DISCLAIMER :

HIRO MASHIMA

PAIRING :

NATSU - LUCY [NALU FOREVER]

WARNING :

AU, OOC, FULL LEMON rate M, Typo.

COPYRIGHT STORY:

Bellisima Kirei

A/N:

Ini adalah salah satu ff dari Bellisima Kirei di fandom HxH, yang saya pinjam- republish karna saya sangat menyukai alur ceritanya, dan lagi karna di fandom FT sepertinya kekurangan fic dengan rate M haha. Tentu saja melalui tahap ijin dan pengeditan untuk menyesuaikan karakter. Jika diantara kalian sudah pernah membaca fic dari penulis aslinya, psssstt. Special thanks to Bellisima Kirei

Happy Reading!

Chapter 4 : Soixante Neuf 69


you make me sweat, imagining your body naked

baby, its alright

we can start a little' fire' tonight


Angin berhembus lembut di siang hari itu, suasana yang tepat untuk bersantai sekedar untuk menggelitik kulit dengan sepoian angin musim panas. Di kolam renang keluarga Locksar, terdapat beberapa gadis yang tengah menikmati waktu senggang mereka.

"Aku senang dengan hasil pekan olahraga kemarin," ujar Levy membuka pembicaraan, ia duduk di tepi kolam sambil memainkan kedua kakinya di permukaan air. Levy adalah gadis cantik dengan pembawaan lebih dewasa di antara mereka bertiga, walaupun tubuhnya terbilang mungil.

Sang Tuan Rumah, Juvia langsung terpancing dan terlihat gembira mendengar ucapan salah satu sahabatnya tersebut, dan bersiap untuk menyemburkan semua kebahagian atas kemenangan mereka dalam satu kalimat yang panjang, "Benar! Dan kelas kita menjadi juara umum tahun ini! Ini bener-benar menyenangkan, apa lagi kita mendapat poin tertinggi dari 3 cabang sekaligus renang, panahan dan karate. Oh Lucy… ini semua berkat Lucy yang menyumbang poin akhirnya, Juvia sangat tertolong karna Lucy sudah mau menggantikan posisi Juvia sementara…"

Gadis yang disebut sebut namanya hanya merengut, melipat wajahnya lebih dalam. Ia berdiri bersandar pada dinding kolam renang lalu menoleh pada sahabatnya itu.

"Tapi Juvia aku mohon, kuharap dilain waktu kau bisa memintaku terlebih dahulu, bukannya tiba-tiba mendaftarkan namaku untuk 2 nomer renang sekaligus!" Protesnya

"He he he.." Juvia hanya tertawa kikuk mendengar ocehan gadis pirang tersebut, diikuti Levy yang menertawakan keduanya. "maafkan Juvia, ini semua karna Juvia lupa stretching saat lomba renang gaya bebas, jadi kaki Juvia kram." Lanjutnya menyatakan penyesalannya.

"Iya aku tahu, dan kau juga tahu bahwa aku tak mempersiapkan apapun untuk itu! Aaaaah Juvia untung saja poin pertamamu tinggi, kalau tidak aku yakin akan sulit untukku mengejar ketinggalannya, apa lagi aku tak sebagus kau dalam renang." Keluh Lucy, tersirat sedikit kelelahan diwajahnya cantiknya tersiram kemegahan sinar matahari.

"Tapi Lucy…. Lucy sagat bagus! Terutama saat lomba dengan gaya punggung, gerakan itu… sungguh! Juvia bahkan bisa merasakan keindahan gerakan Lucy. Juvia merasa ikut menjadi riak air dalam gerakan lentur indah yang Lucy tampilkan.."

Lucy hanya diam mendengar pujian itu, tentunya dengan blushing yang mewarnai kulit porselennya. Namun bagaimanapun juga, pertandingan dadakan yang didapatkannya kemarin membuatnya lelah dan terlambat untuk melihat pertandingan terahir, yaitu karate yang diikuti kekasihnya.

"Itu benar Lu, aku pun merasakan hal serupa. Kau sangat indah Lu.." ucap Levy ikut memberikan pujiannya pada Lucy. "Seperti penyihir suci, menari dikelilingi cahaya bintang…" sejenak gadis cantik itu memejamkan matanya dan tersenyum lembut, lalu membuka mata dan tepat menatap langsung pada mata Lucy dengan raut wajah yang sedikit berubah. "Itu komentar Natsu yang kudengar saat dia melihat pertandinganmu."

"E-EH?! B-be-be-benarkah?! Natsu melihatnya?!" sontak Lucy terkejut dan sedikit salah tingkah dengan pernyataan yang dikatakan Levy.

"Ya, tepat sebelum pertandingan final karate dimulai, ia menyempatkan diri melihatmu. Apa kau tak meyadarinya? Dan berhentilah bersikap kikuk Lucy, kau selalu terlihat bodoh jika kita membicarakan tentang Natsu hihihihi"

Lucy menggelengkan kepalanya dengan raut wajah bingung dan ia menambahkan rengutan dalam di wajahnya, namun masih terlihat jelas kecantikannya yang tanpa ia ketahui selalu mengisi mimpi-mimpi menyenangkan kekasihnya itu. ""A-a-aku tak seperti itu Levy, i-ini karna aku terkejut!" protesnya membela diri.

"Juvia juga melihatnya," tambah juvia. "Memangnya Natsu tidak memberi ucapan selamat pada Lucy?"

"tentu saja dia mengucapkannya, tapi tak mengatakan apapun tentang hal itu.. aku mengira Natsu tak sempat meihatku.."

