Lirienne : *hiks hiks.. (nangis di pojokkan studio)
Natsu : Huh? Lirienne kenapa tuh? O.O
Lirienne : Hiks Hiks.. Aku sedih karena Rogue bilang dia bunuh Sting T_T HUAAA!
Sting + Rogue : HEE!
Rogue : Serius?! Aku gamungkin bilang gitu!
Sting : R-Rogue.. Benarkah itu?
Rogue : S-Sting!
Sting : Kalo begitu.. KITA PUTUS! (?) *lari kayak cewek lebay yg diputusin cowoknya ._.*
Rogue : NOO! STING! COME BACK! *ulurin tangan*
Lucy : STING DAN ROGUE YAOI! WHADDA?!
Catherine : Eh, fanfic-fanfic =="
Leonard : Maaf atas iklan yang tak jelas ini ._. Happy Reading, minna-san! ^^" *nutup layar di belakang Studio*
Disclaimer : Yamaha (Vocaloid Character); Hiro Mashima (Fairy Tail Character); CatLi Twins (Leonard, Catherine, and Lirienne Character)
Genre : Fantasy, Adventures, Humor, Friendship
Rate : T
Summary : White Wind Kingdom, adalah nama dari suatu Kerajaan sihir ,yang terkenal akan kehidupannya yang aman sentosa. Namun,pada suatu hari terjadi perang yang berujung pada jatuhnya ke-12 Permata kerajaan tersebut oleh sang musuh. . . Dan ini adalah cerita dari beberapa pemuda dan pemudi yang berjuang untuk mendapatkan permata itu kembali. Berhasilkah mereka mendapatkan permata tersebut? Dan bisakah mereka mengalahkan sang musuh itu?
"Jadi, sekarang kita harus ke Gua Roh?" kata Miku untuk yang kesekian kalinya.
"Miku, harus berapa kali kamu menanyakan hal itu?! Kita memang akan pergi ke Gua Roh!" jawab Catherine untuk yang kesekian kalinya juga. Sedikit pusing akan tingkah laku penakut dari sahabat perempuannya yang berambut teal itu. Membuat Catherine harus memijat keningnya pusing.
"Ya ampun, salah apa daku punya temen sepenakut begini," batin Catherine meringis sedih.
"Gua Roh tidak begitu menyeramkan kok, lagipula isinya bukan arwah orang yang sudah meninggal," ujar Lirienne.
"Lirienne-san pernah kesana?" tanya Rogue. "Aa. Itu dekat dengan tempat asalku."
Seketika, keadaan hening sejenak. Tiba-tiba..
"HEEE! JADI LIRIENNE BUKAN DARI WHITE WIND KINGDOM?!" seru semuanya kaget. "Ehehehe.. Aku baru masuk kerajaan 5 tahun lalu.." Lirienne menceritakan yang sebenarnya."Rumahku di Lilian Valley."
"Pantas saja kau tidak takut ke Gua Roh!" seru Natsu.
"Ehehe.." Lirienne cekikikan sendiri.
"Iya Miku, gua roh itu hanya nama. Tidak ada hal-hal mistis disana," ujar Luka mencoba menenangkan kegelisahan Miku. "Lagi pula yang hidup disitu hanya putri duyung dan kappa saja," lanjut Luki membaca buku ensiklopedianya tersebut.
"Kapan dia bawa buku itu?!" batin semuanya sweatdrop. "Dasar kutu buku Megurine..!" lanjut mereka.
Tak lama kemudian, mereka sampai di depan Gua Roh. Di dalamnya terlihat gelap. "Setelah keluar dari gua, ada danau. Airnya memang tidak beracun, tapi kalian tidak boleh meneguknya lebih dari satu kali," jelas Lirienne. "Kenapa?" tanya Lucy.
"Kalau kalian melakukannya, kalian akan jadi duyung."
"HEE!"
"Iya, duyung-duyung itu sebenarnya manusia. Katanya mereka terkutuk sesuatu. Jadi, mereka tidak bisa tidur dalam air. Mereka meminum air danau untuk membuat mereka menjadi manusia lagi, lalu tidur di dalam gua," jelas Lirienne.
"Jadi, air itu bekerja terbalik dengan manusia dan duyung?" ujar Jellal. "Yap."
"Aku terbayang-bayang Natsu-san jadi duyung.." Sting mendeath glare teman kembarnya itu. "HEY!" Natsu protes.
"Ayo masuk!" ajak Leonard. Mereka pun melakukan perintah.
"Oh iya, karena tempatini gelap dan licin, kalian harus berhati-hati ya," Catherine memperingatkan.
"Baikkk!"
