A/N :
Btw, di chapter 2 kemarin banyak banget yg ngasi saran kalo tag dialognya mending pake yg baku aja. Overall, makasi semuanya atas saran2 kalian. Seneng deh hehe, kek dapet perhatian gitu, heheh.
Dan itu semakin buat aku galau; dilema; bingung.
Bukan masalah mau pake dialog baku/non baku. Jujur aja, aku masih tetap kekeuh sama yg non baku. Hanya saja, aku bingung mau pake setting tempat apa? Luar negeri/Indonesia? Bahkan, aku sempat mau ganti mata uang dollar di chapter 1 menjadi rupiah.
Dan sialnya, sampe sekarang aku juga belum nentuin yg mana. HAHA!
Tapi dari pada kalian menunggu lama, jadi aku tetap lanjutin aja fic ini selagi berpikir utk mengambil keputusan.
So, nikmatin aja dulu yg ada ya..
Sekedar info : ini private chapter
Check it out!
..o0o..
"Aku tidak menyangka, kamu memilih untuk menyelesaikan masalah kita di dalam kamar." Guratan urat di wajah Sasuke mengencang, ia mengacak rambutnya naik-turun. "Tadi itu aku hanya bercanda!"
Kedua tangan Sakura bekerja untuk menggulung rambutnya, sementara kedua matanya masih tertuju pada Sasuke. Ia bicara setelah ikat rambut itu berpindah dari bibir ke tangannya. "Katanya kamu tadi, mau ngajarin aku? Daripada teman kamu yang suka senyum-senyum nggak jelas itu ganggu, kupikir, mending kita berdua di dalam kamar aja."
"Gila!" seru Sasuke berdiri di samping single bed, tempat Sakura duduk berselonjor kaki. "Maumu apa, sih?"
Gerak tubuh Sakura berhenti, rambutnya sudah tertata dengan rapi. Ia menatap Sasuke, sendu. Kilau mata hijau di antara bias lampu tidur, bersinar redup. Sakura meraih satu tangan Sasuke yang menggantung di sisi tubuhnya. "Mauku itu, kamu."
Sasuke bisa merasakan permukaan halus telapak tangan Sakura menyalurkan desiran aneh yang membuatnya ingin menggenggam erat-erat jemari itu. Sasuke menatap sengit, Sakura tersenyum lembut—senyum yang belum pernah Sasuke lihat—membuatnya ingin menjatuhkan bibirnya di atas sana.
"Aku kesepian..."
Pada detik itu juga, Sasuke sudah meremas tangan mungil Sakura dalam genggamannya. Bagaimana bisa gadis secemerlang Sakura merasa kesepian, sementara gadis itu memiliki segalanya? Ingin sekali, Sasuke menjelajahi kehidupan Sakura yang masih tabu baginya. Kehidupan gemilang yang selalu dipuji oleh orang-orang—si anak dari seorang konglomerat—karena kekayaan, paras cantik, prestasi serta sifat supelnya yang kerap kali membuat setiap orang merasa nyaman saat berada di dekatnya. Sasuke ingin tahu itu, ia ingin lebih mengenal Sakura semenjak waktu itu.
"Kau..." Ia duduk di atas kaki Sakura yang berselonjor, memangkas jarak di antara keduanya, napas mereka beradu. "Kau tahu? Jika kita berdua melanjutkan ini? Kau pasti mengerti apa akibatnya jika kita terlibat lebih jauh dari sekedar berciuman bibir? Kau tahu 'kan, Sakura?"
"Uhm," gumam Sakura main-main, "Klimaks? Orgasme?"
Sasuke mendengus lemah dan menggeleng kecil. "Fuck!"
"Trus, apa?"
Emosi Sasuke meluap hingga ke ubun-ubun, kepalanya berdenyut menyesakkan. Bisa-bisanya Sakura meremehkan harga dirinya sendiri. Sasuke pikir, wanita itu sudah sepatutnya untuk dihormati, bukannya barang tak hidup yang seenaknya bisa disentuh sana-sini.
Tetapi, beda lagi kasusnya jika wanita itu sendiri yang menyerahkan dirinya di bawah laki-laki. Sasuke mana tahan, ia juga lelaki normal yang libidonya bisa meningkat jika sedikit saja si wanita membuat percikan syahwat untuk dirinya.
Fucking situation!
"Kau tahu apa yang akan terjadi jika aku melakukan ini?" ujar Sasuke, salah satu tangannya menangkup wajah Sakura. Ia mulai menciumi seluruh wajah gadis itu sebelum berakhir di bibir mungilnya.
"Apa kau tidak takut jika aku melakukan ini?" Bibir Sasuke mulai turun ke bawah telinga Sakura—memberi kecupan kecil.
Sakura meringis saat ia merasa lehernya tersengat oleh gigitan kecil Sasuke. Dan ia yakin, pria itu pasti banyak meninggalkan bekas di sana. Ia meletakkan kedua tangannya di atas bahu Sasuke, sedikit mendorong meski percuma. Sasuke semakin bergerak cepat di lehernya.
Di tengah aktifitas itu, Sasuke bergumam, "Masih tidak takut?"
