Hello all! Tuh kan, aku ini commit kok selesaiin fanfic ini ciyus :( by the way, aku penasaran deh kalian tetep bisa fanfiction net gimana kalo dari handphone? Aku kalo di laptop kan pakai VPN jadi tetep bisa buka, tapi kalo dari hp aku harus ganti IP adressnya manual dan jujur aja itu bikin capek banget.
Sepertinya aku juga gapernah respon reviewnya ya, huhu so sorry, aku jarang buka email yang nyambung dengan acc fanfiction net aku. Jadi ada yang tanya, kenapa namanya Harriet bukan Harry? Sebenernya kalo di Inggris nama Harriet dan Harry itu artinya sama, house of ruler, cuma yang satu versi perempuan yang satu lagi versi lelaki, dan disini aku pengen tonjolin kalo Harriet itu perempuan. Terus ada juga yang tanya Draco tau cerita tentang Harriet itu dari siapa, Malfoy pro Voldy atau pro Dumbledore, aduh aku gabisa ceritain nanti spoiler dong wkwkwk :( terus iya dong ini memang Cedric dan Harriet chemistrynya gede karena aku sengaja, ahahaha.
Anyways, maaf ya kalo tatanan bahasa aku aneh, aku sebenernya lebih biasa pake bahasa inggris sekarang, tapi karena dulu aku buat fanfic ini pake bahasa, jadi aku pengen terusin pake bahasa. Mungkin nanti aku bakal tulis terjemahannya.
Anyways, please enjoy! Jangan lupa direview ya supaya aku tahu apa yang kurang dan apa yang mau dimasukkin kesini.
Goblet of Fire Princess
hwangjn
"Harriet, kamu harus makan lagi." Ucap Draco dengan lembut, tetapi jemarinya nampak memain-mainkan pisau yang sedari tadi ia pegang, dan makanannya sendiri pun belum tersentuh. "Harriet, hari ini kamu akan berhadapan dengan tugas pertama, aku tidak ingin kamu jatuh lemas di tengah-tengah tugasmu."
Gadis berambut hitam itu menghela nafas pendek, alisnya bertautan dan matanya yang hijau terlihat gugup. "Draco, aku tidak yakin aku sudah menguasai semua mantra yang kupelajari…" Ia menggigiti pipinya, mencuri pandang kearah dimana Hermione dan Ron tengah duduk bersama Weasleys yang lainnya sebelum kembali menatap Draco. "Pikiranku ada dimana-mana."
Kali ini giliran Draco yang menghela nafas. Ia mengambil sebuah apel yang ada di keranjang di hadapan mereka, kemudian memberikannya kepada Harriet, hanya saja gadis itu terlihat sangat sibuk dengan lamunannya, sampai-sampai ia tidak sadar kalau Draco tengah menawarkan apel untuknya, dan McGonnagal sekarang berdiri di sampingnya, berdeham.
Harriet dan Draco sama-sama menoleh, McGonnagal menatap keduanya dengan sebuah senyuman kecil. "Maafkan aku, Mr. Malfoy, tapi Harriet harus pergi sekarang." Ucapnya dengan tegas, tapi masih terkesan hangat. "Oh, aku akan menunggu sampai kamu siap, asal jangan lama-lama. Lagipula, Madame Maxime dan Mr. Karkaroff masih memanggil juara mereka."
Mendengar itu, Draco cepat-cepat memaksa Harriet untuk menerima apel yang tadi hendak ia berikan, kemudian ia melepas jubah tebalnya dan mengenakannya kepada Harriet, membuat gadis Gryffindor itu gelagapan, pipinya memerah, tapi nampaknya Draco tidak peduli. "Harriet, aku percaya hari ini kamu akan memberikan yang terbaik. But please…" Ia mencibir, "Makan apel itu sebelum kamu melakukan tugasmu."
Dengan enggan, Draco melepaskan genggamannya dari tangan Harriet dan memperhatikan Harriet yang berjalan pergi mengikuti McGonnagal. Ia melihat Harriet memberikan senyuman kecil dan melambai kepadanya sebelum menatap lurus ke depan, punggungnya lurus dan tegap, menunjukkan sikap percaya diri. Padahal, beberapa detik yang lalu Harriet masih terlihat sangat gugup. Well, Draco percaya ia akan baik-baik saja.
Apalagi setelah Draco melihat mantra-mantra yang telah Harriet pelajari.
xxx
Harriet berjalan memasuki tenda dimana para Juara lain akan menunggu, dan rupanya Cedric serta Krum sudah ada disana, mereka hanya tinggal menunggu Fleur. Krum menatap Harriet dengan aneh, dan Cedric hanya tersenyum ramah melihat sosok gadis Gryffindor itu.
