Minyoon/Blank Space/Chapter 4

.

.

.

Happy Reading^^

.

.

Jimin memparkirkan mobilnya frustasi, ia sudah mencari Yoongi kemana-mana tapi hasilnya nihil. Sejak pergi dari kantornya tadi Yoongi memang sempat terkejar, Jimin sudah membujuknya untuk kembali tapi baru juga berucap Yoongi sudah menyerangnya dengan lemparan batu-batu kecil di sekitar tempat dia berdiri. Terus berteriak juga pada Jimin agar tidak mendekat. Jelas Jimin tidak akan berani mendekat, tidak sudi wajah tampannya harus rusak akibat lemparan batu.

Biarkan saja Yoongi pergi toh di bujuk juga susah, marahnya semakin menjadi. Jimin diam di tempatnya melihat Yoongi yang pergi dengan mata basah. Hhhh~ menyusahkan.

Jimin mengejar dengan mobilnya tapi Yoongi tidak ada dimanapun. Menelpon ke rumah mana berani ? Seokjin pasti akan membunuhnya lebih sadis dari pembunuh bayaran sekalipun.

Jimin menyerah, kembali ke kantor lalu hanya melamun. Ia sadar ketika salah satu office boy disana masuk untuk mengantarkan kopi. Matanya nyaris keluar sempurna ketika ia melirik jam di tangannya. Terlambat satu jam. Bencana kedua untuk Jimin.

Jungkook telat Jimin jemput di sekolah jadinya, ulah siapa ? Jelas ulah si manis Yoongi.

Matanya mengamati sekitar, sekolah sudah sepi. Gerbang depan hanya terbuka setengah. Jimin tidak tau Jungkooknya berada dimana. Kenapa anak dan ibu sama-sama suka menghilang ?

Untuk kasus Jungkook kurasa ia sendiri yang bersalah.

"Maaf. Apa semua anak sudah pulang ?" untunglah security tadi pagi masih berjaga disana. Setidaknya mengurangi sedikit kebingungan Jimin. Mungkin.

"Ah~ kau mencari Jungkook ?" Jimin hanya mengangguk sambil tersenyum. Jungkook cukup terkenal juga, untuk kenakalannya Jimin rasa.

"Dia sudah pulang. Aku melarangnya untuk pergi tapi dia tidak mau."

"Pulang ? Sendiri ?" Jimin mulai panik sekarang. Senakal-nakalnya Jungkook, si kecil tidak pernah berani pulang sendiri.

"Tidak. Supir pribadi Taehyung kembali untuk mengantarnya. Taehyung juga ikut, menggandeng Jungkook lalu membawanya ke mobil."

kisah dua bocah kecil itu cukup populer juga disini. Tidak ada yang tidak tau soal Jungkook yang tergila-gila pada Taehyung dan Taehyung yang enggan tapi tidak menolak.

Keduanya yang sering menangis bersamaan, saling menunggu ketika pagi dan pulang, istirahat memakan bekal yang sama, hampir tidak bisa dipisahkan dalam hal apapun meski tidak pernah akur.

Kisah dua bocah itu seolah menjadi legenda. Kkkkkk~ dasar bocah.

Jimin segera pamit, urusan Jungkook bisa ia kesampingkan. Setidaknya Jungkook aman bersama pangeran alien kecilnya, sekarang tinggal mencari Yoongi. Tapi kemana ? Handphonenya saja mati. Semoga tidak terjadi pada pemiliknya juga.

Pulang saja sebaiknya, mungkin Yoongi sudah ada di rumahnya. Bagaimana jika belum ? Itu urusan nanti. Sekarang pulang saja.

Toh pelarian Yoongi hanya dua, apartemen lama miliknya dan rumah Jimin. Jika sampai rumah Yoongi tidak ada , jadi Jimin tinggal mencari ke apartemen si manis saja.

Jangan terlalu dipikirkan, kenapa juga akhir-akhir ini Yoongi sangat menyebalkan. Kurasa memang sudah lama si manis menyebalkan, Jimin baru sadar saja sekarang.

Jimin melangkah dengan ragu, takut sebenarnya. Ia tidak siap jika nanti saat ia memasuki pintu, Seokjin akan menyerangnya dengan bringas. Insting hewan ibunya memang tajam jika di ibaratkan mungkin singa atau macan. Mengerikan.

Krieett~

Plaakkk~

"Yak ! Anak kurang ajar, ayah macam apa kau ini membiarkan cucuku pulang sendiri ? Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Jungkookku, huh ? Kau sengaja ? Kau mau membuat Jungkook yang baru dengan Yoongi lebih sering, huh ?"

"Aw~ aw~ mommy ini sakit."

Apa Jimin bilang, belum juga satu langkah Seokjin sudah lebih dulu menampar, menendang dan menyeret telinga Jimin. Sakit. Jimin itu anak kandungnya tapi perlakuan Seokjin lebih kejam dari seorang ibu tiri. Kasihan~

"Jimin ! Kau berbohong ! Kau bilang mau menjemputku tapi tidak ada. Kau marah padaku ? Tidak boleh. Yang harusnya marah itu aku Jimin, bukan kau ! Rasakan ! Tendang dia lagi mommy !"

Jungkook ikut 'memeriahkan' suasana disana, tidak perduli pada teriakan kesakitan dari mulut ayahnya. Biar saja Jimin di hukum mommynya, salah sendiri membuat ia lama menunggu di sekolah tapi tidak datang. Untung saja ada supir Taehyung yang baik hati dan pangeran alien kecilnya tentu saja. Ah~ Jungkook semakin mencintai Taehyung.

Dan ngomong-ngomong soal Taehyung, anak itu dipaksa ikut ke rumah Jungkook. Jelas saja Taehyung tidak mau dan menangis kencang tapi memang dasarnya Jungkook itu manis, cantik dan berjiwa pyscho seperti mommynya Jimin, Taehyung mau juga di bawa. Orang tua Taehyung tidak marah, menurut mereka Jungkook itu lucu dan manis. Lagipula Taehyung dan Jungkook hanyalah anak-anak.

