Di-Dia..."
Cahaya putih itu menghilang. Tampaklah sosok wanita muda yang sangat cantik. Berambut putih panjang sampai ke kakinya. Bermata putih. Kulitnya putih pucat. Mengenakan pakaian kimono putri berkerah tinggi dengan lengan longgar yang panjang dan celana putih longgar. Sepatu jepit berwarna putih membungkus kedua kakinya.
Kedua tangannya tersembunyi di dalam dua lengan kimononya. Sekujur tubuhnya dipenuhi aura cahaya. Dengan kata lain dia adalah...
"O-Ootsutsuki Kaguya ya?" tunjuk Lucy yang ternganga.
"Benar, akulah Ootsutsuki Kaguya...," wanita muda yang bernama Kaguya itu mengangguk."Aku telah menunggu kedatangan kalian sejak tadi. Jadi, selamat datang ke tempatku ini."
SREK! SREK! SREK!
Erza, Lucy, dan Wendy membungkuk hormat pada Kaguya kecuali Naruto. Kaguya hanya tersenyum.
"Hormat pada Kaguya-sama yang agung...," kata Erza dan dua gadis itu.
"Ya... Lalu?" Kaguya melirik Naruto yang sama sekali tidak membungkuk hormat padanya."Siapa laki-laki yang tidak sopan ini?"
"Eh?" Erza menoleh ke arah Naruto dan lantas menyenggol kaki Naruto dengan kakinya.
"Ah...," Naruto tersentak karena kakinya disenggol oleh kaki Erza dan langsung membungkuk hormat pada Kaguya."Ma-Maaf... Kaguya-sama."
"Hmmm... Tidak apa-apa..."
Kaguya sedikit tersenyum, namun kedua matanya menyipit tajam. Dia bisa melihat adanya aura kegelapan yang menguar di sekujur tubuh Naruto. Juga tahu bahwa ada arwah Necromancer yang merasuk ke dalam tubuh Naruto.
'Anak laki-laki ini dirasuki arwah Necromancer. Aura kegelapannya sangat kuat...,' batin Kaguya yang semakin menyipitkan kedua matanya.
Aura kegelapan yang menguar dari tubuh Naruto, tidak terlihat oleh Erza dan yang lainnya. Hanya terlihat oleh Kaguya sendiri. Bahkan Naruto saja tidak menyadarinya sama sekali.
WHUUUSH!
Mendadak, aura kegelapan itu meluncur untuk menyerang Kaguya. Kaguya tersentak dan langsung menangkisnya dengan sihir cahayanya.
FWAAAAT!
Muncul perisai cahaya putih berbentuk bola yang melindungi Kaguya. Kaguya langsung mengeluarkan tekanan gelombang kejut sehingga perisai bola cahaya putih yang melindunginya berbalik arah untuk membalas Naruto.
DHUAAAAR!
Naruto pun sukses terkena serangan bola cahaya putih itu. Bagian depan tubuhnya meledak dan membuatnya terpelanting ke belakang.
BRUAAAAK!
Naruto pun terkapar di tanah dalam keadaan babak belur. Mengalami luka bakar pada bagian depan tubuhnya. Dia tak sadarkan diri seketika.
"... Eh!?" semua orang terkejut melihatnya kecuali Kaguya.
"Ke-Kenapa kau menyerangnya, Kaguya-sama?" tanya Lucy pada Kaguya.
"Dia sangat berbahaya. Aku harap kalian berhati-hati dengannya," jawab Kaguya dengan ekspresi tenang.
"Berbahaya? Kenapa?"
"Suatu hari nanti, kalian akan tahu," Kaguya melirik kelompok pelayan yang ada di belakangnya."Kelompok Alchemist, bawa anak laki-laki itu ke tempat pengobatan. Yang lainnya, ikut aku ke istana sekarang juga."
Dua gadis yang merupakan Alchemist, membungkuk hormat pada Kaguya,"Baik, Kaguya-sama!"
Kaguya memandang lagi ke arah kelompok Erza.
"Kalian bertiga juga ikut denganku, Erza, Lucy, Wendy."
"Anda tahu nama kami bertiga?" Erza kagum.
"Tentu. Aku sudah mengetahui semuanya."
"Hebat!"
"Hmmm... Ayo, ikut aku!"
"Baik!"
Tiga gadis itu mengangguk patuh. Kaguya yang berjalan duluan dan disusul tiga gadis itu. Barulah kelompok pelayan tadi yang menyusul mereka dari belakang.
Sementara dua gadis Alchemist tadi, memapah Naruto dengan tandu yang didapatkan secara ajaib. Naruto segera dibawa ke tempat pengobatan untuk mendapatkan perawatan selanjutnya.
Sambil memandang punggung Kaguya yang berjalan di depannya ini, Erza membatin di hati.
'Apa maksud Kaguya-sama jika kami harus berhati-hati dengan Naruto? Apa ada sesuatu yang membuat Kaguya-sama mengatakan hal itu? Apalagi Kaguya-sama menyerang Naruto secara tiba-tiba. Pasti ada alasannya...'
Suara hati Erza dapat didengar oleh Kaguya. Kaguya hanya tersenyum mendengarkannya.
'Anak perempuan yang sangat menarik. Erza Scarlet, seorang Channel berikutnya.'
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N:
Inilah awal pertemuan kelompok Erza dengan Kaguya.
Setelah ini, apa yang terjadi?
Saksikan saja di chapter 5.
Terima kasih banyak.
Kamis, 14 September 2017
