Aaaaaaaaaa..... Nisha Asakura! Datang ke hadapan kalian~~! (PLOP) akhirnya US dan UP selesai juga~~~~ (Nangis bajir iler... Laper...) oke, kita langsung ke cerita! Ups, cerita dimulai sesudah membalas review!!

Untuk teacupz': Thank you udah revieww.... Oke, Anisha akan berusaha lebih baik lagi, supaya bisa memuaskan para pembaca yang budiman.... Amin, amin....

Untuk lalanakmalas: Trims untuk reviewnya... Oh, gitu toh... Mungkin anda akan berpendapat lain... Mungkin akan ada beberapa 'cliffhanger-cliffhanger' yang bakal muncul nanti...

Untuk akai chibi seme, Kirazu Haruka, dan semuanya, ditunggu reviewnya ya~~

Yuk kita mulaii!! Oh ya, hampir lupa. Untuk penggemar Doctor yang ngebaca chapter ini, Anisha minta MAAAAFFF SEBESAR-BESARNYAAAAA!!!!!!!

DISCLAIMER: I do not own of HM charas, but I do own this story and Emily.

---(Claire's POV)---

Aku berjalan berempat dengan Blue, Gray dan Cliff. Tapi hatiku lebih senang sekarang, karena sekarang aku sudah nemu cowok idamanku~~~~~ (dalam hati loncat-loncat enggak karuan... GUBRAKK! ...Kejedot lampu taman, tapi enggak sakit ding, soalnya kan cuma dalam hati).

"Oi, Claire, udah baikan sekarang?" tanya Blue.

"Sudah kok! Aku udah baikan, meski masih diplester dimana-mana sih..." jawabku agak sweatdropped, mengingat ada banyak plester penutup luka patukan ayam.

"Yah, yang penting, kamu udah baikan sekarang. Sekarang aku mau nyari Jack dulu. Gimana caranya aku pulang..." Blue menggerak-gerakkan tangannya sampai berbunyi 'KRETEK, KRETEKK' yang keras.

Aku, Cliff dan Gray bengong. Gila, ada tentara baret ijo nyasar di Mineral Town, nih...

(Anisha Asakura: Ide tentara baret io itu didapet dari inspirasi bapak saya, soalnya bapak saya tentara tingkatan Dirjen, hehehe... ^^)

"Ya sudah! Hati-hati ya, Blue!" kataku sambil melambaikan tangan. Blue juga membalas lambaian tanganku sambil pergi menuju pantai.

Kami bertiga sudah sampai di Inn. "Asyik, akhirnya pulang juga..." kataku sambil memasuki Inn.

Ann langsung memelukku. "CLAAAAIIIREEEEE!!!"

Aku bengong. Ann kenapa nih???

"Claire!!! Dengerin aku mau enggak?! Dengerin aku yaaaaaa!!!!" teriak Ann menyeretku ke kamarnya.

Cliff dan Gray bengong. "Claire... Bakal diapain tuh?" tanya Cliff.

Gray menggeleng tanda tidak tahu.

---Ann's Room---

"Huwe.... Clairrreeee...." Ann menangis terisak-isak di pangkuanku. Aku kebingungan.

"Kamu kenapa, Ann??" tanyaku khawatir. Apa ada sesuatu.... Ah, tidak! Aku tidak boleh berpikir yang tidak-tidak...

"Aku... Mergokin Jack selingkuuuuuhhh....." Ann mulai menangis lagi di pangkuanku.

"Hah?? Selingkuh?!" aku kaget. Padahal kalau Jack naksir sama seseorang, pasti enggak bakalan larak-lirik cewek lain... Tapi kok...

"Ann, mungkin kamu salah paham." kataku menenangkan Ann. "Jack itu cowok yang enggak suka main selingkuhan. Aku sebagai adiknya aja tahu kok. Jack enggak bakalan mau larak-lirik cewek lain. Percaya deh sama aku!" jelasku sambil mengelus kepala Ann lembut.

"Be... Beneran, Claire...?" tanya Ann sambil mengusap air matanya. Aku mengangguk.

"Terima kasih, Claire..." jawab Ann mulai tenang. "Eh, ngomong-ngomong, kenapa kamu pakai baju begini???"

"Oh, baju ini?" kataku. "Jack yang memakaikannya untukku. Entah dia melihat aku enggak pakai apa-apa..." mukaku langsung bersemu. Oh iya ya... Jack ngegantiin bajuku gimana yah...???

