Russia

By. Curly

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Warning: AU, OOC, typo, flow velocity, non-standard language, etc.

Don't like, don't read.

.

.

.

Chapter 4: Flashback

Hinata berjalan dengan santai di koridor sekolah. Tangannya memegang buku catatan, sedangkan mulutnya komat-kamit menghapalkan materi pelajaran yang akan diujiankan hari ini. Sekolah mulai masih setengah jam lagi dan koridor masih sangat sepi. Jadi, tidak ada salahnya, bukan, berjalan santai di tengah-tengah koridor sambil menghapalkan materi ujianmu?

'BRUK'

Mungkin terlalu di tengah.

"Ouch! Sakit...!" seru Hinata tepat setelah pantatnya mencium lantai dengan penuh nafsu.

Ingin rasanya memaki orang yang menabraknya. Ini masih pagi!

"Maaf, kau tidak apa-apa?"

Hinata mendongakkan kepalanya dengan wajah cemberut, siap memaki orang di hadapannya.

"Kau tidak apa-apa?" tanya pemuda itu lagi. Kekhawatiran terpancar jelas di wajahnya, terutama setelah melihat wajah Hinata yang siap mengamuk.

Pemuda di hadapannya lalu mengulurkan tangan untuk membantu Hinata berdiri, dan segera diterima oleh Hinata. Lagian pantatnya sakit, apa salahnya menerima bantuan?

"Kau belum menjawab pertanyaanku," ujar pemuda itu lagi.

Hinata menepuk-nepuk pantatnya yang sakit. "Aku tidak apa-apa. Pantatku mungkin sedikit bahagia bisa mencium lantai," jawab Hinata sarkastik. Walaupun dia baik hati, lemah lembut, dan tidak sombong, tapi di manapun kau berada, jika ada yang menabrakmu di pagi hari yang tenang dan membuat pantatmu sakit, kau juga pasti tidak akan memaafkannya begitu saja.

Pemuda itu tertawa keras mendengar jawaban Hinata, membuat wajah Hinata semakin mengkerut dan berubah merah karena marah dicampur malu.

"Baiklah," ucap pemuda itu setelah bisa mengontrol tawanya. "Aku minta maaf," ia menunduk untuk mengambil buku catatan Hinata di lantai kemudian melanjutkan, "aku sedang buru-buru tadi, kepala sekolah memanggilku, entah apa mau Pak Tua itu," lalu menyerahkan buku tersebut pada sang empunya.

Hinata menatap bukunya, kemudian menatap pemuda itu lagi. "Siapa namamu?" tanya Hinata, sekarang dengan nada yang lebih lembut. Biarpun ia kesal, tapi pemuda di hadapannya cukup tampan. Dan kita tidak boleh menyia-nyiakan pemuda tampan.

"Ah, namaku Sai, dan kau?" Sai bertanya balik.

"Hinata!"

Hinata sontak berbalik mendengar namanya dipanggil. "Neji-nii?" ia bertanya sambil memiringkan kepalanya, bingung melihat Neji yang berlari seperti orang keserupan.

"Berhentilah menghilang begitu saja! Kau hampir membuatku pingsan!" bentak Neji saat sudah sampai di hadapan Hinata. Ia berusaha mengatur napasnya. Keringat mengalir dari pelipisnya.

Hinata memasang cengirannya. "A-aku tadi buru-buru ke kelas, mau belajar, hehe," balas Hinata dengan nada minta dikasihani.

Neji masih akan memarahi Hinata jika saja ia tidak melihat seorang pemuda asing berkulit pucat dengan senyum menjengkelkan –bagi Neji- sedang menatapnya.

Neji dengan segera tapi tetap tenang dan elegan, memperbaiki baju dan postur tubuhnya sebelum berkata, "Siapa kau?"

"Sai, da-"

"Neji," potong Neji.

"Ah, sebenarnya saya ingin mengatakan –dan saya sedang terburu-buru," Sai berkata tenang walau sebenarnya ia berusaha menahan tawanya.

Neji cukup terkenal dengan sifatnya yang tidak suka bercanda, well, itu hanya rumor, dan rumor belum tentu benar. Tapi dia tidak mau mencari masalah di pagi hari, otot-ototnya belum siap, dan belum ada murid lain yang berada di lantai tiga, selain mereka bertiga. Kalau berkelahi sekarang, bagaimana ia akan melamar Hinata nanti? Sai tersenyum kecil saat pemikiran tersebut muncul di otaknya.

Neji masih tetap mempertahankan wajah cool nya, meski wajahnya sedikit merona karena malu. Tangannya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, salah satu ciri orang yang sedang salah tingkah.

Karena Neji tidak berkata apa-apa, Sai memutuskan untuk pergi sebelum kepala sekolah bertanya-tanya di mana dirinya berada.

Sai sempat melempar senyum manis ke arah Hinata yang juga dibalas Hinata tak kalah manisnya, disertai semburat merah di pipinya. Dan itu tidak luput dari pandangan Neji.

Setelah Sai berada cukup jauh dari mereka berdua, Neji membuka suara, "Apa yang dilakukan bocah itu? Kenapa kau tersenyum padanya? Dia pacarmu? Kau pacaran? Ha?" cecarnya dengan nada seduktif.

"Dia tidak melakukan apa-apa," jawab Hinata. Wajahnya kembali merona saat mengingat senyum Sai padanya sebelum pergi. "K-kami bertemu tadi, tidak sengaja, lalu kami berkenalan dan sekarang kami berteman," karangnya.

Seharusnya 'tabrakan' bukan 'bertemu'.