Lucy merasa heran. Memang hari itu sangat melelahkan dan kesempatan mereka untuk berdua sangat sedikit. Lucy kembali berenang hingga sampai ke ujung sisi lain dari kolam, lalu mendongak sedikit, menatap matahari yang tertutup awan, ia ingat sekali betapa kesalnya saat itu ketika mengetahui bahwa Juvia mendadak mendaftarkan namanya ke nomer renang gaya punggungyang dan gaya katak yang waktunya hampir bersamaan dengan pertandingan karate..

-Flash back-

Lucy tergesa-gesa memasuki gedung olahraga. Sorak sorai terdengar begitu riuh, menghasilkan gema yang saling memantul di dalam sana. Benar saja, pertandingan final karate sudah dimulai. Gadis pirang itu terdiam sesaat, mengamati dua orang pemuda yang tengah menjadi pusat orbit pandangan semua yang ada di sana.

Seulas senyum menawan tergaris di wajah Lucy. Dengan hanya sekali melihat, gadis itu sudah bisa memastikan bahwa Natsulah yang lebih unggul, selain itu ia percaya penuh pada kekasihnya itu.

Sesuai perkiraannya, Natsu memenangkan petandingan itu, sekaligus mengantarkan kelas mereka sebagai juara umum pekan olahraga tahun ini. Pipi Lucy merona, ketika pemuda berambut sakura di malam hari itu menoleh dan memberikan senyum andalannya, lalu bergegas menghampirinya.

Mata Karamel sang gadis tertuju pada sosok itu, dan jatuh pada dada bidang sang pemuda. Pakaian karate yang sedikit turun, memperlihatkan bulir bulir keringat yang menetes turun di sana, sangat sexy, membuat fantasi yang sedikit liar tergambar di kepala si pirang. Tatapan mata Lucy seolah menelanjangi dada eksotis tersebut.

-End flash back-

Lucy membenarkan posisi tubuhnya yang terbungkus bikini putih sederhana namun sangat anggun, dengan motif bunga gumamela di bagian tepi baju renang two piece itu. Ia menarik nafas panjang dan merentangkan kedua lengannya, untuk berpegangan ke tepian kolam. Matanya kembali terpejam…

-Flash back-

Lucy memasuki ruang ekstrakulikuler karate yang sepi. Dia meihat tas Natsu yang tergeletak di atas meja dengan beberapa benda yang berserak di sekitar tas tersebut. Tentu saja Lucy mengenali semua barang itu milik siapa.

"Mencariku?" Tiba-tiba suara itu mengejutkannya.

Lucy segera berbalik, disambut sosok menawan kekasihnya. Natsu berdiri membelakangi pintu dengan rambutnya yang basah.

"Aku tadi bertemu Gray, dia mengatakan kalau kau memintaku ke sini," jawab Lucy sambil membalas senyumannya. "Apa kau memerlukan bantuan untuk membereskan tas ini?"

Natsu melangkah menghampiri gadisnya. Perlahan jemari tangannya menelusuri rambut indah kekasihnya itu.

"Lucee.. Aku haus.." bisiknya penuh arti

Tentu saja ucapan Natsu tidak mengandung denotasi yang sebenarnya. Itulah kenapa beberapa saat kemudian Natsu tengah menjilati bagian atas dada Lucy serta dengan perlahan membuka semua kancing seragam gadis itu.

"Eeeeengghhh… Natsuuuh…" desahnya, sambil mencengkram bahu gagah dan rambut dusty kekasihnya

Natsu memberikan ciuman-ciuman kecil dengan tanda kiss mark yang tersebar di sana. Kedua tangannya menyelinap kedalam kemeja Lucy, guna membuka kaitan bra merah yang dikenakan hari itu.

Tentu sangat jelas apa yang diinginkan Natsu setelah melepas bra tersebut. Dengan hasrat yang tinggi, dia melumat payudara Lucy, sementara tangannya sibuk meremas dan memilin nipple payudara sebelah kiri, yang juga berurai lumatan secara bergantian. Natsu menjilat dan menghisap putus nipple tersebut, memberikan sensasi nikmat dan dingin ketika terhembus nafas pemuda tersebut.

"eeemh… ahh.. aah.. hahh.." desahan Lucy bagai lagu pengiring bagi kegiatan keduanya.

Sejenak Natsu berhenti, mendongak menatap kekasihnya yang setengah telanjang. Wajah merona.. mata karamel yang sayu karena dikuasai kenikmatan dan nafsu, napas yang memburu, wangi tubuh yang memabukkan, dan bulir keringat yang mengalir dari dagu, jatuh melintasi belahan dada gadis pirang itu, menambah gambaran sexy di benaknya.

Natsu memegang kendali atas tubuhnya, perlahan mendorong Lucy agar tersudut, dan bersandar di dinding ruangan itu.

Dengan tatapan mata yang tak sedetikpun lepas dari Lucy, Natsu memainkan kedua nipple gadisnya. Pelukannya di leher pemuda itu semakin erat, kepalanya terlonjak ke belakang. Biasanya, Natsu akan langsung membenamkan wajahnya di perpotongan leher Lucy dalam keadaan seperti itu, namun kali ini dia berusaha menahan diri, hanya untuk melihat ekspresi memabukkan gadis itu saat menikmati gerakan yang menggila di putingnya.

"eeermh… ahh.. emhh…" Lucy mengerang, terhenyak karna takluk pada kelihaian jemari Natsu yang lincah memanjakan putingnnnya yang menengang. Ya, tentu saja Natsu sangat hapal titik-titik senditif kekasihnya.

"Luceee.. kau menyukainyakan?" bisik Natsu degan suara rendah yang tertahan, sambil lebih gencar memainkan putting mungil itu. Napas Natsu yang semakin memburu menerpa daun telinga si gadis pirang. "Luceeh milikkuuuu…" suara Natsu semakin menggoda, bagian dalam dirinya sudah mendorong memaksa untuk keluar dan meminta untuk dimanjakan juga.