"Ughh.. Kenapa gua ini gelap sekali?!" gerutu Catherine. "Catherine-san, anda takut ke-GELAP-an?" tanya Yuuma blak-blakkan, dengan penekanan pada kata 'Gelap'. "Apa katamu?! Enak saja!" Catherine berteriak.
"Huwaa huwaa.. Nggak disangka-sangka Catherine-san takut sama KE-GE-LAP-AN!" Kaito berdecak dengan nada mengejek, dan sama seperti Yuuma ia memberi penekanan khusus pada kosakata 'kegelapan'. "Ahahah!"
"Apa kamu bilang, dasar bakaito!"
"Ahahah Catherine-san takut KEGELAPAN! AHAHAHAH!" Mikuo meledek sang kapten angkatan udara sambil nari-nari nggak jelas. "Azz.. Mikuo ikutan lagi! Dengar ya, kalian dua baka! Aye gak takut kegelapan. Cuman takut jatuh.."
GUBRAK!
Semuanya sweatdrop berjamaah mendengar jawaban dari sang kapten angkatan udara itu. "CATHERINE-SAN! BISA LEBIH LUCU LAGI NGGAK?!" seru Sting. "Hadeh.. Emangnya gua ini terbuat dari ubin lantai yang habis dipel apa?! Pake takut jatuh, kan bukan jurang!"
"Waa~ Sting-chan marah.." goda Lirienne dan Lucy. "HEY! SIAPA YANG MENGIZINKAN KALIAN UNTUK MEMANGGILKU DENGAN BELAKANG CHAN?!" Sting kembali sweat drop.
"Oy, Sting.. Kecilkan suaramu.. Bisa-bisa wanita-wanita cantik terbangun, tahu tidak?" uja rLeonard berwajah merah.
BLETAKK!
"ITTAII! CATHERINE!" seru Leonard, sudah tahu pasti bahwa sahabat berapi-apinya itu yang membuat benjol merah muda di kepalanya.
"Sekarang bukan saatnya mikir wanita tahu, dasar hentai!"
"Hey, aku tidak hentai!"
"Malah mereka berdua yang bertengkar," Lucy sweat drop.
Mereka berjalan selama bermenit-menit. Hampir tiba diujung Gua. "Guanya tidak terlaludalam," Jellal menganalisa. Dan akhirnya, mereka sampai juga di ujung gua. Dan benarlah mereka menemukan danau itu. "Hee.. Indah juga ya.." ujar Lucy.
"Ingat, tidak boleh dari satu teguk!" ujar Leonard pada beberapa anak buahnya yang hendak minum. "Okee!" seru semuanya.
"Luki, katamu disini ada kappa kan?"
"Ahh, menurut buku ini sih begitu Catherine-san. Memangnya ada apa?"
"Ahh tidak ada apa-apa. Cuman penasaran doang sih. Tapi ya sudahlah," ujar Catherine membuat Luki bingung.
"Hey Luce, untuk apa kaubawa botol itu?" tanya Natsu penasaran, sehabis meminum seteguk air danau. "Untuk cadangan, Lirienne-san bilang khasiatnya tidak akan berkurang jika ditaruh dibotol," ujar Lucy yang menaruh satu liter air di botol minumnya.
"Kulihat tidak ada duyung atau kappa di sini," Jellal tiba-tiba sudah meneropongi danau dengan teleskop yang entah datang darimana. "Mereka hanya muncul pada malam hari, biasanya sekarang mereka gentayangan di gua," Lirienne menjawab.
"A-Apa?!" Jellal kaget. "Hahaha, nggaklah! Hanya bercanda. Mereka takut bertemu dengan pengunjung baru saja.."
Setelah beristirahat di danau, mereka melanjutkan perjalanan. "Aah~ Walau hanya seteguk segar juga," ujar Lucy. "Aku rasa aku ingin jadi duyung!"
"Kalau kau jadi duyung, memangnya ada pangeran yg mau meminangmu?" ledek Natsu. "HEE! MAKSUDMU APAA?!" Lucy protes.
"Hey.. Lirienne.." Leonard tiba-tiba berhenti, begitu juga semuanya. "Itukah.."
Terlihat bangunan-bangunan tua dan menara-menara menjulang. Di menara paling tinggi terdapat bendera biru bergambar bunga lili. "Itukah tempat asalmu?!"
"Yap!" seru Lirienne senang. "Ayo, kita kesana!"
"Eh, setauku kita harus mencari permata bukannya bernostalgia," ujar Sting.
