"Bewilder"
Author: Kang Ji Rim (Icha)
Casts: Lee Sungmin, Cho Kyuhyun, Lee Hyukjae, Lee Donghae, Kim Kibum
Pairing: KyuMin
Genre: Romance, Drama
Rated: PG-15 / T
Warning: YAOI, Boys Love, SLASH, Shounen-ai, Typos(?)
Desclaimer: This ff is mine. PUNYA AUHTOR.
Summary: Kisah seorang namja yang ingin melupakan kenangan bahagianya dengan sang mantan kekasih, dan mencoba menemukan kebahagiaannya dengan 'hati' yg lain.
DLDR! Langsung close aja kalo nggak suka. No bash ya :) and no cheat, thanks.
.
"Ya, Kyuhyun-ah!" Mendengar ada orang yang memanggilnya namja berperawakan tinggi tadi langsung menoleh kesumber suara. Kyuhyun berjalan mendekati Eunhyuk.
"Hyung, tidak disangka kita bertemu disini." Katanya seraya mendudukan dirinya di kursi sebelah eunhyuk.
"Apa yang kau lakukan disini? Bukannya kau di Canada?" Tanya eunhyuk.
"Aku merindukanmu hyung makanya aku pulang." Ujar kyuhyun santai.
"Ya! Aku serius!" Eunhyuk merengut kesal. Kyuhyun menyamankan duduknya di kursi.
"Ya! Siapa suruh kau duduk disana? Duduk dibelakang!" Bentak eunhyuk kesal. Kyuhyun tidak bergerak dari tempatnya dan malah memainkan 'barang'nya. Eunhyuk semakin berapi api melihat teman kecilnya yang tidak pernah berubah dari dulu., karena kesal langsung saja ia mengambil paksa 'barang' kyuhyun tersebut
"Pindah atau kubanting?" Ujar eunhyuk sambil mengangkat 'barang' mengkilat itu tinggi-tinggi. Kyuhyun segera pindah karena 'barang'nya terancam.
"Ne, ne." Lalu ia mendudukan diri di kursi belakang eunhyuk. "Kembalikan PSP-ku."
.
.
.
Sungmin berada didalam taxi dengan keadaan panik, ia terus melihat jam tangannya dengan gelisah. Kakinya ia gerak-gerakkan. Tak jarang pula ia menyembulkan kepalanya keluar jendela untuk melihat jalanan di depannya, dan sialnya ia terjebak macet. Ia memutuskan untuk turun dari taxi dan berlari menuju subway terdekat yang akan membawanya ke Gwangju.
'Semoga umma baik2 saja.' Batinnya penuh harap.
Satu jam setengah telah berlalu dan terasa sangat lama. Setelah sampai di Gwangju ia langsung meninggalkan subway dan langsung menuju halte untuk menunggu bis yang mengantarnya ke Rumah Sakit.
Sungmin terus berlari ketika dirinya turun dari bis, sesampainya di Rumah Sakit ia menanyakan umma nya kepada suster yang berjaga di meja resepsionist.
"Suster, dimana kamar ummaku? Dia 2 jam yang lalu tak sadarkan diri dan langsung dilarikan kerumah sakit ini." Tanyanya panik.
"Sebentar ne." Suster itu melihat ke arah komputer.
"Apakah umma anda Ny. Lee?" Tanya suster itu memastikan. Sungmin menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Ny. Lee masih ditangani para dokter di ruang emergency." Jawab sang suster, "Tenanglah tuan, dokter sedang berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan umma anda." Lanjut sang suster menenangkan sungmin yg terlihat sangat panik dan gelisah itu.
