A/N: Chapter 4 UPDATE~! Kali ini adalah giliran...Liat ceritanya sendiri ^^ #plak.

Disclaimer: Hidekaz Himaruya, jalan/alur/ceritanya diambil dari film 'Anak Iblis Mencari Setan' cuma saya ubah dikit.

Warning: Typo(s), OOC, OOT tiba-tiba, humor garing, dll.

Nb: Don't Like Don't Read!


Allied Force Mencari Setan

Page 4: At Old Building 1


Hari demi hari terus berganti. Tanpa disadari, para Allied Force sudah mencapai tantangan ke-empat dalam buku 'Petunjuk Pemanggil Setan' itu. Pagi itu, seperti biasa. Para Allied Force mengadakan rapat tentang siapa yang akan menjalankan tantangan ke-empatnya.

Karena sudah bosan rapat dikelas, mereka pindah ketoilet. Eh, ralat….Ke Kantin.

Disana terlihat Alfred yang sedang makan burger sambil jampi-jampi agar ia tidak terpilih menjadi orang yang menjalankan tantangan kali ini. Arthur sedang bermain-main dengan imaginary friends-nya. Francis lagi ngerayu cewe, sedangkan cewe yang dirayu itu jantungan. Yao sedang latihan makan pake sumpit (?). Sedangkan Ivan lagi nyiksa Raivis dan Eduard.

"Stop stop. Kenapa kita malah main-main kayak gini sih!" Ujar Arthur yang baru sadar akan kebodohannya (?).

"Tadi kau sendiri yang bilang kalau kita tidak perlu tegang-tegang, kita harus tenang, da~" Balas Ivan. Diam-diam Raivis dan Eduard pergi meninggalkannya, tapi sayang…Pipa Ivan sudah melayang dan mengenai kepala mereka berdua yang mengakibatkan mereka dibawa ke UKS selama tiga bulan. #lebay

"Udahlah, cepet mulai aja aru!" Suruh Yao. Yang lain mengangguk lalu focus pada inti kegiatan mereka.

"Jadi, nanti malam kita akan me— " Belum selesai Arthur berbicara, tetapi sudah diserobot oleh seseorang.

"Kita?" Ujar Alfred bercanda. Arthur mendeathglarenya.

"Oke, abaikan cacing satu itu." Arthur membuka buku, yah…Kalian tau sendiri kan buku apa? Saya males nulis berkali-kali (#digaplok readers). Oke, back to topic and its time to serious.

"Bab ke-empat. Memanggil arwah kakek-kakek dari bangunan tua. Syaratnya, kalian harus pergi ke bangunan tua dekat tempat kalian. Masuk kedalam dan pergi kelantai dua. Masuk keruangan yang didalamnya terdapat sebuah cermin besar, lalu gambar bintang dilantai didepan cermin itu dengan apa saja. Setelah itu, pasang satu lilin disetiap ujung gambar bintang itu, lalu kalian harus duduk ditengah-tengah gambar bintang sambil menghadap kearah cermin itu. Tunggulah sampai sosok kakek-kakek muncul didalam cermin." Jelas Arthur.

"Se-serem banget~" Ucap Alfred ketakutan.

"Nah, karena tinggal kalian berdua yang belum menjalankan tantangan. Satu diantara kalianlah yang harus menjalankannya." Ucap Francis tegas.

"Bagaimana kalau kita undi? Kalau banyak yang memilih Alfred, Alfred-lah yang menjalankan tantangan ini, dan sebaliknya, aru." Usul Yao.

"Ide bagus, da!" Balas Ivan sambil mengangguk-ngangguk.

"Oke, aku pilih Arthur!" Seru Francis.

"Alfred~ (aru, da)" Ujar Yao dan Ivan bersamaan dan dengan santai.

KRIK KRIK KRIK

10 detik kemudian…

KRIK KRIK KRIK

5 menit kemudian…

KRIK KRIK KRIK

1 jam kemudian…

KRIK KRIK KRIK

Beberapa jam kemudian sampai-sampai Author kena struk karena tidak bisa menghitung berapa jam yang telah dilewatkan ini.