"Heh, justru kalian harus menikmati Lilian Valley sebelum menerobos tempat yang bagaikan neraka, tau?!" Lirienne tidak terima tempat asalnya diremehkan Sting. "Kelihatannya menarik, ayo kesana!" seru Natsu. Akhirnya, mereka pun berjalan bersama, memasuki Lilian Valley.
"Huwaa, SUGOIII!" seru semuanya kagum. "Lirienne disini ada toko senjata tidak?" tanya Catherine saat memasuki Lilian Valley. "Disini ada toko buku gak?" Duo megurine bertanya dengan antusias. "Apa disini ada yang jua lgulungan sihir?" kali ini Leonard yang bertanya.
"Kalau toko senjata jarang ada, tapi ada satu dekat pabrik pembuat sepatu di tengah Lilian Valley. Toko buku ada banyak, ini kuberikan petanya," ujar Lirienne menjelaskan ,lalu memberikan peta pada Miku dan Mikuo. "Gulungan sihir juga dijual ditoko buku, Leonard-san, kau bisa pergi dengan Duo Hatsune ini."
"Huwaaa sugoi! Aku mau jalan-jalan ah! Miku, ayo!" Mikuo pun pergi sambil menarik Miku.
"SHOPPING TIMEEE!" teriak Catherine dan Luka, tak butuh waktu lama dan mereka sudah pergi dari tempat mereka berkumpul tadi.
"Bukankah dia belum diberikan peta menuju tempat jual senjata?" Rogue sweat drop. "Oh iya, aku lupa memberikannya," Lirienne menghadap ke atas.
"Tenang saja, Catherine kan bersama Luka, dia tidak mungkin nyasar," ujar Leonard. "Ah, begitu.." Sting pasrah.
"Oy, Luce! Ayo kita makan!" seru Natsu. "Hey, kita baru sampai dan kau sudah mau makan?!" Lucy terheran-heran.
"Oh, Lirienne-san!"
"E?" Lirienne menoleh ketika seseorang memanggil namanya. Nampak seorang gadis berambut biru muda bergelombang dan berpakaian cokelat tua tersenyum.
"Hoo! Juvia!" seru Lirienne. "Lama tak bertemu!"
"Ehehe.. Bagaimana kabarmu, Lirienne-san?" tanya Juvia. "Aku baik-baik saja!" seru Lirienne semangat. "Apa kakek sehat?"
"Um. Dia sudah sembuh dari penyakit strokenya bulan lalu," jelas Juvia.
"Waah! Melegakan sekali beritanya!" Lirienne ikut senang.
"Ano.. Lirienne, kami pergi sebentar," ujar Leonard mewakili Luki, Kaito, dan Yuuma, beserta dirinya sendiri. Lalu merekapun pergi secara bersamaan setelah mendapat anggukkan Lirienne. "Oh oke!" sahut si kapten angkatan laut memperjelas maksudnya.
"Eh, kita jalan-jalan juga yuk!"
"Ayo, bosan disini," ujar Natsu.
"Jaa, duluan ya, Juvia!"
"Um! Sampai jumpa lagi!"
Lirienne dan kawan-kawannya menyatu dengan penduduk Lilian Valley yang ramai. Mereka berkeliling di jalan utama tempat tersebut.
"Walau penduduknya ratusan orang, ramai juga ya," Lucy berpendapat.
"Lilian Valley ini sebenarnya daerah perdagangan, kerajaan biasa mengambil produk makanan dan bangunan di sini," Lirienne menuturkan. "Hee.. Sugoi desu ne.." ujar Rogue.
Tak lama kemudian, mereka menjauh dari kota, dan tiba di sebuah bukit. Mereka semua terkejut akan pemandangannya. "HUAAA! KIREII!"
Rupanya, tempat yang merekatemui adalah Padang Bunga Lili Putih yang luas. "Ini pasti kenapa namanya Lilian Valley," ujar Jellal pada Lirienne. "Ehehe.. Sou dane!" Lirienne tersenyum.
"Huaaa~ Indah sekali!" Lucy menyentuh bunga-bunga itu.
"Konon kalau kau memetiknya di saat langit cerah pada sore hari, harapanmu akan terwujud," Lirienne menceritakan kisah. "BENARKAH?!" Tiga Naga langsung histeris.
Namun tiba-tiba, Rogue membelalakkan mata seakanmelihat hantu. "Sting," ujarnya.
"Apa, Rogue?" Stingmembalas.
"Ada bau darah."
"Hah?"
"Hmm.. Aku memang mencium sesuatu.." Natsu menggerakkan kepalanya agar bisa mencium bau area itu. Jellal pun tengah celingak-celinguk untuk melihat apakah ada suatu -tiba, ia melihat sebuah batu berwarna merah karena darah. "Disana!" seru si pemuda berambut biru.
