" Lavender and Blonde Story "
.
.
.
Pairing : NaruHina
Genre : Romance, Drama
Rated : T
Warning : AU, OOC, Miss-typo(s), dont like? dont read then
Disclaimer: ~ Masashi Kishimoto ~
.
.
.
-Setelah beberapa jam latihan-
"Aku pulang duluan ya," Shikamaru berkata demikian sesaat setelah pria berambut nanas itu menyambar tas hitam miliknya.
"Eh? Buru-buru amat? Mau kemana?" Sai yang tengah menyantap makan siangnya spontan berkata demikian begitu melihat Shikamaru mengambil tas miliknya di sebelah tempatnya duduk sekarang.
"Ada deh. Pokoknya, urusan penting," balas Shikamaru sambil tersenyum.
"Maaf ya, hari ini tidak bisa ikut beres-beres. Sampai jumpa," lanjutnya kepada seluruh teman-temannya dalam studio itu. Kemudian, Shikamaru setengah berlari meninggalkan studio tersebut.
"Dasar si Nara itu, maunya enak-enakan saja," Sasuke berkata setengah kesal sambil memberikan pendapatnya mengenai kepergian Shikamaru yang misterius.
"…" Naruto hanya tersenyum. Dia tahu betul kemana Shikamaru akan pergi.
Pria berambut Pirang itu jadi memikirkan, bagaimana jika dirinya mempunyai seorang kekasih.
'Apakah aku akan memikirkannya setiap hari seperti Shikamaru yaa?" katanya dalam hati.
"Yah, sudahlah. Dia kan ada urusan penting. Lebih baik, ayo kita bereskan studio ini," lanjut pemuda Uzumaki itu sambil mulai membereskan alat-alat musik mereka.
0-0-0-0-0-0
-Setelah selesai membereskan studio-
"Sampai besok!" Sai yang tampak masih bersemangat melambaikan tangan kearah Naruto dan Sasuke, mengingat arah rumah Sai berlawanan dengan rumah Sasuke dan kost-an Naruto.
"Sampai besok, Sai," balas Naruto sambil melambaikan tangannya kearah sahabatnya tersebut.
"….." Sasuke hanya membalas lambaian tangan Sai dengan senyuman tipis.
-Di perjalanan menuju rumah Sasuke dan kost-an Naruto-
"Hei, Naruto, kau pernah menyukai seorang gadis, tidak?" Sasuke bertanya demikian sambil tersenyum kecil.
"….." sementara yang ditanyai hanya membalas menatap Sasuke dengan heran.
"Kenapa tiba-tiba kau bertanya begitu?" kata Naruto kemudian.
"Tidak apa-apa, aku hanya berpikir, Shikamaru dan Sai telah memiliki seorang kekasih. Tidakkah ini merupakan saat yang tepat bagi kita untuk melepas masa lajang?" tanya putra Uchiha itu.
"….." Naruto hanya membalas Sasuke dengan tatapan bingung .
Namun, saat dirinya memikirkan kembali perkataan Sasuke, sejenak, diotaknya terlintas kembali pikiran yang sama seperti saat dia menyanyikan lagu 'Hitam dan Putih' beberapa jam lalu.
Gadis yang sama.
'Apakah, dia telah memiliki seorang pria yang disukainya?'
Sebelum putra tunggal Uzumaki itu terbenam dalam pikirannya lebih jauh, Naruto segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Kenapa kau tanya begitu? Memang kau sendiri bagaimana? Sudah punya calon?" setelah beberapa kali terdiam, akhirnya Naruto membalas perkataan Sasuke.
"Calon… Sudah ada," balas Sasuke sambil tersenyum.
"Hah?! Nani?!" Naruto mendadak kaget mendengarnya.
"Siapa namanya?" tanya Naruto sambil memperhatikan pria disampingnya ini yang sekarang sedang tersenyum-senyum, sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Namanya Sakura dari fakultas Sastra Jepang, anak baru," jawab Sasuke yang masih tersenyum menatap langit sore itu.
'Sakura? Seperti nama kekasihnya Shikamaru…,' pikir vokalis berambut Pirang itu sejenak.
"Sakura?" tanya Naruto sekali lagi.
"Siapa nama panjangnya?" lanjutnya spontan.
"Emmm," Sasuke berpikir sejenak.
"Entahlah, aku baru bertemu dengannya dua kali. Nanti akan kutanyakan, pasti!" jawab pria berambut Emo itu dengan sangat bersemangat.
"…" Naruto hanya merenung sepanjang perjalanan. Sementara itu, Sasuke hanya berjalan sambil terus tersenyum dengan pikirannya kini. Putra Uzumaki itu menoleh kearahnya dan hanya melempar senyum.