"Tapi..." Ann masih ragu.

"Kenapa, Ann?" tanyaku heran.

"Aku udah mukul dia habis-habisan di pantai. Karen juga ikutan. Apa sekarang dia baik-baik saja, ya?"

Aku bengong. Di saat yang bersamaan, Blue datang memasuki Inn. "Claire! Jack masuk ke Klinik karena terluka parah!!!"

"Aku segera datang, Blue!!!" kataku sambil bergegas.

"Tunggu! Aku ikut!" teriak Ann.

---Clinic---

Jack terbaring kaku di tempat tidur klinik. Banyak memar-memar di badannya. Aku bergetar disko, merasa kasihan akan nasib kakak yang malang. "Jack..."

"Aku menemukannya terbaring di pantai. Dia tak sadarkan diri." kata Blue. "Aku membawanya kesini."

Aku menangis. "Huwaaa.... Jaaack...." Aku memegang tangan Jack yang dingin. Jack memang belum mati, tapi tangannya dingin.

"Tenang saja, nona Claire." kata Doctor. "Dia hanya pingsan karena efek obat yang saya berikan. Tunggu saja besok, pasti nanti sembuh."

Aku memegang tangan Jack erat. "Huwaaa...." aku bersyukur Jack hanya tertidur. Aku tidak mau kehilangan banyak orang lagi...

Doctor mengijinkan aku dan Ann menemani Jack sampai besok. Aku bersyukur karena masih bisa bersama Jack. Sejak Jack memiliki pertanian, kami jadi makin jarang bertemu. Kini aku bersyukur Tuhan masih mengijinkanku bertemu dengannya satu malam ini.

"Dasar aku ini bodoh..." Ann terdengar menyesal. "Seharusnya aku tidak memukul Jack keras-keras... Dan inilah hasilnya..."

"Ann, jangan menyalahkan dirimu..." aku membela Ann. "Terkadang orang yang marah dan kesal sering mengutarakan kekesalannya pada benda atau seseorang secara tidak sengaja dan tidak bermaksud melakukannya. Ann melakukannya secara tak sengaja, kan? Makanya jangan mengkhawatirkan itu terus ya. Yang penting Jack bakalan sembuh besok."

Ann akhirnya mengerti dan mau menemaniku sambil duduk berdua di dekat tempat tidur Jack.

(09:00 PM)

---(Ann's POV)---

Aku masih memikirkan apa yang dikatakan Claire. Dia benar juga. Aku melakukannya secara tidak sengaja... Tapi aku masih merasa menyesal... "Huahmmm...." aku menguap. Wah, sudah jam 9 malam. Waduh, aku seharusnya sudah ada di Inn. "Claire... Yuk pulang..." kataku sambil menggoyang-goyangkan bahu Claire.

Claire tidak terbangun. Dia tertidur pulas sambil memegang tangan kanan Jack. "Jangan... Pergi..." igaunya. Tapi Claire masih tertidur meski sudah berkali-kali diguncangkan.

"Hm... Kayaknya Claire serius pingin menemani Jack..." kataku. Ya sudahlah. Kutinggalkan saja Claire.

"Elli, aku pulang ke Inn dulu ya... Ayah pasti khawatir aku belum pulang-pulang juga..." kataku pada Elli.

"Oke, Ann! Hati-hati di jalan ya," kata Elli yang sibuk menyusun daftar obat.

Aku pulang menuju Inn.

---(Cliff's POV)---

Aku menunggui kedatangan Ann dan Claire. Gray juga menunggu.

"Selamat malam..." Ann memasuki Inn.

"Malam..." jawabku dan Gray.

"Lho, kok kalian masih disini?! Ayo cepat tidur!!!" Ann jadi galak. "Sekarang sudah jam 9!"

"Tunggu, Ann..." tandasku. "Claire mana??"

"Oh, Claire?" tanya Ann. "Dia menginap di Clinic, menjagai Jack. Jack lagi babak belur dipukul aku dan Karen."

Aku tidak bertanya apa-apa lagi (Daripada ikut-ikutan dipukul abis-abisan). Aku dan Gray berbincang sebentar sebelum tidur.

"Hei, Gray?" panggilku.

"Apaan?" tanya Gray.

