.
.
"The Magic School – My Lovely, Scarlet"
Fairy Tail Fanfiction
By Karura-Clarera
...
Disclaimer: Fairy Tail adalah milik Mashima Hiro-sama
Rated: T
Genre: Romance, Supernatural, Friendship, Action
Pairing: Jellal X Erza
Warning: AU, OOC, ceritanya panjang, alurnya ga tentu, cerita supra-imajinasi, typo
.
A/N:
Akhirnya update chap 4! Menurut Karu chap ini agak sedikit flat, tapi semoga tidak bosan yaa! Hehe. Okeydeh, HAPPY READING! ^^
Satu minggu lagi..
Itulah waktu yang tersisa bagi Jellal untuk menanti kedatangan Siegrain. Ah, kalau dipikir tinggal seminggu kurang. Ini sudah hari Senin dan Jellal belum memikirkan kata-kata tepat yang akan ia lontarkan pada ayahnya.
CTUK!
Sebuah spidol papan tulis mendarat di kening Jellal hingga pria itu meringis pelan tanpa sadar. Satu kelas pun menertawainya.
"Jellal! Beraninya, ya, kamu melamun di pelajaran saya!" seru Ur-sensei dengan wajah murka seraya berkacak pinggang. Yah, orang itu memang sangat tidak suka diacuhkan.
Jellal terdiam. Ia membungkuk untuk mengucapkan maaf kemudian mengembalikan spidol yang terjatuh di lantai. Ur hanya mendengus dengan pose lipatan tangan di dadanya itu. Jellal kembali duduk dengan murung.
"Baiklah, sensei lanjutkan. Sihir pembentukan itu, tidak hanya sihir yang mengutamakan kekuatan melainkan kebebasan. Jadi sangat diperlukan imajinasi kalian..." lanjut Ur yang menjelaskan tentang sihir pembentukan itu. Jellal pura-pura mendengarkan padahal sebenarnya pikirannya sedang melayang di awang-awang.
Erza yang sibuk mencatat segala hal penting dalam penjelasan Ur itu menatap Jellal dengan heran.
TING TONG TING TONG!
Bunyi bel pulang sekolah pun akhirnya berdenting. Membuat seluruh murid berpekik senang.
"Jangan lupa kerjakan PR-nya, ya!" tegas Ur seraya berlalu keluar kelas.
"Baik, sensei!" sahut kelas dengan hormat.
Erza dan yang lain segera mengepak barang mereka dalam tas lalu beranjak kembali ke asrama. Erza memperhatikan Jellal lagi dengan cemas, pria berambut biru tersebut membereskan barang-barangnya dengan wajah murung. 'Ada apa dengan pria itu?' batin Erza.
Erza juga melihat teman-teman Jellal yang biasanya – Gray, Loke, Natsu, Gajeel – menghampirinya dan seperti membicarakan sesuatu. Sekilas Erza melihat Natsu berbisik sesuatu pada Jellal kemudian jingkrak-jingkrak sendiri. Erza menebak mereka sedang membicarakan konser Sabtu kemarin, mungkin. Kemudian mereka berlima pun berjalan keluar kelas dengan beriringan.
"Kami kembali duluan, Akaishi!" seru Hibiki yang melambaikan tangan bersama Eve dan Ren sambil pergi itu. Yah, orang itu memang selalu ramah kepadda Erza.
"Ya, hati-hati." Sahut Erza singkat. Ia pun memutuskan untuk meninggalkan kelas yang sudah kosong. Rencananya ia ingin mampir ke supermarket dulu dan membeli beberapa makanan ringan, ah tapi entah kenapa jadi malas. Ia pun membatalkan niatnya dan memutuskan untuk kembali ke asrama.
Sesampai di kamar, Erza sedikit heran mendapati Jellal yang sedang merenung di meja belajar masih dengan seragam lengkapnya. "Ada apa?" tanya Erza dengan alis terangkat.
"Oh, Akaishi.." balasnya pelan kemudian Jellal kembali menunduk. Beberapa saat ia kembali mendongak, "omong-omong kau tidak mengusirku?" tanyanya dengan suara aneh.
