_Replay 18_
Previous chapter...
Siwon berdiri menatap pemandangan dari dalam jendela ruangannya, pikirannya melayang di saat ia menemukan Sungmin duduk meringkuk lalu pingsan di depan pintu ruangannya. Yang ia ingat adalah tatapan Sungmin yang sangat berbeda dari yang biasanya ia lihat. Wanita itu bahkan sama sekali tidak mengenalinya.
'Tok,tok,tok'
Ketukan pintu membuyarkan lamunan Siwon, sosok Suho menyembul dari balik pintu lalu masuk ke dalam.
"Anda mencari saya?" tanyanya
"Aku harap kau tidak lupa tentang masalah semalam Kim Suho. Bisa jelaskan pada ku apa yang terjadi sebenarnya?" Ada hubungan apa kau dengan wanita yang tolong semalam? Apa kau mengenal mereka?"
"Tidak saem. Aku baru bertemu dengan nuna itu semalam. Ia bilang pada ku jika harus ke sekolah dan bertemu temannya"
"Teman?"
"Nde, tapi aku tidak tahu siapa temannya. Ia terus berlari dan memanggil-manggil, ah aku ingat, Hyuk... Eunhyuk!"
Nuna itu juga bilang jika ia juara olimpiade Sains dan ketua karya ilmiah remaja. Lalu ahjussi itu muncul dan mengejar kami"
Setelah mendengar jawaban dari Suho, membuat Siwon menjadi semakin bingung. Apa yang sebenarnya terjadi pada Sungmin. Baru dua bulan yang lalu tepatnya mereka bertemu. Masa Sungmin sudah tidak mengenalnya begitu. Pikir Siwon seadanya.
Apa benar kata suaminya, jika ia amnesia?
Tapi melupakannya, yang benar saja Lee Sungmin. Kau bahkan hampir membuat Siwon tertawa terbahak-bahak. Semudah itukah ia melupakannya?
"Saem?" panggil Suho, saat melihat Siwon larut dalam pikirannya.
"Ah, hanya itu yang kau tahu? Kau tidak sedang mencoba untuk membuat masalah kan Kim Suho?" Tanya Siwon sekenanya.
"Animnida saem!"
"Baiklah kau boleh kembali ke kelas"
Siwon menghela napas, ia pun teringat sesuatu yang ia simpan di laci mejanya. Sebuah agenda lama yang masih tersimpan baik sampai saat ini. Ia pun membuka lembar demi lembar agenda tersebut dan menemukan sebuah photo lama.
"Eunhyuk" tunjuknya pada salah satu gadis dengan senyum terlebar di photo itu.
.
.
.
(Flashback)
"Aku menyerah mengajari kalian" pekik Sungmin kepada dua orang temannya itu.
"Hei, mana bisa kau lakukan ini pada kami. Kau sudah janji kan untuk mengajari kami sampai bisa."
"Sungmin-ah, Sungmin-ah, buing-buing..." panggil temannya yang mencoba ber-aegyo.
"Aigoo, aigoo. Mata ku bisa iritasi melihat wajah mu yang menyeramkan begitu"
"Min-ah" panggil teman yang satunya lagi, mencoba membujuk nya. Merasa tak tega akhirnya ia pun mengalah. Merapihkan kuciran rambutnya yang melorot, gadis bermanik rubah itu pun menarik napas panjang dan memeriksa lagi pekerjaan ke dua temannya.
Suasanya mendadak menjadi hening sejenak, sampai Siwon yang baru datang ke dalam ruang belajar itu dibuat terkejut setengah mati saat mendengar suara buku di banting.
"Aku menyerah!" ucap Sungmin, mengibarkan bendera putih. Ia menjatuhkan dahinya ke meja tiga kali lalu mendelik ke arah dua temannya yang duduk tanpa rasa bersalah.
Siwon yang tentu saja bingung pun, kemudian bertanya pada seorang lagi teman mereka yang tidak disadari kehadirannya, duduk dengan tenang mendengarkan musik lewat earphone miliknya.
"Ah, molla, molla!" pekik Sungmin makin frustasi. Meniup poninya yang sudah memanjang, gadis itu pun akhirnya memutuskan sesuatu. " Aku menyerah, kita sudahi saja dengan kimia. Ganti dengan fisika"
"Cha! Kalian masih ingat dengan soal tentang gaya dan percepatan bukan?"