"Apa enggak apa-apa kita biarin Claire di Clinic semalam ini? Dokter Tim kan..."

"..." Gray tak menjawab. Sepertinya dia sudah tidur.

"..." aku pun diam. Ah, lebih baik aku tidur!

(01:00 AM, 15 Spring)

---(Claire's POV)---

Aku terbangun. Walah, sudah jam 1 pagi. Masih pagi. Aku ingin tidur lagi, tapi lebih baik menunggu Jack sadar saja.

"Nona Claire? Anda sudah bangun?" tanya seseorang. Kyaaa, itu Doctor!!!

"Hwa! Iya, saya sudah bangun dok!" jawabku kaget.

"Oh ya. Ngomong-ngomong, kamu mau bantu saya?" tanya Doctor.

"Bo... Boleh..." jawabku gugup. Aku melihat Doctor mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya.

"Ini obat yang kubuat sendiri, dan aku sendiri yang mencari bahan-bahannya. Coba kamu minum." kata Doctor.

Ueh, obatnya warnanya hitam. Pasti rasanya enggak enak. Aku memang benci minum obat. "Maaf, dok, sepertinya aku..."

"MINUM, NGGAK?!!" bentak Doctor. Lho? Sikapnya berbeda sekali.

Doctor membantingku ke ujung dinding. "KAMU HARUS MINUM INI!!!" teriaknya sambil menjejalkan obat hitam tadi. Ih, pahit!

"TIDAAK!!" teriakku sambil menjauh.

PRAAAANG!!!

Doctor sengaja memecahkan obat tadi. Pecahannya bertebaran dimana-mana. Aduh! Aku terkena banyak sepihannnya. Jack,tolong aku!!!

"JANGAN KABUR KAMU!!" teriak Doctor sambil menjambak rambutku. Aduh, dia masih punya obat hitam itu lagi???! "CEPAT MINUM INI ATAU KALAU TIDAK..."

---(Gray's POV)---

Saat memastikan Cliff sudah tidur, aku bangkit dan menuruni tangga. Aku mencemaskan Claire. Aku takut Claire diapa-apain Doctor jahat itu...

Aku mengambil kunci Inn dan keluar. Aku langsung bergegas menuju Clinic. Saat aku mengintip di jendela Clinic... Oh tidak... This is really horrible. Aku langsung membanting pintu Clinic.

---(Jack's POV)---

Aku membuka mataku. Adudududuh!! Aku memegang kepalaku. Rasanya sakit sekali. Oh, ya, aku ingat, aku dipukul oleh Ann dan Karen... Saat aku sadar, seluruh keadaan serba putih. Ini... Di Clinic? Saat aku menoleh, aku melihat sesuatu yang mengerikan. Sesuatu yang amat mengerikan. Aku langsung bergegas bangun. Bangun untuk menolong Claire. This is really horrible...

(SFX: JENG JENG JENG JEEEENGGGG.... JENG JENG JENG JEEEEENGG....) (Maksudnya lagu Beethoven yang beralur cepat)

"DOCTOR!!! APA YANG KAMU LAKUKAN!!!!" aku langsung memukul rahang Doctor dengan kepalan tangan kiriku. Doctor terbanting ke ujung. Entah darimana, Gray muncul juga dan memukul perut Doctor tanpa ampun.

(SFX: BAK BIK BUK GEDEBUK!!! KAPAAWW! DESH! BRUAAK!!)

Aku langsung menyelamatkan Claire yang menangis di lantai. Claire... Tangan dan badannya berdarah... Ada obat pecah... Pasti Claire tergores pecahan obat itu... "CLAIRE?!!!! JAWAB AKU!!!" aku langsung histeris dan segera mendekatinya.

---(Claire's POV)---

Aku berbaring lemas. Aku memegang tangan Jack erat-erat. Sekarang aku yang sakit. Tolong aku, Jack... Aku enggak mau pergi meninggalkan kakak...

"Tapi yang melakukan kejahatan ini kan Doctor!" bentak seseorang. Aku tak bisa melihat siapa yang berteriak itu. Pasti itu Gray.

"Tidak. Aku yang membuat Claire begini. Aku harus menyerahkan diri ke polisi karena sudah membuatnya tersiksa begini." kata seseorang di dekatku. Bukan Jack, bukan kakak yang menyiksaku... Doctor... Cinta pertamaku lah yang membuatku begini... Aku langsung tertidur. Tidak tahu lagi apa yang terjadi.

