"We are more than what we do,
Much more than we accomplish,
Far more than what we posses."
William Arthur Wards
.
.
.
Touché
By Admin Park
Main Cast:
Byun Baekhyun, Park Chanyeol
Other Cast:
Find it by yourself.
Genre: Drama-Romance-Fantasy
Rate: T
Warning: Yaoi, Boys Love, Boy x Boy
.
.
.
Chapter 3
.
.
.
Baekhyun menaruh kepalanya di meja. Beberapa kali ia mencoba tenang dan berusaha untuk memejamkan matanya. Pasalnya ia tak bisa tidur semalaman karena informasi yang di beritahu oleh guru barunya itu.
Yang benar saja, siapa yang bisa tidur saat orang sedang mengincarmu dan akan membunuhmu kapan pun? Baekhyun bahkan sangat gelisah.
"Kau kenapa?" tanya Kyungsoo bingung.
Baekhyun mendongakkan kepalanya melihat Kyungsoo di depannya. "Aku? Aku kenapa?"
Kyungsoo menyipitkan matanya, "Kau aneh hari ini."
"Huh?"
"Tak biasanya kau tertidur dikelas. Kau ada masalah?" tanya Kyungsoo dengan raut wajah sebiasa mungkin tapi Baekhyun bisa lihat ada raut khawatir disitu hanya saja temannya ini terlalu gengsi untuk melihatkannya. Dasar!
Baekhyun tersenyum, "Aku tidak apa-apa."
Kyungsoo mengangkat satu alisnya, "Begitu?"
Baekhyun mengangguk mantap.
Sahabatnya menghela nafas, "Baiklah. Ayo ke kantin. Setelah itu kau bersiap latihan."
"Siap, eomma." Goda Baekhyun.
"Diam atau ku tendang pantatmu itu." Kesal Kyungsoo. Baekhyun tertawa.
"Baekhyun-ah!" teriak Yeri teman sekelasnya.
Baekhyun menoleh, "Ada apa?"
"Ada seseorang yang mencarimu, kurasa anak kelas 2A." Jawab Yeri.
Kelas 2A? Batin Baekhyun.
"Oh, baiklah. Terima kasih." Yeri tersenyum lalu segera bergabung dengan teman-temannya.
"Kau duluan saja soo, aku menyusul." Ujar Baekhyun.
"Baiklah, jangan lama-lama." Perintahnya.
Baekhyun mengangguk lalu segera keluar kelas. Disana berdiri seorang laki-laki dengan postur tinggi dan rambut hitam.
"Yongguk?" gumam Baekhyun.
Yongguk yang melihat Baekhyun langsung tersenyum. "Baekhyun-ah."
"Ada apa?" tanya Baekhyun.
Yongguk cukup kaget melihat Baekhyun langsung to the point. "Baiklah, kurasa kau tidak suka basa-basi." Katanya seraya mengusap tengkuknya.
Yongguk menghela nafasnya. "Apa kau ada acara malam ini?"
Baekhyun mengerutkan dahinya berpikir, "Kurasa tidak ada. Kenapa?" Katanya kemudian.
Yongguk meremas tangannya. "Benarkah? Kalau begitu kau ingin pergi bersama ku nanti malam?"
"Eh?" Baekhyun mengerjapkan matanya.
Yongguk menggaruk kepalanya, "Anggap saja sebagai rasa terima kasih ku karena telah menyelamatkan ku kemarin."
Mulut Baekhyun membuntuk huruf 'o'. "Baiklah, jam berapa?"
Yongguk hampir memekik, "Jam 8, di cafe dekat sekolah."
"Baiklah. Aku duluan." Baekhyun hendak pergi sebelum Yongguk menahan tangannya.
Baekhyun menoleh. "Ada apa?"
Yongguk gelagapan. Kenapa dia memegang tangan Baekhyun? Lalu Yongguk melihat tas olahraga yang biasa di bawa klub atletik.
"Untuk lomba lari mu... semoga kau berhasil." Ujar Yongguk seraya tersenyum.
