Sorry untuk EYD-nya and typos. Hope you like it. I know it's quite long. Please read and review.
PLAK
"Aww, Mommy," Ginny bisa mendengar Ara berseru kecil.
Tangan Ginny melayang ke pipi Draco. Tamparan itu semacam reaksi otomatis, gerak refleks ketika seseorang yang tidak disukai Ginny menciumnya. Dan Ginny tidak merasa sedikitpun rasa bersalah karena sudahh menampar Malfoy. Tapi, mungkin ia akan merasa bersalah melakukan hal ini didepan Sebastian dan Ara, anak-anaknya. Dan mungkin, ia akan lebih merasa bersalah lagi ketika tindakankan ini bisa saja membuat Malfoy curiga.
"Untuk apa itu, Ginny?" seru Malfoy sambil mengelus pipinya, pandangannya jelas-jelas kesal. Tapi, Ginny tidak bisa menemukan pancaran kemarahan di matanya. Dan Ginny merasa ingin tersenyum.
"Tidak ada, suamiku," ujar Ginny sambil tersenyum lebar. Ini tidak akan membuat Malfoy curiga."Hanya ingin saja, ingin tahu reaksimu" Ginny mengangkat bahu kemudian beralih ke Sebastian dan Ara,"jangan tiru itu, anak-anak,"
"Ya, benar," Malfoy masih mengelus pipinya, terlihat kesal,"jangan menjadi terlalu ingin tahu, Gin. Aku bisa gepeng jika kau kau tampari seperti itu terus,"
Sebastian dan Ara tertawa mendengar ini,"Daddy, kau nggak akan gepeng," ujar Ara.
"Daddy nggak bisa memastikan, Ciara. Ibumu bisa saja membuat Daddy gepeng. Dia kuat sekali. Lihat, seperti Hercules," kilauan kejengkelan di mata Malfoy sudah menghilang sekarang, digantikan dengan kerlipan nakal. Ginny menyipitkan matanya kearah Malfoy, kenapa sekarang jadi ia yang kesal?
"Well, sebelum ibu kalian jadi marah besar sebaiknya Daddy pergi dulu," kemudian secepat kilat, Malfoy menunduk dan mencium pipi Ginny. Sebelum Ginny bisa bereaksi, Malfoy sudah menghilang dengan bunyi pop.
Ginny berdiri disana, tercengang. Tangannya tanpa sadar menyentuh titik dimana bibir Malfoy tadi menyentuhnya. Dia merasa sesuatu yang hangat menyebar ke pipinya. Tidak. Kenapa mungkin rupanya menjadi merah. Tidak.
Ara tertawa kecil melihat ibunya sementara Sebastian hanya memutar bola matanya.
"Pop!"
Bunyi itu membuat Ginny melompat seketika. Ginny melihat ke sekelilingnya dan melihat seorang peri rumah berdiri didepanya.
"Winky minta maaf karena mengagetkan Mistress Ginny," ujar Winky,"Winky tidak tahu kalau Mistress Ginny dan Master Sebastian sudah pulang. Winky sedang sibuk di dapur. Makan siang sudah siap,"
"Wing...Wingky?" tanya Ginny. Dia punya seorang peri rumah. Dan peri rumahnya adalah Winky. Tentu saja Ginny mengenali Winky dari masa sekolahnya di Hogwarts.
"Iya, Mistress," Winky mendongak menatap Ginny penuh pertanyaan dengan mata besarnya itu.
"Kau tak usah minta maaf, Winky," ujar Ara.
"Winky berterima kasih atas kebaikan Miss Ara," ujar Winky sambil tersenyum,"Apakah Master Sebastian butuh bantuan dengan kopernya?"
Sebastian menoleh,"Tidak usah Winky. Aku akan bawa sendiri," ia menepuk-nepuk perutnya perlahan,"aku sudah kelaparan. Lebih baik aku ke kamar dulu dan menaruh koperku,"
"Ayo Mommy," Ara meraih tangan Ginny dan menariknya,"aku sudah lapar,"
Ginny membuka jubahnya, ia ternyata mengenakan kemeja kotak-kotak dengan celana jeans. Ginny membiarkan gadis kecil didepannya itu menuntunnya. Dia benar-benar tidak tahu arah. Ia bisa mencium bau makanan yang sedap sekali. Dan benar saja, hanya beberapa langkah kemudian mereka berada didepan meja besar penuh dengan makanan diatasnya. Ara meraih menarik kursi dan duduk. Ginny duduk diseberangnya.
