ASSASSIN

CHAPTER 3

UNKNOWN KILLER CASE PART 2

Dentingan suara permainan piano dengan lagu 'London brigde is falling down' dimainkan malam itu, tidak ada yang boleh masuk ke ruangan seni musik pada malam hari. Itu peraturan ketat SMA ini, lalu siapakah gerangan yang memainkan piano selancar dan seindah ini?

SMA Grand VII merupakan sekolah favorite di kalangan anak anak muda dan gaul, setiap tahunnya anak anak berbakat masuk kesitu dengan mudah dengan kemampuan IQ mereka yang diatas rata rata maupun bakat mereka di suatu bidang yang menonjol.

Seorang gadis bernama Rin memainkan piano dengan lincah dan tepat, tepat pada siang hari disaat pelajaran seni musik dimulai, dia adalah pianis andalan sekolah itu, tentu saja, siapa yang tidak mengenal Rin? Gadis cantik berkulit hitam manis yang dijuluki 'Piano princess' ini sudah memikat perhatian banyak guru SMA nya sendiri maupun SMA lainnya, permainannya selalu membuat mereka terkagum kagum, sudah seperti professional, itulah komentar para guru dan siswa yang kerap kali mendengar permainannya.

"Rin senpai, bisa ajarkan aku cara bermain yang benar?" tanya seorang gadis SMA kelas 11 padanya, jangan tanya, Rin terkenal senang membantu, selain ramah, pintar dalam bidang musik, dia juga tidak kalah dalam mata pelajaran, yang paling menonjol dari dirinya adalah keahliannya membuat orang terkesima mendengar permainan pianonya.

"Oke, kamu nggak ngerti yang mana?" Rin mengajarkan anak itu yang bertanya kepadanya, anak itu awalnya tidak mengerti, namun Rin tetap sabar mengajarkan, anak itu mengangguk ketika sudah mengerti, dan Rin tersenyum.

"Terimakasih, senpai!" ucap anak itu sambil membungkuk penuh hormat pada Rin.

"Sama sama, kalau nggak ngerti, kamu boleh tanya lagi kok," Rin tersenyum lalu mengelus rambut anak itu yang kemudian tersenyum manis padanya.

"Hai! Wakarimasu, arigatou gozaimasu!" anak itu kemudian membaur dengan kawan kawannya kelas 11, Rin pun tersenyum kecil.

Dipojok ruangan, sesosok wajah kesal mengamati Rin, matanya penuh dendam dan amarah "Ck, sombong sekali, baru pemula saja sudah sebegini sombongnya." Kemudian sosok itu menghilang diantara para murid yang sedang menggerombol, bergossip ria dan bercanda.

"Rin senpai, hari ini ada kegiatan klub tidak?" tanya Lass, Lass? Ya benar, dia mengikuti klub musik juga, dia memegang gitar, dia juga membentuk band yang beranggotakan Rin juga di dalamnya.

"Lass-kun? Hari ini ada kok, hubungi Edel, Ryan, Sieghart dan temanmu itu ya, umm… siapa namanya? Ah iya, Lime kan?" Lass mengangguk dan Rin tersenyum kemudian membuka pintu ruangan musik.

"Sou nee—jaa, kalau begitu aku cari mereka dulu, ya, semoga mereka belum pulang.." ucap Lass lalu pergi meninggalkan Rin sendirian.

TING, TING, TING.

Rin terkejut mendengar suara dentingan dentingan piano itu, lalu menengok kearah Grand Piano yang sering dia mainkan itu, tidak ada siapa siapa, tapi siapa yang barusan memainkan melodi piano itu?

Setelah semua personil band terkumpul, mereka segera berdiskusi tentang lagu yang akan mereka mainkan di festival akhir tahun nanti, ya, festival akhir tahun akan diadakan kurang lebih 1 minggu lagi bertepatan dengan ulangtahun Rin yang ke 17, jadi mereka lebih baik bersiap siap dari sekarang.

"Hmm, Lass, kau kan gitarisnya, pikirkan lagu dong!" ujar Ryan sambil mengecek update dari BlackBerry nya.

"Tanya sama Lead Vocal nya aja lah—Lime tuh.." ucap Lass malas malasan sambil menutup matanya dengan handuk kering kecil yang disiapkannya dari rumah.