'Ah, mungkin bukan Sakura kekasih Shikamaru, ya? Tapi... yang namanya Sakura dikampus ini hanya dia seorang kan?' batinnya kemudian.
0-0-0-0-0-0
-Jam 12 siang. Saat istirahatmakan siang di kampus Konoha Daigaku-
"Hinataaa..!" teriak seorang gadis berambut pink pendek yang mengenakan t-shirt merah dan celana panjang hitam.
"Eh, Sakura. Kau datang juga, aku sudah menunggu lama tahu. Kemana aja?" tanya Hinata yang tengah mencari sesuatu dalam tas selempang ungunya.
"Kau belum pesan makanan? Pasti sibuk memikirkan bagaimana cara mendapatkan si vokalis, ya? Hahaha," Sakura berkata keras kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Sst…" gadis berambut Indigo itu memukul paha Sakura dengan keras karena sedetik setelah sahabatnya itu menyelesaikan omongannya, beberapa orang di kantin segera melempar pandangan kearah mereka berdua.
"Ayo pesan makanan," kata Hinata dengan wajah memerah.
"Bibi, aku pesan ayam bakar dengan nasi," lanjutnya sambil menghampiri salah seorang penjual makanan di kantin itu.
"Eh, kau mau makan ayam bakar?" tanya Sakura sambil meletakkan tangannya dipundak Hinata. "Bibi, aku juga mau! Pesan dua ya!" teriaknya kemudian.
"Kalian mau bagian ayam yang mana, nona-nona yang manis?" tanya penjual makanan itu dengan nada ramah.
"Tolong dada ayamnya bibi, terima kasih," balas putri Hyuga itu sambil tersenyum manis.
"Aku juga!" kata Sakura dengan nada ceria.
Tidak lama kamudian, dua piring ayam bakar yang lezat sudah berada tepat dihadapan kedua gadis itu.
"Ayam bakarnya enak sekali. Bumbunya meresap sampai ke tulang. Bagaimana cara membuatnya ya?" tanya Hinata dengan mata berbinar saat memasukkan suapan pertama makan siangnya ke mulutnya.
"Entahlah. Yang penting, isi perut sampai kenyang," balas Sakura yang asyik memakan ayam bakarnya.
"Eh, Hinata, kau kenal dengan gitaris Ada Band, Sasuke dari fakultas Sastra Jepang?" tanya putri tunggal Haruno itu tiba-tiba.
Hinata mengalihkan pandangannya dari ayam bakarnya ke wajah Sakura.
"Gitaris Ada Band? Sasuke Uchiha maksudmu? Tentu saja aku sering melihatnya di televisi bersama Naruto-kun. Tapi aku memang pernah melihatnya di gedung fakultas Matematika. Apa dia kuliah disini juga?" tanyanya kemudian.
"Ya," jawab Sakura singkat.
"Aku baru saja mendaftar ke klub kebudayaan Jepang dan ternyata dia adalah salah satu anggota klub itu yang kebetulan mengurusi penerimaan anggota baru," sambungnya.
"Lalu, ada apa?" tanya Hinata kemudian.
"Aku tidak tahu, apakah hanya perasaanku saja atau bukan tapi diantara para senior klub itu, dia sangat baik padaku. Berbeda dengan senior lain yang bersikap agak ketus pada para anggota baru. Dan aku merasa sepertinya dia hanya bersikap begitu padaku," jelas Sakura panjang lebar.
"Wah, kau ge-er sekali! Terlalu pede menurutku!" respon Hinata setelah mendengar penjelasan Sakura.
"Kau tidak melihatnya langsung, sih!" protes Sakura segera.
"Dia memang sangat baik padaku. Tapi karena perlakuannya yang berbeda kepadaku, para senior di klub kebudayaan Jepang jadi meledekku didepan seluruh anggota klub. Aku tidak suka," lanjut gadis berambut hitam itu kesal.
Hinata hanya mengelus-elus punggung sahabatnya itu.
"Tidak usah kesal begitu," katanya lembut.
"Yah, mungkin dia menaruh minat padamu karena kau begitu concern dengan kebudayaan Jepang," lanjutnya.
Seketika Hinata teringat sesuatu dan dia menepuk pundak Sakura dengan keras.
"Sakura, dia sudah tahu kalau kau pacarnya Shikamaru-senpai, kan?" tanya gadis berambut Indigo itu tiba-tiba.
"Entahlah," jawab putri tungal Haruno itu singkat.
