"Bagaimana keadaan adik saya Tsunade-san?" tanya Hinata kepada dokter paruh baya itu tapi wajahnya kelihatan tidak menua sama sekali.

"Saat ini ia baik-baik saja. Hanya saja kita tidak tau entah kapan ia akan sadar. Luka tusukannya sedikit mengenai organ vitalnya. Kemungkinan ia akan sadar dalam waktu yang lama. hanya keajaiban yang bisa membuat ia tersadar dengan cepat. Kita semua hanya bisa berdoa agar ia segera sadar." Jelas dokter berambut pirang itu.

"A-apa kami boleh melihatnya dok?" tanya Hinata terbata-bata.

"Ya, tentu saja silahkan" ujar dokter tersebut sambil pergi.

Hinata membuka pintu kamar inap adiknya, jantungnya berdetak begitu kencang. Bau obat-obatan langsung menusuk indera penciumannya bunyi mesin tanda masih adanya kehidupan disana terdengar begitu nyaring.

'sakit' itulah yang dirasakan Hinata kala melihat adiknya terbaring tak berdaya diatas kasur dengan luka memar ditangan, lengan serta wajahnya yang cantik pun tak luput dari adanya luka memar. Bibir yang selalu merah itu pun kini terlihat sangat pucat dan terdapat luka disudut bibirnya. Tidak tau apa disekujur tubuhnya juga terdapat luka memar. Ia benar-benar marah sekali saat melihat kondisi adiknya yang begitu menyedihkan. Dalam hati ia pasti akan membunuh orang yang telah melakukan hal ini pada adiknya. Tidak akan ia ampuni. Akan ia buat hidup orang itu hancur.

'Tes' air mata hinata menetes dan mengenai tangan hanabi yang ia pegang saat ini

"Hanabi. Maafkan nee-chan. Maaf nee-chan tidak berada disampingmu saat kau membutuhkanku. Kakak macam apa aku ini yang tak bisa melindungi adiknya sendiri. kau juga kenapa kau begitu bodoh hah. kenapa kau begitu keras kepala. Seharusnya kau mendengar perkataanku agar jangan jauh-jauh dari ku. Lihat apa yang sekarang terjadi hah. kau terluka. Seharusnya aku melarangmu saat itu untuk tidak keluar dan tidak menginap. Seharusnya aku menjagamu. Dasar adik bodoh. Bangun lah Hinata. Kakak mohon, bangunlah" ujar Hinata sambil menanggis ia mengenggam tangan lemah itu dengan penuh kelembutan dan kehangatan seolah olah memberi kekuatan pada adik yang disayanginya. Ia benar-benar terpukul. Sementara itu Amaru dan Ryu merasa sangat bersalah dan sedih karena tidak dapat melindungi Hanabi. Kiba hanya menatap sedih melihat adik sepupunya terbaring tak berdaya.

"kakak mohon bangunlah Hanabi. Kau harus segera sadar, bukankah kau masih harus mengapai mimpi-mimpimu itu. kakak mohon sadarlah, Hanabi. Bangunlah" ujar Hinata sambil memejamkan matanya.

'Kumohon kumohon padamu Kamisama jangan kau ambil Hanabi dari kami. Tolong selamatkan dia. Selamatkan adikku Kamisama. Aku tak ingin ia ikut pergi juga. Kumohon padamu , kumohon biarkan ia hidup. aku tidak akan membiarkan hal ini terulang lagi. takkan kubiarkan orang-orang yang kusayangi terluka dan pergi lagi, tidak akan kubiarkan!. Kumohon segera sadarlah, Hanabi' batin Hinata penuh harap dengan tulus. Air matanya masih mengalir. Dan tiba-tiba saja Hinata membuka matanya dan segera menghapus air matanya. Ia melihat kearah Amaru dan Ryu.

"Kalian berdua, pulanglah. Dan segera bersihkan diri kalian. Lihat baju kalian masih penuh dengan noda darah." Ujar Hinata dengan suara yang serak.

"Tidak. Kami akan menjaga Hanabi-chan. Kami akan menemaninya" ujar Amaru

"Aku dan Kiba akan menjaganya, sekarang kalian pulang dan beristirahatlah. Hanabi biar kami yang menemaninya. Kalian bisa datang kemari lagi jika kalian mau, kalian sudah terlihat begitu kelelahan. Jika Hanabi melihatnya ia juga pasti sudah menyuruh kalian untuk pulang dan beristirahat. Kalian sudah melakukan yang terbaik untuknya. Ia pasti akan sangat sedih jika melihat kalian yang seperti ini. " ujar Hinata dengan lembut.

"baiklah. Kami pulang. Nanti kami akan kembali lagi" ujar Ryu

"kami pamit" ujar Amaru dan Ryu mengundurkan diri. Kini hanya tinggal Hinata dan juga Kiba.

"Hinata" panggil Kiba khawatir.

"Kiba, kau sudah memerintahkan mereka untuk mencari tahu apa yang terjadi pada Hanabi. Cari tau setiap CCTV " ujar Hinata datar.

"hm. Sudah Kukirimkan pesan pada mereka." Ujar Kiba

"Dan juga perintahkan beberapa anak buah untuk menjaga Hanabi. Pasangkan juga cctv dikamar ini. dan pastikan hanya Tsunade-san saja yang memeriksanya. jangan biarkan orang asing untuk masuk kekamar ini. dan jangan lupa untuk memeriksa siapa saja orang-orang yang dekat dengannya. Untuk urusan pacarnya biar aku yang urus bocah itu. dan kita harus merahasiakan keadaan Hanabi sekarang" perintah Hinata mutlak.

"Baik. Aku mengerti" ujar Kiba yang langsung menjalankan perintah Hinata. ia sangat paham betul saat ini sepupunya dalam mode berbahaya.

"Akan kubuat hidup orang-orang itu hancur yang telah membuat Hanabi seperti ini. takkan kuampuni." Ujar Hinata berbahaya.

Bersambung...

_review_