Wow, pertama saya upload ini ke akun FFN cuma ada 980 words. Betapa sedikitnya oTL
Disclaimer: Himaruya milik Hidekaz Himaruya, Pirates of the Carribean milik Disney
Kita alihkan dulu perhatian kita ke laut Death Island.
Sebuah kapal kecil, dengan dua orang di atasnya. Kedua orang itu berwajah hampir identik, dengan sedikit perbedaan. Satu orang yang mendayung berambut coklat tua dengan kriwil ke arah kanan, sementara satu lagi yang sedang membaca Injil warna rambutnya lebih muda dibanding satu lagi dengan kriwil menghadap ke kiri. Mereka, tidak lain tidak bukan, adalah duo Vargas: Lovino dan Feliciano.
"Katanya, adalah berkah Tuhan kita bisa keluar dari penjara," celetuk Feliciano pada kakaknya.
"Dan aku bilang, adalah aku yang pintar yang membuat kita lolos," balas Lovino dengan wajah masamnya. "Ya kan, Hanatamago?"
Anjing yang mengikuti mereka, dan menggigit kunci, hanya menggonggong.
"Tapi kan berkah Tuhan kakak bisa jadi pintar!" kata Feliciano polos. "Dan aku tidak mencuri kapal."
"Ini bukan mencuri, bodoh. Ini menyelamatkan," balas Lovino. "Dan kapan kita bisa menemukan sebuah pulau?"
Feliciano baru mau menjawab ketika Hanatamago menggonggong keras. Mereka berdua berbalik dan melihat sebuah pulau dengan hutan lebat. Di sisi pantai, ada sebuah kapal dengan layar hitam.
"Itu dia!" kata Feliciano riang.
Tanpa dikomando, Hanatamago langsung terjun ke laut dan berenang ke arah pulau itu. "H-Hanatamago?!" teriak Feliciano khawatir.
"Biarkan anjing bodoh itu," gerutu Lovino.
Hanatamago telah sampai di pesisir pantai pulau itu dan mengeringkan bulunya, saat ombak besar menerjang kapal Lovino dan Feliciano, membiarkan mereka terhanyut ke pulau.
Mereka berdua terbatuk-batuk, lalu segera menghampiri kapal besar itu.
"Kita bisa mengambil kapal ini," kata Lovino, nyengir.
"Ombak datang, itu bisa membantu!" lanjut Feliciano ceria.
Mereka berdua tertawa saat mendengar suara genderang dari kejauhan. Mereka berdua terdiam.
"S-Sepertinya kita harus menyelamatkannya sekarang juga..." kata Feliciano ketakutan. "Kapal ini dan... kita..."
Dan tanpa menunggu apa-apa lagi, mereka berdua langsung memanjat tali pancang kapal itu.
Kembali ke suku kanibal itu dan (si malang) Arthur Kirkland...
Genderang ditabuh dengan kerasnya, tiap orang dari suku itu terlihat bersuka cita (kecuali Arthur, tentu saja). Dua orang dari suku tersebut mengalungkan sesuatu ke leher Arthur dan lalu pergi. Arthur bergumam, "terima kasih" lalu melihat apa yang dikenakannya. Kumpulan jari-jari manusia. Arthur menahan hasrat untuk muntah.
Beberapa orang langsung menaruh kayu-kayu di tempat pembakaran.
Arthur langsung bangkit dari 'singgasana'-nya. "Tunggu! Tunggu!" teriaknya. "Lebih banyak kayu! Api yang besar! Aku Ketua, ingin api besar!" katanya sambil membentangkan kedua tangannya.
Menyadari tidak ada yang mengerti, dia berbalik ke orang yang menunggunya di singgasananya dan berbicara ngasal.
"Oi, stiko stiko! Tout de suite! Kayu yang banyak!" katanya cepat, dan ngasal.
Pria itu langsung mencari kayu besar yang lain, dan segera menaruhnya di tempat pembakaran.
Lalu mereka berbalik, dan melihat singgasana itu kosong.
Arthur ngacir dengan kecepatan seorang bajak laut Inggris yang dikejar oleh para pekerja EIC dan tentara kerajaan (intinya: secepat yang dia bisa). Dia berlari dan berlari sampai di sebuah tempat penyimpanan.
Arthur segera berbelok, dan cepat-cepat berhenti saat melihat jurang yang sangat dalam di bawahnya. Dia berbalik dan melihat sebuah kayu panjang. Nyengir, dia meraihnya, tapi sesaat kemudian menaruhnya lagi, menyadari itu adalah sebuah tindakan yang bodoh dan nanti yang tersisa darinya hanyalah serpihan-serpihan kecil. Arthur melihat sekeliling dan melihat sebuah gudang kecil, dan cepat-cepat masuk ke dalam sana.
