Chapter 4, minna-san. ^_^v
DISCLAIMER: Saya bukanlah pemilik Persona 3 (FES) beserta karakter-karakter dan segala propertinya, semuanya milik ATLUS.
Enjoy! ^^
--
Akihiko's POV
Aku menguap—hal yang tidak biasanya kulakukan—saat pelajaran masih berlangsung. Memang sih pelajaran yang satu ini agak membosankan, tapi bukan hanya karena itu. Sejak dua hari yang lalu—bisa dibilang, sejak Mitsuru masuk rumah sakit—aku kurang tidur. Bukan karena tidak bisa, tapi tidak mau. Habis kadang-kadang Mitsuru bilang kesepian di kamar rumah sakit sendirian…
Dia tidak bilang begitu sih, tapi aku tahu dari raut wajahnya yang… sedih, atau entah kecewa, aku juga tidak bisa mengartikannya, ketika seseorang pergi meninggalkan ruangannya.
Karena itu lah, selama dua hari ini sebisa mungkin aku datang ke rumah sakit. Sekedar untuk memberikan fotocopy catatan, atau mengobrol ringan, sampai memintanya mengomentari leluconku…
"Mengomentari leluconmu?? Kenapa harus aku??" Protesnya hari itu.
"Karena hanya kau yang ada di sini." Balasku santai.
Mitsuru menatapku sesaat lalu menghela nafas. "Baiklah, kucoba." Katanya.
Setelah beberapa lelucon, ada satu hal yang tidak aku mengerti. Dia bilang tidak lucu, tapi saat aku mengatakannya, dia tersenyum nyaris tertawa. Dan akhirnya, pada lelucon yang kesekian, dia memprotes.
"Oke, lanjut. Ngg… Ikan apa yang matanya banyak?" Kataku, sambil memperhatikannya—sekaligus menahan tawa—yang juga nyaris tertawa melihatku bicara.
Ia tidak menjawab, dan akhirnya tertawa juga. Aku ikut tertawa dan memaksanya bicara. "Lucu?? Lucu ya, Mitsuru??" Tanyaku setengah memaksa sambil tertawa juga.
Bukannya menjawab, Mitsuru malah makin tertawa. "Sudah, cukup…! Kau bukan tipe orang yang bisa membuat orang tertawa dengan lelucon, Akihiko!" Protesnya sambil tetap tertawa.
Melihatnya tertawa sungguh membuatku senang. Sepertinya tidak sia-sia usahaku minta bantuan Junpei soal ini, Syukurlah leluconnya memang tidak ada yang benar…
"Memang jawabannya apa?" Tanyanya penasaran.
"Ikan teri satu kilo." Jawabku santai dengan wajah tolol. Jawabanku membuatnya tertawa lagi, bahkan lebih dari yang tadi. "Tidak masuk akal…!" Katanya.
"Ya sudah, yang penting usahaku membuatmu tertawa berhasil kan? Memang jalannya salah sih…" Balasku.
Mitsuru tersenyum. "Terima kasih, Akihiko. Aku menghargainya." Katanya. "Walaupun caranya memang salah." Tambahnya.
Kami tertawa bersama, dan hari itu menjadi hari terindah dalam hidupku… Setidaknya yang kuingat…
Bel pulang sudah berbunyi, dan aku memutuskan untuk ke rumah sakit lagi hari ini. Harusnya Mitsuru sudah boleh pulang, berhubung keadannya jauh lebih baik.
Saat sedang membereskan buku-buku di meja, Shinji menghampiriku—akhir-akhir ini dia jadi sering masuk sekolah lho, ada apa ya?
"Kau mau ke rumah sakit lagi?" Tanyanya santai sambil duduk di meja di sebelahku.
Aku mengangguk dan menyanggah tasku di pundak. "Mau ikut?" Tawarku.
"Tidak, aku mau pulang." Balasnya cuek sambil berjalan pergi.