Neji mengangguk-angguk. "Oke, good luck buat ujianmu. Tunggu aku di bawah kalau sudah pulang," ujar Neji yang dibalas anggukan Hinata.

Hinata berbalik, siap melangkah kembali menuju kelas.

"Dan Hinata..."

Hinata menoleh, bergidik melihat tatapan Neji dan suaranya yang dingin.

"Jangan pacaran."

Setelah itu Neji berbalik dan melangkah menjauhi Hinata menuju kelasnya sendiri di lantai bawah.

Hinata menggelengkan kepalanya berusaha mengusir rasa takut yang tiba-tiba menyelimutinya. Ia lalu tersenyum memikirkan pemuda tampan yang menabraknya tadi.

Ia melanjutkan langkahnya menuju kelas.

"Siapa namanya? Sai?" Hinata bertanya pada dirinya sendiri, sejenak melupakan materi yang sedang dihapalnya tadi. "Tidak terlalu buruk." Hinata tersenyum sambil memasuki kelasnya yang masih kosong.

Awal pertemuan mereka tidak begitu menyenangkan, terutama bagi Hinata. Pantatnya masih sedikit sakit, dan baru hilang setelah empat hari dan membuat Sai merasa sangat bersalah, walaupun ia juga menganggapnya sedikit lucu. Tapi sejak itu, Sai dan Hinata menjadi sangat dekat. Sering terlihat jalan berdua, dan untungnya, Neji tidak mengetahuinya.

Hinata dan Sai tidak terlalu dikenal, mereka hanyalah murid baru yang belum mendapat gelar apa-apa. Jadi, beberapa murid tidak peduli, dan beberapa lagi peduli namun memilih untuk tidak membicarakannya karena tidak terlalu penting bagi mereka.

Waktu itu, Sai sedang melukis di ruang seni saat sepupunya, Uchiha Sasuke, datang untuk menganggu. Tapi ide-ide jahil di kepalanya hilang sekejab saat melihat senyum bahagia Sai. Sasuke dengan cepat membaca keadaan.

"Kau sedang jatuh cinta?"

Sai mengangguk. Tangannya tetap aktif melukis di atas kain kanvas di hadapannya.

"Dengan siapa?"

"Seseorang."

Sasuke mengangguk-angguk mendengar jawaban Sai.

"Namanya?"

"Rahasia."

Sasuke memutar bola matanya.

"Ciri-cirinya?"

"Seperti manusia."

Kali ini Sasuke kesal.

"Kau tahu daritadi kau hanya mengabaikanku?"

Sai berhenti melukis kemudian berbalik menghadap Sasuke, yang mengusahakan ekspresinya agar terlihat terluka. Well, Uchiha Sasuke yang dingin dan selalu dielu-elukan namanya oleh para gadis bisa berubah 180 derajat jika sedang bersama orang terdekat yang ia percayai. Dalam kasus ini, Sai, sepupu jauhnya, termasuk salah satu orang yang dekat dengannya.

"Apa?"

Sasuke berdecak kesal. "Siapa nama gadis itu? Dan tentu saja dia manusia! Apa kau pernah jatuh cinta pada hewan?!" bentak Sasuke.

"Pernah, Akamaru, anjing Kiba, temanmu. Sekarang pun masih," jawab Sai tenang, tidak memedulikan aura membunuh yang dipancarkan Sasuke khusus untuk Sai.

"Aku menyerah padamu," ujar Sasuke dingin.

"Hm, baiklah," balas Sai cuek lalu kembali melukis.

Sai tidak mengacuhkan Sasuke yang keluar dari ruangan dengan membanting pintu, menyebabkan beberapa alat lukisnya sedikit bergetar. Ia tidak peduli. Ia sedang bahagia. Hubungannya dengan Hinata semakin dekat, dan ingin sekali ia mengajak gadis itu untuk berpacaran dengannya.

Dan itu tidak butuh waktu lama. Dua minggu kemudian, mereka sudah menjadi sepasang kekasih, tapi secara diam-diam agar Neji tidak mengetahuinya. Tentu Sai tahu perihal Hinata yang dilarang pacaran oleh Neji. Oleh sebab itu, mereka selalu berhati-hati dalam menjalin hubungan mereka.

Orang-orang hanya menganggap mereka sahabat, dan mereka tidak mempermasalahkan hal itu. Mereka tetap mempertahankan reputasi mereka yang belum mencolok. Saat sedang berduaan pun mereka berusaha terlihat seperti sahabat.

Mereka sedang duduk di bawah pohon berdua saat tiba-tiba Sai membuka suara.

"Hinata," panggilnya. Hinata menoleh. Ia menatap Hinata -yang juga sedang menatapnya penasaran- lembut. "Kau seperti malaikat tanpa sayap," gombalnya.

Hinata terdiam beberapa saat memikirkan gombalan Sai sebelum bertanya, "Jadi, seperti manusia?"

Sai terdiam mendengar pertanyaan Hinata. Itu tidak salah.

"Aku hanya berusaha romantis," protes Sai dengan nada kesal yang dibuat-buat.

Hinata tertawa kecil.

Usaha-usaha Sai untuk menggombali Hinata memang tidak pernah sukses, karena kelemotan dan ke-tidak-pekaan Hinata terhadap hal-hal seperti itu. Walau begitu, mereka tetap melalui hari-hari dengan perasaan bahagia karena saling memiliki.

Hinata lebih sering bercerita, sedangkan Sai cenderung diam mendengarkan. Sai kini mengetahui banyak hal tentang Hinata, sedangkan Hinata mengira ia sudah tahu banyak hal tentang Sai.

Sampai suatu waktu, saat memasuki tahun ajaran baru...