"Eeh nandeee? kok malah aku sih, kamu kan juga Back up Vocal, Lass!" protes Lime yang kini melepas head phone nya setelah sadar banyak mata menatap ke arahnya.

"Ah, bawel—kuso.. Aku capek…" Lass memalingkan wajahnya ke tembok bercat dominant putih itu.

"… kalau Edel senpai bagaimana? Senpai ingin lagu apa?" tanya Lime kemudian, Edel yang tengah membersihkan senar senar biola-nya menatap kearah Lime dan menggeleng, tidak tahu, bahasa tubuh menggelengkan kepala dari Edel sudah menunjukkan kata kata 'tidak tahu' dari Edel kepada Lime, Lime menghela nafas lalu tatapannya tertuju ke Sieghart.

"Sieghart senpai bagaimana?" Sieghart memandang kearah Lime lalu menjawab

"Bagaimana kalau lagu Rock saja, selama ini kita selalu membawakan lagu Mellow sih, peminat klub musik juga sudah sedikit sekali." Katanya sambil memainkan BlackBerry nya, sama seperti Ryan.

"Err… tergantung dulu, lagu apa? Suaraku tidak mungkin kuat kalau tinggi tinggi." Ucap Lime lalu memperkecil volume MP3 nya dan memasangkan kembali head phone ke telinganya.

"Rin, menurutmu bagaimana?" tanya Ryan kemudian.

"Umm… kita bawakan saja dua lagu, yang satu Rock dan yang satunya lagi Mellow" ucap Rin semuanya menyetujui ucapan Rin.

Sebelumnya, saya posisikan peran mereka masing masing dalam grup ini.

Rin sebagai pianis, tentu saja, karena dia handal dalam permainan piano dan memang hanya dapat bermain piano, tidak perlu banyak deskripsi dan keterangan, dia hebat.

Sieghart sebagai pemain bass atau bassist, dia tidak mau repot repot memetik senar gitar yang naujubileh banyaknya, memang dasar pemalas, maka itu dia memilih memainkan bass karena senarnya hanya 4 buah. (walaupun sebenarnya dia bisa memainkan gitar dengan lincah dan professional.).

Ryan sebagai drummer, setelah kematian Lire, (di chapter 2) memang dia sering stress lalu iseng iseng memainkan Drum di ruang musik untuk melepas emosi dan stress nya itu, tapi malah direkrut oleh grup musik ini yang sebenarnya bernama 'The Terror' (jangan tanyakan author mengapa nama grup band nya seaneh ini, yang milih nama juga sepertinya Lass, karena dia memang sangat psikopat) menjadi drummer, kebetulan yang sungguh sungguh luar binasah, catatan, dia sudah pacaran sama Risa.

Edel sebagai pemain biola, dimulai dari permainannya yang tidak pernah diperdengarkannya di ruang musik, melainkan di atap gedung sekolahan yang notabene luas dan sepi, tempat favorite Edel hingga akhirnya Rin yang mendengar permainan Edel menjadi tertarik lalu mengajaknya bergabung bersama The Terror.

Lass sebagai guitarist dan Back up Vocal, jangan tanyakan kepada author kenapa menjadikan peran Lass menjadi seperti ini, saya juga baru terinspirasi dari suara ambigu (salah…) suara keren Lass, dan dari tampangnya yang mungkin, hanya MUNGKIN cocok menjadi gitaris, itu saja.

Lime, Lead Vocal, Lime tidak pernah memperdengarkan suaranya, sama seperti Edel yang tidak pernah memperdengarkan permainan biolanya dimanapun, kapanpun dan pada siapapun (itupun akhir akhir ini saja setelah bergabung dengan grub band ini) dia mengikuti konser diam diam di sebuah Mall hingga Lass yang kebetulan sedang jalan bersama kakaknya mendengar suara Lime dan Lass pada keesokan harinya langsung mengajak Lime bergabung dengan grub band itu (sebelum Lime direkrut, Lass lah yang dipilih untuk menjadi Lead Vocal, tapi setelah Lime direkrut oleh The Terror, Lass ganti peran jadi back up vocal).

Sekian perkenalan peran dari saya, maka dengan ini, mari kita lanjutkan ceritanya.

