Kenapa?

Aku ingat pertanyaan yang dulu terus melintas di pikiranku, yang bermula di suatu hari ketika aku mulai sekilas menyadari keberadaanmu. Melihat juntaian panjang helaian lembut berwarna hitam yang berkilau di bawah sinar matahari musim panas. Memandang sepasang permata kelabu yang begitu kosong tanpa emosi.

Kenapa?

Pertanyaan yang terpendam sejak lama. Yang terkubur di relung hati yang paling dalam. Yang sangat memicu rasa penasaran berlebihan di dalam diriku. Yang biarpun demikian, tak pernah berani kuungkapkan padamu. Aku bukannya peduli dengan jawabanmu, melainkan semuanya demi kepentinganku sendiri.

Bahwa sebisa mungkin, aku tak ingin berhubungan denganmu terlalu jauh dari apa yang bisa kutolerir.

Kenapa?

Pertanyaan itu seperti tamparan telak di wajahku. Termenung dan menatapmu ketika kau tidak melihat. Aku hanya bisa menebak-nebak isi pikiranmu. Tentangmu, tentang hubungan ini. Hubungan Kise Ryouta dan Kira Izumi yang begitu kosong dan tak terlihat.

Kenapa kau mau terlibat di dalam hubungan ini, Izumi?

Musim gugur datang dan aku hanya bisa membisu dalam renunganku. Saat memandang sosokmu dari jauh.

.

.

Permulaan yang Baru

Rozen91

Kuroko no Basket © Fujimaki Tadatoshi

Memory 4: Yang Mekar di Musim Gugur

.

.

Pagi itu, aku menjemputmu seperti biasa. Kukayuh sepeda dan berhenti di depan rumahmu. Adik-adikmu mengintip dari jendela dan melambai riang ke arahku. Aku tidak melihatmu berdiri di depan pintu. Melihatku dengan sorot mata yang tidak biasa.

Ohayou, sapamu, Kise-san.

Untuk pertama kalinya, kau menyapaku, seolah akhirnya kedua matamu terbuka dan kau mengakui bahwa kau memang melihatku. Bibirku sekilas mengejang.

Aku paling tidak suka caramu memanggil namaku.

Sufiks –san itu sangat tidak enak didengar.

Izumi, cetusku dengan nada cemberut yang dibuat-buat, aku sudah bilang, 'kan?

Kau hanya memejamkan kedua matamu seraya mengibas sejumput rambut dari bahumu. Saat itu, kau berjalan ke arahku setelah mengecek adik-adikmu.

Panggil aku 'Kise-kun'!

Kau berhenti tepat di depan sadel belakang. Menatapku dari ujung matamu dengan sorot mata kosong yang begitu familiar. Dan kupikir, kau mungkin sedang mempertimbangkan keputusanmu selanjutnya. Aku tidak bisa menahan diri untuk menjauh.

Kelopak matamu merendah.

Segera kupaksakan tawa kaku sebelum kau benar-benar mulai curiga dengan tingkah lakuku. Yang akhir-akhir ini kutahu sangat aneh. Tapi, aku tidak tahu apa yang kau pikirkan.

Kise-san, ucapmu setelah beberapa detik menatapku dalam diam. Kau tidak melepas pandanganmu. Seperti sedang menunggu sesuatu terlihat dan membuka semua rahasiaku. Hatiku serasa dicengkeram oleh sesuatu yang tidak kutahu apa. Hingga kusadari dari gerakan samar tanganku bahwa aku

takut akan hal itu.

Izumi!

Aku nyaris berteriak. Ataukah sebenarnya aku telah membentak?

Kita pacaran sejak tiga bulan yang lalu dan kau masih memanggilku dengan sufiks –san!?

Kedua iris kelabumu tidak bergeming. Aku terhenyak. Menyadari kebodohanku dan responmu yang tidak memberiku apa pun. Apakah itu rasa lega maupun yang sebaliknya. Kuulas senyum jenaka untuk menunjukan bahwa aku sedang bercanda. Kau tidak menjawabku. Kau memilih untuk segera duduk di sadel dan menungguku mengayuh sepeda.

Tanpa sadar, aku menghela nafas lega yang untungnya bersamaan dengan angin yang mengguncang pepohonan di halamanmu. Tanpa menunggu lebih lama, aku segera mengayuh. Meninggalkan rumah sederhana keluarga Izumi dan lambaian hiper ketiga adikmu. Aku bersyukur bahwa aku tidak membawa diri kita berdua tercebur ke dalam sungai hanya karena aku tak bisa menghentikan getaran di tangan dan dadaku.