"Mengusirmu? Kenapa?" sahut Erza berbalik tanya.
Jellal mengangkat bahu singkat. "Aku telah merepotkanmu Sabtu kemarin, bukan? Kau tidak mengusirku?" tanyanya lagi.
Sang Scarlet itu baru mengerti maksudnya. Ia pun menepuk keningnya. "Tidak merepotkan sama sekali. Anggap saja itu sebagai permintaan maafku karena selalu ketus padamu." Sahutnya datar.
"Apa?" Jellal mendongak bingung.
"Ahh, tidak jadi. Abaikan saja." Erza mengibaskan tangannya di udara kemudian berbalik dan hendak ke dapur untuk minum. Jellal tersenyum ia membuntuti Akaishi kemudian. "kenapa membuntutiku?" protes Erza begitu menoleh pada Jellal yang di belakangnya.
"Hei, Akaishi.." ujar Jellal yang dibalas apa oleh Akaishi. "sebenarnya kenapa kau memilih sekolah di Fairy Tail?" tanya Jellal tiba-tiba.
Mendengar pertanyaan aneh tersebut, Erza menoleh pada Jellal dengan kening berkerut. "Kenapa pertanyaanmu aneh?"
"Jawab saja."
Erza berpikir sejenak. Ia menatap langit-langit dengan pose berpikir. Yah, sebenarnya ia memilih Fairy Tail sebab yang ia tahu Fairy Tail itu memiliki pengajar yang berbakat. Sebenarnya ia begitu mengagum-agumkan kekuatan Gildarts-sensei. "Yah, aku hanya dengar kalau Fairy Tail penyihirnya sangat berbakat dan tidak hanya mengajarkan kekuatan untuk bertarung saja." Terangnya.
"Apa kau yakin akan menjadi Double-S Class dengan bersekolah di Fairy Tail ini?" tanya Jellal lagi. "kau tentu tahu, kan, setiap satu tahun sekali Dewan Sihir hanya mengangkat 3 orang sebagai penyihir kelas SS." Tambahnya.
Yah, Erza tidak terlalu optimis sih. Terlebih masih banyak sekolah sihir hebat selain Special High School dan Fairy Tail. "Ya, selama aku tidak melupakan tujuanku dan terus berusaha kurasa tidak ada salahnya untuk yakin." Sahut Erza dengan mengulum senyum. "aku hanya percaya, suatu hari aku akan bertemu aniki dengan menyandang gelar Double-S Class." Tambahnya penuh percaya diri.
Jellal sedikit tercengang mendengar ungkapan Erza. Terdengar dalam dan percaya diri. Jujur, selama ini Jellal bahkan tidak tahu apa tujuannya menjadi penyihir. Awalnya ia berpikir, menjadi penyihir biasa, masuk guild, menjalankan misi dan mengumpulkan uang.
"Memang ada apa?" tanya Erza penasaran.
"Ah, tidak ada apa-apa." Balas Jellal menutupi. Erza menggendikkan bahu kemudian mengambil mug dan mengisinya dengan air dingin dari dalam kulkas.
Pemuda berambut biru itu beranjak dari tempatnya. Matanya tertuju pada karpet coklat yang menutupi lantai kamar ini.
'Untuk meyakinkan ayah, aku harus memiliki tujuan yang jelas. Aku harus meyakinkannya kalau aku benar-benar akan menjadi penyihir kelas SS. Bagaimanapun, aku tidak ingin meninggalkan Fairy Tail..' Pikir Jellal.
CHAPTER 4
Siegrain's Son Arc
Part 1
PERASAAN JELLAL
"Terima kasih bukunya, Akai-kun!" ujar Hibiki yang berdiri di ambang pintu kamarnya seraya mengulurkan beberapa buku catatan pada Erza.
Erza menerima buku-buku itu dengan tersenyum ramah. "Hn, sama-sama, Hibi. Ayo, masuk dulu saja!" ajak Erza seraya membuka pintu kamarnya. Menyilakan Hibiki.
