Seokjin berakhir terbaring di rumah Taehyung. Dengan paha Taehyung sebagai bantalannya. Sembari menikmati belaian lembut di rambut panjangnya. Ia berkali-kali menghembuskan napas panjang. Dirinya begitu penat hari ini. Bukan hanya karena masalah perjodohannya dengan sepupunya sendiri, namun juga karena adiknya, Wang Jeongguk.
"Ada yang mengganggumu, Putra Mahkota?"
Seokjin hanya mengangguk. Enggan membuka matanya. Sebelah lengannya tertekuk dan menutupi wajahnya sendiri. "Kau tidak akan percaya, Tae." Seokjin kembali menghela napasnya. "Ini soal pernikahanku."
Perlahan Seokjin membuka matanya. Memandang tepat ke sepasang obsidian yang nampak begitu tenang. Wajah Taehyung tak menampakkan ekspresi apapun. Namun, saat menyadari Seokjin menatapnya, Taehyung segera mengulas sebuah senyum tipis. "Ada masalah dengan itu?"
Seokjin mengangguk. "Kau tahu? Hwangbo Heonae, baru berusia sepuluh tahun. Kurasa mereka sudah gila―menikahkanku dengan seorang bocah." Gerutunya. Onyxnya bergulir ke arah lain. Kembali mengingat saat dirinya bertemu dengan sosok calon istrinya tadi.
Taehyung terkekeh kecil. "Benarkah?"
Seketika, Seokjin mengerutkan alisnya dan kembali menatap Taehyung. Taehyung masih terkekeh geli. Seokjin segera meletakkan jari telunjuknya di bibir penuh Taehyung, mengisyaratkannya untuk berhenti tertawa. Menjadikan Taehyung terdiam dan mengerjap beberapa kali. "Jangan tertawa, Wang Taehyung."
"Ini hanya pernikahan politik, Putra Mahkota. Kurasa menikahkan gadis di bawah umur dengan seorang laki-laki berpengaruh dan berpangkat tinggi itu sudah umum. Untuk menguatkan kedudukan keluarga mereka, seperti itu."
Seokjin kembali menghela napas. "Aku tahu itu." Lalu memejamkan matanya lagi.
Taehyung hanya menggelengkan kepalanya. Begitu heran saat beberapa jam yang lalu, sang putra mahkota berada di depan pintunya. Tak menghiraukan pertanyaan Taehyung dan langsung melenggang masuk tanpa permisi. Menghasilkan sejuta tanya di kepalanya. Kemudian Taehyung melihat Seokjin berbaring di ranjangnya, begitu kasual. Seolah semua itu adalah miliknya.
Tidak heran, putra mahkota. Taehyung kembali menggeleng karena tingkah Seokjin. Dengan perlahan ia berjalan mendekat dan duduk di tepi ranjang. Mengangkat kepala sang putra mahkota dan menggantikan posisi bantal Seokjin dengan pahanya. Seokjin tak melakukan perlawanan apapun, justru semakin menyamankan diri. Dan Taehyung membiarkan Seokjin tetap di pahanya selama beberapa jam ini, sekalipun pahanya mulai kram.
"Pukul berapa sekarang?"
Taehyung kembali mengerjap, kembali menunduk dan menemukan Seokjin memandanginya lagi. Kemudian ia mengedikkan bahu. "Lewat tengah malam, sepertinya."
Seokjin tersenyum. Begitu tampan. Taehyung mengutuk pipinya yang memanas dan merona tak tahu malu. Saat dirinya hendak mengalihkan pandangan, Seokjin mengangkat sebelah tangannya dan memagut dagu Taehyung dengan jemarinya. Menuntunnya untuk mendekat. Terpana dengan kepatuhan Taehyung yang sama sekali tak menolak. Justru membungkuk dan menghasilkan jarak yang begitu tipis di antara mereka.
Perlahan, namun pasti, Seokjin menekan belah bibirnya pada milik Taehyung. Terasa begitu pas saat keduanya bertemu dan menyapa satu sama lain. Saling memagut dengan lembut. Rasanya tetap sama, dingin. Tapi Taehyung menyukainya. Menyukai saat Seokjin mendominasi bibirnya. Dan Seokjin menyukai saat erangan tipis dari Taehyung saat dirinya menggigit bibir bawah jenderal itu. Dengan kedua mata yang tertutup khidmat dan begitu menikmati.
Seokjin perlahan melepaskan pagutan bibir mereka. Tidak terlepas sepenuhnya, dirinya membiarkan bibir Taehyung tetap berada dalam jangkauannya. Begitu menyukai saat napas panas keduanya menerpa satu sama lain. Ibu jari Seokjin bergerak untuk menyentuh bibir bengkak Taehyung yang terkuak tipis, dengan napas yang belum tertata sempurna. Menekannya perlahan dan menemukan obsidian itu kini menatapnya juga.
Seokjin kembali tersenyum. "Selamat ulang tahun, Wang Taehyung."
Taehyung terdiam. Kelopak matanya mengerjap cepat. "Kau mengingatnya?" Ibu jari Seokjin masih berada di bibirnya saat ia berbicara. Anggukan Seokjin menjawab pertanyaannya.
