Biru – Taufan

"Biru adalah kedamaian dan ketenangan. Menyimbolkan kesetiaan, kepercayaan diri, dan kejujuran"


Mereka bertengkar lagi. Sepertinya pertengkaran adalah makanan yang wajib dimakan oleh Taufan dan Halilintar setiap hari. Tidak ada hari yang bebas dari pertengkaran mereka. Setiap hari ada saja alasan mereka untuk memulai pertengkaran. Kalau sudah begini, yang lain tidak mau ikut campur, takut malah jadi ikut terbawa pertengkaran mereka. Semua kecuali Gempa, tentu saja.

"Kalian... sudah dong, berantem kenapa lagi, sih?"

"Gatau ini si Hali, dikit-dikit marah. Galak banget."

"Oy sialan kau Taufan! Berani-beraninya kau mengacak-ngacak kamarku dan merusak Keris Petir Limited Edition-ku!"

"Plis deh sudah gede masih mainan begituan. Lagian aku tak sengaja tahu."

"MAKANYA JANGAN SEENAKNYA NGOBRAK NGABRIK KAMARKU!"

"BRISIK AH DASAR KAU ?%$!"

"OOOH BEGITU SEKARANG YA? DASAR %& !"

Mendengar kata-kata kasar yang dilontarkan mereka berdua, Ice menutup telinga Thorn dan membawanya pergi. Blaze pun tidak ingin ikut campur, dan Solar sedari tadi sudah kabur ke kamarnya. Gempa menepuk jidatnya.

"Ya gusti, tolong aku..."

Halilintar mengentakkan kakinya dan berbalik pergi.

"Tahu tidak sih? Itu kan hadiah dari papa waktu ulang tahun kita yang kesepuluh. Itu sangat berharga buatku tahu tidak?!"

Taufan terdiam. Ia terlihat menyesal, tapi tidak juga mengalah pada egonya.

"Ya sudah sih, toh papa paling juga ga inget. Tinggal mainan doang, beli saja lagi."

Halilintar menghela nafas.

"Ga bisa diatur, ga mau nurut, main doang kerjaannya... Sama barang ga pedulian, bagaimana sama orang lain?! Kadang aku ga ngerti kenapa bisa dapet saudara kembar kayak kamu."

Taufan terdiam. Matanya sedikit berkaca-kaca, tapi ia terlihat menolak untuk menyerah.

"Oh? Begitu ya? Oke, deh! Fine! Sudah, mulai hari ini kau bukan saudaraku lagi. Bagaimana, seneng kan?"

Halilintar terkekeh, "hah? Kalau begitu Gempa juga bukan saudaramu, karena dia saudaraku!"

Taufan melangkah marah ke arah pintu masuk rumah mereka, "bodo amat! Aku cari saudara baru saja! Tinggal di rumah baru dan cari kerjaan sendiri! Atau jadi gelandangan juga gapapa, yang penting jauh-jauh dari &$^ % macam kau!"

Ia kemudian membanting terbuka pintu tersebut. Di sana berdiri Fang, dengan posisi seperti akan mengetuk pintu. Ia terlihat kaget dan bingung.

"Uh... Hai Taufan. Aku mau ketemu Gem—"

"Sempurna!" Taufan mencondongkan tubuhnya sedikit ke belakang, "OY CECUNGUK! MULAI SEKARANG FANG JADI SAUDARA BARUKU!"

"HAH?!" kata Fang dan Halilintar bersamaan. Sebelum Fang bisa protes, Taufan menarik tangannya pergi.

"tunggu tunggu tunggu... aku mau ngomong sama Gempa, WOI GEMPA!"

"Maaf ya, Fang! Nanti kutelpon saja, oke?" ujar Gempa dengan nada meminta maaf.

Halilintar mendengus, "bodo amat! Ga peduli! Silakan lihat kau tahan berapa hari ga pulang! Kasian banget si Fang harus diseret-seret sama bocah tengik kayak kau!"

Dengan itu Halilintar menarik diri ke kamarnya. Tidak lupa pintu kamarnya ia banting dengan sengaja. Gempa mencubit jembatan hidungnya.

"Aduh... Kenapa jadi begini, sih?

.

.

.