"Kenapa Mommy duduk disini?" tanya Ara keheranan.
Ginny mengigit bibir bawahnya. Takut jika ia sudah membuat kesalahan dan membuat gadis kecil itu curiga."Memangnya kenapa, sayang?" tanya Ginny sambil memaksakan sebuah senyum.
"Kalau Daddy tidak ada. Mommy kan biasa duduk diujung meja," jawab Ara,"itu kan tempat Sebastian,
"Oh, ya," ujar Ginny,"Mmm...Mommy lupa," dengan itu Ginny berdiri dan duduk diujung meja. Ginny mengubur wajahnya didalam tangannya. Dia benar-benar tidak tahu kehidupannya di tahun ini. Bagaimana jika ia selalu berbuat kesalahan dan keanehan hingga membuat orang lain curiga.
"Winky," ujar seseorang. Ginny mendongak dan melihat Sebastian sudah berada didepannya. Mengambil tempat di kursi yang tadi diduduki Ginny. Sebastian tengah berbicara dengan Winky yang berdiri disampingnya."Ikutlah makan dengan kami,Winky,"
"Tidak usah, Master Sebastian," Winky menolak.
Sebastian mengangkat Winky dan mendudukkannya di kursi didekatnya seperti anak kecil."Aku memaksa, Winky,"
Ginny tersenyum memandang ini. Ia merasa...bangga? kenapa ia merasa bangga? Mungkin karena anak lelaki didepan ini adalah puteranya. Memikirkan Sebastian sebagai puteranya saja sudah membuat Ginny merasa mual. Tentu saja, seorang ibu pasti beruntung jika memiliki Sebastian sebagai puteranya. Sebastian tampaknya adalah seorang anak lelaki yang manis dan baik. ia memperlakukan peri rumah dengan lembut dan tidak kasar. Hermione pasti senang sekali.
"Kenapa Mommy tidak makan?" tanya Ara. Ginny hanya tersenyum kepada gadis kecil itu dan mulai mengambil makanannya. Ginny berharap Malfoy tidak pulang hari ini. Bagaimana jika ia harus tidur sekamar dengan Malfoy? Bayangan itu membuat Ginny jijik. Apa yang harus ia lakukan hari ini? Ah, mungkin berkeliling seisi rumah atau mencari album-album foto. Mencari tahu apa yang sudah ia lewatkan.
"Mommy, ayo kita main Quidditch Snap," ajak Ara ketika mereka selesai makan siang.
Ginny bahkan tak mengenali nama permainan itu. dan ia tidak tega menolak permintaannya. tapi, ia sudah punya rencana."Maaf, sayang," ujar Ginny, berusaha setenanang mungkin dan memakai nada yang biasa digunakan para ibu,"Tapi kepala Mommy sakit. Mommy istirahat sebentar. Kenapa kau tidak main dengan kakakmu,"
"Iya, Ara. Aku bersedia kok," ujar Sebastian sambil tersenyum nakal.
"Tapi dia suka curang, Mom" seru Ara sambil mencebik ke arah kakaknya.
"Beritahu Mommy kalau dia curang dan Mommy akan beri dia apa yang seharusnya pencurang dapatkan, oke?" Ginny melihat ke arah Ara. Gadis cilik itu terlihat enggan tapi ia mengangguk. ginny tersenyum dan beranjak berdiri.
"Lari, Ciara!" teriak Sebastian tiba-tiba, membuat Ginny hampir saja mendapatkan serangan jantungnya yang kedua,"atau monster Sebastian akan memakanmu. Grauuu..." Sebastian mengaum dan berakting seperti monster.
"Aaah..." Ara berteriak dan berlari dari ruang makan. Sementara Sebastian mengejarnya sambil mengaum.
Ginny lagi-lagi tersenyum. Ia melihat bahwa selain menikahi Malfoy tampaknya hidupnya cukup bagus. Dia mempunyai dua orang anak dimasa depan. Dua orang anak yang sangat sempurna. Ia tidak bisa berharap lebih. Sekarang, dimana ia harus memulai? Kamarnya, tentu saja.
