Aloha ! /joget/ ga nyangka fanfic beginian ada yang baca TTATT makasih ya semuanya~! Padahal Panda sendiri ga yakin dengan yang Panda tulis OAO/diinjek/

PM bermasalah, yang belum sempat kebales reviewnya daku bales disini QAQ)/


purpleYumi : iya, kan udah kasitau xD , tapi tenang aja, ga mirip2 banget kok xD

Kiriko Alicia : Cacao juga keren ~ *nari samba* weh? Benarkah? Author cuma dibilangin lagu itu dari temen, jadi kurang tahu tulisannya , sepp, bakal Panda ganti xD

CelestyaRegalyana : arigatou loh udah baca dari awal hingga sekarang! Daku menyayangimu! *peluk tembok/salah

Kurotori Rei : eh? kelihatan begitu ya? waduh OAO gomen, Panda sudah bikin orang salah paham OwO

Yang lain uda dibalas di peem xD happy reading xD


Vocaloid Bukan Punya Saya

Make Your Wish© Panda Dayo

Chapter 4

Illumination


"Ah, Lui…"

"Apa kau menyukainya?"

"Terima kasih, Lui."

Lui tampak sedang memijat kaki Miku. Rasanya nikmat sekali. Hingga sempat membuat Miku setengah tertidur tadi. Betapa beruntungnya ia memliki Lui. Pelayan serba bisa.

…Ya―pelayan.

Lui meneruskan pijatannya hingga ke ujung kaki majikannya itu. Ia sesekali membunyikan jari kaki Miku. Setelah dirasa cukup, Lui menghentikan kegiatannya. "Ah, kakiku sedikit baikan. Terima kasih, Lui. Aku akan selalu berhutang budi padamu." Miku mengubah posisinya menjadi duduk. "Lui, kemana Suzune?" Tanya Miku. "Ia sedang merangkai bunga. Ia sangat terampil sekali merangkainya." Lui tersenyum. "Begitu ya, aku lupa dia anak pemilik hanaya." Ujar Miku. Miku berdiri dari ranjangnya. "Miku-sama, anda ingin kemana?" Lui sebenarnya tidak perlu bertanya, karena jawaban majikannya akan selalu sama.

"Menemui Kaito."

Tak lama kemudian, Miku sudah menghilang dari pandangan Lui. Lui segera membetulkan sprei majikannya yang tampak berantakan itu. Tak lupa mengganti kelopak-kelopak mawar diatasnya. Majikannya sangat menyukai mawar,

―karena itu juga kesukaan Kaito-sama….


"Suzune, apa rangkaian bunganya sudah selesai?"

"Eh, i-iya..sedikit lagi.." Suzune masih tetap melanjutkan pekerjannya. "Rangkaian yang indah sekali. Setelah ini, letakkan semua rangkaian bunga di depan pintu. Aku akan membawanya." Suzune menoleh. "Untuk siapa?" tanyanya polos. "Untuk Kaito-sama.." jawab Lui. "Siapa?" pertanyaan Suzune membuat Lui sadar bahwa ia belum menjelaskan Suzune apapun tentang Kaito. "Aku akan menjelaskannya nanti. Selesaikan saja rangkaian bunga ini."

Miku menatap keluar jendela. Kabut menyelimuti pepohonan kering di luar sana. Entah sudah berapa lama tempat ini menjadi kelam seperti ini. Mungkin sekitar beberapa puluh , sepertinya―ratusan tahun yang lalu― terakhir kali ia melihat sakura bermekaran. Namun kini semuanya menghilang. Sesekali Miku mengamati burung gagak yang mengitari kastilnya, semakin menambah kesan angker pada kastil ini. Miku mengamati kelopak mawar yang jatuh dari setangkai bunga mawar yang digenggamnya.

"Aku takkan membuatmu menunggu lebih lama, Kaito.."


Kota Sumida
06.00 PM


"Ah, Anon, hari ini aku ada kerja kelompok."

"Oh, begitu ya…hati-hati, Kanon!"

Kanon keluar rumah dengan membawa tas punggungnya. Ia menaiki sepeda gunungnya. Ia segera melajukan sepedanya kencang. Kini hanya ada Anon sendirian di rumah. Anon terkejut melihat seorang perempuan berpakaian serba hitam tersenyum ke arahnya. Dan lagi,ia duduk di sofa dengan santainya. Hei, Anon tak melihat siapapun masuk rumah karena ia baru saja menutup pintu.

"Yamauchi Anon. Kematian akan datang kepadamu." Ia beralih dari posisi duduknya menjadi berdiri. Ia mengayunkan tongkatnya dengan…―tersenyum?