Hibiki pun mengangguk dan mengikuti Erza yang masuk ke kamar itu. "Halo, selamat sore, Jellal-kun!" sapa Hibiki begitu melihat Jellal yang sedang makan apel sambil membaca buku di atas kasur itu. Jellal hanya mendelik dengan datar lalu mengangkat tangannya.
Erza menyilakan Hibiki duduk di atas sofa depan televisi.
"Omong-omong, Akai-kun, aku mengoreksi tulisanmu yang salah di catatan yang aku pinjam. Maaf, ya, aku lancang.." kata Hibiki yang tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ah, bukan masalah. Justru seharusnya aku berterimakasih." Balas Erza tertawa kecil. Kemudian Erza menyodorkan piring berisi apel di atasnya pada Hibiki. Pria berambut pirang gelap itu mengambil salah satu apel merah dan mengucapkan terima kasih. "bagaimana dengan pemotretanmu, Hibi?" tanya Erza kemudian.
"Yah, berjalan mulus, sih. Tapi kau tahu tidak, masa hasil jepretan kemarin itu tidak jadi dipublikasikan." Sahut Hibiki yang memulai ceritanya itu. Beginilah Hibiki, sok akrab, sok dekat dan bawel entah kenapa. Pikir Jellal yang panas entah kenapa itu. Lagipula sejak awal Jellal sudah tidak menyukai pria itu dan sering menganggapnya sebagai rival.
Erza memiringkan kepala, "Heh, kenapa?" tanyanya.
"Katanya tema foto itu tidak cocok dengan tema bulan ini. Ah, sial, padahal aku sudah menguras tenagaku untuk pemotretan itu." lanjut Hibiki sambil menghela napas kesal.
Jellal yang sedari tadi terdiam di atas kasur itu akhirnya merasa terganggu. Ia tidak bisa berkonsentrasi membaca buku, melihat kedekatan tiba-tiba antara Hibiki dan Akaishi. Herannya kenapa Jellal merasa panas dan cemburu, ya..?
Pria biru itu menutup bukunya dengan sebelah tangan hingga suara cukup keras terdengar sampai telinga Hibiki dan Erza. Kedua orang di sofa sempat menoleh pada Jellal. Kemudian Jellal berdiri dan menghampiri Erza yang sedang bersama tamu tak diharapkan itu.
"Sudah selesai membaca bukunya, tuan muda?" tanya Hibiki dengan mengulum senyum. Hah, pemuda itu memang selalu tersenyum untuk tebar pesona.
"Hentikan senyuman genitmu itu!" cetus Jellal yang langsung membuat Erza berkedip dua kali karena heran. "sejak kapan kau dekat dengan Akaishi?" tanya Jellal setelah berdeham.
"Kau lupa? Aku sering meminjam buku catatan Akaishi jika aku tidak masuk sekolah." Terang Hibiki dengan tenang. Bagaimanapun ia tidak bisa mengikuti perintah Jellal yang menyuruhnya untuk berhenti tersenyum.
Jellal mengerutkan dahinya lalu menatap Erza yang malah memiringkan kepalanya itu. "Apa?" tanya Jellal begitu melihat Erza.
Erza melipat kedua tangannya di dada, "Sejak kapan kau peduli, Jellal?" tanyanya menyelidik. Hibiki jadi ikut mengangguk-angguk, seolah kedua orang tersebut memang sudah berkomplot.
Kali ini Jellal jadi tertawa hambar. Benar juga, mengapa ia jadi peduli, ya. "Tentu saja karena ia masuk ke kamar kita begitu saja, Akaishi." Sahut Jellal yang sudah mentok.
"Heh, kau baru pindah, kan? Mungkin karena itulah kau baru mengetahuinya." Ucap Hibiki dengan enteng. "sudahlah, daripada kemarahan tuan Fernandes jadi memuncak, lebih baik aku kembali ke kamarku. Sampai jumpa, Akai-kun!" sambungnya sambil melambaikan tangan. Erza balas melambaikan tangan pada Hibiki yang sudah keluar dan kembali menutup pintu itu.
