My Love is in Japan
Naruto punya Kishimoto-sensei
Ada baiknya jika saya mengingatkan, fic inipenuh hal AU, OOC
Authour : Mia muyohri
Pair : SasuSaku
.
.
Hari-hari Sakura berjalan sesuai dengan rencana dan dia merasa senang karenanya. Press conference Etude berlangsung lancar. Wajah Sakura memenuhi halaman utama beberapa majalah. Hasil penjualan Etude meningkat sekitar 20 persen di minggu pertama dan mereka mengharapkan peningkatan yang lebih bulan depan.
Hubungannya dengan Sasuke juga berjalan lancar. Beberapa kali mereka jalan bersama. Beberapa kali pula, Sasuke mengajak Naruto untuk makan malam bersama. Sakura menjaga jarak dari Naruto, karena menurutnya Naruto bisa membaca isi hati Sakura, membuat Sakura merasa risih.
Tapi tidak semuanya berjalan baik. Selalu ada kejutan yang tidak menyenangkan.
Pagi itu, Sakura disambut berita buruk dari Sasori, yang membuat Sakura hampir melemparkan teh panasnya ke wajah Sasori. Berita buruk itu adalah Sakura harus pergi ke Jepang. Hari ini saja, sudah beratus-ratus kali Sakura berkata bahwa dia benci Jepang. Entah sudah berapa kali Sakura mengatakan hal yang sama sejak mereka berdua berkenalan. Sakura sudah mengatakan dengan jelas bahwa dia tidak ingin kembali ke Jepang dan dia ingin Sasori mengerti akan hal itu. Tapi nyatanya, Sasori tidak mau perduli. Sekarang Sakura mulai merasa ragu apa Sasori benar-benar menyayanginya.
Saat ini mereka berdua sedang berada di ruang rias, tanpa ada orang lain yang bisa menggangu. Cermin yang berjajar malah membuat suasana semakin sepi karena biasanya ada banyak artis dan penata rias yang bekerja di ruangan itu.
"Ini kesempatanmu!" Sasori bersikeras, mencoba meyakinkan Sakura yang duduk di sampingnya. "Kesempatan bagimu untuk tampil di dunia perfileman dan juga kau akan dikenal oleh dunia Internasional. Apa kamu mau terus-terusan menjadi seorang artis yang dikenal didalam negeri saja?"
"Kau tidak ikut denganku, kan?" ujar Sakura menuduh. Wajahnya memerah karena marah.
"Maafkan aku, tapi artis yang aku urus bukan kau saja, sayang," ujar Sasori dengan wajah muram. "Tapi, aku yakin kau akan mendapatkan karir yang bagus di luar negeri."
"Iya, tapi tidak di Jepang, Oppa!" Sakura nyaris memukul meja di hadapannya. "Aku tidak sudi menginjakkan kakiku ke negara sialan itu!"
Sasori berdecak kesal. "Kau tahu produser film, Hatake Kakashi? Dia itu produser yang hampir mencapai puncak Hollywood! Dia memintamu secara khusus untuk bermain di dalam film terbaru garapannya dan yang lebih mengejutkannya lagi, dia memintamu untuk menjadi pemeran utamanya!" ujar Sasori menggebu-gebu. "Dia mengatakan, dia ingin wajah artis Korea bermain dalam filmnya. Kau tidak ingin semua itu Sakura?"
"Aku bukan seratus persen orang Korea, Oppa," Sakura mencoba beralasan.
Sasori berdiri dari kursinya, memegang pundak Sakura dan memaksanya untuk memandang pantulan wajahnya sendriri di cermin. "Aku belum pernah melihat ada wajah yang lebih cantik dari ini."
"Oppa tidak mengerti," ujar Sakura. Tubuhnya bergidik membayangkan kakinya menginjak tanah Jepang sekali lagi. Pikirannya terbang kepada kotak kayu yang berada di dalam galeri lukis apertemennya.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu di sana," ujar Sasori dengan wajah melembut. "Tapi, apa tidak kau pikir bahwa ini juga adalah kesempatan yang baik bagimu untuk menyelesaikan masalahmu?"
Sasori menepuk pundak Sakura dan berkata, "Pikirkanlah sekali lagi. Minggu ini aku harus memberikan kepastian kepada pihak Jepang. Pikirkanlah baik-baik, oke?"
Setelah itu Sasori berjalan keluar ruangan rias itu, meninggalkan Sakura seorang diri di dalam, tidak membiarkan kesempatan Sakura untuk menolak lagi.
.
.
.
