Sebelumnya saya akan mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada minna-san. Baca A/N nya juga ya... Chapter 4 ini ada 6,7 K+ . Maaf jika kurang maksimal.
Dan ini adalah fic terakhir yang saya update di FFN untuk tahun 2015. Happy Reading ^^
.
.
Previous Chapter
Wajah Hinata kembali cerah seolah-olah ia telah menemukan sesuatu yang benar. "Ternyata pikiranku kemarin tepat."
Sasuke menatap Hinata penuh selidik, ia mengangkat sebelah alisnya. "Apa maksudmu?"
Hinata menepukkan kedua tangannya dan mengangguk mantap. "Seharusnya aku menikah dengan buku."
Gubrak!
.
.
.
Marriage Online © Yuki Ryota
Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing : SasuHina
Rated T+
.
.
.
.
"Kau ini lebih memilih buku daripada aku untuk menjadi suamimu?" tanya Sasuke tidak percaya dengan apa yang dikatakan muridnya itu.
Hinata mengangguk mantap. "Tentu saja."
"Bahkan semua orang mengetahui bahwa aku lebih baik dari buku."
Hinata menyipitkan matanya, tanda tidak suka, "Aku tidak berpikir seperti itu, aku lebih baik bersama dengan buku daripada hidup bersama dengan sensei jutek." Sasuke mengepalkan tangannya, menahan geraman saat ada yang menghinanya.
Hinata menatap Sasuke dari ujung rambut hingga tubuh Sasuke yang tidak tertutup meja. "Menurutku … tidak ada yang menarik dari Sensei."
Sasuke menghela napas frustasi. "Memangnya apa sih bagusnya buku itu, ha? Hingga kau lebih memilih membelanya daripada diriku?"
"Kau tidak tahu betapa eksotisnya buku itu. Buku—"
Kedutan di dahi Sasuke mulai bertambah saat mendengarnya. Yang ia butuhkan adalah penjelasan, bukan pujian akan keagungan benda mati itu.
Dan Sasuke putuskan untuk mengakhiri pujian itu secepatnya. "Diamlah! Aku tidak habis pikir, kau maniak buku sampai melewatkan orang tampan sepertiku?" ujar Sasuke dengan percaya diri.
"Apa buktinya Sensei tampan?" tantang Hinata. Entah mendapat keberanian dari mana Hinata menantang sosok berwibawa di hadapannya. Mungkin jiwa membela barang kesukaannya dari celaan membuat dirinya memiliki jiwa berdebat yang luar biasa.
"Kau tidak pernah membaca majalah? Bahkan aku diakui di sana," tatapan Sasuke yang merendahkan membuat jiwa 'tidak mau kalah' Hinata bangkit.
"Tidak."
Sasuke mengambil majalah yang berada di laci meja kerjanya, lalu melemparkannya pada Hinata yang ditangkap dengan baik oleh gadis itu. "Baca itu."
Hinata menurut dan membaca majalah yang sudah dibuka di halaman yang terdapat gurunya itu. Pasti Hinata dapat mengerti seberapa terkenal dan banyak yang mengincar suaminya itu, pikir Sasuke positif. Tanpa sadar sudut bibirnya menarik membentuk lengkungan.
"Aku tidak mengerti."
Senyum Sasuke langsung menghilang, ia menatap Hinata dengan kerutan di dahinya, "Apa maksudmu?"
"Kau seorang model?" Sasuke memijat pelipisnya pelan. Ia menatap Hinata yang masih sibuk membaca, ia berpikir untuk mengajukan ke kantor arsip Konoha untuk mengganti pasangan dengan bocah polos seperti ini yang tidak mengetahui keinginan orang dewasa seperti dirinya.
'Aku benar-benar harus menguji kesabaran dengan anak ini,' batin Sasuke. Ia kembali menulis detensi yang akan diberikannya pada Hinata.
Lama mereka terdiam, dengan Hinata yang masih sibuk membaca majalah hingga komentar keluar dari bibir mungil Hinata. "Sensei tidak suci."
Detik itu juga Sasuke mendongakkan kepalanya dan menatap Hinata tajam. "Apa maksudmu?"
Hinata menyeringai senang, ia membuka lebar-lebar halaman majalah yang sedang dibukanya. "Lihatlah, di sini Sensei memamerkan tubuh Sensei."
Tidak tahan dengan tingkah Hinata, Sasuke segera beranjak dari kursinya dan berjalan menuju Hinata. "Memangnya buku itu suci?" Hinata menelan ludah merasakan aura kemenangan Sasuke yang mendekati dirinya.
"Dia bahkan sering disentuh orang lain apalagi buku yang ada di perpustakaan," ujar Sasuke menyunggingkan seringaiannya dan menempatkan sebagian dirinya di atas meja.
Alis Hinata berkedut kesal, "Grrrr … keputusanku memang benar bahwa seharusnya aku menikah dengan buku. Tidak dengan Sensei!" seru Hinata.
Sasuke terkesiap, ia berusaha mengontrol emosinya terhadap siswinya yang sungguh sangat keras kepala ini. Ia mendekat ke arah Hinata dengan kedua tangan mencengkram pundak muridnya.
"Sadarlah dan buka matamu lebar-lebar, Hyuuga," kedua tangan Sasuke merangkak naik lalu menarik kedua pipi Hinata dan membuat sang empu meringis pelan.
"Lihatlah bahwa orang yang ada di hadapanmu adalah orang yang akan selalu bersamamu sepanjang hidupmu. Mengerti?" tambah Sasuke tegas.
Hinata mencengkram roknya erat dan berniat mengajukan protes. "Tapi—"
Tarikan di pipi Hinata kian menguat yang membuat Hinata tidak bisa berkata-kata, "Aku butuh jawaban pasti, bukan penolakan. Dan berhentilah lari dari kenyataan bahwa suamimu dan orang yang akan menemanimu sepanjang hidupmu adalah gurumu. Paham?"
"Pa-paham, Sensei," cicit Hinata terpaksa. Ia berharap jari-jari panjang gurunya segera menghentikan kegiatan yang menurutnya menyiksa dirinya sendiri.
Mendengar cicitan Hinata, Sasuke menyeringai kemenangan. Irisnya menatap Hinata puas yang membuat Hinata merasa muak. Perlahan ia melepaskan tarikan di pipi Hinata.
"Aku anggap kejadian di kantor arsip bukanlah kesalahan. Kau tidak mendapat detensi hari ini. Dan perdebatan tidak bermutu ini tidak pernah terjadi. Kembali ke kelasmu sekarang. Saat pulang sekolah, temui aku di parkiran guru, mengerti?"
"Ha'i, Sensei," ujar Hinata sambil mengusap pelan pipinya yang terdapat bercak kemerahan. Ia segera pergi dari ruang kerja Sasuke. Meninggalkan Sasuke yang menatap punggung kecilnya yang perlahan mendekat ke pintu.
"Permisi," ujar Hinata sebelum menghilang dari balik pintu.
Sasuke menghela napas, jari-jari panjangnya memijat pelan pelipisnya. "Ada-ada saja anak itu. Aku masih tidak percaya kalau aku akan menikahi muridku sendiri."
.
.
.
.
Bel istirahat makan siang telah berbunyi lima menit yang lalu. Dalam waktu lima menit, kelas tersebut dengan cepat menjadi kosong. Hanya terdapat gadis bersurai indigo yang sejak tadi tidak beranjak dari kursinya sejak ia kembali memasuki kelas ini.
Iris amethyst-nya menatap kosong keluar jendela. Ia benar-benar tidak menduga apa yang terjadi pada hari ini. Ia bahkan tidak berharap bertemu dengan suaminya sekarang.