Setelah kamar itu hening, Erza dan Jellal saling bertatapan tanpa maksud tertentu. Tapi Jellal kemudian merasa jantungnya berdegup kencang dan memalingkan wajahnya. Lalu ia meninggalkan Erza dan memilih untuk berbaring di atas kasurnya lagi.
Erza hanya menggendikkan bahu dan berlalu ke ruang belajar untuk mengasah pedang-pedangnya.
'Gila. Pasti aku sudah gila. Kenapa malah berdegup aneh hanya dengan melihat mata pria itu, Jellal?! Hah, bodohnya aku karena bertingkah aneh seperti ini!' batin Jellal yang bolak-balik di atas tempat tidur karena tidak tenang. Ia menghela napas pelan.
Tangannya sebelah menopang kepala dan sebelahnya meraih ponsel yang tergeletak di atas meja sebelah tempat tidur. 'Kalau seperti ini terus-terusan.. ah tidak-tidak..' batinnya tidak tenang.
Jellal mulai chat dengan Gray.
'Ada apa, Jellal?' balas Gray via chat itu.
'Gray, aku butuh pendapatmu. Perasaan apa jika jantungmu selalu berdetak cepat begitu melihat seseorang. Selain itu wajahmu kadang juga memerah hanya dengan mengingat kenangan yang pernah kau lakukan bersama orang itu.' ketik Jellal dengan cepat yang langsung di-read oleh Gray.
'Itu pasti sakit jantung.' Sahut si Gray yang langsung membuat Jellal mendecih. Kenapa sih pria mesum ini tidak pernah serius! Setelah itu ada kiriman lagi dari Gray. 'Baka! Itu cinta, baka! Cinta! LOVE...! – Loke' sambung si teman sekamar Gray alias Loke itu.
Jellal sempat terdiam menatap layar ponselnya.
Cinta..
Jellal menggeleng cepat dan memutuskan untuk mematikan ponselnya saja. Hah daripada mulai pusing deh. Jellal menyentuh tengkuknya yang tidak pegal. 'tapi kalau perasaanku pada Akaishi itu benar-benar cinta bagaimana...?' pikir Jellal kalut. Beberapa saat kemudian ia mengacak rambutnya dengan brutal.
Kini tubuhnya terlentang sempurna dengan kedua mata menatap lurus langit-langit putih. Membuang napas berat yang ditahannya sejak tadi. "Kukira.. aku hanya akan mencintai gadis itu.." gumam Jellal.
Di tengah-tengah pikirannya, malah terbesit kejadian Sabtu malam saat ia menonton video klip bersama Akaishi dan juga saat ia mencengkeram tangan temannya itu. Rasanya berbeda. Sungguh berbeda. Kenapa ia begitu ingin ditemani Akaishi saat itu? Bagaimana ia bisa meluapkan kisah masa lalu kelamnya pada Akaishi? Padahal keempat temannya tidak pernah tahu tentang semua itu..
Jellal menghirup napas dalam-dalam dan membuangnya secara cepat. "Hanya ada satu cara untuk memastikannya.." ungkap Jellal pada diri sendiri. Ia pun meraih ponselnya lagi dan mengirimkan sebuah pesan pada Gray.
.
.
Hari Selasa, Jellal berniat untuk kencan dengan seorang gadis yang dikenalkan Gray. Baginya, inilah satu-satunya jalan untuk membuktikan perasaan yang sebenarnya.
Pukul tiga sore, Jellal menunggu di taman Fiore dan menanti kedatangan Meredy sang teman kencannya hari ini.
"Jellal-san!" sapa Meredy dari kejauhan. Gadis berambut ikal itu berlari kecil pada Jellal dengan wajah berseri-seri.
Jellal melambaikan tangan dengan sebuah senyum dipaksakan. "Hai, salam kenal, Meredy..?"
"Panggil saja Meredy, Jellal-san!" sahut Meredy dengan nada bersemangat. Jellal mengangguk-angguk.
"dan kau panggil saja aku Jellal." sambung Jellal dengan nada datar. Meredy malah terlihat kegirangan dan mengangguk keras. "baiklah, ayo kita mulai ke bioskop, nanti keburu malam."
