Title : Want to Meet You Again

Rated : K+

Genre : Angst/Friendship

Main Pairing : All Primo Guardian x TYL 27

Major Pairing : All Primo Guardian x Giotto

Disclaimed : Want to Meet you Again © Me

KHR © Amano Akira

Warning : Gaje, AU story, Character Death, OOC, slight AG

Chapter 4, Alaude-Cloud Guardian

'Aku akan selalu menjadi awan hitam yang akan menutupi semua kesedihan dan juga ketakutan dari langit...'

~Alaude, In Memorian with Giotto


Langit kala itu terlihat cerah, berwarna biru tanpa ada awan hitam satupun. Laki-laki berambut krem itu berjalan disekitar taman depan markas Vongola. Ia hanya diam dan melihat kearah markas.

'Apakah kau merasakannya Giotto...? Markas ini terasa tidak hidup tanpa adanya kau...' Ia hanya berjalan dan menutup matanya sesekali. Semenjak kematian Giotto, entah kenapa ia malah tidak ingin meninggalkan markas yang menjadi tempat terakhir ia bertemu dengan Giotto.

"Kalau saja... Kita bisa bertemu lagi dikehidupan selanjutnya..."

-*_*Flash Back*_*-

Sebagai seorang pemimpin agen intelegensi rahasia disebuah negara, laki-laki itu sudah biasa membunuh orang-orang yang tidak bisa mengalahkannya. Seperti sekarang, ia membunuh semua orang disebuah kelompok penjahat yang meresahkan semua orang di Italia.

'Aku tidak mengerti kenapa mereka tidak bisa membunuh herbivore-herbivore ini...' Orang itu menghela nafas dan mencoba untuk melihat sekelilingnya yang penuh dengan darah itu.

"Jadi... Kau yang bernama Alaude?" Suara itu mengejutkan Alaude dan ia menatap mata kuning itu. Giotto hanya tersenyum dan melihat Alaude. "Senang bertemu denganmu..."

"..." Alaude hanya menatapnya dengan pandangan dingin. Beberapa detik kemudian, Alaude sudah memborgol tangan Giotto dan melingkarkan tangannya dileher Giotto untuk bersiap mencekiknya.

"Primo!" G, Ugetsu, dan Knuckle bersiap untuk menyerang, tetapi Alaude mengeluarkan pistol dan menembak kearah mereka. Hampir saja mereka tertembak kalau mereka tidak menghindar.

"Jangan bergerak..." Alaude menempelkan pistol itu dipelipis kanan Giotto. "Kalau kalian memang ingin dia kembali dalam keadaan hidup."

"..." Giotto hanya diam dan menutup mata. Tetapi detik kemudian, ia malah tertawa kecil sambil tetap tidak bergerak. "Sesuai dengan apa yang aku dengar..."

"Kenapa kau tertawa..." Alaude hanya menatapnya dengan tatapan dingin. Ia mengeratkan tangan kirinya yang merangkul leher Giotto. "Siapa kau... Dan kenapa kau bisa tahu siapa aku..."

"B-Bagaimana kalau pertama kali kau melepaskan tanganmu...?" Giotto sedikit merasa sesak ketika Alaude mengencangkan cekikannya.

"Sebutkan satu alasan kenapa aku harus menurutinya..." Alaude masih tidak bergerak dan tidak melonggarkan cekikannya.

"Kalau kau tidak mau..." Giotto menggaruk dagunya dan memunculkan flame miliknya. "Aku terpaksa menggunakan sedikit kekerasan... Soalnya kalau kau sampai membunuhku, kau akan mati karena mereka..."

"Bagaimana kalau kita membuktikannya?" Alaude menarik pelatuk dipistol itu dan bersiap menembak Giotto.

"G, jangan marah padaku kalau kau melihat apapun yang terjadi setelah ini oke?" Giotto hanya tersenyum dan mengeluarkan flame dari I Glove miliknya. Karena tekanan flame itu, Giotto dan Alaude terdorong kearah dinding menyebabkan dinding itu hancur.

G dan yang lain yang melihat keadaan itu hanya terdiam sejenak dan terlihat shock. "D-dasar, primo apa yang kau lakukan!"

"A-aduh-aduh..." Giotto mengaduh sambil berdiri dan membersihkan beberapa debu yang menempel dibajunya. Ia melihat semua guardiannya, dan hanya menatap mereka dengan tatapan -uhukbegouhuk *dirajam*-. "Ada apa dengan wajah kalian?"