Tanpa ba bi bu lagi sungmin langsung meninggalkan meja resepsionist tersebut, tak lupa juga ia mengucapkan terimakasih. Sungmin kembali berlari menuju ruangan emergency, ia sudah tak memperdulikan lagi penampilannya yg sudah acak-acakan dan penuh dengan peluh. Ketika ia sampai di depan pintu ruang emergency ia berhenti, ia mengatur nafasnya sejenak, dan dengan perlahan membuka pintu putih tersebut. Ia segera masuk ke dalam ruangan tersebut dan hal yang tak ia inginkan terjadi. Ummanya tergeletak tanpa ruh di kasur rumah sakit dengan kain yg menutupi seluruh tubuhnya. Ummanya sudah tidak bernyawa lagi, ia meninggalkan sungmin selama - lamanya, meninggalkan sungmin sendiri di dunia ini, menjadikan sungmin sebatang kara.
Sungmin berjalan pelan mendekati umma nya, matanya sudah berembun karena air yg siap untuk keluar. Air mata sungmin sudah tidak dapat tertampung lagi sungmin menangis sejadi - jadinya diruangan tersebut. Sungmin menangis meraung di sisi ranjang sambil memegang tangan sang umma.
Seorang ahjussi yg membawa umma nya kerumah sakit dan sedari tadi menemani ummanya merasa iba dengan sungmin. Di usapnya kepala sungmin dengan sayang.
"Sshh...sudahlah, umma mu sudah bahagia bersama Tuhan."
.
.
.
"Jadi, ada apa kau kembali lagi kesini?" Tanya seorang namja berambut blonde seraya memakan makan siangnya.
"Sudah ku bilang aku merindukanmu." Kata namja berambut chestnut itu santai.
"Aish, aku serius kyuhyun-ah!"
"Hahaha santai saja hyung." Kata kyuhyun sambil menyudahi permainan PSP-nya.
"Aku tidak betah di Canada, umma dan appaku tetap sibuk dengan pekerjaannya, jadi percuma aku ikut mereka. Lebih baik aku disini."
"Hah begitu rupanya. Tapi tak ku sangka kau memilih masuk universitas ini."
"Ya karna hanya di universitas inilah terdapat jurusan fotografi, kau kan tau aku ingin sekali jadi fotografer profesional."
"Ne, ne aku tau." Kaya eunhyuk sambil menyeruput jus strawberry nya, "Oh ya kyu, kau tau, tadi pagi..."
"Hyukkieee~! Ternyata kau disini." Panggil seseorang berwajah innocent membuat ucapan eunhyuk terpotong.
"Mentang-mentang teman lama kita kembali aku dilupakan, eoh?" Lanjutnya sambil pura-pura merajuk.
"Hae-ah, aku tidak melupakanmu~" jawab eunhyuk pada namja bernama donghae tadi.
"Kalian...sekarang pacaran?" Tanya kyuhyun dengan pandangan horror.
"Eh? Tidak...kami tidak..." Eunhyuk dan donghae mengelak dan masing-masing jadi salah tingkah. Eunhyuk menggeser duduknya menjaga jarak, sedangkan donghae menggaruk leher belakangnya yg pastinya tidak gatal.
Kyuhyun hanya mengangguk-nganggukan kepalanya diam, lalu kembali memakan makan siangnya, tapi ia menyeringai kecil, seperti mengetahui sesuatu.
.
.
.
Sepeninggal umma nya, sungmin langsung keluar dari rumah sakit meninggalkan ummanya dan tanpa menghiraukan hangeng ahjussi. Ia tak mau mengurusi pemakaman umma nya, ia tak mau membuat hatinya semakin sakit lagi. Biarlah hangeng ahjussi yg mengurus semua pemakaman ummanya.
Sungmin berjalan menuju rumah lamanya dengan diam. Tatapan matanya kosong. Penampilannya yg acak-acakan dan mata yg memerah. Ia tak memperdulikan tatapan orang-orang yg melihatnya dengan pandangan heran atau mencibir.
Ia memasuki pekarangan rumahnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Pekarangannya masih saja bersih seperti dulu, rupanya ummanya merawatnya dengan baik. Hanya saja ada beberapa guguran daun-daun kering yg berserakan, tanda bahwa pekarangan itu tidak ada yg membersihkan pagi ini. Tentu saja sungmin tau alasannya.
.
.
.