"Tentu saja. Kau yang selalu melupakannya, Tae." Taehyung terkekeh kecil. Menyingkirkan ibu jari itu dari bibirnya, lalu kembali menyatukan bibir keduanya. Dengan senyuman yang terulas di bibir keduanya. Bahkan kali ini, lidah mereka ikut berpartisipasi dalam ciuman mereka.
"Terima kasih, Putra Mahkota." Taehyung yang pertama melepasnya kali ini. Hanya untuk kembali mengecup sudut bibir Seokjin dengan suara decakan yang cukup berisik. Membuahkan kekehan di antara mereka berdua.
"Katakan, apa yang kau inginkan. Akan kuberikan apapun untuk hadiahmu."
"Apapun?" Kemudian Seokjin mengangguk konfirmatif. Membiarkan Taehyung berpikir sembari mendengung pelan. Lucu sekali.
"Kosongkan jadwalmu hari ini."
Kali ini Seokjin yang berpikir. Kemudian kembali mengangguk. "Baik. Laksanakan, Jenderal Wang." Menjadikan Taehyung tersenyum lebar bukan main.
"Seharian penuh?"
"Seharian penuh."
Taehyung kembali mengecupi bibir itu, berkali-kali. Bahkan wajah Seokjin. Suara kecapan tiap Taehyung menciumnya membuatnya tertawa. Keduanya tertawa, bukan maksud menertawai satu sama lain. Hanya karena keduanya bahagia. Hanya itu.
"Besok, pukul tujuh tepat. Datanglah ke kamarku."
Taehyung mengernyit. "Untuk apa?" Seokjin hanya menjawabnya dengan gendikan bahu. "Datang saja." Membuat Taehyung mendengus kemudian.
"Putra mahkota, ini sudah larut malam."
"Lalu kenapa?"
Seokjin menaikkan sebelah alisnya saat Taehyung sedikit menjauhkan tubuh mereka. Lalu jenderal itu memandangnya garang.
"Pulang sana ke istana."
Seokjin terkekeh. "Hoo, kau mengusirku?"
"Ye, aku mengusirmu." Kemudian, keduanya kembali tertawa bersama
Distance
( we're mean to each other, but we can't be )
JinV
Karena Taehyung tahu, garis takdirnya dengan Seokjin tidak akan pernah menyatu.
.
.
Anything for You
.
.
Keesokan paginya, tepat pukul tujuh―seperti yang Seokjin katakan. Taehyung berdiri di depan pintu kamarnya. Menunggu penjaga pintu itu membukakan pintu kamar Seokjin untuknya. Saat pintu itu terbuka, Taehyung tersenyum sekilas pada kedua penjaga itu dan segera memasuki kamar Seokjin.
Hal pertama yang Taehyung lihat adalah sosok sang putra mahkota, berdiri dengan gaya khasnya di tengah-tengah ruangan. Seolah dirinya sengaja menunggu Taehyung. Hanya mengenakan celana dan pakaian dasar berwarna putih. Ketara sekali jika Seokjin belum lama selesai mandi. Terbukti dari rambutnya yang masih basah dan belum tertata sama sekali. Di sebelah sang putra mahkota, tepatnya di meja, satu stel pakaian terlipat rapi di sana. Beserta beberapa kotak perhiasan di sebelahnya.
"Selamat pagi, Jenderal Wang. Kau datang."
Taehyung berjalan mendekati Seokjin. Kemudian mengangguk. "Ada apa, Putra Mahkota?"
Seokjin mengerling ke arah pakaiannya yang masih terlipat rapi. Menjadikan Taehyung tergelak lirih saat memahami isyarat Seokjin. Kemudian, dengan cekatan dirinya mengambil pakaian itu. Membawanya mendekati Seokjin yang sudah bersiap.
Taehyung menggeleng pelan. "Sejak kapan kau begini manja, Putra Mahkota?" Namun tangannya tetap bekerja untuk memakaikan Seokjin pakaian. Membalut tubuh tinggi itu dengan dua lapis pakaian lagi. Lapisan pertama berwarna abu-abu muda, dan satu lagi berwarna lebih gelap.
Taehyung mengikatkan ikat pinggang pada Seokjin, sengaja tak memutar tubuh Seokjin ataupun beralih ke belakang tubuh Seokjin hingga keduanya dalam jarak yang begitu dekat. Dengan tangan Taehyung yang melingkar di pinggang Seokjin dan mengikat fabrik itu dengan gerakan perlahan. Seolah betah berlama-lama dengan posisi seperti itu. Tak terelakkan saat ini wajah keduanya begitu dekat. Dengan tinggi yang nyaris sepadan, menjadikan keduanya dapat merasakan hembusan napas satu sama lain di atas pori-pori mereka.
"Selesai." Raut tak terima Seokjin begitu ketara saat Taehyung menjauhkan tubuh darinya. Tapi kemudian Seokjin menggeleng.
"Belum, Tae. Rambutku, tolong."