"Kau lagi. Bukankah waktunya hingga besok?" Anon mengernyit. "Aku datang memastikan jika kau takkan lari dari kematianmu. Kau membuat perjanjian yang cukup mengesankan, Yamauchi Anon."

Perempuan itu berjalan mengitarinya. Seolah sedang mengharapkan sesuatu dari gadis remaja itu. Anon tahu ini akan terjadi padanya. "Kau datang ke kastilku, darimana kau tahu?" Miku berhenti seraya mengarahkan ujung tongkatnya ke leher Anon. "Aku tersesat di hutan setelah menabraknya. Aku melarikan diri begitu saja. Hingga aku tiba di tempatmu."

"Ah―pemuda bernama Ruki itu?" Miku terkekeh. Anon menunduk saja. "Kau pasti merasa bersalah. Sehingga kau memutuskan membunuh Suzune dengan bantuanku." Miku mengeluarkan seringaiannya. "Aku tak punya pilihan lain. Suzune melihatku sewaktu menabrak Ruki." Anon mengangkat wajahnya. "Waktumu sepertinya akan menjadi lebih singkat. Ada pesan terakhir, Yamauchi Anon?" Anon seperti berfikir sebentar. Ia memejamkan matanya sejenak, kemudian menatap perempuan itu.

"Jangan biarkan Kanon bersedih."

"Permintaanmu….kukabulkan.."

ZRAAAAAAASSSSHHHHHHH

Miku segera menghilangkan tubuh gadis itu. Tak lupa ia membersihkan darahnya. Namun ia melihat sesuatu dibawah meja. "Kepalanya ketinggalan.." Miku menendang kepalanya entah kemana. Ia pun menghilang seiring datangnya malam…


Beberapa hari sebelumya...


"Ba-bagaimana ini?!"

Seorang perempuantampak begitu resah. Ia baru saja menabrak seseorang. Temannya sendiri. Di depannya langsung menjadi pusat keramaian. Sial. seseorang melihat ke arahnya. Buru-buru ia memutar balik. Kemana saja boleh, selama ia bisa kabur dengan selamat. Jantungnya berdegup kencang. Keringat dingin menetes di pinggir wajahnya. Nafasnya terdengar tak beraturan. Ia menyetir dengan kecepatan tinggi. Hingga ia tak bisa mengendalikannya. Mobil yang ia kendarai menabrak pohon di pinggir jalan yang sepi. Walaupun sepi, ia buru-buru keluar dari mobil dan masuk ke hutan, takut jika ia tidak sadar ada orang yang memperhatikannya.

Ia terus berlari.

Terus…terus…terus….

'BRUKK!'

Ia tersandung akar pohon yang mencuat ke permukaan tanah. Dengan cepat, matanya menjadi melebar begitu melihat jalan di depannya. Jalan terjal yang menurun. Setelah berguling-guilng, ia terhenti di depan sebuah pohon oak tua. Terlihat dari besarnya ukuran pohon itu. Untung saja ia hanya terluka di siku dan lututnya―karena ia melindungi kepalanya―kalau-kalau kepalanya akan terbentur sesuatu. Ia berdiri dengan susah payah. Ia berusaha berpegangan pada batang pohon itu.

"Seandainya aku bisa memutar waktu..hahhh…"

Ia merasakan tangannya tak memegang apapun seketika. Ia terjatuh lagi. Namun betapa terkejutnya ia setelah mengangkat wajahnya. Sebuah jalan terbentang di depannya. Dengan barisan bambu di sisi kiri dan kanannya. Daun-daun bambu yang kecil berterbangan kesana kemari. Indah sekali. Terasa begitu alami. Angin sedikit menggerakkan rambutnya. Rasanya seperti―Aokigahara. Meski ia hanya pernah melihat sekilas dari internet atau televisi.

"Siapa kau?"

Sebuah suara menyadarkannya dari keterpesonannya dengan pemandangan yang ia lihat saat ini. Seorang perempuan menatapnya tajam. Dengan pakaian serba hitam yang ia kenakan.

"Aku..tersesat.." jawabnya. Ia tampak sedikit gemetar―ketakutan saat perempuan itu menghampirinya. "Sebutkan namamu." Perintahnya. "A-Anon…." jawabnya yang sedikit gugup. "Bagaimana kau bisa kesini?" Tanya perempuan itu lagi. "Aku juga tidak tahu." Anon menggeleng. "Sepertinya aku harus menutup mulutmu.." perempuan serba hitam itu mengetuk tongkatnya beberapa kali. Sebuah scythe muncul menggantikan tongkatnya.

"Kau harus kubunuh sekarang juga."

