Title: Love love

Cast : Megurine Luki, Kagamine Len

Side: Kagamine Len, Kaito Shion

Genre: Romance, comedy

Storynya agak aneh ini chapter ini. Halah ==* gak berakhir dengan 4 chap keknya masih lanjut.

Maaf FF ini memuakkan terimakasih


"Oneechan mau sampai kapan melamun seperti itu terus?"Rin menoleh pada sang adik. Sebuah helaan meluncur dari celah bibirnya seraya menempelkan kepalanya dimeja makan. Sang adik geleng-geleng melihat tingkah sang kakak yang tiap hari dilanda sindrom galau berlebih. Ini sudah berlangsung selama 3 hari lamanya dan itu membuat Len cemas, kakaknya itu jari malas makan akhir-akhir ini. Len hanya takut kakaknya itu akan sakit.

"Kalau kau merindukanya kenapa kau tidak menelponya saja?" usul Len seraya menyajikan sepiring makanan dimeja.

"Itu mustahil kan. Aku akan terlihat tidak punya harga diri sekali datang kepadanya setelah dia tega mengatakan hal kejam itu padaku."cicit Rin lemah.

Kali ini gantian Len yang menghela napas, pemuda mungil itu mendudukan dirinya disamping sang kakak.

"Oneechan sendiri kan yang memperumit keadaan? Harusnya kakak menerima telponya saja waktu itu. aku yakin saat itu Luki berniat minta maaf pada oneechan. Tapi oneechan dengan bodohnya malah menyuruhku mengatakan oneechan sudah tidur. Aishhh...baka!"

"Lalu aku harus bagaimana Len? Aku tidak mau dia membenciku." Tanya Rin mengangkat wajahnya yang putus asa.

"Oneechan tenang saja. aku pasti membantumu!" Ujar sang adik mengelus surai Rin.


"Oneechan aku berangkat dulu. Sarapanya sudah aku siapkan dimeja dan jangan lupa bawa bekalmu! Aku sudah membuatkan makanan kesuakaanmu. Ja~ sampai ketemu disekolah^^

Rin tersenyum membaca notes kecil itu. Len pasti sengaja meletakanya dikulkas agar Rin mudah menemukanya. Dasar adiknya itu, dia itu laki-laki tapi kenapa selalu mengerjakan pekerjaan rumah? Sedangkan sang kakak yang notabene perempuan malah tidak bisa apa-apa. Apa jadinya hidup Len tanpa adiknya yang manis itu disisinya? Pasti berantakan sekali. Rin benar-benar bersyukur mempunyai adik yang baik seperti itu. walaupun sifatnya yang kelewat polos tapi Rin benar-benar menyayanginya.

Selesai menatap notes kecil itu Rin bejalan menghampiri meja makan. Gadis itu tersenyum lagi mendapati kotak bentonya, sepiring sepotong roti bakar dengan selai stroberi favotinya dan segelas susu putih hangat telah tersaji dimeja.

Yosh! Rin merasa bersemangat lagi untuk berangkat sekolah. untuk sementara lupakan soal si Luki menyebalkan itu dan fokus dengan kehidupanya yang biasa. Rin harus kembali ceria lagi dan tidak boleh menyusahkan sang adik. Berhenti bemuram Rin! Cowok masih banyak!

Rin menarik sebuah kursi kemudian mendudukan dirinya disana. Menikmati sarapanya dengan khikmad dan tenang. Selesai makan Rin meletakan piringnya di bak cucian agar Len bisa langsung mencucinya ketika adiknya itu pulang. Gaids itu berjalan menuju kamarnya untuk mengambil tasnya dan memakai sepatunya sebelum keluar rumah. Selesai mengunci rumahnya Rin melangkah ringan menuju halte tempatnya biasa menunggu bus. Halte itu mengingatkanya pada banyak hal. XD

Rin menyadari banyak hal telah terjadi belakangan ini. Banyak hal telah berubah tanpa ia sadari termasuk dirinya yang dulu periang kenapa jadi pemurung seperti itu? Sebenarnya Rin juga sadar diri soal perubahan sifatnya itu tapi apa yang bisa ia perbuat untuk menghentikan perubahanya itu? semua diluar kendalinya. Termasuk rasa sukanya untuk Luki. Well.. kenapa sih harus Luki? Rin sendiri juga tidak tau jawabanya. Ada banyak pria yang menyukainya tapi kenapa harus Luki? Apa sebenarnya itu bukan cinta? Hanya sekedar rasa kagum karena Luki waktu itu menolongnya?