Sudah 2 hari 2 malam Taufan tidak pulang. Memang mereka sedang liburan seminggu, jadi tidak pulang pun tidak masalah. Tapi ini tidak mengubah fakta bahwa Halilintar sedikit khawatir terhadapnya. Sedikit loh ya, sedikit saja.

Ia selalu meminta Gempa untuk menanyakan Fang tentang keadaan Taufan. Tanpa disuruh pun Gempa selalu melapor kepada Halilintar bahwa Taufan baik-baik saja. Entah Gempa melakukannya karena Halilintar yang tertua, atau memang ia tahu bahwa Halilintar khawatir. Halilintar juga tidak lupa bilang pada Gempa untuk mengirimkan uang kepada Fang, ongkos makan bocah tambahan di rumahnya. Tapi kata Gempa, Fang tidak keberatan kalau soal ongkos. Yang jadi masalah tentu saja, Taufan-nya sendiri.

Bersamaan dengan itu, Halilintar jadi merasa lebih uring-uringan dan sensitif. Semua orang bisa saja kena marah olehnya, bahkan Gempa! Ia tidak tahu kenapa tapi ia yakin bahwa penyebab semua ini adalah Taufan. Memang bocah sialan itu menyebalkan sekali. Selain memikirkan bagaimana ia merusak mainan kesayangannya, Halilintar kesal kenapa bisa-bisanya ia pergi dari rumah dan berkata hal-hal yang tidak seharusnya.

Halilintar tertunduk. Ia juga yang memulai mengatakan hal-hal buruk. Mengatakan bahwa seakan-akan ia tidak menginginkan Taufan sebagai saudaranya. Padahal jujur saja, dari semua saudaranya yang lain, Taufan-lah yang paling dekat dengannya. Ia menyesal telah mengatakan semua hal buruk itu.

"Hali, tadi Fang menelepon. Katanya tadi pagi Taufan sudah keluar dari rumahnya, dan dia pikir Taufan sudah pulang ke sini..."

Mata Halilintar membelalak. Ia kemudian segera menelepon Taufan. Namun sayangnya, sepertinya baterai ponsel Taufan habis. Ia tidak lupa mengirimnya pesan kepada Taufan untuk segera pulang.

"Perlukah kita cari? Sekarang sudah jam 9..."

Halilintar menggeleng, "tidak, tidak perlu. Dia sudah besar, sudah tahu apa yang salah dan benar. Tidak seperti Ice, dia juga tidak punya masalah kesehatan. Biarkan saja, kalau memang mau pulang kan dia punya kunci sendiri."

Gempa mengiyakan. Mereka lalu setuju untuk tidur dan membiarkan Taufan pulang sendirian.

Naas, Halilintar sama sekali tidak bisa tidur malam itu. Ia kembali membolak-balikan tubuhnya. Sama sekali tidak bisa tidur. Ia beranjak dari kasurnya untuk mengambil segelas air. Sepertinya akan lebih baik kalau ia tidur di ruang tamu, dengan begitu jika Taufan pulang ia bisa langsung mendaratkan bogem mentah ke wajah bocah sialan itu. Dengan begitu, Halilintar duduk di ruang tamu. Sudah pukul 1, dan ia merasa semakin mengantuk. Akhirnya ia pun tertidur.

"Assalamualaikum..."

Halilintar mendengar pintu berdecit terbuka. Ia tahu siapa pemilik dari suara orang yang membuka pintu tersebut. Namun ia tetap memejamkan matanya, dan pura-pura tidur. Ia baru akan melabrak Taufan jika ia mau naik ke kamarnya. Tidak seperti dugaan Halilintar, suara langkah kaki itu malah berjalan mendekat. Taufan malah berjalan ke arahnya.

"Ah, sudah kuduga kau pasti akan menunggu di sini..."

Halilintar agak terkejut, apa Taufan tahu kalau sebenarnya ia tidak tidur?

"Sampai tidur di sini segala, bego banget sih ini abangnya siapa?"

Ga jadi. Ternyata Taufan tidak tahu. Halilintar bisa mendengar suara kantung plastik. Apakah Taufan belanja? Ataukah itu baju kotor? Halilintar juga bisa merasakan bahwa Taufan semakin mendekat dan akhirnya duduk di sampingnya. Kehangatan yang tiba-tiba ini membuat Halilintar sedikit kaget. Tapi tentu saja, ia tidak boleh menunjukkannya. Bisa-bisa ketahuan.

