Regret

.

.

.

Pairng: Hunkai, slight! Kriskai/Hunhan

Support cast: Byun Baekhyun, Park Chanyeol, Kim Junmyeon, Zhang Yixing

Warning: Genderswitch/Married life/little bit angst/ooc/typo(s) everywhere

Previous chapter

"aku mencintaimu, Jongin." Ucapnya lirih dengan tatapan sendu.

"apa kau tak bisa memaafkanku?" ia menjeda ucapannya. Menguatkan dirinya sebelum melanjutkan, "aku akan pergi darimu jika itu yang kau inginkan. Tapi aku mohon. Bicaralah padaku, katakan jika kau ingin aku benar-benar pergi dari hidupmu, dan aku akan melakukannya untuk menebus semua kesalahanku."

Tak lama, Jongin membuka matanya, menatap mata Sehun yang juga sedang menatapnya dalam dengan mata yang berkaca-kaca. Hati Jongin sakit melihatnya. Ia masih sangat mencintai Sehun, namun egonya memilih untuk memilih melepaskan Sehun. maka dari itu ia menetapkan hatinya untuk memilih keputusan yang benar-benar sudah ia pikirkan dengan matang.

"pergilah... Sehun."

.

.

.

.

.

CHAPTER 4

Dua tahun sudah Jongin menjalankan hidupnya tanpa Sehun. mereka sudah resmi bercerai setelah Jongin meminta Sehun untuk pergi. Pergi dari hidupnya, yang berarti mereka tak akan mungkin bersama lagi. Setelah bercerai merekapun sudah putus komunikasi. Sebenarnya hanya Jongin saja karena dia sendiri yang mengganti nomor dan hanya Kris yang mengetahuinya. Selama itu pula ia tidak tau agaimana keadaan Sehun. apa lelaki itu sudah menemukan wanita lain atau kembali kepada Luhan. Entahlah, Jongin tidak mau memikirkanya.

Ngomong-ngomong soal Kris, Jongin sudah bertunangan dengannya, tepatnya 9 bulan yang lalu. Inginnya sih Kris mau langsung menikah dengan Jongin. Namun Jongin sendiri masih enggan untuk membangun rumah tangga lagi mengingat kegagalanya yang membuatnya sedikit trauma. Jongin butuh waktu dan Kris memkalumi itu. terkadang ia berpikir kenapa hidupnya harus seperti ini, kenangan pahit benar-benar merusak segalanya.

Flashback

Jongin hidup dikeluarga broken home. Ayah dan ibunya selalu bertengkar entah karen apa. Saat Jongin masih kecil ia sering mendengar suara tamparan, jeritan, dan suara pecahan benda-benda pun tak luput dari pendengaran Jongin. Ia anak bungsu, jadi pada saat orangtuanya bertengkar ia hanya duduk disudut kamarnya dengan Junmyeon –kakak laki-lakinya- yang memeluk tubuhnya dan menenangkan Jongin yang terus-terusan menangis. Jika orang-orang mengira keluarga Kim hidup didalam keluarga yang sempurna karena kekayaan yang keluarganya miliki, mereka salah besar. Jongin kecil hanya menginginkan hidup dalam kesederhanaan dengan kasih sayang yang cukup untuknya.

Sebulan kemudian ayah dan ibunya bercerai. Saat Jongin kecil bertanya kenapa hak asuhnya dan kakaknya jatuh kepada sang ayah, sang ayah hanya tersenyum sambil menjawab "aku yang lebih pantas merawat kalian dibandingkan dengan dia." Dan Jongin kecil hanya mengiyakan tanpa bertanya lebih lanjut.

Seiring berjalanya waktu, Jongin mulai terbiasa hidup tanpa kasih sayang ibu dan kurangnya perhatian dari sang ayah. Ayahnya benar-benar merawat Jongin dan Junmyeon dengan baik walaupun beliau jarang berada dirumah karena pekerjaanya yang menumpuk, namun bisa makan pagi dan malam bersama sang ayah dan Junmyeon sambil berbincang kecil itu sudah cukup untuk Jongin. Namun, tanpa Jongin duga, masa depanya dirusak oleh orang yang paling ia sayang selama ini.