Ke duanya kompak mengangguk, ragu tentu saja.
"Ini adalah soal yang paling mudah. Jinjja!" ucap Sungmin dengan penuh penekanan.
" Siwon yang berberat badan 74 kg, memukul Yesung dengan kekuatan 20 newton. Jadi berapa percepatannya?"
Alih-alih menjawab dengan benar, Eunhyuk salah teman yang sudah memasang wajah melas dan berkaca-kaca malah bertanya kepada Yesung,
" Apakah sangat sakit?"
Dan Sungmin kembali di buat frustasi karena tingkah ke dua temannya...
"Kim Yesung, ada masalah apa sampai Siwon memukul mu? Apa kalian bertengkar karena memperebutkan ku?"
Yesung tertawa mendengar celetukan Ryeowook padanya.
"Yang benar saja, Kim Ryeowook"kekeh Yesung.
"Siwon-ah, kau jahat sekali. Aku tak menyangka" sambung Eunhyuk kembali.
"Hei! Jangan salahkan aku. Salahkan Sungmin yang membuat ku terpaksa memukul Yesung" ucap Siwon konyol.
Ke empat orang itu pun tertawa kecuali Sungmin, yang sudah menyerah dan frustasi.
"Hei! Tapi bukankah hebat kau masih bertahan sampai sekarang. Siwon itu tenaganya tenaga kuda. "'
"HEI!" jerit Sungmin frustasi mendengar tertawa lepas dari teman-temannya.
_Replay 18_
Sungmin tidak henti-hentinya berdecak kagum manakala melihat pajangan-pajangan berkilau yang tidak ia ketahui fungsi dan namanya yang tergantung dan tersusun rapih di rak dan dinding ruangan itu. Belum lagi sederat lukisan-lukisan indah yang menggantung angkuh di sepanjang koridor.
Menurut info yang ia dengan dari pengurus rumah ini, pajangan-pajangan itu adalah koleksinya. Sungmin menaikkan alisnya, berpikir sejak kapan ia suka dengan barang-barang seperti ini. Orang-orang di rumah ini pasti sudah sengkokol dengan Kyuhyun untuk menipunya.
"Uwah, Ddaebak!" pekiknya ketika melihat salah satu lukisan yang ditenggarainya di lukis oleh Vincent Van Gogh. Dan lihat itu, apa yang baru saja Sungmin temukan. Sebuah pajangan kristal mahal yang ia tidak tahu namanya. Manik rubahnya ikut memancarkan kemilau sinar yang berpendar dari benda yang terbuat dari kristal tersebut.
"Uwah, apa ini asli?"
"Jika ini benar- benar asli, aku bisa kaya mendadak jika menjualnya?"
"Tapi orang gila mana yang mau membeli barang-barang seperti ini. Kecuali ia benar-benar kaya atau... Jangan-jangan, paman itu penyelundup barang palsu!"
Manik Sungmin terbelalak, ia jadi takut jika kalau-kalau dirinya bakal dijadikan korban perdagangan manusia.
"Omma, apa yang harus aku lakukan?" ratapnya lagi.
"Nyonya, anda ingin saya siapkan makan siang?"
"Omona, kau mengagetkan ku"
Pelayan itu pun menunduk seraya meminta maaf, "Saya minta maaf" cicit wanita itu.
Sungmin yang kikuk menerima perlakuan seperti ini pun lantas menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Gwancanha" ucapnya merasa tak enak.
"Aigoo!Ah, majja! Eonnie kau punya ponsel? Bisa kau pinjamkan pada ku, aku butuh untuk menelpon rumah ku atau polisi?"
"Eonnie" panggil Sungmin sekali lagi.
"Nde?" pelayanan wanita itu pun bingung, saat mendengar panggilan tersebut terlontar dari mulut majikannya. Karena biasanya Sungmin akan memanggil namanya saja, secara usia mereka yang terpaut jauh. Lebih tua nyonya majikan tentunya. Meski pun secara wajah, Sungmin masih tampak seperti gadis di awal dua puluh tahunan.
"Anda kenapa ingin menghubungi polisi?" tanya pelayan itu bingung.