"Jungkook, Taehyung lapar." jejak air mata masih tertinggal di pipi si kecil Taehyung, ia terus meremas ujung baju Jungkook, mengalihkan perhatian Jungkook dari pertikaian sengit antara ibu dan anak. Baru beberapa jam di rumah Jungkook, Taehyung sudah bergidik ngeri.

"Eh ? Taehyung lapar ? Aku punya es krim tapi tinggal satu, jika Taehyung yang makan nanti aku tidak punya es krim lagi. Tidak boleh, Taehyung tidak boleh lapar."

"Hiks~ Aku ingin makan es krim."

"Tidak mau. Itu es krim ku, hueeeee~"

"Ampun mom, ampun ! Hentikan ! Ini sakit."

Rumah kediaman Jimin berubah riuh dengan suara teriakan kesakitan darinya sendiri dan suara tangisan dua bocah manis juga teriakan Seokjin.

Mengalahkan riuh penonton dalam sebuah konser. Astaga~ yang benar saja.

"Aku menyesal sudah melahirkanmu, tau begini aku makan saja janinmu."

"Mom kau mengerikan, aku minta maaf tadi aku mencari Yoongi dulu, dia sudah pulang ?"

Jimin menutupi wajah tampannya dengan kedua tangan takut Seokjin mengayunkan sapu yg tadi di gunakan untuk memukul pantatnya.

"Yoongi ?" Seokjin baru ingat sekarang, tadi pagi anaknya menjemput Yoongi lalu pergi berdua, sekarang Jimin hanya pulang sendiri ?

Kemana menantu cantiknya ?

"Ouh~ kepalaku sakit. Yoongi ? Dimana Yoongi ?"

"Mommy ! Kau baik-baik saja ?"

Badan Seokjin limbung kebelakang, untung saja Jimin lebih dulu menahannya. Seokjin tidak jadi jatuh, Jimin mengarahkannya untuk berbaring di sofa. Taehyung dan Jungkook yang melihat Seokjin hampir pingsan langsung berhenti menangis, mengikuti Jimin duduk di sofa berhadapan dengan Seokjin.

"Jungkook, mommy Jungkook kenapa ?" Taehyung berbisik pelan sambil menghapus airmatanya, ia kemudian memiringkan kepalanya sekedar melirik Jimin.

Jika Taehyung tidak salah ingat, tadi mommynya Jungkook bertengkar dengan Jimin lalu sekarang malah terbaring lemah. Taehyung rasa Jimin itu berbahaya, kasihan Jungkook nantinya, jika Jungkook seperti Seokjin bagaimana ?

Jadi, Taehyung memeluk tubuh kecil Jungkook. Maksudnya melindungi Jungkook dari Jimin. Sedangkan si kecil Jungkook hanya mengelus lembut lengan Taehyung.

"Aigoo~ Yoongi... Yoongi kau dimana sayang ? Ouh~ kepalaku, pijat kepalaku, bodoh !" Seokjin itu sudah berteriak kasar memerintah orang seenaknya pula. Jimin hanya pasrah, mengikuti kemauan Seokjin untuk memijat kepala ibunya itu.

"D-dia mungkin pulang ke apartemennya, mom."

"Mungkin ? Kau bilang mungkin ? Itu jauh dari kata pasti, aisssshhh~ aw~ kepalaku."

"Yoongi ? Dia pergi ? Ini tidak adil, tadi pagi kan Yoongi yang mengusirku kenapa sekarang Yoongi yang pergi ? Harusnya aku yang pergi, hueeee~ tapi aku tidak mau pergi Jimin. Bagaimana ini ?"

tangan kecil Jungkook mencekal lengan Jimin lalu menarik-nariknya. Berharap ayahnya itu mau membawa Yoongi kembali tanpa harus ia yang pergi untuk menggantikan Yoongi. Apa ibunya itu marah ? Salah Jungkook apa ?

Jimin juga bingung harus bagaimana, daritadi handphone Yoongi tidak bisa dihubungi. Apa ia harus ke apartemen si manis yang dulu ?

Ya… apa salahnya untuk memastikan ?

"Hiks~ Jimin kau mau kemana ?"

"Mom, aku akan ke apartemen Yoongi yang dulu. Aku pasti membawa dia pulang."

adegan ini seperti Jimin yang menyebabkan anak semata wayang Seokjin kabur dari rumah. Malang sekali nasib Jimin~

.

.

.

Lagi. Jimin hanya bisa menghela napasnya frustasi sambil mengacak rambutnya kasar. Nihil. Yoongi tidak ada di apartemen lamanya. Sekarang dia harus mencari kemana lagi ?

Ini gawat, tidak bisa dibawa sesantai tadi. Jika ia kembali sekarang Seokjin bukan sekedar pingsan mungkin akan mati di tempat lalu hantu ibunya itu pasti akan langsung mencekiknya saat ini juga.

Dddrrrtttt~

Handphonenya berbunyi, malas sebenarnya. Disaat genting seperti ini siapa sih yang berani meneleponnya ?

Ck~ Jimin berdecak sebal, meraih handphone di saku celananya.

"Ha-"

'JIMIN !'

"Y-Yoongi ?" Jimin menjauhkan handphonenya lalu membaca nama yang tertera di layar, bukan nomor Yoongi. Lalu dia memakai handphone siapa ? Apa Yoongi di culik ?

'Iyaaa~ ini aku. Kau dimana sekarang ?' harusnya yang bertanya seperti itu Jimin bukan Yoongi. Siapa yang menghilang dan siapa yang di cari ?

"Kau sendiri dimana, huh ?"

'Kenapa kau balik bertanya ? Menyebalkan.'

jika Yoongi ada di hadapannya sekarang, bisa dipastikan si manis sedang mempoutkan bibir mungilnya lalu menghentak kakinya kasar. Nyatanya di seberang sana memang seperti itu.

"Yoongi, aku serius. Kau dimana ? Aku sudah lelah mencarimu kemana-mana."

