Dia bergerak lemah, menggeliat sedikit ke kanan dan ke kiri. Kain yang membalut tubuhnya memang harus kuat untuk menopang semua gerakannya. Matanya terpejam, beberapa kali bibirnya bergerak mencecap. Dia begitu ringkih, begitu lembut dan hampir pecah seperti porselen. Siapapun ingin melindunginya, siapapun ingin memberikan kebahagiaan untuknya, siapapun..

"Dia sangat cantik, akan tumbuh menjadi seorang gadis mungil yang cerdas dan banyak membawa kebahagiaan untuk kita. Iya kan Yesung Hyung?"

"Geurae Wookie-ah, kita harus terus mendampingi mereka berdua. Sungmin dan anak ini membutuhkan kita"

Dua lelaki itu perlahan berlalu, meninggalkan seorang bayi bersama temannya yang lain di ruang khusus. Mereka hanya bisa melihat dari balik kaca tebal namun cukup jelas, cukup jelas untuk melihat bayi mungil berambut hitam legam. Dia berbeda, Wookie melihatnya begitu bersinar. Begitu banyak hasil kesabaran yang terlukis di wajahnya, begitu banyak hasil rasa sakit dan penderitaan orang yang melahirkannya di sana.

Tapi dia sungguh berhak untuk bahagia.

.

.

Sungmin melahirkan. Belum genap 36 minggu saat dia merasakan sakit yang luar biasa. Operasi itu berlangsung cukup lama karena Sungmin sangat lemah. Wookie dan Yesung tidak berhenti berdoa dan bersyukur saat lampu ruang operasi dimatikan dia melihat senyuman yang tersungging dari Dokter Wu. Sungmin dan bayinya selamat.

Selama satu minggu Sungmin beristirahat tanpa melihat bayinya. Sesekali beberapa perawat mempersilahkannya untuk melihat, namun Sungmin menolak dengan alasan dia masih belum sembuh.

Hanya Yesung dan Wookie yang setia menemani bayi mungil itu. melihatnya menangis seolah merindukan Sang Ibu untuk datang. namun keduanya tidak bisa melakukan apapun. Sungmin hanya berdiam diri sepanjang hari. entah apa yang ada di pikirannya.

"Tuan Sungmin, ini bayi anda"

Sungmin hampir menguasai bahasa mandarinnya. Beberapa bulan berada di sini membuatnya perlahan mengerti, meskipun dia hanya berada di dalam rumah sepanjang hari. Yesung begitu baik padanya, dia yang membayar semua biaya hidup mereka bertiga selama di China. Yesung memang anak orang yang berada, Dia dan Wookie sudah menikah beberapa bulan setelah mereka pindah. Wookie menjaga Sungmin setiap hari, mengantisipasi kejadian yang tidak diharapkan seperti beberapa bulan lalu saat Sungmin mencoba bunuh diri. Yesung bekerja di cabang perusahaan ayahnya yang berada di China. Yesung juga yang mengenalkan Sungmin pada Dokter Wu, dokter yang selama ini cukup membuatnya kuat menjalani semua masa kehamilannya.

"Sungmin Hyung, lihat siapa yang aku bawa"

Sungmin menoleh sebentar saat Wookie menggendong seorang bayi yang berada di box dorong. Sungmin hanya menatapnya dengan lekat.

Apa kau banyak mewarisi wajah ayahmu?

Apa kau banyak mewarisi sifat ayahmu?

"Hyung, kau tidak ingin menggendongnya? Dia ingin sekali bertemu denganmu Hyung" kata Wookie lagi sambil mendekat hingga Sungmin perlahan mengangkat tangannya. Bayi itu berpindah tangan.

Kau sangat mirip dengannya, lalu bagaimana aku bisa melupakannya?

"Dia.. dia cantik sekali"

Bayi itu membuka matanya, akhirnya setelah hampir lima minggu. Menatap Sungmin seolah dia sudah bisa melihat siapa yang ada di depannya dengan jelas. Sungmin meneteskan air matanya.

"Akhirnya kau datang.."

"Dia sangat mirip denganmu Sungmin-ah. Lihat, bibir dan matanya. Hidungnya begitu mancung. Rambutnya juga hitam. Dia sangat cantik" tambah Yesung yang sedang berdiri di samping Wookie.

"Kau sudah menyiapkan namanya Hyung?"