Baekhyun melongo untuk sesaat tapi setelah itu dia langsung tersenyum sebagai ganti 'terima kasih'. Yongguk mengangguk lalu melepaskan tangannya, ia segera pergi berlawanan arah dengan Baekhyun.
Kau benar-benar bodoh Bang Yongguk! Batin Yongguk seraya merutuki dirinya sendiri.
.
.
.
"Jangan terlalu memikirkannya, yeol," Kai memukul bahu Chanyeol.
"Terima kasih," kata Chanyeol datar. "Nasihat yang bagus."
"Hey, if it works for me, it works for you too!" ujar Kai.
"Tentu saja, karena kau memang tidak pernah berpikir."
"Ya! kau lupa kalau aku ini adalah komputer dengan hard disk lebih dari 100 gigabyte?" Kai membela diri merujuk pada kemampuannya menyerap teks.
"Komputer dengan hard disk lebih dari 100 gigabyte," kata Chanyeol datar. "Tanpa operating system."
Kai mendecih, "Kau hanya iri."
"Anggap saja begitu jika itu membuatmu senang," jawab Chanyeol.
Kai tertawa.
Jongdae yang duduk di belakang Kai dan Chanyeol mengeluh keras hingga menarik perhatian mereka berdua. Jika Jongdae sampai mengeluh seperti itu, hanya ada satu sebab.
"Minseok pasti marah-marah lagi?" tanya Kai pada Jongdae.
Jongdae mengerang. "Untuk kesekian kalinya dan aku tak tahu apa sebabnya."
"Hormonal mungkin."
"Hanya itu satu-satunya hal yang terpikirkan," desah Jongdae.
"Memangnya kau bisa memikirkan apa lagi?" Kai menyeringai.
"Entahlah." Jongdae merebahkan kepalanya di atas meja. "Kadang-kadang aku berharap bisa membaca pikiran orang jadi aku bisa tahu apa yang sebenarnya mereka pikirkan tanpa harus susah-susah mencari tahu."
Chanyeol dan Kai berpandangan.
"Hati-hati dengan apa yang kauinginkan," kata Kai sambil menepuk bahu Jongdae lalu beranjak dari kursi.
Chanyeol menyambar tasnya dan segera berdiri.
"Kalian mau kemana?" tanya Jongdae bingung.
"Ada senior yang menantang Chanyeol judo," jawab Kai.
"Lalu? Kalian tega meninggalkan teman mu yang sedang les miserable ini?" pekik Jongdae.
"Man's gotta do what man's gotta do."
"Terserah. Aku ternyata berteman dengan orang yang salah," Jongdae menghela nafas. "Dan Chanyeol, wajah 'aku tak peduli' mu itu menjengkelkan."
Chanyeol mengangkat bahu.
Kai tertawa. "Manusia tidak bisa memilih takdirnya sendiri."
Jongdae berdecak. "Ya, ya, kalau begitu sebagai ganti penghiburan kalian yang tidak akan pernah datang, aku ingin bertanya satu hal padamu, Chan."
"Apa?"
Jongdae menatap lurus matanya. "Kenapa selain saat latihan judo, kau selalu menutupi tanganmu dengan sarung tangan?"
Chanyeol terdiam sesaat. Kai memandang ke arah Chanyeol menunggu jawaban.
"Karena kakiku tidak bisa ditutupi sarung tangan," jawabnya asal lalu pergi keluar kelas di ikuti Kai yang menahan tawa nya dengan sekuat tenaga.
.
.
.
.
Chanyeol mencengkram judogi lawannya tepat di dada dan di sikunya.
"Aku akan mempermalukan bocah sombong ini. Lihat nanti, kau akan ku permalukan dengan Harai Tsurikomi Ashi!"
Orang ini terlalu banyak berpikir, batin Chanyeol.
"Kaki kiri! Kesempatan!"
Tepat saat lawannya hendak menyerang kaki kiri Chanyeol, dia berhasil menghindar bahkan dengan sigap menendang kaki lawannya itu hingga kehilangan keseimbangan. Tak butuh banyak tenaga, Chanyeol menarik lengannya dan membantingnya lalu...
"IPPON!"
"Sialan!"
Chanyeol cepat-cepat melepaskan tangannya.