'Kau mencariku ? Benarkah ?'

Yoongi ingin berteriak tapi malu, ia kan gengsi seolah memang haus perhatian Jimin. Lagipula Jimin kan memang begitu selalu mengkhawatirkannya, Yoongi saja yang sedikit tidak peka.

"Ayo pulang !"

'Pulang ? Tidak bisa. Hoseok bilang aku boleh menginap hari ini. Sudah lama aku tidak menginap di apartemennya. Aku malah ingin menyuruhmu mengambil baju ganti untukku. Baju ku bau, Jimin. Kau mau kan ?'

Badan Jimin lemas mendadak setelah mendengar nama Hoseok. Hoseok ? Kekasih Yoongi ? Menginap ? TIDAK ! Tidak boleh terjadi. Bagaimanapun juga ia harus membawa Yoongi pulang, HARUS.

'Jim ! Jimin ! Park Jimin ! Kau dengar aku tidak, Park ?'

Jimin dengar dengan jelas tapi hanya bagian saat Yoongi menyebut nama Hoseok dan menginap. Selebihnya Jimin tidak tau Yoongi bicara apa.

'Isssshhh~ kau menyebalkan ! Jika kau tidak mau aku akan pakai baju punya Hoseok saja.'

Hoseok ? Menginap ? Baju ? Ini tidak bisa dibiarkan. Yoongi itu miliknya mulai sekarang bukan milik siapapun.

"Yoon, dengar ! Beritahu aku alamat Hoseok sekarang !"

'Kau mau mengantarkan baju ganti untukku ? Yeaaayy~ aku mencintaimu, Jim !'

"Jangan banyak bicara ! Cepat tutup teleponnya dan kirim padaku alamat Hoseok !"

Pip~

Jimin mematikan teleponnya sepihak. Bagaimana bisa Yoongi bicara sesantai itu ? Tidak taukah jika seharian ini Jimin gelisah mencarinya ?

Kenapa juga harus Hoseok ? Kenapa tidak teman Yoongi yang lainnya saja asal bukan Hoseok. Mau tidak mau Jimin menyebutnya sebagai rival pengejaran cinta Yoongi.

Dan Yoongi kenapa sangat tidak konsisten ? Ia bilang mencintai Jimin tapi sekarang lebih memilih pulang ke apartemen Hoseok daripada ke rumah Jimin. Kurang apa Jimin selama ini ?

Jimin semakin cemas, ia tidak mau melepas Yoongi seperti dulu. Ia tidak mau membuat Yoongi hidup sendiri mengurus Jungkook. Meski sejak dulu Jimin selalu memberinya uang tapi tetap saja tidak sebanding dengan penderitaan Yoongi ketika harus membawa Jungkook dalam perut buncitnya kemanapun.

Jika dipikir ulang ia banyak merugikan Yoongi. Meninggalkan si manis tanpa status yang jelas, lalu ia sendiri bertunangan dengan orang lain. Lebih memilih mengikat seseorang yang asing dalam kehidupannya daripada harus mengikat Yoongi yang sudah jelas memang ia butuhkan dalam hidupnya.

Jimin sadar sepenuhnya. Batasan itu sudah mulai terlihat dan harus ia hancurkan. Tidak terus terusan berlindung di bawah status teman. Tidak mengenakan. Kasihan Jungkook juga.

.

.

.

Jimin menatap bergantian gedung apartemen di depan dan handphonenya. Si manis melakukan perintahnya dengan baik. Mengirim alamat apartemen Hoseok, meski sempat mengomel panjang lebar di panggilan kedua. Setelah Jimin memutuskan panggilan, Yoongi meneleponnya lagi. Suara Yoongi lebih kencang dari sebelumnya, kutukan dan makian untuk Jimin tidak ada yang ia lewatkan sedikitpun.

Jimin bergegas ingin segera menyeret si manis ke dalam mobil, mampir dulu di hotel, menelanjanginya lalu menggagahinya sampai pagi.

Bodoh ! Bukan saatnya berpikiran mesum seperti itu. Jimin masih sayang nyawanya sendiri.

Ting~

Menekan bel pintu apartemen Hoseok, si tampan berdiri gelisah. Kenapa tidak ada yang membuka pintu ?

Kemana Yoongi ? Apa si manis membohonginya ? Jika iya Jimin akan benar-benar memperkosa Yoongi.

"Ck~ Yoongi-ya !" kali ini Jimin berteriak sambil terus menekan bel apartemen Hoseok secara brutal. Jangan-jangan mereka berdua sedang...?

"YAK ! MIN YOONGI !"

Cklek~

Menyembulkan kepalanya di balik pintu, Yoongi memasang senyuman polosnya. Ia melangkah hati-hati lalu menunjukan dirinya di depan Jimin.

Mata Jimin melotot melihat penampilan Yoongi sekarang. Apa-apaan calon istrinya itu ?

Pantas saja Yoongi sembunyi di balik pintu. Ia hanya mengenakan kemeja Hoseok yang kebesaran dan celana pendek. Paha putihnya terekspos jelas, bercak kemerahan bekas semalam juga masih samar terlihat.

Jimin cepat melepas jas kerjanya lalu menutupi paha putih Yoonginya.

"Kau ? Ayo pulang !"

"Tidak mau. Mana bajuku, huh ?" Jimin menarik lengan Yoongi, tapi si manis tidak mau bergerak dari tempatnya. Masa iya Jimin akan membiarkan Yoongi menginap jika penampilan Yoongi seperti ini ?

Yang benar saja. Tidak sudi. Kekasih Yoongi yang bernama Hoseok itu pasti akan tergoda juga.

"Aku bilang pulang ya pulang ! Kau tidak aku ijinkan menginap !"

"Aku tidak mau pulang, kau tidak dengar ? Aku mau menginap disini, Hoseok-ya~ tolong aku !"

"Mommy mencarimu. Dia sakit."

"Kau bohong ! Hoseok~ tolong akuuu !"

"YAK ! MIN YOONGI !"