"Ahahaha, itulah Primo yang aku kenal..." Ugetsu hanya tertawa ringan melihat Giotto.

"Eh? Apa maksud kalia-" Ketika Giotto akan berjalan maju, lagi-lagi sebuah borgol mengikat tangannya. Alaude yang berada dibagian borgol yang sebelah lagi hanya menatapnya dengan tatapan membunuh tingkat tinggi.

"Kau... Aku akan membunuhmu..." Alaude mengeluarkan pistol dan juga borgolnya. Giotto hanya terdiam dan tersenyum gugup ketika melihatnya.

Pada akhirnya pertempuran mereka tidak bisa terelakkan. Alaude melakukan serangan bertubi-tubi untuk mencari celah ketika Giotto lengah. Tetapi, tentu saja Giotto tidak mudah untuk dikecoh dan dikalahkan begitu saja.

Pada akhirnya, keadaan mereka sama-sama kelelahan. Alaude dan Giotto saling bertatapan dan nafas mereka sama-sama memburu.

"Ayolah..." Giotto tersenyum kearah Alaude. "Aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu..."

"..." Alaude menurunkan semua senjatanya ketika itu. Memang ia belum mengeluarkan semua kemampuannya. Tetapi, sepertinya staminanya yang membuat ia harus diam dan mendengarkannya. "Katakan..."

"Aku mendengar tentang kekuatanmu..." Giotto melihat kearahnya. "Aku ingin kau bergabung dengan kelompokku..."

"Apa untungnya aku masuk kedalam kelompokmu...?" Alaude membalikkan tubuhnya dan tidak melihat Giotto.

"Karena aku membutuhkan bantuanmu untuk melindungi semua orang... Melindungi semua yang aku sayangi." Alaude melihat kearah Giotto. Orang yang naif, ia tidak pernah menemukan orang-orang yang benar-benar melakukan itu. Tetapi ia berbeda, ia akan melindungi seseorang yang ia anggap penting dan berharga walaupun harus mempertaruhkan nyawanya.

"..." Tetapi, tidak ada salahnya untuk melihat apakah ia memegang teguh apa yang ia katakan bukan? "Apakah aku bisa menghabisi beberapa banyakpun musuh yang aku mau?"

"Hanya orang-orang yang memang bersalah..." Giotto tertawa kecil mendengarkan apa yang Alaude katakan. "Bagaimana...?"

"...Hmph..."

-*_*End*_*-

Ia memang menyetujui ajakan Giotto untuk masuk kedalam kelompoknya. Tetapi, ia tidak pernah mau bekerja sama dengan guardian-guardian lain dan selalu menyelesaikan misi-misinya sendirian.

Ia masih belum bisa mempercayai kata-kata Giotto yang mengatakan kalau ia akan melindungi orang-orang yang orang itu anggap berharga bahkan ia akan mempertaruhkan nyawanya untuk orang itu.

-*_*Flash Back*_*-

Alaude berada diruangan Giotto untuk mengambil misi seperti biasa. Entah kenapa, hari ini ia merasa jika tubuhnya sedang tidak fit seperti biasanya. Tetapi, ia tidak akan mungkin meninggalkan misi hanya karena sakit seperti ini.

Tok...Tok...Tok...

"Primo..." Alaude mengetuk pintu perlahan sebelum membuka pintu ruangan itu. "Apakah ada misi yang bisa aku kerjakan?"

"Alaude? Bukankah kau baru saja menyelesaikan misi kemarin? Bagaimana kalau kau beristirahat sejenak?" Giotto menghentikan pekerjaannya ketika melihat Alaude masuk kedalam ruangannya.

"*uhuk* Kau menanyakan hal itu seperti aku akan melakukannya saja *uhuk*..." Suaranya yang sedikit serak menandakan kalau Alaude sedang sakit ketika itu.

"Ada satu misi..." Giotto mencari diatas mejanya kertas-kertas misi. "Tetapi sepertinya kau sedang tidak sehat... Bagaimana kalau aku ikut dalam misi ini...?"

"Jangan bercanda...*uhuk*" Alaude berjalan mendekat untuk mengambil kertas itu. "Aku tidak suka kalau harus bekerja sama... *uhuk* hanya sakit seperti ini... Tidak akan membuat herbivore-herbivore itu bisa menang melawanku..."