Mereka berdua akhirnya berjalan bersama ke bioskop. Yah, kencan pertama diisi dengan menonton di bioskop. Jellal memasukkan tangannya di saku celana berbeda dengan Meredy yang langsung menyambar tangan Jellal untuk ia peluk layaknya ia benar-benar kekasih dari pria berambut biru itu.
'Jelas-jelas dia wanita dan ia begitu dekat denganku.. tapi kenapa jantungku tidak berdegup dua kali lebih cepat...' batin Jellal di tengah perjalanannya.
.
.
DUAK!
Erza aka Akaishi itu menendang lengan Gray dengan keras. Disusul dengan pukulan yang tak terduga hingga mengenai kening Gray. Pria es itu pun terjungkal ke belakang meski tidak sampai jatuh. Gray pun kembali memasang kuda-kudanya dan langsung melayangkan tinjunya tepat ke wajah Akaishi, sayang si rambut merah itu menghindar dengan gerakan lincah.
Si rambut merah itu berkali-kali menghindar dari pukulan Gray, begitu Gray berputar dan hendak mengubah ritme pukulannya, Erza merunduk lalu meloncat diagonal dan mendarat dengan pukulan sikut untuk tengkuk Gray.
Gray terhuyung karena merasa tidak seimbang. Ia menyentuh tengkuknya dan kembali bersiaga untuk serangan Akaishi selanjutnya. Ia melemparkan hujaman pedang es-nya pada Erza yang dapat dihindari oleh gadis itu, meski sebuah pedang es sempat membeset pipi kanannya hingga mengeluarkan beberapa tetes darah.
"Ahay!" Gray mulai bersorak senang. Dengan percaya diri ia menyerang Erza dengan pedang es-nya.
SLANG!
Erza pun mengeluarkan pedangnya dengan jurus sihirnya. Mengadu pedang kilatnya berkali-kali dengan pedang beku milik Gray.
Stamina Gray memang tidak sebesar Akaishi, sebab Akaishi memang yang paling giat berlatih dan juga olah raga. Gray mulai ngos-ngosan terlebih Erza mulai menyerangnya dengan brutal seperti ini, Gray pun mulai kewalahan.
SLANG!
Pedang es milik Gray pun akhirnya terbelah menjadi dua. Dengan gesit Erza menyeruduk Gray hingga ke dinding dan menekan pucuk kepala pria itu sampai akhirnya tersungkur ke kakinya.
"Gray, KO!" pekik Natsu yang bertindak sebagai wasit saat ini. Gray menyeruak kesal. Ia berteriak tidak terima.
"Kau memang harus berlatih lebih keras, Gray. Sebelum kau benar-benar mati di tangan Akaishi." Gurau Loke yang membuat Gray langsung melepas kacamata Loke itu dan melemparnya entah kemana.
Erza menghilangkan pedangnya dengan kekuatan sihir dan minum minuman yang disodorkan oleh Natsu. "Terima kasih." Ucap Erza dengan datar.
"Yah, Akaishi memang selalu kuat. Coba ada Jellal, ya. Pasti ia juga akan bertanding denganmu." Ujar Gajeel dari belakang Natsu. Ia memamerkan barisan giginya sambil terkekeh.
"Heh, kemana memangnya Jellal?" tanya Loke setelah memakai kacamatanya lagi setelah mencarinya susah payah.
Natsu menyeringai. "Itu loh, akhirnya Jellal kencan!" ucapnya sambil ikutan terkekeh seperti Gajeel.
"Kencan?" tanya Loke lagi belum mengerti.
"Benar, ia kencan dengan Meredy hari ini." tambah Gray seraya berdiri dan menyambar bajunya itu. Benar, ia tidak memakai pakaian selama bertarung tadi. *sudah biasa*
"Heh, kok aku tidak tahu?!" ucap Loke sambil berkedip dua kali.
Gray mendengus. "Itu karena kau kemarin ketiduran dan mendengkur begitu saja!" cetus Gray dengan nada mengejek. Loke hanya terkekeh pelan. Yah, Loke memang tidak mudah emosi. Erza sempat menunduk karena merasa kesepian tidak ada Jellal.