"Yoongi, kau baik-baik sa-"

Seorang namja keluar dari dalam kamar hanya dengan berbalut handuk saja di area privasinya. Wajah Jimin memerah. Bukan karena melihat tubuh atas Hoseok yang tidak mengenakan apapun dan mencetak jelas tubuh berototnya. Bukan. Bukan begitu.

Jimin marah. Atau cemburu juga tepatnya. Yoongi yang hanya memakai kemeja kebesaran lalu Hoseok yang hanya memakai handuk.

Satu atau dua jam dia pergi, Yoongi pasti ditaklukkan Hoseok di atas ranjang. Kurang ajar.

"Ayo ikut aku pulang !" Jimin sudah tidak tahan lagi, sebodoh ia akan menyakiti lengan Yoongi nantinya. Pokoknya Yoongi harus pulang. Titik.

"Hoseok~ aku tidak mau pulang."

"Kau Jimin ?"

"Ya. Aku Jimin, suaminya. Jangan ganggu istriku lagi. Ayo !"

Hey~ Hoseok tidak pernah merasa merebut Yoongi dari Jimin. Lagipula dari dulu ia dan Yoongi tidak pernah berpacaran. Ia sudah memiliki kekasih. Statusnya dengan Yoongi hanya untuk memanas-manasi Jimin. Jimin saja yang bodoh.

"Tidak mau. Kalau aku pulang, Hoseok juga harus ikut."

"MIN YOONGI !"

"APA ?"

"Ck~ terserah kau saja. Kau tidak mau pulang terserah, kau mau menginap terserah. Aku pergi."

Grep~

Jimin itu kenapa tidak mengerti perasaan Yoongi ? Mau Yoongi, Jimin membujuknya kalo perlu mengemis padanya untuk mau di bawa pulang. Bukan menyerah seperti ini.

"Iya~ iya. Aku ikut kau pulang." Yoongi juga kan akhirnya yang mengalah dan ikut pulang juga.

.

.

.

"Turun !"

Yoongi menurut, membetulkan jas Jimin untuk menutupi pahanya lebih dulu lalu membuka pintu mobil. Mereka sudah pulang ke rumah Jimin. Selama perjalanan tadi Jimin tidak berkata sepatah katapun.

Ia hanya ingin bertemu Hoseok. Jimin saja boleh bertemu dengan Jisoo setiap hari di kantor, kenapa ia sendiri tidak boleh ?

Ini tidak adil.

"Kau jahat !"

"Hhhh~" Jimin sudah lelah berdebat dengan Yoongi, terserah saja si manis mau berkata apa. Yang jelas tugasnya membawa Yoongi pulang sudah ia lakukan.

"Yoongiiii~ ouh sayang... kau kemana saja, hmmm ?" Seokjin menyambut di depan pintu, ia langsung memeluk tubuh mungil Yoongi dengan erat.

"Hey~ kenapa kau menangis sayang ?" isakan lirih dari Yoongi membuat pelukan mereka terhenti dan Seokjin baru sadar dengan penampilan Yoongi saat ini. Sontak saja ia melotot ke arah Jimin meminta pertanggung jawaban.

Jimin yang menyadari tatapan membunuh Seokjin hanya mengusap-usap tenguknya.

"Jimin jahat ! Dia tidak membolehkanku membawa Hoseok !" Seokjin tadinya sudah mau melempar Jimin dengan sepatu hak nya tapi begitu mendengar nama Hoseok, Seokjin mengurungkan niatnya. Langkah Jimin sudah benar. Tidak ada yang boleh menyentuh Yoongi.

"Yoongiiiii~" itu suara si kecil Jungkook, berlari dari arah dapur dengan mulut penuh coklat dan es krim.

"Hiks~ jangan pergi Yoongi ! Aku janji tidak akan marah pada kau, Jimin dan juga Holly. Aku minta maaf, hiks~"

Menggendong si kecil, kemeja putih Yoongi ikut di kotori coklat dan es krim juga. Kenapa ia lupa sosok Jungkook ? Ibu macam apa dia ? Hanya karena cemburu pada Jimin ia bertindak semaunya sendiri. Harusnya ia yang meminta maaf bukan Jungkook.

"Hey~ jangan menangis Jungkook, aku tidak akan pergi. Aku mencintaimu. Chu~" menghujani wajah Jungkook dengan ciuman, lagi Yoongi bersyukur sudah dianugerahi anak semanis dan selucu Jungkook. Persetan dengan Jimin yang mencintainya atau tidak yang jelas ia tidak mau menyianyiakan malaikat kecilnya.

"Jungkook~ aku ingin pipis."

Eh ? Yoongi menatap ke bawah dan ia menemukan satu bocah laki-laki disana. Taehyung ?

Jungkook membawa Taehyung pulang ?

Seketika raut wajah Yoongi berubah lalu menatap Jimin sengit.

"Park Jimin ! Kau jahat ! Kau mengijinkan Jungkook membawa pulang Taehyung, kenapa aku tidak boleh membawa Hoseok kesini ?"

Mulai lagi. Jimin sudah bosan berdebat. Yoongi aneh, manjanya sekarang melebihi Jungkook. Jimin tidak habis pikir dengan sikap calon istrinya itu.

"Mom, Jimin tidak mencintaiku ! Dia bahkan sengaja meninggalkan aku di apartemen Hoseok."

"Bukan begitu. Kau sendiri yang tidak mau di ajak pulang."

"Jimin, apa yang dikatakan Yoongi itu benar ?"

"T-tidak mom."

"Bohong, mom. Kalau tidak aku peluk dia pasti sudah pergi."

Seokjin menatap bengis Jimin. Enak saja anaknya itu mau menyerahkan Yoongi pada orang lain dengan keadaan Yoongi yang menggoda seperti sekarang. Apa Jimin sudah gila ?

"Mom, ampun ! Aku hanya menakutinya tidak sungguh-sungguh mau meninggalkannya disana."

"Jangan menyangkal, Jim ! Park Jimin anakku~ kemarilah !" kalimatnya memang manis, tapi jika Seokjin yang mengatakannya terdengar menakutkan.

