~ Had You Enough ~

.

YeWook Fanfiction © R'Rin4869

.

Genre : Family, Romance, Hurt

Rated : T (maybe i would to change this *heh*)

Warning : Boys Love, semi-incest, OOC, Typo(s), etc.

Disclaimer : my oppars and unnirs in here aren't mine, but this story is belong to me.

.

.

.

Jika dikatakan secara jujur, semua ini terjadi begitu saja. Dan memang benar-benar begitu saja. Tanpa permulaan yang jelas, tanpa keterangan, tanpa perlu diungkapkan lebih jauh lagi.

Hubungan Jongwoon dan Ryeowook... entah mengapa sudah berubah definisinya. Antara sebatas hyung-dongsaeng, menjadi lebih dekat lagi. Dekat, dalam artian yang berbeda. Sama sekali berbeda dengan apa yang biasa disebut oleh orang lain tentang hubungan semacam ini. Tapi juga hubungan ini terasa lebih abstrak.

Sama halnya dengan aktifitas yang mengawali pagi hari ini.

Ryeowook. Dia biasa-biasa saja dengan rutinitasnya. Memasak sarapan untuk seisi rumah. Masih mengenakan piyama dan sandal rumah yang nyaman. Satu hal yang mungkin tidak biasa adalah keberadaan Jongwoon di belakangnya. Yang kini memeluk pinggangnya dengan erat. Terkadang membuat Ryeowook harus bergerak secara perlahan sekali, karena Jongwoon menahannya.

"Hyung," panggil Ryeowook. "Lepaskan dulu. Aku mau menuang supnya."

Jongwoon hanya terdiam. Masih setia mengendus bahu Ryeowook dan memejamkan matanya di sana. Membawa ketenangan ganjil bagi pikirannya.

"Hyung."

"Hmm?"

Ryeowook menghela napasnya. "Jangan sampai kau ketumpahan sup panas hanya karena kau tidak mau melepaskan aku." dia memperingatkan.

Sedikit tidak rela, Jongwoon menurut. Melepas tangannya dari pinggang Ryeowook dan bergerak menjauh. Hanya memperhatikan pemuda itu yang kini kembali bekerja dengan sigap.

Pria itu tidak pernah menyadari bagaimana, atau mungkin kenapa semua ini terjadi. Tidak rasional? Bisa jadi. Bahkan akal sehatnya pun menentang ini semua.

Bagaimana bisa dia melihat Ryeowook seperti melihat seseorang yang lain untuknya? Demi apapun juga, dia berani bersumpah jika ini tidak bisa dikategorikan sebagai hal yang wajar. Semenjak dia mencium pemuda itu di dapur, hubungan mereka berubah. Nyaris seluruhnya. Perubahan yang mendekati ambang batas kenormalan dari hubungan 'keluarga' yang selama ini dia kepalai.

Ryeowook, pemuda itu, anak angkatnya sendiri. Tapi Jongwoon sekarang memperlakukannya tidak kurang dari perlakuan pada seorang kekasih. Bagaimana tingkah Ryeowook, bagaimana dia tersenyum, seperti apa suaranya, atau bahkan, rasa dari bibir pemuda itu yang terus menerus melekat di otaknya. Seperti sebuah candu. Memabukkan, dan berbahaya tentu saja. Karena dia tahu ini semua salah.

"Ryeowook," Jongwoon memanggil nama itu. Sekilas terdengar biasa saja. Tapi di lidahnya, ada sensasi yang berbeda sehingga dia ingin terus menerus mengucapkan nama itu.

Pemuda itu menoleh pelan padanya. Melepas apronnya dan menghampiri Jongwoon dengan tatapan bertanya.

"Kenapa?" suara itu terdengar begitu jernih, sekaligus begitu samar.

Desiran aneh itu. Datang lagi dan lagi.

Sesaat, Jongwoon memejamkan matanya dengan frustasi mendalam. Lalu dia menangkup pipi Ryeowook. Merasakan halus kulit yang terasa di indera perabanya, mengelusnya dalam gerakan pelan. Mata Ryeowook memejam, menikmati sentuhan ringan itu sebelum bibir Jongwoon mendarat pada bibirnya dan tangan pria itu mendorongnya untuk bersandar pada meja dapur yang cukup rendah.