"Hoi, Akaishi, mungkin aku kalah kali ini tapi tidak untuk ke depannya!" seru Gray dengan serius kemudian.
Erza menyipitkan mata pada Gray, "Hah, jangan percaya diri dulu, mesum!" balas Erza dengan nada mengejek. Gray sempat kesal tapi pada akhirnya ia tertawa. "bertanding seperti ini tidak ada salahnya. Terima kasih telah mengajakku." Ucap Erza dengan tersenyum kecil.
Si keempat orang heboh itu malah terkejut melihat senyum Erza. "Wuaah, baru kali ini aku melihat kau tersenyum!" cetus Natsu dengan suara keras hingga menggema ke seluruh ruang latihan ini. Kemudian mereka bertiga tepuk tangan hingga membuat Erza malu.
"Hentikan!" Erza menjitak kepala empat orang itu berurutan. Mereka pun berhenti menggoda si rambut merah itu.
Seusai latih tanding, mereka berjalan ke kedai es krim. Kali ini Gray yang membayar, sebab ia yang kalah. Begitulah mekanismenya, siapa yang kalah maka yang akan menraktir semua orang yang berpartisipasi dalam latih tanding mereka. Jadi Gray deh.
Natsu dan Gajeel memesan es krim coklat dengan topping walnut, meski berulang kali Natsu protes karena sangat dingin. Ya iyalah, namanya juga es krim. Loke memesan rasa Bubble Gum, Gray memesan rasa Mocachoco, dan Erza memesan rasa Strawberry Blueberry.
"Hah, langka juga ya, makan bersama Akaishi!" cetus Loke dengan tertawa kecil. Sebenarnya ia merasakan kebahagiaan sendiri akhirnya bisa berteman dengan Akaishi. Ternyata benar kata Jellal, Akaishi tidak seburuk yang kita ketahui, pikir Loke.
"Aku juga merasa langka makan bersama kalian." Balas Erza singkat. Kemudian ia memakan es krimnya itu dengan perlahan.
"Memang kau biasa makan bersama Jellal?" tanya Gajeel yang menjilat-jilat es krim cone-nya itu.
Erza mengangguk pelan. "Benar. Setiap pagi kami selalu makan bersama, ah terkadang makan sore juga." Terang Erza sambil menyuapi mulutnya dengan sendok kecil es krim.
Keempat orang di hadapannya itu sedikit terkejut. Mereka baru mendengar, yah Jellal jarang cerita juga sih. "Benarkah?! Jangan bilang kau yang memasaknya?" tanya Gray sekaligus.
Erza mengangguk. Mereka makin terkejut dan saling bertatapan satu sama lain.
"Wah, kalau Jellal diam dan tidak bercerita hal seperti ini berarti ia merasa nyaman dengan semua itu tuh." bisik Natsu dengan sebuah seringaian. Kini keempatnya itu sudah saling mendekat agar pembicaraan mereka tidak terdengar oleh Erza.
"Kau benar." Sambung Loke. Erza tidak peduli pada pembicaraan rahasia keempat orang yang baginya memang sedikit aneh itu.
"Hm, Akaishi. Besok kita makan sore di kamarmu apakah boleh?" pinta Natsu dengan senyuman lebar.
Erza memiringkan kepalanya. Tumben ada orang tertarik untuk makan bersamanya. "Kenapa?" tanyanya dengan heran.
"Kami penasaran dengan masakanmu." Terang Gajeel apa adanya. Yah memang sih, selain ingin membuat Jellal terkaget-kaget mereka juga ingin mencicipi masakan Akaishi itu.
Sepintas Erza memutar matanya seolah berpikir lalu mengangkat bahunya. "Ya, terserah kalian saja." Sahut Erza datar, kemudian ia kembali memakan es krimnya. Natsu dan Gajeel langsung tertawa senang. Gray dan Loke pun menyeringai satu sama lain. Yah, Erza tidak peduli.