"Aku kalah," kata lawannya sambil berusaha berdiri. "Kau memang lebih hebat dariku."
"Tidak," jawab Chanyeol. "Kekuatan kita sama."
Senior itu tersenyum sinis. "Kau tidak perlu menghiburku, aku tidak membutuhkannya."
Dia lalu berjalan menuju teman-temannya.
Tidak, kita benar-benar setara, kata Chanyeol dalam hati. Hanya saja aku punya sedikit keistimewaan yang tidak kau miliki.
Chanyeol sudah memiliki kemampuan pikiran ini sejak kecil, mungkin sejak dia baru dilahirkan. Membaca sebenarnya bukan kata yang tepat karena Chanyeol mendengarkan pikiran seolah-olah melalui telinganya. Bahkan jika orang itu tidak sedang berpikir melainkan membayangkan sesuatu, dia juga bisa melihatnya seakan ada proyektor di kepalanya. Jadi ketika orang yang dibaca pikirannya sedang berpikir sekaligus membayangkan sesuatu, yang terjadi adalah seperti dalam permainan virtual reality. Dan tentu saja, dia harus lebih dulu menyentuh orang itu, karena pikiran tidak disalurkan melalui udara. Ibaratnya jika ingin mendengar suara seseorang yang jauh dari kita, kita masih harus mengangkat telepon terlebih dahulu.
"Yo!" Kai menyambutnya begitu Chanyeol keluar dari ruang ganti. "Kau memang benar-benar kuat."
Mereka berjalan menuju tempat parkir.
"Tidak juga," kata Chanyeol tanpa maksud merendah sedikit pun. "Judo itu hampir sama dengan poker, masing-masing pemain memiliki kartu dan kemenangan terletak pada siapa yang paling cepat membaca kartu lawan."
"Berarti kau curang," cibir Kai.
"Kau juga, bodoh." Ujar Chanyeol seraya menyipitkan matanya. "Kalau aku curang, berarti kau juga."
Kai tertawa. "Honestum non est semper quod licet —apa yang diperbolehkan tidak selalu terhormat."
"Ah, tadi lawan mu itu ingin menggunakan Harai Tsurikomi Ashi, kan?" tanya Kai kemudian. "Lalu kau membalikkan dengan Deashi Harai?"
"Setelah Sejarah Joseon, sekarang apa?"
"Aku membaca Judo for Dummies."
"Membaca?" ulang Chanyeol seraya menaikkan alisnya.
Kai menyeringai. "Oke, oke, menyerap."
"Hei, itu Baekhyun?" tanya Kai saat mereka sudah tiba di tempat parkir, menunjuk ke anak laki-laki dengan rambut magneta yang sedang berjalan menuju lapangan.
"Yeah,"
"Apakah kita perlu memanggilnya?" tanya Kai. "Mengingat secara resmi sekarang kita sudah berteman, ménage á trois."
"Apa kau tahu arti kata terakhir yang kau ucapkan?" Chanyeol menghela nafas.
"Tentu saja," jawab Kai sambil meringis.
Chanyeol melepas sarung tangan kanannya lalu menyentuh bahu Kai.
"Artinya kurasa sesuatu yang cukup keren."
Chanyeol menarik tangannya lagi. "Hanya saran, mungkin sebaiknya kau menyerap kamus bahasa itu terlebih dahulu sebelum mengatakan apapun dalam bahasa asing."
"Apa kau tahu yang namanya privacy?" protes Kai.
"Tahu dan aku tidak melihat papan bertuliskan itu dikepalamu," jawab Chanyeol.
Kai menghela nafas lalu menyerahkan helm padanya. "Aku benar-benar ingin tahu apa yang membuatku bisa bertahan berteman denganmu selama ini."
"Kau mau aku membantu mu?" tanya Chanyeol. "Mumpung aku belum memakai sarung tanganku lagi."
Kai hanya bisa mendengus.
"Ngomong-ngomong tentang permintaanku kemarin, apa kau sudah melakukannya?" tanya Kai begitu mereka sampai didepan rumah Chanyeol.