"Hueeee~ Taehyung mengompol, Yoongi !"

"Yak ! Kenapa kau yang menangis ?"

"Taehyung memakai celanaku, Yoongi. Itu celana favoritku. Hueeee~"

"Rasakan ini ! Rasakan ! Sekali lagi kau berniat mencelakakan Yoongi aku akan memotong tubuhmu !"

"Aw~ ampun mom ! Sakit~"

"Hiks~ Eomma... Taehyung ingin pulang."

Di malam hari kediaman Park lebih berisik dari tadi sore, suara tangisan dua anak kecil, Yoongi yang mengomel tidak jelas pada Jungkook, Jimin yang meringis dan Seokjin yang mengaum.

Biarkan saja mereka seperti itu hingga lelah sendiri nantinya.

.

.

.

.

Kurasa semua sudah kembali menjadi sedikit normal. Tidak seberisik sebelum-sebelumnya. Hubungan yang harmonis memang diharapkan tapi mereka memang tidak bisa masuk dalam zona seperti pasangan lainnya.

Biarkan saja maunya mereka seperti apa toh mereka nyaman disana.

"Jimin !"

"Hmmm ?"

"Pijat !" namja yang di panggil namanya hanya mendesah malas tidak ada niatan untuk menuruti perintah si manis, dia sedang sibuk. Laptop di pangkuannya dan beberapa lembar berkas yang tergeletak begitu saja di atas ranjang mereka cukup menjelaskan betapa sibuknya presdir muda itu.

"Ck~ kau dengar aku tidak ? Tubuhku pegal, Jim~ ayo pijat !" lagi perkataan si manis tidak mendapat tanggapan sesuai harapan, hanya helaan napas berat. Jimin masih fokus pada laptopnya, sesekali membetulkan letak kacamata berframe hitamnya.

"Kau tidak lihat aku sedang apa, huh ?"

Kali ini giliran Yoongi yang diam. Bibirnya mengerucut lucu tanda jika ia sedang dalam mood kesal sekarang. Ia hanya ingin di pijat, sulit mana memijat dengan mengerjakan laporan bodoh itu ?

"Kau sudah mengerjakan itu berjam-jam. Nanti saja kerjakan lagi, sekarang pijat aku saja setelah aku tidur kau bisa lanjutkan pekerjaan bodohmu itu."

Bruk~

"Yak ! Apa yang kau lakukan ? Singkirkan kakimu dari laptopku, Min Yoongi !"

"Tidak mau. Pijat dulu baru aku akan menyingkir."

Yoongi itu kenapa makin menyebalkan akhir-akhir ini, tidak berbeda jauh dengan mommynya. Suka memerintah seenaknya, membentak tidak jelas, suka sekali marah-marah tapi setelah itu bermanja-manja pada Jimin.

Kemarin malam kan yang mendapat banyak pukulan itu Jimin tapi kenapa malah Yoongi yang mengeluh ingin di pijat ?

"Kau ? Haissshhh~ baiklah... baiklah. Aku akan memijat kakimu tapi singkirkan dulu, nanti laptopku rusak siapa yang bertanggung jawab ?"

Mengalah juga. Sudah terlalu lelah sebenarnya, mau berdebat sehebat apapun tetap saja yang menang Yoongi. Jimin selalu merasa iba melihat tubuh kurus Yoongi, makanya sekasar apapun Jimin ujung-ujungnya luluh di kaki si manis. Mau di perbudak sedemikian apapun ia rela meski hatinya terkadang protes keras. Tapi yang dikasihaninya tidak tau diri. Tidak ada imbal balik untuk jasa budaknya. Justru yang ada ia semakin di perbudak.

Yoongi tersenyum menang, ia menarik kakinya dari atas laptop Jimin. Mengubah posisi duduknya dengan benar. Ia sempat mendengar Jimin menghembuskan napas berat sebelum menaruh laptopnya di atas nakas lalu memulai kegiatan memijat kaki Yoongi.

"Jangan keras-keras !" Jimin baru menyentuh kaki putih mulus itu, belum melakukan gerakan apapun tapi si manis sudah berteriak sambil membentak. Mulut Yoongi itu seperti wanita, cocok dengan parasnya yang cantik seperti seorang wanita. Apa semua pria cantik di dunia ini bersifat sama seperti Yoongi dan mommynya ?

Mengerikan~ untung dia terlahir sebagai pria tampan. Katanya begitu.

"Makanlah yang banyak ! Tubuhmu hanya tinggal tulang yang dilapisi kulit tipis. Pantas saja tidak ada yang mau padamu."

Yoongi mencibir mendengar sindirian kasar Jimin untuk dirinya. Memang dia begini gara-gara siapa ?

Dulu sekali tubuh Yoongi cukup berisi seperti Jimin, bahkan sisa peninggalan tubuhnya yang dulu masih terlihat sampai sekarang di kedua pipi chubbynya. Ketika hamil Jungkook tubuhnya semakin padat efek orang hamil kebanyakan seperti itu, mungkin. Tapi setelah Jungkook lahir, berat badannya turun drastis.

Bukan apa-apa. Hanya saja ia belum siap membesarkan seorang bayi. Meski ia berstatus 'wanita' dalam kasusnya, tetap saja ia laki-laki. Tidak tau bagaimana mengurus bayi, bagaimana menggendongnya, bagaimana memberinya makan, bagaimana memandikannya, Yoongi tidak tau apapun. Membesarkan Jungkook sendirian hampir membuatnya frustasi. Ayah dan ibunya hanya mengunjungi sesekali, ibunya Jimin dulu sama super sibuknya, Yoongi hanya konsultasi masalah merawat bayi lewat telpon saja. Jimin sendiri sibuk dengan urusan sekolahnya.

Dengan kondisi seperti itu bagaimana bisa Yoongi tetap gemuk seperti dulu ? Jadilah tinggal tulang yang menempel saja. Harusnya Jimin mengerti dan meminta maaf bukan mengejek seperti tadi.