"… Okay…"
--
Sesampainya di rumah sakit, aku langsung masuk ke kamar Mitsuru—tentu saja ketuk pintu dulu—dan dia sudah terlihat lebih baik dari kemarin.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanyaku sambil meletakkan tasku di atas sofa.
Ia tersenyum. "Jauh lebih baik, hari ini aku boleh pulang." Jawabnya senang.
"Benarkah? Jam berapa?" Tanyaku lagi, menyeret kursi dan duduk di sebelah kasurnya.
"Jam empat." Jawabnya singkat.
Aku melihat ke jam dinding yang berada di sebelah TV. "Sekarang sudah jam setengah tiga. Aku bantu membereskan barang-barangmu ya." Kataku.
Mitsuru mengangguk. Aku berdiri dari kursiku dan melihat ke sekitar. Mulai dari mana ya? Kamar ini sudah rapi sejak pertama aku datang…
Sambil membereskan buku-buku yang kubawakan dari rumah untuk Mitsuru, kami mengobrol sedikit.
"Sekolah tetap seperti biasa kan?" Tanyanya.
"Ya, tidak ada apa-apa. Berhubung kau yang banyak mengatur acara, jadi selama kau tidak ada sepertinya bakalan sepi-sepi saja," Jawabku sambil tertawa kecil.
Saat mengangkat buku-buku yang sudah kurapikan, aku melihat kertas yang kuberikan padanya dua hari yang lalu. Aku meletakkan buku-buku itu lagi dan mengambilnya.
"Mitsuru pasti sengaja meletakkannya di paling bawah… Kertas ini sudah tidak jelas bentuknya…" Pikirku. Walaupun begitu, tulisannya masih terbaca dengan jelas.
"Akihiko…?" Suara Mitsuru mengusir lamunanku. Aku segera melipat kertas itu dan memasukkannya ke kantong. Biar aku saja yang simpan.
"Kau mau pergi ke suatu tempat, Mitsuru? Dua hari di rumah sakit pasti membosankan." Kataku, berusaha mengalihkan pembicaraan.
Mitsuru terlihat bingung sekaligus curiga, tapi lalu tersenyum. "Aku ingin ke pantai." Balasnya.
Aku mengangkat alisku dan tersenyum. "Sudah lama tidak ke pantai ya. Sebentar lagi liburan musim panas, mungkin kita bisa ke sana." Aku memasukkan buku-buku tadi ke dalam tas plastik dan meletakkannya di sebelah pintu masuk.
Tepat saat itu pintu terbuka dan aku nyaris kena. Junpei—sang tersangka—dan yang lainnya masuk ke dalam.
"Oi! Buka pintu hati-hati dong!" Protesku.
"Oh, maaf." Balasnya singkat dan cuek. "Senpai, hari ini kau pulang kan??" Tanyanya pada Mitsuru.
Mitsuru hanya mengangguk sambil tersenyum. "Rumah sepi sekali tanpamu." Kata Fuuka.
"Ya, tidak ada yang bisa membuat Stupei diam…!" Ujar Yukari.
Sisa hari itu di rumah sakit diisi oleh obrolan kami yang tidak jelas arahnya, tapi aku cukup senang melihat Mitsuru yang cukup banyak tersenyum dan tertawa.
--
Sore hari, Mitsuru sudah berada di rumah lagi. Yukari dan Fuuka membantunya membereskan barang-barangnya dan menaruhnya di tempat semula di kamarnya. Mitsuru sendiri berada di bawah bersamaku.
"Aku senang Mitsuru tidak dikalahkan oleh kesedihan." Kataku saat kami menonton beberapa acara TV.
"Hm? Siapa bilang aku tidak sedih? Aku sedih kok, sangat. Aku juga kesal dan marah, kenapa harus aku?" Balasnya yang membuatku bingung.
"Ng…" Aku tidak tahu harus membalas apa.
