Bab ini agak susah di buat karena harus memutar otak agak lama sebelum mendapat ide lagi. Tapi semoga cukup memuaskan.
Terima kasih banyak untuk yang mereview dan yang belum, hehehe…
Selamat membaca. ^^
== == ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ == ==
Setelah satu jam, baru Sena, Hiruma, Monta, dan Taki yang sampai di atas. Sena memang cepat, Monta yang takut akan di hukum Hiruma menangkap setiap lemparan dengan sempurna, membuat mereka bergerak ke atas dengan cepat. Taki yang melihat hal itu langsung "bersemangat" dan mencapai puncak menara beberapa menit kemudian.
Walaupun sudah ada yang berhasil, yang lain sepertinya mengalami nasib yang lebih buruk. Musashi masih berusaha, Mamori dan Suzuna kehabisan tenaga, Kurita selalu berhenti di tengah jalan, dan Yukimitsu sempat tersandung sehingga kantongnya terjatuh, begitu pula es di dalamnya.
"Oi, gendut sialan, jangan berhenti di tengah jalan! Pegangan yang lebih erat, botak sialan! Dan kalian berdua perempuan sialan, bisa tidak hentikan omelan sialan kalian dan konsentrasi menaiki tangga sialan ini!?"
"Iya You-nii, gak usah teriak begitu!" Suzuna masih menggerutu. Mamori diam saja, tapi ia ikut mengutuk dalam hati.
~ * * * ~
Saat semua orang akhirnya sampai di puncak Tokyo Tower, matahari sudah mulai terbenam. Yang terakhir sampai adalah Suzuna dan Mamori, beberapa menit setelah Yukimitsu.
"Heh, kalian memang makhluk sialan yang menyedihkan."
"Hiruma! Tolong jaga mulutmu dari kata-kata kotor seperti itu!" Mamori tidak bosan menasehati Hiruma, yang tampaknya sudah cukup kebal akan perkataannya.
"Terserah, tapi aku masih punya satu kejutan sialan lagi. Dan ini kejutan yang paling penting untuk kalian. Kekekeke…" tawanya bangga.
"Eh, Hiruma, sepertinya tidak akan ada yang mampu turun lagi dari sini, kecuali kau punya rencana yang lain," Musashi berkata dengan mantap, iba melihat teman-temannya yang kelelahan. Hiruma menaikkan satu alisnya, lalu tertawa.
"Tentu saja, orang tua sialan. Sebuah pesawat jet sedang menuju tempat ini selagi kita bicara. Dan masih ada elevator untuk kita turun."
Dan beberapa menit kemudian jet itu memang datang, cukup untuk membawa mereka semua ke sebuah rumah besar berlantai dua yang belum pernah mereka -kecuali Hiruma, tentunya- lihat sebelumnya.
"Hiruma, dimana kita?" Kurita bertanya.
"Di salah satu villa sialanku, gendut sialan. Sekarang kalian semua, cepat masuk!"
Semua segera menurut, dan berjalan ke sebuah ruangan yang besar namun gelap. Hiruma menyalakan lampu, dan semua terkejut akan apa yang ada di hadapan mereka.
Semua aksesoris, makanan, bahkan kado yang telah mereka persiapkan ada di ruangan itu –dalam kondisi dan posisi yang sama persis! Suzuna dan Mamori tersenyum lebar melihatnya, sementara yang lain hanya merasa lega karena tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa artinya kau menyukai pesta ini?" Juumonji memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Tidak juga, dan kalau kalian mencoba untuk membuat pesta kejutan sialan lagi tahun depan dan berharap aku akan girang melihaatnya, teruskanlah saja bermimpi. Karena ku pastikan mimpi sialan itu tak akan terwujudkan."
"Yah, itu sudah bias di tebak darimu, Hiruma." Toganou berkomentar, dilanjutkan anggukkan dari Kurouki.
Hiruma tidak membalas, hanya diam saja. Telinganya sedikit bergerak. Semua menahan napasnya, tahu kalau kapten tim mereka sedang mendengar sesuatu. Monta mengambil satu langkah mundur, begitu pula dengan Sena. Sebuah bus yang besar muncul di hadapan mereka. Satu lagi menyusul beberapa detik kemudian. Hiruma berjalan ke depan, menyambut tamu-tamu yang baru saja datang.
"Kalian datang juga. Kukira kacamata sialan ini telat member pesan kepada kalian."
"Cih, seperti yang ku kira, pesta ini penuh sampah," komentar Agon sambil melangkah masuk.
"Kalau begitu kenapa kau ikut datang?" Shin berkata tanpa mengharapkan jawaban. Ia melihat kearah Sena yang melambaikan tangan kepadanya, lalu berjalan untuk mengobrol dengannya.