"Namaku Yamanaka Ino, mohon bantuannya!" gadis pirang penuh energi itu memperkenalkan dirinya. Ia tersenyum manis sehingga membuat beberapa murid laki-laki tertarik padanya, tak terkecuali Sai.

Sai dan Hinata berada di kelas yang berbeda, sama seperti tahun kemarin, jadi Hinata tidak tahu-menahu mengenai kehadiran murid baru di kelas Sai. Ia baru mengetahuinya seminggu kemudian saat mendengar gosip mengenai kekasihnya yang dekat dengan gadis pirang itu. Gadis tersebut merupakan anak dari salah satu pengusaha bunga tersukses dan memiliki banyak cabang di berbagai belahan dunia. Intinya, gadis itu adalah orang yang kaya dan terkenal, sehingga gosip tersebut tersebar luas dengan cepat.

Saat Hinata bertanya, Sai hanya menjawab, "Aku terpaksa melakukannya, aku janji tidak akan mengkhianatimu. Aku melakukannya supaya hubungan kita tidak dikira lebih dari sahabat."

Hinata memercayainya. Walau kadang ia merasa cemburu melihat kedekatan Sai dan Ino, tapi ia selalu berusaha berpikir positif bahwa itu semua dilakukan Sai untuk menunjang keberhasilan hubungan mereka.

Tapi semuanya berakhir saat Hinata mendapati Sai berdua dengan gadis itu di ruang seni. Ino terkejut melihat Hinata yang berusaha menarik Sai menjauh darinya. Ino kemudian membela pacarnya tersebut dengan membentak Hinata. Hinata terkejut mendengar Ino mengatakan Sai adalah pacarnya. Dan Hinata tidak akan pernah lupa apa yang dikatakan Sai setelah itu.

"Aku tidak mengenalmu, Hyuuga. Pergi dan berhenti menganggu hubungan kami."

Tanpa diperintah dua kali Hinata melangkah keluar dari kelas itu dengan bersimbah air mata, berjalan tanpa tujuan jelas yang membawanya pada taman di belakang sekolah. Tempat di mana ia dan Sai membentuk kenangan.

Ia duduk di bawah pohon kencana, lalu menekuk kedua kakinya dan memeluk lututnya, membenamkan wajahnya di sana kemudian menangis keras, menumpahkan semua emosinya yang selama ini ia pendam. Rasanya sangat menyakitkan melihat pacarmu berselingkuh dengan gadis yang lebih sempurna darimu.

Mungkin Neji benar, tidak seharusnya ia pacaran dan seharusnya ia mendengarkan Neji dari dulu.

Seharusnya.

Tapi bagaimana cara melupakan kenangan-kenangan yang terbentuk selama satu tahun?

"Hey."

Hinata terlonjak kaget mendengar suara yang memanggilnya. Ia menoleh kanan kiri dan menemukan tidak ada orang di sekitarnya.

"Di atas."

Hinata mengangkat kepalanya dan mendapati seorang pemuda berambut kuning sedang menatapnya balik. Pemuda tersebut lalu turun perlahan dari pohon kemudian duduk di samping Hinata, yang dari tadi memerhatikan gerak-geriknya.

Pemuda itu menepuk-nepuk kedua tangannya, membersihkan kotoran-kotoran yang ia dapat saat memanjat turun, kebanyakan serbuk-serbuk kayu dari kulit pohon yang terkelupas, kemudian bertanya pada Hinata yang masih menatapnya dengan mata sembap, "Ada masalah?"

Hinata menatap mata biru sapphire itu dengan pandangan lelah. Ia bahkan tidak mengetahui pemuda ini, tapi ia tetap menjawab pertanyaan pemuda itu.

"Patah hati."

Adalah dua kata awal sebelum Hinata memulai kisahnya yang panjang dan menyedihkan. Pemuda tersebut mendengarkan dan tidak sekalipun menyela. Setelah Hinata selesai bercerita dan air matanya sudah mengering, pemuda itu angkat bicara.

"Namaku Naruto," ia memperkenalkan diri terlebih dahulu. "Aku tidak suka melihat orang yang bersedih, rasanya tidak menyenangkan," ia tertawa kecil kemudian menatap Hinata lalu melanjutkan, "kau tahu, karena aku selalu ceria, maka semua orang juga harus ceria sepertiku."

Hinata tersenyum mendengar penjelasan Naruto, melupakan sejenak mengenai masalahnya dan Sai. "Kau memuji diri sendiri," sindir Hinata yang dibalas dengan tawa oleh Naruto. "Aku Hinata, Hyuuga Hinata."

Naruto mengangguk-angguk, diam beberapa saat, kemudian kembali membuka suara.

"Dia bukan satu-satunya lelaki di dunia ini, itu yang sering dikatakan ibuku. Kalau kau bertemu dengannya, dia pasti akan mengatakan hal itu terus-menerus, agar kau tidak terjebak dalam kesalahan yang sama."

Hinata menatap Naruto dengan tatapan penasaran.

"Hinata, aku suka berteman. Aku punya banyak teman, tapi beberapa di antaranya hanya menganggapku angin lalu," ujarnya sedih. Ia menarik napas sebelum melanjutkan, "Lalu aku bertemu Kiba. Dia punya anjing bernama Akamaru. Saat itu aku sedang terpuruk, dan dia juga sedang terpuruk, jadi awal kami berteman hanya karena kami sama-sama terpuruk."

Naruto tertawa mengenang masa lalunya, yang dulu terasa menyakitkan, namun sekarang terasa lucu. "Kemudian kami menjadi sahabat," tambahnya.