"Jadi, lagu pilihannya…?" tanya Edel kemudian.

"Ah, iya… lagu Mellow dulu deh, mau lagu apa?" tanya Ryan kembali, menyimpan BlackBerry nya lalu duduk di kursi drummer dan memainkan drum secara pelan namun asal asalan.

"Gimana kalau Goodbye Days? Lagunya YUI tuh, enak dimainin, dan suaranya gak tinggi tinggi amat.." ucap Sieghart menatap kearah Lime, Lime menatap balik Sieghart, mengagguk patuh.

"Goodbye Days itu… guitar classic ya?" tanya Lass yang kemudian menyingkirkan handuk kering itu dari wajahnya dan duduk bersender di dinding.

"Iya, tapi kau tetap pakai gitar listrik saja.. lebih enak, kan?" Ujar Sieghart sambil tersenyum.

"Oh, oke." Lass kemudian mengecek HP bermerk Apple Smartphone miliknya, tidak ada SMS masuk, bahkan dari Rufus sekalipun, dia berdecak kecil lalu memasukkan lagi HP nya ke saku celananya, HP nya bagus? Itu—dibeliin Rufus, kalian gak tau betapa kayanya dia?

"Lagu Rock nya bagaimana?" tanya Rin sembari membetulkan rambut lurusnya yang jatuh kedepan mukanya.

TING, TING.

Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas di telinga Rin, padahal dia tidak menyentuh piano sama sekali.

'Ini aneh' batinnya, namun semua orang di ruangan itu juga tidak ada yang dekat dengan piano selain dirinya, tapi siapa yang memainkan piano? Semuanya masih asyik memikirkan lagu Rock sedangkan Rin hanya tercekat sendiri.

"Ah, bagaimana kalau kita bawakan lagu 'I knew you were trouble'? Rock sih, ada Mellownya dikit" saran Edel, semua menatapnya heran, itu kan lagu galau abis putus cinta?

"Bisa sih, Rin gimana? Rin?" suara Ryan menyadarkan Rin dari lamunannya.

"Eh, baiklah, jadi kita sepakat, Goodbye Days dan I knew you were trouble?" semua menangguk, Rin lalu memencet kunci asal asalan dan kemudian menatap semua orang di ruangan musik ini.

"Kita latihan dulu dari lagu pertama ya, Goodbye Days.." lalu mereka latihan sampai pukul 18.00 sore hari.

Malam sudah tiba dan Rin belum pulang, tidak biasanya supirnya telat menjemputnya.

'Ah, mungkin sedang ada urusan sebentar' batinnya sambil duduk di kursi dekat gerbang sekolahan, entah kenapa karena bosan, dia kembali ke ruang musik untuk memastikan kalau betul betul sudah tidak ada barang yang tertinggal, namun suara dentingan dentingan piano mulai terdengar lagi di ruangan yang sunyi dan gelap itu, dentingan dentingan piano itu berubah menjadi alunan musik London bridge is falling down, yang membuat suasana ruangan itu semakin mencekam, diarahkan matanya kearah Grand Piano dekat jendela dan terpampang siluet seorang gadis tengah memainkan piano, rambutnya panjang dan menutupi sebagian dari wajahnya, Rin merasakan darahnya berdesir dan jantungnya memompa kuat, ketika siluet itu menegok ke arahnya.

Rin segera keluar dari ruangan itu, berlari kearah gerbang, dimana supirnya sudah menjemputnya.

"Loh, nona habis dari mana? Saya menunggu loh dari tadi" ucap supir itu.

"Maaf pak, tadi saya habis mengecek barang saya, ada yang tertinggal atau tidak, kalau begitu, kita pulang yuk." Rin segera masuk ke dalam mobil, supirnya menyusulnya dan menancap gas, ditengoknya lagi kearah jendela ruangan musik, siluet gadis itu menatap Rin juga dengan ekspresi wajah yang terlihat jelas, 'tidak senang'.

3 hari menjelang festival akhir tahun, Rin dan grub band nya mempersiapkan matang matang lagu yang akan mereka bawakan, kerap kali ada konflik diantara mereka hanya karena salah sedikit saja, tapi semua itu berhasil ditenangkan oleh anggota lainnya.