(06:00 AM, 15 Spring, Sunday)

---(Cliff's POV)---

Aku bangun. Ah, tidurku nyenyak sekali. Syukurlah aku enggak perlu bangun mendengar bel weker di sebelahku yang bunyinya kayak ada mobil pemadam kebakaran. Hm, jam 6... Hari Minggu. Yah, seperti biasa aku akan ke Gereja. Eh, hari Minggu? Claire bilang dia bakalan ke Gereja tiap hari Minggu dengan Jack... Mungkin aku bisa bicara dengannya, dan minta maaf karena sudah membentaknya...

Aku menuruni tangga. Aku melihat Gray dan Ann sedang duduk di kursi Inn. Ada apa ini? Gray sedang menunduk. Ann terisak-isak menangis. Aku segera menghampiri mereka.

"Se... Selamat pagi, semuanya. Ada apa ini..." tanyaku heran.

Ann langsung menyerbuku, dan memelukku. "HUWAAAA!!!! CLIFFF!!!!! INI GARA-GARA AKUU....!!!!"

Aku tidak mengerti. "Apa maksudnya?? Gray?!"

Gray mendekatiku dan menepuk pundakku. "Claire... Disiksa sama Doctor. Doctor memaksanya meminum obat buatannya, dan Claire terkena pecahan obatnya."

Aku seketika schok. Claire pasti merasa terkhianati. Seketika kakiku merasa beku. Aku juga merasa menyesal beratus-ratus kali. Dugaanku tadi malam... Menjadi kenyataan.

---(Jack's POV)---

Aku menggendong belakang Claire. Sekarang dia tertidur. Untung dia hanya terluka. Aku masih memikirkan kesalahanku. Aku benar-benar bego dan sialan.

Rasanya aku ingin marah-marah pada diriku sendiri. Aku benar-benar kakak yang bego. Bego bego bego!!! Aku sampai ke pertanianku. Aku memasuki rumahku. Rumahku yang sudah besar, dengan dapur, kamar mandi, lemari buku, kulkas, peti peralatan, tempat tidur double, dan TV. Aku membaringkan Claire di tempat tidurku.

Kejadian sebelumnya

"Kyaaa!!" Elli berteriak melihat keadaan Doctor yang terikat erat. "Ada apa ini?!!"

"Elli, dengarkan kami dulu..." aku mendekati Elli. "Akan kuceritakan semuanya."

Saat kuceritakan apa yang terjadi, Elli langsung ketakutan. "Kalian... Kalian takkan melaporkan apa yang dilakukan Doctor ke Harris kan?"

"Tidak. Aku akan menanyakan pada Claire saat dia sudah tidak trauma lagi nanti." jawabku. Gray masih duduk menemani Claire yang masih tertidur.

"Ka... Kalau begitu, Jack," Elli bergegas mendekati Claire. "Kalian berdua, tolong keluar dulu. Aku akan memeriksa keadaan Claire."

Beberapa jam kemudian, Elli keluar. "Kalian beruntung. Luka perdarahan Claire tertolong. Sedikit saja lengah, pasti Claire bakalan ada beberapa luka sobekan, tapi bisa sembuh hanya dalam beberapa hari. Tinggal diberi obat, Claire akan segera sehat. Oh, ya, mungkin kalian bakalan nemuin beberapa pecahan beling, jadi tolong kalian periksa lukanya Claire, mungkin saja masih ada pecahan obat."

Aku dan Gray menghembuskan napas lega. Aku benar-benar bersyukur luka Claire tidak parah.

"Berikan obat cair antiseptik ini pada luka sobekannya. Biarkan dia istirahat seminggu, dan Claire pasti akan sembuh." kata Elli menyiapkan beberapa botol bening dan 10 bungkus kapas putih. Dia menyerahkan obat-obatannya padaku."Berikan obat ini 12 jam sekali. Kau bisa minta tolong padaku atau Ann untuk memberikan obat ini pada Claire."

"Terima kasih banyak Elli." kataku. Aku membawa Claire.

"Eh? Claire mau dikemanakan?" tanya Elli.

"Aku akan membawanya istirahat di rumahku. Aku harus menjaganya." jawabku.

"Aku bantu bawakan obat-obatannya." kata Gray, menyadari aku kerepotan membawa Claire sekaligus dengan obat-obatan.