"Tapi Shikamaru kan satu band dengan dia, seharusnya dia tahu walaupun Shikamaru belum pernah mengenalkanku pada teman-teman di band-nya kecuali si vokalis, kan?" tanya Sakura lagi dengan nada bingung.
"Yah.. Kita harap saja begitu, tapi…" Hinata menggantung ucapannya.
"Bagaimana jika dia benar-benar menyukaimu, Sakura? Kau kan cantik!" lanjutnya.
Sakura membelalakan matanya, "Hei! Kau bercanda ya? Kau lebih cantik dari aku, tahu! Lagipula, itu tidak mungkin. Aku juga masih bingung kenapa Shikamaru memilihku sebagai pacarnya," katanya kemudian yang mengakhiri kalimatnya dengan nada suara rendah.
"Hei, kalau kau bilang begitu, aku lebih jelek, dong!" Hinata berkata dengan nada bersemangat. "Aku kan belum punya pacar!"
"Mungkin karena si vokalis belum mengenalmu. Kau harus mencoba mendekatinya. Jika tidak, bagaimana dia tahu perasaanmu padanya?" kata Sakura yang sedang memasukkan suapan daging ayam bakar terakhir di piringnya ke dalam mulutnya.
Kedua gadis itu berpandangan. Hinata segera merasa pipinya memerah dan dia segera menundukkan kepalanya.
"Sakura, A-aku masih bingung bagaimana cara mendekatinya. Saat berkali-kali dia sedang ada didekatku aku malah langsung nervous, aku bingung mau berkata apa, jadi aku hanya diam saja… Aku sama sekali tidak tahu bagaimana kesan pertamanya tentang diriku. Padahal sudah bagus waktu itu dia menghampiriku dan mengajakku berkenalan, tapi, aku malah…" gadis Hyuga itu menghela nafas frustasi.
"Aku takut, jika aku mendekatinya dengan cara yang salah, dia malah menjauhiku.." lanjutnya pelan.
"Mana mungkin dia tega menjauhi gadis semanis kamu, Hinata," kata Sakura sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Ayo cuci tangan, ayam bakarmu sudah habis, kan? Aku ada kuliah jam setengah satu, jadi harus buru-buru nih," lanjutnya sambil berjalan menuju tempat pencucian tangan.
Kedua gadis dengan warna rambut berbeda itu mencuci tangan dan merapikan rambut mereka yang berantakan. Kemudian, menyambar tas mereka masing-masing dan berjalan keluar kantin bersama.
"Eh, kau ada janji dengan Shikamaru-senpai hari ini, tidak?" tanya Hinata saat mereka melanglah keluar dari kantin yang seperti tidak pernah sepi pengunjung.
"Tidak, sih. Tapi Shikamaru bilang dia mau mengantarku pulang hari ini," jawab Sakura agak malu-malu.
"Wah, wah.. Masa tidak mau mampir untuk hangout bersama yang romantis, gitu?" tanya gadis berambut Indigo itu jahil sambil mengedipkan mata kanannya.
Pipi Sakura agak memerah. Ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, hari ini Shikamaru ada latihan dengan bandnya. Mereka kan sedang dalam tahap merilis album baru, jadi para personilnya begitu sibuk. Aku duluan ya!" kata Sakura yang melambaikan tangannya dan setengah berlari menuju gedung fakultas sastra.
Hinata hanya melambai dan tersenyum memperhatikan sahabatnya itu menjauh hingga hilang dari pandangan.
'Kau sungguh beruntung, Sakura, kau tahu? Mungkin aku tidak seberuntung kau,' batinnya dalam hati. Kemudian, gadis yang rambutnya diikat atas itu menggelengkan kepalanya cepat.
"Astaga, Hinata. Mikir apa sih, kamu?! Harusnya kamu optimis, dong.." kata gadis itu pelan sambil memukul-mukul kepalanya.
0-0-0-0-0-0
-Di studio tempat Ada Band biasa latihan-
"Ya ampun! Mereka kemana, sih?" tanya Sai dengan nada kesal.
Wajah penuh semangat yang ia pasang sewaktu melangkah mantap kedalam studio musik sudah berubah menjadi wajah bad mood. Bayangkan saja, si vokalis berambut Pirang yang sudah menyebarkan sms agar segera bergegas pergi ke studio untuk menyelesaikan lagu 'Akal Sehat' agar album mereka lebih cepat rilis, tidak terlihat batang hidungnya dua jam setelah itu. Begitu pula dengan Sasuke dan Shikamaru yang belum juga datang.
Tadi Sasuke mengabarinya bahwa dia ada kegiatan tambahan di klub kebudayaan Jepang. Sementara, Shikamaru mengabarinya jika dia ingin mengantar kekasihnya pulang dulu baru pergi ke studio. Tapi!? Sai memainkan gitarnya dengan frustasi. Dia mengacak-acak rambutnya hingga rambutnya yang mengilap rapi itu menjadi berantakan.