Kala itu Jongin sudah berumur 12 tahun, Junmyeon yang baru lulus SMA disuruh melanjutkan kuliahnya di Amerika, karena Junmyeon adalah pewaris perusahaan Kim Corp dan Jongin baru saja mendapat pengumuman bahwa ia diterima di sekolah menengah pertama pilihanya. Ia sangat senang sampai-sampai hari ini ia sengaja menyiapkan pesta makan malam untuk sang ayah. Tetapi ayahnya belum juga kunjung padahal ini sudah jam sepuluh malam. Jongin berpikir mungkin ayahnya ada meeting atau pertemuan teman bisnisnya jadi ia menunggu dengan sabar. Sampai ia tertidur di meja makan dan terbangun karena suara dobrakan pintu, ia buru-buru menghampiri sumber suara dikiranya ada penyusup yang datang namun itu bukanlah penyusup, melainkan sang ayah yang dalam keadaan mabuk berat.

"ayah!" Jongin berlari menghampiri sang ayah dan membantu memapahnya. Dan pada saat itu juga ayahnya langsung mendorong Jongin ke tembok dan menghimpitnya.

"kau tau Jongin? Kau mirip sekali dengan ibumu." Jongin bisa mencium aroma alkohol dari mulut sang ayah karena saat ini jarak mereka sangat dekat dan itu membuat Jongin tidak nyaman.

"ayah? Ayah tolong menjauh." Jongin berusaha mendorong tubuh sang ayah namun tenaganya kalah kuat.

"dan kau tau? Karena wajahmu yang benar-benar mirip wanita sialan itu aku menjadi menyesal kenapa aku tidak membuangmu!" Jongin tersentak. Jadi ayahnya menyesal karena merawatnya? Jadi selama ini ayahnya hanya berpura-pura bersikap baik kepadanya? Tapi kenapa? Tanpa sadar airmata Jongin mengalir begitu saja.

"wanita sialan itu, kau tau apa yang diperbuatnya? Dia selingkuh dengan sahabatku! Dan ia sedang mengandung anak dari selingkuhanya itu. kenapa?! Apa aku kurang memuskan?!" ayahnya mencengkram wajah Jongin kuat-kuat, membuat anak itu meringis.

"kau mabuk, ayah." Ucap Jongin lirih. Ia tidak tau harus bagaimana lagi saat ini. Ia baru mengetahui fakta bahwa ibunya berselingkuh. Padahal yang ia tau ayahnya sangat menyayangi ibunya sebelum pertengkaran-pertengkaran itu terjadi.

Tiba-tiba ayahnya tertawa. Jongin menatapnya heran, namun tak lama ayahnya menatap dengan pandangan sayu dan seringaian, "kau harus tau Jongin kalau aku cukup memuaskan! Dan kau harus merasakanya dan bilang pada wanita itu kalau aku bisa memuaskan siapa saja!"

Setelah mengatakan itu ayahnya langsung menciumnya, melepaskan semua pakaianya dan melakukan hal yang dosa, hal yang merusak masa depan Jongin, dan membuat batinya terguncang hebat. Sejak saat itu ia pergi dari rumah, tidak mau mengenal siapa ayah dan ibunya, tidak memberi tau sang kakak yang berada diluar negeri.. Ia mendatangi rumah Baekhyun dan menangis hebat setelah menceritakan semuanya. Dan sejak saat itu pula Jongin tinggal dan dirawat oleh keluarga Baekhyun yang menyayangi Jongin seperti keluarga mereka sendiri.

Flashback off

Getaran diponselnya membuyarkan lamunan Jongin akan masalalunya. Gadis itu mengusap sebentar airmatanya lalu mengangkat panggilan itu tanpa melihat id caller sebelumnya.

"Jongin!"

Jongin mengerutkan keningnya mendengar suara asing menyapa telinganya, ia melihat siapa yang menghubunginya, ternyata itu adalah nomor yang tidak dikenalnya.