Sigh.

Rin menggeleng. Semakin dipikirkan malah semakin rumit untuk dipahami. Mungkin ia harus berpikir dengan kepala jernih dan tidak terburu-buru. Masih ada banyak waktu untuk membuat Luki menyukainya juga. Tapi apa masih mungkin ia bertemu dengan Luki? Pemuda itu sepertinya sangat membencinya.

Berjalan sambil melamun, Rn baru menyadari bahwa dirinya sudah sampai dihalte. Sebuah bus kuning langgananya sudah menunggu. Rin cepat-cepat masuk kedalam bus. Untunglah ia masih sempat masuk karena setelah ia meloncat masuk tadi pintu bus langsung tertutup otomatis dan mulai melaju. Rin mengedarkan matanya kepenjuru bus mencari kursi yang kosong. Walaupun agak penuh tapi Rin bersyukur melihat sebuah kursi kosong dibelakang. Tak mau berlama-lama Rin menghampiri kursi itu dan duduk nyaman ditempatnya. Iseng, Rin menoleh kesamping kananya. Napasnya seketika tercekat mendapati surai merah muda disampingnya.

"Lu-luki..." Gumam Rin membuat sang objek menoleh padanya. Sama halnya dengan Rin, Luki juga tampaknya cukup surprise melihat Rin duduk disampingnya.

Rin berharap Luki akan mengatakan sesuatu padanya. Setidaknya umpatan atau cemoohan atau apapunlah itu terserah tapi nyatanya tidak, Luki malah memalingkan wajahnya lagi kearah jendela tak acuh dengan kehadiran Rin disana. Rin tak pernah tau rasanya akan sesakit ini ketika pemuda itu memalingkan wajah darinya. Menunduk, Rin merasa dadanya sesak, itu menyentuh tepat dimana rasa sakit itu muncul. Dalam benaknya berkecamuk, kenapa? Kenapa Luki berwajah dingin seperti itu? apa ia masih marah karena Rin berbicara dengan temanya waktu itu? tapi harusnya kan Rin yang marah pada Luki karena ucapanya waktu itu sudah kelewatan. Rin benar-benar dipermainkan sekarang!

Bus yang ditumpangi Rin akhirnya berhenti dihalte. Rin melihat Luki beranjak dari kursinya berjalan kepintu keluar bus. Rin menatap punggung pemuda itu sendu.

Dia sudah terlanjur dibenci! Sekarang harus bagaimana?


Len baru saja selesai mengejakan tugas piket harianya ketika tanpa sengaja matanya melihat sang kakak yang berjalan sendirian dengan kepala tertunduk dan wajah melamun. Len menghela napas, semakin parah saja kakaknya yang satu itu. kawatir dengan kondisi sang kakak Len menghampirinya. Ia menepuk pelan bahu sang Rin dari belakang tapi reaksi Rin begitu berlebihan dan itu lucu! Len tertawa cukup keras atas keusilanya,

"Ternyata kau Len! Kau benar-benar membuat kakakmu ini jantungan!" Kata Rin kesal seraya mengelus dada.

"Hahaha,,, habisnya oneechan melamun terus." Len mengusap sudut matanya yang berair. Pemuda itu sontak terdiam mendapati ekpresi murung sang kakak.

"apa terjadi sesuatu?"

Rin menggeleng, seulas senyuman dipaksakan tersungging dibibirnya.

"tidak ada." Ujarnya bohong. Rin hanya tidak mau Len semakin mencemaskanya.

"oneechan pasti bohong kan?" selidik Len lagi tapi Rin menggeleng dengan murungnya. Tak ayal membuat sang adik enggan bertanya lebih jauh.

"yasudah... ayo aku antar oneechan ke kelas." Rin mengangguk, membiarkan sang adik menyeret lenganya ke kelas.


Seusai jam bubar sekolah Len pergi ke sebuah cafe yang letaknya cukup jauh dari sekolah. mata pemuda itu mengedar pada seisi toko dan tersenyum kala mendapati seorang pemuda tampan berambut biru tengah duduk disalah satu kursi di cafe itu. Len menghampiri mejanya dan duduk dikursi lain didepan pemuda itu. Kaito tersenyum mendapati kekasihnya telah datang dan langsung menyeruput jus yang tadi ia pesan.

" segar sekali..." seru Len lega.

Kaito terkikik, "kau imut sekali Len."

Blush! Wajah sang uke memerah mendengar gombalan itu.

"oh ya ada apa tumben sekali kau mengajakku kencan duluan."