Ia kira akan bertemu dengan pasangannya secara baik-baik atau dengan proses yang semestinya, namun ia malah bertemu dengan status guru dan murid yang masih melekat di dirinya.
Helaan napas keluar dari bibir mungilnya. Ia menelungkupkan kepalanya di atas meja. Menyamankan diri untuk merilekskan diri.
Tiba-tiba sebuah suara memecahkan keheningan kelasnya. "Kau frustasi, Kaichou?" tanya seseorang yang menyadarkan dirinya. Suara itu sangat familiar di telinga Hinata.
"Shion?" gumam Hinata masih menelungkupkan kepalanya.
"Tentu saja. Mau mengajakku berkeliling?" ajak Shion sambil duduk di kursi yang ada di depan meja Hinata.
"Aku tidak bersemangat kali ini."
"Ayolah," rajuk Shion. "Kita jalan-jalan sambil makan cokelat yang kuberikan, bagaimana?"
"Aku tidak minat." Apalagi bertemu dengan sensei menyebalkan itu.
Shion menghela napas menyadari keras kepala sahabatnya itu yang tidak berubah.
"Kudengar klub baseball sangat terkenal ya?" tanya Shion mengubah topik pembicaraan.
Hinata hanya menjawabnya dengan gumaman dan kepala yang mengangguk.
"Teman baruku berkata bahwa di sana berisi anggota-anggota yang tampan!" ujar Shion mulai bersemangat mengangkat topik ini. Irisnya melihat foto-foto anggota klub baseball yang ada di ponselnya.
'Jika kau bertemu pria anjing itu, aku yakin kau pasti mencabut ucapanmu dan mengatakan klub itu berisi anggota yang konyol,' batin Hinata.
"Bisakah kau mengantarku menemui mereka?" pinta Shion penuh harap. Ia menyadari jika puppy eyes tidak akan berguna jika Hinata dalam keadaan menelungkupkan kepalanya.
"Ajak teman barumu saja. Aku ingin istirahat."
Shion menghela napas, "Baiklah. Padahal ada orang yang ingin bertemu denganmu tadi."
Tidak mendengar sahutan dari Hinata, Shion segera beranjak dari kursi dan berjalan menuju pintu kelas. "Sampai nanti!"
Setelah itu keheningan kembali mengisi kelas itu.
"Klub baseball, ya …"
Ingatan Hinata terbang menuju peristiwa semester yang lalu. Pakaian klub, koran, erangan kesakitan, MO, dan ajakan MO.
"Aku tak sabar untuk melakukan MO denganmu,"
Hinata segera menegakkan tubuhnya, alisnya bertaut menyadari sebuah kejanggalan. Tanpa sadar wajahnya memerah saat mengetahui kejanggalan itu. "Jadi, waktu itu ia mengajakku menikah?"
Ia segera beranjak dari kursi dan berlari keluar kelas, mengejar sosok sahabatnya, "Shion. Tunggu aku!"
.
.
.
.
Shion menyunggingkan senyum manisnya. Entah apa yang sedang ia pikirkan hingga menampakkan senyum semanis madu itu. Dan tentu kejadian tidak waras itu membuat Hinata mengernyit heran.
"Ada apa, Shion-chan?" tanya Hinata yang hanya dibalas dengan gelengan.
"Tidak ada kok. Aku hanya senang bisa bertemu dengan mereka~" tubuh Shion berputar-putar, seolah menggambarkan kebahagiaannya.
Melihat itu Hinata hanya tersenyum melihat tingkah kekanakan sahabatnya. Tiba-tiba Shion menghentikan gerakannya dan menatap Hinata penasaran.
"Ne, kenapa kau berubah pikiran?" tanya Shion semangat.
Mendengar pernyataan yang ditujukan kepadanya secara tiba-tiba membuat Hinata menggaruk pipinya. "Aku ingin bertemu dengan seseorang."
Iris Shion membulat, terkejut karena untuk pertama kalinya Hinata mencari seseorang yang ber-gender laki-laki. "Heee … siapa siapa?"
Hinata menggeleng, "Aku tidak mengetahui namanya."
Shion mengerucutkan bibirnya, "Untuk apa mencarinya jika kau tidak mengetahui namanya."
"Yang kutahu rambutnya tidak rapi dan mengikuti klub baseball."
Shion mengerutkan dahi, mencoba berpikir tentang ciri-ciri yang disampaikan oleh sahabatnya. Ia kembali memainkan ponselnya, "Ciri-ciri yang kau sebutkan kurang spesifik, Nata."
Hinata menoleh menatap Shion penasaran, "Benarkah?"
Shion mengangguk, "Hampir semua anggota klub baseball memiliki rambut yang tidak rapi," jari lentik Shion masih sibuk mengutak-atik ponselnya.
Hinata menunduk lesu. "Tapi hanya itu yang kutahu dari dirinya."
Melihat sahabatnya yang tampak kecewa, Shion mencoba mencari ciri-ciri yang dapat menunjukkan orang yang dicari Hinata."Bagaimana dengan warna rambutnya?"
Hinata mendongak sambil mengusap-usap dagunya, "Apa ya?"
"Coba diingat kembali, Nata," ujar Shion bersemangat.
Hinata menghela napas saat mengetahui dirinya tidak bisa mengingat ciri-ciri terpenting yang bisa membuatnya mengetahui sosok yang dicarinya.
"Aku lupa, karena saat itu rambutnya tertutupi sinar matahari. Mungkin aku bisa mengetahuinya jika bertemu langsung dengannya."
Shion ikut menghela napas mengetahui usaha mencari identitas orang yang dicari Hinata gagal. Irisnya berbinar kala melihat halaman belakang sekolah yang dipenuhi beberapa anggota klub baseball. Para anggota klub itu mengerumuni pohon besar yang berada di halaman luas itu.
"Ayo cepat! Kita sudah sampai!" seru Shion menarik pergelangan tangan Hinata dan mengajak empunya untuk ikut berlari.
Hinata berlari semampu yang ia bisa tetapi tetap tidak bisa mengimbangi Shion yang berlari dengan kecepatan penuhnya. Hanya dalam waktu beberapa detik mereka sudah sampai di halaman belakang sekolah. Dan berada 4 meter dari pohon besar berada.
Hinata mengedarkan pandangannya, mencari-cari sosok yang dicarinya sambil mengatur napasnya yang terengah-engah karena mengimbangi lari sahabat pirangnya itu. Sementara Shion sibuk menatap satu persatu anggota baseball yang masih belum merasakan kehadiran Shion dan Hinata.
Iris Shion membulat dan membuatnya menghentikan langkah tiba-tiba. Hinata yang berada di belakang Shion dan masih sibuk mencari, tidak menyadari Shion yang berhenti tiba-tiba. Ia meringis kala keningnya menabrak kepala bagian belakang Shion.
"Shion kenapa kau—"
"Hei, hei, Hinata lihat! Itu… Namikaze-san!" seru Shion tertahan. Sepertinya ia tidak peduli jika tadi kening Hinata menabrak kepala bagian belakangnya.
"Yang mana?" Shion yang tidak menunjuk orang yang disebutnya membuat Hinata bingung.
"Ayo kita ke sana!" Lagi-lagi gadis bersurai pirang itu menarik pergelangan tangan Hinata. Dan lagi-lagi Hinata terseret dengan langkah Shion.
"Tu-tunggu! Shion!" seru Hinata dengan langkahnya yang terseret-seret. Tidak mendengar adanya jawaban, Hinata memutuskan untuk mengimbangi lari Shion.
Dalam beberapa detik, mereka sampai di hadapan para anggota klub baseball yang kini menyadari kehadiran mereka.