Meski mata Sasuke tidak melihat langsung, tetapi ia bisa tahu, apa jawaban Sakura saat rambut gadis itu bergerak menggelitik di wajahnya. Pasti gadis itu menggeleng yang berarti, tidak. Sakura tidak takut oleh perlakuan Sasuke terhadapnya.
Itu membuat Sasuke menggeram di sela aktifitasnya mencumbui Sakura. Dengan gerak cepat, ia mendorong tubuh Sakura—membuat gadis itu berbaring di bawahnya.
Tidak dapat dibohongi, Sasuke melihat pancaran ketakutan dari kedua bola mata Sakura. Gadis itu menatapnya seolah ia adalah hewan buas yang siap menerkamnya kapan saja. Keringat mengalir di pelipis Sakura, entah kenapa atmosfer dalam ruangan itu menjadi sangat panas. Termasuk posisi mereka saat ini, Sakura berada di bawah Sasuke. Jelas sekali bahwa itu adalah posisi paling panas yang pernah ia lakukan bersama pria itu.
"Jangan bohong," ujar Sasuke seraya menatap wajah gusar Sakura. Ia sedikit merunduk dan bibirnya berhenti di samping telinga gadis itu. Sasuke berbisik seksi, "Kamu ketakutan, Mungil."
Kedua mata Sakura nyaris membulat, degup jantungnya sudah tidak bisa lagi menerima perintah kinerja otaknya untuk tenang.
Sial, kenapa bisa Sakura terperangkap dalam sangkar buaya macam Sasuke? Situasi ini terlalu berbahaya tetapi membuat Sakura merasa seperti sedang berselancar di tengah ombak besar—menegangkan dan membuat penasaran. Akankah ia mendapatkan akhir yang memuaskan? Sakura tak pernah merasa sangat tertantang seperti ini.
"Aku tidak takut!" sahutnya parau, "Atau malah sebaliknya kau yang takut, Sasuke."
Pria itu terdiam di samping kepala Sakura. Tangan kirinya yang ia gunakan untuk menumpu tubuhnya agar tidak menempel pada Sakura, meremas bantal di sebelah kepala gadis itu.
Sasuke mengangkat kepala, menatap Sakura di bawahnya. Kali ini dengan tatapan yang lebih sengit. Mungkin jika mata Sasuke seumpama pedang, maka sekarang kepala Sakura sudah bisa ditembus oleh tatapan itu hingga ke belakang bantalnya.
Sasuke berkata, "Jelas hubungan ini hanya sebatas napsu birahi, tidak ada cinta sama sekali. Dan aku, adalah orang yang tidak mau melakukannya atas dasar itu."
Sakura tersenyum miring. "Cinta?" ujarnya licik, "Aku cinta kamu, Sasuke."
"Konyol," sarkas Sasuke tidak percaya, "Kamu bahkan baru tahu namaku kemarin."
"Tapi aku sudah menyukaimu sejak aku sering datang kesini!"
"Kamu aja baru sebulan ini ke kelab, itupun Sasori selalu mengekor di belakangmu."
Sasuke kembali bangkit dan duduk di tepi tempat tidur. "Dari situ aku paham, kalau kamu bukan wanita murahan. Kamu mengabaikan Sasori yang justru lebih ngejar-ngejar kamu. Tapi sekarang? Kenapa kamu mau membiarkan aku seenaknya sama tubuh kamu?"
"Sudah kuperjelas 'kan? Aku suka sama kamu." Sakura ikut duduk tegap di belakang tubuh Sasuke. Ia tidak tahu bahwa punggung Sasuke begitu lebar. Sudah berapa wanita yang telah ditaklukkan oleh pria ini? Pesonanya begitu menakjubkan dengan segala kelebihan yang Sasuke punya. "Dan aku yakin, kamu tidak akan membuang wanita seperti aku, 'kan?" lanjutnya.
Sasuke menoleh ke belakang, ia dapat melihat raut wajah terpana Sakura. Mungkin gadis itu sedang mengagumi ketampanannya.
Sasuke berkata, "Tidak sembarang wanita yang bisa menghabiskan satu malamnya bersamaku."
Dengan gerak cepat, Sasuke sudah menyerang bibir Sakura lagi, bermain dalam rongga mulut Sakura. Gadis itu menahan napas lalu menutup mata. Sensasi ciuman Sasuke membuatnya melambung tinggi seperti akan terbang ke langit malam.
Bertukar saliva, merasa panas bersama, penuh emosi dan hasrat. Malam ini adalah malam terdahsyat yang pernah Sakura rasakan. Tidak pernah sekalipun ia dibuat sebegitu melayang oleh pria lain sebelum ia mengenal Sasuke kemarin malam.
Sebulan terakhir adalah waktu yang cukup bagi Sakura memerhatikan pesona pria itu dari kejauhan. Bukan tanpa alasan ia menghabiskan malam-malam liarnya di kelab itu. Selain, membuang rasa kesepiannya karena pengabaian oleh orang tua satu-satunya. Tetapi karena Sasuke-lah, ia ingin setia mendudukkan diri di tengah gemerlap cahaya lampu disko yang memekakkan mata, bermain-main dengan alkohol serta menjadi pusat perburuan laki-laki berengsek—khas kelab malam.