"Ngh,"

Erangan itu meluncur begitu saja. Sekarang, ciuman bukan lagi hal yang tabu untuk mereka lakukan. Nyaris setiap hari, atau malah setiap ada kesempatan, Jongwoon selalu mencium pemuda itu. Dengan gerakan yang sama, selalu menuntut dan menggairahkan. Ryeowook sudah nyaris hapal dengan ini, bahkan dia sekarang mulai berani membalas kecupan dan lumatan-lumatan bibir Jongwoon padanya.

Tangan Ryeowook mengalung pada leher Jongwoon untuk mempertahankan posisinya. Meremas helaian rambut hitam pria itu. Jongwoon melumat bibirnya, seperti biasa, dan Ryeowook tidak bisa untuk tidak menikmati hal itu sekarang ini. Ini sudah jadi semacam kebiasaan di antara mereka. Secuil rahasia yang tak pernah mereka ungkapkan kepada siapapun. Karena keduanya berada dalam kondisi yang sama, sama-sama terjebak. Mereka ingin menghentikannya, berbekal logika dan sisa-sisa kewarasan yang masih ada, tapi mereka juga tidak mampu.

"Ppaaaa~"

Suara nyaring itu menjadi alarm bagi keduanya untuk cepat-cepat menyudahi acara pribadi mereka. Mata Ryeowook terbuka lebar dan dia mengelap bibirnya yang memerah dengan punggung tangan. Tubuhnya sudah berada di atas meja dapur begitu dia sadar dan melihat Taeyeon sedang berjalan ke arah mereka.

Mata bulat bocah itu terlihat polos, dan dengan menyesal, Ryeowook sama sekali tidak suka dengan fakta jika adik manisnya memergoki dia dan Jongwoon dalam keadaan tidak pantas seperti barusan. Dia cepat-cepat menghampiri Taeyeon dan meraup tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Sama sekali tidak menoleh untuk melihat Jongwoon.

"Hei, kau sudah bangun."

"Eumm~" Taeyeon mengangguk-angguk dan tersenyum lebar. Tangan mungilnya meraih wajah Ryeowook dan terhenti di bibir pemuda itu.

Cepat-cepat Ryeowook menurunkan tangan bocah itu dan mengatur kembali ketenangan yang biasanya selalu dia miliki.

"Mau mandi dulu, Taeyeonie? Atau kau sudah lapar?" tanyanya sambil menimang bocah itu.

"Maaaandi~" Taeyeon menjawab lalu tertawa pelan. Ryeowook ikut tertawa dengannya.

Dia sama sekali tidak sadar dengan keberadaan Jongwoon yang tiba-tiba saja sudah berada di sebelahnya sampai tangan Taeyeon menggapai-gapai ke arah pria itu.

"Ppaa~ Maaandi~" panggil bocah itu. Rambutnya yang diikat dua bergerak-gerak lucu dan matanya mengerjap.

"Mandi dengan appa?" tanya Jongwoon, menunjuk dirinya sendiri.

Dengan cepat Taeyeon mengangguk. Membuka kedua tangannya ke arah Jongwoon. Pria itu mengambil Taeyeon dari pelukan Ryeowook dan terkekeh pelan.

"Kenapa Taeyeonie jadi manja pada appa, eoh?" gumam Jongwoon sambil mencubit pelan pipi Taeyeon.

Pandangannya bertemu dengan kedua manik cokelat Ryeowook dan dia tersenyum kecil. Sedikit menunduk untuk mendapatkan kecupan dari bibir pemuda itu.

"Kau juga," ujarnya. "Mandilah, Ryeowook."

.

.

.

Terkadang, mereka bersikap seperti tidak ada apa-apa, bersantai sambil mengobrol di ruang duduk sementara Taeyeon bermain di atas karpet. Jongwoon duduk di sofa dengan nyaman, bersandar di sandarannya yang empuk dan memilih-milih saluran televisi, menikmati hari liburnya ketika Ryeowook datang dari kamarnya. Dia duduk di samping Jongwoon dan pria itu menarik tangan Ryeowook untuk bersandar ke tubuhnya.