"Dia hanya akan memakai margaku Wookie-ah" jawab Sungmin pelan

"Aku tahu itu, aku dan Yesung Hyung sudah beberapa kali berfikir soal ini. bagaimana jika Lee Sunkyu?"

Sungmin sedikit tersenyum tipis, sangat tahu dari mana asal nama itu "Baiklah itu saja"

"Kau serius Hyung?"

"Sunny. Aku akan memanggilnya Sunny"

.

.

.

"Emmpph..Kyuhyun, hentikan sebentar. Kau selalu seperti ini, baru saja datang sudah menyerangku. Untung saja aku bukan yeoja. Jika ya, mungkin aku sudah hamil"

"Kalaupun sekarang kau sungguhan hamil. Aku akan sangat bahagia. Aku akan menyiapkan nama untuknya. Namanya harus perpaduan namaku dan namamu karna.. dia adalah buah penyatuan cintamu dan cintaku"

"Gombal, lepaskan!"

"Tidak sebelum aku memakanmu lagi"

"Kau seorang psikopat huh?"

"Dan kau seorang masokis huh?"

Sungmin tersenyum tipis. Kenangan itu tiba-tiba saja terputar di kepalanya. Dan sebentar lagi dia akan menangis. Benar saja, saat semua babak percintaannya dengan Kyuhyun terputar lagi. rasanya mati adalah pilihan yang tepat. Selalu seperti itu, menyakitkan seperti ini.

"M-ma..P-pa"

Sungmin mengusap air matanya saat bayi sepuluh bulan itu menyentuh wajahnya. Dia tersenyum lucu. "Kau bicara padaku?" ucapnya bahagia

"M-ma..Ppa.."

"Ah, kau sangat pintar. Kupikir aku adalah ibu juga ayahmu. Kau mau memanggilku M-ma? Momma?"

"M-ma.."

"Baiklah, Momma. Kau juga akan kuajarkan bahasa inggris. Jadi kau boleh memanggilku Mommi. Kau suka? Mommi"

"M-mi.."

"Kau sangat pintar"

.

.

.

Kim Kyuna Present

Lee Sungmin, Cho Kyuhyun, and Lee Sunkyu

"Home, Love, Family"

A YAOI, MPREG Love Fanfiction

Rate: T

Cast: Occasionally added as per usual

Author's Note: You're the one who dragged yourself into my fantasy garden, dont ever blame me or others for all containing this fic. Kyuhyun and Sungmin are geneticly programmed to find each other. This fic is belong to me.

I warned you for yaoi and mpreg contain, so better out from here if you dont like it, okay.

Happy reading

Chapter 4

.

.

.

*present time*

"Tunggu sebentar Hyung, lima menit saja. Aku harus kembali sebentar"

"Wae? Ada yang tertinggal?" tanya Heechul yang baru saja akan membuka pintu mobilnya.

"Sebentar saja"

Sungmin..

Apakah itu kau? apakah kau Sungmin-ku?

Kyuhyun sedikit berlari hingga dia sampai di depan ruang kepala yayasan. Pria paruh baya itu keluar kembali menyambut Kyuhyun yang tampak terengah-engah.

"Ada apa Kyuhyun-ssi? Ada yang tertinggal?" tanya Ketua Yayasan

Kyuhyun tampak terengah-engah sebelum menjawab "Apakah.. apakah orang tua Sunny bernama Lee Sungmin?"

"Iya, Tuan Lee sudah pulang bersama Sunny. Baru saja"

Sial.

Kyuhyun lupa mengucapkan sepatah katapun setelah itu, dia berlari menuju parkiran utama yayasan. Mencari sosok yang mungkin saja masih ada di pelataran parkir. Namun nihil, sepanjang matanya memandang tidak ada satu orang pun di pelataran parkir. Hanya ada beberapa mobil tersisa di sana.

"Kau kenapa Kyuhyun?" tanya Heechul setelah berhasil menemukan Kyuhyun.

"Hyung, kurasa.. kurasa Sungmin adalah orang tua Sunny"

"Kau gila"

"Nama orang tua Sunny adalah Lee Sungmin" sungut Kyuhyun coba meyakinkan

"Kau bodoh? memangnya di dunia ini hanya ada satu nama Lee Sungmin? huh? Lagipula Sunny berkata kalau dia datang bersama ibunya. Ayolah, kita hampir terlambat. Kau mau aku terkena skorsing akibat dianggap menyelundupkanmu?"

Dia bilang dia datang bersama Momma-nya

Apakah itu sungguhan Lee Sungmin?

.

.

.