"Kalau kau jadi aku, tubuhmu akan sama kurusnya. Sialan~"

"Bukan begitu. Hanya cobalah makan yang banyak. Aku selalu merasa bersalah melihatmu yang sekarang."

"Jangan banyak bicara ! Pijat saja yang benar."

Yoongi mungkin memiliki dendam tersendiri. Mau bagaimanapun Jimin bersikap manis tetap saja semua itu membuatnya kesal. Tapi ia butuh Jimin, tidak yang lain. Dan Jimin juga harus membutuhkannya jangan membutuhkan yang lain.

"Sudah ! Sekarang pijat pinggangku !"

"Lihat lingkar pinggangmu bahkan hampir sama dengan Jungkook !"

"Ck~ tidak jadi. Aku mau tidur saja. Sana singkirkan tanganmu !" si manis menghempas tangan Jimin kasar, menarik selimut tebalnya lalu berputar membelakangi Jimin.

Jimin menurut saja, sudah terlalu biasa dengan tingkah aneh Yoongi. Ada untungnya juga ketika Yoongi hamil Jungkook dulu ia tidak ada di sampingnya. Jika ada mungkin Jimin sudah mati konyol harus menyanggupi permintaan aneh Yoongi. Tidak hamil saja ia sudah cukup tersiksa apalagi ketika hamil dulu ?

"Ya... aku juga harus mengerjakan laporanku lagi."

"Ck~ jangan !" Jimin baru mau meraih laptopnya, tapi Yoongi sudah lebih dulu memeluk pinggangnya, membuat kegiatan Jimin terhenti.

Sudah di bahas sebelumnya bukan ? Jika pada akhirnya Yooni pasti akan berubah begitu manja pada Jimin.

"Aku bilang kau bisa menyelesaikannya nanti jika aku sudah tidur. Aku belum tidur, Jim ." sedikit malu juga melakukannya, seorang Min Yoongi memeluk Park Jimin lebih dulu, tidak ada dalam kamusnya. Tapi jadi sering ia lakukan akhir-akhir ini. Konyol sekali~

Jimin tersenyum, Yoongi itu sangat lucu jika sedang merajuk. Ia ikut merebah di samping Yoongi lalu menarik tubuh kecil itu kedalam pelukannya. Mengecup kepala si manis sekilas lalu mengusap lembut punggung si manis. Rasanya masih sama seperti dulu, hangat.

"Jimiiinn~ sepertinya aku mau sakit. Besok kau dirumah saja, ya ?"

"Kkkkk~ kau hanya butuh istirahat, aku tidak bisa. Besok ada rapat penting."

"Besok aku akan lebih baik ?"

"Ya. Tutup matamu dan tidurlah."

"Jim~"

"Hmmm ?"

"Jangan tidur, teruslah bicara ! Aku suka mendengar suaramu."

Jimin terkekeh geli, ia mengecup kepala Yoongi lagi, lagi dan lagi. Lalu semakin mengeratkan pelukan mereka.

"Iya. Aku tidak akan tidur. Aku akan bercerita untukmu."

.

.

.

"Aku tidak mau bayam, mom. Singkirkan bayamnya !"

"Ini bagus untuk kesehatanmu, Jungkook !"

"Tapi rasanya tidak enak. Yoongi bilang makanan yang tidak enak itu makanan basi. Itu sudah basi, mom. Buang saja !"

"Yak ! Makan atau kusumpal hidungmu dengan sumpit ?"

"Hueeeeeee~ Jimiiiin ! Mommy jahat !"

Kata pagi itu tidak pernah menjadi awal yang tenang untuk keluarga mereka. Si kecil Jungkook selalu membuatnya sedikit heboh di bandingkan tetangga sebelah yang saling melempar panci.

Jimin baru saja tiba disana. Ia sudah di serang pelukan Jungkook di kedua kakinya. Si kecil tampak ingin menangis, tubuh gemuknya bersembunyi di antara dua kaki Jimin.

"Hey~ kenapa denganmu, sayang ?" tubuh gemuk itu sudah berpindah kedalam gendongan Jimin sekarang, tangan besar Jimin membersihkan sisa nasi di sekitar pipi Jungkook lalu mencium pipi gempal itu bertubi-tubi.

"Aku tidak mau makan bayam, Jimin. Tapi mommy memaksaku."

Jungkook itu mirip dengannya, tidak suka memakan sayur. Jimin tersenyum lembut, membetulkan topi sekolah si kecil ia lalu menurunkan Jungkook untuk kembali duduk.

"Jangan memberi pengaruh buruk padanya, Jimin! " Seokjin itu suka asal bicara, siapa juga yang memberi pengaruh buruk pada Jungkook ? Jika soal tidak suka sayur, itu salah siapa yang memasak sayur beserta ulatnya dalam satu wadah ?

Jimin tidak pernah lupa hal itu. Menjijikan ketika ia kembali harus mengingatnya.

"Tapi jika Jungkook tidak suka jangan dipaksa, mom. Kasihan dia."

"Ck~ terserah kau saja. Dimana menantu cantikku ?"

Tadi Yoongi sudah bangun, menyiapkan baju yang akan dipakai Jimin lalu merebah lagi. Jimin mengajaknya turun untuk sarapan tapi Yoongi tidak mau. Belum lapar katanya. Jika sudah begitu, Yoongi tidak bisa di bantah. Jadi biarkan saja, toh jika lapar ia pasti akan mengambil makanannya sendiri.

"Dia masih tidur."

"Tidur ? Semalam kau mengerjainya berapa kali ?"

"Uhuk~"

"Hueeeee~ Jimin kau jorok. Bajuku basah, mom."

Lagi. Seokjin tidak pernah menyaring ucapannya. Meniduri Yoongi ? Jimin memang ingin melakukanya semalam saat memijat Yoongi sebenarnya Jimin sedikit bernapsu hanya di tahan saja. Tapi sumpah ia tidak melakukannya.

"Dia hanya sedang tidak enak badan, mom."

"Menantu cantikku sakit ? Ouh~ aku harus melihatnya. Kalian pergi sana, ini sudah siang !"