"Ya," jawab Chanyeol. "Dasom ingin boneka beruang didepan stasiun, Minah ingin candle light dinner di restoran prancis, dan Yura ingin tahu apa kau mau berenang bersamanya."
"Bagus!" Kai mencatat di ponselnya. "Para wanita itu memang tidak pernah mau jujur tentang apa yang mereka pikirkan."
"Aku heran, kau itu punya modal kuat untuk menjadi playboy bahkan yang sekelas Casanova," Kai menatap Chanyeol sambil masih sibuk mengetik. "Tapi kenapa tak kau lakukan?"
"Sudah kauwakili." Jawab Chanyeol datar seraya berjalan memasuki rumahnya.
Kai mendelik menatap punggung Chanyeol. "Ya! Aku tahu kau itu dingin dan semacamnya tapi berhenti merendahkan ku, sialan."
"Pulanglah." Chanyeol melambaikan tangannya lalu menutup pintu.
Kai menghela nafas. "Bocah tengik," gumam nya.
.
.
.
.
Pelajaran yang paling tidak di kuasai Chanyeol adalah pelajaran yang memerlukan hafalan. Dia cukup suka fisika dan apa pun yang memerlukan hitungan, dia bahkan termasuk di atas rata-rata untuk hal itu. Chanyeol juga cukup sering membaca buku dari novel hingga ensiklopedia, semua bacaan tanpa paksaan, dia hanya ingin. Tapi, jika yang dibaca adalah buku pelajaran terutama dengan kewajiban menghafal, dia menyerah.
Hari itu ulangan sejarah dan Chanyeol merasa sudah mulai mual. Semua yang dihafalnya semalam serasa menguap tak berbekas. Susah payah dia berhasil mengingat kapan pembentukan berdirinya tiga periode kerajaan di Korea. Sayangnya itu belum cukup karena Ahn ssaem, guru Sejarah, masih menuntut dia menyebutkan nama raja-raja nya.
Chanyeol menyandarkan tubuh dan menghela nafas panjang. Kai yang duduk di depannya tampak sudah hampir selesai. Kehabisan akal, Chanyeol mencondongkan tubuhnya lagi, melepas sarung tangan kanannya lalu menyentuh punggung Kai.
"Kai, pinjam penggaris."
Kai yang semula terkejut tapi dia kemudian sadar apa yang sedang Chanyeol lakukan hingga dia pun berlama-lama mencari penggarisnya untuk memberi Chanyeol waktu untuk membaca pikirannya.
Semoga tidak makan waktu lama, batin Chanyeol mengingat Kai menyerap semua isi buku sejarah sehingga dia harus memilah mana yang di cari. Ah! Ini dia!
"Goguryeo didirikan tahun 37 SM oleh Jumong (Dongmyeongseong) pertama memeluk Buddhisme pada tahun 372 pada masa pemerintahan Raja Raja Sosurim.Goguryeo mencapai masa keemasan pada abad ke 5, ketika Raja Gwanggaeto yang Agung dan anaknya Raja-raja Jangsu memperluas wilayah kekuasaan sampai Manchuria dan Mongolia, serta merebut Seoul dari tangan kerajaan Baekje. Gwanggaeto dan Jangsu akhirnya memaksa Baekje dan Silla untuk tunduk dan untuk pertama kalinya menyatukan semenanjung Korea."
Chanyeol menarik tangannya lagi.
Kai menoleh ke belakang sambil menyerahkan penggarisnya, "Ini."
"Thanks." Chanyeol tersenyum.
Seperti itulah hubungan antara Chanyeol dan Kai, mutualisme. Chanyeol membantu Kai dalam mata pelajaran yang tidak membutuhkan hafalan yang sudah pasti kelemahannya, sebaliknya Kai membantunya dalam pelajaran yang membutuhkan hafalan. Jika Chanyeol melihat Kai sudah tampak kebingungan atau panik—yang biasanya ditunjukkan dengan seringnya dia menggaruk-garuk kepala—dia akan berpura-pura menjatuhkan lembar jawabannya tak jauh dari meja Kai. Kai akan dengan senang hati mengambilnya untuk Chanyeol dan pada saat yang sama menyerap semua yang ditulis di kertas itu. Nasih buruk hanya terjadi jika tempat duduk mereka ditentukan dan diletakkan berjauhan. Saat itu mereka hanya bisa memasrahkan hasil ujian pada Tuhan.