"Oke, mungkin sebelum aku bicara pada orangnya yang sadar, aku harus latihan sama orangnya yang tidur. Biar aku sekarang lega juga dan lebih jujur. Kalau bicara pada Hali yang sadar, bisa-bisa aku ditinju nanti."

Oh benar sekali dugaannya. Kalau Hali sedang tidak berpura-pura tidur sekarang, ia pasti akan langsung menghantam bocah sialan di depannya.

"Okay... Um.. Hali, aku minta maaf. Maaf aku sudah merusakkan mainan berhargamu, mengacak-ngacak kamarmu, dan berkata kasar padamu. Aku tidak benar-benar mau jadi saudaranya Fang, kok. Lagipula dia sudah punya saudara sendiri... Aku senang jadi saudaramu, Hali," ia berhenti sejenak untuk mengambil nafas,

"Kau itu idolaku, Hali. Aku bangga mempunyai saudara sepertimu. Aku selalu khawatir, kau dan yang lainnya malu dan sebenarnya tidak mau memiliki saudara yang tidak bisa apa-apa sepertiku. Dan ketika kau berkata seperti kemarin aku merasa kekhawatiranku mungkin benar. Aku selalu ingin menjadi saudaramu, Hali. Tidak apa-apa jika kau tidak mau menganggapku saudara, tapi aku akan terus menganggapmu demikian."

Halilintar kemudian merasakan tubuhnya diselimuti sesuatu – yang baunya sangat tidak enak – bau keringat. Ia juga bisa mendengar sesuatu dikeluarkan dari kantung plastik dan diletakkan di atas meja.

"Selamat malam, Hali."

Halilintar bisa merasakan Taufan beranjak pergi. Sebelum ia bisa pergi lebih jauh, Halilintar bergegas memegang pergelangan tangan Taufan.

"Tunggu."

Taufan menoleh ke belakang. Butuh beberapa saat baginya untuk mencerna semua ini. Wajahnya lama kelamaan semakin memerah.

"E-EH?! SEJAK KAPAN KAU BANGUN?!"

"Dari kau pulang aku juga sudah bangun kali... dan lagian jaketmu bau keringet banget,"

Wajah Taufan semakin memerah. Ia kemudian gelagapan.

Halilintar menggaruk pipinya dengan tangan yang lain, wajahnya pun sama merahnya dengan Taufan.

"Um.. hey, dengar... Aku minta maaf soal kemarin. Aku bersikap berlebihan, tidak seharusnya aku berkata demikian. Maafkan aku."

Keduanya kemudian menjadi canggung. Halilintar kemudian melihat benda yang tadi Taufan letakkan di atas meja.

"Ya Tuhan..." ia mengambil kotak tersebut, "i-ini kan..."

"Iya, mainan keris petir limited edition yang kurusakkan kemarin... Aku belikan lagi. Susah ya ternyata, cari mainan jadul," ujar Taufan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

"Bagaimana bisa?"

"Internet daaan duit pinjaman dari Fang, hehe."

Halilintar ingin memprotes bagian terakhirnya, tapi ia rasa untuk kali ini ia akan membiarkannya saja.

"Dan iya, aku pulang malam karena harus menjemput mainan ini ke tempat orang yang menjualnya. Dia ga mau kalau bukan aku yang datang, soalnya ini mainan langka. Tempatnya jauh banget jadi aku pulangnya terpaksa malam."

Halilintar tersenyum. Ia kemudian beranjak menuju dapur sambil menarik tangan Taufan.

"Minum teh dulu, yuk? Ceritakan saja padaku beberapa hari ini kau ngapain saja."

Taufan pun ikut tersenyum. Ia mengangguk.

Keduanya duduk di meja makan sambil minum teh. Melontarkan cerita dan gurauan. Suasana yang mereka rasakan hangat dan damai. Memang, Halilintar dan Taufan bisa membuat satu sama lain gila, tapi hanya mereka yang bisa menenangkan satu sama lain juga. Mereka selalu merasa aman dan nyaman dalam kehadiran satu sama lainnya.


a.n: bukan iklan sariwangi

maaf telat, lupa kalo udah hari Minggu... *karena libur lupa hari*