Itu semua demi bisa mengenal Sasuke barang semalam saja.
Dan malam ini, Sakura mendapatkannya. Sasuke yang telah menyatu dalam dirinya, membuat Sakura lupa akan masalah sialan dunia yang selalu membuat batinnya tersiksa.
Terlalu terbuai oleh kenikmatan dunia, Sakura bahkan melupakan konsekuensi dari apa yang telah ia lakukan. Sebelumnya, Sasuke sudah bertanya 'Apa kau tidak takut jika aku melakukan ini?'. Lalu dengan bodohnya, Sakura mengabaikan itu.
Sudah sangat jelas apa maksud Sasuke di sini. Sebab akibat yang akan gadis itu terima jika ia melakukan seks bersama pria seperti Sasuke. Pria yang ia dapati dalam gemerlap dunia malam yang pintar mengelabui. Bagai ilusi yang menawarkan kebahagiaan, namun nyatanya mampu menjerumuskan orang-orang yang semula bersih menjadi kotor.
Bagaimana jadinya jika publik tahu, jika seorang anak dari seorang CEO perusahaan go public—Haruno Mebuki—telah melakukan hubungan di luar nikah bersama laki-laki yang tidak jelas asal-usulnya? Tentu saja hal itu akan menjadi angin ribut bagi nama baik maupun karir Sakura bahkan ibunya.
Namun sekali lagi, Sakura mengabaikan resiko yang telah ia ambil. Saat ini yang ada di kepalanya justru seputar pria yang saat ini telah merubah dirinya dari status perawan menjadi wanita. Yang saat ini bergerak di dalam tubuhnya.
Jika Sasuke berkata bahwa pria itu tidak akan sembarangan memilih wanita untuk menghabiskan satu malam bersamanya, dalam artian melakukan apapun di malam itu. Lalu, kenapa sekarang justru Sasuke menyentuh Sakura? Kenapa pria itu menggaulinya?
Satu erangan kenikmatan lolos dari mulut Sakura saat Sasuke menarik diri dari dalam tubuh gadis itu. Yang membuat Sasuke meringis, sedikit menyesal karena ia menganggap dirinya telah menyakiti Sakura.
Satu tangan Sakura bergerak membelai satu sisi wajah Sasuke yang berkeringat. Napasnya terdengar putus-putus. "Kenapa ... kau melakukan ini?" ujarnya lemah.
"Maaf."
Sakura menggeleng kecil, "Tidak! Maksudku kenapa kamu mau melakukannya denganku? Sementara kamu tadi bilang kalau kamu tidak akan sembarangan memilih wanita yang akan kamu ajak melakukan seks."
Sasuke menatap lembut Sakura sebelum mengecup kelopak mata gadis itu. "Dua tahun...," sahutnya.
"Dua tahun adalah waktu yang cukup lama untuk menyadari bahwa ... hanya kamu satu-satunya wanita yang bisa membuatku susah tidur sepanjang malam karena selalu memikirkanmu, Haruno Sakura."
...(っ﹏c)TBC
A/N :
Cieee, yang ngarepin adegan 'ena-ena' tapi ga dapet trus memble seksi gitu..
Hehehe, maaf, ya! Aku emang ga berniat untuk mendetail adegan itu mengingat ini fic peminatnya juga banyak anak di bawah umur, padahal udah diberi warning 'konten dewasa' eh masih ajah. Jadi rada implisit aja gitu aku nulisnya, hehe.
Mengingat pengalaman di chapter2 sebelumnya dan aku baru tau kalo beberapa yg kukenal dan masih sekolah, ternyata baca cerita ini juga. Bukan ga suka kalian baca ini, hanya saja aku ga mau jadi penyebab naiknya syahwat kalian, haha Jadi, maaf bagi yg menunggu adegan itu tapi ternyata ga ada. Lagipula niatku bikin cerita ini bukan untuk ngajarin yg nggak2 kok, hehe.
Tapi mau berbagi pendapat aja, kalo setiap apa yg diperbuat seseorang itu pasti memerlukan tanggung jawab. Apalagi melakukan seks di luar nikah, itu jelas-jelas ga boleh ya genks!
Dan disini aku mau berbagi aja kalo akibat dari hubungan seperti itu resikonya ga main2. Buruk; fatal! Sebab-akibat dari hubungan terlarang itu apa! Gitu lho! Jadi jangan mikirin 'ena-ena' aja manteman. Tobatlah, tobat! (っ﹏c)
Dan juga sebab-akibat dari terjadinya hal semacam itu apa?! Kuharap, kalian para readers bisa menyimpulkannya sendiri dalam cerita ini.
Btw, makasi semua yg udah nunggu updatenya cerita ini, ngasih vote dan comment. Berarti banget, tauk :')
Udah ah pamitan dulu!
Dapet salam tuh dari babang Sasuke. Katanya, 'Yang kasih vote mau dicium do'i satu2' 乀(ˉεˉ乀)
Babay, lop yu 3