"Selamat pagi." Sapa Cedric, "Bagaimana kabarmu hari ini?"
Harriet hanya tersenyum, "So-so."
"Dari mana kamu dapat itu?" Tanya Krum tiba-tiba di tengah pembicaraan Harriet dan Cedric, dan jujur saja, Harriet merasa ia baru kali ini mendengar Seeker Bulgaria itu bicara, Inggrisnya terdengar sangat berat dengan aksen. Gadis berambut hitam itu menatap apel di tangannya sebelum ia ingat bahwa ia tengah mengenakan mantel Draco. Pipinya memerah, dan ia hanya tersenyum malu kepada Krum.
"Draco." Ucap Harriet setengah berbisik, kemudian ia berjalan melewati Draco dan duduk di samping Cedric. Krum hanya memperhatikannya sambal mengangguk-angguk seakan ia mengerti, ada senyuman kecil di wajahnya, membuat wajah Harriet semakin memerah, dan Cedric terlihat bingung.
Sebagaimana ingin mereka untuk tetap berbincang, mereka bertiga serentak menengok ke arah pintu masuk, memperhatikan Fleur yang baru masuk ke dalam tenda bersama Madame Maxime, Dumbledore, Karkaroff dan Barty Crouch. Diluar, Harriet dapat mendengar gemuruh suara murid-murid yang akan menonton tugas Turnamen Triwizard pertama, menandakan sebentar lagi tugas mereka akan dimulai.
"Berkumpulah, Champions." Ujar Crouch, dan ia berdiri di tengah Harriet dan Cedric, sementara Madame Maxime berdiri di samping Fleur, dan Karkaroff berdiri di samping Krum. Harriet memperhatikan Crouch yang menarik keluar sebuah kantong kain kecil yang nampaknya memiliki isi mahluk yang bergerak-gerak. "Di dalam kantong ini, ada beberapa pilihan… mahluk, yang akan kalian hadapi nanti di tugas pertama. Ada empat pilihan, dan kita akan mengundinya." Crouch berdeham dan mengajukan kantong tersebut kepada Fleur, "Silahkan."
Gadis berpakaian tracksuit baby blue itu dengan enggan memasukkan tangannya kedalam kantong, kemudian mengeluarkan seekor miniature naga, seekor Welsh Green dengan angka tiga melingkar di lehernya. Setelah Fleur, giliran Viktor untuk mengambil miniature naga dan ia mendapatkan naga Chinese Fireball, angka dua melingkar di leher naga tersebut. Cedric kemudian memasukkan tangannya, dan ia mendapat Swedish Short-Snout, dan naas, angka satu melingkar di lehernya. Dumbledore menepuk-nepuk punggung Cedric, tapi Harriet yang memiliki wajah pucat, dan dengan enggan ia memasukkan tangannya ke dalam kantong, sudah tahu dengan nasib apa yang akan menimpanya. Hungarian Horntail.
"Baiklah, begitu." Ujar Crouch setelah setiap juara sudah memiliki miniature naga mereka masing-masing. "Tugas kalian adalah untuk mengambil sebuah telur emas yang ada di antara telur naga, dan isi dari telur emas itu adalah petunjuk untuk tugas berikut kalian. Baiklah, dalam hitungan ketiga, Mr. Filch akan menembakkan meriam dan–"
Hitungan belum dimulai, dan Filch sudah menembakkan meriam. Diluar sana, grup orchestra mulai memainkan music. Crouch menghela nafas, sementara kepala sekolah Beuxbatons dan Durmstrang nampak menyemangati murid mereka, Dumbledore hanya tertawa kecil dan menepuk punggung Harriet dan Cedric. "Best of luck, kalian berdua! Semoga dengan dibukanya kembali turnamen ini, Hogwarts akhirnya akan memiliki Triwizard Cup." Dan dengan itu, lelaki dengan janggut panjang itu berjalan keluar dari tenda, tidak ada tambahan tentang mantra apa yang harus mereka pakai, atau apa yang harus mereka lakukan in general.
Cedric hendak berjalan keluar dari tenda ketika Harriet menahan lengannya, dan Cedric hanya menatapnya dengan bingung. "Cedric, Uh…" Harriet terdiam, "Good luck. Usahakan untuk tidak kembali dengan terlalu banyak luka…?" Ucapnya ragu, tapi kemudian ia tersenyum. "Aku tidak peduli kalau kau mendapat skor lebih tinggi dari aku, aku hanya berharap Hogwarts yang menang. I'm rooting for you, Cedric."