Sakura berusaha untuk tidak memikirkan Jepang maupun tawaran Sasori malam itu. Dia punya hal lain untuk dirisaukan sekarang. Sekarang Sakura berdiri agak jauh dari pintu depan sebuah klub malam yang berkesan muram. Sakura mengawasi pintu itu dengan seksama. Beberapa menit kemudian, seorang pria bertubuh gemuk masuk ke dalam klub itu sambil mendekap tas kerjanya. Nama orang itu adalah Amakichi Choji. Seorang pria berumur 30 tahunan.
Dia bawahan Sasuke di Korea yang sempat disebut-sebut Sasuke beberapa minggu yang lalu. Sakura tidak perlu menebak. Sakura tahu Choji tidak menyukai Sasuke, mungkin karena Sasuke juga membenci dia.
"Dia orang yang payah," ujar Naruto suatu hari saat mereka sedang makan malam bersama. Sasuke selalu tertawa jika Naruto bercerita tentang hasil pekerjaan Choji. Sakura tertawa juga karena terpaksa, dia menjadi tidak tega membayangkan Choji selalu menjadi bahan tertawaan mereka.
Di lain kesempatan, Sasuke menunjukkan seseorang yang bernama Choji itu melalui sebuah foto. Sejak saat itu, Sakura berusaha mendekati Choji. Sudah beberapa minggu ini Sakura mengikuti Choji setiap dia pulang dari bekerja. Setiap hari Jumat, Choji selalu pergi ke klub ini dan pulang dalam keadaan mabuk. Jumat ini, Sakura berencana untuk menjalankan rencananya.
Tanpa pikir panjang Sakura berjalan memasuki klub itu tanpa ragu. Dia berusaha mengabaikan debaran di dadanya yang merasa takut. Baru kali ini Sakura mengunjungi klub yang penerangannya minim dan musiknya bergema sangat kencang.
Sakura menoleh ke kiri dan ke kanan, mencari Choji yang baru saja masuk. Pria itu, dia duduk diujung ruangan, sedang menenggak setengah gelas bir.
"Berikan aku segelas vodka dingin," ucap Sakura pada seorang bartender yang sedang sibuk membuat minuman. Bartender itu tersenyum dan mengangguk.
Sakura duduk di kursi konter yang kosong dan menunggu pesanannya di buatkan. Sesekali dia melirik ke arah Choji, berusaha untuk memanfaatkan tiap kesempatan untuk berbicara dengan pria itu.
"Pesanan anda, Nona," ujar bartender tadi sambil menyodorkan segelas vodka dingin. Sakura mengambi vodkanya itu dan menenggaknya sekali. Kemudain dia berdiri dan berjalan menghampiri Choji.
"Kursi ini kosong?" tanya Sakura sambil menunjuk sebuah kursi kosong di samping Choji.
"Ya," jawab Choji, terkejut karena ada seorang wanita cantik yang mendekatinya. "Ya, kursi ini kosong."
"Terima kasih," ujar Sakura yang kemudian duduk seolah dia sudah capek berdansa. Sakura menyibakkan rambutnya dan membiarkannya tergerai, berusaha menutupi wajahnya agar tidak ada yang mengenalinya.
"Anda, tidak apa-apa duduk di sini Nona?" tanya Choji.
"Memang kenapa? Apa aku tidak boleh duduk di sini, hm?" ucap Sakura sedikit menggoda.
"Tentu saja boleh, hanya saja aneh. Anda mau duduk di dekat saya, kalau boleh tahu apa alasan anda Nona?"
"Karena kau berjas kerja, dan aku tahu kau ini orang seperti apa. Seorang businessman!" ujar Sakura semakin menggoda Choji.
"Maaf kalau mengecewakan anda, Nona! Tapi aku bukanlah seorang businessman yang sudah sukses."
Sakura menyeruput minumannya dan berusaha untuk memancing Choji. "Mungkin kau sedang sial saja, mendapatkan seorang bos yang tidak baik."
"CIH!" pria itu mengumpat kencang. "Dia seperti serangga yang ingin sekaliku musnahkan. Dan menendangnya keluar dari perusahaan!"
"Memangnya anda bekerja di mana?" tanya Sakura seolah dia tidak tahu.
"Myeongdong," ujarnya singkat. Kemudian dia menghabiskan bir di gelasnya. "Di sebuah perusahaan Teknologi Infornasi."
"Benar, kah? Aku tidak menyangka di Myeongdong ada kantor."
Pria itu tertawa ringan. "Aku juga tidak pernah mengira perusahaanku bisa membuat kantor di tempat seperti Myeongdong."
"Pasti, pekerjaannya berat?" ujar Sakura sambil bertanya.