.
.
.
.
Baekhyun memegangi lututnya dan terengah-engah.
"Tiga bela koma satu detik," Han ssaem memberitahu. "Coba lebih baik lagi, Baek. Saya tahu kamu bisa."
Baekhyun mengangguk.
Sebentar lagi kejuaraan atletik antar SMA dan cukup banyak orang yang berharap padanya di kejuaraan lari 100 meter. Baekhyun merasa harus bisa menang, walau dia melakukan ini bukan demi mereka. Dia melakukannya demi dirinya sendiri sebagai pembuktian bahwa dia bisa lebih cepat dari yang dibayangkannya.
Melewati aula, Baekhyun berhenti lagi untuk melihat. Kali ini matanya langsung tertuju pada Chanyeol.
"Kau selalu melihat mereka latihan ya?" tanya Kai pada Baekhyun yang memergokinya masih dalam pakaian lari berdiri di depan aula.
"Begitulah," jawab Baekhyun. "Sepertinya kau juga."
Kai memperhatikan baju Baekhyun. "Kau ikut atletik?"
Baekhyun mengangguk. "Kau sendiri?"
"Ronin," jawab Kai dengan bangga. "Tidak ikut klub mana pun ."
Baekhyun tersenyum penuh arti, " Kau memang memanfaatkan prestasi mu itu ya."
"Tidak juga. Lagipula aku sudah cukup membanggakan sekolah dengan otak ku." Ujar Kai bangga seraya menunjukkan kepalanya lalu tersenyum.
Baekhyun mengambil tangan Kai, "Hal ini yang membuat mu bisa membanggakan sekolah."
Kai mendecih.
"Lalu kenapa kau disini?" tanya Baekhyun.
"Pertama ini tempat umum, kedua," Kai mengedikkan kepalanya ke dalam aula. "Aku mendukung temanku," lanjutnya. "Yang sekarang sedang membanting lawannya ke lantai."
Chanyeol tampak berdiri terengah-engah sambil menatap dingin lawannya yang terkapar, nyaris tanpa ekspresi.
"Chanyeol?" tanya Baekhyun.
"Siapa lagi?"
"Sebenarnya, setelah melihat temanmu membanting lawannya saat hari itu, sepertinya ada yang menarikku untuk melihatnya lagi," ujar Baekhyun.
"Terima kasih, aku tersanjung," kata Kai senang.
Baekhyun menatapnya. "Aku memujinya, bukan memujimu."
"Aku mewakilinya, jadi terimalah." Kata Kai seraya tersenyum lebar.
Baekhyun menghela nafas. "Setelah ini menurutmu apa yang akan terjadi?"
"Setelah apa?"
"Setelah penjelasan Cho ssaem, touché, dan sebagainya."
Kai mengangkat bahu. "Aku tak tahu, tapi sepertinya akan ada kejadian besar."
"Atas dasar?"
"Entahlah, ini insting saja."
"Jawaban tidak ilmiah, bukti tidak cukup, kasus ditolak."
"Kau tahu? Seperti katak yang bisa tahu kalau sebentar lagi turun hujan." Kai masih berusaha meyakinkan pendapatnya.
"Dan kau katak?" tanya Baekhyun.
"Itu tadi majas," Jelas Kai. "Perumpamaan."
"Majas dan perumpamaan adalah dua hal yang berbeda," kata Baekhyun.
"Kata siapa?"
"Kau belum menyerap buku sastra semacamnya?"
"Apakah ini topik yang semula kita bicarakan?" Kai mengerutkan kening.
"Tidak."
"Sampai dimana kita tadi?"
"Katak." Jawab Baekhyun.
Kai tertawa. "Sepertinya aku jadi suka padamu."
"Terima kasih, tapi aku tidak."
"Belum," ralat Kai.
Baekhyun hanya tersenyum lalu mengalihkan tatapannya lagi pada Chanyeol.
