Pieces of Us and All in Between

Genre: fluff, a tiny bit of hurt/comfort

Warning: blatant mpreg

Me, You, and Insecurities

Jam 7.30 pagi di hari Sabtu, Siwon menatap layar ponselnya tidak percaya. Baru saja ia mendapat panggilan dari Leeteuk dan pesan singkat dari Donghae yang menyuruhnya untuk berangkat ke kantor pagi ini juga karena tamu asing yang sudah dijadwalkan datang akan berkunjung lebih awal. Siwon memijit kepalanya kemudian bangkit dari posisi tidurnya dengan mata setengah terpejam dan hidung sedikit meler. Cuaca benar-benar sedang tidak bersahabat, bahkan untuk ukuran Korea yang memang dingin. Mungkin itu juga alasan jadwal dimajukan, setidaknya tamu-tamu dari Jerman tersebut punya waktu istirahat dan jalan-jalan lebih lama di sini.

Setelah mengirim pesan singkat kepada sepupunya, Siwon melangkahkan kakinya ke balkon kamar untuk mengambil handuk dan bersiap mandi. Resiko menjadi pebisnis adalah jadwal yang tidak menentu, sekretarisnya sudah berusaha semaksimal mungkin mengatur jadwalnya agar tidak berubah-ubah, tapi tetap saja hal-hal semacam ini pasti terjadi.

Siwon mendekati sisi ranjang Kyuhyun, memandangi wajahnya yang masih lelap tertidur. Diurungkan niat awalnya untuk membangunkan Kyuhyun ketika melihat kantung mata yang masih kentara, tidur malam selama tujuh jam tidak cukup untuk menggantikan energinya yang terkuras membawa beban lebih. Tujuh jam yang tidak mulus, karena setiap beberapa jam ia akan terbangun mengeluh punggungnya sakit, bayinya menendang, atau hasrat untuk buang air kecil yang tidak bisa ditahan.

Kehamilannya mendekati bulan ke delapan, mereka tidak pernah menghadapi kendala selama prosesnya kecuali morning sickness sampai pertengahan trimester kedua, dan baru akhir-akhir ini saja Kyuhyun banyak mengeluh. Kata dokter itu hal wajar, bayinya ternyata lumayan besar dan sangat sehat, jadi tendangannya cukup kuat untuk membuat Kyuhyun menarik napas panjang menahan ngilu. Siwon sempat bingung karena perut Kyuhyun terlihat lebih besar dibandingkan dengan orang lain di bulan yang sama, berpikir mungkin dokter salah lihat dan bayinya kembar, tapi ternyata memang bayinya gemuk.

Siwon selalu tersenyum lebar jika mengingat check up minggu kemarin dengan dokter Kang. Jarang sekali ia bisa mengantar Kyuhyun untuk pemeriksaan rutin karena jadwal yang padat, dan kesempatan kemarin ia manfaatkan dengan baik untuk bertanya berbagai macam hal. Siwon bahagia melihat perkembangan anaknya dari layar USG, sangat bahagia hingga tubuhnya bergetar karena terharu. Sedangkan di saat yang bersamaan Kyuhyun hanya bisa membulatkan mata saat dokter Kang menjelaskan posisi dan ukuran bayinya, pantas saja perutnya sebesar ini. Mereka berdua hampir menangis ketika suara detak jantung calon putra mereka yang terdengar lebih kuat dibandingkan beberapa minggu sebelumnya memenuhi ruang pemeriksaan.

Suara getaran ponsel di atas meja menyadarkan Siwon dari lamunannya. Setelah puas memandangi wajah Kyuhyun, Siwon beringsut ke kamar mandi setelah sebelumnya menyiapkan pakaian yang akan ia kenakan di atas kasur. Ia mandi dengan tergesa-gesa, buru-buru mengenakan pakaian dan mengambil laptopnya di meja nakas. Beberapa detik kemudian suara panggilan pelan terdengar dari luar pintu kamarnya.