Ia kembali mengambil gitarnya dan mulai memetik gitar tersebut dengan chord untuk reff lagu Hitam dan Putih.
"Ku~ja~tu~h…. Cinta~a~a~ Lagii…."
"Lagu macam apa itu?"
Sai menoleh kearah pintu masuk studio dan menemukan si vokalis sudah berdiri disana sambil melipat kedua tangannya.
Pria berambut hitam itu mengacungkan jari telunjuknya ke arah Naruto.
"Kemana saja kau! Tidakkah kau tahu aku hampir menjadi fosil disini?!" katanya sambil berteriak.
Si vokalis berambut Pirang itu hanya tersenyum sambil menatap sai, kemudian melangkah masuk kedalam studio musik.
"Maaf, maaf, aku tersesat di jalan bernama kehidupan," kata Naruto yang masih tersenyum sambil mengacak-acak rambut belakangnya.
"BOHONGG!" teriak Sai luar biasa keras. Pemuda Uzumaki itu langsung refleks menutup kedua telinganya dengan tangannya.
"Yare-yare, Sai, yang penting kan aku sudah datang. Jadi tidak masalah, kan?" tanya si vokalis dengan lambat-lambat. "Eh, mana Sasuke dan Shikamaru? Mereka belum datang?" tanya pria berambut Pirang itu mengalihkan pembicaraan.
Sai yang tadinya masih kesal pada Naruto, memutuskan untuk memadamkan amarahnya.
"Belum, tuh. Tadi si Sasuke kasih kabar katanya dia ada kegiatan tambahan di klub kebudayaan Jepang. Shikamaru, kau tahu sendiri asyik sama pacarnya," jelas Sai sambil menunjukkan hp-nya. "Nih! Kalau kau tidak percaya, baca aja!"
Naruto mengambil hp Sai dan membaca tulisan pada layarnya.
Pria itu menghela nafas panjang.
"Sepertinya, album Heaven of Love tidak bisa rilis secepat perkiraanku," gumamnya pelan.
"Tentu saja!" seru Sai yang sepertinya semangatnya telah kembali.
"Bayangkan saja, untuk membuat satu album, ada belasan lagu. Untuk membuat lagu, dibutuhkan suara si vokalis dan instrumen pengiring serta video klip yang bagus. Kalau saja si vokalis selalu telat rekaman, si gitaris selalu sibuk dengan klub kebudayaan Jepang, dan si pemain keyboard asyik menghabiskan waktu dengan pacarnya, sementara si pemain drum saja yang serius rekaman, album kita jadinya instrumen drum semua, dong!" lanjut Sai sambil memasang tampang narsis, sementara si vokalis hanya bengong melihatnya.
"Yoooo...!"
Suara dari pintu masuk mengagetkan kedua pria dengan warna rambut berbeda itu. Mereka menoleh bersamaan ke arah pintu dan melihat seorang pria berambut model nanas dengan mata hitam sedang berdiri di ambang pintu sambil melepas sepatunya.
"Shikamaru, akhirnya kau datang juga," sapa Naruto ramah. "Ayo masuk," ajaknya kemudian.
"Enak, ya? Bisa senang-senang sama pacarmu sementara kau membiarkan temanmu menjadi fosil disini selama tiga jam!" seru Sai sambil berteriak dan mengacungkan jari telunjuknya berulang-ulang pada Shikamaru, sementara yang ditunjuk-tunjuk cuma nyengir salah tingkah.
"Maafkan aku, Sai," gumamnya sambil meletakkan tasnya di meja yang berasa di sudut studio tersebut. "Kau sendiri tidak ada janji dengan Ino? Kalian kan baru jadian," lanjutnya sambil duduk di belakang keyboard putihnya dan mulai mengecek kenyaringan suara alat musik keahliannya tersebut.
"Nah, sekarang, mana si…"
"Heyyy...!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued~~~
A/N : Gomennn updatenya lamaa? :p
Gimana pendapat readers semua? Saya sangat membutuhkan komen, kritik, dan saran dari kalian semua lho.. Harap review ya :) Dan oh, iya, author boleh minta pendapat dari readers sekalian tentang bagaimana gaya menulis author? Udah bagus apa belum, maksudnya, hehehe :D
Oke, sekian. Sekali lagi, tolong berikan pendapat kalian semua tentang fic saya ini yaa :) Tolong review yah untuk menyulut semangat saya lanjut ke chapter berikutnya :D
See u on next chapter! ^^
