Naruto belongs to Masashi Kishimoto
A Naruto Fanfic belongs to Okada Hikami
Itachi Uchiha X Naruto Uzumaki
Shounen-ai
ONESHOOT
Aku gila. Aku benar-benar gila. Sejak kapan seorang Uzumaki Naruto yang terhormat ini menjadi belok? Sejak kapan?
Dan kenapa pula aku harus tertarik pada pria yang sudah berumur? Dia bahkan punya keriput yang terlihat begitu mencolok. Aku ingin bunuh diri saja kalau begini. Ah, mengapa bisa begini sih?
"Uzumaki-kun, ada yang bisa ku bantu?"
Sial! Sekarang aku harus menjawab apa? Dan kenapa dia terlihat begitu tampan? Ouch, fokuslah Uzumaki Naruto!
Aku berdehem pelan. Dengan tergesa aku menyerahkan surat -cinta- ku padanya, yang telah aku masukan kedalam amplop berwarna merah muda —juga telah kuberi stempel bibirku. Dia terlihat ragu, tapi tetap menerimanya, dan setelah surat -cinta- ku berpindah tangan padanya aku langsung berbalik badan, berlari sekencang mungkin untuk menjauhinya. Aku malu, sialan!
Padahal biasanya para gadis yang akan bertidak seperti yang aku lakukan, tapi kini aku... Hah. Harga diriku telah jatuh. Kalau rival ku tahu, dia pasti akan menjadikan ini sebagai bahan olokan.
Kok aku menyesal karna telah memberikan surat -cinta- ku ya? Kalau kami bertemu nanti apa yang harus aku katakan, dan bagaimana jika dia membeberkan tentang surat -cinta- ku itu pada semua orang. Aku pasti akan sangat malu... juga patah hati karena secara tidak langsung aku telah di tolak.
Aku berhenti berlari untuk mengambil napas. Jantung ku berdetak kencang, terdengar begitu berisik, sampai-sampai aku takut kalau yang lain bisa mendengarnya.
PLUK
"KYAAAA..."
Aku berteriak kencang saat ada sesuatu menyentuh pundakku. Aku menoleh kebelakang dan mendapati rivalku tengah memandang penuh tanya di balik wajah datarnya.
"Sialan kau Uchiha!" ucapku, memandang jengkel padanya. Rival ku ini hanya mendengus pelan, mimik wajahnya tidak berubah sedikit pun.
"Apa kau baru bertemu hantu, dobe?" kini giliran aku yang mendengus, "Bukan urusanmu." ketusku, kemudian berjalan pergi dan rival ku mengikuti di belakang.
Aku —dan rival ku— duduk di bangku taman. Sekilas aku memandang langit, kemudian beralih pada rumput hijau yang tengah ku pijak, memandangi rumput hijau itu lama—sangat lama. Duduk ku gelisah, aku tidak bisa diam—aku tak akan tenang sebelum mendapat jawaban dari surat -cinta- ku.
Ouuh, kanapa rumput itu warnanya hijau, kenapa tidak merah muda saja?
Aku benar-benar gila sekarang. "Oh, Tuhan. Apa ini yang di namakan C.I.N.T.A?" teriakku, dengan mengeja kata CINTA. Kemudian aku berdiri dan memandang pada rival ku. Dia balas memandang ku dengan kening berkerut, mungkin dia heran melihat tingkah -gila- ku hari ini yang sudah melebihi batas normal. "Sasuke, bantu aku, ya?!" aku mengatupkan kedua tangan di dada, kembali menjatuhkan harga diriku demi yang tercinta.
Sasuke mengangkat alis, "Bantu apa?" saat Sasuke bertanya seperti itu aku langsung memekik girang. Kembali duduk di samping Sasuke, aku sedikit memiringkan tubuh menghadap padanya.
Aku berdehem, tersenyum lebar setelahnya, mengabaikan tatapan tajam yang menghujaniku sekarang. "Bantu aku mendapatkan kakak mu," pintaku, mengubah ekpresi menjadi lebih dramatis agar Uchiha bungsu calon adik iparku ini luluh. Tangan kembali menyatu —gestur memohon— dan mata di kedip-kedipkan genit. Seingatku, Sasuke gampang luluh jika sudah aku beri kerlingan mata. Semoga sekarang pun begitu.