"Jadi," Jongwoon memulai. "Sudah mendapatkan pilihan universitasmu?"

Ryeowoong mengangguk. Meletakkan sebelah tangannya di dada Jongwoon sementara pandangannya mengikuti drama yang sedang ditayangkan di televisi.

"Di mana?"

"Inha."

Dahi Jongwoon mengerut. "Itu cukup jauh."

"Begitulah, tapi karena aku mau mengambil jurusan kedokteran, Inha pilihan yang tepat." jawab Ryeowook.

"Hmm," Jongwoon memainkan jari-jari Ryeowook yang berada di dadanya. Menautkan kelima jari itu dengan jemarinya sendiri. "Benar-benar tidak ingin ke Seoul saja?"

"Hyung terdengar seperti haelmoni." Ryeowook mengeluh, sedikit melirik pada Jongwoon.

Berada di dekapan pria itu lebih nyaman dibanding hal-hal lain yang bisa dilakukannya. Setidaknya, dia jadi merasa jika dia tak butuh pemanas sama sekali. Dan di sini, dia sudah cukup merasa hangat.

Jongwoon tertawa. "Aku menyarankan kemudahan." ujarnya. "Kau tidak mungkin menempuh perjalanan ke Inha setiap harinya."

"Apartemen kecil?" usul Ryeowook.

"Membiarkanmu hidup jauh selama tujuh semester?" Jongwoon berdecak. "Itu alternatif terakhir."

Ryeowook memukul dada Jongwoon sedikit. "Hei, kalau begitu sama saja hyung tidak memberiku kesempatan untuk kuliah."

Dengan tenang Jongwoon menurunkan tangan Ryeowook dan menurunkan tubuhnya sedikit hingga pandangan mereka sejajar saat ini. Dia mengecup bibir Ryeowook, dan pemuda itu memejamkan matanya.

"Aku hanya tidak mau kau pergi jauh-jauh, Ryeowookie." gumam Jongwoon. Bibirnya masih berada begitu dekat dengan bibir Ryeowook sampai hembusan napas keduanya bisa terasa satu sama lain. "Tapi... yah, lakukan saja sesukamu."

Ryeowook tersenyum menang. Dia mengecup balik bibir Jongwoon dan tertawa pelan.

"Gomawo, hyung,"

.

.

.

Ryeowook tidak bodoh.

Dia yakin sekali tentang hal itu. Dan dia bisa mengulangi kata-kata yang berupa kenyataan itu sekeras yang dia mau. Sekeras yang dia bisa. Untuk sekedar membuktikan jika dia sadar, sepenuhnya sadar, jika semua hal yang dia lakukan dengan Jongwoon adalah permainan yang berbahaya bagi keduanya ketika dia mendengar Hyukjae berbicara dengannya.

Temannya itu sekarang sedang bercerita dengan serius tentang perceraian orangtuanya dulu, yang diakibatkan karena ayahnya yang berselingkuh dengan adik iparnya. Namun Ryeowook sendiri tidak mengingat bagaimana pembicaraan mereka bermula sampai topik ini diungkit dan dia mendengar suara Hyukjae yang terdengar lirih. Menuturkan kisah yang miris.

"Dan kau memilih untuk tinggal dengan ibumu saja?" Ryeowook merespon cerita Hyukjae seolah dia sudah menyimak dengan seluruh pikirannya. Yang pada faktanya, dia malah sedang memikirkan hal yang lain pada saat ini.

Hyukjae mengangguk.

"Aku memergoki ayahku berselingkuh. Ehm... berciuman di dekat mobil dengan selingkuhannya. Dan aku muak dengannya." ujarnya.

Sebuah perasaan berat mengganjal batin Ryeowook. Taeyeon. Bagaimana perasaan anak itu nanti... jika saja dia sudah mengerti tentang apa yang dilihatnya, seperti apa yang dilihat anak itu tadi pada pagi hari sebelumnya? Anak itu... Taeyeon pasti kecewa padanya. Wajah Ryeowook memucat.