Tunggu, tapi dimana kamarnya?
"Winky," panggil Ginny. Winky muncul didepannya dengan bunyi pop.
"Ada apa Mistress Ginny?" tanya Winky.
"Uh...ummm..." Ginny tidak tahu bagaimana harus mengatakannya, ia takut jika peri itu menjadi curiga. Tapi, peri rumah ini adalah peri rumahnya. Ginny bisa memintanya menjaga rahasia. Tapi ia juga peri rumah Malfoy. Astaga, kenapa harus sesulit ini sih?
"Tidak ada, Winky" akhirnya Ginny berkata. Ia memutuskan bahwa meminta pertolongan Winky terlalu berisiko. Ia tidak tahu seberapa setianya peri rumah itu padanya."Kau boleh pergi sekarang,"
Winky menangguk dan sekali lagi menghilang. Ginny mendesah dan mulai berjalan. Bersyukur sekali ketika ia akhirnya menemui sebuah tangga disamping dapur. Dari atas tangga Ginny bisa mendengar Ara dan Sebastian berteriak.
"Kau curang!" teriak Ara.
"Ara, aku tidak curang, lihat ini!" sahut Sebastian,"astaga! Kita bahkan baru mulai,"
Ginny sudah mencapai lantai dua. Langit-langit lantai dua disihir, sama persis dengan lantai satu. Salju-salju yang menghilang sebelum menyentuh kepala Ginny. Lantai dua terdiri dari koridor dengan pintu-pintu di kanan dan kirinya. Ginny membuka setiap pintu yang ia lewati. Dipintu pertama yang ia buka, ternyata itu adalah kamar mandi. Di pintu kedua ia menemukan sebuah ruangan penuh berisi buku. Sebuah perpustakaan mini. Ginny menahan keinginannya untuk masuk kedalam. Tidak. Ia mengingatkan dirinya sendiri. Ia harus menemukan kamarnya dulu. Ia bisa kembali ke sini lain waktu.
Di pintu ketiga, ia akhirnya menemukan sebuah kamar tidur. Tapi, itu bukan kamarnya, tentu saja. Berbagai macam boneka bertumpuk dilantai. Dari yang besar hingga kecil. Dindingnya dicat putih dengan nama CIARA tertulis dimana-mana. Nama itu berpendar-pendar keperakan. Langit-langit kamarnya adalah langit sore yang indah. Ini pasti kamar Ara. Ginny perlahan menutup pintu kamar. Dan beralih ke pintu ke empat.
Pintu keempat adalah kamar tidur Sebastian. Kamar Sebastian berwarna biru tua. Warna itu terlihat kelam karena langit-langitnya disihir menjadi malam. Itu bukan malam. Tapi itu adalah gambar ruang angkasa. Dengan matahari dan delapan planet yang mengelilinginya. Planet-planet itu berputar, berotasi dan berevolusi. Bintang-bintang terlihat berkerlap-kerlip dikejauhan. Dan Ginny juga bisa melihat komet serta meteor-meteor. Perlahan Ginny kembali menutup pintu kamar itu. dia tahu seorang remaja paling tidak suka jika ada orang yang memasuki kamarnya tanpa izin.
Di pintu kelima, Ginny menemukan sebuah ruangan dengan satu rak besar, satu meja besar dan beberapa kursi. Ini pasti ruang kerja Malfoy. Ginny langsung menutupnya. Akhirnya di pintu terakhir, ia bisa menemukan ruangan yang tampaknya adalah kamar tidurnya. Langit-langit kamarnya tidak disihir. Sebuah ranjang besar king size berdiri ditengah ruangan. Terlihat sangat nyaman. Ginny berbaring perlahan diranjang itu dan mendesah. Di meja sebelahnya Ginny melihat sebuah frame foto. Ginny mengambilnya dan mengamatinya sekilas. Itu adalah sebuah foto sihir yang bisa bergerak, tapi berwarna. Dunia sihir pasti semakin maju selama sembilan belas tahun belakangan. Foto itu berisi mereka berempat. Malfoy, Ginny, Sebastian dan Ara. Keempatnya sambil berpelukan dan tersenyum lebar ke arah kamera. Mereka tampaknya terlihat sangat bahagia.