Seorang namja mungil berkulit putih seputih salju sedang duduk di teras depan apartemennya. Ia sedang membaca buku sambil mendengar lagu melalui earphone putihnya yg senada dengan kulitnya.
Sudah berkali kali ia melihat ke arah jam yg melingkar dengan manis di tangan kirinya. Ia menghela nafas.
"Kenapa dia belum pulang juga?"
Seorang yeoja dengan umur sekitar separuh baya datang menghampiri namja tadi.
"Chagi, ini sudah sore, mau sampai kapan kau duduk di depan seperti itu, hm? Ada seseorang yg kau tunggu?"
"Sungmin hyung umma, dia belum pulang." Ujar namja salju tadi.
Sang umma tersenyum maklum, "Kau kesepian chagi? Sungmin pasti sedang sibuk, dia kan sudah mulai kuliah sekarang."
Namja tadi hanya diam menundukan kepalanya.
"Ya sudah, sungmin pasti pulang sebentar lagi, ayo kita masuk dan segera makan malam kibum-ah."
.
.
.
Semalaman sungmin terdiam di rumahnya yg lama. Sang raja malam sudah bertengger di langit. Cahayanya yg temaram membuat bumi menjadi gelap. Seperti di sebuah bangunan berlantai 2 dengan cat hujau muda. Namja manis itu sengaja tidak menyalakan lampu, entah sengaja atau apa, tapi ia tak berniat sama sekali untuk bergerak dari tempatnya.
Meringkuk. Ia meringkuk di lantai. Di kamar yg bernuansa dominan putih dan cukup luas itu, yg dulu di huni oleh seorang yeoja berparas cantik walau usianya sudah tak muda lagi. Yeoja dengan sifat ramah dan bersahabat, yeoja yg di panggilnya dengan sebutan 'umma'.
Sungmin menangis tanpa suara di kamar yg gelap gulita itu. Ia menangis sambil meringkuk memeluk lututnya. Hatinya begitu sakit. Perih. Terlalu menyakitkan untuk sebuah kenyataan. Kenyataan yg harus ia telan bulat-bulat. Kenyataan yg harus ia terima.
'Kenapa semua ini terjadi padaku? Apakah Tuhan tak sayang padaku? Aku memang tak berguna, aku anak yg bodoh...hiks...hiks' ia terus menangis sambil memukul mukul lantai dengan kepalan tangannya, hingga tangannya memerah dan memar.
'Drrttt...Drrttt..."
Ponsel sungmin bergetar sedari tadi. Ia sama sekali tak berniat untuk mengangkatnya. Ponsel itu terus menerus berkedip hingga seseorang disana memutus sambungannya.
Tak lama tiba-tiba sungmin kehilangan kesadarannya. Ia lelah. Ia terlalu lelah menghadapi semua kenyataan ini sendirian. Sebuah takdir yg tak bisa di ubah, sebuah garis pelik yg mengharuskannya melewati jalan itu. Ia terlalu rapuh dan sendirian. Sungmin pingsan dengan air mata yg tercetak di pipinya.
Sungmin pov
Aku terbangun pagi ini. Aku benar-benar terbangun. Ku pikir semua ini hanyalah mimpi buruk belaka, atau semacam halusinasi menyeramkan. Tapi tidak...aku terbangun dan menatap kosong rumah ini.
'Aku membencimu...kau telah meninggalkanku...kau...' Aku tak sanggup lagi, aku menangis lagi.
.
Aku berjalan menuju pemakaman umum yg terletak beberapa blok dari rumahku. Ku masuki pemakaman itu, aku dapat merasakan aura yg berbeda disini. Aku dapat melihat sebuah makam baru yg terletak di bawah pohon besar. Ku langkahkan kaki menuju makam itu, dapat ku lihat seorang ahjussi yg sedang menyirami air mawar ke makam itu.
"Kau datang juga sungmin-ah." Sapa orang itu. Aku hanya diam, aku tak mampu membalas kata-katanya. Aku ikut menyiraminya dengan air mawar dan sesekali menaburi bunga yg di sediakan hangeng ahjussi.