"Aku pulaaaang"

Sunny masuk ke dalam kafe dengan wajah yang ceria, beberapa pengunjung ada yang tersenyum lucu ke arahnya. Wookie keluar dari meja kasir lalu menghampiri Sunny. Memeluknya erat.

"Wah, bagaimana acaramu sayang? pasti menyenangkan. Apa donatur yayasanmu baik?" tanya Wookie

"Dia kesukaaanku Ahjussi, Cho Kyuhyun"

DEG

Saat itulah Wookie baru menoleh ke arah Sungmin. Sungmin tampak terlalu rumit untuk dijabarkan. Mungkin memang suasana hatinya sedang kacau. "Sungmin Hyung.. dia.."

"Aku harus pindah secepatnya Wookie-ah"

"Jangan Hyung, sudah saatnya Sunny mengetahui soal ini" tolak Wookie dengan cepat

"Momma terus diam, ada apa Momma? Momma benar-benar tidak suka dengan Tuan Cho? Dia baik sekali padaku, dia juga bertanya tentang Momma. Kubilang Momma bisa bermain gitar" celoteh Sunny lagi.

Sungmin mengusap kepala Sunny dengan lembut "Tidak ada, ganti bajumu ya? lalu kerjakan tugas sekolahmu sebelum makan malam"

Sunny menurut meskipun agak kecewa dengan respon Sungmin yang tidak menjawab pertanyaannya. Sungmin menarik nafas panjang.

"Kalian bertemu?" tanya Wookie tidak sabar.

"Tidak, aku melarikan diri lewat pintu belakang" jawab Sungmin sambil meletakkan barang bawaan Sunny.

"Hyung, sampai kapan kau terus menghindar. Apa dia tahu itu kau?"

"Entahlah, bukan begitu Wookie-ah. Sunny.. "

"Dia harus tahu siapa ayahnya Hyung" kata Wookie lagi mencoba meyakinkan Sungmin jika melarikan diri lagi sungguh bukan solusi yang terbaik.

"Tidak. Dia pun tidak akan mengakuinya."

"Kita harus pindah kemana lagi Hyung? Apa kau tidak kasihan pada Sunny? Sejauh apapun kau berlari, Kyuhyun akan tetap menemukanmu"

"Kau bicara seolah aku yang pergi meninggalkannya. Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi, aku tidak ingin kembali ke masa dimana aku terpuruk mengharapkannya datang tapi dia tidak pernah mendengarku. Aku tidak ingin lagi dikhianati. Kau tidak tahu sakitnya. Tidak sama sekali."

"Hyung..."

"Katakan pada Yesung Hyung, aku akan secepatnya pergi dari Korea"

.

.

.

"Kyuhyun, kau mau kemana?" Heechul sedikit berlari mengejar Kyuhyun yang baru saja keluar dari kantor agensinya.

"Aku akan pergi ke kafe itu Hyung" jawab Kyuhyun sambil membuka pintu mobilnya

"Kau baru saja sampai dari Busan"

"Dia bisa saja pergi lagi"

"Ya Tuhan, kau yakin sekali kalau Lee Sungmin yang kepala sekolah maksud itu adalah Lee Sungmin-mu"

"Setidaknya aku harus membuktikan dengan mata kepalaku sendiri. Kau ikut atau tidak?"

"Tentu aku tidak akan melewatkan ini"

Kyuhyun sungguh-sungguh tidak bercanda dengan semua kata-katanya. Namja itu seakan tidak lelah sama sekali atas semua schedule-nya yang padat. Mobil dilajukan dengan kecepatan cukup tinggi seakan tidak ingin tertinggal satu hari pun dari semua pencariannya selama lima tahun ini.

Aku pasti menemukanmu Min. Kau tidak akan pernah bisa bersembunyi dariku.

"Baiklah, jika memang benar dia adalah Lee Sungmin yang kau cari, apakah kau akan menerima semua kenyataannya? Bagaimanapun juga dia sudah memiliki anak sekarang" kata Heechul lagi

"Aku sangat percaya apa yang aku percaya selama ini Hyung"

Mereka sampai.

Toko hampir tutup karena ini sudah lewat dari jam sembilan malam. namun lampu-lampu masih menyala. Kyuhyun turun dari mobil dengan tergesa hingga Heechul merasa perlu menahannya sebentar.

"Kyuhyun, jujur aku memiliki firasat buruk soal ini, jadi bisakah aku masuk lebih dulu? Ini untuk kebaikanmu."