Hinata tersenyum melihat tawa Naruto yang bahagia. Ia merasa nyaman berada di dekat pemuda ini.

"Terkadang kita yang menemukan sahabat, terkadang merekalah yang menemukan kita. Tapi terkadang kita saling menemukan," lanjut Naruto. Ia menatap Hinata yang sedari tadi menatapnya. "Aku menemukanmu," katanya, "jadi sekarang kau sahabatku, dan itu artinya kau akan mengenal sahabat-sahabatku yang lain dan kita akan menjadi keluarga besar!" seru Naruto bersemangat.

Hinata tersenyum senang, melupakan masalah Sai secara total. Ia mengangguk ke arah Naruto yang dibalas Naruto dengan pelukan persahabatan.

"Kuharap kalian punya penjelasan di sini?"

Mata Hinata membelalak.

Dengan perlahan, ia melepaskan diri dari Naruto. Bukannya mengangkat kepalanya untuk menatap pemuda yang menegurnya, Hinata malah semakin menundukkan kepalanya.

"Aku sahabatnya, Uzumaki Naruto," ujar Naruto memperkenalkan diri sebelum terjadi kesalahpahaman yang memang sudah terjadi.

"Siapa?"

"Uzumaki Naruto."

"Yang nanya?"

Naruto memasang wajah cemberut, sedangkan Hinata terkikik kecil mendengar interaksi antar keduanya.

"Tidak ada yang menyuruhmu tertawa, Nona, kau masih harus menjelaskan hal ini."

Dan di situlah awal mereka berkumpul.

Bisa dibilang, Naruto seperti cahaya kehidupan, tapi terkadang bisa berubah menjadi sumber malapetaka. Di sisi lain Naruto tidak memiliki tanda-tanda kewarasan, tapi di sisi lainnya ia merupakan orang paling bijak di antara mereka semua. Well, mungkin kebijakannya ia dapat dari ayahnya yang memang sangat bijak. Sedangkan ketidak-warasannya ia dapat dari ibunya, yang alih-alih memasukkan gula, ia dengan sengaja memasukkan garam dalam teh mereka –saat sedang berkunjung- kemudian tertawa terbahak-bahak saat mereka terbatuk-batuk.

Kembali pada Ino yang kini mencari informasi mengenai Hinata. Jujur, ia bukanlah perusak hubungan orang. Karena sebenarnya ia tidak tahu perihal hubungan Sai dan Hinata yang dirahasiakan.

Hal itu membuat Ino merasa bersalah. Ia memutuskan hubungannya dengan Sai, membuat lelaki tersebut kacau. Setelah itu, ia mencari Hinata.

Tidak sulit. Sedetik setelah ia mendapatkan Hinata, ia langsung memeluknya erat dan mengucapkan berbagai permohonan maaf dan betapa ia menyesal atas tindakannya.

Hinata menerimanya, tentu saja, mereka saling bertukar cerita, dan Ino berjanji tidak akan memberitahu siapa-siapa tentang hubungan Hinata dengan Sai. Mereka menjadi sahabat setelahnya hanya karena mereka sama-sama dikhianati oleh Sai. Mirip dengan cerita Naruto dan Kiba, membuat Hinata tertawa kecil mengingatnya.

Ino bergabung menjadi salah satu keluarga besar dalam geng Naruto.

Naruto bersikeras memberi nama geng mereka, tapi sayang nama-nama yang ia usulkan tidak masuk akal sehingga ditolak berbagai pihak. Hanya Lee yang menganggap itu semua masuk akal bersama dengan seorang lagi, Kushina, ibu Naruto, tentu saja.

Setelah lulus SMA mereka memutuskan untuk membuat sebuah rumah, khusus untuk mereka sendiri, yang sebagian besar biaya ditanggung dengan senang hati oleh Ino.

Seminggu setelah mereka tinggal bersama, barulah kepribadian-kepribadian mereka -yang selama ini mereka sembunyikan- keluar. Banyak hal aneh terjadi hari-hari berikutnya. Hal tersebut tidak membuat mereka saling membenci, tetapi malah semakin mempererat hubungan mereka.

Mereka selalu menganggap Neji-lah yang paling dewasa di antara mereka semua, terutama karena Neji lebih tua dari antara mereka semua. Tapi anggapan itu segera terpatahkan setelah melihat Neji yang pingsan, bahkan kejang-kejang, saat Hinata didiagnosis sakit demam.

Hm, sebenarnya, setengahnya merupakan salah Tsunade, sang dokter, yang menggunakan kata-kata 'diagnosa' sehingga membuat Neji sedikit overthinking dan mengira Hinata telah mendekati ajalnya.

Hal itu membuat Neji masuk rumah sakit, sedangkan Hinata yang sakit hanya menerima perawatan di rumah.

Terkadang Hiashi ragu dengan keputusan anak-anaknya. Tapi Kushina meyakinkannya bahwa mereka pasti akan saling membunuh suatu saat nanti.

Entah karena terbawa suasana Kushina atau memang Hiashi sedang mabuk –yang diyakini tidak- atau badannya sedang tidak fit, bukannya semakin meningkatkan rasa ragunya, ia malah tertawa bersama Kushina lalu bersulang.

"Ya, paling tidak mereka akan repot kalau Hinata sakit," ujar Hiashi, masih sedikit tertawa.

Kushina mengangguk kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Karena harus membayar biaya rumah sakit Neji."

Kemudian mereka tertawa lagi.

.

Gaara menatap keluar jendela.