"Kau tau, umma mu orang yg sangat hebat." Dia mulai bercerita, "aku sudah sangat lama mengenal umma mu, mengenal bagaimana kepribadiannya, bagaimana perangainya." Ia diam sejenak.
"Dia orang yg sangat ceria, baik hati, selama kami bertetangga, ia tak pernah membuat masalah, ia pribadi yg hangat."
Aku diam.
"Aku tak percaya, dibalik semua sifat riangnya itu dia menyimpan sesuatu yg sangat..." Dia berhenti sejenak, "yg sangat mengerikan."
Aku terpaku. 'Sesuatu yg mengerikan? Apa maksudnya?'
"Kau tau...umma mu mengidap kanker paru-paru stadium akhir." Aku menatapnya tak percaya. Benarkah? Benarkah selama ini umma mengidap penyakit itu?
Aku menatap ke arah nisan yg bertuliskan nama ummaku. Kenapa umma tak pernah menceritakannya padaku? Kenapa umma aku tak pernah melihat umma mengeluh? Apakah umma tak ingin aku mengetahuinya? Tak kurasa air mata kembali mengalir di pipiku.
"Kenapa umma tak pernah memberitauku?" Ujarku lirih, aku terjatuh berlutut. Aku mencengkram kuat gundukan tanah di hadapanku. Kenapa aku tak bisa merasakan sakit yg selama ini di derita umma ku? Aku...aku merasa gagal.
"Dia hanya tak ingin menjadi beban di hidupmu sungmin-ah. Umma mu sangat menyayangimu." Kurasakan hangeng ahjussi menepuk pundakku pelan sebelum pergi meninggalkanku. Sendirian.
.
Cukup lama aku terdiam dimakam itu, hingga aku menyadari bahwa aku memang harus menerima semua kenyataan ini. Aku mencoba menguatkan diriku sendiri walau kutau itu sulit. Aku mengeluarkan sebuah scarf berwarna peach dari tas ku, scarf yg 2 hari lalu baru aku beli, scarf yg tadinya ingin ku berikan pada ummaku. Aku mengalungkannya di batu nisan makam ummaku dan mengikatnya. Paling tidak, aku benar-benar memberikannya pada ummaku.
Aku tersenyum miris. Ku usap nisan itu sebelum aku meninggalkan makam itu dan kembali ke seoul.
Sungmin pov end.
.
.
.
Keesokan harinya.
Seorang namja penggila game berjalan dengan tenang dan tanpa memperdulikan sekitar. Padangannya terfokus pada benda canggih persegi empat yg mengeluarkan bunyi-bunyian ketika tombol-tombolnya di mainkan.
Kyuhyun pov.
Aku berjalan dengan santai di sepanjang koridor kampusku. Yah tumben sekali aku datang pagi-pagi begini. Tapi tak apalah udara pagi itu kan sehat, benarkan?
Ku masuki ruang kelasku sambil tetap memainkan PSP kesayanganku. Lalu saat ku rasa aku sudah sampai di kursiku, tak ku sadari seseorang telah mendudukinya. Orang itu diam saja, ia tampak tak menghiraukan kedatanganku, atau tepatnya tak sadar kedatanganku, atau, entahlah.
"Hei, minggir, itu kursiku." Ucapku acuh, tapi dia tetap diam saja. Ku kerutkan keningku. Ada apa dengan orang ini?
"Hei kau, kubilang minggir." Ucapku lagi. Ia masih saja diam.
"YA KAU TULI!" Teriakku, tapi kemudian ia menatap wajahku dengan tatapan kosong dan tanpa ekspresi.
Seakan terhipnotis, aku pun ikut terdiam sejenak, seperti menyadari sesuatu, atau aku merasa pernah bertemu orang ini? Sepertinya tidak asing...
"Aishhh, pindah!" Bentakku lagi dan tiba tiba saja ia malah megeluarkan airmatanya.
Aku terkejut, 'Ada apa dengan namja ini' batinku, kemudian aku melihatnya bangkit dari kursiku dan keluar kelas sambil menangis.