Gudang itu dipenuhi barang-barang hasil jarahan dari pelaut lain--mungkin. Karena ada kapak, satu set cangkir, dan lain-lain. Dia segera mengambil tali yang ada di dekatnya dan beranjak keluar, tapi berhenti sebentar dan berbalik. Dia merogoh sesuatu di sebuah kantung. Sebotol kecil paprika. Dia membalikkannya dan melihat simbol EIC. Arthur mengerutkan kening. Kenapa ada botol paprika dengan simbol EIC? Sambil membawa itu, dia segera keluar.
Dan dia menyadari puluhan pasang mata menatapnya tajam. "Oh, bugger..."
Arthur terdiam sebentar, lalu dengan senyum tidak berdosa, membuka botol paprika itu dan menaburkannya di... ketiaknya. "Bumbu," kata Arthur santai.
Dan hal berikutnya yang dia ketahui, dia sudah terikat kuat, menunggu untuk dibakar.
"Helep..."
Kembali ke kru Arthur...
Sebuah pemandangan absurd, dimana sebuah kandang berbentuk bola yang diikat dengan tali rapuh, bergelantungan bebas sementara tangan-tangan kotor menggerayang di depannya, berusaha meraih akar-akar pohon yang merambat di pinggir jurang. Entah ide siapa itu, mungkin ide Antonio. Dia selalu punya ide aneh. Pastikan saat anda membayangkan scene ini, ada BGM... sirkus.
Move on.
Bola itu terus bergelantungan, tidak pernah mencapai akar-akar jurang itu. Kalau sampai juga mereka tidak bisa memegangnya.
Dan akhirnya, setelah perjuangan, mereka berhasil meraih akar tumbuhan yang lebih kokoh dan berhasil 'menempel' di dinding jurang itu.
"Keluarkan kaki kalian, dan panjat! Kalau tidak aku akan menembak kalian satu persatu!" suruh Vash.
"Ayo, semuanya! Black Pearl membutuhkan kita semua untuk berlayar!" teriak Antonio, berusaha menyemangati.
"Sebenarnya, kau tidak perlu semua!" balas salah satu kru di kandang lain. "Enam juga cukup!"
Dan tiba-tiba mereka berhenti.
Sunyi.
Antonio segera menengok ke arah Vash, dan Vash mengangguk dengan wajah khawatir.
"CEPAT!!!!"
Dan mereka langsung memanjatnya, secepat yang mereka bisa.
"Ayo, cepat!! Apa hanya itu yang bisa kalian lakukan?!" teriak Peter, bocah kecil yang entah kenapa bisa jadi kru di kapal Arthur. Konon sih dia adik-lain-ibu Arthur, biarpun baik Peter maupun Arthur selalu menyangkalnya (tapi ada kalanya Peter memanggil Arthur, "kakak bodoh!" dan Arthur memanggilnya, "adik nakal!").
Antonio berbalik sebentar, dan melihat salah seorang dari suku tersebut sedang berjalan di jembatan gantung.
"Berhenti!!" bisiknya. "Kalian, berhenti!!" bisiknya lagi pada kru di kandang lain.
Mereka semua menatap anak itu berlalu, dengan tegangnya.
Salah satu kru dari kandang lain mengisyaratkan teman-temannya untuk terus maju, dan mereka memanjat dengan perlahan.
"Mereka ngapain?" bisik Peter.
"Berhenti, dasar bodoh!" bisik Antonio kesal.
Salah satu dari kru itu hanya cengengesan, lalu salah satunya meraih sesuatu berwarna merah dengan garis putih, yang mendesis.
"ULAAAAR!!!!!"
Didorong rasa panik, mereka melepaskan pegangan mereka, alhasil membuat mereka kembali bergantung di udara dan tali rapuh itu putus saking tidak kuatnya menahan beban mereka, dan membiarkan mereka terjun ke jurang dalam di bawah sana.
Anggota suku itu menyadarinya, menatap bola itu terjun bebas ke bawah dan menatap Antonio dkk. yang sedang menempel di dinding jurang.
"Panjat!!!" teriak Antonio, dan mereka kembali merayap.
Maafkan chapter yang pendek ini... saya bakal nulis chapter 5 secepat yang saya bisa. Tapi, dikarenakan beberapa scene absurd di filmnya, mungkin chapter selanjutnya bakal sedikit... absurd -_- mungkin karena saya ga terlalu bagus dalam description oTL
Silahkan reviews...