Ginny berdiri, mengembalikan frame itu dan berjalan menuju lemarinya. Ginny membukanya perlahan dan terkejut dengan apa yang dilihatnya. Lemari itu ternyata sebuah kamar kecil. Ginny masuk kedalam dan menemukan pakaian-pakaian yang hanya bisa dilihatnya dalam mimpi. Pakaian-pakaian bagus dan mahal. Ginny meraba salah satu gaunnya yang berwarna violet. Diseberangnya ada puluhan baju pria. Sebagian besar jas dan kemeja. Dan didepannya ada sebuah cermin. Ginny bisa melihat dirinya sendiri sekarang. dan terkejut dengan perubahannya. Rambut merahnya dipotong hingga sebahu, Ginny tidak menyadari itu sebelumnya. Berombak ringan. Wajahnya, tentu saja menua, tapi wajahnya juga semakin dewasa. Ia tidak tampak tua sama sekali. Ia hanya tampak semakin dewasa. Dan garis-garis wajahnya semakin jelas. Ginny, menyadari dirinya bahwa ia telah berubah. Dan perubahan itu tidak ia sesali. Ginny tersenyum melihat refleksinya dikaca. Setelah puas, ia keluar dari ruangan kecil itu. dan matanya akhirnya menangkap sebuah pintu kaca disampingnya.
Ginny membuka pintu itu, dan ia terpana dengan apa yang ia lihat. Pintu kaca itu adalah pintu menuju balkon. Didepannya terhampar sebuah padang rumput luas, walaupun sekarang padang rumput tersebut tertutup salju. Tapi, Ginny bisa membayangkannya. Ketika musim berganti menjadi musim semi. Rumput-rumput hijau dengan angin sepoi-sepoi. Ginny tidak tahu dimana ini. Ia tidak tahu dimana ia tinggal. Tapi, ia menyukainya.
Ginny menutup pintu itu karena dingin yang menusuk. Kemudian ia teringat sesuatu. Tongkatnya! Tongkat sihirnya! Begitu banyak yang ia alami dalam satu hari sehingga ia lupa sama sekali dengan tongkatnya.
"Accio tongkat," serunya dan ia merasakan sesuatu terbang dari saku celana jeansnya. Bagaimana ia tidak menyadarinya? Ia pasti sudah memakai semacam manta pengecil atau pengelastis.
Tongkatnya. Ginny memegang tongkat itu dengan penuh syukur. Senang dengan beban familiar itu. sekarang yang harus ia lakukan adalah mencari album-album foto itu."Accio album foto," serunya lagi dan berbuku-buku album foto melesat dari rak dikamar itu. ginny hampir saja menjatuhkannya karena beratnya. Tapi, akhirnya Ginny berhasil melemparkannya ke ranjang.
Ginny membuka salah satu album itu. di halaman pertama, ia menemukan fotonya dan Malfoy. Ah, Ginny merasa mual melihatnya. buru-buru ia membalikkannya. Tapi, sayangnya halaman-halaman berikutnya pun adalah fotonya dengan Malfoy. Karena putus asa, Ginny akhirnya langsung menutup foto itu ditengah-tengah. Dan beralih ke album yang lain. Di halaman pertama dia lagi-lagi menemukan dirinya berfoto bersama Malfoy. Tapi, yang membuat Ginny tidak segera membalikannya adalah seorang bayi kecil dipelukan Ginny. Ia masih tampak muda di foto itu dan ia memakai pakaian rumah sakit. Ini pasti Sebastian sewaktu masih bayi. Halaman-halaman berikutnya hampir semuanya berisi Sebastian. Saat ia berusia satu tahun. Bayi Sebastian tengah berjalan kemudian ia terjatuh, tapi ia tidak menangis, malahan Sebastian kecil balik berdiri lagi. Sebastian ketika berusia dua tahun, menaiki sapu terbang mini. Sebastian ketika berusia tiga tahun, diulang tahunnya yang ketiga. Ginny mencium pipi kanan anak lelaki itu. kemudian beberapa foto lain Sebastian bersama Malfoy, seluruh keluarga Weasley, beberapa orang yang tidak dikenal Ginny. Dan beberapa foto yang menampakkan empat orang anak kecil. Sebastian, Aurora dan seorang anak lelaki dan perempuan yang tidak dikenalnya. Tampaknya mereka sahabat dekat. Kemudian ketika Sebastian kecil menggendong adiknya, Ara, yang masih bayi didalam pelukannya. Sebastian adalah anak yang sangat manis dan tampan sejak kecil. Ginny tidak bisa berhenti mengagumi struktur fisiknya. Rambut pirangnya yang terbang ketika ia terbang, matanya yang bersinar. Ia merasakan rasa sayang yang aneh kepada anak itu.