"Ya, tentu saja untuk melaporkan tindak kejahatan yang di lakukan paman itu. Ini semua barang curian kan? Atau bisa jadi semua barang selundupan atau palsu! Ku lihat dari usia mu juga masih muda, apa kau juga korban sama seperti ku? Jangan takut! Sebentar lagi kita akan bebas" ucapnya panjang lebar.
"Nde?" sementara sang pelayan masih kesulitan mencerna perkataan sang majikan barusan.
"Asal kau tahu saja semua barang itu asli" ucap Kyuhyun yang tiba-tiba datang.
"Hahahaha, maldo andwe! Ahjussi kau salah satu komplotan sindikat penyelundup iya kan? Sekarang aku paham mengapa aku bisa di sini. Mungkin saja kan sebelum kecelakaan terjadi kau terpergok oleh ku"
Kyuhyun tidak tahu lagi apa yang harus ia perbuat untuk membuat otak istrinya itu kembali normal. Ia sudah pusing sekali...
"Lee Sungmin," panggilnya dengan penuh penekanan, "Asal kau tahu saja jika barang-barang itu semuanya milik mu. Kau menghabiskan uang ku hanya untuk mengoleksi semuanya"
" Hah? Apa? Aku? Kapan?"
"Kau tidak ingat? Kau selalu menghadiri pameran seni dan lukisan setiap sebulan sekali, belum lagi acara lelang dan yang lainnya" Kyuhyun pun mengibaskan tangannya guna menyuruh pelayan tadi pergi.
Kyuhyun memejamkan matanya, guna meredam emosinya yang sebentar lagi akan meledak. Ia hanya kesal saja dengan kelakuan Sungmin yang sangat berbeda dengan apa yang selama ini ia tunjukkan padanya.
Sungminnya yang berkelas, pendiam, mandiri, dan cerdas. Setidaknya itulah gambaran istrinya yang membuat Kyuhyun bisa jatuh hati kepadanya. Tapi melihat tingkah polah Sungmin yang ada di hadapannya sekarang, adalah seorang gadis dengan tingkat imajinasi tinggi dan sangat aktif.
"Ahjussi, gwancanha?" tanya Sungmin.
Kyuhyun membuka matanya manakala melihat manik rubah itu mengerjap, dan membius penglihatan nya seketika. Pria kelahiran februari itu tersenyum simpul. Meski pun sikap istrinya jauh berbeda tapi tatapan teduhnya masih sama. Keping hitam berkilau yang membuat dunia putihnya menjadi berwarna.
Sungmin mundur ke belakang saat Kyuhyun maju selankah demi selangkah mendekati dirinya.
"Ahjussi, kau tidak berniat macam-macam kan?" cicitnya, sementara Kyuhyun terus menyudutkan dirinya hingga wanita tersebut terpojok dan tersandung kakinya sendiri.
"Ahh"
Tangan besar Kyuhyun dengan sigap menangkap pinggang milik istrinya tersebut. Kyuhyun tersenyum, melihat raut innocent yang di tampilkan Sungmin saat ini. Selama delapan tahun ini, ia sangat jarang melihatnya begini.
Dunia Sungmin serasa berputar. Serasa ada begitu banyak running teks yang berputar di kepalanya. Gambaran-gambaran peristiwa yang muncul begitu saja membuat tubuhnya terasa tidak nyaman.
Lalu tiba-tiba saja wanita itu seperti mendengar sebuah alunan lagu yang di mainkan dengan violin. Seorang gadis bergaun merah muda sedang menari dengan seorang pria tampan bertuxedo hitam.
"Siwon-ah" katanya tanpa sengaja, saat satu nama terngiang di kepalanya.
Kepalanya kembali berputar hebat, hingga kegelapan datang menyelimuti dirinya.
.
.
.
"Anyeong chingu-a, aku datang" Siwon meletakkan sebuket bunga di makam seorang gadis muda bermarga Lee.
Pria itu kemudian menuangkan segelas arak beras dan membakar dupa wangi sebagai persembahan untuk gadis itu.
"Aku membawa minuman kesukaan mu" ujarnya lalu meletakkan susu pisang di sana.
.
.
.
Tbc
.
.
.
hyejinpark
101072016