Taehyung tersenyum ringkas. Membiarkan Seokjin duduk di depan cermin dan menunggunya untuk menangani penampilannya. Taehyung membawa serta dua kotak perhiasan, handuk dan sebuah sisir di tangannya. Ia kembali meletakkan kedua kotak itu di dekat Seokjin, lalu berdiri di belakang putra mahkota itu. Dengan perlahan mengusakkan handuk ke rambut panjang yang belum kering sempurna itu. Seokjin terpejam dan membiarkan Taehyung melayaninya.
"Sepertinya perlu dicatat kalau aku ini seorang jenderal. Bukan kasim ataupun dayang pribadimu." Taehyung tak sungguh-sungguh mengatakannya, kilatan jenaka terpancar jelas dalam obsidiannya. Kemudian ia dapat mendengar Seokjin tertawa kecil.
"Memang bukan. Kau kekasihku." Dan entah kenapa, tiap kali Seokjin menyebut Taehyung sebagai kekasihnya, semburat merah selalu terpoles dengan jelas di kedua pipi Taehyung. Bersyukur saat ini Seokjin tengah memejamkan matanya. Taehyung yakin Seokjin akan menggodanya habis-habisan saat melihat rona merah itu.
"Yah, bukan berarti aku harus melakukan ini."
"Itu salah?" Seokjin membuka sebelah matanya. Memandang lurus ke refleksi Taehyung di cermin. Kemudian terkekeh kecil saat melihat wajah Taehyung yang memerah.
"Tidak. Sama sekali tidak."
Saat merasa rambut Seokjin sudah cukup kering, ia meletakkan handuk itu dan beralih mengambil sisir. Taehyung menyisiri rambut panjang itu perlahan. Sementara kini Seokjin terus memandangi refleksi dirinya di cermin. Tidak, lebih tepatnya memandang refleksi Taehyung yang sibuk dengan rambutnya.
Taehyung mengucir rambut bagian atas Seokjin. Menyisakan poni dan rambut di sisi kanan dan kirinya. Membiarkan sebagian rambut Seokjin tergerai begitu saja. Persis seperti tatanan rambut Taehyung saat ini. Seokjin mengerutkan alisnya saat Taehyung menggulung rambutnya dan mengikatnya dengan pita hitam.
"Jangan seperti ini. Aku terlihat seperti wanita dengan poni ini." Seokjin menyentuh poni dan rambut yang menjuntai di sisi kanan wajahnya. Tanpa menyadari bibir Taehyung yang melipat mendengar ucapannya.
"Lalu maksudmu, aku seperti wanita?"
"Apa maksud―" Kemudian Seokjin tertawa. Dirinya baru saja menyadari jika tatanan rambut Taehyung persis sepertinya saat ini. Wajar saja jenderal itu melipat bibir juga tangannya di depan dada. Tampak begitu tak terima dengan pernyataan Seokjin.
"Astaga, bukan begitu maksudku. Kau pantas seperti itu―bukan berarti kau seperti wanita. Hanya saja―kau memang cantik."
Taehyung mendengus kemudian. "Aku laki-laki," Tangannya kembali bergerak untuk menata rambut Seokjin. "Dan aku tidak cantik. Aku tampan." Kemudian Seokjin hanya tertawa kecil lalu menggumam tanpa poni dan Taehyung menurutinya. Melepas kuciran Seokjin dan kembali menyisir poni Seokjin ke belakang, lalu mengucirnya lagi. Seokjin sengaja tak ingin menggunakan perhiasan apapun di kepalanya.
"Sepertinya ikat kepala akan lebih baik." Kemudian Taehyung mengangguk dan segera berjalan ke lemari milik Seokjin. Sekilas melirik ke arah Seokjin yang masih mematut dirinya di depan cermin. Lalu mencari ikat kepala yang senada dengan pakaian Seokjin yang berwarna abu-abu. Ia langsung memasangkan ikat kepala berhias emas putih di depannya di kepala Seokjin, menutupi dahi sang putra mahkota.
Saat itu juga, Taehyung menahan napas terkesirap saat melihat pantulan Seokjin di cermin. Sempurna. Taehyung bahkan kehilangan kata-katanya dengan wajah memerah sempurna. Astaga, sejak kapan Seokjin begini tampan? Seokjin memang tampan. Tapi kali ini, ketampanannya semena-mena.
"Jangan melihatku seperti itu. Aku tahu aku tampan."
Taehyung mendengus. Ingin sekali dirinya melempar sisir ke kepala sang putra mahkota. Tapi sayangnya, ia tak dapat melakukan itu. Bisa-bisa dirinya dihukum mati karena melakukan hal yang tidak sopan terhadap seorang putra mahkota. Namun, dirinya berakhir melempar tatapan sinis dengan gumaman tajam; "Kau terlalu percaya diri, Putra Mahkota."
Sementara Seokjin hanya tertawa kecil dan bangkit dari bangkunya. Kemudian menghadap Taehyung, segera mencuri sebuah kecupan di bibir yang melipat sebal itu. "Jangan memasang wajah seperti itu. Kau membuatku ingin menciummu."
"Apa-apaan." Taehyung hanya mendecih lalu tertawa kecil.