"Itu pasti menyakitkan."

Hyukjae tersenyum kecil. "Sejujurnya, itu membuatku ingin menampar ayahku. Tapi yah, ibuku melarangnya. Sebuah kesalahan, jangan diikuti oleh kesalahan yang lain. Bagaimanapun dia ayahku."

Ryeowook menganggukkan kepalanya dengan kaku. "Itu benar."

Sebuah kesalahan tidak boleh diikuti oleh kesalahan lainnya, dia mengulangi kalimat itu di dalam kepalanya.

Dan itu memang benar. Yang berarti hanya satu hal, segalanya harus dihentikan.

.

.

.

"Mauu belcama appaaa~" Taeyeon merengek-rengek setelah makan malam hari itu selesai. Berlari ke arah kamar Jongwoon dengan kaki-kakinya yang mungil.

"Taeyeonie." Ryeowook mengeluh dengan gusar. "Jangan ganggu appa, tidur bersamaku saja seperti biasa."

"Aniiii!"

"Taeyeon, sayang, ayo keluar."

Taeyeon menggeleng-geleng. Sampai akhirnya Jongwoon masuk ke sana setelah menyelesaikan pekerjaannya di ruang kerja yang terpisah.

"Taeyeonie mau belcama appa!" bocah itu melompat ke arah Jongwoon dan menarik-narik kemeja yang dikenakan pria itu.

"Tapi-"

"Biarkan saja, Ryeowook-ah." ucap Jongwoon santai. "Memangnya kenapa?"

Ryeowook menggigit bibirnya. Dia ingin bicara dengan pria itu. Berdua saja. Dan dengan adanya Taeyeon di antara mereka, hal itu tidak mungkin bisa terwujud sama sekali.

"A-Aku jadi sendirian..." Ryeowook beralasan. Dan dia tahu itu adalah alasan terbodoh yang bisa dia berikan sampai-sampai Jongwoon tergelak karenanya.

"Astaga, kau kan sudah 18 tahun."

"Aku tahu-"

"Kalau begitu tidur saja di sini." ajak Jongwoon, memutuskan secara sepihak sebelum Ryeowook sempat berbicara lebih banyak lagi.

Pemuda itu nyaris tersedak mendengarnya. Dia memberikan tatapan sangsi pada Jongwoon yang dibalas oleh lirikan ke arah kasur oleh pria itu.

"Ranjangnya pasti cukup."

Bukan!

Rasanya Ryeowook ingin menjeritkan satu kata itu saja sekarang ini. Bukan itu yang dia takutkan. Ada hal lain yang ingin dia ungkapkan sebagai alasan. Apapun itu, asal malam ini dia bisa mengelak dan mengunci dirinya sendiri jauh-jauh dari Jongwoon. Pikirannya selalu tak bisa dikontrol setiap dia berdekatan dengan pria itu. Dan untuk niatnya berbicara dengan Jongwoon nantinya, dia butuh sebanyak mungkin pikiran jernih yang bisa dia kumpulkan.

"Oppaaa~"

Entah sejak kapan Taeyeon berada di depannya dan menarik-narik tangannya ke arah ranjang.

"Oppa, di cini juga~"

Bocah itu memberinya tatapan yang tak terelakkan. Tahu-tahu, Ryeowook malah sudah mengangguk. Menuruti keinginannya. Dan dia segera menyesali hal itu dalam hati.

"Untuk malam ini saja." Jongwoon berbisik padanya sambil mengecup dahinya sebelum tidur malam itu.

Ryeowook merona diam-diam. Dia merasakan tubuh Jongwoon yang berada tepat di sebelahnya. Meskipun pria itu memeluk Taeyeon, tapi sebelah tangan Jongwoon berada di pinggang Ryeowook. Menarik pemuda itu untuk lebih dekat lagi dengannya. Debaran keras yang seperti biasanya ada kembali hadir, membuat Ryeowook mendesah keras. Melampiaskan kegelisahannya.

Tapi tak urung juga tubuhnya merasa rileks berada di sini. Bau tubuh Jongwoon membuatnya makin nyaman, dan mengantuk dengan cepat. Dia meletakkan tangannya di dada pria itu, lalu mulai terlelap seperti bayi.