Tapi bukannya luluh, Uchiha Sasuke malah terlihat marah. Aku menegang di tempat. Sasuke kalau sudah marah akan terlihat beratus-ratus kali lebih menyeramkan. Aku masih sayang nyawa.
"Kau. Suka. Pada. Kakak. Ku." dia berkata penuh penekanan. Aku tidak tahu itu bentuk pertanyaan atau pernyataan. Tapi aku tetap menganggukkan kepala lamat-lamat. "Aku tidak akan membantumu," katanya lagi. Kemudian Sasuke berdiri, memberi tatapan tajam yang terlihat jauh lebih menyeramkan dari yang biasanya. Kalau tatapan bisa membunuh, kini aku pasti sudah terkapar. Ia melangkah pergi, meninggalkan ku sendiri.
Satu-satunya orang yang aku harapkan bisa membantu ku telah pergi. Apa ini artinya aku tidak bisa mendapatkan cintaku?
Oh, Itachi... Pria tua keriput ku tersayang, mengapa begitu sulit membuat kita bersama?
~Author~
Untuk Uchiha Itachi
Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai memperhatikan dirimu, tapi yang pasti jantung ini selalu berdetak lebih kencang dari biasanya setiap kali aku melihatmu. Setiap aku memejamkan mata ini, wajah keriputmu selalu terbanyang jelas. Aku sempat menyangkal rasa ini, karena aku sangat yakin bahwa aku ini lelaki normal yang suka melihat dua gunung kembar milik gadis-gadis cantik. Tapi keyakinanku semakin goyah setiap kali melihatmu. Aku kembali mempertanyakan kenormalan ku.
Intinya disini aku ingin memberi tahu padamu bahwa aku jatuh hati padamu, aku suka, Cinta, dan ingin menjadikan dirimu sebagai milikku, dan juga menjadikan aku sebagai milikmu.
Jadi, maukah engkau menjadi kekasihku, Itachi-sensei?
Dari Uzumaki Naruto
—calon Uke mu
Itachi terkekeh membaca surat cinta dari murid didiknya. Tidak ia sangka kalau pemuda seusia adiknya itu memiliki rasa yang sama dengan apa yang ia rasakan selama ini. Itachi sempat berpikir untuk menyerah karena tidak tahu bagaimana cara melakukan pendekatan dengannya, tapi ternyata Naruto juga menyukai dirinya.
Entah sudah yang keberapa kali Itachi membaca surat cinta itu hanya untuk memastikan bahwa pengelihatannya masih baik dan ia tidak salah membaca. Ini terlalu ajaib untuknya. Itachi sempat meminta bantuan pada adiknya, Sasuke, karena setahu dirinya Sasuke cukup dekat dengan Naruto, tapi Sasuke menolak dengan tegas. Dan dari penolakan itu Itachi tahu kalau ternyata adiknya itu juga menyukai Naruto. Itu juga yang menjadi alasannya untuk menyerah akan rasa sukanya pada Naruto. Itachi tidak ingin bersaing dengan adiknya sendiri.
Tapi lain hal lagi kalau ternyata Naruto lebih memilih dirinya. Itachi tentu tidak akan menyianyiakan kesempatan, karena Naruto sendiri yang menawarkan diri untuk diklaim olehnya. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja sampai dirinya dan Naruto bisa bersama sebagai sepasang kekasih.
Itachi menyeringai senang, kemudian mendekatkan bibirnya pada surat cinta dari Naruto, tepatnya pada cap bibir Naruto yang sengaja di bubuhkan pada bagian paling bawah surat. Mengecupnya mesra, seolah itu bibir asli milik si pembuat surat bukan sekedar cap bibir.