"Aku bukan ingin merampok toko seseorang Hyung, aku hanya ingin melihat orang tua Sunny"

"Aku mengerti tapi apakah mereka juga akan mengerti. Ini sudah malam. Dengar, kau itu artis papan atas. Ini semua akan berpengaruh pada reputasimu. Jadi biarkan aku yang masuk lebih dulu dan kau menyusul dari belakang. Mengerti?"

Kyuhyun menarik nafas sebentar. "Oke"

.

.

Sungmin sedang menyisir rambut Sunny. Pikirannya terus berkecamuk atas kejadian siang tadi. Sungmin, Wookie, dan Yesung belum membahas soal ini lagi. Sungmin tahu kata-katanya begitu keras, namun semua hal seakan berubah menjadi kacau setiap kali dia teringat tentang Kyuhyun. Demi Tuhan, Sungmin tidak ingin kembali lagi ke masa dulu. Dia begitu ingin menghapus bagian itu dari hidupnya.

"Momma, Apa Siwon Ahjussi akan datang?"

"Hmm, dia akan mengajak kita menginap malam ini karena besok kau libur Chagi"

"Mengapa Momma terlihat sedih? Apa aku nakal hari ini?"

Sungmin tersenyum lebar lalu mengecup kening Sunny dengan lembut. Mengelus rambutnya pelan "Aku baik-baik saja Sunny-ah dan hari ini kau sangat hebat. Kajja kita turun"

Sungmin membawa Sunny dalam gendongannya turun ke kafe. Dilihatnya Wookie dan Yesung sedang membereskan beberapa sisa kesibukan di kafe seharian tadi. Suasana sedikit kaku.

"Ahjussi, malam ini aku akan menginap di rumah Siwon Ahjussi" celotehnya riang

"Ah, benarkah? Kau jadi menginap di sana Hyung?" tanya Wookie sedikit kaku

"Hmm, mungkin aku akan pulang besok. Aku titipkan kafe pada kalian berdua " jawab Sungmin dengan singkat

"Jika kau sungguhan akan pergi. Kami sudah memutuskan untuk ikut pergi bersamamu Sungmin-ah. Bagaimana pun juga kita sudah sejak dulu bersama. Aku dan Wookie tidak akan membiarkan kau tinggal sendirian"

Sungmin baru saja akan menjawab ucapan Yesung sebelum namja itu kembali melanjutkannya "Dan karena kau tidak pernah suka dibantah, kali ini aku dan Wookie pun akan melakukan hal yang sama"

Sungmin tersenyum sebal "Maafkan aku Wookie-ah, Yesung Hyung.. aku hanya.."

TRING!

Wookie berbalik, kafe sudah hampir tutup dan tidak menerima pelanggan lagi "Oh, Sungnim maaf.."

"Tuan Cho? Momma.. itu Tuan Cho"

Aku tahu sekali itu kau karna semuanya menjadi berhenti berputar. Aku tahu benar itu kau karna mendadak semua yang sudah kucoba lupakan kembali ke peraduannya, merampok semua kenangan indah yang kupakai untuk mengubur semua tentangmu. Aku tahu itu kau karena selama ini semuanya masih melekat di dalam diriku. semuanya. Kau sangat jahat bukan?

"Sungmin..Lee Sungmin.."gumam Kyuhyun pelan. Matanya berair. Bagaimana tidak? apa yang ada di pikirannya benar. Sungmin masih di Korea dan tentu mereka akan bertemu suatu saat.

Ryewook dan Yesung tidak bisa berkata apapun saat Kyuhyun mendekat ke arah mereka. terlebih saat Sunny memeluk Kyuhyun dengan erat. Sungmin hanya memandang mereka berdua, tubuhnya bergetar hebat. Namun dia berusaha bersikap seakan mereka berdua bukan ayah dan anak yang saling bertemu di depan matanya.

Kalian sangat mirip..

Kalian begitu mirip..

Bagaimana kalian bisa memiliki tatapan penuh intimidasi yang begitu mirip?

"Hyung, Gwaenchana?" tanya Wookie pelan seraya merangkul Sungmin.

"Aku tidak tahu jika selama ini kalian tinggal bersama. Apa yang terjadi Min?" tanya Kyuhyun sambil mendekat.

Min..

Kumohon hentikan semua ini

.

.

.