"Aku hanya khawatir padamu..." Giotto memandangi Alaude dengan tatapan khawatir. "Kalau sampai ada apa-apa denganmu, bagaimana?"

"Sudahlah, aku akan kembali secepatnya..." Alaude mengambil kertas itu dan berjalan keluar ruangan itu.

-xOx-

Seluruh musuh yang ada ditempat itu sudah dihabisi oleh Alaude seperti biasa. Tetapi, kali ini kondisi Alaude tidak begitu baik. Wajahnya terlihat pucat dan juga nafasnya sedikit memburu.

"Sepertinya..." Alaude menyandarkan punggungnya ke dinding yang ada dibelakangnya. Hujan turun ditempat itu, dan Alaude bahkan tidak mempunyai tenaga lagi untuk bergerak dari tempat itu. "Ini hari yang buruk untukku..."

Ketika itu, seseorang musuh yang ternyata masih bisa bergerak memegang tombol peledak yang ada ditangannya dan akan meledakkan tempat itu bersama dengan Alaude. Alaude mengetahui itu, tetapi ia benar-benar tidak bisa bergerak dari sana. Pandangannya mulai kabur dan ia tidak bisa berbuat apapun.

"Alaude!" Suara itu yang terakhir kali ia dengar sebelum pada akhirnya ia tidak sadarkan diri.

-xOx-

"...de...Alaude..." Suara itu membuatnya tersadar dari pingsannya. Ketika membuka mata, ia melihat langit-langit yang berwarna putih dan bersih. Lampu gantung yang terbuat dari kristal. Ia mengetahui tempat ini... Tentu saja, ini adalah kamarnya yang berada dimarkas Vongola. Tetapi, bukankah tadi ia berada ditengah-tengah misi dan dalam keadaan bahaya karena musuh membawa peledak?

"Syukurlah kau sudah sadar..." Satu orang yang ia lihat dikamarnya, Giotto yang tersenyum dan menghela nafas lega. Tubuhnya penuh dengan luka yang diperban.

"Kenapa kau ada di-" Alaude yang mencoba untuk bangun merasa pusing dan memutuskan untuk berbaring kembali.

"Demammu sangat tinggi..." Giotto menaruh tangannya didahi Alaude untuk mengukur panasnya. "Kau tidak sadarkan diri selama 3 hari..."

"Lalu, luka itu..." Alaude melihat kearah luka-luka yang ada ditubuh Giotto.

"Oh, aku tidak sempat untuk menghentikan musuh memencet tombol bom itu. Jadi, aku membawamu secepatnya keluar dari tempat itu. Tetapi ledakannya sepertinya sedikit mengenaiku..." Giotto hanya tertawa kecil sambil menggaruk kepala belakangnya. "Tetapi untung saja kau tidak terluka..."

"Bodoh..." Alaude melihat kearah Giotto. "Bukankah malah kau jadi terluka seperti ini...?"

"I-ini bukan apa-apa kok!" Giotto mengibaskan tangannya didepan Alaude. "Bukankah aku sudah katakan kalau aku akan melindungi kalian, bahkan kalaupun aku harus mengorbankan nyawaku?" Giotto hanya tersenyum dan melihat Alaude.

-*_*End*_*-

"Bahkan... Walau harus mengorbankan nyawa ya..." Alaude hanya diam didepan pintu kamar Giotto. Ia membuka pintu dan melihat kearah kamar yang sekarang ini sudah kosong. Ia masih bisa merasakan kalau Giotto masih duduk didepan meja dan melihat kearah Alaude dengan senyumannya.

"Apakah aku akan bertemu lagi denganmu... Walau dikehidupan yang selanjutnya, Giotto...?" Alaude menutup matanya dan menyentuh tempat tidur yang ada didepannya. Ia tidak tahu bagaimana harus mengungkapkan perasaannya saat ini. Ia merasakan sesuatu yang seakan menekan jantungnya. Ia selalu merasa sesak ketika mengingat Giotto. Ia sama sekali tidak menyangka kalau ia akan benar-benar meninggalkannya untuk selamanya.

-*_*Flash Back*_*-

Terjadi penyerangan ditempat markas vongola pada saat Giotto tidak ada ditempat. Para penyusup memang bisa dihentikan dan bisa ditangkap semuanya. Tetapi, sebagian besar guardian -kecuali Alaude dan Spade terluka parah dan juga beberapa pengawal ada yang tewas disana.