Di album selanjutnya ada foto Ginny memakai gaun putih dan Malfoy yang memakai jubah panjang dan mereka berciuman didepan seorang pendeta. Astaga! Ini adalah foto-foto pernikahan mereka. Ginny ingin menutup album itu, tapi ia merasa sangat penasaran. Sejak ia masih gadis berusia sebelas tahun, ia sudah mempunyai angan-angan bagaimana pernikahannya nanti. Ketika masih berusia dua belas tahun. Lelaki yang ia bayangkan akan menikahinya adalah Harry. dan bayangan itu tetap ada hingga ia berusia enam belas tahun. Ia tidak pernah mengira bahwa ia bisa menikahi Malfoy.
Tapi, disana, ia melihat dirinya dan Draco berdiri didepan altar. Bertukar janji masing-masing. Ginny melepaskan desahan nafas sedih ketika ia melihat Harry diantara foto-foto itu. harry tidak tewas. Harry berada disana, bersamanya. Dan ia tersenyum. Seorang anak lelaki dalam pelukannya. Ginny mengenali anak lelaki itu sebagai anak lelaki yang berfoto bersama Sebastian. Dan dihalaman berikutnya, ia melihat dirinya sendiri masih dalam gaun pengantinnya. Didepannya ada sebuah kue pernikahan besar. Draco menggendong Sebastian kecil yang memegang pisau plastik. Sebastian meraih kue itu dengan tidak sabar. Draco dan Ginny tertawa.
Tunggu, apakah Sebastian ada dihari pernikahannya?
Itu berarti Sebastian lahir sebelum mereka menikah. Astaga! Ia memiliki anak diluar nikah. Ini jelas diluar rencananya, kan?
Ginny tiba-tiba merasa pusing. Ia menutup album fotonya. Dan berbaring di ranjang. Menutup matanya sesaat.
Ginny mendengar suara-suara. Perlahan Ginny membuka matanya dan melihat seekor burung hantu yang beruhu-uhu didepan pintu kaca. Ginny bangkit berdiri dan membuka pintu tersebut. Merasakan hawa dingin yang menusuk tulangnya.
Burung hantu berwarna coklat itu membawa sebuah surat kecil. Ginny mengambilnya dan burung hantu itu langsung melesat pergi.
Ginny
Aku tidak bisa pulang malam ini. Katakan pada anak-anak aku menyayangi mereka. Aku mencintaimu juga.
Draco
Ginny melepaskan desah nafas lega. Draco tidak pulang hari ini. Ginny memperhatikan langit yang berubah kemerahan. Apa ia tadi tertidur?
Ginny mencari-cari jam dikamarnya, akhirnya ia menemukan sebuah jam dipasang didinding, diatas ranjangnya. Jelas-jelas ia telah ketiduran. Ginny ingin sekali mandi. Ginny mengambil setelan pakaian. Jeans dan kaos. Mencari-cari handuk sebentar. Melakukan mantra pemanggil untuk mencari peralatan-peralatan mandinya. Setelah lengkap, Ginny keluar kamar. Ia langsung buru-buru mengguyur dirinya dengan air hangat.
Ginny baru membuka pintunya ketika ia melihat Sebastian berdiri didepannya."Mom kenapa kau disini?" tanya anak lelaki itu sambil mengeryit.
"Tentu saja untuk mandi," jawab Ginny sekenanya.
"Tapi, dikamarmu ada kamar mandinya, Mom"
Eh.
Ginny tidak tahu, ia pasti telah melewatkan satu pintu."Well...umm...kau tahu Sebastian? Kurasa aku hanya bosan," Ginny melewati Sebastian yang masih mengeryit bingung ketika ia berjalan kembali ke kamarnya.
Ginny masuk kekamarnya dan matanya segera tertuju pada satu pintu dipojok. Ginny membukanya dan melihat satu kamar mandi. Astaga! Betapa bodohnya dia. Uurgh...