"Siapa yang sakit Jimin ?"

"Tidak ada yang sakit sayang, ayo aku akan mengantarmu ke sekolah !"

"Yoongi tidak ikut ?"

"Ibumu sedang sakit, kau pergi saja dengan ayahmu sana !"

"Yoongi sakit ? Kau bilang tidak ada yang sakit."

"Kakinya yang sakit, tidak apa-apa. Ayo kita berangkat !"

"Tidak mau."

Hhh~ Jimin tidak bisa memaksa Jungkook jika sudah begini, mata Jungkook sedikit berkaca-kaca bibir kecilnya di monyongkan ke depan tanda jika si kecil mau menangis. Siapa juga yang akan tahan ?

Jimin melirik mommynya sekilas, Seokjin hanya mengedikkan bahu lalu menuju ke atas, memeriksa menantu cantiknya tentu saja. Tidak ada pilihan lain, terlambat sedikit tidak apa-apa, Jimin meraih tubuh si kecil lalu menggendongnya mengikuti jejak Seokjin ke kamar Yoongi.

"Yoongi ! Hiks~ jangan sakit !" Jungkook berlari cepat ke arah Yoongi begitu Jimin menurunkannya di ambang pintu. Ia memeluk tubuh Yoongi erat, ia takut seperti dulu di Jepang.

Ia masih sangat kecil ketika malam hari tubuh Yoongi menggigil hebat, tubuhnya panas, keringat dingin mengucur deras membasahi dahi ibunya. Jungkook hanya bisa menangis tidak bisa melakukan banyak hal. Yoongi seperti hampir mati saja, Jungkook sangat takut, takut sekali. Ia tidak mau ditinggalkan Yoongi, Yoongi segalanya untuk Jungkook.

Siapa nanti yang akan mengurusnya ? Siapa nanti yang mau mengajaknya bermain ? Siapa nanti yang membelikannya es krim ? Jungkook sangat menyayangi sosok Yoongi, tanpa Jimin mungkin ia masih bisa bertahan tapi tanpa Yoongi ? Itu hal yang mustahil. Tidak perduli sosok 'ibu' untuknya berbeda seperti sosok ibu yang lain, kasih sayang Yoongi tidak berbeda seperti ibu lainnya bahkan lebih baik dari mereka. Jungkook merasa begitu.

Untung saja ada tetangga baik hati yang menolong mereka.

"Hey~ big bunny. Kau jelek jika sedang menangis. Aku tidak apa-apa." Yoongi tersenyum lembut seraya membelai rambut halus si kecil. Ia jadi tidak tega, tapi tubuhnya benar-benar lemas.

"Hiks~ aku mau disini saja. Kenapa kau harus sakit lagi ? Kau bilang kau tidak akan sakit. Aku takut kau mati, Yoongi." ucapan polos si kecil berhasil membuat mata Seokjin melotot sempurna, cucu kesayangannya mendoakan menantu cantiknya mati ? Hhh~ untung Jungkook masih kecil, Seokjin memahaminya.

"Kkkkk~ aku tidak sakit. Aku baik-baik saja. Sudah sana kau akan terlambat, sayang~"

"Ka ! Pergi sana dengan ayahmu ! Biar aku yang mengurus ibumu."

"Tidak mau. Nanti mommy jahat. Yoongi kau tidak mau kan ? Mommy pasti akan memberimu makanan basi, kau bisa keracunan. Jangan mati, Yoongi. Hueeeee~"

"Yak ! Bocah kau~"

"Jungkook-ee ayo kita berangkat ! Taehyung pasti sudah menunggumu." Jimin segera menggendong Jungkook begitu melihat mommynya seperti akan mengeluarkan tanduk. Jika sudah marah Seokjin tidak perduli siapa itu, tangan lentiknya siap mengukir 'seni' di tubuh targetnya.

"Tidak mau. Aku mau Yoongi, hueeeee~ kenapa Taehyung harus menungguku ? Taehyung jahat. Aku mau Yoongi tapi aku mau Taehyung, hueeeee~"

.

.

.

"Jungkook !"

"Taehyung !"

Jimin senang akhirnya Jungkook mau berhenti menangis, untung saja bocah bernama Taehyung itu memang sedang menunggu anak manisnya. Berdiri di depan gerbang sekolah lalu tersenyum antusias begitu melihat ia yang menggendong Jungkook turun dari mobil.

Bocah tampan itu setengah berlari ke arahnya, menggapaikan tangannya ke atas seolah ingin meraih tangan Jungkook yang berada dalam gendongan Jimin.

Jungkook juga tidak mau diam, tubuhnya terus bergerak sejak Taehyung berlari ke arah mereka.

"Turunkan aku, Jimin !"

"Jungkook kau terlambat." Taehyung langsung menggandeng tangan kecil Jungkook ketika Jimin menurunkan Jungkook dari gendongannya. Menggemaskan sekali mereka jika tengah akur begini. Jimin suka melihatnya. Senyum Jungkook adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupnya.

"Yoongi sakit, Tae. Dia mau mati, aku takut."

"Yoongi baik-baik saja Jungkook. Jangan berbicara seperti itu pada orang lain, mereka akan salah paham nantinya." Jimin jengah juga sedari tadi Jungkook berkata Yoongi mau mati. Jimin juga takut, jangan sampai hal itu terjadi. Ia belum melamar Yoongi secara sah, ia juga belum menikah dengan Yoongi, masa iya Jimin harus jadi seorang single parent. Jungkook juga ada-ada saja.

"Jadi, Yoongi tidak akan mati ?"

"Tentu saja tidak. Anak nakal, sudah sana gerbang sekolah akan ditutup."

Jimin menunduk, mencium pipi, dahi lalu bibir si kecil.

"Aku mencintaimu, Jimin."

"Aku juga mencintaimu, Jungkook-ee."

Chu~

Bukan kecupan Jungkook untuk Jimin, bukan juga kecupan Jimin untuk Jungkook. Tapi itu kecupan Jungkook untuk Taehyung.