Sejak pemuda asing –yang ia ketahui bernama Sai- muncul malam-malam di depan kamarnya, Gaara tidak bisa tidur dengan tenang. Terutama karena Hinata yang lebih banyak menghabiskan waktunya bersama pemuda itu.

Arrgghh, Gaara mengerang dalam hati, jadi ini yang namanya galau?

Gaara mengacak rambut frustasi.

Tidak, itu semua hanyalah tampangnya yang dingin. Namun hatinya lembut dan lembek. Dan tidak, dia tidak suka drama. Tidak. Gaara tidak akan menyangkal perasaannya, tidak seperti yang ada dalam drama Korea kegemaran Naruto dan Ino.

Dia tidak mau menjadikan semuanya dramatis.

Tapi...

Rasanya sulit juga mengungkapkan perasaannya.

Untuk kesekian kalinya, Gaara menginjak lantai kamarnya.

"Kenapa, sih, banyak semut!" serunya kesal.

"Semut?"

Gaara menoleh, mendapati Hinata yang sedang berdiri di ambang pintu, membuka sepatunya.

"Mana si pucat itu?" tanya Gaara dengan nada kesal. Keningnya berkerut tidak suka.

Hinata terkejut mendengar cara berbicara Gaara yang kasar.

"Di sini," jawab Sai yang dibalas dengan lemparan keras sepatu bermerek di wajahnya dan membuatnya jatuh duduk.

"Gaara-kun!"

Tidak menggubsir Hinata yang juga kesal, Gaara menendang Sai -yang masih dalam posisi duduk sambil memegang kepalanya- keluar, kemudian menutup (baca=membanting) pintu dan menguncinya.

"Kau ini kenapa?" tanya Hinata kesal.

"Kau baru bercerita padaku dua hari yang lalu. Dia menghancurkanmu, tapi kenapa kau masih mau bersamanya?" tanya Gaara geram.

Hinata terkesiap. Matanya yang tadi menatap Gaara nyalang kini menunduk takut.

Ia takut Gaara marah.

"Aku tidak marah."

Hinata bisa merilekskan otot-ototnya, yang tanpa ia sadari menegang, untuk sementara, saat mengetahui Gaara tidak marah.

"Tapi aku butuh penjelasan."

"Kalau kau mau tahu, kepalaku merah dan kau melupakan sepatu busukmu di luar!"

Gaara mendecak kesal mendengar teriakan Sai.

Ia membuka pintu, dengan cepat mengambil sepatunya tanpa memedulikan Sai sedikitpun, kemudian kembali menutup pintu lalu menguncinya.

"Penjelasan," ulang Gaara setelah meletakkan sepatunya yang –menurutnya- wangi di lantai. Mungkin Sai punya masalah penciuman, pikirnya.

"A-aku tidak tahu," jawab Hinata seadanya. Kepalanya menunduk, takut menatap Gaara yang sedang menatapnya tajam.

Ia juga bingung dengan sikapnya. Dulu ia membenci Sai, tapi sekarang setelah pemuda itu kembali menawarkan kehangatan yang sama, ia menemukan dirinya mengikuti pemuda itu pergi kemana saja. Seharusnya ia menolak, sebelum jatuh ke jurang yang sama.

Tapi, apa daya? Cinta pertama memang sulit dilupakan.

"Hinata," panggil Gaara.

Hinata mengangkat kepalanya takut-takut.

"Kau masih mencintainya?"

"Tidak!" sergah Hinata cepat.

Gaara mengernyitkan dahi.

"Aku masih... menyayanginya."

Ya, itu kata yang tepat.

Gaara mendengus mendengar jawaban Hinata.

"Dengar. Aku peduli padamu, dan aku akan memberitahumu apa yang Mama Kushina katakan pada Sakura: Laki-laki di dunia ini tidak hanya satu. Dan kau tidak boleh terjebak pada satu lelaki saja, terutama saat ia pernah membuatmu patah hati."

Hinata pernah mendengarnya dari Naruto.

"Bagaimana kau bisa tahu apa yang dikatakan Mama Kushina ke Sakura?"

"Hm, kami bertiga berambut merah -walau Sakura pink, tapi sudah masuk kategori. Jadi, kami sering berkumpul bertiga, sesama rambut merah, kau tahu?"

Hinata mengangguk-angguk mendengar penjelasan Gaara.

"Kembali ke masalahmu. Kau mengerti 'kan sekarang?" tanya Gaara memastikan.

Hinata mengangguk.

Gaara membalasnya dengan anggukan singkat. Berjalan ke sofa untuk memakai sepatunya, kemudian bersiap-siap untuk keluar kamar.

"Mau kemana?" tanya Hinata.

"Mencari udara segar. Lagian masih sore. Aku akan kembali sebelum tengah malam," jawab Gaara lalu membuka pintu dan menemukan Sai masih berdiri di depan pintu.

"Setia sekali," Gaara berkomentar sebelum berlalu meninggalkan Sai bersama Hinata. Mata Sai dengan setia mengikuti pergerakan Gaara.

"Um, Sai?" Hinata memanggil dengan ragu.

Sai menoleh.

"Ya?"

"Kurasa kau boleh pergi, aku sedang ingin sendiri," ujar Hinata lalu dengan segera menutup dan mengunci pintu kamarnya.

Sai menggeram kesal.

Ini ketiga kalinya dalam sehari ia dikuncikan.

.

.

.

Anak kecil itu bermain dengan riang. Langkahnya sudah cukup mantap, tidak tertatih-tatih lagi, menunjukkan hasil kerja kerasnya selama ini dalam berlatih. Ia tersenyum manis ke arah ibunya yang sedang membisikkan sesuatu, entah tentang apa, tapi tak lama anak itu tergelak, mengeluarkan suaranya yang lucu, khas anak balita.

