"EMPAT PULUH SEMBILAN RIBU YEN?!"
Tenten berkedip. "Uh...iya?"
"UNTUK SEBUAH CINCIN?!"
Tenten mengangkat jarinya dengan niatan mengoreksi kalau jumlah segitu baru mencakup cincinnya saja dan belum kalungnya. Tapi mengurungkan niatnya, takut reaksi kawan-kawannya jadi lebih heboh.
"...iya."
Ino dan Sakura menjerit seolah kesakitan, Hinata di tengah keduanya terlihat bingung menanggapi.
"Itu 15 kali lipat sewa apartemenku!"
Tenten mulai menyesali memberitahu kawan-kawannya tentang cincin miliknya.
"Makan malam di Ichiraku itu juga mahal! Kecuali kau punya koneksi, kau tidak bisa membuat reservasi!"
Hinata mencoba memberi komentar. "S-sepertinya pacarmu sangat sayang padamu, ya."
"Um...kurasa?" jawab Tenten ragu.
"Kau rasa? KAU RASA?"
Tenten meringis mendengar lengkingan kompak Ino dan Sakura. Ia melirik Hinata meminta bantuan, tapi Hinata juga kesulitan.
"Kau harus ingat untuk mengundang kami saat menikah nanti!"
"Uh..."
"Kalau bisa, ajak kami bulan madu juga!"
"Soal itu, kurasa tidak mungkin."
Ino, Hinata dan Sakura terheran mendengar nada bicara Tenten. Sejak awal percakapan, gadis itu tampak tidak semangat. Tidak sesuai dengan cerita penuh romansa tentang akhir pekannya bersama kekasih tercinta.
"Apa terjadi sesuatu?"
Tenten menghela nafas. "Maksudku, aku tidak yakin hubungan kami akan bertahan sampai sejauh itu."
"Eeh? Sayang sekali."
"Pacarmu sepertinya sangat perhatian dan sayang padamu."
Gadis berambut coklat hanya mengedikkan bahu. Ia tidak terlalu suka membahas kehidupan cintanya. Ia selalu merasa apapun yang terjadi di antara dua orang yang saling mencintai, adalah urusan dua orang itu saja.
"Bagaimana dengan kehidupan cintamu, Hinata?"
Gadis berambut panjang keunguan memekik kecil, tidak menyangka akan ditanya seperti itu. Kedua temannya yang lain, yang juga memiliki kekasih ikut menyimak.
"U-um...sepertinya, tidak akan berjalan mulus..."
"Kenapa?"
Tenten meletakkan dagunya di atas telapak tangannya malas. Ia juga kurang suka perbincangan seperti ini, tapi jika itu bisa mengalihkan perhatian teman-temannya dari kehidupan cintanya yang penuh rahasia, ia rela bertahan.
Wajah Hinata memerah. "Na-naruto-kun punya orang yang dia sukai."
Kepala Tenten nyaris terjatuh dari tempatnya.
"Kau sudah menyatakan padanya?" tanya Sakura takjub.
Hinata mengangguk pelan, sementara Ino melempar pandangan aneh pada reaksi Tenten.
"Naruto katamu?"
"I-iya." jawab Hinata lagi.
"Kau kenal, Tenten?" tanya Ino.
Tenten menoleh ke Ino, kemudian ke semua wajah teman-temannya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Tenten tahu yang mana Naruto, tapi sekedar itu saja.
"Ah-aku kenal dia dari teman." bohongnya cepat.
"Seperti apa orangnya?" tanya Sakura pada Hinata.
"Um...dia sangat bersemangat, dan pantang menyerah."
Maksudnya menyebalkan dan tidak tahu kapan harus diam, kan? Pikir Tenten dalam hati. Tenten tidak kenal Naruto terlalu baik selain dari kesan pertama bahwa ia adalah pria yang berisik dan tidak tahu batasan privasi orang. Mungkin ada kualitas lain darinya yang membuat gadis baik-baik seperti Hinata menyukainya.
"Jadi seperti itu ya seleramu." celetuk Tenten.
"Dia seangkatan dengan kita?"
Hinata mengangguk. Tenten hanya menyerap informasi ini dalam diam.
"Sayang sekali, mungkin lain kali kau lebih beruntung." hibur Sakura sembari mengacak rambut Hinata.
Melihatnya, Tenten teringat dua hari lalu. Orang itu juga, mengelus kepala Tenten penuh sayang seperti itu. Mata coklatnya bergulir, menangkap layar terkunci handphone-nya. Hari senin.
Lima hari lagi.
Lima hari lagi sampai mereka bisa bertemu.
"Tenten, bukannya kau harus ke gym?" tegur Ino, bibirnya di sedotan kopinya.
Tenten berkedip, matanya melirik handphone sekali lagi. "Kau benar."
"See ya!" seru Sakura, senyumnya yang lebar membuat Tenten merasa sedikit berenergi karenanya.
"Ah."
Tenten berbalik, kemudian berlari kecil ke arah meja kopi di mana Sakura, Hinata dan Ino masih berada. Mereka terlihat bingung, namun sebelum pertanyaan bisa keluar dari bibir Sakura, Tenten mendahuluinya.
"Pacarkuーdia lebih tua dariku danーsudah berkeluarga."
Ekspresi ketiga temannya seketika membeku. Tenten yang merasa lega sudah bisa memberitahu ketiga kawannya berbalik dan berjalan ke luar cafe, tidak menunggu komentar atau tanggapan dari mereka bertiga.