"HAH!" Teriak Alfred.

Semua yang ada disana kaget lalu menghadap kearah Alfred. Sedangkan beberapa orang berbisik-bisik. "Pergi aja yuk, ada orang sedeng disini."

"KENAPA HARUS AKU!" Teriak Alfred lagi. Tiba-tiba sebuah scone mendarat tepat dimulutnya, dan tertelan Alfred.

"HOWEKK!' Alfred muntah-muntah ditempat.

"Ih, jijik lo aru!" Seru Yao.

"Ha-Habis, Arthur…"

"BLOODY GIT! DASAR PENAKUT LO! TERIMA AJA, ATO GAK GO TO HELL SANA!" Teriak Arthur. Suasana disana menjadi tegang dan sunyi senyap karena teriakan Arthur. Orang-orang yang mendengar teriakan Arthur berbondong-bondong mendatangi kantin itu, ingin melihat siapa orang yang berteriak seperti itu.

"Kalian silahkan pergi dari sini, da~. Itu hanya akan mengganggu kami." Ucap Ivan pada orang-orang yang berdatangan itu dengan santai dan dengan senyuman khasnya. Orang-orang itu melihat Ivan, mereka bergidik lalu pergi meninggalkan kantin.

"Oke Alfred, kau harus menerima kenyataan ini. Kalau tidak, kau tau sendiri kan akibatnya?" Bisik Arthur pada Alfred dengan wajah menyeramkannya. Sebenarnya sih Arthur cuma make senter terus dideketin kemukanya, lagian gak gelap gini kenapa si Alfred takut ye? #Author kebingungan sendiri.

"Ta-tapi…" Alfred ingin membantah tapi ke-empat anggota Allied Force lainnya langsung mendeathglarenya dengan memplototinya.

"Ba-Baiklah…" Ucap Alfred gemeteran.

Arthur menepuk-nepuk pundak Alfred dengan wajah gembira. "Bagus-bagus. Itu baru namanya hero." Ucap Arthur.

.

.

.

Dirumah, dari siang (pulang sekolah) sampai sore ini Alfred tidak berani keluar kamar dan menutup tubuhnya dengan selimut. Didalam ia membaca mantra yang ia pelajari dari Arthur sewaktu TK. "Abrakadabra, kusulap kamu jadi, lelaki setia yang tak suka main, perempuaaaan~" Entah emang itu mantranya, salah mantra, atau disengaja. Kita tidak ada yang tau. Tapi kalo mau tau, hanya ada di two! (loh?)

Malam harinya, mereka semua berkumpul didepan gedung yang sudah tidak terawat. Gedung itu sangat tua. Dihalamannya terdapat sebuah pohon beringin yang sangat besar. Rumput-rumput liar yang panjang, dan terdapat sebuah ayunan didekat pohon itu. Yang membuat saya bingung, kenapa ditembok gedung itu terdapat poster Francis yang sedang memeluk Ivan, Alfred yang mencium bibir Arthur, dan Yao yang nangis karena gak dapet pasangan yaoi.

"Apa-apaan poster ini, git!" Tanya Arthur pada Francis sambil merobek-robek semua poster yang ada disitu. Ya, Francis-lah yang mencari dan memilih tempat ini.

"Biar pada tau kalo gedung ini udah kita booking." Jawab Francis santai.

"Mana ada orang yang mau dateng ke gedung ini selain kita aru!" Balas Yao.

"Jadi, tolong cari alasan yang lebih masuk akal, da~" Ucap Ivan sambil memainkan pipa kesayangannya dengan tangannya.

"E-Eh….Ng…." Francis melirik Alfred yang sedang gemeteran. "Ah, gini. Biar Alfred bersemangat loh! Kalo dia ketakutan gimana?" Ucap Francis asal-asalan. Bodohnya, yang lain malah percaya lalu menendang masuk Alfred kedalam gedung itu.