"Aku suka Taehyung."

"Hueeeee~ eomma... pipiku basah."

.

.

.

Tok~ tok~ tok~

"Masuk !"

"Jimin, aku... ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu !"

"Jisoo ?"

Salah Jimin, ia sudah memulai awal yang rumit tapi tidak mau menyelesaikannya dengan baik. Pergi tanpa solusi apapun adalah yang terbaik menurut Jimin tanpa menyadari ada hati seseorang yang masih ia ikat tapi ia buat simpul ikatannya, tidak ia lepas tidak pula ia perkuat lalu ia buat tali lama yang sudah meregang kembali erat.

Apa yang harus ia putuskan sekarang ?

Bermain dengan dua ujung pisau sangat berbahaya.

"Jimin~ aku-"

"Aku minta maaf."

Hening. Kenapa jadi secanggung ini ? Jimin tidak tega melihat wanita cantik di depannya terus menundukkan kepala sambil meremas ujung roknya, Jimin tau Jisoo merasakan sakit yang sama sepertinya, tapi jika terus begini Jimin tidak mau Jisoo semakin sakit.

"Aku benar-benar minta maaf. Kau boleh menghukumku dengan cara apapun."

"Tidak. Aku tidak apa-apa. Kita... apa kita tidak bisa seperti dulu lagi ?"

Jimin bangkit dari duduknya, ia berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Jisoo yang tengah duduk sekarang. Ia memegang kedua tangan wanita cantik itu lalu menaruh sesuatu disana. Cincin. Cincin pertunangan mereka. Tanpa suatu jawaban dari mulut Jimin, Jisoo sudah mengerti jawabannya. Jadi biarkan ia menangis, biarkan airmatanya turun bersamaan cincin yang juga terlepas dari jari Jimin, biarkan pelukan Jimin setidaknya menjadi obat penawar rasa sakit hatinya.

"Aku sangat mencintaimu, Jimin. Hiks~"

"Maaf. Maafkan aku, Jisoo-ah !"

"Jika kau memintaku menghukummu, bolehkah aku ajukan hukuman itu ?"

"Ya. Katakan !"

"Cintai aku seperti dulu lagi, Jim. Aku tidak peduli dengan masa lalumu, aku mohon."

"Cinta itu bukan suatu hukuman. Jangan seperti ini, kau bisa menemukan seseorang yang lebih baik dariku."

"Aku tidak bisa. Hiks~ aku tidak bisa."

"Jisoo-ah, jangan membuatku terlihat seperti seorang penjahat. Ini sakit."

Jimin melepas pelukan mereka, menghapus jejak airmata di pipi Jisoo lalu menghapus jarak di antara keduanya.

Bukan Jimin ingin terlihat semakin jahat, ia hanya ingin memastikan hatinya siapa yang akan ia pilih. Ia memang seorang penjahat ulung, jadi biarkan ia memperbaiki semuanya menghapus gelar itu dengan caranya sendiri.

"Maafkan aku, Jisoo-ah !" setelahnya Jimin berlari kencang, entah kemana tujuan namja itu tapi Jisoo tau satu hal. Hubungannya bersama Jimin sepenuhnya sudah berakhir. Ini akhir dari semuanya. Bukan ia yang menghukum Jimin jika begini tapi Jimin yang menghukumnya. Terlalu sakit hingga ia menyesal telah membiarkan nama Park Jimin tertulis di ruang kosong hatinya, harusnya nama itu tidak pernah ada. Ya... tidak pernah ada.

.

.

.

Tap~ tap~ tap~

Brakkk~

"YOONGI !"

"Ugh~"

Yoongi sudah memakan bubur buatan Seokjin lalu meminum obatnya, Seokjin kemudian menyuruh ia tidur barang sejenak tapi anak semata wayangnya berhasil merusak rencana itu. Yoongi baru mau menutup matanya tapi Jimin sudah lebih dulu menerobos masuk lalu memeluknya begitu erat.

Ada apa dengan Jimin ?

"A-aku... kesulitan ber...na...pas.. ugh~ Park Jimhh~"

"Maaf."

"Uhuk~ uhuk~ kau sudah gila ? Kau mau aku mati, huh ? Kau senang aku meninggalkanmu lalu kau akan mencari ibu baru untuk Jungkook ? Jangan begini caranya, langsung saja kau tancapkan pisau ke jantungku. Dasar bodoh~"

Jimin menikmatinya, ia tersenyum mendengar setiap umpatan yang keluar dari bibir pucat Yoongi. Si manis masih pandai mengumpat ternyata. Jimin rasa Yoongi memang tidak sakit.

"Maafkan aku."

Yoongi hanya mendelik tajam lalu membuang wajahnya dari Jimin. Tubuhnya terasa panas, efek sakit mungkin. Tapi kenapa efeknya muncul ketika melihat senyum Jimin ? Tampan. Namja di depannya sangat tampan.

"Yoongi ?"

Chu~

Mata Yoongi membola ketika ia mencoba menoleh ke arah Jimin, namja tampan itu malah mendaratkan satu kecupan di bibir kecilnya.

Jimin benar-benar sudah gila.

Panas. Rasa bibir Yoongi memang tetap manis tapi sensasinya berbeda. Tentu saja, Yoongi sedang sakit dan apa yang ia lakukan ?

Meraup bibir pucat itu lalu menindih si empunya di bawah badan besarnya.

"Yak ! Apa yang kau- aaarrgghh~ Jiminnhh..."

"Menikahlah denganku, Min Yoongi !"

"Eungghh~ aaaasssshh~ hen...tikanhh.. aahh~"

Tinggalkan saja. Park Jimin memang mempunyai cara gila untuk melamar kekasihnya. Kita hanya perlu berdoa, semoga Yoongi tidak semakin sakit setelahnya.

.

.

.

.

.

.

tbc

.

.

.

sudah berapa abad aku gak lanjutin ini ?!

dan ouh~ ini pasti makin jelek sama makin gaje...

maaf untuk typo.

Yosh~ terima kasih^^