Lucy tersenyum di tengah kegiatan panas itu, membuat Natsu semakin tak dapat menahannya. Pemuda itu memajukan dirinya untuk menggoda ronnga telinga si gadis dengan lidahnya, tanpa sengaja Lucy mengerang lebih keras, saat merasakan sesuatu yang menegang menabrak bagian luar vaginanya yang masih terbungus rapi oleh seragam roknya.

Menyadari hal tersebut, Natsu semakin mendekatkan dirinya dan menekan pada tubuh Lucy, menimbulkan rasa yang luar biasa bagi sang gadis, antara keinginan agar benda tersebut dapat digerakkan tepat di tempat vaginanya berada dan rasa gugup. Dengan sigap, Natsu mengangkat tubuh Lucy dan menyangganya dengan lengan kekarnya, sambil kembali memperdalam ciuman yang mereka lakukan.

Natsu sedikit demi sedikit mulai menggerakkan bagian pinggulnya agar penisnya yang tertutup celana kain menyentuh bagian bagian vagina gadisnya.

"Aah..! Natsuuuh….." desah nikmat gadis tersebut, ketika merasakan penis kekasihnya menekan menekan bagian vaginanya disambut dengan lumatan bernafsu di dadanya, dalam gendongan tersebut rok seragam Lucy tersingkap cukup tinggi. Betapa rindunya Natsu melihat hal itu, rasanya sudah cukup lama… tepatnya sejak ujian dimulai. Sanyang waktu tak menungkinkan.

Natsu segera menurunkan Lucy, mendekap tubuh gadis di hadapannya dengan sebelah tangan. Ia membenamkan wajahnya di perpotongan leher gadis itu. Lucy terhenyak ketika Natsu memasukkan tangannya yang bebas tanpa peringatan terlebih dahulu ke daerah paha bagian dalamnya. Jemari yang sudah begitu mengenal daerah pribadi gadis itu langsung menyusup di tepi celana dalam, memainkan klirorisnya.

"Aaaah.. aahh.. hmnn.. Nath..suuh.." Lucy bergelinjang tak kuat menahan semua kenikamatan yang diberikan padanya, belum lagi lumatan yang ada pada puting kirinya, membuatnya semakin terbakar gairah.

Sungguh saat itu sangat menggoda. Lucy memeluk Natsu semakin erat, dan lagi merasakan tekanan yang cukup dalam pada bagian bawahnya, tanda kejantanan Natsu yang sudah sangat terangsang. Dia pun turut melakukannya, memberikan kepuasan bagi kekasihnya dengan membebaskan penisnya dari segala penghalang, berciuman dengan penuh gairah hingga sama-sama mencapai puncak orgasme.

-End flash back-

Lucy membuka matanya, menatap langit yang agak mendung. Sebenarnya ia merindukan Natsu… tapi akhir minggu ini pun pemuda tersebut akan menginap di rumah Gray. Teman sekelas mereka sekaligus, pemuda yang disukai Juvia sejak kecil.

Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri mereka, memberitahukan bahwa ada telepon dari Gray. Juvia pun bersorak dan langsung masuk kedalam.

Levy mengendus kesal, membuat Lucy terpancing untuk menoleh.

"Bukankan mereka berteman sejak kecil, kenapa tidak pacaran saja?" sungutnya

Lucy terdiam. Dia tahu akan hal itu, dan dia pun tahu bagaimana usahanya Juvia agar Gray menyadari perasaannya, namun memang dasar Gray, menurut cerita Juvia, pemuda itu mulai menutup diri pada Juvia semenjak mereka tumbuh remaja, yang tak berubah hanya sikap peduli pemuda itu pada Juvia.

Lucy mengakui bahwa ada benarnya juga ucapan Levy.


Gray sempat menggerutu saat mendengar suara manja teman kecilnya itu ketika menerima panggilannya, tapi bukan berarti ia tak tersenyum mendengar suara gadis manis yang berambut hampir senada dengannya, Juvia Lockser. Gray akan mengadakan pesta sederhana di rumahnya, yang hanya di khususkan untuk kelas mereka saja.

"Tapi apa orangtua Gray-sama tidak keberatan?"

"Tidak, mereka ada keperluan di Magnolia untuk 2 hari kedepan, dan tentu saja ada paman Alzack di sini. Tapi nanti dia pun ada acara bersama tunangannya," jelas Gray. "Jadi sebaiknya menginap saja…"

"Be-benarkah Gray-samaaa? Juvia bisa bersama menghabiskan waktu bersama Gray-sama ah~ Juvia senang sekali….."

Percakapan itu di akhiri ketika Juvia menerima undangan tersebut dengan panjang lebar, dan Gray yang kerepotan untuk menutup pembicaraan tersebut. Gray mulai mencari-cari kontak teleponnya untuk menghubungi teman sekelas lainnya, tentu saja termasuk Lucy dan Levy. Di belakangnya, para pemuda lainnya juga yang sekelas dengannya (ga perlu disebutin, pasti kalian juga tau siapa aja), mulai antusias dengan memikirkan kegiatan menyenangkan apa saja yang akan mereka lakukan.

"Hei.. di mana si otak api?!" teriak Gajel

"Eh? Bukankah tadi dia terdidur di sana? Pria macam apa yang pergi tanpa bilang!" jawab Elman dengan bingar

"Ah sial, aku yakin dia takut kalau aku mengajaknya taruhan, ck! Pengecut…" sambung Gajel dengan tekanan suara yang terdengar menyebalkan.