Mendengar itu, Cedric tersenyum lembut, dan ekspresi wajahnya terlihat lebih lega dari sebelumnya. Ia menepuk pipi Harriet (ia tidak bisa mengacak rambutnya karena rambut Harriet hari ini dikepang rapih) sembari tertawa, "I'm rooting for you too, Harriet."
Dan dengan itu, Harriet menghabiskan waktunya mengintip bagaimana tugas pertama berlangsung dari balik tirai yang membatasinya dengan arena naga.
xxx
"Tiga juara Turnamen Triwizard telah memperlihatkan keberanian mereka dalam melawan naga!" Seru suara Dumbledore yang menggelegar karena mantra Sonorus. "Masing-masing dari aksi mereka menarik, tetapi, apakah juara keempat kita akan memperlihatkan aksi yang sama menariknya dan sama beraninya? Mari kita sambut juara keempat kita, dari Hogwarts, Harriet Potter!"
Mendengar itu, Harriet melepaskan mantel Draco dan meletakkannya di kursinya. Ia berjalan dengan tegap dan yakin, keluar dari tenda tanpa sedikit pun rasa takut. Satu hal yang ia pelajari dari Moody, adalah untuk tidak memperlihatkan ketakutannya di wajahnya kalau ia akan berangkat perang. Harriet menarik keluar tongkat holly-nya, dan menghentikan langkahnya. Ia sadar bahwa seisi Hogwarts kini tengah memperhatikannya, tapi tidak ada seorang pun yang mengeluarkan suara untuknya. Ia tidak peduli, fokusnya ada di sarang naga yang menaungi telur-telur besar, dan diantaranya ada telur emas yang ia butuhkan itu. Untuk sesaat, kilau di matanya sama mematikannya dengan kilau hijau Avada Kedavra.
Tiba-tiba saja, ekor berduri naga Hungarian Horntail mengibas hanya beberapa inci dari wajahnya, dan dengan reflex Seekernya yang cepat, Harry mengambil dua langkah mundur. Ia menggigit bibirnya saat ia sadar bahwa pipinya terbaret, dan darah mulai mengalir dan menetes dari dagunya. Untuk sesaat, mata hijau Harriet bertemu pandang dengan mata emas sang Hungarian Horntail, dan bagi yang memperhatikan, mereka dapat melihat tatapan mematikan di keduanya.
Si naga Hungarian Horntail itu mengerang, suaranya bergema dan Harriet menggunakan kesempatan itu untuk berlari keluar dari mulut gua dimana sedari tadi ia berdiri ke sisi lain, dengan satu ayunan cepat, Harriet berseru, "Accio Firebolt!"
Seruan Harriet dibalas dengan erangan yang lebih keras dari si naga dan kini ditemani dengan kobaran api. Harriet mengayunkan tongkatnya dengan cepat dan tanpa mengucapkan satu kata pun, sebuah perisai emas terbentuk dari ujung tongkatnya, melindunginya dari kobaran api yang panas. Ketika sang naga selesai mengobarkan apinya, Firebolt milik Harriet meluncur dengan cepat, dan gadis Gryffindor itu melompat naik ke sapunya dan terbang melesat ke langit, menghindari setiap kibasan ekor berduri sang naga dengan jarak yang sangat mengkhawatirkan, tetapi naga Hungarian Horntail itu hanya bisa mengerang keras ketika ia melihat Harriet lolos dari kibasan ekornya yang mematikan. Ia tidak bisa mengejar gadis itu, kakinya terbelenggu dengan besi.
Harriet tersenyum kecil, matanya menatap tajam sang naga itu dari atas, dan ia mengacungkan tongkatnya ke arah sang naga. "Glaceaculum!" Teriaknya, dan dari langit, muncul berpuluh-puluh tombak yang dibuat dari es, dan tombak tersebut mengitari sang naga, sebelum akhirnya muncul satu tombak es yang lebih besar dari yang lainnya. Tombak tersebut melesat cepat mengarah ke sang naga, dan dengan cepat, Harriet mengikuti lesatan tombak hasil ciptaannya, mengarah ke telur emas tersebut. Akan tetapi naga Hungarian Horntail itu lebih pintar daripada yang Harriet duga, ia menghembuskan apinya dan melelehkan es disekitarnya, menghindari satu tombak es terakhir yang mematikan dan dengan satu kibasan ekornya, ia memukul Harriet dengan keras, menjatuhkannya dari Fireboltnya.