Tok tok
"Kami membawakan sarapan untuk Putra Mahkota dan Jenderal Wang." Seokjin langsung menoleh ke arah pintu yang masih tertutup. Kemudian melirik Taehyung dan mendapati jenderal muda itu mengerjap kikuk. Dengan senyuman lebar, Seokjin berseru. "Masuk!"
Lalu rombongan dayang dengan nampan yang penuh makanan masuk ke kamarnya. Menata semua makanan itu di meja pendek di sisi lain kamar Seokjin. Bahkan beberapa dari mereka perlu memindahkan satu meja lagi karena makanan yang dibawa termasuk banyak. Taehyung yakin jika itu lebih dari cukup untuk dirinya dan sang putra mahkota.
Salah seorang dayang berjalan ke arah mereka berdua dan langsung membungkuk hormat. Seokjin hanya membalasnya dengan anggukan singkat dan mempersilahkan rombongan dayang itu keluar dari kamarnya setelah selesai menata makanannya.
"Nah, ayo kita makan." Kemudian, Seokjin dengan begitu santainya berjalan ke belakang meja dan duduk di sana. Memandang heran pada Taehyung yang masih setia di tempatnya berdiri. "Duduklah, Tae. Ini semua untuk dimakan, bukan hanya dilihat." Seokjinpun terkekeh kecil saat melihat Taehyung dengan segera mendudukkan diri di seberang meja. Seokjin benar-benar dibuat terpana dengan segala kepatuhan jenderal itu padanya.
Sementara Taehyung berusaha tampak normal saat duduk berhadapan dengan sang putra mahkota. Membiarkan Seokjin mengambil makanannya terlebih dahulu, baru Taehyung berani menyentuh makanan itu. Sekalipun Seokjin membiarkannya masuk ke teritori sang putra mahkota, tetap saja dirinya hanya seorang jenderal yang harus bersikap sopan di hadapan Seokjin. Sekalipun Seokjin menganggap dirinya sebagai kekasih.
"Apa yang ingin kau lakukan hari ini?"
Taehyung memandang Seokjin sembari mengunyah makanannya. Menelannya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan Seokjin. "Aku belum tahu. Ada saran, Putra Mahkota?"
"Sayangnya cuaca di luar sedang tidak bersahabat." Seokjin dapat mendengar helaan napas dari Taehyung. Laki-laki itu kemudian menunduk dan menyibukkan diri dengan makanannya. Kekecewaan terpancar dari obsidian kembar itu. Dari bagaimana Taehyung menggigit sumpitnya dengan bibir yang melipat kesal. Itu menggemaskan, sungguh. Seokjin bahkan mati-matian menahan diri untuk tidak mencubit pipi Taehyung. Tidak, Seokjin tidak akan melakukannya. Bisa-bisa Taehyung makin kesal karenanya.
"Berdoalah agar cuaca membaik setelah ini."
"Lalu apa yang akan kita―"
BRAK
"Maafkan saya, Putra Mahkota. Tapi anda harus segera menyelesaikan sarapan. Tuan Kang dan Jeongguk Wangjanim menunggu anda. Materi―"
BRAK
Taehyung dibuat kaget setelah Namjoon tiba-tiba membuka pintu dan merangsek masuk tanpa permisi. Walaupun laki-laki itu langsung membungkuk dalam dan tampak ketakutan. Dan sekali lagi karena tiba-tiba Seokjin menggebrak mejanya. Tampak begitu marah karena sikap Namjoon. Walaupun Taehyung yakin bukan itu yang membuat sang putra mahkota semarah itu. Karena dirinya tahu sedekat apa Seokjin dengan Namjoon. Perihal masuk tanpa permisi, Seokjin dapat menoleransinya.
"Kim Namjoon. Sudah kukatakan untuk mengosongkan seluruh jadwalku hari ini. Apa perlu aku mengatakannya sekali lagi?"
"Saya mengerti, Putra Mahkota. Tapi―"
Kim Namjoon tidak pernah melihat tuannya marah.
"Aku tidak peduli jika Guru Kang sudah menunggu setelah perjalanan jauh―atau apapun. Biarkan Jeongguk belajar sendiri. Bocah itu perlu banyak belajar. Jika ada pertemuan, biarkan Jeongguk yang menggantikanku. Atau batalkan sepenuhnya. Dimengerti, Kim?"
Setelahnya, Namjoon hanya mengangguk patuh penuh ketakutan dan langsung membungkuk makin dalam. "Baik, Putra Mahkota. Saya permisi. Maaf sudah mengganggu anda." Namjoon segera mundur dan melangkahkan kaki keluar dari kamar Seokjin.
"Kau berlebihan, Putra Mahkota." Taehyung meneguk ludahnya. Jujur saja, baru kali ini dirinya melihat Seokjin meledak. Bolehkah Taehyung mengatakan jika Seokjin tampak begitu mirip dengan Gwangjong saat marah? Taehyung bahkan dapat melihat bola mata Namjoon bergetar. Bahkan Namjoon terbata saat menjawab rentetan kalimat penuh emosi dari Seokjin.