Ginny berbalik ketika mendengar pintu kamarnya dibuka."Mommy?" Ara berdiri diambang pintu.
Ginny tersenyum,"Ada apa Ara?" tanyanya.
"Apa kau masih sakit Mommy?" tanya Ara khawatir.
Ginny tersenyum, ia berjalan mendekat ke arah gadis cilik itu. ara sudah berganti pakaian. Ginny menebak pasti ia sudah mandi."Tidak, Mommy sudah sehat sekarang,"
"Kenapa Mommy ada dikamar terus?"
"Well, Mommy capek,"
"Sekarang Mommy sudah nggak capek?"
"Ya, sepertinya begitu,"
Ara tersenyum, ia menarik tangan Ginny."Kalau begitu ayo kita ke bawah. Makan malam sudah siap," Ara menarik Ginny menurni tangga. Mereka sudah sampai di dapur. Sebastian sudah duduk ditempatnya. Ginny mengambil tempatnya, dan mereka mulai makan.
"Mom, ayo kita nonton," seru Ara sambil memegang tangan Ginny. Sebastian memutar bola matanya. Mereka baru saja selesai makan malam. Ara menariknya. Ginny bisa mendengar suara-suara, beberapa orang, dan itu bukan suara Sebastian ataupun Winky. Ginny mengeryit. Apa ada tamu?
Tapi, mulut Ginny langsung jatuh terbuka ketika ia melihat sumber suara-suara itu. Sebuah televisi muggle.
Ara menariknya untuk duduk disofa didepan televisi itu. Sementara televisi itu menyangkan sebuah acara. Ginny tidak pernah melihat sebuah televisi muggle sebelumnya. Setidaknya yang berfungsi. Ia pernah melihat televisi-televisi bekas digudang belakang ayahnya.
A Christmast Carol.
Itu judul filmnya, yang terpampang di televisi. Ginny menatap kotak itu penuh kekaguman. Muggle mungkin tidak punya sihir. Tapi, jelas mereka punya otak.
Sebastian datang, ia duduk dikarpet dengan sebuah cangkir menguap ditangan. Ara langsung turun ke karpet, disebelah kakaknya."Sebastian, aku minta," rayunya dengan wajah polos dan imut. Ginny harus menahan tawa melihat gadis cilik itu.
Sebastian menjauhkan cangkirnya dari adiknya,"Ambil sendiri," ujarnya,"Winky baru saja membuat seteko penuh,"
Ara berdiri dengan sebal. Tapi, ia berlari tanpa banyak berkata-kata lagi. ginny melihat Ara hingga ia menghilang dibelokkan sebelum mengembalikan perhatiannya ke telivisi.
"Dia tidak pernah bosan melihat ini ya?" gerutu Sebastian,"jujur Mom, kau perlu memberikannya film favorit baru. Dia menonton ini setiap natal sejak usianya satu tahun,"
Ginny tidak membalas kata-kata Sebastian, pandangannya tetap tertuju di televisi. Well, dia belum pernah melihatnya. ara muncul beberapa saat kemudian dengan dua cangkir ditangan dan Winky disebelahnya yang juga membawa secangkir yang menguap.
"Mom, ini," Ara menyerahkan secankir untuk Ginny. Ginny menerimanya dan dia mengerutkan keningnya ketika sadar ia tidak tahu minuman apa itu. ginny meneguknya dan rasanya ternyata enak. Cairan coklat itu manis dan hangat. Ia menahan keinginan untuk bertanya minuman apa itu karena pastinya hal itu akan menimbulkan kecurigaan. Winky duduk dikarpet disebelah Sebastian dan meneguk cangkirnya sendiri. Sebastian mengajak Winky berbicara daripada menonton film itu.
"Mommy, tadi Sebastian curang," adu Ara.
Sebastian menoleh ketika mendengar namanya disebut,"Tidak," ujarnya,"dia yang curang,"
"Aku tidak curang," seru Ara,"kau yang curang,"
"Kau yang curang," balas Sebastian.
"Sebastian! Ara! Cukup," Ginny berteriak, mengatasi seruan Sebastian dan Ara,"Kalau kalian tidak berhenti berteriak. Mommy akan hukum kalian berdua, oke?"