Rin masih memikirkan siluet gadis yang dia temui 4 hari yang lalu, dia penasaran, siapakah yang memainkan piano sesempurna itu?

"—senpai? Rin senpai?" Rin tersadar dari lamunannya ketika pelajaran musik tengah berlangsung, dia disadarkan oleh anak yang pernah diajarinya bermain piano dengan benar.

"Eh… iya? Ada apa?" tanya Rin setengah sadar, pikirannya melayang layang entah kemana.

"Itu, ada murid baru…" ucap anak itu sambil menunjuk kearah gadis di hadapannya.

"Ah, iya… maaf aku melamun." Ucap Rin sambil tersenyum lalu memperhatikan gadis yang tengah diperkenalkan oleh sensei.

"Namanya Yuki, kalian baik baik dengannya ya, dia juga sangat pintar bermain piano!" ucap sensei lalu anak yang bernama Yuki itu tersenyum lembut.

"Waah, permainan Yuki bagus, loh…" puji Rin kepada anak yang bernama Yuki itu, Yuki tersenyum, kedua matanya berwarna scarlet, membuat Rin terdiam ditempat ketika menatap Yuki, darahnya terpacu deras, jantungnya memompa cepat, sama seperti Rin melihat siluet gadis yang dia temui di ruang musik malam malam 4 hari yang lalu, singkat kata, Rin menjadi takut.

"Ah, terimakasih senpai.." ucap Yuki sambil tersenyum ramah, Rin melupakan kejadian itu dari benaknya dan membalas senyuman Yuki.

"Senpai, anak yang bernama Yuki itu jago main piano juga ya?" ucap Lass sambil mengemut lollipopnya.

"Iya, permainannya seolah menghipnotisku.." tambah Lime, Rin hanya dapat mengangguk.

"Ah, ayo kita latihan lagi!" ucap Edel bersemangat, semuanya kembali latihan, mereka tidak memperhatikan sosok diujung ruangan yang memandang kearah Rin dengan tatapan sinis.

Asal kau tahu, Rin. Anak yang bernama Yuki itu permainannya jauh lebih bagus darimu, dasar manusia sombong! Akan kubuat kau menyesal nantinya!

Hari H pun tiba, pengunjung festival hari itu didominasi oleh para murid dan guru dan kemudian anak anak dari sekolah lain juga ikut meramaikan suasana di festival itu.

TERROR! TERROR! TERROR! TERROR!

Suara teriakan para fans The Terror terdengar sampai back stage, sedangkan personil The Terror sedang melakukan rehearsal untuk performance mereka nanti.

Satu persatu personil The Terror keluar, mulai dari Rin, Sieghart, Ryan, Edel, Lass lalu Lime.

Suasana di bawa panggung semakin ramai ketika melihat Sieghart dan Ryan melambaikan tangan dan berkedip genit kearah para cewek di bawah, playboy? Nggak—mereka hanya mau menarik perhatian saja kok.

Petikan senar gitar mulai meriuhkan acara musik itu, Lass bermain dengan lincahnya, lagu pertama yang mereka bawakan, I knew you were trouble.

"Once upon a time, a few mistakes ago—" Lime mulai bernyanyi saat Rin mulai memainkan pianonya, alunan klasik nan indah itu seakan membuat para pendengarnya terkesima akan permainannya.

Performance dari The Terror telah selesai dengan sempurna, Rin kemudian berjalan ke koridor lantai dua sambil melihat lihat keadaan dari atas sana.

"… Rin senpai? Apa yang senpai lakukan disini?" Rin dikejutkan oleh suara milik Yuki, mata scarletnya bersinar dalam ruangan yang pencahayaannya sedikit redup itu.

"Ah, Yuki-chan? kamu mengagetkan aku saja…" ucap Rin sambil mengelus elus dadanya, Yuki tersenyum.

"Hehehe, gomenne~ senpai tidak kembali ke bawah? Permainan senpai tadi sungguh indah!" ucap Yuki sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Terimakasih… tidak, aku mau di atas saja…" ucap Rin lalu kembali memperhatikan keadaan festival, Yuki tersenyum sinis dan Rin tidak menyadari kalau—Yuki sudah memegang pisau lipat dan gunting.