Dengan irisnya yang berbinar-binar, Shion memperkenalkan diri. Sedangkan Hinata membungkuk dan memegangi lututnya untuk mengatur napasnya yang terengah-engah. Akhir-akhir ini ia memang jarang melakukan olahraga yang membuatnya tampak kewalahan hanya untuk berlari.
"Nah, dan ini adalah Hinata Hyuuga. Ia di sini sedang mencari seseorang," ujar Shion memperkenalkan Hinata setelah memperkenalkan dirinya sendiri.
"Hinata … Hinata yang itu?" tanya salah satu anggota klub dengan giginya yang bertaring.
Merasa namanya disebut, Hinata menegakkan tubuhnya. Iris bulannya menatap para anggota klub baseball.
"Hinata Kaichou?!" seru mereka semua bersamaan, tampak kaget dengan kehadiran Hinata di hadapan mereka. Guratan ketakutan di wajah mereka tampak jelas dilihat oleh iris Hinata maupun Shion.
"Apa yang Kaichou lakukan di sini, heh?" tanya seseorang yang memandang Hinata remeh. Hinata menatap orang itu, tatapannya berganti yang semula datar menjadi dongkol. Dan mungkin hanya dia yang berani bertanya kepada Hinata.
"Bukan urusanmu, Inuzuka-san."
Pemuda bersurai coklat itu mendengus. "Jika kau kemari kau pasti ada urusan dengan klub baseball dan berarti aku berhak tahu."
"Aku tidak ada urusan dengan klub baseball. Aku hanya memiliki urusan dengan salah satu anggota klub baseball," jelas Hinata dengan menekankan kata 'salah satu' agar membuat pemuda bersurai coklat itu tidak besar kepala.
Pemuda yang bernama Kiba itu memalingkan muka dengan tangan yang mengepal. Semburat tipis berwarna merah yang sangat tipis menghiasi pipinya. Jika sahabatnya ada di sini pasti ia sudah ditertawakan.
Shion menggigit bibir saat menyadari hawa tidak mengenakkan yang dikeluarkan oleh Hinata mengelilinginya. "Mm … Ano … Nata-chan sedang mencari seseorang di sini."
"Mungkin aku bisa membantumu, Kaichou," ujar pemuda bersurai pirang menawarkan diri.
Hinata menatap pemuda itu. Ia merasa pernah melihat pemuda itu sebelumnya, menyadari tatapan Hinata, pemuda itu melebarkan senyumnya.
"Namikaze Naruto," ujar pemuda itu memperkenalkan diri. "Mungkin kau bisa menyebutkan ciri-cirinya?"
Hinata mengangguk saat pemuda itu memperkenalkan diri. "Yang kutahu rambutnya berantakan," Hinata menatap satu persatu anggota klub baseball, kemudian menatap iris sapphire Naruto. "Dan dia tidak berada di sini."
Entah sejak kapan ini berlangsung, tapi anggota klub baseball yang ada di sana ikut berpikir, mencari tahu identitas orang yang dicari Hinata.
"Naruto, bukannya Ketua tidak hadir di sini?" tanya salah satu seorang pemuda yang juga bersurai coklat, sebut saja Kankurou.
Naruto menjentikkan jarinya, seolah teringat sesuatu. "Ah iya! sepertinya yang kau cari adalah Ketua."
"Apa kalian punya foto ketua kalian? Mungkin saat Hinata melihat foto itu, ia bisa mencari orang tersebut," tanya Shion. Karena memang data anggota klub baseball ia miliki kecuali ketua klub baseball.
"Maaf. Tapi kami tidak punya," ujar Kankurou menggaruk tengkuknya, merasa bersalah karena tidak dapat membantu lebih. Para anggota lain juga merasa demikian.
Shion menggembungkan pipinya, "Bagaimana kalian tidak punya?! Kalian kan—"
"Tidak apa-apa, Shion. Maaf mengganggu aktifitas kalian," ujar Hinata membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Ah, iya. Kami juga minta maaf. Ketua kami sangat misterius, kami bahkan tidak mengerti jalan pikirannya," ujar Naruto merasa tidak nyaman dengan tingkah Hinata.
Hinata mengangguk maklum. "Kalau begitu aku pamit dulu. Kau ingin ikut, Shion?"
"Aku ikut denganmu, Nata!" seru Shion berjalan beriringan bersama Hinata.
"Kukira kau masih ingin di sana."
Shion mendecakkan lidah, "Sejak bertemu dengan pemuda yang punya tato di pipi, aku tidak minat berurusan dengan mereka," Hinata terkikik kecil mendengar gerutuan Shion.
Mereka berdua berjalan menjauh, para anggota klub memperhatikan mereka dari kejauhan.
"Mereka perempuan yang aneh," komentar Juugo, pemuda bersurai orange jabrik.
"Tapi kenapa mereka mencari Ketua ya?" tanya pemuda bertaring yang bernama Suigetsu.
Naruto mengangkat bahu. "Entahlah. Sepertinya mereka memiliki sebuah hubungan serius."
"Apa jangan-jangan gadis itu adalah pasangan Ketua dalam MO?" tanya Chojuro, menyatakan kecurigaannya.
"Tidak mungkin!" seru seseorang lantang yang membuat halaman belakang sekolah menjadi sangat hening karena seruan dari pemuda itu. semua tatapan menuju ke arahnya.
"Memangnya kenapa, Kiba?" tanya Chojuro penasaran dengan tingkah sahabatnya.
Kiba memalingkan wajah, "Ti-tidak apa-apa."
Alis Naruto naik turun dengan tatapan jahilnya yang menatap Kiba, ia mendekat kearah Kiba dan menyenggol pinggangnya. "Jangan-jangan kau suka Nata-chan ya?"
"Ti-tidak! Untuk apa aku menyukai cewek mengerikan seperti dia!"
Naruto menyeringai jahil, "Oh, benarkah? Wajahmu memerah tuh."
Kiba menundukkan kepalanya, menyembunyikan wajahnya. Sontak halaman belakang sekolah itu dipenuhi tawa khas laki-laki.
"Kiba manis sekali jika seperti ini~" ujar Naruto masih menggoda Kiba.
Suigetsu menyeringai mendengarnya. "Ne, Kiba-kun bagaimana jika kau menjadi pasangan MO ku tahun depan, hm?"
"Atau menjadi uke Sui~" timpal Kisame.
Seluruh anggota klub yang berada di halaman belakang tertawa terpingkal-pingkal mendengar ucapan Suigetsu dan Kisame yang menggoda Kiba.
"D-d-diamlah kalian, baka!"
"Whoa! Dia seperti character game yang selalu kumainkan! Tsundere~"
"Diam kau, Kankurou!" tunjuk Kiba pada Kankurou dengan wajah memerah padam.
"Pft … Huahahahahaha."
Kiba memalingkan muka saat melihat teman-temannya yang menertawakannya hingga memegang perut mereka karena geli.
"Kiba," panggil Chojuro. Kiba menoleh dan menatap dengan pandangan bertanya kepada Chojuro. "Bukankah kau sekelas dengan Hinata? Apa kau tidak tahu apa yang diinginkan perempuan itu kepada ketua kita?"
Kiba bernapas lega saat menyadari bahwa hanya Chojuro lah yang tidak ikut menertawakannya. Kiba mengangkat bahu, "Dia terlalu tertutup. Dan tidak pernah dekat dengan satu pun teman di kelas."
Tawa yang mengisi halaman belakang sekolah tersebut perlahan berhenti saat mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Kiba.