Sementara Taehyung terus memandangi Seokjin yang tengah meneguk airnya buas. Berusaha menenangkan dirinya. Seokjin memejamkan matanya cukup lama sambil berusaha mengatur respirasinya. "Maafkan aku." Kemudian sepasang onyx itu menampakkan diri. Taehyung sudah tak lagi melihat gejolak emosi di dalamnya.
"Kurasa tidak perlu sekeras itu pada Namjoon." Taehyung menghela napas sembari membereskan bekas makannya. Meletakkan sendoknya dengan posisi menelungkup dan menyingkirkan mangkoknya. Kemudian melipat tangannya di atas meja. Agaknya merasa bersalah setelah meminta Seokjin untuk mengosongkan jadwalnya hari ini tanpa tahu apa saja kegiatan sang putra mahkota pada hari ini.
"Itu perlu. Dia melakukan kesalahan."
"Kurasa kesalahannya ada padaku. Maaf memintamu untuk mengosongkan jadwal. Sepertinya jadwalmu penting hari ini, Putra Mahkota."
"Hentikan, Tae."
Taehyung dapat melihat sepasang onyx itu kembali menajam. Menjadikan Taehyung bungkam dan kembali menghela napasnya. Tak berani membantah ucapan Seokjin untuk saat ini.
"Ini sama sekali bukan kesalahanmu. Kau memintaku untuk menjadi milikmu selama satu hari ini sebagai hadiah ulang tahunmu. Maka akan kulakukan. Aku milikmu sepenuhnya hari ini, Tae."
"Tunggu sebentar. Bukan itu―"
"Kau tidak mengatakannya, memang. Tapi itu semua tersirat, Tae. Kau tidak dapat membohongiku, Sayang."
Taehyung kembali dibuat bungkam. Dan semakin bungkam kala Seokjin bangkit dan mendekatinya. Berjongkok di sebelahnya dan menarik dagunya tanpa aba-aba. Menjadikan Taehyung gugup tanpa sebab. Bahkan dirinya tak dapat mengelak saat ibu jari Seokjin bergerak menyentuh bibirnya. Menyaksikan kedua belah bibir itu terkuak tipis saat Seokjin menekan bibir bawah itu.
Onyxnya memasung sepasang obsidian milik Taehyung. Menjadikannya terpaku dan tak dapat melihat hal lain selain onyx sekelam malam itu. "Kau terlalu transparan, Tae. Aku tidak tahan." Wajah Seokjin terlalu dekat. Bahkan Taehyung seratus persen dapat merasakan hangatnya napas Seokjin menerpa wajahnya. Dan entah mengapa, bisikan Seokjin membuatnya merinding.
"Katakan sekali lagi; apa yang kau inginkan sebagai hadiahmu, Wang Taehyung?"
Taehyung kembali meneguk ludahnya. Napasnya menderu masai. Seokjin berhasil membuatnya gugup bukan main. Hanya Seokjin yang dapat membuatnya tunduk. Hanya Seokjin yang dapat mengupas seluruh egonya. Menjadikannya patuh dan tak dapat melakukan perlawanan apapun di bawah kendalinya.
"Kau―" Taehyung tersedak. Pandangannya memburam kala Seokjin makin menipiskan jarak di antara mereka. Bahkan bibir keduanya nyaris bersentuhan jika tak ada ibu jari Seokjin di bibir Taehyung. "Ingin kau―jadi milikku hari ini. Waktumu, dirimu, hatimu―semuanya."
"Egois sekali." Kemudian Seokjin terkekeh. Tanpa aba-aba menyatukan bibir keduanya dan mulai melumat bibir Taehyung perlahan. Namun tidak bertahan lama, sampai Seokjin yang melepaskannya terlebih dahulu. "Kalau begitu, ikut aku."
Seokjin membawanya ke menara astronomi. Dimana tempat itu sudah menjadi teritori khusus sang putra mahkota. Taehyung sering melihat Seokjin ditemani oleh Namjoon di sini. Tapi, terkadang Namjoon hanya akan menunggu di luar. Tak berani mengganggu sang putra mahkota. Namun kini, dirinya hanya menopangkan tangannya di kusen jendela dan memandangi salju yang jatuh di luar sana.
"Kurasa kita bisa pergi keluar. Salju sudah tidak seganas tadi."
Taehyung mengerling ke arah Seokjin yang dengan santainya berbaring di kasur lantai di sudut ruangan. Memejamkan matanya dengan kedua tangan menopang kepalanya sendiri. Taehyung menggeleng saat tak mendapatkan jawaban. Kemudian dirinya kembali memandang hamparan putih salju yang menutupi seluruh wilayah Goryeo.
"Hyungnim!"
Taehyung mengerjap. Berusaha menajamkan pendengarannya saat telinganya menangkap suara yang begitu familiar. Kedua obsidiannya mengedar ke sekitarnya. "Hyungnim! Di bawah!" Kemudian dirinya menunduk dan mendapati Jeongguk tengah melambaikan tangan ke arahnya. Berusaha mendapat perhatiannya.
"Apa yang kau lakukan di sana, Wangjanim?"