"Nee, senpai, aku iri denganmu…" ucap Yuki, suaranya terasa sedikit lebih berat dan lirih, tubuh Rin kemudian begidik ngeri, Rin menoleh kearah Yuki yang tengah menunduk dan memegang gunting.

"Yu-Yuki-chan!?" Rin mundur beberapa langkah, keringat dingin mulai membasahi kulit hitam manisnya itu.

'Bukan, dia bukan Yuki-chan! Siapa dia?!' batin Rin ketakutan.

"Senpai selalu mendapatkan perhatian dari orang lain, ya? Aku muak dengan kebahagiaan orang lain ketika mendengarkan permainanmu itu…" Yuki menatap Rin, mata scarletnya menyala dalam gelap, entah apa yang membuat pencahayaan disini menjadi nyala mati secara tiba tiba.

"Ka-kamu bukan Yuki… siapa kamu?!" Rin menatap horror kearah gunting yang tengah dipegang Yuki—bukan, 'bukan Yuki'.

"Kamu lupa? Ha… hahaha… HAHAHAHA! Lelucon yang bagus… kamu lupa pada rivalmu sendiri… HAHAHAHA!" orang yang mengontrol tubuh Yuki tertawa nista, Rin hanya menatap tidak percaya, tadi dia menyebutkan kata 'rival' rivalnya? Perlahan lahan, Rin mulai ingat, otaknya memang sempurna, tidak perlu mengambil waktu lama untuk mengingat nama rivalnya—mantan rivalnya, Ai.

"A-Ai?! Tidak mungkin… kau kan sudah—" belum saja menyelesaikan kalimatnya, Ai-Yuki sudah memotong kalimatnya.

"—Memangnya aku tidak bisa balas dendam, hah?! Aku benci permainanmu… sangat benci…! Apalagi ketika kau mengalahkanku di kompetisi piano pada saat itu…" ucap Ai yang mengontrol tubuh Yuki untuk balas dendam.

"Tapi kenapa kamu sebegitu bencinya padaku?!" Rin mempercepat langkah mundurnya ketika Ai-Yuki mendekati Rin.

"Ssh, kamu telah menghancurkan repurtasiku sebagai pianis ternama sedunia… maka itu, aku membencimu… sekarang yang mereka tau hanyalah dirimu… dirimu! Ai si pianis ternama sudah tidak ada lagi… dan aku akan membuatmu kehilangan repurtasimu sebagai pianis handalan sekolah… sekarang… saat ini… disini." Rin membalikkan badannya dan berlari, namun dia tersungkur ketika ada sesuatu yang menghujam tubuhnya secara tiba tiba.

"Akh—ittai!" Rin merintih dan berteriak, di koridor itu tidak ada siapa siapa lagi, kecuali Rin dan Ai-Yuki.

"Sakit kah, Rin? Hihihi~ belum seberapa… satu tusukkan di punggung tidak mampu membuatmu tertidur untuk selamanya, kan?" Ai-Yuki mencabut pisau lipat yang menancap di tubuh Rin, Rin mhanya dapat ngesot, mencoba untuk mundur.

"Wah wah, masih ingin menghindar ya? Kuat juga—Asal kamu tahu saja ya, Rin, kamu takkan kuat. Darahmu akan segera habis ketika aku memotong jari jari indahmu…" ucap Ai-Yuki yang membuat Rin berteriak ngeri, Rin berusaha memberontak ketika Ai-Yuki memegang paksa tangan Rin dan mengarahkan guntingnya untuk memotong satu per satu jari Rin.

KRAK.

"AAAAAAH!" Rin merasakan darahnya berdesir keluar dari tubuhnya ketika jari kelingkingnya berhasil digunting oleh Ai-Yuki.

"Wah wah, warna merah yang indah…" Ai-Yuki tersenyum sinis kearah Rin, dimana Rin sedang meringis kesakitan.

"One down and nine to go~" Ai-Yuki menyenandungkan lagu London bridge is falling down sambil menggunting jari jari Rin, Rin berteriak kesakitan, meringis dan menangis, tidak lupa dengan teriakan minta tolong, namun suasana tidak mendukung, suasana ricuh diluar dan ramai sekali, hingga tidak ada yang bisa mendengar suaranya.

"London Bridge is falling down, My fair Lady—"

KREK.