Selama beberapa menit, kami terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Ruangan ini sepi, hanya ada suara TV. "Kita akan ke Yakushima lagi kan…?" Tanyanya tiba-tiba.
Aku menoleh dan melihat wajahnya yang tertunduk sedih. "Tentu saja." Jawabku. "Kenapa kau berpikir kita tidak akan ke sana lagi?" Tanyaku heran.
Ia menggeleng dan tersenyum. "Bukan itu, hanya saja… Biasanya aku akan dilarang pergi kalau kalian sudah mengetahui tentang penyakitku ini." Jawabnya.
"Kami tidak akan melarangmu, asalkan kau tidak memaksakan diri." Kataku.
Jadilah liburan musim panas itu kami semua pergi ke Yakushima lagi. Tentu saja, aku tidak membiarkan Mitsuru pergi ke laut. Tapi biarpun tidak kularang, mungkin dia tidak akan ke pantai, karena dia tidak mau.
--
Mitsuru's POV
Sesuai janji, aku dibawa ke Yakushima untuk mengisi liburan musim panas. Aku memang bilang ingin ke pantai, ingin sekali. Tapi setiap kali aku mendengar bunyi ombak, rasanya tidak enak dan menakutkan. Rasanya persis seperti yang kurasakan dalam mimpi—seakan ombak itu akan membawaku pergi jauh dari tempat dan orang-orang yang kusayangi.
"Senpai, ayo ikut ke pantai!" Ajak Fuuka.
Aku melihat ke luar jendela dan saat itu masih banyak ombak yang cukup besar. "Uhm… Aku mau di sini sebentar, kalian pergi duluan saja." Balasku sambil tersenyum sewajar mungkin.
"Baiklah, kami pergi dulu!" Kata Yukari. Lalu mereka pergi ke pantai bersama yang lain, termasuk Koromaru.
Sementara itu, di ruangan ini tinggallah aku, Akihiko, dan Shinjiro. Akihiko tahu dipaksa seperti apa pun, Shinjiro tidak akan mau ikut anak-anak itu ke pantai.
"Kau tidak mau ikut ke pantai, Mitsuru?" Tanya Akihiko.
Aku menggeleng. "Tidak sekarang." Jawabku singkat. "Menurutmu, kapan waktu pasang surut?" Tanyaku.
Akihiko berpikir sejenak. "Kurasa sore hari, sekitar jam lima." Jawabnya.
"Oh, benar. Kalau matahari terbenam tidak pernah ada ombak di sini." Balasku mengingat setiap kali aku ke sini, aku selalu melihat matahari terbenam dengan laut yang sangat tenang. "Aku mau ke sana saat matahari terbenam." Aku menambahkan.
"Boleh juga, di Port Island jarang terlihat matahari terbenam sih." Kata Akihiko. "Kau mau ikut juga, Shinji?" Tanyanya pada Shinjiro yang sibuk melihat-lihat tumpukan buku di samping sofanya.
Tanpa menoleh, Shinjiro mengangguk. "Boleh." Jawabnya singkat.
Kami mengobrol banyak selama berjam-jam, menunggu yang lain kembali. Aku… untuk sementara bisa melupakan penyakitku… Walaupun tidak lama.
Di tengah-tengah pembicaraan kami, dari pintu yang sengaja kubuka, Koromaru masuk duluan. Kurasa ia berlari ke sini meninggalkan yang lain di pantai.
"Hei, Koro-chan. Habis main di pantai ya?" Seperti biasa, Shinjiro yang sangat dekat dengan Koromaru menghampirinya.
"Mitsuru-san, Koromaru-san bilang dia kesepian tanpamu, jadi dia lari duluan ke sini." kata Metis yang baru masuk mengikuti Koromaru.
Aku tersenyum dan berdiri, menghampiri Koromaru. "Benarkah? Kalau begitu nanti kita ke sana sama-sama ya, Koromaru." Kataku sambil mengelus kepalanya lembut.