Srak
Daun-daun berjatuhan dari pohon besar itu. Menghujani para anggota klub baseball yang sedang bersantai di pohon besar itu. Angin berhembus menerbangkan beberapa daun yang berguguran dan bersamaan dengan itu sesosok pemuda muncul di hadapan mereka.
"Dia cukup misterius rupanya," komentar pemuda itu yang membuat anggota klub baseball yang mangkal di halaman belakang terkejut dan menahan napas.
"Ketua!" seru mereka bersamaan.
Pemuda itu menyunggingkan seringaiannya. Irisnya menatap Kiba tajam yang membuat Kiba menelan ludah. "Inuzuka Kiba, ada yang ingin aku tanyakan kepadamu."
.
.
.
.
Bel pulang sekolah telah berbunyi. Para siswa dan siswi berdesakkan untuk keluar dari kelas, kecuali Hinata yang masih santai untuk mengemasi barang-barangnya dan petugas piket hari ini.
Ia sengaja menjadi yang terakhir keluar dari kelas sehingga ia tidak perlu repot-repot berdesakan keluar kelas. Ia tidak menyadari jika sedari tadi teman sekelasnya, Kiba menatap intens dirinya dari kejauhan.
Hinata melangkah gontai meninggalkan kelas. Tidak seperti biasanya ia meninggalkan kelas dengan perasaan berat. Tentu saja karena hari ini ia akan bertemu dengan sensei/suaminya untuk pergi bersama ke Kantor Arsip Konoha.
Baru saja keluar dari kelas ia langsung dikejutkan dengan cengkraman di lengan kirinya. Ia menatap tajam sang pelaku yang menghentikan gerak tubuhnya. "Apa yang kau lakukan, Inuzuka?"
"Kenapa kau mencari ketua kami?"
"Jadi yang kucari adalah ketua klub baseball?" tanya Hinata memastikan.
Kiba mengangguk sebagai jawaban. "Ya. Untuk apa kau mencarinya?"
"Sudah kubilang itu bukan urusanmu, Inuzuka. Lepaskan tanganku."
"Aku sudah menjawab pertanyaanmu. Kau harus menjawab pertanyaanku!" seru Kiba.
Hinata menyentakkan tangannya. "Itu adalah privasi antara kami berdua!" Hinata langsung menjaga jarak dengan Kiba dan menatap Kiba dengan pandangan sengit yang membuat Kiba terkesiap.
"Berhentilah ikut campur, Inuzuka-san," bersamaan dengan itu Hinata berbalik dan berlari meninggalkan Kiba yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Aku akan mencari tahu demi kebaikanmu sendiri, Kaichou."
.
.
.
Hinata terus berlari menuju parkiran guru. Pikirannya berkecamuk saat mengingat perlakuan Kiba kepadanya yang menurutnya aneh. Ia merasa tatapan Kiba yang ditujukan kepadanya adalah tatapan yang melindungi barang miliknya.
Tiba-tiba langkah Hinata berhenti saat ia memikirkan sesuatu yang aneh. 'Apa Inuzuka-san menyukai orang yang kusukai ya?' batin Hinata.
Ia terdiam memikirkan apa yang sedang terlintas di benaknya. Hingga panggilan menyadarkan lamunan panjangnya.
"Hyuuga," mendengar panggilan itu Hinata tersadar dari lamunannya. Ia mengedarkan pandangannya dan menemukan Sensei-nya yang bersandar pada sebuah kendaraan dengan tatapan angkuhnya. Hinata berjalan mendekat sampai ia berada di hadapan gurunya itu.
Gurunya yang memiliki nama asli Sasuke itu melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya, "Kau telat 10 menit. Apa yang kau lakukan selama itu?" tanya Sasuke penuh selidik.
"Aku piket."
"Kau berbohong. Jika kau piket hari ini, sekarang kau masih berada di kelas."
Hinata memalingkan wajahnya, enggan menatap gurunya yang menatapnya penuh kecurigaan. Ia terkejut saat menyadari telapak tangan yang menyentuh pipinya dan menariknya perlahan membuat mereka berdua saling bertatapan. Tangan itu bergerak menyentuh dagu Hinata.
"Jawab pertanyaanku, Hyuuga."
Dan bersamaan dengan itu, pandangan Sasuke menggelap. Tapi anehnya, ia merasakan bahwa ia masih berdiri dan masih di posisi semula.
"Aku akan menjawabnya."
Ah, aku tahu apa yang dilakukan olehnya. "Kenapa kau menutup mataku, huh?"
"Matamu menyeramkan."
Sasuke tidak bisa berkata-kata saat mendengar jawaban muridnya itu. Apa tadi? Menyeramkan? Ia mengatakan itu menyeramkan disaat banyak orang justru memuji mataku?! Apa-apaan itu?! pikir Sasuke.
Ia mengumpat dalam hati, berusaha tidak menyalurkan emosi terpendamnya kepada murid sekaligus calon istrinya itu.
Sasuke putuskan untuk menunggu jawaban dari muridnya itu. Jujur saja, ia merasa curiga sejak tadi. Ia merasa gerak-gerik Hinata terasa aneh dimatanya.
"Aku bertemu dengan … seseorang."
Pikiran Hinata kembali pada sosok Kiba yang seperti menyembunyikan sesuatu tentang ketua klub baseball darinya.
Perlahan Sasuke dapat memandang wajah Hinata di depannya. Ia sadar bahwa Hinata telah melepaskan tangannya dari wajah Sasuke. Ia melihat dengan jelas wajah gadis itu tampak gelisah.
"Kau berbohong."
"Apa?" Hinata menatap heran Sasuke. Ia sudah mengatakan sejujurnya tapi malah mendapatkan komentar yang menurutnya tidak sepantasnya diucapkan.
Sasuke mengambil kacamatanya yang berada di saku kantong bajunya dan memakainya. Ia menatap Hinata dari atas sampai bawah, menganalisa sosok dihadapannya.
"Raut wajah gelisah, pakaian kusut karena berlari, berusaha menghindari kontak mata denganku," Sasuke menyampaikan analisa dengan gaya seperti seorang detektif. Hinata merasakan perasaan tidak enak.
Sasuke memajukan tubuhnya yang bersandar pada kendaraan kepada Hinata. Hinata secara naluriah memundurkan tubuhnya.
"Kau tidak … bermain mata denganku, kan?" tanya Sasuke menyipitkan matanya.
"Hah?" Hinata semakin bingung dengan ucapan Sasuke.
Sasuke memegang kedua pundak Hinata agar gadis itu tidak mundur lagi. "Berlari terburu-buru hingga pakaian kusut, raut wajah gelisah. Kau tidak sedang bertemu dengan mantan pacarmu, kan?" Entah kenapa, Sasuke baru menyadari bahwa ucapannya terdengar aneh dan rancu untuk orang seperti Hinata.
"Menghindari kontak mata denganku dengan cara menutup kedua mataku. Kau berusaha berdalih bahwa kau bertemu dengan cinta pertamamu, kan?" selidik Sasuke yang berusaha memojokkan Hinata. Melihat Hinata yang terdiam tak berkutik, membuat Sasuke menyadari bahwa ekpektasinya benar.
Seandainya Sasuke tahu bahwa saat itu Hinata sibuk mencari tahu defenisi dari 'cinta pertama' yang diucapkan oleh Sasuke. Ia juga mencari cara agar mulut Sasuke tidak mengoceh sesuatu yang membuat kepalanya pening itu.
Sasuke memajukan wajahnya, hingga kini wajahnya hanya berjarak 10 cm. Ia melirik kesana-kemari guna mencari barang atau sesuatu yang bisa menyumpal mulut Sensei-nya itu. Yang malah diartikan lain oleh Sasuke yang mengira bahwa Hinata berusaha menutup-nutupi perilaku bejatnya alias selingkuh.