Taehyung mengerutkan alisnya. Tapi sedetik kemudian ikut tersenyum saat Jeongguk tersenyum lebar (dan terkesan kekanakan karena gigi kelincinya) ke arahnya. Lalu Jeongguk menggerakkan tangannya, mengisyaratkan Taehyung untuk turun.
"Kemarilah, hyungnim. Ada sesuatu yang ingin kukatakan." Tapi Taehyung menggeleng. Menjadikan Jeongguk melipat bibirnya, merajuk.
"Maafkan aku, Wangjanim. Aku―"
"Taehyung sedang bersamaku."
Taehyung dan Jeongguk menoleh bersamaan. Tiba-tiba Seokjin muncul dari belakang punggung Taehyung. Mengait pinggang ramping itu posesif dan mengerling sinis pada Jeongguk di bawah sana. Sementara Jeongguk menyelingakkan kepalanya, memandang Seokjin tak kalah sinis. Menjadikan Taehyung menaikkan sebelah alisnya bingung.
Ada aura persaingan yang begitu pekat yang tak Taehyung mengerti. Dari bagaimana Seokjin mengerling tajam, bagaimana Jeongguk membalas tatapan kakaknya tak kalah sinis. Taehyung bahkan dapat membaca gerak bibir Jeongguk yang melontarkan umpatan tanpa suara. Sementara pelukan Seokjin makin erat di pinggangnya.
Jeongguk melipat tangannya di depan dada. "Baiklah. Maaf mengganggu waktu kalian." Dan dengan langkah lebar, Jeongguk segera meninggalkan area menara.
"T-tunggu, Wangjanim―ah, tolong maafkan sikap Jeongguk Wangjanim, Putra Mahkota." Seorang pria pendek bermata sipit tampak tergesa mengikuti Jeongguk, setelah sebelumnya membungkuk hormat pada Seokjin. Seokjin sendiri hanya membalasnya dengan anggukan singkat. Tampak tak peduli saat kasim itu berlari tergopoh-gopoh mengejar Jeongguk dengan langkah lebarnya. Sedikit mengomeli Jeongguk akan tingkah tak sopannya terhadap kakaknya.
"Lagi-lagi kau berlebihan, Putra Mahkota."
Seokjin hanya mengedikkan bahu tak acuh. Kemudian mengecup pipi Taehyung singkat. "Aku tidak akan membiarkan siapapun mengganggu, Sayang." Taehyung menggelengkan kepalanya, kemudian menatap langsung ke sepasang onyx itu.
"Malam ini, di ibukota akan ada penerbangan lampion. Kau ingin kesana?"
Kali ini Seokjin yang mengecupi wajah Taehyung berkali-kali. Meninggalkan suara decakan yang cukup berisik, membuat Taehyung tertawa kecil.
"Tentu saja. Itu ide bagus."
Dan pada malam harinya, Seokjin berhasil menyelinap di antara kerumunan warga sembari menggandeng Taehyung. Keduanya menggunakan mantel yang cukup tebal untuk mengusir hawa dingin yang begitu menusuk. Memang salju masih turun malam ini. Tapi itu tak menyurutkan minat warga untuk menerbangkan lampion-lampion mereka.
Pertama kalinya Taehyung menyaksikan langsung penerbangan lampion adalah saat dirinya berusia sebelas tahun. Saat itu Jeongguk kecil yang membawanya (menyeret lebih tepatnya) kemari. Jeongguk mengatakan jika dirinya akan memperlihatkan sesuatu yang sangat indah sebagai hadiah ulang tahunnya.
Keduanya sukses menghebohkan seantero istana karena Jeongguk pergi tanpa pamit. Bahkan kasim pribadinya tidak tahu sang pengeran pergi kemana. Dan malam itu, keduanya bersenang-senang menikmati indahnya lampion. Tanpa seorangpun yang mengenali Jeongguk sebagai pangeran mereka. Hingga keduanya berhasil dibawa pulang oleh seorang penjaga istana.
Awalnya Taehyung mengira Gwangjong akan memarahinya habis-habisan. Tapi saat Jeongguk membelanya―mengatakan jika hari itu adalah hari ulang tahun Taehyung dan ingin memberikan Taehyung hyungnimnya hadiah, Gwangjong tertawa. Kemudian mereka berdua diperbolehkan keluar, tanpa dimarahi ataupun dihukum sama sekali. Dan tiap tahun, tepat pada tanggal 30 Desember, Jeongguk akan membawanya ke tempat itu.
Taehyung tertawa kecil mengingatnya. Hingga Seokjin menatapnya heran. Taehyung yang merasa dipandangi oleh Seokjinpun menggeleng pelan, lalu menggumam bukan apa-apa pelan. Keduanya kini tengah berjalan di sekitar ibukota. Berjalan bersisian di antara kerumunan orang-orang yang juga tengah berbahagia. Rasanya begitu hangat, bahkan Taehyung dapat melupakan jika saat ini sedang musim dingin di Songdo.
"Kau senang?" Seokjin menautkan tangan di belakang tubuhnya. Berjalan dengan gaya khas bangsawannya. Kedua onyxnya tak lepas dari Taehyung yang berjalan sedikit di depannya. Tampak terlalu sibuk memerhatikan pemandangan sekitar dibanding dirinya. Seokjin berhenti saat Taehyung berhenti di sebuah jembatan.