"Ke-Kenapa aku sendiri, kalian gimana?" Tanya Alfred

"Ditemenin Ivan kok, ya kan Van?" Ucap Arthur asal-asalan.

"Iya." Jawab Ivan singkat lalu tersenyum.

"Masuk sana!" Suruh Arthur lalu menendang Alfred, Ivan sih nggak.

Alfred-pun 'terpaksa' memasuki bangunan itu. Suasana didalam bangunan itu sangat menyeramkan, ditambah lagi yang menemani Alfred adalah Ivan, tambah menyeramkan.

"I-Ivan…Ka-kamu gak takut?" Tanya Alfred pada Ivan.

Ivan menoleh kearah Alfred, tersenyum lalu membalasnya. "Tidak, da~"

"Ka-Kalau begitu…Ka-kamu saja ya ya-yang menggantikanku me-menjalankan tantangan ini.." Pinta Alfred dengan puppy eyesnya.

"Tidak." Balas Ivan singkat, jelas, dan padat. Alfred-pun tambah suram mendengar kata-kata Ivan.

Mereka mencari-cari ruangan yang terdapat kaca besar didindingnya. Akhirnya mereka menemukannya di ruangan di lantai dua. "Aku mengurusi gambar bintang dan lilinnya, aku juga yang akan merekam hantunya. Kamu harus diam ditengah-tengah gambar itu nanti, da!" Perintah Ivan.

"Iya~" Jawab Alfred ogah-ogahan.

Ivan-pun menggambar sebuah bintang besar, lalu ia menaruh masing-masing satu disetiap ujung gambar bintang itu. Setelah itu, ia menyalakan lilin-lilin itu. "Cepat kau duduk disitu da!" Perintah Ivan lagi. Entah angin apa atau kemarin memang dia ketimpa pipanya sendiri, kenapa Ivan jadi secerewet itu!

Alfred duduk ditengah-tengah gambar bintang itu, sedangkan Ivan bersembunyi dibalik kursi yang ada disana sambil merekam kegiatan itu dengan handycam.

Sambil menunggu, Alfred komat-kamit membaca mantra yang dipelajari dari Arthur untuk menghadapi setan. (Mantranya beda sama mantra yang pertama.)

"Abrakadabra wush wush, guk guk, meow meow, mbeee mbee~" Ucap Alfred asal-asalan.

Ivan yang melihatnya sweatdrop.

Satu jam telah berlalu, sosok kakek-kakek itu tidak muncul-muncul. "Lama amet, aku yang hero ini jadi bosen tau!" Keluh Alfred.

Tidak lama kemudian dikaca terlihat bayangan orang memakai baju putih dan celana putih. Orang itu berjalan dengan badan bungkuk menuju kursi yang ada disana. Alfred yang menyadari hal itu melihat kacanya, lalu menghadap kebelakang.

"Kok gak ada?" Tanya Alfred heran. Alfred-pun menghadap kekaca lagi. Disana terlihat kakek-kakek sedang duduk sambil minum kopi dan baca koran. "Setan apaan tuh, gak hero sama sekali!" Ucap Alfred.

Kakek-kakek itu mendengar perkataan Alfred lalu memandangi Alfred seakan memanggilnya kedalam kaca itu. Tangan kakek itu melambai-lambai kearah Alfred, Alfred yang melihatnya mendekati kaca itu. Sesaat sebelum Alfred meloncat kearah kaca itu Ivan mencegahnya.

"Bodoh! Bagaimana kalau kau tidak bisa kembali da?" Tanya Ivan pada Alfred. Alfred hanya diam membisu.

Melihat Alfred yang tidak jadi masuk kedalam kaca itu, sosok kakek itu mendekati Alfred dan Ivan. Ivan yang melihat sosok kakek itu mendekat langsung lari sambil menyeret Alfred. "Alfred, cepetan lari!" Ucap Ivan panik untuk pertama kalinya.

"Apaan sih, jangan tarik-tarik! Gak hero!" Balas Alfred, lalu ia berlari lebih kencang dibandingkan Ivan.