Giotto langsung kembali kemarkas ketika mendengarkan penyerangan itu. Ia benar-benar sangat menghawatirkan keadaan semua guardiannya yang ada dimarkas.

"Kalian tidak apa-apa? !" Giotto membuka ruangan perawatan dan melihat G, Knuckle, Ugetsu, dan juga Lampo sedang diberikan perawatan oleh orang-orang disana.

"Primo, kenapa kau ada disini?" Ugetsu melihat kearah Giotto yang baru saja datang. Tangannya sedang diperban karena luka yang cukup parah. Begitu juga dengan G, Knuckle, dan Lampo. "Apakah keperluan di Italia sudah selesai?"

"K-Kalian terluka..." Giotto mencoba untuk mendekati mereka dan melihat luka yang ada ditubuh mereka semua. "M-maaf aku malah tidak ada ketika kalian membutuhkanku..."

"Ini bukan apa-apa Primo..." Knuckle hanya tertawa kecil sambil menepuk bahu Giotto. "Kami bisa mengatasi masalah ini! Kau tidak perlu khawatir!"

"..." Giotto menundukkan kepalanya dan tersenyum. "Ya... Syukurlah kalian tidak apa-apa..." Giotto hanya tersenyum dan tertawa seperti biasa. Alaude melihat Giotto, dan menyadari ada sesuatu yang aneh dengan senyuman yang ditunjukkan Giotto.

"Bagaimana kalau kau istirahat saja dikamarmu Primo...?" Alaude hanya berdiri dan menyilangkan tangannya. "Kau pasti lelah dengan semua yang terjadi hari ini bukan?"

"Tetapi bagaimana dengan kalian?" Giotto melihat kearah Alaude, Spade, dan yang lainnya. Tetapi Spade tertawa kecil dan melihat Giotto.

"Tenang saja primo, mereka bukan orang lemah yang mati dengan mudah hanya karena ini..." Spade hanya tersenyum dan melihat kesemua guardian yang terluka.

"Kalau begitu, baiklah... Aku akan ada dikamar kalau kalian membutuhkanku..." Giotto hanya tersenyum tipis sambil berjalan menuju pintu keluar. "Selamat tidur semua..."

Suasana ditempat itu menjadi hening ketika Giotto keluar dari tempat itu. Semuanya hanya bisa menghela nafas panjang. Mereka tahu kalau Giotto memaksakan senyumannya, dan mereka sudah membuatnya khawatir.

Spade berjalan dan menepuk bahu Alaude sambil membisikkan sesuatu ditelinganya. "Kalau kau memang menghawatirkannya kenapa kau tidak menyusulnya?"

"..." Alaude hanya diam mendengar Spade mengatakan itu padanya. "Tidak usah kau beritahu kalau memang ia membutuhkanku aku akan ada disana..." Alaude hanya diam dan berjalan menuju kepintu keluar dan menyusul Giotto.

-xOx-

"..." Giotto hanya diam sambil menenggelamkan kepalanya ditempat tidurnya. Ia benar-benar merasa takut kalau sampai terjadi apa-apa pada semua guardiannya.

Tok...Tok...Tok...

"Primo... Bisa aku masuk...?" Alaude mengetuk pintu kamar Giotto dengan pelan.

"...Masuklah Alaude..." Giotto bangkit dari tempat tidurnya dan duduk di kursi yang ada disana.

"Kau tidak apa-apa?"

"Apa maksudmu?" Giotto masih menunjukkan senyumannya yang benar-benar dipaksakan. "Aku tidak apa-apa..."

"..." Alaude berjalan kedekat Giotto dan duduk diatas tempat tidurnya. "Kau takut?"

"..." Giotto hanya bisa diam dan tidak melihat Alaude. Ia tidak bisa membantah Alaude karena yang ia katakan itu benar.

"Kau takut mereka akan mati dan meninggalkanmu sendiri?" Tanya Alaude lagi sambil melihat sosok punggung Giotto.

"Aku tidak takut..." Giotto tersenyum tipis dan menatap langit malam itu. "Aku tidak boleh takut... Karena aku harus selalu menjadi langit yang cerah didepan mereka. Yang tidak mengenal takut, dan juga kesedihan..."

"..." Alaude berdiri dan berjalan kedepan Giotto. "Langit, tidak akan selamanya terlihat cerah... Terkadang ia akan ditutupi oleh awan hitam sebelum akhirnya menurunkan air matanya berupa hujan." Giotto hanya diam melihat kearah Alaude. Ia menggigit bibir bawahnya. "Kau tidak bisa selamanya menjadi langit yang cerah..."