"ini benar nomor Kim Jongin kan?"

"ya. Kalau boleh saya tau—"

"ah Yatuhan syukurlah." Suara disebrang sana mendesah lega. Jongin semakin mengerutkan dahinya. "perkenalkan, namaku Tiffany. Aku teman Sehun tetapi aku sudah menganggap Sehun sebagai adikku sendiri, begitu pula sebaliknya."

Hah? Apa maksutnya ini? Kenapa ada Sehun? kenapa juga suara wanita ini ceria sekali? Dan apa pula itu segala memperjelas hubungan diantara mereka? Jongin dan Sehun kan sudah tidak memiliki hubungan apapun.

"halo, Jongin? Are you still there?"

"ya. Umm, lalu ada apa kau menelponku? Kau tau aku dan Sehun kan—"

"nah itu dia!" wanita disebarang sana memekik. Jongin menggeram pelan. Kenapa orang ini suka sekali memotong ucapanya? Sangat tidak sopan. "oh maafkan aku. tapi aku sudah tau permasalahan kalian. Dan sekarang kondisi Sehun sangat buru, Jongin. Aku mohon datanglah kemari. Ke London."

Jongin melotot, "tunggu dulu. Kita baru saling kenal. Lagipula darimana kau mendapatkan nomorku? Dan kenapa juga aku harus repot-repot ke London? Sehun tidak membutuhkan aku, jadi tolong kau suruh saja Luhan atau siapapun untuk kesana."

"oh please, Jongin. He just need you, trust me. Kau tau, sikap Sehun benar-benar aneh belakangan ini. Maksudku, Sehun suka berbicara sendiri. Dan saat aku tanya dia menjawab jika dia sedang berbicara dengan kembaranya, namanya Shixun. Hell, sejak kapan dia punya kembaran? aku bingung bagaimana aku menjelaskanya? Ceritanya sangat panjang Jongin dan aku mohon agar kau mau datang kesini untuk membantunya. Karna, Sehun masih suka menyebutkan namamu didalam tidurnya."

"aku.." Jongin menelan ludahnya. Ia bimbang. "haruskah?"

Terdengar helaan napas dari sebrang sana, "aku tidak memaksa. But, Sehun love you. Aku yakin kau juga merasakan hal yang sama bukan?"

"aku akan memikirkanya." Final Jongin.

"baiklah, aku menunggumu Jongin."

.

.

.

Regret

Pagi ini Jongin sudah berada dibandara diantar oleh Kris, Junmyeon, Yixing dan Baekhyun. mereka semua sebenarnya masih tidak mengerti kenapa Jongin tiba-tiba ingin ke London. Jongin bilang ada beberapa pasien disana yang membutuhkan keahliannya. Baekhyun yang tidak percaya langsung saja memaksa Jongin untuk menceritakannya. Dan Jongin berjanji setelah pulang ia akan menceritakan semuanya kepada Baekhyun asalkan wanita itu tidak bermulut ember. Baekhyun yang awalnya tidak mau pun akhirnya menyanggupi permintaan sahabat kecilnya itu. Baekhyun yakin pasti ada sesuatu yang penting yang harus Jongin urus disana.

"kau yakin akan pergi sendirian? Aku bisa menemanimu, dear."

Jongin menggeleng mendengar kalimat yang sama terus menerus dari mulut tunanganya itu. "tidak Kris. Kau juga memiliki pekerjaan disini yang tidak bisa kau tinggalkan begitu saja. Jangan khawatir, aku bersama seorang teman disana, okay?"

Semua menghela napas lelah. Jongin itu keras kepala. Tapi ketahuilah, hati Jongin benar-benar seperti malaikat, ia lebih mementingkan perasaan orang lain dibandingkan perasaannya sendiri. Itulah yang membuat mereka sedikit khawatir sebenarnya. Bagaimana jika Jongin disana nanti dimanfaatkan orang lain? Tidak ada yang tau kan, lagipula London itu kota yang sangat besar. Tidak menutup kemungkinan jika ada yang berniat jahat dengan makhluk baik seperti Jongin bukan?