"Siwon-ah," sepupunya, Donghae berbisik di balik pintu.

"Buka saja pintunya, Hae," balasnya seraya membenarkan lengan baju yang tertekuk.

Pintu kamarnya terbuka sedikit, menampakan kepala Donghae yang menyembul dan mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar hingga menangkap sosok Siwon yang sedang berdiri di depan kaca. "Sudah siap?"

"Sudah, langsung ke mobil saja, Hae. Lima menit lagi aku menyusul. Bawa laptopku," Siwon menyerahkan macbooknya pada Donghae.

"Mau apa? Jangan macam-macam dengan Kyu, Siwon-ah,"

Siwon memutar bola matanya menanggapi lelucon Donghae yang tidak lucu. Setelah kepala sepupunya hilang dari balik pintu, Siwon menaiki ranjang, bertumpu pada lengan kanannya sambil menghadap Kyuhyun yang masih bergelung di dalam selimut. Merapikan anak rambut yang menutupi kening Kyuhyun kemudian mengecupnya lembut.

"Kyuhyun," ujarnya pelan.

Kyuhyun mengerang saat merasakan hembusan napas di depan wajahnya. Wajah Siwon yang hanya berjarak beberapa sentimeter menyambutnya setelah dengan susah payah Kyuhyun membuka kelopak mata. Siwon sendiri merasa bersalah karena harus membangunkan Kyuhyun, tapi mau bagaimana lagi, pergi tanpa bilang sama saja cari masalah. Pernah sekali Siwon pergi tanpa pamit, ia lupa karena terburu-buru, dan seharian panggilan dan pesan yang ia kirim didiamkan oleh Kyuhyun, ngambek. Kyuhyun tidak suka orang yang ia sayangi pergi tanpa memberitahu, membuatnya khawatir. Keluarganya juga tau, saat masih tinggal dengan kedua orangtuanya dan Heechul mereka selalu memberitahu Kyuhyun jika akan keluar rumah. Lagi pula apa susahnya bilang mau kemana.

"Aku harus ke kantor," dengan lembut Siwon menutup mulut Kyuhyun yang sedang menguap lebar.

"Katanya baru ke kantor jam 10?"

"Dimajukan, tidak apa-apa kan aku tinggal dulu? Mungkin jam 1 sudah selesai," Kyuhyun mengangguk. "Sudah makan?"

"Belum, tidak sempat, nanti aku makan di kantor. Tidur lagi, Kyu," Siwon kembali mengecup kening Kyuhyun cepat sebelum bangkit dari posisinya. Kyuhyun memandangi punggung Siwon yang sedang mengenakan kaus kaki, kemudian menghembuskan napas lelah. Mendengar hal tersebut, Siwon membalik badan dan menatap Kyuhyun dalam.

"Ada apa?"

"Aku merepotkan ya?" Kyuhyun bertanya dengan suara yang terdengar parau, sedangkan Siwon hanya tersenyum simpul, sudah biasa.

"Jawabanku tetap sama, jangan berpikir macam-macam, nanti bayi kita jadi kurus,"

"Tidak lucu," jawab Kyuhyun ketus. Siwon tertawa keras menunjukkan kedua lesung pipinya. Ia kembali menaiki ranjang dan mencium bibir Kyuhyun, kemudian melepasnya sejenak untuk kembali tertawa, dan kembali mengecup bibir plum tersebut hingga Kyuhyun ikut tersenyum.

"Kau itu merepotkan, merepotkanku yang harus selalu meyakinkanmu kalau kau itu tidak merepotkan."