Harriet terpelanting, badannya mengenai dinding batu di belakangnya dan ia meringis. Ia dapat merasakan darah mengalir di punggungnya, dan ia dapat mendengar para penonton yang menarik nafas khawatir. Ia dapat melihat beberapa Auror yang memang distasiunkan untuk menjaga Turnamen ini bersiap, dan raut wajah Harriet langsung mengeras saat itu juga. Ia mengayunkan tongkatnya, dan dengan senyuman sinis, ia berbisik sangat lembut dengan Parselmouth. "Hydrasortia Leviathan."
Dalam sekejap, muncul seekor naga air raksasa di hadapannya, dan dengan patuh, ular air itu menunggu perintah dari Harriet. Ia dapat mendengar seruan kaget dari penonton sekarang, tetapi ia hanya tersenyum kecil dan mengucapkan perintahnya kepada sang Leviathan yang ia panggil, tentunya menggunakan Parselmouth, "Jangan sampai naga itu melihatku mengambil telur emasnya."
"Tentu saja, milady…" Balas Leviathan tersebut, ia mengerang dan terbang kearah sang Hungarian Horntail yang kini mengerang ketakutan. Harriet mengayunkan tongkatnya dan memanggil Fireboltnya tanpa bicara, dan setelah menunggangi sapu terbang hadiah Godfather-nya, Harriet menoleh, ia sempat melihat sekelebat gerakan dari naga air yang ia panggil, menyemburkan air ke arah Hungarian Horntail yang mengerang marah. Gadis berambut hitam itu kembali fokus ke depan, dan ia melesat yakin, meraih telur tersebut ke dekapannya sebelum ia kembali ke arah mulut gua darimana ia datang.
Sorak sorai terdengar dari seluruh penonton, dan ketika Harriet menoleh, ia tercengang ketika ia melihat bahkan murid Beuxbatons dan Durmstrang bertepuk tangan meriah untuknya, dan murid-murid Slytherin pun bertepuk tangan (kecuali beberapa wajah yang ia kenali) untuk Harriet, nampaknya kagum dengan apa yang baru saja ia tunjukkan. Gadis berambut hitam itu tersenyum tipis, sebelum ia merasakan Moody menariknya ke arah tenda First Aid, dan dibalik wajah sangarnya itu, Harriet dapat melihat ada perasaan bangga di ekspresinya.
"Good job, kid," ucap Auror tersebut, "Pekerjaan yang bagus dalam menggunakan Glaeculum. Hanya saja, mantra terakhirmu itu sedikit…"
"Mencolok." Tukas Harriet, tapi Auror tersebut hanya terkekeh mendengar jawab Harriet. "Oh well, aku belajar dari Auror hebat…"
"Pujian tidak akan membawamu kemanapun, kid." Balas Moody sembari membawanya masuk ke dalam tenda First-Aid, dan Harriet melihat Krum, Fleur dan Cedric tengah diobati oleh Healer. "Oi, Healer, cepat perbaiki anak ini sebelum semua kepintarannya hilang."
Harriet hanya melengos setengah bercanda ketika seorang Healer menariknya untuk duduk di tengah Fleur dan Cedric. Gorden yang membatasi Harriet dan Cedric kemudian tertutup, dan Healer tersebut membuka pakaian Harriet mendadak, membuat gadis itu menarik nafas, terperanjat, membuat Fleur menatapnya dengan lama. Rona pink di pipi Harriet nampaknya semakin menjadi, dan ia menolehkan wajahnya.
"Hydrasortia…" ucap Fleur dengan kagum, mata birunya menatap Harriet. "Impressive. Sepertinya kita meremehkanmu, Potter."
Harriet hanya tersenyum mendengarnya.
xxx
Harriet tengah makan di dapur seorang diri ketika Cedric masuk ke dalam dapur, dan keduanya sama-sama terkejut ketika saling melihat satu sama lain. Nampaknya, mereka kira hanya mereka yang mengetahui letak dapur Hogwarts yang tersembunyi dibalik lukisan buah.
"Harriet –"
"Cedric–"
Lagi-lagi, keduanya saling menatap dengan awkward. Cedric tertawa gugup, dan Harriet merasa pipinya memanas karena salah tingkah. "Uh–" Cedric berdeham, memutuskan untuk menjadi orang yang membuka pembicaraan, "Aku tidak tahu kamu tahu tempat ini."