"baiklah, tapi kalau disana kau mengalami kesusahan atau membutuhkan bantuan, kau bisa langsung menghubungiku. Kau tau aku menyayangimu kan, adik kecil?" ucap Junmyeon sambil mengacak surai Jongin.

Gadis itu mendengus keras. "aku sudah besar," ia memutar kedua bola matanya malas, kemudian tersenyum lembut. "kau tenang saja oppa, jika aku membutuhkan bantuan kau adalah orang pertama yang akan aku hubungi."

Ketika suara pemberitahuan bahwa pesawat Jongin akan berangkat, satu persatu dari mereka memeluk Jongin. Ketika ia berpelukan dengan Baekhyun, gadis itu tiba-tiba berkata, "ingat, kau masih hutang penjelasan denganku, Kim." Yang membuat Jongin terkekeh dan menganggukan kepalanya.

"berapa lama kau disana?" tanya Baekhyun setelah mereka melepaskan pelukan.

Jongin terlihat berpikir, "aku belum tau pasti, tapi jika masalahku sudah selesai disana aku akan segera kembali."

Setelah itu Jongin segera berbalik dan berjalan menjauhi orang-orang yang disayanginya. Ia tidak tau berapa lama ia akan menetap di London, karena Jongin mempunyai firasat bahwa penyakit Sehun akan lama sembuhnya dan ia yakin bahwa lelaki itu benar-benar membutuhkan Jongin disisinya. Ia menggigit bibirnya menahan tangis. Ia merasa bersalah kepada Kris, tapi jika waktunya sudah tepat ia kan meminta maaf dan menjelaskan semuanya kepada Kris.

..

Seseorang dengan papan bertuliskan nama 'Jongin' menyambutnya dibandara. Wanita itu adalah Tiffany, teman Sehun. Jongin tersenyum saat melihat wanita itu tersenyum lebar kearahnya.

"Jongin, right? Wah kau sangat cantik dan manis. I'm Tiffany, by the way."

"ya," Jongin menjabat tangan Tiffany. "dan kau terlihat lebih cantik dariku." Keduanya terkekeh. Ternyata Tiffany tidak semenyebalkan yang Jongin kira.

"kau mau makan? Aku yakin kau pasti belum makan."

Jongin mengiyakan dan mereka memilih salah satu restoran fast food disekitar bandara. Saat keduanya duduk berhadapan sambil memakan makanannya masing-masing, Jongin menatap Tiffany dengan pandangan menuntut.

"jadi, ada apa dengan Sehun?"

Tiffany mendesah, kemudian tersenyum. "kau harus bertemu dulu dengan Sehun dan menanyakan keadaanya, jika kau masih belum mengerti kau bisa bertanya padaku."

"apa? Tapi kau bilang kau akan menjelaskanya padaku jika aku bersedia datang kesini."

"ya, tapi itu akan memakan waktu yang sangat panjang dan lagipula kau baru tiba disini." Tiffany melirik arlojinya. "sudah jam setengah sebelas malam Jongin, kau harus beristirahat. Sehun juga sepertinya sudah tidur jadi kalian akan bertemu besok, not now." Jongin mengerutkan keningnya tidak suka, Tiffany mendesah pelan, "Jongin, please." Dan Jongin akhirnya mengangguk.

..

Paginya, Tiffany menyuruh Jongin membangunkan Sehun. katanya agar mereka bisa berbasa basi sedikit, sedangkan Tiffany sudah pergi bekerja. Wanita itu bekerja disalah satu majalah fashion disini, ngomong-ngomong. Jadilah Jongin hanya berdua dengan Sehun. dan sekarang ia sedang memandangi wajah damai Sehun yang sedang tidur. Jujur saja, ia sangat merindukan mantan suaminya itu. tubuh Sehun sedikit lebih kurus dari sebelum mereka berpisah. Apa dia makan dengan baik? Apa selama ini dia makan dengan teratur? Apa Tiffany memberinya makan dengan benar? Jongin menggelengkan kepalanya, ia mulai mendekat dan sedikit mengguncang tubuh Sehun.