Pandangan Rin kabur, dia telah kehilangan 9 per 10 dari jari jarinya, tidak lupa darah yang menggenangi dirinya dan pakaiannya, ditambah lagi tidak ada yang menolongnya, Rin berpasrah kepada Tuhan, setelah itu, semua menjadi gelap, diselingi tawa nista dari Ai-Yuki yang mengiringi kematian Rin pada malam ulang tahunnya yang ke 17 itu.

"Ah, dan satu hal lagi, Rin-chan—" Ai-yuki mendekatkan wajahnya ke telinga Rin yang sudah tak bernyawa lagi.

"—Otanjoubi Omedetou~" kemudian Ai-Yuki pergi meninggalkan Rin yang jari jarinya telah terpisah dari tubuhnya itu dan tergeletak tak bernyawa di tempat dia menghabisi nyawa Rin tadi sambil menyenandungkan lagu London Bridge is Falling Down sekali lagi.

Sementara itu di lantai satu, tepatnya di backstage, The Terror sedang berkumpul dan berbincang bincang lalu Lime dan Lass menanyakan keberadaan Rin.

"Kok Rin senpai belum balik, ya?" tanya Lime dan Lass secara bersamaan.

"Tadi sih bilangnya mau cari angin saja di lantai dua, mungkin lebih baik kalau kita susul saja…" saran Edel, semuanya menyetujui sarannya lalu pergi ke lantai dua bersama sama.

"Rin, kamu dimana?" panggil Sieghart dambil menengok kea rah kiri kanan, Edel dan Lass juga melakukan hal yang sama dengan Sieghart.

"Rin senpai, senpai dima—KYAAAAAAA! TIDAK!" Lime berteriak kencang lalu memeluk Lass yang terdekat di sebelahnya, menyembunyikan matanya dari pemandangan horror yang dilihatnya, Lass dan yang lainnya hanya menatap Lime dengan bingung.

"Lime, kamu kenapa sih?" tanya Lass sambil berusaha mengelus kepala Lime, tangan Lime menunjuk kearah bawah, Sieghart, Edel, Ryan dan Lass pun tercekat dengan pemandangan di hadapan mereka.

"RIN!" tubuh Rin yang tergeletak tak bernyawa itu menunjukkan darah yang masih mengalir segar dari jari jarinya yang sudah buntung itu, jari jari yang terpisah dari tubuhnya sudah berwarna kebiruan akibat kehabisan darah, Edel langsung menghampiri tubuh tak bernyawa itu dan Ryan langsung lari ke bawah untuk melapor ke salah satu guru.

"Apa apaan ini?! Siapa yang tega—" Lass tercekat seketika, mengingat kakaknya lalu meneleponnya.

=Percakapan Telepon=

'Moshi mo—' sebelum selesai memberi salam, Lass sudah memotong pembicaraan kakaknya.

'Aniki! Ke sekolahku—cepatlah!' paksa Lass di sebrang telpon.

'Oi, tidak sopan tau memotong pembicaraan. Nande?' tanya suara di sebrang telpon.

'Cepatlah, aniki! Rin senpai kehabisan banyak darah—' ucap Lass khawatir, saat ini dia pikir hanya kakaknya-lah yang dapat menyelamatkan Rin, karena sekalin dapat membunuh, Rufus memiliki kemampuan penyembuh, 'The Conjurer' sang penyembuh.

'Mou ii—Lass! Rin sudah—' tiba tiba Sieghart memotong pembicaraan.

'H-hah?! Apa maksud kalian sih?!' Rufus yang kebingungan segera mengambil jaket Magenta-nya lalu menyalakan motor ninja-nya.

'Eh? Aniki-nya Lass? K-kalau anda berkenan, anda bisa datang ke sekolah kami, di lantai 2 akan kami tunggu! Untuk saat ini, saya pinjam Lass dulu!' kemudian Sieghart keluar dari pembicaraan dan memutus telpon.

'—Tch, kuso! Oi! Jangan matiin dulu—kh! Baka!' Rufus membanting HP nya, tenang, dia bisa beli baru lagi kok, dalam perjalanan, yang Rufus khawatirkan adalah keselamatan adiknya.

=Percakapan selesai=

"R-Rin senpai sudah…?" Lass menatap Sieghart tidak percaya, Rin meninggal?