"Harusnya itu menjadi kalimatku, Cedric." Balas Harriet sambil tersenyum, kemudian ia mengayunkan tongkatnya, mentransfigurasi sebuah sendok menjadi kursi kayu yang kini bertengger di sampingnya. "Aku tahu tempat ini sejak tahun keduaku. At one time, semua orang yakin sekali bahwa aku ini keturunan Slytherin sampai-sampai aku tidak bisa makan dengan tenang… jadi aku mencari ketenangan ke sini." Jelas Harriet, nampaknya sudah dapat menduga apa yang akan ditanyakan Cedric, yang kini duduk di samping Harriet. "Dan untuk apa kamu kesini, hmm? Golden Boy? Mulai lelah dengan publisitas yang berlebihan?"
"What? No!" Cedric tertawa dan mengibaskan tangannya, tapi tatapan mata hijau Harriet yang tidak menunjukkan ekspresi membuat Cedric menghela nafas dengan cepat. "Oke, fine. Aku lapar, tapi aku lelah meladeni orang-orang dan harus beramah-tamah dengan mereka, puas?"
"Welcome to the club!" Ujar Harriet sambil tertawa, dan kembali memakan es krim strawberry langsung dari tube-nya, membuat Cedric sedikit tergelitik ketika memperhatikan gadis yang seharusnya menjadi penyelamat dunia sihir ini. Ia sempat meminta satu porsi makan malam kepada seorang house-elf yang menatapnya dengan matanya yang berseri-seri sebelum Harriet kembali berbicara, "Anyhow, bagaimana kabarmu? Kudengar kamu menghabiskan satu minggu ekstra di Hospital Wing karena si naga."
Cedric tertawa, dan ia menggaruk-garuk belakang kepalanya, pipinya tersipu malu. "Well, seperti yang kamu lihat, aku sudah baik-baik saja." Jelasnya, "Paling tidak aku tidak harus menggunakan back support seperti seorang juara lain yang aku kenal…"
Harriet memicingkan matanya, dan ia mencolek es krim stroberinya sebelum menorehkannya ke pipi Cedric tanpa ragu-ragu. "Shut up."
"Hey! Kamu tidak ada sopan-sopannya dengan kakak kelas!" Cedric mengusap pipinya yang kini terasa lengket, tapi ia hanya tertawa melihat tingkah Harriet yang nampaknya lebih sesuai dengan usianya. Belakangan ini, ia merasa bahwa gadis Gryffindor ini menjadi sangat pendiam dan penyendiri, membuatnya merasa khawatir. Ia mengucapkan terima kasih kepada house-elf yang datang menghampirinya untuk memberikannya sepiring pasta, kemudian ia bertanya kepada Harriet, "Bagaimana kabar telur emasmu?"
Ketika Cedric menyebutkan telur emas, Harriet menatapnya sembari menghela nafas, wajahnya seperti meneriakkan keputusasaan yang tak terbendung. "Oh, sehat sekali. Ia sangat bertenaga, kemarin aku cek ia masih menjerit dengan penuh semangat sampai-sampai aku mengira aku sudah membuat seisi asrama Gryffindor tuli."
Cedric harus menahan mulutnya dengan tangannya agar ia tidak tersedak, dan Harriet hanya menatapnya sambil nyengir. "Telurku juga masih begitu, cheer up."
Harriet hanya tersenyum sembari melirik jam tangannya (juga pemberian Godfathernya), dan secara tiba-tiba, ia meletakkan es krimnya di meja dan mengenakan jubahnya kembali. "As much as I would like to talk to you, Ced, aku harus pergi. Aku ada janji dengan orang," Harriet kini merapihkan rambut hitamnya, dan ia memeluk Cedric secara singkat sebelum ia berjalan kea rah pintu, melambaikan tangannya. "Ta-tah!"
Otak Cedric nampaknya masih memproses apa yang baru saja terjadi, dan pipinya memanas. Sepertinya Harriet Potter, the Girl-who-Lived, yang juga merupakan objek dari pikirannya belakangan ini telah memeluknya dengan sukarela, dan ia baru saja menghabiskan sekitar 10 menit berduaan dengannya, dan kenapa, oh Merlin, kenapa ia tidak mengajaknya ke Yule Ball? Ia dan Harriet sama-sama juara dari Hogwarts, kalau mereka berdua pergi bersama tidak akan ada yang curiga atau membicarakan hal tersebut, dan tentu saja, Harriet tidak akan menolaknya.
Cedric meletakkan piringnya dan melesat keluar, nama Harriet nampaknya sudah tersangkut di lehernya ketika ia melihat gadis berambut hitam itu tengah bergandengan dengan seorang murid Durmstrang berambut pirang, dan senyuman di wajah Harriet nampak lebih cerah dengan yang ia tunjukkan kepada Cedric.
Melihat itu, juara Hufflepuff tersebut hanya bisa menghela nafas sangat panjang.