'Kenapa dia tiba-tiba menangis? Apa karena ku usir?' Ku angkat bahuku acuh, sudahlah tidak kuperdulikan lagi dia pergi kemana yang penting aku duduk dikursiku.
Kyuhyun pov end.
.
Sungmin pov
"YA KAU TULI!" Teriak seseorang. Aku tidak terlalu memperdulikannya, aku masih terlarut dalam lamunanku memikirkan umma.
"Aish pindah!"Bentaknya lagi.
Aku tak tahan lagi, aku masih belum bisa melupakan umma yg pergi meninggalkanku begitu saja. Tak terasa air mata kembali membasahi pipiku. Aku bangkit dari kursiku dan keluar kelas, berjalan menuju tempat yang nyaman untuk menumpahkan segala kesedihanku, serta menghindari 'pengganggu' seperti orang yg membentaku tadi.
Kutelusuri koridor yg panjang ini sampai akhirnya aku berada dibelakang gedung kampus, kutemukan pohon yg sangat rindang disana. Aku pun memutuskan untuk mendekati pohon itu dan bersandar dibawahnya, dan yah...aku kembali menangis.
Setengah jam aku menangis, dan tiba-tiba saja ada suara yg menginterupsiku kegiatanku.
"Sampai kapan kau akan terus menangis?" Aku pun terdiam dan mecari sosok yang mengangguku, tapi... tidak ada orang.
'Bugh!'
Tiba-tiba saja seorang namja turun dari atas pohon.
"Sepertinya aku baru melihatmu" ucap seorang namja bewajah cantik. "Menangis tidaklah menyelesaikan masalah, lebih baik air matamu kau simpan untuk orang yg berarti dikehidupanmu kelak."
Aku hanya diam menatapnya. Ia pun juga begitu, ia menatapku dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Sebenarnya apa masalahmu hingga kau menangis seperti itu?" Aku menunduk, aku belum siap untuk menceritakan kisah hidupku, apalagi pada seseorang yg sama sekali tak kukenal seperti dia.
"Kau sedang bertengkar dengan temanmu?"
'Tidak' batinku menjawab, namun aku hanya diam.
"Cintamu ditolak?"
'Haha, bukan itu.' Aku masih diam.
"Ah~ atau, kau baru saja di tinggalkan oleh seseorang?"
Mataku membesar, jantungku tiba-tiba berdetak kencang, bagaimana orang ini bisa tau?
"Hahaha ternyata tebakanku benar. Yah, sepertinya kau harus bangun. Untuk apa kau menangisi seseorang yg telah pergi meninggalkanmu? Apalagi orang itu tak kan kembali lagi, itu hanya menguras tenanga mu. Sia sia." Ujar namja itu sambil tersenyum aneh.
"Ohiya lain kali jangan menganggu orang yang sedang tidur." Lanjutnya kemudian pergi meninggalkanku.
Sepeninggal namja tadi aku terus memikirkan ucapannya. Aku menatap daun-daun yg gugur di rerumputan.
Yah sepertinya aku memang harus bangkit.
Sungmin pov end.
.
.
.
Setelah 5 menit pelajaran di mulai, seorang namja mungil memasuki ruang kelasnya.
"Mianhe... Aku terlambat." Ucapnya ketika sampai dikelas.
"Apakah kau Lee Sungmin? Mahasiswa baru?" Tanya seosangnim sambil menatapnya.
"N-ne."ucap namja itu gugup.
"Arraseo, silahkan duduk." Setelah mendengar perintahnya namja itu melangkahkan kakinya menuju kursi yg kosong yg terdapat dipojok belakang.
"Sungmin hyung, gwenchana?" Tanya eunyuk dengan suara pelan. Sungmin hanya membalasnya dengan senyum yang dipaksakan.
Sedangkan sepasang mata secara diam-diam menata sedang menatap mereka berdua, atau lebih tepatnya menatap sungmin.
"Jadi...namanya sungmin" gumam namja itu.