"Tapi kau jadi jarang makan, Siwon. Tidur juga tidak tenang,"

"Loh kata siapa? Makan pagi memang jarang, tapi di kantor ada Donghae dan Leeteuk hyung yang selalu mengingatkan. Di rumah ada dirimu yang hobi makan, mau tidak mau aku ikut-ikutan makan kan," ucapnya pelan, memberikan pengertian pada Kyuhyun untuk kesekian kalinya. Beberapa hari lalu Siwon pulang kantor dan menemukan Kyuhyun sedang termenung menatap televisi yang menyala tanpa suara di ruang tengah. Ketika sadar suaminya pulang, Kyuhyun hanya memandangi Siwon dengan mata sendu. Siwon yang panik segera menghampiri Kyuhyun dan memeluknya. Berkali-kali bertanya apa yang terjadi hingga akhirnya Kyuhyun mengaku bahwa akhir-akhir ini ia merasa menjadi pasangan yang selalu membebani, banyak minta dan mengeluh. Mengganggu tidur Siwon yang memang sudah berantakan karena pekerjaan kantor. Mendengar hal tersebut Siwon langsung mengecupi wajah Kyuhyun yang terlihat sedih. Ia tidak menangis, tapi pandangan matanya sedikit menggetarkan hati Siwon. Aku menikahi orang yang tepat, batinnya saat itu.

"Hei Kyu, ingat perjanjian kita tidak, untuk senang dan sedih bersama? Menurutku itu bukan sekedar kontrak menikah, bukan hanya sebuah kewajiban, tapi juga hak. Aku berhak untuk merasa senang karena mu, aku juga berhak merasa sedih. Tidak ada yang bisa memutuskan apa yang aku rasakan kecuali diriku sendiri, kau mengerti maksudku kan?" Kyuhyun mengangguk.

"Menurutmu kau membebaniku akhir-akhir ini, bagaimana jika aku bilang tidak? Atau jika kau keras kepala dan kekeuh berpendapat begitu, bagaimana jika aku bilang aku suka dibebani oleh mu? Aku bahagia, Kyu." Dan runtuh sudah pertahanan Kyuhyun, ia menangis sesengukan di pelukan Siwon seperti anak kecil. Siwon dengan hati-hati mengeratkan pelukannya, takut menekan perut Kyuhyun.

Saat itu adalah momen yang berharga bagi Siwon, sisi lain dari Kyuhyun yang hanya diketahui oleh dirinya dan orang-orang terdekat Kyuhyun. Kyuhyun yang ini berbeda dengan Kyuhyun yang ada di depan mempresentasikan laporan saat rapat tahunan tiga tahun lalu, berbeda dengan Kyuhyun yang duduk di ruang kerjanya saat Siwon berkunjung. Kyuhyun yang ini adalah pria yang ia temui di balkon ruang makan Hyundai Corp. tiga tahun lalu, yang tertawa lebar ketika lengannya dicakar kucing kesayangan Heechul, yang terbengong-bengong ketika mengetahui dirinya tengah mengandung. Pribadi Kyuhyun dibalik layar.

"Siwon!" Kyuhyun menepuk pipi Siwon pelan, menyadarkannya dari lamunan. Ini baru jam 7.50 pagi tapi Siwon sudah dua kali melamun gara-gara Kyuhyun, dirinya benar-benar tunduk dibawah pesona Kyuhyun.

"Kenapa diam?"

"Melihatmu yang seperti ini membuatku semakin cinta," Kyuhyun tersipu malu, semburat merah menguar dari pipinya dan menjalar ke leher dan menghilang dibalik kaus yang dipakai Kyuhyun.

"Aku benar-benar harus pergi, Kyu," Siwon kembali mencium kening Kyuhyun dan bangkit berdiri.

"Hati-hati, Siwon,"

Ketika pintu kamarnya tertutup kembali, Kyuhyun baru ingat janjinya dengan Heechul. Dengan susah payah Kyuhyun mendudukan dirinya, kemudian berusaha bangun dengan menumpukan berat tubuh pada tangannya yang mencengkram ujung meja nakas dengan kencang. Perutnya berat dan pinggangnya pegal, apalagi saat bangun tidur. Dokter Kang benar, ia harus banyak bergerak untuk melemaskan otot dan mengurangi penderitaannya sampai melahirkan. Dengan tergopoh-gopoh ia mencoba mengejar Siwon, bersyukur saat melihat Siwon baru saja keluar dari ruang kerjanya untuk mengambil beberapa dokumen penting.