Aku mengacuhkan Gray. "Tidak apa-apa, Gray. Ini tanggung jawabku sebagai seorang kakak. Aku harus melindungi harta bendaku yang paling berharga, apapun yang terjadi." aku melangkah sendirian keluar Clinic. Gray mengikutiku.

---In outside of Clinic---

"Gray, tolong kamu beritahukan kabar ini pada Ann dan Cliff. Kalian boleh menjenguk Claire kok." jawabku tersenyum lirih.

Gray mengangguk. "Aku lebih baik mengabarkan mereka dulu."

Aku menyiapkan obat-obatan dari Elli. Eh, katanya dikasih 12 jam sehari kan? Berarti 2 kali dong... Aku harus minta tolong ke Ann.

"Jack..." aku mendengar suara Claire. Serta merta aku mendekati Claire.

"Ya, Claire?? Kau butuh sesuatu?" tanyaku bertubi-tubi.

"Se... Sekarang kan... Hari Minggu... Ayo kita ke Gereja..." kata Claire lemah.

"Jangan paksakan dirimu, Claire! Kamu lagi luka gini gimana bisa keluar!" kataku khawatir.

"Tapi... Aku sudah..." Claire mencoba untuk bangun.

"Eits! Jangan bangun!" aku langsung mendorong Claire ke tempat tidur. "Kau masih sakit. Kau bisa berdoa di tempat tidur kok."

"Ta... Tapi Jack harus ke... Gereja ya..." kata Claire, mengacungkan kelingkingnya tanda meminta janji kelingking. "Janji?"

Aku tersenyum, dan memegang kelingking Claire dengan kelingkingku. "Aku janji. Tapi setelah aku kerja, ya?"

Claire mengangguk tanda setuju.

Aku melakukan pekerjaanku dulu. Menyiram tanaman, mencabuti rumput, memberi makan ayam, sapi dan domba. Tidak lupa mengurus kuda.

Saat aku selesai, aku ijin pamit pergi. "Claire, aku mau ke gereja dulu. Nanti Ann bakalan ke sini nemenin kamu." kataku sambil tersenyum.

"Iya." jawab Claire singkat. "Hati-hati di jalan, ya."

Aku pergi menuju Inn.

"Selamat siang..." sapa Ann. Ann terkejut melihatku.

"Ann, aku mau minta maaf..." kataku lirih, masih merasa bersalah.

Ann tidak membiarkanku meneruskan perkataanku, dan memelukku. "Iya... Aku memaafkanmu, Jack. Aku juga minta maaf karena sudah memukulmu."

"Enggak apa-apa kok. Aku berhak mendapatkannya." jawabku sambil tertawa. "Oh ya Ann, boleh minta tolong?"

"Apa, Jack? Bilang aja!" kata Ann semangat.

"Aku selalu sibuk mengurus pertanianku. Claire pasti bosan sendirian terus di tempat tidur. Bisa tolong kau temani dia sampai sore?" tanyaku.

"Hahaha! Dasar Jack! Enggak minta tolong juga pasti kujenguk Claire! Tentu, Jack, aku akan menemani Claire." jawab Ann sambil menepuk bahuku.

"Oh ya, satu lagi. Aku enggak bisa memberikan obat ke Claire. Ann bisa kan?" kataku memohon. "Dan jangan sampai Claire bangun dari tempat tidurnya."

"Siiip! Aku bantu deh." kata Ann.

"Terima kasih banyak, Ann. Aku harus ke gereja sekarang. Aku sudah janji pada Claire." kataku bergegas pergi ke gereja.

---In Chrunch---

---(Still Jack's POV)---

Aku memasuki gereja. Wueh, sepi sekali. Hanya ada satu pendeta dan Cliff. Aku mengambil tempat duduk di sebelah Cliff. "Hei, Cliff, boleh duduk disini?"

Cliff sepertinya kaget. "Ah, silahkan saja."

Aku pun mulai menunduk dan berdoa untuk ayah dan ibu. Aku juga mendoakan Claire supaya cepat sembuh.

"Anu... Bagaimana keadaan Claire?" tanya Cliff.

Aku menoleh. "Oh, Claire? Dia masih agak lemes, tapi sekarang baik-baik saja. Dia bakal ditemani Ann." jawabku.