Di ruangan lain di rumah yang cukup besar itu, tepat di salah satu kamar mandinya. NatsU sedang membasuh wajahnya dengan air dinigin yang mengalir di watafel. Dia benar-benar perlu air dingin untuk menyegarkan otak panasnya.

Natsu berpegangan pada kedua sisi watafel, menatap pantulan dirinya di cermin, berusaha untuk tetap fokus. Namun itu hanya bertahan sebentar, karena adegan menggiurkan mengenai gadisnya yang muncul dimimpinya kembali menggentayanginya.

'Ah sial, ada apa denganku..' keluhnya sambil mengacak ngacak rambutnya. Mimpi itu semakin menjadi jadi akhir-akhirini, membuat Natsu tak tahan untuk tak menyentuhnya.

'Ada-ada saja..' Natsu menghela napas, berusaha mengendalikan diri. Jangan sampai lepas kendali saat bertemu gadisnya di pesta malam ini. Namun jelas ada masalah' yang harus ditanganinya sekarang juga sebagai seorang laki-laki normal.

Rasanya begitu menyesakkan.

Natsu melangkah, pindah dari tempatnya semula sambil membuka zipper jeansnya dengan cepat. Jika melihat mata gelapnya, kau akan menyadari gairah yang tak terbendung, nafsu birahi yang begitu jelas di sana.

Natsu bersandar pada dinding kamar mandi, menurunkan celananya setinggi lutut dan membebaskan penisnya yang sudah membuat sesak hingga celananya terasa sangat sempit.

Dia menggenggam penisnya yang panjang dan berdiameter besar itu. Memijatnya dan mulai menggerakkannya maju mundur. Helaan napas yang begitu tersengal sengal, juga aroma tubuh yang khas. Natsu mengingat setiap rasa dari setiap inci demi inci tubuh Lucy. Terutama vaginanya.

Natsu semakin cepat mengocok penisnya, dia masih berdiri dan bersandar, mata gelap yang tajam itu sedikit menjadi sayu karena penuh dengan imajinasi dan ingatan mengenasi si Pirang. Ah, Jangan lupa apa yang sempat di khayalkannya sewaktu melihat Lucy berenang…

Saat Lucy bersiap dalam posisi start, lalu mulai berenang dengan gaya punggung. Air kolam bernuansa kebiruan dengan bingkai tirai transparan yang menyelubungi bagian sisi atas tubuh gadis itu. Baju renang one piece berwarna putih terlihat berdesir di bawahnya. Pemandangan itu mengigatkan sensasi yang ia rasakan saat bersentuhan dengan Lucy. Dia berharap Lucy bisa bergerak lincah di atasnya seperti saat gadis itu berenang.

"Ouuuuhhg… Lusyii.." Natsu mengerang tertahan.. disertai dengan cipratan kental berwarna putih yang keluar dari ujung penisnya.

Natsu mencapai klimaksnya. Setelah mengatur napasnya, Natsu membersihkan penisnya, dan merapikan pakaiannya. Sebelum keluar kamar mandi, ia mencuci tangan dan wajahnya, agar terihat lebih fokus dan segar.


Lucy menatap LCD ponselnya. Saat ini dia sedang berada di ruang perpustakaan, menjauhkan diri dari Juvia yang mulai berisik dalam memilih pakaian apa yang akan ia kenakan ke rumah Gray nanti. Hei! Bukannya ini acara biasa?! Sekarang saja, Lucy hanya mnegenakan tanktop pink dengan lace hitam menghiasi garis tepi bagian dadanya, serta celana pendek setengah paha.

Lucy masih menatap layar ponsel itu, sebelum akhirnya mengetikkan balasan untuk pesan masuk dari kekasihnya.. yang menanyakan kepastiannya untuk ikut berkumpul di rumah Gray.

Lucy menghela napas, menyandarkan kepalanya pada bantal sofa yang empuk.

'Natsu~..' batinnnya memanggil pemuda tampan itu.

Hubungannya dengan Natsu sudah berlangsung cukup jauh walaupun mereka sama-sama baru pertama kali berpacaran, yang diikuti dengan pertama kali berciuman, pertama kali saling menyentuh dan memanjakan.. hampir setiap kali ada kesempatan, Natsu menyempatkan diri untuk menyentuhnya. Lalu apa yang mengganggu benak Lucy saat ini? Atau lebih pasnya mungkin, apa yang mengganggu benak Lucy 'selama ini?

Semburat kemerahan terpampang jelas bagai buah plum di wajah Lucy begitu batinnya berkata,

'Natsu, kau tak pernah- ah, tapi memang akulah yang tak pernah berterus terang padanya.'

Sepertinya hal apapun yang dipikirkannya kali ini, cukup mengganggunya. Dia menghela napas. Samar-samar masih terdengar suara Juvia yang belum selesai memilih pakaiannya ditemani Levy. Lucy pun membuka ponselnya lagi.

Sambil menungggu, mungkin ia bisa mencari informasi tentang sesuatu yang mengganjal pikirannya itu…

Lucy mulai memusatkan perhatiannya kala sebaris tulisan muncul, sesuai dengan tag informasi yang dia cari

Tips penting hubungan seksual

Search


Akhirnya setelah cukup lama menunggu Juvia, Lucy dan Levy sampai juga di rumah Gray. Suasana yang sudah cukup ramai, tapi tetap terkendali.

Di salah satu ruangan, terlihat Gray sedang beradu argument dengan seorang pria muda berambut gelap.

"Ayolah Paman, bukankah kita sudah sepakat?! Keluh Gray. " Tolong jangan berlebihan..!"

"Woa, Gray.. aku takut orangtuamu memarahiku," tukas Alzack, yang merupakan adik dari ibu Gray

"Kau pikir aku akan melakukan apa dengan teman-temanku?! Haah!"