Maka, semuanya langsung bergerak menuju arah batu tergores darah itu. Mereka pun sampai, dan terkejut melihat seorang gadis muda berlumuran darah.
"WENDY!"
Sementara itu di tempat Catherine beserta Luka, mereka terlihat sibuk dengan kegiatan belanjanya yang seakan-akan tidak pernah berhenti. "Huwawawaaaaaa! Banyak sekali senjatanyaaa!" teriak Catherine yang saat itu sedang memborong beberapa senjata, mulai dari senjata modern sampai senjata traditional khas Lilian Valley pun ia beli. "Huwaaaa! Banyak sekali bukunyaa! Yang mana yang harus kubeli?!" gumam Luka bingung. "Semuanyaaa!" teriak Catherine yang masih asyik dengan ritual belanjanya itu. "Ahahahah! Okay, aku beli semuanyaa!" jawab Luka yang langsung memborong buku buku tersebut.
Di tempat duo Hatsune pun sama hebohnya. "Mikuo-nii..~ Apa inibagus ya?" tanya Miku yang saat itu sedang berbelanja pernak-pernik sihir. "Hmm hmm.. Bagus bagus! Kalo ini bagaimana menurut Miku?" tanya Mikuo sambil memperlihatkan setelan baju untuknya kepada sang adik tercinta.
"Huwaa! Sugoii! Kerenn Mikuo-nii! Miku juga mau beli!"
"Eh, apaaaaa?! Jangan! Nanti kita kembar lagi!"
"Ye elah, nggak apa-apa dong! Mikuo-nii, kita kan saudara!"
"Iya sih. Tapi beli kembaran NO WAY!"
"AHHHH pokoknya Miku belibaju itu juga!"
Dan pertengkaran dua Hatsune pun terjadi.
"Wah, wah, ada apaitu?"
"Ahahah lucu sekali.."
Itulah beberapa komentar orang-orang di sekitar mereka. Ada yang tertawa melihat tingkah konyol mereka yang sedang berbelanja, dan ada juga yang cuma geleng-geleng kepala. Miku dan Mikuo pun mengerjap-erjapkan mata melihat orang-orang yang juga berbelanja ditempat itu.
"Oy, Wendy! Ada apa denganmu?! Bangun!" seru Jellal panik. Di antara semua orang, mungkin ia yang paling panik akan keadaan Wendy.
"Wendy!" Natsu akhirnya membantu sambil menggoyang-goyangkan tubuh gadis kecil itu.
"Wendy! Bertahanlah!" Lucy ikut-ikutan.
"Ergh.." Wendy mengerang. "K-Kalian.. S-Siapa.."
"Kau tidak ingat? Ini aku, Jellal! Ada Natsu, Lucy, Sting, dan Rogue, juga Lirienne! Kami dari White Wind Kingdom, tempat tinggalmu, kau mengenal kami?" Jellal berujar panjang lebar.
"J-Jellal.. N-Natsu.."
"Sebentar, akan kucoba sembuhkan lukanya," Lirienne menerobos diantara Sting dan Rogue dan mendekati tubuh kecil Wendy. Dari saku bajunya, ia mengeluarkan botol kecil yang berisi air. "Apakah itu air danau?" tanya Lucy.
"Um, aku juga sempat mengambilnya sedikit, karena ini dapat menghilangkan darah," ujar Lirienne dengan anggukkannya. Setelah itu, ia menuangkan seluruh isi botol ke atas kepala Wendy, dan darah Wendy pun lenyap.
"Ayo, kita rawat dia!" seru Lirienne.
Jellal pun menggendong Wendy di punggungnya, dan bersama semua orang, ia meninggalkan Lilian Hill itu.
Kembali kegiatan shoppingnya Catherine dan kawan-kawan. Kali ini mereka sudah selesai berbelanja. Dan saat ini sedang ketemuan di salah satu cafe yang ada di Lilian Valley tersebut. "Ya Ampun! Banyak sekali belanjaannya!" komentar Leonard saat melihat belanjaan Catherine dan juga Luka yang terlampau banyak itu.
"Ahahahha.. Biarlah, toh kita juga belinya yang bisa dipakai bersama-sama," ujar Catherine sambil tertawa. "Huuuhh, dasar!" Leonard dan yang lain kecuali Luka, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka. "Daripada kita berdiam diri di sini.. Lebih baik kita cari yang lain," kata Yuuma.
"Oh iya! Kita melupakan yang lain!"
"Sampai lupa dengan Lirienne dan kawan-kawan!"
"Ayo kita cari mereka!" Semunya pun pergi mencari teman-teman mereka yang lain.