"Hm, omong-omong, Akaishi.." ucap Gray tiba-tiba, "apa lenganmu benar-benar tidak apa-apa?" tanyanya dengan cemas.
Erza segera menggeleng, "Tidak perlu khawatir, baka! Tidak parah kok lukanya." Ucap Erza sembari memegangi lengan kanannya yang terbalut saputangan untuk menahan pendarahannya.
"Hm, kalau butuh bantuan untuk mengobatinya, bilang saja padaku." Tukas Gray. Erza hanya mengangguk membalas penawaran Gray itu.
Setelah memakan es krim, mereka pun kembali ke kamar masing-masing. Di persimpangan Erza melambaikan tangan pada yang lain karena arah kamar mereka berbeda. Erza membuka kamarnya lalu masuk dengan melepas sepatunya dan menaruhnya di rak. Jellal belum datang, itulah kesimpulannya setelah mengetahui sepatu Jellal tidak ada di rak itu.
Kemudian Erza menuju kamar mandi dan segera membasuh tubuhnya dengan air hangat. Seusai mandi ia duduk di sofa dan melihat luka di lengannya. Luka yang sebenarnya cukup dalam dan menyakitkan. Ia memang sempat tersayat oleh pedang es-nya Gray, yah, mau bagaimana lagi, namanya juga bertarung.
Erza mengobati lukanya dan setelah selesai ia beranjak ke dapur untuk meminum jus jeruk. Ia sempat menatap jam di dinding dekat dapur itu, pukul 07.05 PM, dan Jellal belum pulang. Erza menghela napas karena merasa kesepian. Hanya bunyi jarum jam itu dan suara penghangat ruangan yang terdengar, membuat Erza benar-benar merasa kesunyian pekat. "Sial, padahal dulu aku selalu merasakan hal seperti ini." gerutunya.
Ia memutuskan untuk ke rak bukunya dan mengambil buku novel yang belum ia baca. Sialnya ia menaruh novel tersebut di baris paling atas dan berada di antara buku-buku tebal, setebal kamus dan buku-buku kuno.
Gadis itu berjinjit dan susah payah untuk menarik novel tersebut. Begitu ia berhasil menarik novel itu, Erza tersenyum senang, namun tangannya merasa sedikit nyeri akibat luka di lengannya dan malah tak sengaja menyibak beberapa buku tebal di sebelahnya hingga buku-buku tebal itu berjatuhan.
"Aww!" rintih Erza berkali-kali. Buku-buku itu mengenai kepala dan lengannya yang terluka. Ia pun terjungkal ke lantai dan menyentuh dahinya yang sakit serta lengannya yang malah kembali berdarah. "sial.." gerutu Erza pelan. Gadis itu berusaha bangkit dengan susah payah. Menahan rasa sakitnya.
"Akaishi?!" suara yang ia kenal tiba-tiba terdengar, Erza sempat menoleh pada Jellal yang sudah berdiang di sebelah rak buku dengan wajah cemasnya itu. Begitu Jellal menyadari lengan Akaishi yang berdarah, Jellal malah panik, "kau kenapa, Akaishi?!" pekiknya dengan mata membulat. Ia segera menghampiri Erza dan melihat lengan kanannya.
.
.
Setelah membereskan buku-buku yang berjatuhan, Erza dipaksa Jellal untuk duduk dan diam di sofa depan televisi. Erza hanya pasrah. Jellal datang dengan membawa kotak obat dan mulai menyembuhkan luka di dahi Erza dengan alkohol.
"Perih!" rintih Erza begitu Jellal menempelkan kapas beralkohol itu di lukanya.
"Tahan, baka!" balas Jellal dengan nada tinggi seolah marah. Erza memberengut, tapi kemudian ia tersenyum mengingat Jellal akhirnya datang dan kamarnya tidak sepi lagi. "kenapa bisa luka hanya dengan buku tebal itu? Tidak masuk akal!" komen Jellal yang kemudian memplester dahi Erza itu.
Erza mendengus. "Minggir, aku bisa mengobatinya sendiri!" usir Erza tapi tidak diindahkan Jellal. Erza tahu Jellal berniat membalas budi untuk Erza yang telah merawat pemuda berambut biru itu saat demam.