"Ah.. aku tahu anak muda jaman seka-"

"Hentikan, Paman!" Alzack berkedip, cukup terkejut melihat sikap Gray. Memanfaat situasi tersebut, Gray segera angkat bicara lagi.

"Dengar, Paman aku ingin bersenang-senang dengan semua temanku, tampa harus melihat sepasang kekasih yang sudah sangat dewasa bermesraan di sini..! jadi pergilah ke apartemen calon bibi, wanita berambut lumut itu, lalu-"

"Hei enak saja kau, rambut Bisca itu berwarna hijau yang damai… warna yang anggun!

"Terserahlah… Jadi kita sepakat?"

"Ya ya.. Baiklah.."

Alzack sebenarnya sangat ragu akan hal tersebut, namun dia lebih ingin menghabiskan waktu besama tunangannya. Apalagi sudah berapa minggu mereka tidak bertemu karena sebuk.


Gray tersenyum puas setelah melihat mobil Alzack keluar. Begitu pula halnya dengan yang lain. Dengan gembira, mereka memulai acaranya.

"Kalau hanya bir tak masalah bukan?" Tanya Cana. Tangannya sudah penuh oleh beberapa kaleng bir.

"Ah tentu saja!" jawab Gray

"Hei aku mau, kau dapat dari mana?" seru yang lainnya

"Kalian jangan mengacau di rumah orang ya!" tegas Erza

"Oh, aku punya cake kau mau?" tawar Jellal pada gadis berambut merah itu

"T-tentu hehe." Oh ayolah, semua orang tau kalau Erza dan Jellal saling menyukai. "Ba-baiklah acara dimulai." Serunya canggung, bersamaan dengan itu, ia menerima cake yang diberikan Jellal.

Mira membagikan bir yang dibawa oleh Cana. Setiap orang hanya mendapat 1 kaleng saja. Setidaknnya mereka tak mau sampai mabuk dan merusak pesta yang mereka adakan, apalagi sampai menimbulkan masalah.

Lucy menatap ragu pada kaleng bir yang ada di tangannya. Hingga tiba-tiba seserag mengambil minuman itu, Lucy mendongak untuk mengajukan protes.

"Hei..! apa yang kau lakukan! Itu punyaku, kau kan sudah dapat bagian..!"

"Kau tak akan kuat meminum ini Luce, lagipula jika kau sampai mabuk siapa yang akan memindahkan tubuh beratmu itu ke kamar tidur hahaha, jangan merepotkanku dasar.." cibir Natsu

"Beraninya kau…. Mengatakanku berat..! harusnya aku menjadikanmu target latihan panahanku bersama Sagitarius Sensei..!"

Melihat Lucy mengerang penuh gejolak amarah, Natsu sungguh bergidik ngeri membayangkan apa yang terjadi padanya, jika apa yang dikatakan Lucy benar terjadi.

"T-tidak Luce, aku hanya bergurau ha.. ha.. ha.." tawanya canggung. "Lebih baik kau tak meminum bir ini, tak usah ya.." Natsu menoleh menatap mata kekasihnya dengan intens. Menimbulkan rona merah pada kedua pipi gadis itu, dan melupakan kemarahannya.

"Tapi aku ingin tahu rasanya.."

"Rasanya agak pahit, aku jamin kau tak akan suka," Natsu memberi tahu sambil membuka kaleng bir itu, dan meminumnya sedikit, membuat bibirnya menjadi basah. Lucy menyentuh bibir itu dengan jemari lentiknya.. membuat Natsu tersenyum dan membiarkan dia melakukannya. Tapi bukannya mengambil tissue, Lucy malah memasukkan ujung jarinya yang basah karena sisa tetesan bir di bibir Natsu kedalam mulutnya sendiri. Natsu sendiri, jangan Tanya.. Ia hanya mampu terperangah, menyaksikan gerakan menghisap di mulut Lucy.

Menyadari sedang diperhatikan, Lucy menoleh… balik memberikan tatapan penuh arti. Gadis manis itu melepaskan jemarinya dari dalam mulutnya dan tak mengatakan apa-apa lagi.

Bagi Natsu, tatapan mata Lucy saat itu sangat berbeda. Begitu intents… tidak terlihat malu-malu walaupun pipinya merona.

Natsu baru saja akan menyentuh pipi Lucy ketika tiba-tiba gadis pirang itu beranjak.

"Lucy.. Lucy mau ke mana?" Tanya Juvia yang mengalihkan perhatiannya dari game di laptop milik Gray.

Lucy hanya tersenyum. Sekilas dia melirik Natsu yang masih terheran-heran, dan hal ini pun tak luput dari perhatian Mira dan Levy.

"Ah, Juviaa bagaimana cara memainkan ini, bisa ajari aku." Seru Mira berusaha mengalihkan perhatian Juvia dari pasangan Lucy-Natsu tersebut.

Lucy pun berbalik menjauhi ruangan besar itu, dan beberapa saat kemudian Natsu menyusulnya.

"Luce!" Serunya sambil meraih sebelah pergelangan tangan Lucy.

Lucy membalikkan tubuhnya, menghadap Natsu.

"Hei.. ada apa? Apa kau marah? Kenapa-?" ucapan Natsu terhenti, ketika Lucy memberinya tatapan yang sama seperti sebelumnya. Dan hal ini sangat mengundang bagi sang pemuda tampan itu. Tanpa sepatah katapun yang terucap dari keduanya, Natsu segera menarik Lucy masuk ke salah satu kamar tamu.