"ini bukan kencan."

Dahi sang seme berkerut,"lalu apa? Apa terjadi sesuatu?"

"ini tentang Oneechan!"

Kaito tampak kebingungan mendengar arah percakapan ini. "loh ada apa dengan Rin?"

"dia murung terus karena Luki-san!"

Kaito mendadak horror, "Luki melakukakan sesuatu padanya?"

Len menepuk dahinya gemas, "Kalau yang dimaksud melakukan sesuatu yang membuat oneechanku patah hati itu benar."

Kaito mengangguk-angguk paham seraya terlihat tengah berpikir.

"Mereka berdua bodoh!" gumam pemuda itu kemudian.

Len menghela napas, menyeruput lagi jusnya. "mereka saling mencintai."

"yep!"

"Apa perlu kita bantu?"

"boleh saja."

Keduanya menyeringai satu sama lain.


Suasana restoran malam itu cukup ramai. Dipojokan tampak segerombolan anak muda duduk mengitari sebuah meja. Canda tawa mereka yang begitu ramai membuat retoran itu hidup. Suasana kebersamaan begitu terasa disana. Sehabis bekerja makan bersama memang menyenangkan, itulah yang dilakukan Luki dan teman-temanya sekarang. Tapi berbeda dengan teman-temanya yang menikmati pesta makan malam itu, pemuda bersurai merah muda itu malah acuh sekali dengan keramaian disekitarnya. Gakupo yang mendapati temanya diam sejak tadi menyikut tenganya cukup keras membuat Luki mengangkat wajahnya dari mangkuk yang sejak tadi ia aduk-aduk tanpa minat.

"Kau bertingkah aneh belakangan ini, kenapa?" bisik Gakupo pelan. Ia tidak ingin yang lain mendengar percakapan mereka. Belum sempat Luki menjawab, eh pensel pemuda itu bergetar didalam sakunya. Luki membuka ponselnya dan tertegun melihat nomor Rin terpampang di layarnya.

"dari siapa?"

"bukan urusanmu." Ujar Luki cuek seraya memasukkan kembali benda elektronik tersebut kesakunya.

"eh? Kau tidak mengangkatnya?"Luki mengabaikan pertanyaan temanya itu dan memilih memakan mienya yang sudah mendingin ketimbang melayani ke-kepo-an temanya itu.

"Melihat ekspresimu tampaknya aku tau siapa yang menelpon. Pasti Rin kan?" Gakupo menyeringai mendapati Luki yang meletakan sumpitnya wajahnya berubah kesal.

"hah... sayang sekali. Kau harusnya mengangkat telponya. Terlalu kejam mengabaikan gadis semanis Rin. Kau pasti menyesal nanti."

Luki terpekur sesaat, menyesal? Apa itu mungkin?

"aku tidak menyesal."

"Semua laki-laki akan mengatakan itu ketika mereka sedang ada masalah dengan pacarnya."

"aku tidak pacaran denganya."

"Oh okay... tapi kau menyukainya bukan?"

Luki mendengus, temanya itu seperti cenayang saja. selalu tau apa yang dipikirkan Luki.

"bagaimana kau tau?"

Gakupo terkekeh, "Sikap cemburumu itu imut sekali Lu-ki-kun."

"aku tidak cemburu." Sangkal Luki.

"kau cemburu. Itu terlukis jelas diwajahmu. Nah.. sekarang ceritakan apa yang terjadi dengan kalian berdua." Gakupo menarik kursinya lebih dekat pada Luki.

"aku sedang marah padanya."

Gakupo terkikik, "kau marah setiap saat kalau menyangkut Rin."

"Sepupuku pernah menyukai Rin. " Ujar Luki kesal mengingat percakapanya dengan Kaito waktu itu.

"Apa mereka punya hubungan kusus dibelakangmu?" tanya gakupo tertarik.

"Bukan itu maksudku-"

"apa sepupumu dan Rin jadian?" sela gakupo lagi.

"Tidak. Dia sudah punya pacar sekarang."

"Lalu dimana masalahnya?" Luki mengernyit pada temanya itu.

"tentu saja aku marah!aku tidak bisa menerimanya. Mereka dulu pernah jalan bersama! Gadis itu selalu saja baik pada sepupuku," wajah Luki mulai mengeras penuh emosi ketika mengatakanya.

"ahahaha..." gakupo terbahak keras. Teman-temanya yang lain sontak terdiam menatap pemuda ungu gondrong itu dengan heran.