Ini bukan ide bagus. Sama sekali bukan ide bagus.

.

.

.

Bayangan itu samar. Amat sangat samar.

Awalnya berupa gumpalan putih seperti kabut, berdiri dalam kegelapan. Lalu lama-lama mulai membentuk sosok yang begitu familiar untuknya. Tenggorokan Ryeowook tercekat.

Gadis itu berdiri di sana. Rambut hitam bergelombangnya membingkai wajahnya yang cantik. Mata itu menatapnya dan bibirnya tersenyum, untuknya. Tangan-tangan sepucat susu menggapainya. Menariknya dari dalam kegelapan yang begitu pekat.

"Eomma," Ryeowook berbisik. Airmatanya merebak begitu cepat ketika tangan halus Tiffany memeluknya.

Kerinduannya akan sosok itu tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Ryeowook balas memeluknya. Seerat yang dia bisa.

"Ryeowook, sayang," suara itu terdengar seperti lonceng yang menggema. Begitu indah dan jernih. Menggema di sudut-sudut kepalanya.

"Aku merindukan eomma."

"Eomma tahu,"

Ryeowook menenggelamkan kepalanya di pelukan hangat Tiffany sebelum gadis itu melepaskannya. Menatapnya dengan sorot mata yang ramah dan penuh keibuan.

"Kau masih memegang janjimu kan? Menjaga Taeyeon kecil eomma?"

Dia mengangguk. Dan Tiffany tersenyum.

"Bagaimana dengan appa? Jangan kecewakan eomma, sayang."

Dada Ryeowook seolah ditikam oleh belati saat itu juga. Tubuhnya mendingin. Kini, di mata ibunya ada sorot penuh kekecewaan. Tiffany tahu. Gadis itu sudah tahu atas apa yang telah diperbuatnya selama ini. Dan Tiffany pasti marah padanya.

"Eomma," suara Ryeowook bergetar. Entah kerena tangisnya, atau karena takut. "Maaf... A-Aku tidak bermaksud untuk..."

Sosok itu makin lama makin menjauh darinya. Dan Ryeowook terjatuh. Berlutut di sana sendirian sambil menyaksikan kepergian Tiffany. Gadis itu menggeleng padanya untuk terakhir kalinya. Dan bibirnya terbuka untuk mengulangi kata-katanya. Hanya berupa bisikan penuh harapan.

"Jangan kecewakan eomma."

"Eomma, tidak! Maaf! Aku benar-benar tidak mau mengecewakan eomma." dia memanggil Tiffany untuk kembali. Mendengarkan penyesalannya. Tapi hasilnya nihil. "Eomma!"

"EOMMA!"

Tubuh Ryeowook terduduk. Terengah-engah di kasur sementara keringat membanjiri sekujur tubuhnya. Matanya menatap nyalang pada sekelilingnya.

Dia aman di sini. Tidak ada kegelapan, terlebih, tidak ada Tiffany. Itu hanya mimpi.

Mimpi...

Ryeowook mengelap keringatnya sendiri dengan napas pendek-pendek. Beberapa saat kemudian, dia baru sadar jika kamar yang dilihatnya bukanlah kamarnya. Tempat ini tidak asing, dan ketika Ryeowook melihat Jongwoon dan Taeyeon yang tertidur di sebelahnya, kesadarannya langsung muncul.

Tentu. Semalam dia tidur di sini. Entah mengapa dia merasa kehilangan beberapa ingatannya akibat mimpi barusan. Mengulang kembali kilasan bunga tidur itu membuat Ryeowook merasa mual tiba-tiba. Memandang rendah pada dirinya adalah sesuatu yang mudah untuk dilakukan.

Tiffany datang malam ini untuk memperingatkannya. Sebagai anak yang tidak tahu malu, untuk segera menjauh dari Jongwoon. Dia pasti sudah menyakiti hati ibunya itu jika saja Tiffany masih ada bersama mereka. Betapa menjijikkannya jika dia memikirkan hal itu sekarang.