"Da?" Gumam Ivan.

Sementara itu, sosok kakek-kakek itu sweatdrop melihat Alfred dan Ivan yang lari-larian kayak kabur dari tukang tagih utang. "Kok lari sih? Saya itu mau nanya, toiletnya dimana." Gumam sosok kakek itu lalu menghilang.

Kembali ke Alfred dan Ivan….

Disaat seru-serunya mereka berdua lari-lari-an. Ivan tiba-tiba berhenti, mukanya menunjukan kalau dia sedang bingung.

"Kenapa Van?" Tanya Alfred merinding. Bulu kuduknya naik semua.

"Tadi…Lilinnya udah dimatiin belom da?" Tanya Ivan.

Mereka bengong selama 5 detik…

5

4

3

2

1

"GAWAT!" Teriak Alfred dan Ivan lalu berlari kembali menuju ruangan yang tadi. Sesampainya diruangan itu, mereka langsung mematikan lilin-lilin itu.

Tiba-tiba dikaca muncul sesosok kakek-kakek yang tadi. "Ah, kalian muncul lagi. Kangen ya sama saya? Hehehe, eh ngomong-ngomong—" Belum selesai melanjutkan kata-katanya Alfred dan Ivan langsung kabur terbirit-birit.

"HUWAAAA!" Teriak mereka berdua.

"Ya ampun. Orang pengen nanya toiletnya dimana, nanti bocor nih. Mana gak bawa pampers lagi." Keluh sosok kakek itu lalu menghilang lagi.

Alfred dan Ivan sudah sampai didepan pintu masuk bangunan tua itu. "Hah…hah…hah…"

"Kenapa ngos-ngosan gitu aru?" Tanya Yao.

"Mau tau? Lo keatas, terus nyalain lilin disetiap ujung gambar bintang." Jawab Alfred.

"Idih, ogah aru!" Balas Yao.

"Dari pada itu, handycamnya?" Arthur meminta handycamnya dari Ivan. Ivan memberikan handycam itu. Semuanya masuk kedalam mobil Francis lalu melihat video itu.

Disana terlihat keadaan bangunan tua itu. Sangat kotor, sangat angker. Sampainya diruangan yang ada kacanya, Ivan membuat gambar bintang dan blablabla. (Tau sendiri kan mereka ngapain)

Satu jam kemudian hantu itu baru muncul. Tapi tidak terlihat dengan jelas, karena saat hantu itu muncul handycamnya menjadi buram-buram gitulah~. "Ini handycam kenapa sih?" Arthur memukul-mukul handycam itu, tapi video itu tetap saja buram.

"Udah biarin aja, lagian videonya udah dapet. Yang penting sekarang kita harus cepat-cepat pulang aru!" Ucap Yao

"He? Kenapa kau Yao?" Tanya Francis.

"Liat bangunan itu. Liat jendela dilantai duanya!" Perintah Yao sambil menunjuk bangunan tua itu. Ia lalu memejamkan matanya, tidak berani melihat kearah bangunan itu.

"Emang ada apaan da?" Tanya Ivan. Mereka semua (minus Yao) melihat kearah jendela dilantai dua bangunan itu. Disana terlihat seorang kakek-kakek berbaju putih yang sedang melambai-lambaikan tangannya.

"Itu…Se-Se…SETAN!" Teriak semua Allied Force (minus Yao yang sedang menutup telinganya). Francis langsung menggas mobilnya lalu pergi dari tempat itu.


-To Be Continued-


A/N: Bersambung ke chapter 5~...tebak aja sendiri hantu apa yang akan muncul berikut.a #ditampol. Kalo gilirannya pada udah tau kan. Okelah, saya akhiri chapter ini dengan kata-kata khas saya...NICE ONE~...Salah, maaf maaf -_-"..Saya ulangi:

Bagi readers yang baik hati, rajin menabung, tidak sombong, dan suka berbohon #ditendang# review fict ini oke ;)