"oh... maaf lanjutkan saja." ujar Gakupo minta maaf, sadar bahwa dirinya mengganggu yang lain. Masing-masing dari temanya kemudian melanjutkan kegiatanya masing-masing.

Gakupo kembali menatap Luki yang tampak kesal karena ditertawakan tiba-tiba.

"kenapa kau tertawa?"

"kau itu imut sekali Luki. Aku tidak tau kau ternyata sampai mempermasalahkan hal kecil seperti itu. kalau bergitu masalahnya kenapa kau tidak berusaha lebih keras lagi agar Rin menyukaimu dan bersikap lembut padamu? Kalau kau iri dengan sepupumu karena ia pernah jalan dengan Rin kenapa kau tidak mengajak Rin kencan saja? "

"aku tidak mungkin melakukan itu."

"jangan buang kesempatan atau kau bisa saja menyesal nantinya." Gakupo menepuk bahu temanya menyemangati. Setelahnya keduanya tak saling bicara lagi. Luki sibuk dengan pikiranya sendiri dan gakupo diam-diam menyeringai memperhatikan pemuda itu.

'bodoh!'


Luki kembali ke apartemenya pukul 3 dini hari. Ia cukup lelah, tidak hanya lelah fisik karena pekerjaanya hari ini dan pesta tadi, tapi juga karena memikirkan masalah Rin. Ia akan langsung tidur saja setelah ini. Mandi dimalam hari hanya akan membuatnya flu keesokan harinya. Pemuda itu berjalan pelan menyusuri lorong apartemenya yang sepi. Dahinya mengernyit melihat dari kejauhan tampak seseorang duduk meringkuk disamping pintu apartemenya. Siluet rambut kuning itu. Luki mempercepat langkahnya menghampiri sosok itu. perasaanya membuncah detik itu juga mendapati dugaanya ternyata benar. Orang yang duduk didepan pintu apartemenya adalah Rin dan gadis itu tampaknya tertidur karena napasnya teratur.

Luki mengamati gadis itu dalam diam. Wajahnya manis sekali ketika tidur seperti itu dan rambutnya berkilauan diterpa cahaya lampu. Luki jadi gatal ingin menyentuhnya. Tangan pemuda itu terjulur tapi sang objek ternyata perlahan membuka matanya.

"Lu-luki..." Gumam Rin entah masih sadar atau tidak tiba-tiba memeluk Luki erat sampai tubuh pemuda itu terdorong kebelakang akibat gerakan-tiba-tiba itu. Luki menunggu dengan hati berdebar apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia kira Rin akan mengatakan sesuatu tapi tidak, gadis itu malah kembali tidur. Luki bisa merasakan napas gadis itu teratur dalam pelukanya. Luki tertawa kemudian, pemuda itu memutuskan untuk membawa Rin kedalam apartemenya. Dengan sisa tenaganya Luki menggendong gadis itu di punggungnya. Luki memencet bell pintu tapi tak ada sahutan. Beberapa kali tapi tetap tak terbuka. Pemuda itu menghela napas kesal. Merogoh saku jaketnya mengeluarkan ponselnya. Dilihatnya 2 pesan masuk dari dua nomor berbeda.

From: Kaito

Aku dan Len sedang pergi liburan ke Kyoto untuk beberapa hari kedepan kami tidak akan pulang. Oh ya tolong jaga Rin selama kami pergi 'key?

From : Rin

Kau dimana? Adikku mau pergi ke Kyoto dengan Kaito. aku disuruh tinggal diapatomu selama mereka pergi.

Luki mendengus setelah membaca sms tersebut. Benaknya bertanya-tanya apa ini sebuah rencana yang disusun duo idiot itu? awas saja kalau ini semua benar-benar rencana kaito. gezzz...

Surai merah muda itu mengeluarkan kunci duplikat dari saku mantelnya. Memasukkanya ke lubang kunci, memutarnya kemudian pintu berderit terbuka. Luki melepas sepatunya. Tak peduli dengan menyalakan lampu dan suasana yang gelap gulita. Matanya sudah tidak bisa dkompromi ia sudah sangat ngantuk juga lelah ingin tidur ditambah Rin dipunggungnya benar-benar menambah penderitaanya. Luki berjalan kekamarnya, membaringkan Rin di tempat tidurnya. Tubuh Luki benar-benar terasa remuk dan lelah tak punya tenaga lagi matanya juga sudah sangat berat. Jadi pemuda itu membaringkan tubuhnya disamping Rin. Persetan dengan mandi! Pikirnya sebelum terlelap.

TBC