Anjing pintar itu mengibaskan ekornya dengan senang, lalu duduk dan berusaha bermanja-manja padaku. "Yang lain masih di pantai?" Tanyaku pada Aigis yang baru datang mengikuti Metis.
Aigis mengangguk. "Mereka masih bermain, lebih tepatnya mencoba menghindari Junpei-san yang ingin bermain dengan mereka." Jawab Aigis yang membuat Akihiko tertawa dari belakang.
Tiba-tiba pintu yang tadi ditutup oleh Aigis terbuka, dan Ken masuk dengan nafas agak terengah, tapi ia tersenyum lebar. "Sanada-san! Ayo ikut!" Ajaknya sambil menarik lengan Akihiko secara paksa.
"Oh, hei! Iya, aku ikut. Tapi jangan tarik tanganku!" Protes Akihiko. Saat ia sampai di sampingku, ia menarik tanganku juga sampai aku berdiri. "Ayo ikut juga, Mitsuru. Kau juga, Aigis." Katanya.
"Tapi—" Rupanya aku tidak diberi kesempatan untuk membalas. Mereka berdua menarikku supaya cepat-cepat pergi ke pantai, dan Aigis mengikuti kami.
Kupikir tidak ada salahnya bergabung dengan mereka, tetapi aku salah besar. Siang itu laut masih berombak besar. Semakin dekat, jantungku semakin cepat berdetak. Saat kami cukup dekat dengan pantai, aku menarik tanganku dari genggaman Akihiko.
Ia menoleh dan menyuruh Ken dan Aigis pergi duluan. "Pergilah duluan, kami akan menyusul." Katanya yang dijawab dengan anggukan dua orang itu. Lalu ia menoleh padaku. "Kau baik-baik saja?" Tanyanya.
"Aku… tidak mau dengar bunyi ombak, Akihiko." Balasku.
Sejenak ia tampak bingung, tapi akhirnya mengerti. "Kau mau kembali? Kita bisa ke sini lagi saat ombaknya sudah reda." Katanya.
Aku menggeleng. "Tidak apa, akan kucoba." Balasku.
Akihiko terlihat ragu, dan mencoba melarangku. "Uhm… Lebih baik kita kembali saja…" Katanya. Lalu ia tersenyum dan menarikku pelan ke arah kembali. "Nanti kita ke sini lagi." Tambahnya.
Aku tidak menolak dan kami kembali—tanpa memberitahu yang lain. Biarlah, mereka pasti tidak menyadari ketidakberadaanku.
Akihiko membuka pintu ruang utama, dan kami menemukan Shinjiro dan Metis sedang bermain dengan Koromaru. Akihiko menarikku lebih cepat.
"Maaf, cuma numpang lewat." Kata Akihiko dengan senyum mengejek, dibalas dengan tatapan ganas dari Shinjiro.
Aku tersenyum sekilas pada Metis dan ikut meninggalkan mereka. Saat lemari pajangan di sebelah ruang utama menutupi kami berdua, aku membisikkan sesuatu pada Akihiko.
"Sejak kapan mereka dekat?" Tanyaku berbisik.
Akihiko mengangkat bahunya. "Entahlah, tapi aku sengaja meninggalkan mereka berdua di sini, paling tidak supaya Shinji bisa mendekatkan diri dengan perempuan, paling tidak, Metis masih berwujud perempuan kan?" Balasnya.
Kami bertatapan dan tertawa kecil, berusaha supaya tidak ketahuan Shinjiro dan Metis. Lalu memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua dalam 'dunia' sendiri.
Sore itu kuhabiskan dengan jalan-jalan di pantai—yang ombaknya sudah jauh lebih kecil—bersama yang lain. Kami melihat matahari terbenam. Warnanya yang indah, ketenangan bercampur ketakutan yang diberikannya, dan bagaimana langit berubah menjadi gelap. Air laut pun berubah warna menjadi hitam dan pekat.