"Kau tidak mencoba selingkuh di belakangku kan?"
Iris Hinata melebar karena menemukan sebuah pencerahan dan lagi-lagi diartikan oleh Sasuke sebagai ungkapan terkejut karena ia telah mengetahui sesuatu yang selama ini Hinata sembunyikan.
Jauh di lubuk hati Sasuke, ia merasa sedikit sakit hati karena merasa terkhianati oleh istri barunya sendiri.
Grep
Sasuke bingung dengan sikap muridnya itu. Ia merasa muridnya melakukan hal yang salah, atau malah sebaliknya? Sasuke melebarkan irisnya saat mengetahui sebuah pikiran terlintas di benaknya. 'Jangan-jangan Hyuuga tidak mengerti ucapanku?'
"Sensei suka drama ya?"
Sasuke berharap ia pingsan sekarang juga. Setelah semua analisis yang ia berikan, ia malah dituduh penyuka film romantis yang tampak dramatis seperti itu? Mau ditaruh di mana harga dirinya itu? Di mana?!
"Aku tidak mengerti maksud ucapan Sensei sama sekali. Aku tidak tahu defenisi dari cinta pertama, apalagi selingkuh—"
Entah kenapa bahu Sasuke terasa lemas seketika. Ada perasaan senang jauh di dalam lubuk hatinya.
"—aku mengira bahwa itu semua adalah mainan anak kecil dan aku teringat bahwa kosakata itu terdapat dalam drama yang selalu ditonton Nii-san berjudul 'Pilih Dia atau Aku? Atau Mereka?'"
Jantung Sasuke berdetak cepat saat ia menyadari bahwa film itu selalu menjadi tontonannya di malam minggu. Ia hanya menonton itu di waktu senggangnya dan bukan berarti ia menyukai film itu!
"Dan saat itu aku menyadari bahwa kosakata itu adalah hal buruk. Sensei suka berprasangka buruk pada orang ya?"
"Eh?"
"Aku tidak tahu kapan bisa membalas kejadian tadi. Ternyata aku bisa membalasnya sekarang."
Kini Sasuke yang tampak bingung dengan ucapan aneh Hinata. Dan saat itu ia baru menyadari bahwa muridnya telah menarik kedua pipinya sejak tadi.
"Kau suka balas dendam ya? Mana etikamu sebagai seorang murid? Seenaknya mencubit pipi gurunya."
"Lantas Sensei apa? Seenaknya menuduh muridnya selingkuh dan mencubit pipiku tiba-tiba seperti tadi."
"Gerak-gerikmu terlalu mencurigakan! Suami mana yang tidak berpikir negatif saat melihat gerak-gerik istrinya seperti itu?!" kini Sasuke memindahkan tangan yang semula di kedua pundak Hinata menjadi di kedua pipi Hinata.
"Istri mana yang tidak sakit hati melihat dirinya dituduh sehina itu?" Iris Sasuke membulat saat mengetahui kalimat fantastis yang diucapkan oleh Hinata. Ia tak tahu bahwa gadis itu mampu mengetahui kalimat dewasa itu. Seandainya Sasuke tahu bahwa Hinata mengingat kalimat itu dari drama yang ditonton nii-sannya karena terdengar keren di telinganya.
Greb
Tangan kanan Hinata melepas cubitannya dan menjambak rambut gurunya saat mengucapkan kalimat keren itu.
"Lagipula jika aku selingkuh aku akan bilang dan jujur! Sensei tidak usah khawatir tentang itu!"
Di antara rasa terkejut karena jambakan Hinata, ia dikejutkan oleh ucapan Hinata yang kelewat polos.
"Aku tidak akan khawatir dengan gadis sepolos dirimu. Naluri seorang suami jika sikap istrinya mencurigakan!" Sasuke masih kekeuh pada pendapatnya.
"Akan kumakan naluri itu agar Sensei tidak berpikir macam-macam!"
"Dasar polos! Naluri tidak bisa dimakan tahu!"
"Apapun bisa kumakan selama aku hidup! Itu prinsipku!" tanpa sadar, tangan kiri Hinata mencengkram kuat kerah Sasuke membuat tubuh Sasuke tertarik ke bawah.
"Gadis polos beserta prinsip gilanya. Kau sangat pantas berada di koran."
"Kalau begitu masukkan aku ke koran! Setidaknya aku bisa melihat diriku selain di cermin!"
"Lepaskan tanganmu! Aku akan ke penerbitan sekarang!" Sasuke berbalik dan berusaha untuk menaiki kendaraannya.
"Tidak akan! Aku tidak akan mengizinkan rencanamu!" Hinata menarik kemeja Sasuke hingga keluar dari celananya.
"Dasar keras kepala!" Sasuke yang tidak bisa menaiki kendaraannya, berbalik menghadap Hinata dan kembali mencubit pipi gembil Hinata.
"Biar saja."
Dan hal itu menjadi adegan cubit mencubit dan menjambak disertai dengan protesan terjadi diantara guru dan murid itu tanpa memandang status mereka yang menjadi pelajar dan pengajar.
Dan pada suatu titik keanarkisan mereka membuat sebuah benda menghentikan perdebatan mereka.
Crack
Sebuah benda jatuh akibat tangan Hinata yang tidak sengaja menyenggol benda tersebut dan jatuh begitu saja diatas tanah.
Sebuah kacamata milik sang Sensei.
Tangan kiri Hinata yang mencengkram kerah Sasuke dan tangan kanannya yang masih setia menjambak rambut Sasuke terhenti seketika. Iris bulannya menatap benda tak berdaya dengan lensanya yang rusak itu.
Sasuke juga melirik kacamatanya yang tergeletak tak berdaya itu. Mereka hanya melihat dan tidak melakukan apapun sampai sebuah tangan meraih kacamata Sasuke. Dan secara bersamaan Sasuke dan Hinata menatap pada sosok tersebut.
"Domestic violence di sekolah menjadi gaya barumu, heh, Taka?" suara lembut yang familiar di telinga mereka berdua.
"Tsunade-sensei," gumam Hinata pelan dan dapat didengar oleh Sasuke maupun sosok itu sendiri.
"Hinata? Kenapa kau—dan apa-apaan dengan kalian berdua? Taka apa yang kau—" Tsunade terkejut saat melihat sosok gadis yang berada di hadapan Sasuke. Gadis itu adalah sosok siswi emasnya.
Bukannya tidak menjawab, mereka berdua sibuk merapikan diri. Dan saat itu Sasuke baru sadar jika dua kancing teratasnya telah lepas dan membuat kemeja itu sedikit terbuka, serta dasinya juga terjatuh.
Setelah merapikan penampilan mereka, Sasuke berdehem untuk mendapat perhatian dari wanita bersurai pirang itu.
"Kami akan jelaskan sekarang."
"Tidak perlu, kebetulan aku menunggu taksi yang sudah kupesan. Kalian bisa menjelaskannya di dalam," jelas Tsunade. Dan entah kenapa suasana tampak canggung dan semakin aneh.
Sasuke menatap Tsunade sebentar. Ia dan Hinata mengangguk pelan.
"Aku akan meminta tolong temanku untuk membawa motorku," ujar Sasuke sambil mengeluarkan ponselnya dan segera mengirim pesan pada temannya.
Tsunade menatap Hinata dan Sasuke dengan pandangan yang sulit diartikan.
.
.
.
"Ah, jadi kalian sudah lama bertemu dan berteman akrab. Maaf berpikir yang tidak-tidak tentang kalian," ujar Tsunade sambil tersenyum hangat.