Heran saat Taehyung justru mendekati seorang gadis kecil yang tengah memegang sebuah lampion. Kemudian Taehyung membungkukkan tubuhnya, menyamakan tinggi badannya dengan gadis kecil itu.
"Kau sendirian, gadis kecil? Dimana orang tuamu?"
Gadis itu menggeleng, dengan wajah yang begitu polos. "Ayah saya sedang sakit, sedangkan ibu saya sudah meninggal, Tuan. Saya sedang menjual lampion ini. Untuk biaya obat ayah saya."
Taehyung menghela napasnya. Kemudian sebelah tangannya bergerak untuk mengusap rambut kusam gadis itu. "Siapa namamu, gadis kecil?"
"Haera. Park Haera." Kemudian Taehyung tersenyum.
"Aku Taehyung. Wang Taehyung―"
"Apa anda jenderal yang terkenal itu? Pahlawan Goryeo?"
Taehyung terkekeh mendengar penuturan gadis itu. Kemudian ia mengangguk. "Jenderal, iya. Tapi, pahlawan Goryeo? Kurasa bukan."
"Tapi orang-orang menyebut anda seperti itu. Saya mendengar anda benar-benar hebat. Saya tidak menyangka anda terlihat semuda ini." Raut gadis itu murni kekaguman. Binar di kedua bola mata itu begitu terang. Menjadikan Taehyung terus tersenyum memandangi gadis itu.
"Aku memang masih muda, Haera-ya."
"Saya benar-benar mengagumi anda, Jenderal Wang!" Gadis itu berbicara cukup keras, hingga Taehyung sempat merasa orang-orang di sekitarnya berhenti untuk memandangi mereka. Taehyung dengan cepat meletakkan telunjuk di bibirnya sendiri.
"Sstt, jangan terlalu keras. Aku tidak ingin orang-orang mengenaliku."
Kemudian Haera mengerjap kikuk. "Apa anda sedang dalam misi? Apa anda sedang mengikuti musuh?" Gadis itu menolehkan kepalanya ke berbagai arah, seolah mencari-cari dimana musuh yang sedang dikejar oleh jenderal di hadapannya ini.
Taehyung kembali dibuat gemas oleh gadis itu. Ia mengusak surai Haera sekali lagi. "Tidak, tidak. Aku hanya sedang menikmati udara segar, dengan seseorang." Lalu Taehyung sedikit bergeser dan menoleh ke arah Seokjin yang setia menunggu di belakangnya. Memilih diam daripada mengganggu momen Taehyung dengan gadis itu.
Taehyung dapat melihat Haera terkesirap. "Apakah dia teman anda? Tampan sekali." Kali ini, Seokjin yang dibuat tertawa oleh Haera.
"Terima kasih, nona. Aku tahu aku tampan." Mengabaikan sikutan disertai tatapan sinis dari Taehyung, Seokjin tersenyum hangat. Dirinya bahkan dengan jelas melihat semburat merah di wajah gadis kecil itu.
"Omong-omong," Taehyung berdeham kecil. "Apa hanya itu lampion yang kau punya?"
"A-ah? Iya, Tuan. Hanya ini yang tersisa. Apa anda berniat membelinya?" Kemudian Taehyung mengangguk. Taehyung merogoh sakunya dan mengambil beberapa koin, lalu memberikannya pada Haera. Sementara Haera mengerjapkan matanya berkali-kali saat menerima uang dari Taehyung.
"Tuan, ini terlalu banyak. Harga lampion saya hanya―"
"Simpan saja. Untuk ayahmu." Taehyung tersenyum dan mengambil lampion dari tangan Haera. Ingin rasanya kembali mengusak surai gadis itu saat Haera hanya mengangguk dengan wajah melongo sembari memandangi uang di tangannya.
"Kurasa aku harus pergi."
"Tunggu sebentar, Tuan." Haera buru-buru memasukkan uangnya ke kantung dan menyimpannya. Kepalanya ia dongakkan ke arah Taehyung yang kini berdiri tegap. "Anda selalu bertemu dengan Putra Mahkota, bukan? B-bisakah anda menyampaikan pesan saya padanya?"
Kemudian Taehyung tersenyum dan lagi-lagi mengusak surai milik Haera. "Akan kuterima. Katakan saja, Haera-ya." Taehyung mengerling pada Seokjin yang berdiri di sebelahnya tanpa Haera sadari.
"Katakan padanya untuk membuat Goryeo jauh lebih baik dari saat ini. Aku ingin―saat Putra Mahkota menjadi raja kelak, lebih memperhatikan kami. Setiap warga Goryeo―satu per satu tanpa terkecuali." Haera menunduk. "Goryeo memang sudah sangat baik saat ini, di bawah pemerintahan Yang Mulia. Tapi―aku yakin Putra Mahkota dapat merubahnya menjadi jauh lebih baik suatu saat nanti."
Taehyung dan Seokjin mematung. Ada harapan dari tiap kata yang diucapkan gadis itu. Yang membuat hati Seokjin seolah diremas begitu kuat. Menjadikannya berlutut di hadapan gadis itu dan menyentuh lembut pundak Haera yang bergetar.