.
.
.
.
"Aku tidak tahu kau kenal Kai," kata Kyungsoo. "Aku tadi melihatmu berbicara dengannya di depan aula."
"Aku juga tidak menyangka aku mengenalnya," kata Baekhyun. "Memangnya dia siapa?"
"Huh? Kau tidak tahu?" tanya Kyungsoo tak percaya.
"Dia itu Kim Jongin atau Kai, hanya itu yang kutahu," jawab Baekhyun. "Kenapa?"
Kyungsoo menghela nafas. "Dia itu peringkat pertama paralel di sekolah kita, bahkan mungkin di Busan. Dia itu genius, pengetahuannya luas seakan dia telah membaca semua buku yang ada di dunia."
"Kau terlalu berlebihan," kata Baekhyun datar.
"Aku serius!" Kyungsoo meyakinkan. "Bahkan sepertinya dia bisa menyerap isi buku hanya dengan menyentuhnya."
"Walau tentu saja itu tidak mungkin," tambahnya.
Baekhyun mengangkat alis. "Yah... itu lebih menjelaskan semuanya."
"Satu plus lagi, Kai bersahabat dengan Chanyeol!" kata Kyungsoo agak histeris.
"Lalu?"
"Kau tahu sendiri kan, Chanyeol itu kebanggaan sekolah kita, dia juara judo tingkat nasional tahun lalu," lanjut Kyungsoo. "Ditambah lagi wajah 'bukan urusanku' itu membuatnya tampak keren."
"Baiklah.." Baekhyun mengangguk walau agak heran dengan perumpamaan Kyungsoo. "Lalu?"
"Dan dia sulit di dekati, sangat dingin dan misterius. Tak ada seorang pun yang mampu mendekatinya." Jawab Kyungsoo.
"Kenapa?" tanya Baekhyun.
Kyungsoo mengangkat bahu. "Entahlah, dia bahkan selalu menggunakan sarung tangan. Kesannya tidak mau bersentuhan dengan orang lain."
"Oh..." Baekhyun termenung.
"Sama sepertimu, sebenarnya," Kyungsoo menatap Baekhyun. "Sama sepertimu yang selalu memasukkan tangan kedalam jaket atau saku celana saat istirahat."
"Kalau aku kan karena tidak tahan dingin," Baekhyun memberi alasan.
Kyungsoo memutar bola matanya, "Bahkan saat musim panas kau tetap memakai jaket dan sarung tangan."
Bel masuk berbunyi. Baekhyun menarik tangan nya dari saku celananya.
Sahabatnya yang satu ini memang memiliki insting yang hebat. Batin Baekhyun.
.
.
.
.
"Baekhyun-ah," Junghan memasuki kamar anak tunggalnya. "Ah, lihat siapa yang ingin berkencan." goda Junghan.
Baekhyun menoleh mendapati eommanya tersenyum jahil, "Ini bukan kencan, eomma."
Junghan manggut-manggut. "Baiklah, jika kau masih malu mengakui nya tak apa. Eomma akan menunggu hingga kau siap menceritakannya." Ujar Junghan seraya mengedipkan matanya kepada Baekhyun.
"Eomma..." rengek Baekhyun.
Junghan terkekeh. "Baiklah ini bukan 'kencan'. Tapi setidaknya ceritakan eomma seperti apa orang yang mengajak mu jalan."
Baekhyun memutar bola matanya malas. "Eomma, ini hanya sebagai rasa terima kasih teman ku karena aku menolongnya kemarin."
Junghan menatap Baekhyun menyelidik.
"Eomma!" kesal Baekhyun.
Junghan bersedekap. "Baiklah, baiklah. Eomma percaya."
Baekhyun tersenyum.
TING TONG!
"Apa dia sudah datang?" tanya Junghan.
"Dia tidak mengatakan akan menjemput?" bingung Baekhyun.
"Coba kau lihat dulu." Saran Junghan. Baekhyun mengangguk lalu berlari menuruni tangga rumahnya. Ia membuka pintu ruang tamu.
"Baekhyun-ah!"
"Kai? Chanyeol?"