"Tunggu aku, sayang~"
OMAKE
Naruto masih duduk di bangku taman saat sosok yang ditaksirnya ikut duduk di sampingnya, tempat yang sebelumnya diduduki oleh Sasuke. Naruto langsung berkeringat dingin, lebih memilih memandang jari-jari tangannya yang saling bertaut resah. Tangan besar milik pria keriput taksirannya itu mendarat di atas kepala bermahkotakan rambut pirang miliknya, menggusuk sayang kepalanya, membuat keresahan Naruto menguap, tergantikan oleh rasa tenang dan senang.
Kemudian Naruto mengangkat kepalanya, balas memandang hitam arang milik Itachi yang sejak tadi memandang padanya. Seulas senyum tulus dapat dilihat oleh safir cantiknya, "Itachi-sensei?" bisiknya penuh tanya.
"Kenapa kau lari sebelum aku menjawab pernyataan cintamu, hm?" pria usia 26 tahun itu menggenggam tangan Naruto erat, membuahkan semburut merah yang perlahan menyebar di pipi Naruto. Itachi semakin melebarkan senyuman, sikap malu-malu Naruto membuatnya gemas.
"Jadi, apa jawabanmu?" tanya Naruto, menundukan kepala untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus, jantungnya pun berdetak begitu kencang, Naruto takut kolaps sebelum mendengar jawaban Itachi.
Itachi menyentuh dagu Naruto, menghadapkan wajah bergaris kumis kucing itu untuk menghadap padanya, "Ini jawabanku." Itachi menyatukan bibirnya dengan bibir Naruto, mencecap setiap rasa yang ada pada bibir itu, mengulumnya bergantian, sebelum memasukan lidahnya kedalam goa hangat Naruto untuk mengajak benda tak bertulang di dalam goa hangat Naruto untuk bertarung.
Keduanya sudah lupa daratan rupanya. Tidak sadarkah mereka kalau mereka masih berada di lingkungan sekolah? Mungkin besok pagi akan ada berita menggembarkan, tentang kemesraan mereka—guru dan murid, sesama lelaki, saling memangut bibir. Kalian berciuman di tempat terbuka, di taman sekolah yang sialnya masih ada murid yang berkeliaran, bahkan beberapa diantara mereka tengah asik menonton kalian—juga mengabadikan momen mesra kalian.
C.I.N.T.A HUH?
The end
Jika judul tidak sesuai dengan isi cerita ataupun ada kesalahan lainnya silahkan beritahu saya. Saya terima kritik dan saran.
Vote Comment?
"Uzumaki-kun, ada yang bisa ku bantu?"
Sial! Sekarang aku harus menjawab apa? Dan kenapa dia terlihat begitu tampan? Ouch, fokuslah Uzumaki Naruto!
Aku berdehem pelan. Dengan tergesa aku menyerahkan surat -cinta- ku padanya, yang telah aku masukan kedalam amplop berwarna merah muda —juga telah kuberi stempel bibirku. Dia terlihat ragu, tapi tetap menerimanya, dan setelah surat -cinta- ku berpindah tangan padanya aku langsung berbalik badan, berlari sekencang mungkin untuk menjauhinya. Aku malu, sialan!
Padahal biasanya para gadis yang akan bertidak seperti yang aku lakukan, tapi kini aku... Hah. Harga diriku telah jatuh. Kalau rival ku tahu, dia pasti akan menjadikan ini sebagai bahan olokan.
Kok aku menyesal karna telah memberikan surat -cinta- ku ya? Kalau kami bertemu nanti apa yang harus aku katakan, dan bagaimana jika dia membeberkan tentang surat -cinta- ku itu pada semua orang. Aku pasti akan sangat malu... juga patah hati karena secara tidak langsung aku telah di tolak.
Aku berhenti berlari untuk mengambil napas. Jantung ku berdetak kencang, terdengar begitu berisik, sampai-sampai aku takut kalau yang lain bisa mendengarnya.
PLUK
"KYAAAA..."
Aku berteriak kencang saat ada sesuatu menyentuh pundakku. Aku menoleh kebelakang dan mendapati rivalku tengah memandang penuh tanya di balik wajah datarnya.