"Oke, Mom," seru Sebastian dan Ara bersamaan. Ginny hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Perasaan, kakak-kakaknya tidak pernah bertengkar seperti ini.
"Mal-ayah kalian mengirim surat tadi," Ginny teringat surat Malfoy,"dia bilang hari ini ia tidak bisa pulang. Dan ia memintaku memberitahu kalian bahwa ia menyayangi kalian,"
"Aaah..." desah Ara sedih.
"Jangan terlalu sedih, Ara," ujar Sebastian, nada suaranya menghibur,"Daddy kan tidak pulang supaya waktu natal ia bisa tinggal dirumah,"
"Aku tahu," gumam Ara. Ginny memeluk pundak Ara dan Ara mendekat ke arah Ginny.
"Aku tidak suka Scrooge," ujar Ginny, mencoba mengubah topik.
Ara tertawa kecil,"Tapi dia kan tokoh utamanya, Mommy,"
"Well, dia serakah dan pelit," ujar Ginny.
"Menurutku, Scrooge hanya lelaki manis dan baik yang hidupnya sulit. Dan pada akhirnya ia menjadi lelaki yang baik lagi,"
"Aku setuju saja," Ginny tertawa kecil sambil mencium ujung kepala Ara. Entah bagaimana insting keibuannya keluar dari tubuhnya. Ia sudah bisa menyayangi Ara dan Sebastian seperti anak-anaknya sendiri. Well, mereka memang anak-anaknya sendiri.
Beberapa jam kemudian filmnya selesai. Ara menguap lebar-lebar."Mommy," ujar Ara.
"Hmmm?"
"Ayo bacakan aku buku cerita," pinta Ara. Ginny mengangguk. ara berdiri dan mendahului Ginny naik ke atas tangga. Ginny melirik kearah Sebastian yang mengganti channel. Winky masih setia menemaninya.
"Jangan tidur malam-malam," seru Ginny. Membuat dirinya sendiri terkejut.
"Oke, Mom," sahut Sebastian.
Ginny naik ke atas tangga dan masuk ke kamar Ara. Langit-langit kamar Ara sudah berubah. Menjadi langit malam cerah dengan bulan sabit dan bintang-bintang. Nama Ciara yang tertulis didinding berkerlap-kerlip indah. Ginny mengingat-ingat kalau langit-langit lantai bawah berubah. Tapi, tampaknya tidak. Masing siang hari berawan dengan salju yang menghilang sebelum menyentuh kepalanya.
Ara sudah berbaring diranjangnya, memegang sebuah buku di tangannya. Walaupun langit-langit bercorak malam. Tapi, penerangannya sudah cukup. Ginny mengambil buku itu lembut dari tangan Ara dan berbaring disamping gadis cilik itu.
"Oke, apa ini?" Ginny melihat sampul bukunya. A Chrismast Carol.
"Cepat Mommy," desak Ara.
"Oke...oke...," Ginny membuka halaman pertamanya ia melihat sebuah catatan
Selamat ulang tahun, Ciara
Bibi Hermione
Tentu saja, ini adalah jenis hadiah yang akan diberikan Hermione kepada siapapun. Ginny tersenyum sendiri.
"Mommy,"
"Hantu Marley,"" Ginny mulai membaca," Marley sudah mati: untuk memulainya. Tak ada keraguan tentang itu..."
"...tanpa mengganti baju dan jatuh tertidur seketika itu juga," Ginny selesai membaca chapter pertama, Hantu Marley. Ia melihat Ara yang sudah terlelap. Ginny mengelus-ngelus rambut Ara yang halus. Dan baru menyadari beberapa helai rambutnya berwarna pirang. Bukan merah. Ginny tersenyum dan mencium kening Ara sebelum berdiri. Ia meletakkan buku A Chrismast Carol dimeja disamping tempat tidur Ara. Kemudian berjalan keluar kamar.
Ginny kembali ke kamanya. Ia langsung menjatuhkan diri di ranjang. Album-albumnya masih berserakan ditempat tidur. Tapi, ia tidak peduli. Sekali lagi, Ginny jatuh terlelap.
Untuk cerita Luna rencananya chapter depan. Tapi, setidaknya foto-foto itu sudah sedikit banyak menjelaskan bagi Ginny.