Sasuke mengangguk. "Kebetulan Hyuuga ada urusan di gedung arsip dan kakaknya tidak bisa mengantar. Jadi aku berniat mengantarnya."
Hinata merasakan bahwa Sasuke sedang berbohong. Ia mempunyai firasat bahwa lebih baik diam daripada mengklarifikasi ucapan Sasuke.
"Ah, kebetulan letak rumahku sejalur dengan gedung arsip. Kebetulan yang menyenangkan bukan?"
"Hn."
Tsunade menoleh pada Hinata. "Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?"
"Aku lapar. Jadi aku menyimpan sisa tenagaku untuk berjalan."
"Apa kita perlu mampir untuk membeli makan?"
Hinata menggeleng. "Sensei pasti lelah seharian. Aku bisa membeli nanti."
"Oh, begitu. Mungkin-"
"Maaf. Sepertinya kita sudah sampai. Aku akan membayar. Hinata, kau keluar dulu," ujar Sasuke mengeluarkan uangnya. Hinata memutuskan mengikuti permintaan Sasuke.
Sasuke yang duduk di samping supir segera memberinya uang. "Ini untuk biaya sampai ia pulang ke rumah."
"Ada apa, Taka? Kau tampak aneh hari ini," ujar Tsunade.
Sasuke menatap sekilas Tsunade. "Aku hanya tidak ingin memiliki utang budi padamu."
Tsunade mengangguk. Setelah itu, Sasuke keluar dari taksi dan menutup pintu taksi.
Sasuke dan Hinata menatap taksi itu sampai hilang dari pandangan mereka berdua.
Sasuke berbalik dan berjalan menuju gedung arsip Konoha yang berdiri gagah di depannya dengan Hinata yang mengikutinya dari belakang.
Hinata sedikit berlari untuk mengimbangi langkah Sasuke. Kesal karena langkah Sasuke yang terlalu panjang, ia mengambil kerikil dan melemparkannya pada Sasuke.
Sontak Sasuke menghentikan langkahnya. Ia berbalik menatap tajam Hinata tanpa bersuara. Tanda bahwa ia kesal. Ia tidak ingin protes karena sudah lelah dan malas menganggapi karena kelakuan Hinata. Hinata berlari menuju Sasuke yang masih diam di tempat. Iris gelapnya mengamati gerakan Hinata yang semakin mendekat ke arahnya.
"Ada apa?"
Sasuke menaikkan sebelah alisnya. Tanda ia bingung dengan pertanyaan Hinata.
Gadis bersurai indigo itu menghela napas kasar. "Apa yang terjadi?"
Sasuke mulai mengerti maksud ucapan Hinata. Ia berbalik dan melanjutkan langkahnya. Kali ini ia memelankan langkahnya agar sejajar dengan Hinata dan berkata, "Bukan apa-apa."
Jawaban dari Sasuke membuat Hinata dongkol.
"Tidak mungkin!" bantah Hinata emosi. "Aku tidak sebodoh itu sampai tidak mengetahui ada kejanggalan."
Sasuke menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Hinata datar. "Sejak kapan kau jadi penasaran dan repot mengurusi hal seperti itu?"
Hinata menggigit bibir bawahnya pelan, berusaha mencari alasan. Ia tersenyum lebar, saat menemukan alasan tersebut. "Karena hal ini bersangkutan dengan pernikahan kita dan berarti berhubungan denganku. Dan aku baru mengenal Sensei dan bukan teman akrab."
Sasuke menyeringai. "Pintar sekali kau berbicara. Kau penasaran?"
Hinata mengangguk pelan. Ia merasa gurunya alias calon suaminya tampak aneh saat bertemu dengan Tsunade.
Sasuke memalingkan wajahnya dari Hinata dan menatap lurus ke depan. Tatapannya tampak menerawang, mempertimbangkan, dan meneliti sesuatu. Dan hal itu tidak luput dari tatapan Hinata.
"Untuk sementara hingga waktunya tiba, kita rahasiakan ini dari orang lain dan guru di sekolah."
Hinata mengernyitkan dahinya bingung dengan sikap Sasuke yang tampak akan menghadapi masalah besar. "Kenapa?"
"Karena …" Sasuke menghadap Hinata dan melihat tatapan gadis itu yang tampak menunjukkan kewaspadaan tinggi. Ia mengangkat tangan kirinya dan mengusap pelan helaian indigo milik Hinata. "Bukan apa-apa."
Sasuke mensejajarkan tubuhnya dengan Hinata saat melihat bibir Hinata yang akan mengeluarkan protes. "Akan ada masalah besar jika kau membocorkan ini kepada orang lain."
Hinata terdiam, menatap keseriusan yang ditunjukkan oleh iris gelap sang guru. Ia berpikir mencari kemungkinan masalah besar yang terjadi.
"Kau … akan dipecat," cicit Hinata pelan saat menemukan jawaban dari kemungkinan terburuk yang ada di pikirannya.
"Tepat. Dan belum saatnya aku dipecat, karena aku masih ada 'urusan' dengan sekolahmu itu."
Hinata menggigit bibir bawahnya pelan, ia berusaha menahan rasa penasarannya dengan alasan yang dilontarkan oleh Sasuke.
"Bagaimana jika ada yang bertanya siapa pasangan MO-ku? Karena aku sudah berumur 17 tahun," Hinata tidak ingin membuat masalah besar, tapi ia ingin mengantisipasi keadaan kritis yang mengancam karir gurunya itu.
Sasuke menegakkan tubuhnya seraya berkata. "Cukup katakan Uchiha Sasuke."
Hinata menggembungkan pipinya kesal saat mendengar jawaban santai Sasuke. "Tidak ada yang percaya jika aku mengatakan hal itu. Mereka tidak akan percaya jika aku menikahi seorang CEO terkenal, muda, dan tampan."
Sasuke melirik Hinata dan mengerling jahil. "Sekarang kau mengakui ketampananku?"
Hinata mendengus. "Bukan begitu. Tapi aku mendengar dari teman-temanku tentang dirimu. Lagipula, aku lebih memilih bu—"
Tidak ingin hal yang sama terjadi dua kali. Sasuke segera memotong ucapan Hinata. "Ya, ya, aku tahu. Cukup katakan kau memiliki pasangan muda dan tampan."
"Tapi Sensei tidak—"
Dahi Sasuke berkedut kesal. "Ya, bagimu aku tidak tampan! Tapi lebih baik gunakan ucapan kaum mayoritas yang mengatakan aku tampan, mengerti?" jelas Sasuke kesal saat menghadapi sikap keras kepala muridnya itu.
Melihat Sasuke yang tampak kesal dan menahan emosi yang meluap-luap membuat Hinata tanpa sadar tertawa kecil. Ia tidak ingin membuat Sasuke bertambah kesal dengan bantahannya kembali. Ia mengulum senyum tipis.
"Baiklah. Aku menikahi sosok tampan dan muda."
Dalam hembusan angin musim semi saat itu, Sasuke dapat melihat senyuman hangat dan tulus dari Hinata untuk pertama kalinya yang membuat dirinya tertegun. Senyuman Hinata mampu membuat siapapun tersenyum tanpa sadar termasuk Sasuke.
Sasuke mengusap pelan kepala Hinata dan melanjutkan langkahnya. "Kerja bagus."
.
.
.
"Jadi kalian berniat melakukan daftar ulang nama kalian dalam daftar MO?"
Sasuke bergumam sebagai jawaban. Pria bersurai cokelat itu hanya menggeleng pasrah saat menghadapi tamu yang irit bicara seperti Sasuke.
Irisnya menatap sosok gadis di sampingnya yang tampak santai dan sedang menatap ruangan itu penuh minat.