Pria itu mengangguk. "Harus menyimpan rahasia klien rapat-rapat."
"Kalau sampai rahasia itu tersebar?"
Pria itu menganggkat bahunya. "Entahlah. Bisa saja dipecat secara tidak hormat." Kemudai dia mulai bangkit dari duduknya untuk pergi.
"Bartender! Bir!" Sakura berteriak.
"Aku sudah harus pergi dari sini," ujar pria itu. "Aku sudah terlalu banyak minum."
'Oh, tidak!' Sakura panik. Dia belum mendapatkan informasi yang dia inginkan. kalau sampai pria ini pergi dari hadapannya, entah kapan dia bisa mendapatkan kesempatan seperti ini lagi! Sakura membutuhkan informasi dari orang ini. Sesuatu, apa pun itu!
Dengan cepat, Sakura mengulurkan lengannya, kemudian dia menggenggam erat jas pria itu. dengan nada sedikit merayu, Sakura berkata. "Ayolah, minum sedikit lagi bersamaku."
"Tapi aku harus segera pergi, Nona," ucapnya bersikeras. "Aku tidak bisa terlalu banyak minum."
"Kenapa?" ujar Sakura mendesak. "Kau tidak ingin minum bersamaku?"
Sakura bangun lalu mendekatkan dirinya ke Choji, mengusap-usap dada pria itu. seolah seperti terbius pria itu kembali duduk. Sakura bersorak dalam hati. Beberapa saat kemudia bartender, datang membawa segelas bir untuk Choji.
Tidak sulit bagi Sakura untuk mengorek informasi dari orang seperti Choji. Dia menjawab semua pertanyaan yang di berikan Sakura. karena sekarang pria itu sudah dalam keadaan mabuk berat dan nada bicarannya pun sudah mulai aneh.
Sakura juga sudah mendapatkan apa yang dia inginkan dari Choji, ya itu sebuah informasi yang sangat penting. Bahwa Sasuke sedang membuat sistem web page, untuk sebauh perusahaan kosmetik terkemuka di Korea. Hanya tinggal satu langkah lagi untuk mendapatkan informsi itu.
"Birnya, Nona," ujar bartender menyerahkan segelas besar bir kepada Sakura. lalu Sakura menyerahkannya pada Choji.
"Kau, ini," ucap Choji. "Kau benar-benar tahu cara menyenangkan hati orang."
Choji mengelus paha Sakura. sakura berjengit jijik, berharap Choji segera pingsan karena mabuk. Beberapa menit kemudian Choji akhirnya tertidur juga, dia tertidur di atas meja dengan mengeluarkan air liur.
'Menjijikan,' pikir Sakura.
Sakura mengambil dompet dan tas kerja Choji, setelah itu dia segera pergi meninggalkan klun remang-remang itu. Setelah itu dia segera menaiki taksi untuk menuju apertemennya.
Sekarang misinya berhasil!
.
.
.
Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam, tapi Sakura belum mengantuk. Setelah mandi Sakura segera membuka tas kerja Choji yang di ambilnya tadi. Setelah itu dia menyebar berkas-berkas yang ada di dalamnya. Di lantai terhampar berlembar-lembar kertas tentang Teknologi Informasi yang akan di gunakan sebuah perusahaan kosmetik. Di setiap berkas becapkan "RAHASIA".
Sebuah rencana baru mulai tersusun di benak Sakura. Untuk menjalankan rencananya ini dia harus pergi ke Jepang. Ya ke Jepang! Sakura kemudian dia mengingat kembali percakapannya tadi siang dengan Sasori. Hatake Kakashi membutuhkannya untuk menjadi pemeran utama dalam filmnya.
"Aku akan ke Jepang," gumam Sakura. Seulas seringaian yang membuat bulu kuduk merinding di sunggingkan Sakura. "Sasuke tidak akan suka dengan apa yang akan aku lakukan."
Sakura segera mengambil iPhonenya di dalam tas tangannya dan mulai mengetik sebuah SMS untuk Sasori.
Oppa, sudah aku pikirkan. Akan aku terima pekerjaan kali ini. Aku akan pergi ke Jepang.
.
.
.
TBC
tahanks banget yang udah dukung untuk kembalinya fic ini. Yg udah review login aku balas lewat PM. Yg gak login aku gak bisa ucapin satu" nih.
Sekali lagi Thanks ya. untuk kalian para pembaca fic ini. Sekarang bersediakan kalian untuk meninggalkan review kalian di chap ini. Sangat di harapkan, LOH!
Salam Mia Muyohri ^^