"Oh..." jawab Cliff pendek. Lalu dia menunduk lagi. Entah dia berdoa atau melamun. Aku mengacuhkannya, dan melanjutkan doaku.

---(Claire's POV)---

"Huwe... Bosan..." keluhku. Aku seadng bermain Gameboy "HM MFOMT" sendirian. (Walah, Harvest Moon chara main Harvest Moon MFOMT???). Katanya Ann kesini, tapi kok enggak datang, yah?

'Tok, tok, tok' pintu terdengar berbunyi. Ah, itu pasti Ann!

"Silahkan masuk! Tidak dikunci, kok!" jawabku di tempat tidur. Pintu pun terbuka... Ternyata itu Ann... Dan Clif?!!

"Wah! Selamat datang..." sapaku. Aku mencoba untuk bangkit.

"Eit~! Jangan bangun dulu! Jack bilang ke aku jangan sampai kamu bangun dari tempat tidur!" Ann menletakkanku lagi ke tempat tidur. "Kamu pasti lapar, kan? Sip! Hari ini servis khusus, dan aku akan memasak untukmu disini!"

Aku dan Cliff bengong melihat tingkah Ann, yang udah 'rada-rada' mirip Spongebob yang mau masak Krabby-Patty.

"Okee! Ladies and Gentleman, kalian sudah siapp? Oh ya, Claire? Mau pesan apa?" tanya Ann yang tahu-tahu udah berpakaian koki chef di restoran-restoran Prancis, sambil melemparkan potongan pamflet yang tahu-tahu isinya bertuliskan makanan-makanan.

"Anu... Aku mau Curry Rice..." kataku pelan, sekaligus masih 'takjub' dari tingkah Ann.

"Oke! Satu Curry Rice, coming up!!" teriak Ann, langsung memotong bawang bombay dengan amat cepat.

Aku masih berbaring, menonton 'kegilaan' acara memasak Ann.

"Claire," panggil Cliff pelan.

"Ya?" jawabku.

"Anu... Aku sebenarnya... Mau minta maaf... Karena sudah membentakmu..." kata Cliff sambil menunduk. "Entah kenapa, saat itu aku ingin kesal padamu... Dan aku pun membentakmu..." Cliff mengacak poninya.

"Tidak apa-apa." aku menepuk bahu Cliff. "Justru aku yang mau minta maaf. Aku takut aku sudah melukai hatimu tanpa menyadarinya."

"Oke. Kita saling maafan lagi." kataku. "Kita teman lagi, kan?"

"Teman." jawab Cliff mantap.

--

"Okee!!! Satu Curry Rice, selesai!" Ann langsung menyerahkan satu piring Curry Rice hangat.

Aku bengong. Memang sih, ini kare. Tapi... Kok ada chikuwa?

(Anisha Asakura: Kalian tahu chikuwa, nggak? Chikuwa itu lingkar bambu yang dipotong-potong kecil-kecil seukuran dadu. Itu lho, yang putih-putih di ruas bambu).

"Kok ada chikuwa?" tanyaku heran. "Ada tahu juga..."

"Oh! Chikuwa itu pengganti daun salam! Habisnya Jack enggak punya daun salam, payah nih..." keluh Ann sambil menghela napas. "Yah, tapi enggak apa-apa, chikuwa bagus untuk badan kok! Makan ya!"

"Te, terima kasih, Ann..." aku tersenyum. Yah, meski agak lucu juga rasa makanannya, aku tetap mau menghabiskannya.

Beberapa menit kemudian

"Bagus, bagus! Kau mau makan!" kata Ann lega, mencuci piring.

Cliff masih menemaniku.

"Oh ya! Saatnya untuk pengobatan!" Ann mengambil obat cair dan kapas. "Oh ya, Cliff, jangan mengintip ya! Soalnya lukanya.."

"Ah! Baik! Baik! Aku takkan mengintip!!!" Cliff heboh sendiri sambil keluar dari rumah Jack. "Aku akan masuk lagi beberapa jam lagi!!!"

Aku dan Ann bengong. "Ya sudahlah. Claire, ayo, buka bajumu!"

---(Cliff's POV)---

Aku menunggu sambil duduk dibawah pohon apel Jack. Masih musim semi, jadi belum ada satupun apel yang bisa kupetik dan kumakan. Padahal aku paling suka makan apel...