"Sialan kau Uchiha!" ucapku, memandang jengkel padanya. Rival ku ini hanya mendengus pelan, mimik wajahnya tidak berubah sedikit pun.
"Apa kau baru bertemu hantu, dobe?" kini giliran aku yang mendengus, "Bukan urusanmu." ketusku, kemudian berjalan pergi dan rival ku mengikuti di belakang.
Aku —dan rival ku— duduk di bangku taman. Sekilas aku memandang langit, kemudian beralih pada rumput hijau yang tengah ku pijak, memandangi rumput hijau itu lama—sangat lama. Duduk ku gelisah, aku tidak bisa diam—aku tak akan tenang sebelum mendapat jawaban dari surat -cinta- ku.
Ouuh, kanapa rumput itu warnanya hijau, kenapa tidak merah muda saja?
Aku benar-benar gila sekarang. "Oh, Tuhan. Apa ini yang di namakan C.I.N.T.A?" teriakku, dengan mengeja kata CINTA. Kemudian aku berdiri dan memandang pada rival ku. Dia balas memandang ku dengan kening berkerut, mungkin dia heran melihat tingkah -gila- ku hari ini yang sudah melebihi batas normal. "Sasuke, bantu aku, ya?!" aku mengatupkan kedua tangan di dada, kembali menjatuhkan harga diriku demi yang tercinta.
Sasuke mengangkat alis, "Bantu apa?" saat Sasuke bertanya seperti itu aku langsung memekik girang. Kembali duduk di samping Sasuke, aku sedikit memiringkan tubuh menghadap padanya.
Aku berdehem, tersenyum lebar setelahnya, mengabaikan tatapan tajam yang menghujaniku sekarang. "Bantu aku mendapatkan kakak mu," pintaku, mengubah ekpresi menjadi lebih dramatis agar Uchiha bungsu calon adik iparku ini luluh. Tangan kembali menyatu —gestur memohon— dan mata di kedip-kedipkan genit. Seingatku, Sasuke gampang luluh jika sudah aku beri kerlingan mata. Semoga sekarang pun begitu.
Tapi bukannya luluh, Uchiha Sasuke malah terlihat marah. Aku menegang di tempat. Sasuke kalau sudah marah akan terlihat beratus-ratus kali lebih menyeramkan. Aku masih sayang nyawa.
"Kau. Suka. Pada. Kakak. Ku." dia berkata penuh penekanan. Aku tidak tahu itu bentuk pertanyaan atau pernyataan. Tapi aku tetap menganggukkan kepala lamat-lamat. "Aku tidak akan membantumu," katanya lagi. Kemudian Sasuke berdiri, memberi tatapan tajam yang terlihat jauh lebih menyeramkan dari yang biasanya. Kalau tatapan bisa membunuh, kini aku pasti sudah terkapar. Ia melangkah pergi, meninggalkan ku sendiri.
Satu-satunya orang yang aku harapkan bisa membantu ku telah pergi. Apa ini artinya aku tidak bisa mendapatkan cintaku?
Oh, Itachi... Pria tua keriput ku tersayang, mengapa begitu sulit membuat kita bersama?
.
.
~Author~
.
.
Untuk Uchiha Itachi
Aku tidak tahu sejak kapan aku mulai memperhatikan dirimu, tapi yang pasti jantung ini selalu berdetak lebih kencang dari biasanya setiap kali aku melihatmu. Setiap aku memejamkan mata ini, wajah keriputmu selalu terbanyang jelas. Aku sempat menyangkal rasa ini, karena aku sangat yakin bahwa aku ini lelaki normal yang suka melihat dua gunung kembar milik gadis-gadis cantik. Tapi keyakinanku semakin goyah setiap kali melihatmu. Aku kembali mempertanyakan kenormalan ku.
Intinya disini aku ingin memberi tahu padamu bahwa aku jatuh hati padamu, aku suka, cinta, dan ingin menjadikan dirimu sebagai milikku, dan juga menjadikan aku sebagai milikmu.
Jadi, maukah engkau menjadi kekasihku, Itachi-sensei?