"..." Giotto hanya bisa menundukkan kepalanya, mencoba untuk menahan tangisnya. "Lalu... Apa yang harus aku lakukan? Kalau aku menunjukkan sisi lemahku didepan mereka... Mereka pasti akan terus khawatir padaku..."

"Kalau begitu..." Alaude berjongkok didepan Giotto dan memeluknya. "Biarkan aku menjadi awan hitammu... Yang menutupi semua kesedihan dan ketakutanmu... Kau bisa terus menjadi langit cerah didepan mereka, tetapi jadilah dirimu sendiri ketika kau bersamaku..." Sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan dan dilakukan oleh cloud guardiannya, Giotto membalas pelukannya dan menenggelamkan kepalanya dibadan Alaude.

-*_*End*_*-

Pada saat itu, baru ia tahu betapa rapuhnya tubuh yang ada didepannya itu. Tetapi orang itu tetap berusaha keras agar tetap terlihat kuat didepan mereka. Baru kali itu, dan hanya pada Giotto saja Alaude menjadi tertarik untuk mendekatinya. Malah ia yang tidak bisa menjadi dirinya yang biasanya.

Ketika ia memasuki markas, ia tersenyum sambil menatap kearah luar jendela. Hanya Alaude, orang yang datang pada upacara pelepasan terakhir Giotto yang tidak menangis. Ia tidak akan pernah menangis. Sampai sekarang, ia tidak pernah menangis, dan tidak akan pernah menangis walaupun orang itu meninggal. Ia hanya berfikir kalau tidak ada gunanya untuk menangis kalau pada akhirnya semuanya akan sama saja.

"Tidak akan ada artinya... Keberadaan awan hitam yang menurunkan hujan, jika tidak ada langit..." Kau hanya diam dan berjalan disepanjang lorong yang ada ditempat itu. Bohong kalau ia mengatakan ia lupa bagaimana terakhir kali ia bertemu dengan Giotto dalam keadaan hidup. Semua itu, karena penghianat itu. Semua, karena Giotto terlalu mempercayai orang itu. Tetapi... Kematian Giotto juga merupakan kesalahannya. Karena melindunginyalah Giotto meninggal, bahkan didepan matanya sendiri.

-*_*Flash Back*_*-

Pengunduran diri Giotto sebagai pemimpin vongola pertama dan digantikan oleh Ricardo pada usianya yang baru saja beranjak 36 tahun menimbulkan banyak protes dari para guardian. G dan juga Knuckle serta Lampo berusaha untuk membujuk Giotto untuk tidak mengundurkan diri dari jabatannya. Tetapi, pada akhirnya Giotto tetap memutuskan untuk berhenti menjadi pemimpin Vongola dan menetap di markas Vongola yang berada di Jepang.

Semua guardian ikut menjaga di markas Vongola jepang bersama dengan Giotto. Begitu juga Alaude yang entah kenapa bahkan mengorbankan pekerjaannya untuk bersama dengan Giotto.

Sampai suatu hari, tanpa sengaja Alaude mendengarkan percakapan salah satu anak buah Giotto dimarkas.

"Hei, kau tahu... Aku mendengar sesuatu tentang alasan pengunduran diri Vongola Primo dan akhirnya digantikan oleh Vongola Secondo..."

"Bukankah karena Ricardo-sama yang memaksa Primo untuk menyerahkan jabatannya?"

"Tidak... Aku sempat mendengar kalau Spade-sama yang memaksa primo untuk turun dari jabatannya..." Alaude yang bersembunyi hanya diam dan terkejut dengan apa yang dikatakan oleh mereka. "Ia menganggap kalau Primo tidak cukup kuat untuk membuat Vongola menjadi kelompok mafia terbesar."

Alaude yang mendengarkan hal itu hanya diam dan berjalan cepat menuju ke ruangan Giotto. Ia ingin mendapatkan penjelasan tentang semua yang terjadi.

-xOx-

"Primo...!" Alaude membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Ketika ia melihat kearah dalam, ia melihat Spade yang berada didepan Giotto sedang memegang dagu Giotto seakan-akan baru saja atau akan menciumnya.

"Oya, oya... Sepertinya ada pengganggu yang kurang sopan disini..." Spade berbalik dan melihat kearah Alaude dengan tatapan sinis.