Gaara menatap anak kecil itu. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri, kenapa ia harus selalu bertemu dengan anak ini. Anak yang menginjak kakinya sekitar dua minggu lalu di Kremlin. Gaara pernah berpikir beberapa kali, mungkin ini takdir. Tapi kemudian ia menggeleng kecil.

Ibunya menggendongnya naik, memutarnya, membuat topi hangatnya terbang karena angin. Anak itu masih tertawa, rambut cokelatnya -yang baru pertama kali dilihat Gaara- bergoyang menurut arah angin berembus. Pipinya memerah karena kedinginan.

Gaara beranjak dari kursinya, berjalan menuju tempat topi anak itu berada, lalu memungutnya. Sedikit memebersihkannya dari kotoran yang menempel, kemudian melangkah menuju sang anak dan ibu.

"Ah, kau menemukan topinya," kata ibu tersebut, menampilkan senyum terimakasih pada Gaara.

Gaara sedikit terkejut. "Anda dari Jepang?" tanya Gaara kaku, karena belum pernah se-formal itu. Ia menyodorkan topi hangat berwarna merah milik anak tersebut, yang baru ia ketahui bergender perempuan.

"Namaku Yakumo, dan ya, aku dari Jepang," jawabnya sambil mengambil topi tersebut dari tangan Gaara. "Ini Matsuri," ia memasangkan kembali topi tersebut pada anaknya yang berusaha menyembunyikan diri dari Gaara dengan merapat padanya. "Dia masih pemalu pada orang-orang baru, tapi sebenarnya dia anak yang ceria."

Ucapan Yakumo tentang 'ceria' membuat Gaara teringat pada Naruto.

Gaara berjongkok untuk menatap gadis itu lebih jelas. "Suami anda orang Rusia?" tanya Gaara, berusaha tetap formal.

Wanita itu terkekeh mendengar jawaban Gaara yang sangat tepat. "Aku sering melihatmu, kita sering bertemu ya?" Ia tersenyum ke arah Gaara yang kini sudah kembali berdiri.

Gaara mengangguk sebagai balasan.

"Matsuri sedikit tertarik pada rambut merahmu dan –oh kau tidak punya alis?" tanya Yakumo yang tidak menyembunyikan keterkejutannya sama sekali.

Gaara tersenyum miring. "Ya, begitulah," ujarnya membenarkan.

Belum sempat suasana canggung menyelimuti, Yakumo kembali membuka suara, "Aku akan segera kembali, aku ingin mengambil sesuatu. Aku titip Matsuri." Yakumo lalu berjalan menjauh, menuju bangku taman, meninggalkan Gaara dan Matsuri sendirian.

Gaara menatap Matsuri yang juga sedang menatapnya, atau rambutnya. Ia mendongakkan kepalanya, membuat topinya sedikit bergeser ke belakang.

"Kau berutang maaf padaku," ujar Gaara, masih menatap Matsuri.

Ia lalu mengembuskan nafas setelah melihat senyum manis yang Matsuri tujukan padanya.

Gaara lalu meletakkan tangan kanannya di puncak kepala Matsuri, seperti mengurapinya, kemudian berkata, "Aku memaafkanmu."

"Hey, apa yang terjadi?" tanya Yakumo yang bingung melihat pengurapan tiba-tiba di hadapannya.

Gaara langsung menarik tangannya dan menjawab kikuk, "Tidak ada."

Yakumo mengangguk. "Aku tadi mengambil ponselku, aku tidak biasa meninggalkannya, aku takut nanti suamiku menelpon," ujarnya tanpa ditanya. Ia menggandeng tangan Matsuri, membimbingnya ke arah bangku taman, tempatnya mengambil ponsel.

"Oh, sangat setia," komentar Gaara, mengikuti Yakumo menuju bangku taman. Ia sempat teringat pada Sai.

Yakumo tersenyum. "Aku, hm, entah harus bilang apa," ia mendudukkan dirinya di bangku tersebut lalu memangku anaknya dan mengisyaratkan Gaara agar duduk di sampingnya yang langsung dituruti Gaara.

"Pertemuan kami tidak terlalu menyenangkan. Aku sempat tidak menyukainya, tapi rasa tidak sukaku tumbuh menjadi cinta. Lalu aku sempat berpikir akan patah hati, saat ia dekat dengan perempuan lain," lanjutnya.

Sama sepertiku,pikir Gaara.

Yakumo mengambil sebuah kotak makan berisi kue kering lalu menawarkannya pada Gaara yang menolak dengan sopan. Matsuri lalu mengambil salah satu kue kering tersebut dan memakannya dengan lahap, membuat Yakumo tersenyum, tapi sedikit menceramahi Matsuri karena tidak sopan.

Gaara yang penasaran dengan kelajutan ceritanya bertanya tidak sabar, "Setelah itu apa yang terjadi?"

"Oh, um, sampai di mana tadi... Ah! Dia dekat perempuan lain. Tapi sebenarnya, dia juga memiliki perasaan yang sama terhadapku, namun ragu untuk menunjukkannya dan mengakuinya, karena aku sendiri tidak menunjukkan tanda-tanda ketertarikan padanya."

"Kenapa?"

"Kenapa?" ulang Yakumo. "Karena, perempuan lebih sering menyangkal perasaannya, cenderung bersikap skeptis. Aku tidak tahu kenapa. Tapi sebagai seorang perempuan, aku rasa karena ego. Kami mau para lelaki yang bertindak duluan," ia mengedipkan sebelah matanya pada Gaara yang membuat Gaara mengeryit bingung.