Sementara itu, terlihat Wendy di suatu rumah kecil, berbaring sementara Juvia berusaha memperban luka-lukanya. "Terima kasih, Juvia, sudah mau menyediakan tempat," ujar Lirienne. "Ah, sama-sama," Juvia mengangguk.
"Siapa yang kira-kira melakukannya?" Rogue berpikir.
"Sting, sebaiknya kaucari yang lain," perintah Lirienne. "Kenapa aku harus terima perintah darimu?"
"Sting!" seru Lucy. "Okay!" Akhirnya, Sting melaksanakan perintah.
"Hey."
"Apa Kaito?"
"Kalian tahu apa yang kupikirkan?"
"Apa itu?" Semuanya mulai penasaran dengan si pria berambut biru tua tersebut yang siap membeberkan analisisnya. "Desa ini sebenarnya kecil. Hanya saja..."
"Seperti labirin, heh?" Yuuma melengkapi. "IYAAAAAA!"semuanya bersorak.
"Berapa lama kita disini?"
"Sekitar 50 Menit, Catherine-san."
"Oh okay, sankyu Luka!"
"Sama-sama!"
"LIRIENNE! NATSU! LUCY! STING! ROGUE! JELLAL! DIMANA KALIAAANNNNNNNN!" teriakkan mereka semua membahana di penjuru Lilian Valley.
"BERISIK!"
"Eh? Suara itu.." Leonard mencoba menebak. "Sting!"
Pemuda berambut blonde itu tengah berlari-lari menghampiri mereka. "Ayo, kuantar kalian ke tempatsemuanya!" seru Sting. "Yossh! Ayo pergi!"seru Leonard mengomando.
Di tempat itu, Lirienne yang duduk kaget. "Aku merasakan sesuatu!"
"Lirienne?" Jellal menoleh ke belakang, pasalnya kapten angkatan laut itu berada di belakang punggungnya. "Tidak mungkin," Lirienne menutup satu matanya. "Permata kedua ada di sini!"
"HAH?!" Semuanya kaget. "Lirienne-san, apa maksudmu?" Juvia bertanya.
"Permata Pasir.. Ada disini!"
"Lirienne!" Leonard tiba-tiba masuk, bersama dengan yang lain. "Leonard-san," ujar Rogue.
"Apakah itu benar? Permata pasir ada di sini?!" tanya Sting. "Um. Aku merasakannya," Lirienne menggangguk. Leonard pun melihat ke sekeliling, dan menemukan Jellal yang duduk di sebelah ranjang. "Siapa itu?"
"Wendy Marvel, anggota Angkatan Laut yang paling muda," ujar Rogue. "Anda tidak ingat?"
Leonard mendekati Wendy, dan terkejut melihat gadis itu terluka parah. "Siapa yang melakukan ini?!" serunya marah. "Ada apa ini?" tanya Catherine saat melihat Wendy yang terluka parah. "Luka, ini..!" Miku kaget melihat luka-luka Wendy. "Kamu benar, Miku!" Luka membenarkan perkataan Miku. "Kita harus segera mengobatinya!" lanjutnya. "Tapi kita tidak mempunyai tanaman itu!" Miku panik.
"Ada apa ini Miku, Luka? Memang kenapa dengan Wendy?" tanya Catherine bingung.
"Catherine-san, Wendy.. Dia terkena infeksi racun. Walau dilihat dari luar terlihat seperti luka biasa, tapi..." Luka memotong perkataannya. Dia terlihat memegang tangan Wendy. Semuanya kaget. "I-Itu tidak mungkin!" Catherine kaget melihat apa yang ada disana.
Ditangan gadis tersebut terlihat sebuah benjolan memanjang yang berbentuk seperti segel. "Mungkinkah..."
"Ya, ini adalah racun yang dibuat dengan menggunakan sihir kegelapan. Padahal penggunaan sihir ini telah dilarang berabad-abad lalu," terang Miku.
"A.. Apa?!" seru Lucy kaget. "Kita harus membalas untuk Wendy! Ayo!" seru Natsu yang sudah berapi-api.
"Tunggu!" Jellal menarik syal si naga api dari belakang. "Ouch! Jellal! Aku kecekek!" Natsu berteriak.
"Sihir langka seperti itu, yang bisa melakukannya hanya Yozakura," Jellal menuturkan. "Tapi kurasa, Yozakura membuat segel yang lebih sempurna dari ini. Berarti ada seseorang di bawah Yozakura."
"Dia pasti penjaga permata pasir itu, aku yakin!" Lirienne mengangguk.