"Apa yang kau lakukan pada primo..." Alaude memberikan death glare kepada Spade sedangkan Giotto hanya diam sambil menundukkan kepalanya.

"Aku tidak akan berkata apapun..." Spade berjalan dan mendekat kearah Alaude. "Kau yang melihatnya sendiri..." Ia tersenyum sinis dan melewati Alaude begitu saja. Alaude hanya diam dan tidak melihat Spade. Tetapi, tatapan matanya benar-benar seakan-akan ia ingin membunuh Spade saat itu juga.

"Primo..." Giotto tidak beranjak dari tempatnya duduk sekarang. Alaude hanya berjalan dan mendekati Giotto. "Apakah benar herbivore brengsek itu yang menyuruhmu untuk berhenti menjadi boss Vongola?"

"..." Giotto hanya diam sambil melihat Alaude. Ia menundukkan kepalanya sejenak dan menatap Alaude dengan tatapan sedih. "Apakah... Pengunduran diriku membuat perpecahan diantara kita...?" Dan Alaude hanya bisa diam sambil melihat kearah Giotto. Ia tidak mau memaksa Giotto untuk menceritakannya.

-xOx-

Giotto mendapatkan misi yang berbahaya. Semua guardiannya memutuskan untuk ikut menyelesaikan misi itu agar bisa melindungi sang Vongola Primo. Alaude hanya bisa diam ketika melihat Spade yang benar-benar aneh ingin ikut pada misi bersama dengan Giotto. Ia tidak pernah melepaskan pandangannya kearah Spade sambil tetap berada didekat Giotto.

-xOx-

Misi itu ternyata jebakan dari musuh. Beberapa orang sudah mengepung mereka dan hendak membunuh Giotto yang sudah mulai kewalahan. G dan juga yang lainnya mengelilingi Giotto berusaha untuk melindunginya. Tetapi, tiba-tiba Spade mengendurkan perlindungannya dan menghampiri Alaude.

"Sepertinya... Kau sudah tahu siapa yang menyebabkan Giotto berhenti menjadi pemimpin Vongola..." Alaude yang mendengar itu langsung mengangkat borgolnya dan siap untuk menyerang Spade. Tetapi, dengan cepat Spade menangkisnya dengan tongkat miliknya.

"Fufufu..." Spade menatapnya dengan pandangan licik. "Kau tidak mau Giotto melihat kita bertempur bukan...? Atau kau mau melihatnya menyalahkan diri sendiri karena dia yang mengundurkan diri membuat kita berdua bertengkar?"

"Kubunuh kau..." Alaude mendekatkan wajahnya dan menatap langsung mata Spade dengan tatapan membunuh.

"Heh... Kalau begitu, ikut saja aku..." Spade menggunakan ilusinya agar Giotto dan yang lainnya tidak melihat kalau mereka berdua pergi dari sana.

-xOx-

Pertempuran diantara mereka berduapun tidak terelakkan. Alaude sudah cukup sabar menghadapi Spade karena ia tidak mau melihat Giotto menyalahkan dirinya sendiri. Tetapi, penghianat yang ada didepannya ini harus ia habisi sekarang juga. Apapun yang terjadi...

"Ada apa Alaude?" Spade yang sebenarnya sudah kewalahan menghadapi lawan yang ada didepannya itu tetap berusaha untuk tenang. "Kenapa kau tidak menyerangku dengan sungguh-sungguh?"

Ia ingin sekali langsung membunuh orang itu. Tetapi, kalau ia membunuh orang itu, Giotto pasti akan bersedih. Ia benar-benar tidak bisa memutuskannya. Apakah ia harus mati juga bersama dengan orang ini agar ia tidak melihat Giotto bersedih?

"Aku tanya padamu sekali lagi..." Alaude menatap Spade dengan nafas yang sedikit memburu. "Kau... Yang memaksanya untuk keluar dari kepemimpinan Vongola?"

"..." Spade terdiam sejenak. Tetapi, pemandangan yang dilihat Alaude setelah itu adalah senyuman sinis Spade. "Vongola tidak akan menjadi kuat kalau dipimpin oleh orang yang lemah sepertinya..." Seakan ada sesuatu yang memutuskan tali kesabaran Alaude, ia benar-benar membulatkan tekad untuk membunuhnya. Ia langsung menyerang Spade dengan borgolnya, bersamaan dengan ilusi yang dibuat Spade menyebabkan ledakan disekitar mereka.