"Bagaimana kencanmu? Kukira kau akan pulang lebih larut." Tanya Erza memecah keheningan.
"Biasa saja. Aku merasa bosan, jadi setelah menonton film kami langsung pulang saja." Terang Jellal yang fokus menempelkan plester di dahi Erza. Setelah plester itu sudah tertempel, Jellal malah tak sengaja menatap kedua bola mata coklat milik Erza yang membuatnya salah tingkah dan langsung beranjak mengobati luka di lengan Erza.
"Oh, ya? Sayang sekali. Memang kau tidak menyukai gadis itu?" tanya Erza lagi dengan menyeringai tanda menggoda Jellal.
Jellal mendengus. "Tidak mungkin aku menyukai gadis secepat itu." balas Jellal apa adanya.
Erza berdecak lidah. "Jadi Jellal pernah menyukai seorang gadis, nih?" gurau Erza lagi dengan sebelah alis terangkat.
Usai selesai memerban lengan Erza, Jellal menghela napas lalu memalingkan wajah. "Tentu saja ada. Hanya dia yang kuanggap sebagai wanita semasa hidupku dan sebenarnya aku berharap gadis itu yang berkencan denganku." Terang Jellal yang kemudian melipat kakinya ke atas itu.
"Hmm, rumit juga, ya..." gumam Erza sambil menaruh jarinya di bawah dagu.
"Sebenarnya aku pernah bertemu dengan gadis itu dan aku mungkin jatuh cinta pada pandangan pertama.." cerita Jellal yang didengar Erza dengan penuh minat. "ia pernah mengambilkan topiku yang terbang oleh hembusan angin saat musim dingin. Ia tersenyum padaku dan begitu hangat di hatiku.." terukir senyum malu di wajah Jellal. Melihat senyum itu, Erza cekikikan pelan.
"Lalu?" tanya Erza penasaran.
Jellal menatap kosong ke udara depannya. "Kedua kalinya, aku melihatnya di majalah. Meski aku tidak tahu nama gadis itu pada awalnya, tapi aku sangat mengingat wajah dan senyuman gadis itu." terang Jellal lagi.
Mendengar penjelasan Jellal barusan, Erza sedikit tertegun. Jantungnya berderap kencang tiba-tiba. "Hoh, be-benarkah... Siapa nama gadis itu?" tanya Erza berusaha bersikap biasa.
Jellal tidak langsung menjawab, melainkan menatap kedua mata beriris coklat itu dalam-dalam dengan sebuah senyum terukir perlahan, "Erza.." ucap Jellal dengan mantap. "Erza Dreyar." Hal itulah yang membuat Erza terpekik kaget dalam hati, ia sempat memalingkan wajahnya untuk mengenyahkan degup jantungnya yang begitu kencang sampai-sampai jantungnya terasa mau copot.
'Perasaan apa ini...' pikir Erza dengan menggigit bibir bawahnya.
CHAPTER 4 END!
Naah, demikianlah chapter 4! Semoga tidak bosan ya! Hehe. Terima kasih sudah membaca The Magic School! ^^
BALASAN REVIEW CHAPTER 3
Titania Princess = Sudah dilanjut, ya! Terima kasih sudah review! ^^
Tamiino = Baguslah kalau semakin manis. Semoga tetap suka fic ini sampai akhir ya.. Hehe, terima kasih sudah review! ^^
NlorenZo = Benarkah makin mantep? Hehe, aminn deh kalo makin mantep. Hehe. Sudah diupdate loh, maaf kalau kecewa dengan endingnya. Hehe, makasih sudah review! ^^
Ailasca-chan = Sudah dicontinue, ya! Semoga suka dengan fic ini sampai akhir! Hehe, makasih udah review! ^^
Syivha (Guest) = Sudah diupdate, loh! Hehe, makasih ya udah review! ^^
Okeylah, besok Karu akan update lagi berhubung Karu akan hiatus sampai pertengahan Maret atau lebih. Terima kasih atas perhatiannya!
Jaa nee~