Dari Uzumaki Naruto
—calon Uke mu
Itachi terkekeh membaca surat cinta dari murid didiknya. Tidak ia sangka kalau pemuda seusia adiknya itu memiliki rasa yang sama dengan apa yang ia rasakan selama ini. Itachi sempat berpikir untuk menyerah karena tidak tahu bagaimana cara melakukan pendekatan dengannya, tapi ternyata Naruto juga menyukai dirinya.
Entah sudah yang keberapa kali Itachi membaca surat cinta itu hanya untuk memastikan bahwa pengelihatannya masih baik dan ia tidak salah membaca. Ini terlalu ajaib untuknya. Itachi sempat meminta bantuan pada adiknya, Sasuke, karena setahu dirinya Sasuke cukup dekat dengan Naruto, tapi Sasuke menolak dengan tegas. Dan dari penolakan itu Itachi tahu kalau ternyata adiknya itu juga menyukai Naruto. Itu juga yang menjadi alasannya untuk menyerah akan rasa sukanya pada Naruto. Itachi tidak ingin bersaing dengan adiknya sendiri.
Tapi lain hal lagi kalau ternyata Naruto lebih memilih dirinya. Itachi tentu tidak akan menyianyiakan kesempatan, karena Naruto sendiri yang menawarkan diri untuk diklaim olehnya. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja sampai dirinya dan Naruto bisa bersama sebagai sepasang kekasih.
Itachi menyeringai senang, kemudian mendekatkan bibirnya pada surat cinta dari Naruto, tepatnya pada cap bibir Naruto yang sengaja di bubuhkan pada bagian paling bawah surat. Mengecupnya mesra, seolah itu bibir asli milik si pembuat surat bukan sekedar cap bibir.
"Tunggu aku, sayang~"
••OMAKE••
Naruto masih duduk di bangku taman saat sosok yang ditaksirnya ikut duduk di sampingnya, tempat yang sebelumnya diduduki oleh Sasuke. Naruto langsung berkeringat dingin, lebih memilih memandang jari-jari tangannya yang saling bertaut resah. Tangan besar milik pria keriput taksirannya itu mendarat di atas kepala bermahkotakan rambut pirang miliknya, menggusuk sayang kepalanya, membuat keresahan Naruto menguap, tergantikan oleh rasa tenang dan senang.
Kemudian Naruto mengangkat kepalanya, balas memandang hitam arang milik Itachi yang sejak tadi memandang padanya. Seulas senyum tulus dapat dilihat oleh safir cantiknya, "Itachi-sensei?" bisiknya penuh tanya.
"Kenapa kau lari sebelum aku menjawab pernyataan cintamu, hm?" pria usia 26 tahun itu menggenggam tangan Naruto erat, membuahkan semburut merah yang perlahan menyebar di pipi Naruto. Itachi semakin melebarkan senyuman, sikap malu-malu Naruto membuatnya gemas.
"Jadi, apa jawabanmu?" tanya Naruto, menundukan kepala untuk menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus, jantungnya pun berdetak begitu kencang, Naruto takut kolaps sebelum mendengar jawaban Itachi.
Itachi menyentuh dagu Naruto, menghadapkan wajah bergaris kumis kucing itu untuk menghadap padanya, "Ini jawabanku." Itachi menyatukan bibirnya dengan bibir Naruto, mencecap setiap rasa yang ada pada bibir itu, mengulumnya bergantian, sebelum memasukan lidahnya kedalam goa hangat Naruto untuk mengajak benda tak bertulang di dalam goa hangat Naruto untuk bertarung.
Keduanya sudah lupa daratan rupanya. Tidak sadarkah mereka kalau mereka masih berada di lingkungan sekolah? Mungkin besok pagi akan ada berita menggembarkan, tentang kemesraan mereka—guru dan murid, sesama lelaki, saling memangut bibir. Kalian berciuman di tempat terbuka, di taman sekolah yang sialnya masih ada murid yang berkeliaran, bahkan beberapa diantara mereka tengah asik menonton kalian—juga mengabadikan momen mesra kalian.
C.I.N.T.A HUH?
The end