"Aku tahu kau sedang galau," ujarnya menjawab rasa bingung Gaara. "Aku sempat melihatmu bengong tadi, jadi kupikir, tidak ada salahnya memberitahumu tentang masa laluku."

Kue kering yang dimakan Matsuri sudah habis. Ia menguap, bosan mendengar cerita ibunya yang tidak ia mengerti. Yakumo memberinya minum sebelum membawa Matsuri dalam dekapannya.

Gaara hanya diam memikirkan cerita Yakumo.

Mungkin Hinata ragu.

Tapi ia lalu menepis pikiran itu.

"Ia berkata masih mencintainya."

Yakumo menoleh, kaget dengan ucpan Gaara yang tiba-tiba. Tapi kemudian ia tersenyum setelah mengetahui apa yang Gaara bicarakan.

"Mantannya?" tebak Yakumo yang dibalas anggukan Gaara.

"Hm, cinta pertama?" tebak Yakumo lagi yang dibalas Gaara dengan tatapan sendu, seolah kecewa ia bukanlah cinta pertama Hinata.

Yakumo menyadarinya.

"Cinta pertama itu sulit untuk dilupakan. Percayalah, aku tahu. Yang perlu kau lakukan hanyalah berusaha lebih keras. Kau harus berusaha meyakinkannya bahwa kau lebih baik dari yang pertama," Yukata menatap wajah damai Matsuri yang sedang terlelap. "Pertama, singkirkan dulu egomu," tambahnya.

"Kedua?"

Yakumo kembali menatap Gaara. "Tidak ada langkah kedua. Kalau egomu sudah kau buang jauh-jauh, kau akan bertindak secara spontan, menurut hatimu."

Gaara mendesah. "Aku tidak yakin."

Dia tidak yakin bisa menyingkirkan egonya. Itu bukanlah perkara yang mudah.

Yakumo tertawa. "Jangan begitu. Stay optimis!" serunya, berusaha menyemangati Gaara.

Mungkin Yakumo benar. Ia harus berusaha lebih keras lagi.

.

Gaara membuka pintu kamar hotel dan mendapati Hinata sedang berbaring di sofa sambil menonton TV dan memeluk bantal.

"Mana si pucat itu?" tanya Gaara.

Hinata segera bangkit dari tidurnya setelah menyadari kehadiran Gaara.

"Dia pulang," jawab Hinata.

"Aku pikir kalian akan tidur bersama," sindir Gaara sembari melepas sepatunya kemudian menyimpannya di samping tempat tidur.

Hinata cemberut mendengar sindiran Gaara. "Aku mengusirnya."

"Oh ya?" Gaara berjalan menuju sofa, memutuskan untuk bergabung bersama Hinata.

Hinata mengangguk.

"Kau menendangnya?"

"Tentu tidak."

Gaara mengacak-acak rambut Hinata yang sedang cemberut.

"Jangan mendekatinya, sayang, aku tidak mau bayi kita sepucat dia," goda Gaara.

Hinata langsung membenamkan wajahnya yang merah padam di bantal dan menggumamkan berbagai umpatan pada Gaara, membuat Gaara tertawa kecil.

"Aku tidak mau kau dekat dengannya lagi."

Hinata mengangkat kepalanya saat mendengar suara Gaara yang serius.

"Aku tidak suka."

"Kau... cemburu?" tanya Hinata ragu.

Gaara terdiam. Jadi selama ini dia cemburu?

"Tidak," sangkal Gaara. "Sebagai sahabat yang baik, aku hanya ingin menjagamu."

Hinata mengernyit tidak suka –yang bahkan tidak disadarinya- saat tahu Gaara hanya menganggapnya sahabat. Tapi, Gaara menyadari hal itu dan tersenyum tipis.

"Kenapa? Kau tidak suka?"

Hinata membelalak, heran kenapa Gaara seolah bisa membaca pikirannya.

"Aku tahu dari ekspresimu."

Hinata kembali menunduk malu, menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.

"Ayo tidur," ajak Gaara, "aku tidak mau bayiku kenapa-napa hanya karena mamanya suka tidur malam."

"Aku tidak hamil," gumam Hinata geram.

Hinata memekik saat merasakan Gaara tiba-tiba mengangkatnya ke tempat tidur. Maksudnya, mereka kini terlihat seperti sepasang kekasih, dan Hinata malu mengakui bahwa ia mengharapkan hal itu, suatu saat, akan menjadi kenyataan.

"Tidur," perintah Gaara.

"Kau aneh," komentar Hinata.

Gaara menghentikan gerakannya yang baru saja mau membaringkan tubuhnya di tempat tidur.

Ia menoleh ke arah Hinata kemudian bertanya, "Masa?"

"Iya."

"Masa bodoh."

Hinata melempar bantal ke arah Gaara yang berhasil dihindarinya.

Sejenak, Hinata melupakan sikap Gaara yang tiba-tiba romantis tadi.

Gaara mematikan TV dan lampu, kemudian mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.

"Sai mengajakku makan malam besok," ujar Hinata tiba-tiba. Ia memutar tubuhnya, sehingga ia kini berbaring menyamping, menghadap Gaara.

Gaara yang tadi sudah menutup matanya, kini dengan berat membukanya kembali.

"Tidak boleh."

"Tapi-"

"No."

Hinata mendesah.

"Kenapa kau mau makan malam dengannya?"

"Aku hanya mau."

"Kau sudah dua hari jalan dengannya dan meninggalkanku sendiri di hotel."

Hinata terkejut mendengar perkataan Gaara. Ia jadi merasa bersalah.