"Jadi, untuk ini kau menyuruh kami datang?" Takumi akhirnya turun dari bus.
"Tentu saja, kacamata sialan."
Setelah semua turun, suasana langsung bercampur. Mulai dari menyenangkan bagi para manajer tim hingga percakapan antara Hiruma dan Takami dengan aura yang sangat menyeramkan. Tiba-tiba lampu padam dengan sendirinnya, walaupun alat elektronik yang lain masih berjalan dengan lancar.
"Apa yang terjadi, sampah? Kau lupa membayar tagihannya?" cemooh Agon yang sebenarnya tidak merasa terganggu.
"Lihat saja nanti, gimbal sialan."
Benar saja. Kembang api berbagai warna dan bentuk mulai terlihat di atas langit. Begitu indah, memikat semua mata yang ada di tempat itu, walaupun mungkin tidak terlalu kelihatan. Mata Suzuna membesar sampai Mamori takut akan keluar dari kepalanya (walaupun itu tidak mungkin kecuali dalam game, kartun, dan animasi). Bahkan Agon pun yang berlagak tidak peduli sebenarnya menyukai kembang api itu.
"Indah sekali, You-nii!" Suzuna memekik ketika ia melihat kembang api merah besar meledak, membentuk Devil Bat sebelum akhirnya memudar.
"You-nii… You-nii… dimana kau?" Suzuna tak menemukan Hiruma, tapi pasrah saja dan terus menonton kembang api itu.
~ * * * ~
Hiruma berada di balkon di lantai dua, meneguk kopinya sebelum kembali memusatkan perhatiannya pada layar laptop. Mamori berada di belakangnya, dan ia tahu itu. Tapi apa serunya langsung kasih tau seseorang kamu menyadari dia ada di sana kalau kamu bisa kerjain dia aja sekalian? Hiruma berpikir sejenak, lalu mendapatkan ide yang sangat cemerlang.
"Hm… manajer sialan itu tak akan pernah tau akan hal ini, kekekeke…"
Di belakangnya, Mamori mulai penasaran, namun tetap diam agar ia tahu apa yang sedang di bicarakan Hiruma.
"Foto sialan ini akan menjadi bahan pemeras yang sangat, sangat baik untuknya. Hm, harus mengambil minum. Yah, kurasa foto sialan ini bisa menunggu."
Hiruma menuruni tangga, memastikan Mamori tak akan curiga padanya. Mamori yang melihat Hiruma lenyap dari pandangan segera menuju laptopnya yang terbuka itu. Ia mengklik file bernama "Manajer Sialan" dan muncul sesuatu di luar harapannya.
"Kode?"
Mamori mengetik "Deimon" dan menekan "enter". Muncul gambar Devil Bat entah dari mana, dan ia mengeluarkan suara.
"Laptop sialan ini akan meledak dalam waktu 1 menit karena kode sialan yang di masukkan salah. Bersiap untuk di bunuh setan dan masuk ke neraka, YA-HA!"
Kali ini Mamori benar-benar panik karena ia yakin sekali kalau Hiruma tidak asal menggertak. Ia mencoba kode lain, tapi tak ada yang berhasil. Akhirnya laptop itu mengeluarkan bunyi ledakan serta kepulan asap, dan layarnya mati. Mamori baru akan kabur saat ia menemukan Hiruma sedang melihat ke arahnya dengan tatapan mata dingin yang membuatnya merinding.
"Apa yang kau lakukan terhadap laptop sialanku? Manajer sialan, kali ini kau benar-benar berada dalam masalah."
Mamori terlihat semakin pucat setiap Hiruma melangkah ke arahnya. Tangannya terlipat di depan, dan ia terlihat sedang berpikir sambil mengunya permen karet bebas gulanya itu. Ia memberi Mamori sebuah kantong berisi pakaian.
"Cepat ganti pakaian sialanmu sekarang, manajer sialan. Sebelum aku menyuruhmnu melakukan hukuman sialan yang lebih parah lagi."
"Y-ya, Hiruma," jawabnya lemah sambil berlari, mencari tempat untuk mengganti pakaiannya.
Di balkon lantai dua, Hiruma mengutak-atik kembali laptopnya yang segera menyala. Ia mencabut sebuah bom asap kecil yang terpasang tepat di bawah laptop itu.
"Manajer sialan yang bodoh, kekekeke…"
== == ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ * ~ == ==
Kalau yang ada ide atau saran plus masukan, tolong kasih tau ya.
Masih ada satu kejutan terakhir di bab berikutnya, sedihnya bab ke lima bakalan jadi bab terakhir. Huhuhu… . ;
Review (lagi kalau udah pernah) please.. ^^