"Laut malam hari mengerikan ya." Komentar Yukari melihat laut di malam hari ini. Kami duduk di atas pasir putih yang dingin di antara tiupan angin malam.
"Tapi tetap indah kok. Lihat, bulannya menyinari air!" Fuuka menunjuk jauh ke depan.
Aku mengikuti arah pandangannya dan melihat bulan yang bersinar terang menyinari permukaan air. Air laut bergelombang tenang, dan bulan bersinar di atasnya, menciptakan jalur lurus yang mengarah pada kami. Jalur itu bercahaya keperakan, dan tidak pernah stabil.
Sebelum ombak mulai naik lagi, aku membiarkan diriku berada di tengah-tengah mereka. Mengobrol, bercanda, tertawa bersama… Mungkin hari-hari seperti ini tidak akan kualami lagi.
"Terima kasih… Kalian membuatku melupakan penyakitku, walaupun pada akhirnya aku memang tidak bisa lari…"
--
Penyakitku makin berbuat macam-macam. Hari ini hari pertamaku sekolah, dan sepertinya aku memang tidak diizinkan untuk ke sekolah lagi. Mungkin masih, karena kali ini yang jadi korban hanya kertas latihan soal. Aku meneteskan setitik darah di atasnya. Nyaris panik, tentu saja. Tapi aku mencoba tetap tenang dan mengambil tissue dari tasku supaya darahnya tidak menetes lebih banyak dari hidungku sendiri.
"Mitsuru, kau baik-baik saja?" Tanya guru yang sedang mengajar. Ia tidak bicara di depan kelas, tapi sedang berjalan mengelilingi kelas untuk mengawasi latihan soal kecil-kecilan ini.
Aku mendongak dan tersenyum agak dipaksakan. "Saya baik-baik saja, terima kasih." Jawabku sesopan mungkin.
"Kalau merasa tidak enak badan, pergilah ke ruang kesehatan." Katanya sambil menepuk pundakku lembut. Aku hanya membalas dengan anggukan dan kembali menekuni soal-soal di hadapanku.
"Kalau Akihiko lihat dia pasti sudah histeris…" Pikirku. Pikiranku sendiri membuatku tersenyum kecil.
Oops, tidak sampai di situ. Mau kuceritakan yang lebih ekstrim? Singkatnya sih, aku pingsan—lagi—dan kepalaku terbentur lantai.
Jadi sekarang aku membuka mata dan yang kulihat adalah langit-langit rumah sakit yang akhir-akhir ini sudah kuhafal mati bagaimana strukturnya. Yang berbeda adalah… baunya. Biasanya kamar rumah sakit berbau obat, tapi kali ini berbeda. Baunya seperti bau embun di bukit yang hijau… Ini… oksigen…
"Mitsuru…?" Aku mendengar suara yang membuka mataku lebih lebar sedikit.
Aku tidak bisa menggerakan kepalaku, rasanya berat, sakit, dan pusing. Aku juga tidak bisa bicara akibat adanya alat bantu pernafasan yang kupakai sekarang. Tapi mataku bisa melihat cukup jelas. Ruangan yang kelihatannya luas ini dipersempit dengan keberadaan gorden plastik besar di sekeliling tempat tidurku. Dan di tempat ini hanya ada aku dan Akihiko—oh, tunggu. Aku melihat Shinjiro; ia berdiri bersandar di tembok di sebelah pintu masuk. Mereka berdua menggunakan masker.
"Ah, dia sudah bangun?" Itu suara Shinjiro. Sekarang ia berjalan mendekatiku dan menatapku.
"Ya, kupikir akan lebih lama lagi sadarnya." Balas Akihiko. "Hei, kau membuatku takut." Katanya padaku. Suaranya tidak begitu terdengar jelas karena ia berbicara dari balik masker yang ia kenakan.