"Kita—kita telat Lass.. kita tidak sempat menolongnya.. kita tidak berada disini tepat waktu.." ucap Sieghart dengan nada yang terdengar penuh kekecewaan dan penyesalan.

"Tidak—TIDAK! NGGAK MUNGKIN!" Lass berteriak frustasi, senpai kesayangannya sudah—meninggal.

"Relakan saja, Lass—setidaknya mati kita ucapkan ucapan selamat ulang tahun untuknya, kamu ingat ini hari apa?" tanya Ryan pada Lass yang sudah berkeringat dingin.

"H-hari ulang tahun—Rin senpai.." Lass menatap Ryan dan Sieghart, keduanya mengangguk.

"Tch—kuso.." Lass menunduk.

BRAK!

Rufus tiba di depan tangga lalu menggebrak dinging hingga menimbulkan suara yang cukup keras.

"Eh? Anata wa.. dare?" tanya Edel yang sedang menuruni tangga, memanggil guru.

"Aku disini mencari Lass, apakah kamu tahu dimana dia berada?!" tanyanya pada Edel sambil memegang kedua bahunya dan mengguncang guncangkannya.

"I-ittai—lepaskan dulu!" pinta Edel pada Rufus, Rufus pun melepaskannya.

"Hontou ni, omae wa—Lass-kun berada di lantai 2, aku harus segera turun, aku harus memanggil guru sebelum Rin—" Edel merasa mulutnya terbekap untuk sementara.

"—Rin yang kamu maksudkan, sudah meninggal, tsk—lain kali akan kupilih cara lain untuk membungkam mulutmu selain yang tadi." Ucap Rufus tidak segan segan, Edel menutup mulutnya, barusan saja Rufus menciumnya?

"B-baka! Tidak usah begitu juga kali caranya untuk membuatku diam!" wajah Edel bersemu merah.

"Hmm, menarik juga, oke—jaa matta nee. Aku harus segera menghampiri Lass." Lalu Rufus berlari, tidak menghiraukan Edel yang memprotes akibat first kiss nya telah dicuri oleh Rufus.

"Rin—meninggal?" Edel menatap tidak percaya, dia segera berlari menuruni tangga dan segera memanggil guru.

"Lass!" Rufus menghampiri Lass yang berada diantara dua temannya itu, sedangkan Lime sedang dipangkuannya, pingsan.

"Aniki!" Lass memeluk kakaknya yang baru tiba, melepaskan pelukannya pada Lime yang pingsan.

"Ada apa ini?" tanya Rufus pada Sieghart.

"Jadi anda aniki-nya Lass? Kalian sama sekali tidak mirip—baiklah, ini yang tejadi, anda lihat gadis yang terbaring disana?" Sieghart mengarahkan tangannya ketempat Rin, dimana dia sedang terbaring kaku, darah bergenang dimana mana.

"Dia—"

"Sudah meninggal, dan kami semua tidak tahu siapa pelakunya." Ucap Sieghart kaku, Rufus menatap dingin mayat itu lalu menepuk punggung Lass dan mengelus rambutnya.

Tidak ada yang tahu bagaimana Rin meninggal, yang jelas, semua orang yang pernah mengenal Rin, semuanya bersedih hari itu juga.

Namun semua kenangan bersama Rin, semuanya tersimpan di hati masing masing iman.

OMAKE

Hari itu, Yuki berjalan menelusuri koridor lantai dua, setelah bertemu dengan Rind an berbincang bincang, dia merasakan ada hawa negative yang berusaha merasukinya, setelah itu, dia menyadari dirinya berada di ruangan UKS, tertidur dengan pakaian penuh bercak darah.

Jangan ceritakan pada siapapun, Yuki, kalau aku telah membunuh Rin, hihihihi~

"Aku… kenapa…?" sejak hari itu, Yuki menjadi anak pendiam dan tidak pernah mengungkit ungkit soal Rin lagi.

SELAMANYA.

End of chapter 4

Author's note: Hai hai minna! Kali ini saya memperbanyak kata kata dan saya libatkan Rufus disini! Oh, ada bonus Rufus x Edel-nya loh! XD hope you all liked it! So—akhir kata.

REVIEW PLEASE! ^^