Sungmin bisa mendengar tawa Sunny dari dalam kafe, dia sedang bermain dengan Heechul, Wookie, dan Yesung. Meninggalkan mereka berdua yang sedang berbicara di bagian dalam rumah. Kyuhyun menyentuh boneka kecil milik Sunny. Ada banyak kehangatan yang dia rasakan. Entah apa itu, terlebih ada Sungmin sekarang di dekatnya.

GREP~

"Aku mencarimu Min, selama lima tahun aku mencarimu. Kau kemana saja? Apa yang terjadi?" tanya Kyuhyun tepat di telinga Sungmin, Kyuhyun mendekapnya dari belakang dengan erat.

Sungmin melepaskan diri dari dekapan Kyuhyun, dia menarik nafas panjang "Tidak ada apa-apa. Kau tidak perlu mencariku" jawab Sungmin dengan cepat, namun Kyuhyun menarik tangannya hingga dia berbalik menghadap Kyuhyun. Sungmin menghindar dari tatapan Kyuhyun.

"Bagaimana mungkin aku begitu? Hei, lihat aku Min"

"Lepaskan aku!" ucap Sungmin sedikit keras.

"Apa yang terjadi? Mengapa kau pergi dariku? Mengapa tidak menungguku? Kau bahkan sudah berjanji akan menungguku pulang" tanya Kyuhyun sekaligus. Mimiknya begitu cemas, terlebih Sungmin yang ada di depannya begitu berbeda.

"Aku sudah menunggumu, sampai lelah sendirian. sampai aku merasa semua ini tidak ada gunanya. Jadi kuputuskan untuk pergi darimu"

"Kau.." Kyuhyun kehilangan kata-katanya. Ada banyak bagian dari cerita Sungmin yang sungguh dia rasa sebuah kebohongan. "Lalu.. apa benar kau orang tua Sunny?"

"Iya, dia anakku" jawab Sungmin singkat

"Kau sudah menikah?"

"Sudah"

"Mana istrimu?"

"Bukan urusanmu Kyuhyun"

"Tidak, kau harus menjelaskan semuanya padaku" kilah Kyuhyun

"Untuk apa?"

"Karna aku masih memegang janjiku sampai sekarang Min dan kau pergi begitu saja. Aku mencarimu selama ini dan kini kau sudah punya seorang anak. Bagaimana aku bisa begitu saja menerima semua ini?"

"Kukira kau juga akan menikah dengan orang lain, sesama artis agency-mu mungkin"

"Apa yang kau bicarakan?" tanya Kyuhyun tidak mengerti

"Cho Kyuhyun, maaf jika memang menurutmu kau masih memegang janjimu tapi bagiku janji itu sudah tidak pernah ada. Aku sudah mempunyai keluarga sekarang jadi kumohon untuk kita hidup dengan takdir kita masing-masing saja"

"Semudah itu Lee Sungmin? Tidak akan. Aku akan mencari tahu semua hal yang terjadi selama kita berpisah"

"Aku tidak peduli"

Tangan itu dengan keras mencengkram lengan Sungmin dan membawa tubuhnya hingga terhimpit di dinding kamar. Sungmin terkurung dalam kungkungan Kyuhyun.

"Hei, lihat aku Min. Apa kau anggap semua ini lelucon? Aku hampir mati mencarimu, aku merindukamu Min.. Aku mencintaimu"

Sungmin memberanikan diri untuk menatap Kyuhyun, tidak lagi menghiraukan hatinya yang berdenyut sakit. "Hentikan Kyuhyun, justru kau yang menganggap semua ini lelucon. Sudah kubilang, aku sudah mempunyai keluarga sekarang"

"Kau sedang berbohong"

"Tidak, sekarang lepaskan aku dan pergilah. Kumohon, aku tidak ingin Sunny salah paham"

"Aku tidak akan menyerah semudah itu Min"

Kyuhyun melepaskan Sungmin dari kungkungannya, serta merta turun ke bawah untuk melihat Sunny yang sedang bermain dengan tiga orang lainnya. Sunny menyambut Kyuhyun dan Kyuhyun menggendong gadis kecil itu di punggungnya.

"Aigoo kau berat juga Sunkyu" ledek Kyuhyun. Sunny tertawa geli saat Kyuhyun membawanya berputar-putar. Wookie tersenyum tipis, digenggamnya dengan erat tangan Yesung agar dia kuat melihat apa yang terjadi di depannya.

"Apa kabarmu Wookie dan Yesung Hyung?" tanya Kyuhyun santai

"Baik, kau?" jawab Yesung singkat

"Sama seperti dulu, apa kalian sudah menikah?"