Tentu saja, Akihiko tidak mengharapkan jawaban dari gadis yang terlihat sekarat ini. Aku memang merasa sekarat kok, tanganku sakit tertusuk jarum infus, nafasku berat; serasa ada yang menekan paru-paruku, ditambah kepalaku yang—baru saja kuingat—terbentur cukup keras.
"Kau tidak pernah puas membuat orang-orang di sekitarmu cemas ya?" Ujar Shinjiro. Aku tahu dia memang begini, tapi tetap saja rasanya mengesalkan. Biarpun begitu, aku tidak bisa memprotes, atau paling tidak menunjukkan wajah kesal.
Tapi Akihiko cukup baik dengan mengalihkan pembicaraan, walaupun ia juga tahu aku tidak akan bisa merespon. "Kali ini masalahnya cukup serius, Mitsuru. Lihat, untuk sementara kau harus berada di dalam wilayah ini. Usahakan jangan menghirup udara di luar plastik ini." Akihiko menjelaskan.
"Tidak keluar dari sini? Aku… tidak boleh melakukan apa pun?"
Seakan bisa membaca pikiranku, Shinjiro membalas. "Aku tahu kau tidak akan tahan diam saja di dalam. Tenanglah, kau masih boleh melakukan banyak aktivitas, asal tidak membebani pikiran dan tubuhmu." Katanya.
"Dan mulai sekarang akan ada perawatan khusus untukmu. Mungkin sakit, tapi ini akan banyak membantumu." Ujar Akihiko sambil tersenyum, berusaha meyakinkanku bahwa rasa sakit yang kualami tidak akan begitu besar. Mungkin memang iya, tapi rasa sakit seperti apa pun bisa kutahan. Yang kutakutkan adalah efek sampingnya…
"Kalau mau tahu lebih banyak, nanti saja kau tanyakan semuanya pada dokter. Sekarang istirahatlah, jangan kira aku tidak bisa melihat matamu yang mengantuk akibat obat ini." Kata Akihiko sambil menunjuk tabung infus berisi obat di sebelahku. Jadi itu isinya obat yang bisa membuatku tidur ya? Hebat…
Tapi kali ini aku tidak membiarkan semua pikiran itu mendapatkanku. Aku memejamkan mataku dan sesaat kemudian kembali ke dalam tidur panjang.
--
Akihiko's POV
Sejak hari pertama Mitsuru masuk rumah sakit, aku kadang-kadang menitipkan beberapa buku pelajaran di tempatnya. Habis, selain aku tidak ada yang bisa sering menemaninya. Sebisa mungkin aku tidak ingin membiarkan dia sendirian.
Aku sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit yang tidak jauh dari sekolah. Dan aku tidak bisa melepaskan pikiranku dari Mitsuru. Akhir-akhir ini wajahnya memang tidak terlihat terlalu pucat, tapi dia tambah kurus. Bagaimana mau tidak kurus, dia nyaris tidak mau makan. Dokter bilang sih ini salah satu—dari sekian banyak—efek samping perawatan yang ia jalani. Dari dulu aku ingin menemaninya melewati perawatan itu, tapi entah kenapa Mitsuru selalu memilih pagi hari menjadi waktu perawatan itu.
"Mitsuru selalu menolak kalau kuajak ke sana siang hari. Kalau hari memang sudah siang, dia bilang besok saja. Aku juga tidak tahu kenapa, dia tidak pernah bilang alasannya." Kata dokter Ozawa saat aku menanyakan kenapa Mitsuru selalu memilih pagi-pagi.
Yang kedua, kenyataan bahwa aku pernah nyaris berteriak kaget melihat rambutnya yang rontok 'beberapa' helai dan tertinggal di bantalnya saat ia bangun. Waktu itu ia menatapku dengan tatapan yang… kesal, jengkel, bercampur sedih. Kalau yang itu, dokter Ozawa bilang itu efek dari obat yang harus ia minum.