"bangun Sehun, ayo kita sarapan."

Sehun membalik badannya menjadi memunggungi Jongin. "five minute, Tiff."

Jongin yang melihat itu tersenyum geli. Sehun masih belum berubah. Sejak dulu saat mereka masih menjadi sepasang suami istri, reaksi Sehun jika dibangunkan akan seperti ini. Ia segera menepis pikiran anehnya dan segera mengguncang tubuh Sehun, kali ini lebih keras.

"wake up, Oh Sehun. and i'm Jongin, not Tiffany."

Sehun langsung melotot mendengarnya. Ia segera membalik badanya dan duduk, kemudian menatap Jongin dengan pandangan tidak percaya.

"Jongin, is that...you?" tanya Sehun sambil mencubiti pipinya sendiri. Melihat itu Jongin terkekeh. "oh my god! You're really really Oh Jo—i mean Kim Jongin?!"

"Sehun, kau sangat out of character."

"and i really don't care!" dan Sehun langsung memeluk Jongin sangat erat. "i miss you." Ucapnya lirih, "i miss you so much."

Jongin tidak membalas ucapan Sehun, namun ia membalas pelukan Sehun tak kalah eratnya. Cukup lama mereka berpelukan sebelum akhirnya Sehun melepaskanya dan menangkup pipi Jongin sambil mengelusnya lembut. Ditatapnya gadis yang membuatnya nyaris gila seperti ini, "don't you miss me?"

Lelaki itu tak kunjung mendengar jawaban dari Jongin, ia mendesah pasrah dan mencoba mengerti, "baiklah kau tidak perlu menjawabnya." Saat Sehun akan melepas tanganya dari wajah gadis itu, tiba-tiba saja Jongin mencium bibirnya. Cukup lama tapi tak ada lumatan didalamnya, hanya ciuman yang menggambarkan betapa rindunya ia dengan lelaki yang berada dihadapanya ini.

"aku.. aku juga merindukanmu." Ucap Jongin setelah melepaskan ciumannya. Ia menunduk malu. Duh, kenapa ia jadi bertingkah seperti remaja yang sedang kasmaran?"

Sehun sudah tidak tau lagi bagaimana ia harus mengekpresikan rasa senangnya. Ia memeluk Jongin lagi, kali ini ditambah kecupan-kecupan dikepala gadis itu. dan jongin balas memeluknya sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Oh Sehun.

Setelahnya mereka memutuskan untuk sarapan. Jongin membuatkan pancake sedangkan Sehun duduk di meja makan sambil memperhatikan Jongin dengan pandangan sendu.

"jadi," Sehun menjeda ucapanya, ia memperhatikan Jongin yang sedang menuangkan saus strawberry di pancake miliknya. "kenapa kau bisa ada disini, maksudku berada dirumahku?"

Sesuai perjanjian saat Jongin dan Tiffany dalam perjalanan pulang setelah mereka selesai makan dibandara, Sehun tidak boleh tau perihal sebenarnya kepada Sehun. mereka harus berakting senatural mungkin, jangan membuat Sehun mengetahui kalau Jongin kesini untuk memastikan penyakit Sehun.

"aku hanya akan berlibur untuk beberapa waktu." Jongin mulai memakan makananya. Namun Sehun menatapnya dengan pandangan tak percaya. Ia mendesah, "serius Sehun. memangnya ada yang salah jika aku berlibur disini?"

"tidak," lelaki itu menggeleng. "hanya saja bagaimana kau mengenal Tiffany?"

Jika Sehun bertanya bagaimana kau mengenalku, kau jawab saja aku kenalan salah satu temanmu di rumah sakit, dan bilang padanya jika awalnya kau tidak mengetahui bahwa aku dan Sehun satu rumah. Setelah kau dijemput denganku dibandara barulah kau mengetahuinya karena aku yang bilang bahwa aku tinggal bersama adikku.