.
.
.
Cahaya bulan sudah menampakan sinarnya dan sungmin baru menyadari bahwa ia terlalu lama diperpustakaan ini. Well, dia disini tidak membaca ataupun tidur, tetapi melamunkan sesuatu disudut perpustakaan yang sangat gelap.
'Sepertinya aku mengubah hobiku menjadi menangis atau melamun. Menyedihkan.' Batinnya tersenyum miris. Ia bangkit dari duduknya dan segera pulang.
Jarak dari kampus ke halte cukup jauh dan errrr~ mengerikan. Sungmin mempercepat langkahnya ketika melihat sekumpulan gangster yang tengah memandanginya dengan tatapan lapar.
.
Seorang namja kurus berwajah stoic sedang mengendarai mobilnya dengan santai, sambil sesekali bersenandung. Ya, namja itu Kyuhyun. Cho kyuhyun. Ia sedang senang hari ini, sepupunya Taemin baru saja membelikan game-game terbaru yang edisinya terbatas. Tentu saja ia senang sekali.
Tapi saat ia hendak melewati halte yg berada tak jauh dari kampusnya, kyuhyun melihat sesuatu yg aneh. Ia memang mengendarai mobilnya dengan pelan, sehingga ia dapat melihat semua orang-orang yg berlalu lalang di jalan ini. Tapi tumben sekali jalanan ini tak ada orang. Sepi, tapi...ia seperti mendengar suara minta tolong. Kyuhyun menghentikan mobilnya dan melihat seseorang yg sedang di kerumuni oleh beberapa orang yg sepertinya adalah preman.
Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri kyuhyun langsung keluar dari mobil dan segera menghajar preman-preman itu. Ia melihat seorang namja yg menjadi 'korban' para preman tadi terhempas dan terjatuh di trotoar. Namja itu meringis dan menangis. Namun kyuhyun tidak melihat jelas wajah namja itu karena seorang preman menghalanginya. Karena geram kyuhyun langsung melayangkan pukulannya dengan keras ke rahang preman itu hingga ia terhempas ke belakang dan jatuh tersungkur di aspal. Kyuhyun terkejut saat melihat namja yg sedang meringis itu ternyata adalah...
"S-sungmin..."
Entah kenapa kyuhyun sangat marah. Dengan kalap ia menghajar habis-habisan preman-preman itu. Hingga tak lebih dari 15 menit preman-preman itu tumbang ditangan kyuhyun. Mereka segera kabur dengan berlari tergopoh-gopoh.
Kyuhyun segera mengalihkan perhatiannya ke sungmin. Ia masih terduduk meringis dan sesenggukan. Ia memegangi bajunya yg 3 kancing teratasnya sudah terlepas secara paksa. Kyuhyun merasa tau apa yg di lakukan preman itu.
Langsung saja kyuhyun membawa sungmin masuk ke mobilnya dan segera melajukannya meninggalkan tempat itu. Kyuhyun melihat sungmin melalui ekor matanya, ia menangis dalam diam. Kyuhyun tidak tau harus membawa sungmin kemana, ia tak tau rumahnya dan tak mungkin membawanya ke apartemennya. Ia juga tak berniat untuk mengajaknya bicara. Namun tiba-tiba ia teringat di kelas tadi, 'Sepertinya eunhyuk hyung mengenalnya'.
.
.
'Tok! Tok!'
Pintu berwarna putih itu sedari tadi mengeluarkan bunyi ketukan yg lumayan mengganggu. Terlihat 2 orang namja yg berdiri tepat di depan pintu itu menunggu sang pemilik rumah membukakan pintu tersebut.
Tak lama kemudian, seorang namja berambut blonde membuka pintunya.
"Ah, maaf lama, tadi ak- SUNGMIN HYUNG! Apa yg terjadi?"
.
.
.
-TO BE CONTINUED-
.
A/N: Re-post chapter 4. di mohon reviewnya readers dan mohon bantuannya yaaa ff ini harus di lanjut apa ngga:) gomawo :)