"Maaf, aku lupa."

"Hn."

Gaara berbalik membelakangi Hinata.

"Asal aku ikut, aku tidak akan menghubungi Neji."

Hinata berbinar. "Benarkah?"

"Asal aku ikut," ulang Gaara.

"Um, dia bilang-"

Gaara segera mengambil ponselnya di nakas lalu mencoba menghubungi seseorang.

"Baiklah, baiklah," ujar Hinata panik saat tahu Gaara akan menelpon Neji.

Gaara meletakkan kembali ponselnya di nakas, kemudian berbaring menghadap Hinata.

"Kenapa kau tidak pergi saja darinya?" tanya Gaara.

Hinata menatap seprei, berusaha menghindari kontak mata dengan Gaara.

"Aku tidak tahu, tiba-tiba aku menyayanginya kembali," jawab Hinata.

Dalam keremangan, Gaara dapat melihat wajah Hinata yang sedih.

"Aku tidak suka dia. Terumata setelah mendengar ceritamu. Dan yang lebih terutama, dia bilang sepatuku busuk."

Hinata tersenyum mendengar ucapan Gaara.

"Dan juga, harusnya kau merencanakan semacam balas dendam untuknya," tambah Gaara.

Hinata membalas tatapan Gaara. "Balas dendam?"

Gaara mengendikkan bahu. "Berusaha membuatnya cemburu mungkin ide yang bagus."

"Tapi-"

"Berhentilah menyayanginya."

"Tidak semudah itu!"

"Mudah, kalau kau mau mengingatkan dirimu bahwa dia pernah selingkuh dengan Ino, yang sekarang telah menjadi sahabat kita."

"Kita harus melupakan kesalahan di masa lalu."

"Tidak, kita harus belajar dari kesalahan di masa lalu."

Hinata terdiam mendengar perkataan Gaara yang sangat mirip dengan perkataan ibunya sewaktu ia masih kecil.

"Tapi, bukankah kita harus membalas kejahatan dengan kebaikan?"

Gaara mendengus kesal.

"Dia itu kesalahanmu di masa lalu. Beri dia pelajaran sedikit supaya dia sadar bahwa kau tidak bisa dipermainkan begitu saja. Dan kau bilang harus membalasnya dengan kebaikan? Tidak Hinata, kau tidak membalasnya dengan kebaikan. Kau justru membuatnya semakin jahat," ujar Gaara.

"Kenapa begitu?"

Kali ini Gaara mengacak rambut frustasi. Ia lupa bahwa Hinata ini lemot.

Gaara menarik napas, berusaha menenangkan diri,

"Hinata," panggilnya lembut kemudian berujar dengan nada pasrah, "kau lemot sekali."

Hinata mendecak kesal. "Aku serius."

"Makanya jangan lemot."

"Aku serius, Gaara-chan!"

"Berhenti memanggilku dengan chan-chan mu."

"Sinchan?"

Gaara memutuskan untuk menutup mata. Ia bisa merasakan percakapan tidak tentu arah ini menguras emosinya yang sudah terkuras dua hari ini.

"Sudah malam, ayo tidur."

"Tapi kau harus jelaskan."

Gaara terdiam sebelum akhirnya membuka suara dan menjelaskan semua yang ingin Hinata ketahui. Lalu ia juga menjelaskan tentang rencana mata bulannya yang membuat dirinya ditampar Hinata karena perkataannya yang tidak masuk akal. Gaara lalu kembali ke mode serius dan menjelaskan tentang rencananya untuk balas dendam pada Sai, yang kemudian dikoreksi Hinata sebagai 'memberi pelajaran' bukan 'balas dendam'.

Penjelasan dan perdebatan tersebut begitu panjang sehingga mengharuskan Gaara untuk meneguk segelas air sebelum tidur. Hinata masih mencecarnya dengan berbagai pertanyaan saat ia sudah menutup matanya dan menjawab apa adanya, karena kantuk yang sudah menyerang.

Setelah gadis tersebut terdiam cukup lama, Gaara kembali membuka matanya dan melihat Hinata sudah terlelap. Gaara menatap wajah Hinata cukup lama sebelum mengecup keningnya dan membawanya dalam dekapannya.

TBC

Hola…! Hehe, maaf lambat update :D

Sebenarnya udah selesai, tapi masih ragu dikit di beberapa adegan, dan juga waktu itu lagi fokus di TB #alasan

Chapter depan mungkin agak gila-gilaan karena rencananya memang dua minggu sebelum mereka pulang ada bnyak kejadian mengejutkan. Jadi, yaah, begitulah… #ditampar

That Boobs mungkin diupdate Oktober nanti (klupun ada yg nunggu) Mungkin lho, masih mungkin. Soalnya author bingung di chapter empat. Tapi pasti diupdate, kok, soalnya fic itu udh lama bersarang di otak xD

Dan… Kalian sudah lihat? LAWLESS UPADATE! YAY! Rasanya fic sy tdk ad apa-apanya dibandingkan Lawless milik shionrinsan. Waktu dapat pemberitahuannya dig mail, sy nangis sampai histeris sm sahabat sy, hahaha xD Yg Lawlish angkat tangan yaaa! *angkat tangan paling tinggi*

Oke sekian dulu dari saya, tugas menumpuk masih menunggu untuk diselesaikan, hehe…

Special thanks to:

bebek kuning, Yuki Kanashii, Mell Hinaga Kuran, NiNes, virgo24, Riya-Hime, Yuko, Yumiko, nabila. nurmalasari1, blackeyes947, Gevannysepta, RoseeAnn, aila Ryz

See you in next chapter!

Love, Curly.