Hubungannya dengan Jongwoon tidak boleh lagi seperti ini. Tidak lagi.

"Ryeowook?"

Suara berat itu datang dari kegelapan. Menyentak Ryeowook secara tiba-tiba saat sepasang tangan melingkar di pinggangnya secara tiba-tiba. Dia melepaskan diri secara perlahan, menjauh dari Jongwoon. Menempatkan dirinya di ujung kasur.

"Ada apa? Kau mimpi buruk?" Jongwoon mendudukkan dirinya sendiri di kasur. Menatap pada Ryeowook.

Pemuda itu menduga jika Jongwoon pastilah terbangun akibat suaranya barusan. Dan dia mengangguk untuk memberi jawaban. Keberaniannya muncul secara tiba-tiba ketika di mulai membuka mulut pada saat selanjutnya.

"Hyung?"

"Hmm? Tidurlah. Ini masih dini hari."

"Hyung, aku mau bicara." Ryeowook mempertegas ucapannya.

Jongwoon menguap. "Besok pagi saja."

Ryeowook menggeleng. "Tidak. Kurasa tidak."

"Oke, ada apa kalau begitu?" Jongwoon memilih untuk mengalah. Perdebatan pada jam seperti ini bukanlah ide yang bagus. "Bicara saja."

"Aku..." pemuda itu menarik napas dalam-dalam. "Aku ingin kita kembali seperti semula."

Mata Jongwoon memicing. "Maksudmu?"

"Hyung... jangan pura-pura tidak tahu. Kau mengerti jika semua ini salah. Kita..." Ryeowook menghentikan sejenak kata-katanya. "Tidak seharusnya seperti ini. Tidak lagi. Ini bukan hal yang pantas untuk dilakukan." dia memberi penekanan pada kalimat terakhir.

Jongwoon tahu. Dia mengerti sepenuhnya apa yang dibicarakan oleh Ryeowook meskipun tidak ada pernyataan yang gamblang dari pemuda itu. Tapi dia cukup terkejut untuk menerima fakta jika Ryeowook ingin menghentikannya. Karena jika asumsinya tidak salah, maka-

"Bukankah kau menikmatinya?" Jongwoon menatapnya tajam.

Itu lebih seperti tuduhan atas motif perbuatan mereka. Ryeowook tergugu, wajahnya memanas. Sebenarnya... itu memang benar. Tapi dia segera menggeleng.

"Sampai kapan kau mau naif begitu?" helaan napas Jongwoon terdengar di dekatnya. "Ryeowook, dengar-"

"Tidak. Hyung yang dengarkan." Ryeowook memotongnya. "Aku mungkin terlalu bodoh untuk menolak, dan takut untuk mengatakan tidak selama ini. Tapi aku tahu dengan pasti, bagaimana statusku di sini. Dan aku mohon, jangan mempersulitku, hyung. Segalanya mungkin terlihat sepele, tapi ini tidak bisa terus berlanjut."

Kata-kata Ryeowook membuat tatapan Jongwoon mengeras. Rahang pria itu mengatup, menahan emosinya untuk segera menyanggah semuanya. Seperti lecutan cemeti, apa yang Ryeowook sampaikan tadi terasa pedih untuknya. Tapi sekali lagi, Jongwoon tahu, Ryeowook benar.

Dengan gerakan yang sangat tak terduga, pria itu menarik lengan Ryeowook sampai pemuda itu berada di bawah tubuhnya. Memenjarakan tubuh Ryeowook dan menahan pergerakannya.

"Hyu-"

Ryeowook merasakan jika jantungnya nyaris saja terhenti saat Jongwoon tiba-tiba menciumnya. Menempelkan bibir mereka dan menggerakkan bibirnya di atasnya. Lumatan itu terasa kasar, dan terlalu mendesak. Bahkan belum sampai satu menit, Ryeowook merasa udaranya sudah habis. Kepalanya terasa pusing saat Jongwoon masih juga menciumnya, lebih dalam, lebih menuntut. Dan dia tak bisa melakukan apapun untuk melawannya. Rasanya dia sudah terlalu terbiasa dengan ini, sehingga perintah untuk berontak bahkan tak lagi ada di benaknya. Ryeowook merasa kecewa dengan dirinya sendiri.