"Kau..." Alaude mundur beberapa langkah dari Spade. "Apapun yang terjadi... Aku akan membunuhmu..."

"Kalau begitu... Cobalah bunuh aku kalau kau bisa..." Spade menatap Alaude dengan senyuman dingin. Dan Alaude bersiap untuk menyerang Spade ketika tiba-tiba sebuah panah merah meluncur kearah Alaude. Ketika ia menyadari panah itu karena asap semakin menipis, yang ia lihat malah tubuh Giotto yang menghalangi panah itu.

Alaude hanya bisa terdiam begitu juga dengan Spade. Perlahan, tubuh itu tumbang dan ketika itu mereka berdua melihat G dan juga yang lainnya hanya diam dalam keadaan shock.

Hanya untuk kali itu saja, Alaude merasakan ketakutan yang sangat. Hanya pada saat ia melihat tubuh Giotto yang tidak bergerak didepannya.

"Primo!" Teriakan itu membuatmu tersadar dan langsung menghampirinya. Kau langsung menompang kepalanya ditanganmu dan mencoba untuk mengecek keadaannya. Kau merasakan nadinya yang bergerak pelan.

"Kau... Tidak apa-apa?"

Giotto hanya tersenyum dan mengangguk pelan ketika yang lainnya belum menghampirinya. Alaude hanya mencoba untuk memfokuskan diri pada suara nafas dan denyut nadi Giotto. Ia juga melihat Knuckle dan berharap ia bisa menyembuhkan Giotto.

"Alaude..." Ia tersentak ketika Giotto memegang pipinya. Ia langsung melihat Giotto dan mencoba untuk tetap bersikap tenang. "Kuharap kau mau lebih berkomunikasi dan bekerja sama dengan yang lainnya walaupun aku tidak ada..." Tidak... Ia tidak ingin mendengar kata-kata itu. Seakan, Giotto akan pergi selamanya dari hadapannya.

"Kalau kau tidak ada... Lalu, untuk apa aku masih ada disini... Tidak akan ada artinya, awan hitam yang menitikkan air hujan. Ia tidak akan menurunkan hujan, tanpa adanya langit..." Ia hanya menatap mata kuning Giotto saja.

"Awan hitam... Tidak akan selalu ada dilangit..." Giotto menatap mata Alaude. "Aku tidak ingin kau menjadi awan hitamku..." Giotto tersenyum sedih melihat Alaude. "Aku... Ingin kau menjadi awan putihku, yang selalu ada diatas langit..."

-*_*End*_*-

BRAK!

Alaude memukul dinding yang ada didepannya dan menyenderkan kepalanya di dinding itu. Ia benar-benar kesal, ia benar-benar ingin menemukan dan membunuh Spade. Ia harus bisa membunuhnya karena hanya itu yang bisa membuat hatinya tenang.

"Spade..."

Setelah ia merasa lebih tenang, ia melanjutkan perjalanannya dan melihat kesalah satu sisi koridor. Disana Knuckle sedang memukul-mukul dinding yang ada didepannya.

"Kau tidak bisa menerima kenyataan didepanmu, dan kau menyebut dirimu sebagai pastur?" Lagi-lagi ia menggunakan topeng didepan orang lain. Ia hanya menatap Knuckle dengan tatapan dingin.

"Alaude..."

"Kau tidak bisa mengelak dari kenyataan... Giotto sudah meninggal, dan ia tidak mungkin kembali lagi..." Ia mencoba untuk bersikap seperti biasa.

"Aku tahu..." Knuckle memalingkan wajahnya dari Alaude. "Tetapi... Hanya saja, ini terlalu mendadak..."

"...Ya..." Benar apa yang dikatakan Knuckle, kematiannya benar-benar mendadak dan membuat semuanya shock. Alaude hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya. "Tetapi... Menangispun tidak akan mengembalikan apapun..." Benar... Percuma saja ia menangis, karena bagaimanapun Giotto tidak akan pernah kembali lagi.

BRAK!

Pintu yang ada diujung lorong tiba-tiba terbuka dengan kasar. G dan Ugetsu tampak tergesa-gesa dan menghampiri Knuckle dan Alaude."Bisakah kau tidak berisik herbivore...?" Ia benar-benar tidak suka dengan keributan. Tetapi, pandangannya langsung tertuju pada Tsuna yang dibawa oleh G, begitu juga Knuckle.