"Tiffany adalah salah satu kenalan temanku dirumah sakit. Dan saat kami dalam perjalanan pulang setelah ia menjemputku dibandara, ia bilang bahwa ia tinggal bersama adiknya. Dan aku sangat tidak percaya bahwa adiknya adalah dirimu. Saat aku memutuskan untuk mencari penginapan lain, Tiffany melarangku. Dia bilang kondisimu kurang sehat. Apa itu benar?"

Sehun mengangkat bahunya acuh, "kau bisa lihat sendiri bagaimana kondisiku sekarang."

"apa kau merasa tertekan?" Jongin memulai aksinya. Gadis itu berharap semoga Sehun tidak menyadari arah pertanyaanya.

"tertekan? Tentu saja. Setelah kau memintaku untuk pergi dari hidupmu, aku benar-benar hancur dan aku sempat mengurung diri dikamar selama sebulan penuh."

Jongin menggigit bibirnya, ia menunduk "Sehun—"

"tidak Jongin," Sehun menggenggam tangan Jongin yang berada diatas meja dan menatapnya lembut "jangan meminta maaf. Itu memang salahku dan aku pantas untuk mendapatkanya. Jadi, lupakan masa lalu dan lihatlah masa depan." Jongin mendongak, melihat senyum Sehun yang membuat jantungnya berdetak tak karuan. Perasaan itu masih sama, Jongin tidak mau berbohong bahwa ia masih benar-benar mencintai mantan suaminya ini.

Keheningan menyelimuti mereka berdua, sampai Sehun melepaskan genggaman tangannya, dan mengambil ponsel disakunya. Seketika wajah lelaki itu berubah cerah.

"kembaranku menelpon." Ujar Sehun sambil memperlihatkan layar ponselnya. "sebentar ya, aku akan berbicara dengannya sebentar."

Jongin hanya menatap punggung Sehun yang jalan menjauhinya. Keningnya berkerut dalam, ia tidak mengerti, dan tidak akan mengerti. Layar ponsel Sehun itu.. mati. Tidak ada tanda-tanda bahwa ada panggilan masuk diponselnya.

Kenapa...

Apa yang terjadi dengan Sehun sebenarnya?

.

.

.

TBC

a/n: halo, adakah yang masih inget sama ff ini? Huhu aku menelantarkan ff ini terlalu lama, aku benar-benar minta maaf (((((( aku mempunyai kendala, yang pertama hpku rusak, yg kedua gak lama setelah hpku rusak laptopku keformat. Duh cerita yg udah separuh aku bikin kehapus semua dan aku harus buat ulang, dan jalan ceritanya sedikit berbeda dgn yg aku buat kemarin:'))))) jadi aku benar-benar minta maaf atas keterlambatan updatenya, semoga kalian bisa memaklumi:'D

semoga di chap ini sudah semakin jelas ya, rencanaya aku mau buat ini Cuma sampe chap 6/7 aja makanya disini alurnya agak cepet, iya gak sih? Hehe, soalnya gak mau panjang2 nanti kebanyakan utang aku disini, ff yg lain juga masih terbengkalai TAT

aku gak mau banyak cuap-cuap ya hehe, untuk chap selanjutnya aku usahain fast update tapi gak janji juga:'D tapi setidaknya gak akan selama ini kok, suwer:v

Big Thanks to:

[ cahyani kim ][ chankaiya ][ Guest ][ sayakanoicinoe ][ dnrkaixo ][ VampireDPS ][ Hun94Kai88 ][ ariska ][ ren chan ][ justjerk ][ cute ][ Guest ][ jonginisa ][ Baby niz 137 ][ yuvikimm97 ][ bubbleosh ][ melizwufan ][ vivikim406 ][ ohkim9488 ]

Biar aku makin semangat aku minta review dari kalian dong, satu review dr kalian sama dengan satu dukungan kalian buat aku ngelanjutin ff in(?):'D

Soooo,

Review pleaseeee?