Angin semilir bertiup. Alam kota Mineral Town memang sejuk. Kesejukannya itulah yang seperti mineral. Mineral yang sejuk dan murni... Itulah kota Mineral. Mineral Town yang terkenal dengan kesejukannya (Aneh, serasa dejá vu sama kota Bandung...)

Eh, ngomong-ngomong aku penasaran, Ann dan Claire lagi ngapain ya..? Aku pingin... Ah! Tidak! Jangan mikirin yang aneh-aneh ah!

"Adududuh! Sakit nih Ann!" keluh Claire.

"Diam dikit, dong! Sebelah sini belum dikasih obat nih..." jawab Ann. "Aduh, mana sebelah sini lagi! Angkat dikit dong! Tuh, ada beling! Aku ambilin ya!"

Hah? Sebelah sini.....?? ...Angkat dikit??

3... 2... 1... ABORTED

Aku langsung collapse. Langsung terbayang yang BL (18+).

---(Jack's POV)---

(04:00 PM)

"Permisi..." aku memasuki pertanianku sendiri. Walah, Cliff ngapain nih??? "Oi, Cliff! Banguun!!!" Muka Cliff merah banget. Jangan-jangan...

"Aku pulang!!" Aku langsung masuk ke rumahku khawatir.

"Wah! Jack sudah pulang?" Ann menyapaku. Claire sudah tidur pulas.

"Ann... Enggak terjadi apa-apa kan sekarang...?" tanyaku khawatir.

"Haah?" tanya Ann heran. "Enggak terjadi apa-apa, kok!"

"Tapi kok Cliff... Collapse di depan rumahku?"

Ann langsung bengong. "Cliff?!" Dia langsung berlari keluar, dan menyeret Cliff masuk. "Aduh... Kenapa dia pingsan nih..."

"Bawa aja dia pulang." kataku memberi saran.

"Iya. Besok aku datang lagi ke sini ya!" kata Ann.

"Oke, Ann. Terima kasih lagi, ya." kataku sambil menutup pintu. KREK. Sekarang hanya ada aku dan Claire.

"Auh...? Jack?" Claire terbangun. "Itu kamu, Jack?"

"Iya, Claire? Aku disini." kataku menghampiri Claire.

"Aku... Pasti bisa sembuh, kan?" tanya Claire.

Aku mengelus kepala Claire. "Iya... Kau akan cepat sembuh kalau banyak makan dan rajin pakai obat!" kataku semangat. "Aku akan tidur di sebelahmu, jadi kalau kau butuh apa-apa, bilang saja ya!"

Yipiiii!~~ Chapter 4 selesaiii.... Kayaknya ini chapter yang paling menakutkan dari semua chapter yang nanti bakalan ada...

Claire: (Nendang authoress) dasar penulis kasar! Yang kasar dan jahat tuh, authoress! Bukan Doctor, cinta pertama aku, tahu!

Anisha Asakura: Biarin aja, weeekkk~~~ (Menjulurkan lidah)

(BAK BIK BUK DESH! Claire menginjak-injak perut Anisha Asakura)

Anisha Asakura: Hoek... -darah keluar dari mulutnya-

Claire: -Ditahan Cliff dan Gray- Hei! Lepasin!! Aku masih mau nyiksa authoress jahat ini nih!

Anisha Asakura: Udah, udah! Lagian enggak sakit kok. Oh ya, Sebenernya Anisha pernah ngalamin ini juga lho, tapi bukan obat. Tapi ibu-ibu penjual pakaian di Bali. Si ibu-ibu itu, kasarnya sama lho, dengan Doctor yang ngancem nyuruh Claire minum obat -curhat-

Claire: -ketus- Bagus deh kalo authoressnya udah ngalamin ini juga.

Anisha Asakura: Ya iya, dong. Kan ada pepatah, Jangan lakukan pada orang lain sebelum dilakukan pada diri sendiri! -ada bling-bling di belakangnya-

Gray dan Cliff: -heran- Jadi authoressnya yang minta si penjualnya buat kasar sama kayak si Doctor???

Anisha Asakura: Ya enggak lah! Si ibu-ibunya aja yang ngotot, minta beli barang dagangannya dia, makanya Anisha beli sarung Bali dari si ibu itu.... –curhat lagi-

Oh, ya, Anisha udah liat pollingnya lho~~~ Serius nih, mau Jack??? (O_O) Buat yang belum polling, ditunggu ya! Anisha Asakura, pergi (POLP)