"Dia-!" Knuckle dan Alaude tidak kalah terkejutnya dari G dan Ugetsu. "Siapa dia... Dan kenapa ia-"

"Bukan saatnya untuk terkejut..." G yang nafasnya memburu terlihat panik, sama seperti pada saat Giotto terluka parah dulu. "Kau... Bisa menyembuhkannya...?"

"..." Knuckle hanya diam dan melihat Tsuna. Alaude tahu dia tidak akan sanggup untuk mengobatinya. Wajah anak ini terlalu mirip dengan Giotto. "A-aku..."

"..." Tetapi, ia tidak mungkin membiarkan Tsuna sekarat ditempat ini. Itu sama saja mengulangi kejadian yang sama. Ia langsung merebut Tsuna dari G dan menggendongnya kekamar Giotto.

-*_*Giotto's Room*_*-

"Masa depan...?" Knuckle menaikkan alisnya sebelah ketika ia mendengar kata-kata itu.

"Ia mengaku sebagai penerus Giotto-dono... Ia adalah pemimpin Vongola generasi kesepuluh..." Lelucon yang sangat bagus. Apakah orang ini benar-benar yakin bisa membohongi herbivore itu dengan alasan seperti itu?

"Memang susah untuk dipercaya... Ia memiliki wajah yang mirip dengan Primo... Suara yang mirip dengan primo... Bahkan kekuatannya..." Tidak akan mungkin orang dari masa depan bisa berada disini. Bahkan waktunya sangat tepat ketika Giotto meninggal. Tetapi, ketika itu Alaude melihat benda berkilau dijari telunjuk Tsuna. Sebuah cincin yang berhubungan dengan cincin lain dijari manisnya. Dicincin itu, sebuah lambang yang tidak mungkin tidak ia tahu, yaitu cincin sky guardian Vongola (Decimo Sky Ring)

"Ia juga memiliki cincin Vongola..." Tanpa sadar ia mengatakan hal itu sambil melihat cincin itu dengan jelas.

"Lalu... Apakah kita harus mempercayainya?" Knuckle melihat kearah Tsuna. "Semirip apapun ia dengan Primo... Pada akhirnya ia hanyalah orang lain, bukan primo..."

Ya benar, dia bukan Giotto. Giotto tidak akan mungkin kembali lagi. Dia sudah meninggalkan mereka untuk selamanya.

"Hm...?" Alaude melihat sesuatu yang terselip dijubah yang tergantung disebelah tempat tidurnya. "Ini..." Sebuah foto yang menampakkan Tsuna, beserta dengan guardiannya. Alaude hanya bisa diam dan melihat G serta yang lainnya. Ia memutuskan untuk mengambil foto itu dan menaruhnya disaku kemejanya.

-xOx-

Malam harinya, Tsuna mengalami demam tinggi karena luka yang ia derita. Tsuna benar-benar merasa pusing dan tubuhnya terasa panas. Tetapi ia bisa merasa kalau ia berada disebuah tempat tidur.

'Dimana... Apakah, Ugetsu dan G yang aku lihat tadi mimpi...?' ketika kesadarannya masih belum sepenuhnya, ia merasakan tangan besar yang dingin menyentuh dahinya yang panas. 'Siapa...' Tsuna mencoba untuk membuka matanya sedikit dan melihat orang itu walaupun tidak jelas.

"Tidurlah... Kalau panasmu sudah turun aku akan membangunkanmu..." Suara itu, yang terdengar familiar ditelinga Tsuna. Ia hanya mengangguk dan tersenyum lemah.

"Terima kasih... Hibari-san..." Dan Tsuna menutup matanya kembali dan terlelap. Orang yang memegang dahi Tsuna yang tidak lain adalah Alaude hanya bisa diam mendengarnya.

"Hibari-san...?"


Gimana? :) Alaude disini beneran OOC Dx trus ada hintnya AG sama 1827 :-? Jadi bakal ada sedikit shonen ainya ;)) Alaude ma Hibari suaranya sama kan? :)) *iyalah, Seiyuunya aja sama* oke, tinggal dua guardian! Lampo-Thunder Guardian, D. Spade-Mist Guardian x3

Makasih yang udah baca n udah sempet review, tentu aja juga buat yang udah follow maupun fave ni crita abal x3 RnR kembali ya (_ _) author bego yang langganan misstypo ini ga akan bosen2nya dengerin kritik dan saran kalian :) Ciaosuu!