Anon berkeringat dingin. Ia memejamkan matanya. Tapi…tak terjadi apapun. Anon memberanikan diri membuka matanya. Hampir saja ujung scythe itu mengenainya. Hanya tinggal beberapa senti dari lehernya. Kenapa perempuan itu berhenti? Anon jadi penasaran. Anon mengangkat wajahnya. Tangan perempuan itu ditahan oleh seseorang yang lain. Anon melirik. Seorang pemuda dengan rambut pirang. Perlahan, perempuan itu menurunkan scythe-nya yang tajam itu.

"Miku-sama, hentikan. Kumohon."

Perempuan itu menurunkan scythe-nya. Wujudnya berubah kembali menjadi tongkat. "Kenapa, Lui?" mata Miku menatapnya tajam, seolah berkata 'sepertinya kau ingin mati sekarang juga.' Lui menghela nafas sejenak sebelum akhirnya dia berbicara.

"Sepertinya dia masuk daftarmu."

Miku mengangguk pelan. "Ah, begitu. Aku tidak tahu. Kau mau mampir ke istanaku?" suara perempuan itu berubah menjadi….manis. Anon bahkan tak menyangkanya. "A-ano, kalau bisa, aku mau kembali saja…" ujar Anon. "Kau akan masuk dalam daftar kematianku. Apa kau tidak punya keinginan yang belum terpenuhi di dunia ini?" Anon terdiam. Keinginan? Kematian? Apa maksudnya?

"Kau akan mati dalam beberapa hari ke depan. Rupanya kau berani juga, mendatangi malaikat mautmu duluan…" Miku menundukkan sedikit topinya. Kini hanya bibir peachnya yang terlihat. Anon tak bisa menebak apa ekspresinya selanjutnya.

"Kau punya beban, kan?"

Ah, benar. Baru saja Anon akan mengatakannya. "Aku tak tahu harus apa. Aku menabrak temanku beberapa jam yang lalu. Tapi―temanku yang lain melihat perbuatanku. Aku…" Anon jatuh terduduk. "Aku benar-benar tidak sengaja melakukannya…" Anon terlihat menyesal. Miku hanya tersenyum.

"Ha? Begitu? Seingatku kau juga pernah membuat temanmu lumpuh akibat ulahmu. Kalau tidak salah, Shimazaki Koko―"

"STOP! Aku tidak tahu!"

"Kau sangat menyukai pemuda itu hingga membunuhnya? Manusia memang membingungkan,ya.." Miku tertawa kecil saat Anon menangis. "Kenapa?" Tanya Miku. "Bukankah kau senang saat pemuda itu mati?" Miku terbahak-bahak. Sementara Lui hanya diam memandangi majikannya itu.

"Aku ingin…mereka mati….."

Perkataan Anon membuat Miku berhenti tertawa. Ia sedikit menyeringai setelah mendengar permintaan Anon. "Mereka? Suzune dan….."

"Ya. Kokone. Bunuh mereka secepatnya…." Nafas Anon tersengal-sengal seperti usai lomba lari. Ia tak bisa berfikir jernih. "Tapi, ada syaratnya lho. Kau akan mati dengan kepala terpenggal. Di tanganku." Miku sedikit berbisik ke telinganya. "―karena seharusnya kau mati lima menit yang lalu dengan cara seperti itu ,karena memasuki wilayahku…."

"Baik….aku setuju…"

"Nah, begitu. Pelayanku akan mengawasimu untuk memastikan kau tidak kabur. Jangan coba-coba."

Miku menjauhinya. Meninggalkan gadis yang masih bengong itu disana.

"A-apa…yang baru saja kukatakan?"

'DUG!'

Anon merasakan pandangannya menggelap. "Lui, kembalikan dia." Miku masih terus berjalan. "Baik, Miku-sama.." Lui pergi dari tempat itu. Membawa Anon kembali ke rumahnya. Miku berhenti sebentar. Ingin menikmati angin yang lembut ini. Ia sedikit merasa bernostalgia.

"Kau tidak bosan melihat bambu terus?"

"Tidak lah. Pemandangan ini terasa menyenangkan..begitu asri dan….damai…."

"Benar, damai sekali." Miku memejamkan matanya. Menikmati angin semilir yang melewati daun telinganya. Sesekali ia menganggukkan kepalanya, pertanda ia menikmati semua ini. Namun, ia berhenti tiba-tiba. Ia menundukkan kepalanya.

…."Maafkan aku."


Tsuzuku xD *geplaked*

Woghhhh! Gak kerasa nyampe chapter empat! *jejeritan* ehemm…ga nyangka aja bisa nulis cerita yang termasuk 'wah' kaya gini. Padahal Panda gak yakin ama cerita ini , Panda sendiri bingung ngetiknya*wrrrrr* saran dan kritik diterima ^^