"Sudah" sambung Wookie.

"Apa selama ini Sungmin tinggal bersama kalian? Sungmin sudah menikah?"

"Itu.. Sungmin.."

"Sunny, kau harus tidur sekarang" Sungmin memotong ucapan Wookie dan mendekat ke arah Sunny.

"Tapi Momma.." rengek Sunny

"Sekarang Sunny!"

Gadis kecil itu menangis tanpa suara. Semua orang hanya diam. Kyuhyun menurunkan Sunny dari gendongannya namun Sunnya begitu erat menggenggam tangan Kyuhyun. bahkan saat Sungmin mencoba untuk membawanya pergi.

"Aku masih ingin bertemu Tuan Cho.." isaknya dengan keras.

"Hei, kita bisa bertemu lagi nanti" Kyuhyun berjongkok dan mengusap air mata Sunny dengan lembut.

"Kau tidak perlu kesini lagi Kyuhyun-ssi, sudah kubilang semuanya sudah selesai"

"Momma kau jahat"

Sunny berlari ke kamarnya dengan tangisan yang begitu keras. Sungmin memejamkan matanya "Pergilah, pergilah Kyuhyun.. jangan ganggu hidupku lagi" kata Sungmin pelan.

Heechul yang sejak tadi hanya memperhatikan mereka, menarik nafas prihatin. Terlebih atas sikap Sungmin kepada Sunny. Dia mendekat ke arah Kyuhyun.

"Kyuhyun-ah, sudahlah.. kau tidak berhak jika sejauh ini.. sudah malam"

TRING!

"Kukira kafe mu sudah tutup Chagi"

Choi Siwon kemudian berjalan mendekat dan mengecup kening Sungmin. Sungmin mencoba tersenyum seadanya, mengabaikan Kyuhyun yang berdiri mengeras di depan matanya. Terlalu cepat untuk terluka, untuk dibanting dengan semua hayalannya tentang kehidupan-bahagia-selamanya-bersama-Sungmin.

"Siapa dia Min?" tanya Kyuhyun kaku.

"Oh, kau pasti pelanggan di sini.. atau dia temanmu Chagi? Aku Choi Siwon, Sungmin adalah tunanganku"

.

.

"Kau seorang psikopat huh?"

"Dan kau seorang masokis huh?"

"Geurae, puas kau?"

Kyuhyun terkekeh dengan puas "Aku mencintaimu Min.. kau sungguh keajaiban di dunia ini. kau adalah kesalahan yang membuatku tidak pernah merasa bersalah. Jangan tinggalkan aku. kau adalah kekuatanku"

"Semua laki-laki memang diberi bakat gombal Kyuhyun" ucap Sungmin dengan ringan sebelum Kyuhyun menangkupkan tangannya di wajah Sungmin

"Hei, kau selalu begitu"

"Aku bercanda. Aku juga mencintaimu Sayang. kau adalah satu-satunya hal yang membuat semua melodi ciptaanku seperti hidup. Ada kau di dalamnya. Jangan pernah berfikir untuk meninggalkanku. Kau sudah berjanji"

Kyuhyun mengangguk pelan "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu jadi, bisakah aku memakanmu sekarang?"

"Datanglah sebanyak yang kau mau. Aku milikmu"

"Selamanya hanya milikku"

"Menangislah Kyuhyun-ah dan rebut dia kembali setelah itu. Aku akan membantumu"

Benar, dia menangis. Sangat keras. bagaimana dia melakukan semua hal untuk mimpinya bersama Sungmin. melakukan semua hal yang bahkan tidak pernah dia inginkan, hanya untuk Sungmin. hanya untuk cintanya lalu kini, Sungmin menghancurkan hatinya dengan satu tepukan.

.

.

.

To Be Continued

.

.

Mohon maaf jika ff ini baru saya lanjutkan sekarang, duh kemaren laptop sempet mesti di operasi tapi Alhamdulillah sekarang sudah sembuh.

Buat yang kemarin komentar soal panggilan 'Momma' bahkan sampe bilang tata bahasa saya berantakan haha mungkin sekarang sudah bisa dimengerti maksud saya di sini?

Pertanyaan lainnya mengenai kilas balik kejadian yang dulu akan saya jelaskan tapi bukan saat ini.

Terima kasih untuk yang masih menunggu ff ini.

Terima kasih untuk semua review-nya.

Sampai jumpa di chapter berikutnya.

Kim Kyuna

sign