Tanpa terasa aku sudah sampai di depan rumah sakitnya. Saking seringnya aku ke sini, aku yang dulunya selalu tersesat mencari kamar Mitsuru, sekarang sudah hafal mati jalan untuk ke sana. Bahkan aku sudah tahu banyak jalan alternatif (Kurang kerjaan ya?).
Setelah mengetuk pintu, aku membukanya. Biasanya Mitsuru sedang duduk tenang di atas tempat tidurnya, atau sedang tidur. Kali ini… Dia memang duduk, tapi berlutut. Dan di balik tirai plastik itu, aku melihatnya menangis.
"Ya ampun… Harus berapa kali lagi aku melihatnya menangis??" Pikirku sambil mengambil satu masker dari tumpukan di pintu masuk dan masuk ke dalam. "Mitsuru?" Panggilku.
"A… Akihiko…" Ia menoleh dan aku bisa melihat matanya yang masih berkaca-kaca. Pandanganku beralih pada tangannya yang menggenggam beberapa helai rambut merahnya yang rontok. "Kenapa… Kenapa penyakit ini memilihku…??"
Aku menahan diri sekuat mungkin untuk tidak menangis. Kau tidak akan pernah tahu betapa menyakitkannya melihat orang yang kau sayangi menderita dan kau tidak bisa berbuat apa-apa. Aku menyibak tirai plastik itu sedikit—supaya tidak banyak udara dari luar yang masuk—dan membuatnya menyandarkan kepalanya di bahuku.
Ia masih menangis tanpa suara. "Aku tidak tahu kenapa penyakit ini memilihmu, tapi…" Aku memeluknya lebih erat. "Percayalah semuanya terjadi untuk suatu alasan." Aku melanjutkan. "Karena itu bersemangatlah! Aku tahu Mitsuru pasti bisa." Kataku. Ya, aku tahu dia pasti bisa. Malah yang kukhawatirkan adalah bahwa akulah yang tidak sanggup menariknya yang terjatuh.
Mitsuru perlahan melepaskan pelukanku dan menatapku. "Tetaplah bersamaku ya…? Selamanya… ya?" Aku tahu, sekuat apa pun diriku, aku tidak akan bisa menahan diri untuk tidak meneteskan air mata saat melihatnya menderita.
"Pasti." Balasku singkat saat ia berada dalam pelukanku lagi—lebih karena aku tidak ingin ia melihatku menjadi lemah dengan air mata ini.
Aku menyuruhnya tidur, karena menurutnya sendiri, perawatan hari ini terpaksa dilakukan siang hari dan ia capek sekali. Ia tertidur cepat, sepertinya memang benar-benar capek.
"Kau tetap cantik, apa pun yang terjadi…" Pikirku saat melihat wajahnya yang damai. Aku berjalan ke sofa dan menghempaskan tubuhku di atasnya. "Kenapa penyakit itu memilihmu? Aku tidak tahu, itu benar. Yang kutahu hanyalah kau punya kekuatan untuk bangkit. Dan kau tidak sendirian."
--
Huih… Akhirnya jadi juga, dengan segala perjuangan… Chapter ini agak susah… XD
Oh ya, kalau kalian perhatikan, waktu adegan Yakushima, saya sengaja bikin Akihiko nyeret Aigis pergi which means that left Shinji and Metis alone. *whooo~* XDDD Secara tidak sengaja saya menemukan ide buat masukin crack pairing ini… =P
Oh, soal Akihiko garing, itu sengaja. =)) Terus kenapa Mitsuru ketawa? Ya… coba kalian posisikan diri sendiri sebagai Mitsuru deh… Siapa tahu ketawa juga… Karena saya juga ketawa lho. XD
Thank you for reading m(_ _)m
Sampai jumpa di chapter 5!