Setelah menutup pintu dan menguncinya, Natsu menekan tubuh langsing Lucy di balik pintu. Segera saja mereka terlibat dalam satu ciuman yang panas. Kedua tangan Natsu menahan lengan Lucy, bibir mereka saling memangut dan lidah keduanya bergerak lincah dalam ciuman itu… seolah sepasang kekasih yang sudah lama tak bertemu.

Tak mau membuang waktu, mereka hanya mengambil napas saat ada celah yang timbul akibat ciuman yang bergerak liar namun tetap harmonis, dalam desahan pelan yang penuh gairah.

Apa mau dikata, Natsu dan Lucy tidak mengetahui bahwa masing-masing dari mereka memang sudah sangat kelaparan akan sentuhan intim yang sering mereka lakukan semenjak bersama. Hal itu membuat nafsu keduanya Teresa begutu memuncak hingga kali ini menginginkan lebih dari biasa yang mereka lakukan.

Setelah beberapa lama, Natsu menaikkan sebelah lututnya kedaerah selangkangan Lucy dan memberikan sedikit tekanan di sana.

"Eeemmhhh…" Lucy mendesah pelan, dan mulai berusaha melepaskan kedua tangannya dari cengkraman Natsu.

"Lepaskan aku…" Bibirnya membengkak karna lumatan yang diberikan Natsu.

Natsu mendekatkan wajahnya kembali, menciumi pelipis Lucy. "Tapi bukankah…." Dia menggerakkan lututnya tepat di atas vagina Lucy yang masih terhalang celana pendek, membuat gadis itu mendesah lagi, "…Kau juga menginginkannya? Kau menikmati ini bukan, Luce?"

"Aaahh..! Hhhm…" erang Lucy ketika Natsu sedikit memperdalam tekanannya. "..aah! N-Natsu.. t-tunggu!" Lucy memekik tertahan, menyebabkan kekecewaan tergambar jelas di wajah menawan Natsu Dragnell.

Lucy kembali menatap Natsu. "Aku memang sangat menginginkannya. Namun aku pun menginginkanmu Natsu.."

Natsu terkejut mendengar jawaban yang tak pernah disangkanya. Tanpa sadar ia membiarkan kedua tangan Lucy terlepas namun ternyata terarah ke dirinya.

Komunikasi merupakan hal terpenting dalam hubungan apapun, termasuk hubungan bercinta dan kepuasan di dalamnya.

Sebentar teringat akan artikel yang dibaca Lucy, dia membelai wajah Natsu yang tanpa cela dan terus turun ke dadanya.

"Aku ingin melihatmu… sepenuhnya Natsuu.."

Katakana apa yang kau mau, dan kau akan mendapatkannya.


Lucy duduk di tepi tempat tidur, mata karamelnya menatap pemandangan indah di hadapannya yang akhirnya ia dapatkan.

Natsu membuka kaus kelabunya, menampakkan otot-otot sederhana namun terlatih. Kulit tan eksotisnya yang tanpa cela. Lucy membiarkan dirinya menikamati pemandangan ini. Ketika Natsu tengah membuka kancing celanan jeansnya, otot perut pemuda itu ikut bergerak. Mata Lucy tertuju pada kedua puting Natsu.

'Kali ini aku bisa menyetuhnya kan?' batinnya

Natsu menyentuh tepi boxer breifs itu, ia menyeringai tipis melihat mata Lucy yang sedikit terbelak karena sikapnya.

'Oh, tak secepat itu, periku..' Natsu membatin sambil melangkah mendekati Lucy

Baiklah, Lucy terlihat gugup sekarang. Terutama saat penis yang menonnjol namun masih aman di tempatnya itu berada tepat di depan wajahnya.

Perlahan Natsu duduk di samping Lucy, mendorongnya lembut hingga mulai bergerak cekatan melepaskan pakaian Lucy. Namun gadis itu terlalu fokus dan terpesona pada tubuh kekasihnya.

Natsu tersenyum. Lucy yang ada di bawahnya adalah Lucy yang berbeda, yang saat ini lebih jujur dan terbuka untuk meminta akan keinginannya. Dan itu sangat sexy.

Natsu mengalah, ia membuka pakaian Lucy dengan sabar dan perlahan, memberi kesempatan bagi Lucy untuk membelai kedua lengan berotot itu. Bergerak perlahan membelai dada hingga punggung dan kembali ke depan membelai dada bidang dan perut kekasihnya.

Mata Natsu agak terpejam ketika Lucy menyentuh kedua putingnya dengan lembut. Tak lama kemudian Natsu duduk bersandar, sementara Lucy sibuk menciumi dada dan perutnya. Kedua payudara yang padat dan besar itu sudah lepas dari semua penghalangnya, menggantung bebas, terasa menggoda ketika kedua puting Lucy yang sudah menegang bergesekan dengan kulit sang pemuda. Natsu sudah ingin melahapnya. Tapi tidak… tidak sebelum dia membuka celana pendek Lucy.

"Emmhh.." Natsu menarik napas, mencoba menahan rasa nikmat saat Lucy menjilat dan menghisap kedua putingnya.

Celana pendek Lucy sudah terlepas, celana dalamnya pun segera ditarik Natsu hingga jatuh ke atas lutut. Natsu menarik dagu Lucy, mencium bibirnya dengan penuh nafsu. Dia menarik tubuh telanjang gadis itu, hingga kedua payudaranya berada tepat di atas wajah pemuda itu.

Natsu menjilat area sekeliling puting, menjilati bagian tengah puting dengan jilatan yang putus putus. Lucy mendesah tak sadar dan hal ini membuat Natsu ingin menggodanya lagi. Ditiupnya perlahan kedua puting Lucy yang basah oleh saliva sang kekasih, menciptakan erangan indah dari Lucy yang semakin memabukkan Natsu dan keduanya tenggelam dalam gairah yang menggebu-gebu.