"Cepat sekali kau bertemu dengan pasanganmu, Hinata-chan," ujar pria itu tersenyum hangat pada Hinata yang dibalas Hinata juga tersenyum.
Mendengar suffix -chan dari mulut petugas itu membuat Sasuke menjadi kesal tanpa sadar. Dan melihat interaksi mereka berdua membuat Sasuke menatap tajam pada pria itu.
"Sepertinya begitu, Yamato-san. Aku juga tidak menyangka hal ini bisa terjadi."
Melihat Hinata yang tampak nyaman dengan pria itu membuat Sasuke menimpali kesal. "Aku juga tidak menyangka bertemu orang yang sangat keras kepala seperti dia."
Hinata langsung menoleh menatap Sasuke heran. Baru saja mereka berbaikan dan orang yang di sampingnya ini memicu bibit-bibit pertengkaran lagi diantara mereka.
"Apalagi bertemu maniak buku seperti dia."
Entah kenapa Hinata merasa sedikit sakit hati saat Sasuke mengungkapkan kenyataan dengan nadanya yang ketus seperti itu. Ia menatap Sasuke tajam yang dibalas baik oleh Sasuke dengan lirikan sengitnya.
Kau yang memulai, aku akan melayani dengan senang hati.
Sebenarnya Sasuke tidak ingin berdebat lagi dengan Hinata, namun melihat sikap Hinata yang sopan pada orang lain membuatnya kesal dan geram. Ia juga tidak menyangka ia dapat merasakan hal yang aneh seperti ini melihat pasangannya berbuat baik pada orang lain.
Apakah ini yang orang sebut sebagai rasa cemburu? Tidak mungkin.
"Kau pikir aku suka berpasangan denganmu?"
Pupil Sasuke melebar. Terkejut dengan balasan yang diberikan oleh Hinata atas tanggapannya.
Hinata tersenyum remeh. "Jutek, ketus, dan menyebalkan. Pantas saja tidak ada wanita yang ingin bersamanya."
Hati Sasuke tertohok saat mendengar ucapan Hinata. Apa ini perasaan seorang lelaki tampan yang direndahkan karena tidak memiliki pasangan?
"Apa tidak bisa mengganti pasangan? Aku tidak ingin bersama anak kecil."
Yamato tersenyum minta maaf. "Maaf, pasangan dengan kategori tengah sudah tidak ada lagi."
Sasuke menggertakkan giginya. "Aku tidak masalah dengan kategori atas. Apa tidak ada yang berada di kategori atas?"
Yamato mengecek datanya kembali. "Tersisa yang berumur 35 tahun. Anda ingin?"
Sasuke terdiam. Mulutnya tidak bisa berkata apapun. Melihat itu Yamato melanjutkan.
"Umur anda termasuk kategori menengah ke bawah. Sebenarnya anda bisa dipasangkan dengan dengan kategori tengah dengan renta umur 20-30 tahun. Tapi karena anda mendaftarkan nama telat dan Hyuuga-san mendaftarkan lebih awal. Hyuuga-san mendapatkan sisa karena belum ada yang mendaftar di kategori bawah dengan renta umur 17-20 tahun."
"Aku tidak mengerti. Bagaimana pengacakan pasangan MO sih?" tanya Hinata bingung. Jujur, ia tidak suka mendapat sisa. Jika bisa memilih ia lebih suka bersama pasangan dengan kategori bawah agar dapat sepikiran dengan dirinya.
"Itu rahasia. Umumnya jika terdapat pengantin dengan kategori yang sama akan dilakukan metode pengacakan. Tetapi jika pengantin dengan kategori yang sama tinggal satu ia terpaksa dijodohkan dengan kategori yang lain yang belum ada pasangannya. Dan hal inilah yang terjadi pada kalian. Karena mayoritas masyarakat jika berpasangan dengan orang yang tidak dikenal lebih suka berpasangan dengan orang yang seumuran agar dapat bertukar pikiran dengan baik."
"Sensei jomblo ya? Sampai nekat mengikuti MO dan dicap sebagai 'orang sisa'?"
"Aku hanya tidak menemukan yang pantas. Seseorang yang sempurna harus mendapatkan jodoh yang sempurna."
Hinata merasakan hatinya panas saat melihat kesombongan gurunya. "Bilang saja Sensei lajang karena tidak laku-laku."
"Ucapan itu tidak layak diucapkan murid rendahan sepertimu."
"Murid belajar dari gurunya. Gurunya rendahan, pantas saja jika muridnya ikut menjadi rendahan."
"Kau hanyalah murid yang menyalahkan gurunya. Lagipula kenapa perbuatan jahat malah kau contoh?"
"Ha—"
"Sudahlah kalian berdua, jangan berdebat di sini. Aku akan membacakan apa yang harus dilakukan setelah kalian mendaftar MO. Dan harap didengarkan baik-baik."
"Yang pertama. Karena salah satu pengantin berada di bawah 20 tahun. Kalian akan diberikan sebuah website MO dan kalian akan melakukan interaksi suami-istri di dalam sana. Cukup login dengan nomor MO kalian dan kalian akan terhubung pada home online kalian. Lewat website itulah kalian berinterkasi dan berkenalan lebih dekat. Untuk itulah program ini disebut MO atau Marriage Online. Karena Hyuuga-san masih di bawah umur, ia mendapatkan supervisor yang akan memantau home kalian jika pernikahan kalian keluar jalur. Karena tidak sedikit orang jahat yang memanfaatkan home ini sebagai ajang mengancam, menyiksa mental pengantin dan malah bisa berakibat bunuh diri."
"Yang kedua. Syarat tinggal bersama adalah kedua pengantin yang sudah melakukan upacara kedewasaan berhak tinggal bersama. Kedua pengantin yang sudah berumur di atas 20 tahun berhak tinggal bersama."
"Baik kategori atas maupun bawah. Kalian harus melewati masa-masa menggunakan website MO kalian. Hal ini untuk mengenalkan masyarakat lebih jauh mengenai interaksi suami istri dengan orang yang tidak dikenal, dan menghilangkan rasa canggung dengan orang yang tidak dikenal yang akan menjadi pendamping hidup. Karena kategori menengah dan ke atas sudah berumur lebih dari 20 tahun, ia wajib mengikuti 1 tahun menggunakan website dan setelah itu mereka dapat tinggal bersama. Berbeda dengan kateori bawah yang harus menunggu hingga melakukan upacara kedewasaan baru bisa tinggal bersama."
"Rumit sekali. Terlalu banyak peraturan," gumam Sasuke setelah mendengar penjelasan Yamato.
"Justru hal itu digunakan agar menjaga program ini tetap berjalan dengan baik."
"M-maaf Yamato-san. Aku mengantuk mendengarnya."
Yamato tersenyum tipis, "Tidak masalah."
"Bisa kami minta nomor MO kami? Dan peraturan itu? Sepertinya kami kelelahan dan tidak bisa mengingat dengan jelas peraturan itu," tanya Hinata.
Yamato mengambil dua buku panduan kecil yang bernama Hyuuga Hinata dan Uchiha Sasuke. "Kalian bisa membawa dan membaca ini. Aku tadi membacakan semua peraturan ini dari buku ini karena khawatir kalian tidak paham."
'Kenapa tidak dari tadi?!' batin mereka berdua yang lelah mendengar penjelasan panjang lebar dari Yamato.
"Selain itu, kalian di sini juga untuk administrasi pernikahan bukan?" tanya Yamato. Yang dijawab anggukan oleh Hinata dan Sasuke.
"Apa kalian membawa seluruh persyaratannya?" tanya Yamato.
"Sepertinya tidak," gumam Sasuke.