"Lagipula, siapa yang mengirim Wendy untuk bertugas di tempat ini?" Lucy bertanya. "Aku tidak pernah menugaskan Wendy," Lirienne berusaha menggali memorinya. "Waktu itu kapten angkatan laut bukan aku, dan Wendy masuk ke White Wind sebelum aku. Pasti kapten angkatan laut sebelumnya."
"Kalau tidak salah, namanya Gray Fullbuster," Leonard mengingat-ingat. "Eh? Gray-sama?!"Juvia sontak menyebutkan nama pemuda itu.
"Juvia! Kau tahu Gray siapa?" Lirienne berusaha bertanya.
"Setelah ia mengundurkan diri dari White Wind Kingdom, Gray-sama tinggal di Lilian Valley ini selama 3 tahun. Tapi, beberapa bulan yang lalu ia menghilang," jelas Juvia.
"Kalau begitu, kita harus mencarinya!" seru Sting.
"Luka, Miku, kalian disini obati Wendy sebisa kalian. Yang lain ikut aku. Kita cari Gray!" komando Leonard. "BAIKK!"
"Lirienne, kau tunjukkan arah menuju lokasi permata itu!" Leonard menambahkan. "Baiklah! Ayo!" Semuanya keluar dari rumah itu.
"Ano.. Apa tumbuhan yang dapat menyembuhkan luka Wendy, Miku-san, Luka-san?" tanya Juvia. "Tumbuhan itu..."Miku bingung harus bicara apa. "Fugue Mushroom, WhiteGold Lily, dan Cosmos-Ciel. Beberapa mungkin masih bisa ditemukan di sini, kurasa.." lanjut Luka.
"Em.. Sebenarnya.."Juvia menundukkan muka. "Juvia punya tanaman itu di rumah Juvia.."
"Benarkaahh?! Ayo, kita harus mendapatkan tanaman tersebut sebelum terlambat! Miku, kamu disini jaga Wendy!"
"Baik!"
"Juvia dimana rumahmu!?" tanya Luka to the point. "Ayo, Juvia tunjukkan!" Juvia dan Luka pun keluar rumah.
Leonard dan kawan-kawan masih berlari. Rupanya mereka sampai di bagian ujung Lilian Valley. "HUAA! Tempat apa ini,Lirienne! Kenapa semuanya berwarna merah?!" Sting mulai ketakutan. "Ini adalah The Future of Despair, dinamakan demikian karena dulu bagian Lilian Valley ini menggunakan sihir terlarang dan akhirnya memisahkan diri dari Lilian Valley," ujar Lirienne.
Angin pun berhembus kencang. "KYAAA!" seru semuanya menahan tiupan angin.
"Ahahahhaa!"
"Suara itu... Yozakura! Tunjukkan dirimu!" seru Catherine memanggil nama wanita tersebut.
"Ahahaha... Kita bertemulagi heh? Penyihir kecil!"
"Aku tidak kecil!" Lirienne protes. "Yang dia maksud kitasemua, tahu?!" Sting kesal.
"Mungkin kalian sedang mencari orang ini?" Yozakura dengan sihirnya, memunculkan seorang pemuda berambut biru donker dan memeluk lehernya. Natsu, Jellal, dan Lucy terkejut. "GRAY!"
"Dia adalah salah satu pelayanku, kalian tahu? Aku tidak percaya Gray berani mengkhianati kalian.."
"Kau!" Rogue menggertakkan gigi. "Cepat hilangkan segel sihir yang ada pada Wendy!" tuntut Jellal.
"Segel? Oh.. Mintalah pada Gray. Dia yang memasangkannya."
Segera, semua orang terkejut.
"Aku tahu Wendy adalah salah satu penyihir muda yang terkuat. Jika aku menghancurkannya lebih dulu, akan sangat gampang bagiku menghancurkan White Wind Kingdom," kata Yozakura. "Kau.. Janga nbercanda!" Natsu tidak percaya.
"Untungnya Gray datang padaku, dan ia dengan senang hati memberikan semua informasi mengenai Wendy. Kelemahannya adalah sihir segel, ya kan?"
"Yozakura..! Kau sudahkelewatan! Aku takkan memaafkanmu!" seru Lirienne.
"Huh, Gray, tangani mereka." Setelah itu, Yozakura menghilang. "Kalian berhati-hati, diasangat kuat," Mikuo memperingatkan. "Baik!"
Juvia dan Luka saat ini sudah tiba di rumahnya Juvia. "Juvia, dimana tanaman-tanamannya?!"
"Ini!" Juvia membawa dua guci yang berisi Fugue Mushroom dan bunga Cosmos. "Kalau White Gold Lily, bisa anda temukan di halaman belakang rumah Juvia."