"Siwon" panggil Kyuhyun seraya melangkahkan kakinya mendekati Siwon.

"Kenapa bangun?"

"Mengejarmu, mau memberi tahu aku ada janji dengan Heechul hyung di kantor nanti siang," alis Siwon berkerut.

"Kenapa bukan Heechul yang ke sini?" Kyuhyun ikut mengerutkan alisnya, menatap Siwon dengan pandangan heran.

"Heechul hyung sibuk, mana sempat ke sini. Lagi pula aku dijemput ayah nanti, sekalian makan siang,"

"Baiklah, hati-hati ya, kabari aku. Mau dijemput jam berapa?"

"Mungkin jam tiga, nanti ku telfon," Kyuhyun tersenyum saat Siwon mengelus perutnya lembut, bayi mereka merespon dengan gerakan berputar hingga membuat bentuk perutnya menjadi aneh. Siwon tertawa kecil lalu melangkah ke pintu depan, tangan kirinya merangkul pinggang Kyuhyun.

"Oi! Sudah mesra-mesranya? Aku tidak mau diamuk paman, cepat masuk mobil, Siwon-ah! Kyuhyunie kau semakin manis dan seksi!" Donghae berteriak heboh dari dalam mobil, kaca jendelanya sengaja ia buka lebar-lebar saat melihat Siwon dan Kyuhyun berjalan keluar. Ah dia iri dengan mereka berdua, pasangan yang sepadan dan saling melengkapi. Aku dan Eunhyuk akan seperti itu, bahkan lebih mesra, tekadnya dalam hati.

"Di kantor jangan bekerja, ingat Kyu, sudah cuti," Kyuhyun tertawa sambil mengacungkan jempol kanannya, Siwon benar-benar over protective, apalagi semenjak ia hamil.

"Aku pergi dulu, jangan lupa kabari aku ya, bye Kyu!"

"Hati-hati, Siwon," bisik Kyuhyun. "Donghae hyung! Hati-hati! Mau kutitipkan salam untuk Eunhyuk hyung tidak?" lanjut Kyuhyun setengah berteriak.

"Mau!" balas Donghae tanpa malu sambil tersenyum lebar.

Setelah mobil Audi berwarna putih tersebut keluar dari pekarangan rumahnya, Kyuhyun melangkah masuk menuju sebuah pintu berwarna putih polos yang berada tepat di samping kamar tidurnya dan Siwon, kamar bayi mereka. Kyuhyun tidak pernah puas memandangi kamar bernuansa biru tersebut. Temboknya dicat biru tua seperti langit malam, ditempeli bintang-bintang berwarna putih dan kuning muda. Di pojok bagian kanan dekat jendela berdiri lemari putih berukuran sedang yang akan menyimpan baju-baju putranya, serta sebuah sofa berwarna biru muda yang dipenuhi oleh boneka dan mainan. Mereka belum memiliki tempat tidur bayi, karena Siwon ingin Kyuhyun yang memilih. Siwon mendesain semuanya sendiri, kejutan untuk Kyuhyun di hari ulang tahunnya yang ke-28 saat usia kandungannya menginjak 5 bulan. Kyuhyun tersenyum simpul.

Kita orang paling beruntung, batin Kyuhyun seraya mengusap perutnya lembut.

End

Hi! Another sappy story from me is finally up. I'm practically a fluff pro since i'm a sucker for one myself, jangan bosen-bosen untuk baca fluff ya, lol. Also, huge thanks and kisses to erka, rismaaa, dru, and harrietgeisel who've been so kind leaving me comments! You guys are lovely!

Tentang Eunhae, aku gak pernah nganggap urutan nama itu penting, aku pake Eunhae because it sounds more familiar to me. Tapi ya sebenernya Donghae semenya hahaha.

Lastly, feel free untuk kasih opini, ide, atau kritik membangun. See ya on the next chapter!