Lucy merengut ketika Natsu hanya menghisap putingnya, tanpa meggigit menarik-nariknya, dan tanpa remasan nikmat seperti biasanya.


Natsu berbaring telentang, perlahan ia genggam sebelah tangan Lucy, sambil memanjakan matanya dengan tubuh telanjang sang peri berambut pirang.

"kemarilah Luce.. aku ingin 'merasakanmu'.."

Lucy perlu waktu beberapa menit untuk mencerna maksud Natsu.

"Mmn.. Kau mau aku…-"

Natsu mengangguk tersenyum, dan itu cukup untuk menyakinkan Lucy. Lucy mendekat, duduk mengangkang di atas Natsu, menghadapkan vaginanya yang basah ke arah mulut pemuda yang menginginkannya itu.

Natsu tampak semakin bernafsu begitu mengenali aroma intim milik Lucy yang begitu ia rindukan. Kedua tangannya memegangi pinggul ramping kekasihnya, memberikan beberapa ciuman ringan di bagian dalam paha mulus itu, lalu berhenti saat sampai di vaginannya. Natsu melihat ke atas, menatap Lucy. Mata gelap yang seolah tak berdasar bertemu dengan pandangan lembut sang gadis, yang mendadak terpejam dengan badan melengkung ke belakang, bibir mungil yang mendesah lebih keras takkala Natsu tiba-tiba menghisap serta memberi tekanan pada jilatannya saat melahap vaginanya.

Dari luar kamar, terdengar suara musik yang cukup keras dan suara tawa teman-teman mereka seolah meredam desahan kenikmatan pasangan penuh gairah itu.

Natsu menurunkan kedua tangannya, menyibakkan vagina Lucy lalu mulai menghisap klitorisnya. Cariran gadis itu keluar semakin banyak, desahan yang semakin menjadi-jadi membuat tubuh Lucy mulai lemas. Terutama saat jemari Natsu dengan lihai menggosok klitorisnya dan lidahnya berpidah ke lubang senggama Lucy.

"Enmh…ahh…! Natsuuh… Hhm.. ah..Nath..suuh..!"

Lucy merasakannya. Dia akan klimaks sebentar lagi. Dengan cepat dia melepaskan diri, bergeser mundur hingga cairan klimaksnya membasahi dada kekar Natsu.

Sementara di bawah sana, penis sang pemuda seolah melesak ingin melepaskan diri dari dalam boxer briefs berwarna kelabu bercorak jingga itu. Natsu ingin Lucy segera memanjakan keperkasaannya, namun Lucy sendiri masih ingin lebih… walau tangan gadis itu kini tengah melepaskan boxer tersebut.

Sementara Natsu masih berpikir bagaimana sebaiknya posisi mereka, Lucy sudah berbaring telentang dengan vagina yang sudah basah kembali dan kedua puting yang mencuat tegang.

"Natsu.. maukah kau.. m-maksudku, jika kita saling memanjakan bersama?" Tanya Lucy sambil memalingkan wajahnya karna malu, bahkan telinganya saja sampai memerah.

Natsu menaikkan sebelah alisnya, di balik semua kenikmatan ini, sejak awal Lucy sungguh membuatnya heran.

'Jadi maksudnya, dia mau melakukan Heavy petting dengan posisi 69?'

"Natsu…?" panggil Lucy lagi. Tampaknya di tak senang. Mengajukan inisiatif seperti tadi sungguh merupakan perjuangan yang sangat besar baginya, benar-benar memalukan, namun bukannya langsung menanggapi, Natsu malah terheran-heran terlalu lama!

"Ah…! Maaf, maaf.." ucap Natsu sambil tersenyum. "Kau begitu menggairahkan…" seringainya

Setelah memuaskan matanya dengan pemandangan telanjang tubuh kekasihnya, Natsu kembali beraksi meremas payudara sang gadis, lalu melumat putingnya serta menggerakkan lidahnya secara melingkar tepat di tengah puting Lucy.

Natsu mulai mengatur posisi di atas tubuh Lucy. Kedua kakinya menekuk di samping kepala si Pirang, mulutnya tepat berada di atas vagina yang kembali menuntut kenikmatan untuk di manjakan, dan jagan lupakan penis miliknya yang sedari tadi sudah menengang keras, mulai masuk ke dalam mulut mungil Lucy.

Natsu merasakan kehangatan di bagian keperjakaannya, walaupun perlu usaha bagi Lucy untuk bisa memasukkannya semaksimal mungkin, dan tangannya membantu memegangi bagian pangkal yang tidak muat di mulutnya.

Lidah Natsu kembali menjelajahi vagina kekasihnya, jemarinya meraba lubang di bawah klitoris si gadis. Ia mencoba memasukkan sedikit jari telunjukknya. 'Begitu hangat…. Sempit… dan kencang sekali.' batinnya

"Mmmn…mmh…hhhh…nggmhh..!" Lucy mengerang, menimbulkan getaran di penis Natsu. Sungguh terasa sangat nikmat bagi sang pemilik.

Dalam hati Natsu sangat bersyukur Lucy memintanya mengambil posisi di atas, sehingga bisa lebih mendominasi.

Natsu tersenyum puas di tengah lumatan pada vagina gadisnya, saat melihat cairan klimaks Lucy yang entah keberapa kalinya. Ia menjilat sedikit cairan itu lalu memasukkan jarinya sedikit lebih dalam pada lubang kewanitaan sang kekasih, bahkan ia menambahkan jari tengahnya juga.

Lucy mengerang lebih keras, berusaha mengeluarkan penis besar dan panjang milik Natsu dari mulutnya untuk memprotes tindakan sang pemuda, namun Natsu segera menekannya.