"Ice Make : Cannon!" Gray menembakkan es-es ke semua 'musuh'nya. "Fire Dragon Slash!" Natsu membakar es-es itu.
"Lirienne, kau bisa melihat permatanya?!" ujar Jellal yang berlari cepat, hendak lompat kearah Gray. "Entahlah, aku belum bisa merasakannya!" Akhirnya, kedua penyihir itu melompat.
"Wind Magic : Dazzling Torpedo!"
"Grand Chariot!"
"Rasakan ini!" teriak Mikuo yang sedang berusaha untuk menggigit Gray. Namun dengan lincah dia menghindar dan berbalik menyerang Mikuo. "Arkhhh!"
"Mikuo!" teriak Catherine.
"Hyaaatt!" Kaito mencoba menyerang Gray dari arah belakang, namun dengan cekatan Gray menghindari serangan tersebut. "Cih! Ini akan menyusahkan! Luki! Identifikasi musuh!" komando Leonard. "Baik!"
"Yuuma kita serang dia bersama-sama," lanjut kapten angkatan darat tersebut. "Roger!" Kemudian mereka berduapunmencoba menyerang Gray.
"Baiklah sepertinya segini cukup. Sebaiknya kita kembali ke tempat Wendy," ujar Luka.
"Ice Make : Shield!" Gray membuat perisai pertahanan. "Gyaah!" Leonard terlempar.
"Gray! Sadarlah!" Natsu dalam wujud naga membawa Lucy di punggungnya. "Natsu, kita harus melakukan Unison Raid!" ujar Lucy.
"Fire Dragon Roar!"
"Gate of The Scorpion, I open thee! Scorpio!"
Segera auman naga Natsu dan topan pasir roh zodiak Lucy menghantam si penyihir es, namun hanya membuatnya mundur beberapa langkah. "Catherine-san! Dia diarahmu!" seru Lucy.
"Roger. Gray sadarlahh!" teriak Catherine. Segera, ia menendang Gray dengan jurus beladirinya disertai dengan sihir. Gray yang mendapatkan serangan tersebut terjatuh terguling ditanah. "Tch!" decih Gray. "Luki!" seru Leonard. "Roger! Identifikasi selesai!"
"Bagaimana?!"
"Sepertinya kalung itu yang menghipnotis Gray! Dan lihat! Dia memakai Liontin yang terbuat dari Permata Pasir!" ujar pria bersurai merah musa itu. "Begitukah? Hmm baiklah .Sepertinya untuk urusan itu.. Luki! Kamu bisa mematahkan sihir hipnotisnya Yozakura?" tanya Leonard.
"Baiklah! Tolong beri waktu!" serunya membaca buku mantranya itu. "Semuanya lindung iLuki!" komando Catherine.
"Baik!"
"Luce, kau bisa memakaisihir pasir kan?! Sebaiknya kau bantu Luki!" ujar Natsu yang sudah mendarat. "Oke!" Lucy tersenyum. "Scorpio!"
"Yossh!" Scorpio berdiri di belakang Luki. "Lucy, aku butuh bantuanmu!" seru Luki.
Sementara itu, Luka dan Juvia sampai di rumah tempat Wendy dirawat.
"Ini! Sudah kami temukan!"ujar Juvia.
"Luki, kau siap?!"seru Leonard. "Siap hanya butuh air!" serunya.
"Syukurlah kalian kembali!" Miku memperhatikan kedua orang yang di depannya. "Miku, ini tanamannya, dan ini bunga cosmo yang kita cari!" seru Luka memberikan kantung tanaman itu.
"Baik, secepatnya akan kuracik!"
"Kuharap Wendy bisasegera sembuh!" seru Juvia penuh harap.
"LUKI!" serus emuanya.
"Ayo Luki, kamu pasti bisa!" gumam Luki. "Avec l'eau!" Ia pun memunculkan air dengansihirnya. Segera seluruh daerah itu tergenang oleh air.
"Etendez mon appel! Apportez, cette magia noire. Soluble dans, dans l'eau cette. S'il vous plait, jeunesse en face de moi! ETENDRE L'EAU!" teriak Luki mengakhiri mantranya.
Seluruh air yang menggenangi daerah tersebut tiba-tiba menjadi kristal, lalu kembali kebentuknya semula. Lalu di sekeliling Gray muncul pusaran air yang menariknya, dan dalam sekejap tempat itu diselubungi oleh air yang berwarna hitam. Tidak lama kemudian air hitam tersebut menghilang digantikan oleh pemandangan bunga lili berwarna-warni. Dan di tengah-tengahya terlihat seorang pemuda yang tertidur tak sadarkan diri.