Gelenyar aneh menjalari sekujur tubuh Ryeowook ketika akhirnya ciuman itu terlepas, dan tubuh Jongwoon menyingkir dari tubuhnya. Ada kelegaan di dadanya, sekaligus secercah rasa kecewa ganjil yang muncul. Paru-parunya menghirup udara dalam-dalam saat mata itu memandangnya, dengan sorot yang tak pernah dia lihat sebelumnya. Sejenak, atau malah beberapa menit, mereka terdiam. Detakan pelan jam dinding menggema di kepala Ryeowook sampai akhirnya semuanya buyar oleh ucapan yang terdengar selanjutnya.

"Jika begitu maumu," Jongwoon berbisik dengan suara beratnya. "Itu yang terakhir kalinya. Aku berjanji."

.

.

.

Normal.

Kehidupannya benar-benar normal setelahnya. Dan Ryeowook merasa dia patut bersyukur karena itu. Jongwoon tidak lagi bersikap intim padanya. Hanya hal-hal seperti biasa yang mereka lakukan sejak dulu. Tapi lebih dari hal-hal biasa, Jongwoon juga menjadi lebih pendiam. Dan Ryeowook cukup tahu jika itu adalah salahnya, jadi dia lebih memilih untuk tak menganggu pria itu.

Sungmin mengunjunginya pada hari Sabtu yang cukup cerah. Beralasan jika dia merindukan Taeyeon, yang sejak masa liburan Ryeowook, jarang sekali dititipkan padanya.

"Kau kelihatan lesu sekali, Ryeowookie." Sungmin berkomentar ketika Ryeowook menuangkan teh untuk cangkirnya.

Ryeowook tersenyum kecil.

"Sedikit flu." ujarnya.

Sungmin menepuk-nepuk bahu Ryeowook dengan wajah penuh perhatian. "Sepertinya Jongwoon hyung juga, ya?"

Dengan gerakan santai Ryeowook mengangkat bahunya. "Memang kenapa?"

"Kalian sama-sama lesu."

Ini sudah seminggu kehidupan normal mereka berjalan, dan entah mengapa seminggu ini pula keduanya berada dalam keadaan seperti yang dikatakan Sungmin. Sama-sama tak memiliki semangat, walau Ryeowook lebih mampu mengatasinya dengan banyak-banyak tersenyum dan bermain dengan Taeyeon. Itu cukup membuatnya senang.

Taeyeon berada di pangkuan Sungmin dan sibuk dengan boneka Teddy Bear-nya ketika Sungmin mengelus pipi anak itu dan bergumam. "Kau sudah menjadi ibu yang sangat baik untuknya."

"Apa?"

Sungmin mendongak, tersenyum manis pada Ryeowook. "Kau sudah menjadi ibu yang baik untuknya, Ryeowookie."

"Aku hanya membantu mengurus Taeyeon, hyung." pemuda itu menggeleng dan tertawa pelan.

"Tapi aku melihatmu seperti sosok ibunya." Sungmin ikut tertawa, dan mencubit pipi Taeyeon. "Benar kan, Taeyeonie?"

"Apaaa~?" Taeyeon mendongak dari mainannya. Mengernyit imut ke arah Sungmin.

Pria itu menunjuk Ryeowook. "Ryeowookie oppa sudah seperti ibumu. Benar kan?"

Ryeowook melihat Taeyeon memperhatikannya sejenak, dan dia memberikan senyum pada bocah manis itu. Taeyeon tertawa dan mengangguk. Entahlah apakah bocah itu benar-benar paham atau tidak dengan maksud ucapan Sungmin.

"Ne." ujar Taeyeon, suaranya terdengar nyaring. "Ryeowook eommaaa~"

"Nah, mungkin kalau dari awal dia memanggilmu seperti itu akan lebih baik."

Ryeowook menggeleng. Merasa miris sendiri. Tentu saja tidak begitu, karena dia hanya sosok kakak bagi Taeyeon. Dan itu terlalu berlebihan untuknya. Jelas-jelas Ryeowook bisa melihat sosok Tiffany kecil di paras anak itu, menegaskan siapa yang telah menurunkan gen kecantikan itu pada Taeyeon.