"Ouuuhh… ssshh.. tenanglah Luceeh.. hmn.. aku akan melakukannya dengan lembut.. dan hati-hati.." ucap Natsu sambil mengecup vagina di hadapannya. Sebelah tangannya terulur ke belakang meraih puting gadisnya dan memainkannya, sukses membuat pemiliknya kembali terhanyut dalam kenikmatan.

Sebuah ide nista melintas di benak Natsu. Betapa nikmatnya jika penisnya yang masuk ke dalam sana. Tapi pemuda itu tak mau terburu-buru dan melakukannya tanpa persetujuan Lucy.

Akhirnya Natsu meresakanya, ketika Lucy mengulum testisnya bergantian.

'Sebentar lagi..'

Natsu segera beranjak, mengangkangi dada Lucy, mengapit penisnya dengan sepasang payudara itu.

"Ayo.. peganghh.." suara Natsu terdengar lebih berat. Dia tuntun kedua tangan gadis itu, untuk menahan masing-masing sisi payudaranya, sementara tangan Natsu sendiri memanjakan klitoris Lucy lagi, sambil memaju mundurkan penisnya semakin kencang.

Desahan Lucy kembali terdengar, di iringi napas Natsu yang tersengal-sengal.

"Uuughh.. Luceeh apa kau keberatan.. aahh~ kalau aku keluarkan di sini.. Hmn..? Hh.. ah.. ah.." Tanya Natsu di sela sela erangan kenikmatannya, tangannya membelai pipi kekasihnya itu. "Katakan…"

Lucy menggeleng lemah, namun ia tersenyum. Matanya tertuju ke bawah, ke penis yang bergerak dengan kencang ke arah wajahnya.

"..Nat…Natsuuuh…nghh… aaaaaahh…."

"OOUHHH….! LUSYIII…!" Natsu mengerang kencang, takkala cairan spermanya menyembur keluar, perlahan ia menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh kekasihnya.

Lucy memejamkan matanya. Gerakan Natsu terhenti, dan segera diiringi dengan rasa hangat di dada dan wajahnya. Perlahan matanya terbuka kembali, bertatapan dengan pemuda tampan itu.

Lucy yang menawan, terbaring telanjang di bawahnya, dengan sperma miliknya membasahi dada besarnya, wajah dan sedikit rambutnya..

Sungguh memuaskan, dari sebelumnya.

Natsu menyingkir mengambil tissue, membersihkan sperma putih itu lalu memeluk tubuh telanjang Lucy dan menciumnnya kembali. Ciumannya turun ke bahu gadis itu dan tangannya bergerak meremas bokong Lucy.

Sementara di luar, teman-teman mereka sudah bisa menerka apa yang terjadi, terutama sang Tuan Rumah ketika berusaha mencari keduanya, Gray menemukan satu kamar tamu yang terkunci, dengan suara suara menggairahkan terdengar dari dalamnnya, membuat telinganya memerah, membayangkan adegan apa yang sedang berlangsung di sana. Namun tidak dengan Juvia yang polos.

"Juvia mau mencari Lucy… Juvia mau tidur dengan Lucy dan Levy.." rengeknya.

Gray menghela napas panjang melihat tingkah sahabat kecilnya. Tanpa pikir panjang, dia langsung mendekat dan mengulum bibir mungil gadis berambut ombak tersebut… hampir sama seperti yang pernah di lakukannya saat mereka masih kecil dulu, bedanya saat itu Gray hanya mengecup bibir itu.

Juvia sontak kaku dan terdiam dari ocehannya. Wajahnya sekarang senada dengan rambut Erza, yang lainnya pun ikut terperangah.


.

TBC

.


A/N :

Sesuai apa yang dibilang sama pemilik cerita sebenarnya, 'Ini adalah Chapter paling sulit'.

bebrapa kali saya cuci muka biar fokus dan ga ngantuk pas ngetik ini, well gimana? bagian mana yang kalian suka? padahal baru begini aja udah panas banget ya.. apa lagi pas ehem nya..

Ini balasan reviewnya

Kanzo Kasuri :

Hai Kanzo thank you ya koreksinya, hehe aku udah benerin bebrapa ko, terutama kesalahan nama itu huhh :( . Nah menurut sya ini udah Lemot banget, walaupun ga sampe begono haha. Ini udah hot banget belum XD

Guest 1:

Udah lanjut, silahkan baca :), pastinya kalo udah ke bagian ini, udah dibaca dong hehe

Guest 2:

Udah update ya :)

Akira Takumi:

Hahaha kalo panas, pake topi dong xD

Aan Kyouya:

Wah iya, ini udah lanjut.. :)

Mia 981:

Yup, udah update dongsss hehe

Guest 3:

Siip, udah nih :)

Luna d'Njell:

Wah bahaya itu, jangan liat aslinya ah hehe, nanti banjir nosebleed xD

Deathberry45:

Wah terima kasih koreksinya, emg kemarin banyak banget typo nya, setelah saya cek ulang. tapu udah saya replace ko :D

Guest 4:

Udah update, sya jga ada rencana untuk bikin fic sendiri. baru sekedar konsep juga, thank you ya :)

Ikanatsu:

Makasih koreksinya, iya udah saya beneri juga. kalo panas pake topi, kalo dingin pake selimut hehe XD

Aiko Asari:

Hai hai, udah lebaran udah update juga :)

MAGENZ:

Udaaaaaaaaah :D

Stacie Kaneko:

Yaa, Thank you :D hahah asal masih sehat yah xD


Sekian dulu kali ini :D

TERIMA KASIH UNTUK YANG SUDAH RnR

dan selamat lebaran ya, buat yang ngerayainnya, Mohon maaf lahir batin semua


REVEIW PLEASE... ^^