"Kerja bagus Luki! Lucy tugasmu!" komando Leonard.
"Scorpio! Ambil permatanya!" Lucy berteriak.
"Sand Buster!" Scorpio mengarahkan jurus pasirnya ke arah permata pasir itu. Permata itupun keluar dari liontin yang dikenakan Gray dan melayang di udara. Akhirnya, Lucy pun berhasil mengambilnya. "Minna! Kita berhasil!"
"YEAY!" seru semuanya gembira.
"Fyuh," Leonard mengusap keringat. "Pekerjaan bagus semuanya!" Tiga kapten pun hanya tersenyum melihat anak-anak buahnya masing-masing.
"Ergh.. Ergh.." Gray perlahan membuka matanya. "Di mana.."
"Oy, kau sudah sadar?" Natsu menjadi objek pertama yang dilihat Gray. "Gyaah! N-Natsu?!" Gray mundur. "Oi! Lama tak jumpa Gray," Natsu hanya tersenyum.
"Sebaiknya kita bawa dia kembali," Jellal mengusulkan.
Akhirnya, semua kembali ke Lilian Valley. Satu berita gembira pun muncul di tengah-tengah mereka. "Konnichiwa, minna-san.. Ehehe.." Wendy berdiri menyambut mereka, walau tubuhnya penuh perban.
"Wendy!" seru Lucy senang."Syukurlah!"
"Luka dan Miku hebat!" puji Leonard.
"Ahaha.. Kami kan peri dan penyihir penyembuh," kata Luka. "Sudah sewajarnya kami menyembukan, bukankah begitu?" lanjut Miku mengedipkan sebelah matanya. "Ahaha, iya deh!"
Lirienne tiba-tiba terlihat mendeath glare Gray. "Ceritakan semua yang terjadi.. Mantan kapten.." Nada bicaranya sadis.
"Hmm.. Jadi Yozakura menjanjikanmu sesuatu dan kau berhasil tertipu?" Jellal menyimpulkan setelah mendengar kisah Gray.
"Aa. Otakku memang sedang jenuh saat itu, jadi aku lengah. Ia berhasil memperdayaku," Gray mengangguk. "Kita harus cepat, sebelum Yozakura memperdaya orang lagi!" ujar Rogue.
"Ano.."
Semua berbalik ke belakang ketika mendengar suara Wendy. "Boleh aku ikut dengan kalian?"
"Hmm.. Tentu Wendy-chan," ujar Catherine tersenyum. "Lagipula semakin banyak orangbukankah semakin bagus heh?" ucap Kaito mendapat anggukan dari semuanya. "Juvia kamu tidak ikut bersama kita? Gray juga?" tanya Luka kepada kedua orang tersebut.
"Umm.. Ano.. Juvia ingin merawat Gray-sama.."
Mendengarnya, Gray kaget. "Juvia?!"
"EHM EHM!" seru Natsu, Lucy, dan Lirienne heboh.
"G-Gray-sama.. Kau terluka juga.. Ini sebagai balas budi Juvia karena Gray-sama pernah menyelamatkan Juvia.."
Gray pun terdiam, lalu menghadap semua orang. "Minna, aku akan tinggal di sini. Aku akan menebus kesalahanku."
"Baiklah, kau cukup berwibawa untuk mengatakannya," Leonard menyetujui keputusan Gray.
"Sampai jumpa, Gray! Juvia!" seru Lirienne yang siap meninggalkan kampung halamannya lagi. "Semoga berhasil!" seru Juvia. "Terima kasih sudah berkunjung!"
"Sampai jumpa lagi!" seru semua prajurit White Wind Kingdom tersebut. "Yosh! Aku akan berusaha membantu!" Wendy memasang muka seriusnya, yang dirasa lucu.
"Ahaha.. Ganbatte, Wendy-chan!" seru Leonard.
~~~~~~~~~~~~~~~ Lirienne : Hiks hiks.. Okee.. Itu dia.. *nangis* Untuk.. *nangis* Chapter keempatnya.. *nangis* Maaf bila ada salah-salah kata dan perbuatan yang dilakukan karakter dalam fanfic ini (emangnya pidato ==")
Natsu : Editor, jangan cengeng gitu nape! Malu nih ama readers ._.
Lirienne : Hiks.. Gomen.. T_T Peristiwa Rogue mengingatkanku pada Jellal.. Hiks..
Direktur : Oke, minna! Sekali lagi kami mohon maaf atas ketidak jelasan iklan ini :D Jaa, minna-san! Matta aeru ne! ^^" *menutup acara tanpa tahu apa yg sedang terjadi (?)*