"Tidak, hyung. Tidak akan pernah jadi begitu."

.

.

.

Ayah Jongwoon baru saja pulang dari perjalanan bisnisnya ke Austria setelah satu bulan lebih berada di sana, dan pria tua itu mengundang seluruh keluarganya untuk berkumpul bersama dan makan malam di mansion keluarga Kim. Menikmati kebersamaan mereka sebagai satu keluarga setelah lama tidak berjumpa.

Jongwoon menyanggupi saja tawaran ayahnya dan tidak menaruh curiga pada apapun. Sampai akhirnya makan malam yang sempurna itu selesai dan dessert mulai di hidangkan di hadapan mereka. Sementara Ryeowook sibuk dengan Taeyeon yang memakan pudingnya dengan bersemangat, ayah Jongwoon mulai bicara.

"Appa bertemu dengan teman lama ketika menghadiri pesta peresmian di Wina."

"Hmm? Siapa?" Jongwoon tidak benar-benar ingin menanggapinya.

"Mr. Song." jawab ayahnya. "Dia bertanya tentangmu."

Alis Jongwoon sedikit naik. "Tentang apa?"

"Bagaimana kau sekarang dan semacamnya." ayahnya menyuapkan sesendok penuh puding sebelum menatap pada Jongwoon. "Dia menyayangkan kenapa kau belum menikah lagi sampai sekarang."

Keheranan Jongwoon mulai tumbuh seiring dengan lanjutan dari kata-kata ayahnya. Diam-diam, Ryeowook mendengarkan pembicaraan itu baik-baik. Penasaran dengan topik asing yang rasanya mengandung sesuatu tersirat itu.

"Dia memiliki putri yang cantik. Kudengar dari gadis itu, dia mengenalmu. Dia akan kembali ke Korea Selatan dalam waktu dekat karena dia baru saja menyelesaikan studinya di Cambridge setengah tahun lalu."

"Siapa? Rasanya aku tidak mengenal siapapun yang kuliah di Cambridge."

"Bagaimana kalau kalian bertemu? Appa punya janji makan malam dengan keluarganya setelah mereka datang."

"Terserah." Jongwoon nyaris mengibaskan tangan saking tak sabar. "Tapi siapa gadis ini?"

"Kau penasaran sekali dengannya, eh?" ayahnya terkekeh.

Jongwoon mendengus pelan. Begitu juga Ryeowook, meskipun lebih pelan. Neneknya mengelap sudut bibir Taeyeon dan dia pura-pura acuh dengan pembicaraan Jongwoon dan kakeknya.

"Banyak yang memanggilnya Victoria. Namanya Song Qian. Katanya, dia salah seorang juniormu di SMA."

.

.

.

[ T . B . C ]

.

.

.

Nah chapter selanjutnya datang! Kasian ya, yewook baru mesra udah dipisah lagi *ketawa jahat* *ditendang*

*kipasin reader* kenapa banyak permintaan NC di review? =_= tenang guys, semua itu akan indah pada waktunya *PLAK* oke lupakan dulu! Ga ada spoiler buat ganti rating sekarang :p

FF ini semacam to the point untuk alurnya, ngga banyak bertele-tele, jadi maaf aja kalo pendek melulu u.u kan pada minta update cepet, berarti gapapa dong kalo pendek? :p

Thanks to semua yang udah review! \^^/

P.S : buat guess-lyw, tinggalin akun fb atau twitter dong pleaseeee ;_;

Bener kata satu reviewer, kalo Rin itu bertahan banget sama yewook :)) soalnya Rin emang fujoshi buat yewook doang, dan meskipun kadang ada kyumin, itu ga begitu dapet feel pas ngetik~ jadi sorry, Rin ga bisa buka request pairing kalo mau bikin ff kkkk~ terima kasih buat yang udah paham itu ^-^

Komentar, kritik dan saran sangat diharapkan! Buat bikin semangat dan perbaikan~~

So, mind to gimme your review? ^^

.

See youuu~

.