Izumi, aku mengenal hal yang mudah terlihat di dirimu. Atau bahkan orang-orang bisa melihat dengan mudah hal yang begitu tak biasa tentang hubungan kita.

Bahwa sejak awal, kau tak pernah menegurku duluan.

Aku selalu memanggil namamu, berjalan ke arahmu, menghampiri bangkumu, mengajakmu jalan, dan berbicara padamu. Kau tidak pernah bertindak mendahuluiku. Namun, hari itu kau seolah menjadi orang yang berbeda.

Jika hari itu kau menyapaku di pagi hari,

maka esoknya kau mengajakku jalan sepulang sekolah.

Aku terkejut. Dan takut di saat yang bersamaan. Karena, kau saat itu bukanlah Kurokocchi, melainkan Izumi Kira. Senyumku tetap terkulum. Aku menahan semua perasaan tidak menyenangkan di hatiku.

Dan seperti beberapa hari yang lalu ketika aku menitipkan sepedaku ke tetangga rumah di kelas sebelah, aku pulang jalan kaki. Bersamamu. Aku berharap tidak ada suatu kebetulan dimana aku akan bertemu Kurokocchi. Atau bahkan anggota Generasi Keajaiban sekalipun.

Bagaimanapart-time job-mu? tanyaku, mencari topik pembicaraan yang terdengar santai.

Biasa saja, jawabmu datar. Tanganmu terulur, dan aku benar-benar tidak mengerti apa yang kau minta. Berikan handphone-mu, katamu.

Aku memberikannya padamu dengan setengah hati. Namun, kau adalah kejutan di hari itu. Kau mengeluarkan satu benda yang selama ini kupikir tak pernah eksis di dirimu.

Handphone.

Kau tidak bilang kalau kau punya handphone! cetusku dengan nada tak terima.

Kau mengetik di hp berwarna kuning; milikku.

Kau tidak pernah tanya, jawabmu singkat.

Raut wajahku berubah beku. Kau benar. Aku memang tidak tahu. Ataupun berniat untuk menanyakannya. Aku bisa saja beralasan bahwa aku tak ingin menyinggungmu karena kupikir kau tak punya, namun aku yakin hal itu malah akan lebih terdengar bodoh di telingamu. Atau seharusnya aku jujur dan mengatakan bahwa aku tak berpikir untuk mengenalmu lebih dalam?

Kau menyodorkan telpon genggamku dan berpaling setelah aku menerimanya. Aku segera membuka lipatannya dan melihat apa yang sudah kau ketik di dalamnya. Kedua mataku melebar.

Ini...

Kau menoleh dari balik bahumu.

E-mail-ku, sambungmu.

Aku tertegun menatap wajahmu di sore hari yang indah di bawah daun-daun pohon ginko yang mulai menguning.

Saat itu,

kau mengulas senyum tipis yang pertama padaku.

Di langit orange musim gugur,

di taman kota yang kita lewati bersama,

ketika angin membelai ujung rambutmu,

ketika senyum tipis itu terpaku di dalam ingatanku,

ada yang mekar di hatimu.

Sesuatu telah mekar di hatimu.

.

.

Aku hanya bisa termenung saat memandang langit-langit kamarku. Memikirkan semua kejadian mengejutkan dua hari ini, aku hanya bisa menebak-nebak. Hingga kusadari satu hal yang paling penting,

yang sebenarnya merupakan penopang hubungan Kise Ryouta dan Izumi Kira,

yakni bayangan Kuroko Tetsuya.

Yang hari itu seolah sirna tanpa jejak,

ketika kau terlihat lebih mencolok di mataku.

.

.

Dadaku bergemuruh.

Ini terlalu tiba-tiba, pikirku.

Nafasku tercekat.

Ini terlalu cepat.

.

.

_bersambung_

REPly rEvIEW time~

Kaito Akahime : Haha,,, sifatnya di sini memang agak jelek, tapi dia juga tertekan, lho. #rasain lu, Kise! #plak! Yoshaa, makasih atas pujian dan review-nya, Kaito-san! ! :D

Ayanoshida : Iya, akhirnya setelah sekian lama,, (^u^),, para fans memang kadang dibutuhkan sebagai figuran yang jahat demi keberlangsungan cinta para tokoh utama,, #kasihan mereka,, Yosh, makasih udah mampir lagi, Ayanoshida-san! ! :D

Guest: Makasiiiih,,, yosh, ini nih udah update,, :3 semoga memuaskan,, XD makasih udah mampir,,, :3

guest-sama: Ahaha,, anata no kokoro ka? yosh, ini udah update,, semoga memuaskan,, makasih udah mampir,,, :3

Yosshha! ! Thanks for reading!

_Rozen91

_Touch of Autumn_