Hinata melirik Sasuke, kemudian menatap Yamato. "Kami baru saja bertemu hari ini."
Yamato mengeluarkan dua lembar formulir dan memberikannya kepada Sasuke dan Hinata. "Untuk sementara kalian isi formulir di sini. Persyaratannya bisa kalian bawa besok."
"Apa tidak masalah?" tanya Hinata ragu.
Yamato mengangguk. "Tidak masalah. Lagipula kalian sudah jauh-jauh kemari. Walau kalian sudah mengisi formulir ini bukan berarti kalian sudah melakukan administrasi pernikahan lho."
Hinata mengangguk setuju. Ia mengeluarkan pulpennya dan segera mengisi formulir yang disediakan bersama dengan Sasuke yang berada di sampingnya.
.
.
.
Hari sudah beranjak senja ketika Sasuke dan Hinata sudah selesai dengan urusan mereka yang bermacam-macam.
Fisik yang sudah lelah karena menghabiskan tenaga yang cukup besar hari ini membuat mereka berdua tidak sengaja tertidur di taksi yang sudah mereka pesan. Sasuke yang duduk di samping sopir mendapatkan tepukan pelan dari sopir taksi.
"Sudah sampai, Pak."
Walau hanya tepukan kecil, sukses membuat Sasuke terbangun sempurna. Ia meregangkan tubuhnya sejenak dan menoleh ke belakang. Menatap Hinata yang tertidur pulas dengan tubuh yang bersandar pada pintu taksi di belakang sopir.
Sasuke segera membuka pintu taksi dan membuka pintu yang berada di belakangnya. Ia menepuk pelan pipi Hinata setelah ia memasuki jok tengah.
"Sudah sampai. Cepat bangun."
Hinata mengerjap-ngerjapkan matanya saat mendengar perintah dari suara berat Sasuke. Ia mulai terbangun, lalu mengambil tas selempangnya, dan keluar dari taksi sambil meregangkan tubuhnya. Sasuke mengeluarkan dompetnya dan membayar taksi yang telah mereka tumpangi.
Setelah itu ia keluar dari taksi dan menutup pintu taksi. Taksi itu mulai pergi meninggalkan kawasan tempat tinggal Hinata.
Di sela rasa ngantuknya, ia menatap bingung pada Sasuke yang ikut turun dari mobil. "Kenapa Sensei ikut turun?"
Sasuke menghampiri Hinata. "Jangan panggil Sensei lagi. Cobalah panggil namaku di depan keluargamu."
"Untuk apa?" Hinata mengusap-usap kedua matanya untuk menghilangkan rasa kantuknya yang masih ada.
Sasuke berdeham dan membuka pagar depan flat Hyuuga. "Karena aku akan memperkenalkan diri pada keluargamu?"
Iris Hinata terbelalak, terkejut dengan jawaban Sasuke. Rasa kantuknya hilang sudah berganti rasa terkejut yang melandanya. Ia tidak bisa membayangkan saat Neji yang over protektif itu bertemu dengan Sasuke yang ketus dan dingin itu. apalagi melihat dia yang pulang bersama Sasuke, entah apa respon yang diberikan Neji saat itu.
"Ti-tidak tidak! Jangan sekarang!" seru Hinata sambil merentangkan kedua tangannya di depan Sasuke.
"Kenapa?"
Hinata menggigit bibirnya. "Pokoknya jangan sekarang!"
Melihat Hinata yang tampak khawatir, membuat Sasuke menaikkan sebelah sudut bibirnya membentuk seringaian. "Kau khawatir pada suamimu ini?"
"Iya. Eh? Bukan begitu!" seru Hinata dan menarik kemeja Sasuke yang terus berjalan memasuki perkarangan kecil flat yang ditinggali Hinata.
Sasuke menepuk pelan kepala Hinata. "Tidak apa-apa. Aku cukup kuat untuk menghadapi keluargamu."
Hinata langsung memeluk lengan kanan Sasuke untuk mencegah tangan Sasuke yang hendak mengetuk pintu. "Bukan itu masalahnya!"
Sasuke mengerling Hinata jahil dan menggerakkan tangan kirinya hendak mengetuk pintu.
Krieet
Pintu terbuka. Hinata melepaskan rangkulannya dan menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya, takut melihat Sasuke yang babak belur.
1 detik.
2 detik.
3 detik.
4 detik.
5 detik.
"Cantik," gumam Sasuke yang dapat didengar oleh Hinata. Hinata segera menjauhkan kedua tangannya dari mukanya. Ia bingung dengan gumaman Sasuke. Ia tahu bahwa ibunya tidak akan datang dan satu-satunya yang berada di flat hanyalah ia dan kakaknya.
Saat Hinata melihat sosok yang muncul dari flat-nya membuat ia hampir terjungkal. "Kenapa Nii-san pakai masker?!"
Sasuke segera menolehkan wajahnya menatap Hinata heran bercampur bingung. "Nii-san?" tanya Sasuke memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.
Hinata menghela napas kasar saat mengingat kebiasaan-kebiasaan aneh kakaknya itu. "Uchiha-san, ia adalah kakak kandungku, Hyuuga Neji."
.
.
.
Di lain tempat. Sebuah mansion berdiri megah di komplek Konoha Regency yang berisi jejeran mansion megah nan elegan.
Sebuah mansion yang dipenuhi bunga-bunga dandelion di pekarangan depan tampak pemuda sebaya berusia sekitar 17 tahun yang keluar dari mansion megah itu dengan seorang pemuda yang bersandar pada pintu depan mansion tersebut.
"Terimakasih Inuzuka-san atas informasi yang kau berikan padaku."
Pemuda bertato segitiga itu mengangguk gugup. "Kalau begitu aku pulang dulu, Ketua."
Pemuda yang bersandar di pintu depan itu mengangguk sebagai jawaban. Ia menatap Kiba hingga hilang di tikungan jalan.
Pemuda itu mengeluarkan smartphone-nya, terpampang wajah gadis manis bersurai indigo yang sedang tersenyum menatap kamera di layar ponsel.
Pemuda itu menyeringai. Ibu jari tangan kanannya mengusap layar smartphone-nya. Ia berbalik dan membuka pintu depan mansion dengan tangannya yang bebas.
"Aku tidak sabar melakukan sesuatu dengan dirimu, Hyuuga Hinata-san."
Blam
Pintu mansion itu tertutup setelah sosok misterius itu memasuki mansion megahnya.
.
.
.
TBC
A/N: Maaf update telat dan ternyata sudah 4 bulan berlalu sejak update terakhir. Kartu SD hilang, hp rusak, terkena WB membuat fic ini baru update. Niatnya saya akan update setelah lebaran Idul fitri ternyata malah update setelah lebaran Idul Adha -_-
Saya berniat membuat kembali fic saya dan ternyata Kartu SD yang berisi draft semua fic ku ketemu. Yeay!
Sebenarnya saya berniat memotong fic ini menjadi 2 chapter. Tetapi tidak jadi. Sebagai permintaan maaf dariku dan ungkapan terimakasih pada readers, aku membuat fic ini hingga 6k+ Ini pertama kalinya aku membuat fic dengan jumlah words lebih dari 4K dan multichapter.
Karena saya bertekad sebelum UTS harus update jadi saya ngebut dan nggak sengaja 'kebablasan' hingga 6k.
Mohon maaf sebesar-besarnya. Dan terimakasih atas dukungan, komentar dari reader sekalian. Bertepatan dengan penutup ini saya mohon doanya untuk kesuksesan UTS saya yang dimulai tanggal 28 September. Dan dengan ini saya memutuskan untuk hiatus 'kembali' untuk sementara waktu. Terimakasih ^^