"Pu―"
Seokjin segera mengisyaratkan Taehyung untuk diam. Kemudian diusapnya bahu itu. Cara Seokjin menenangkan gadis itu penuh afeksi. Membuat Taehyung bungkam. Saat kepala itu mendongak, onyx milik Seokjin menatap tepat ke dalam sepasang manik berair itu. Seokjin menggunakan ibu jarinya untuk mengusap pelupuk mata Haera.
"Akan aku sampaikan langsung pada Putra Mahkota."
"Anda akan menyampaikannya langsung?"
Seokjin mengangguk pasti, kemudian tersenyum. Diam-diam merekam baik-baik setiap silabel yang keluar dari mulut gadis itu. Permintaan termurni dari gadis cilik yang ia rasa baru berusia tujuh atau delapan tahun.
"Ada lagi yang ingin kau sampaikan?"
Haera menggeleng dan mengusap kedua matanya dengan lengan bajunya sendiri. "Hanya itu yang ingin saya sampaikan. Terima kasih karena anda bersedia menyampaikannya."
"Namamu Park Haera, bukan?" Gadis itu mengangguk. "Hari sudah malam. Sebaiknya kau pulang. Aku yakin ayahmu menunggu di rumah." Seokjin mengusap bahu Haera sekilas kemudian bangkit berdiri.
Haera kembali mengangguk, dua kali, lalu mengulas senyum terbaiknya. "Terima kasih, Tuan. Dan, Jenderal Wang." Gadis itu membungkuk dalam dan langsung berlari kecil meninggalkan mereka berdua. Sesekali Haera melambaikan tangan pada Taehyung dan Seokjin.
"Gadis yang menarik."
"Kukira kau akan mengakui dirimu sebagai Putra Mahkota dihadapannya, Putra Mahkota."
Seokjin tersenyum tipis. "Mungkin besok aku akan mengirimkan sesuatu padanya. Omong-omong, ayo kita terbangkan lampion itu."
Taehyung mengerjap cepat. Menyadari Seokjin sudah berjalan di depannya. Tak ingin membuang waktu, dirinya segera menyamakan langkahnya dengan sang putra mahkota. Taehyung menahan diri untuk tak menanyakan apa yang akan Seokjin lakukan untuk gadis itu besok. Ia rasa dirinya akan tahu dengan sendirinya.
Seokjin berdiri di tepi danau, memandang ke langit gelap dengan seulas senyum di wajah tampannya. Taehyung berada di sisinya, memegang lampion yang tadi dibelinya. Seokjin tiba-tiba mengambil lampion dari tangan Taehyung. Satu tangannya sudah memegang sebuah pena, bahkan Taehyung tidak tahu dari mana Seokjin memiliki pena itu.
Seokjin menulis sesuatu di lampion putih itu. Tak membiarkan Taehyung melihatnya sama sekali. Seolah-olah dirinya sedang mengerjakan sebuah ujian dan tak membiarkan siapapun melihatnya. Kemudian mengulurkannya lagi pada Taehyung.
"Terbangkanlah."
Taehyung mengerutkan alisnya. Ingin melihat apa yang ditulis oleh Seokjin, namun Seokjin menahannya. "Terbangkan saja."
Taehyung mendengus, namun menurutinya. Ia membesarkan api lampion itu dan melepaskannya perlahan-lahan ke langit. Membiarkan lampion itu terbang dengan sendirinya karena dorongan panas dari api di tengah-tengahnya. Perlahan menjauhi keduanya, sementara Seokjin dan Taehyung memandanginya dari bawah.
Selamat ulang tahun, Wang Taehyung. Aku mencintaimu.
Taehyung membelalakkan matanya dan langsung menoleh ke arah Seokjin. "Putra Mahkota―"
"Kau menyukainya?"
Taehyung mengerjap berkali-kali. Memastikan pandangannya tak salah. Terus-menerus memerhatikan lampion itu. Memerhatikan huruf-huruf yang tertulis rapi di atasnya. Seokjin yang menuliskannya. Dan Taehyung masih tak percaya Seokjin akan menulisnya.
"Kau menyukainya?" Ulang Seokjin. Sementara Taehyung terus memerhatikan lampion itu, sepenuhnya mengabaikan Seokjin yang memandanginya.
"Ya, aku sangat menyukainya. Terima kasih, Putra Mahkota."
Cantik. Kali ini, Seokjin yang dibuat terpana oleh senyuman Taehyung. Kerutan di sekitar mata Taehyung begitu menampakkan betapa bahagianya jenderal muda itu. Senyuman khas dari laki-laki itu sungguh membungkam Seokjin. Cantik. Hanya itu yang dapat menggambarkan Taehyung saat ini.
BRUK
"Ini ulang tahun terbaik sepanjang hidupku. Terima kasih, sekali lagi. Aku mencintaimu, Putra Mahkota."
Satu hal yang tak Seokjin sangka; Taehyung memeluknya. Memang sekitar mereka sepi, tapi tetap saja ini tempat umum. Walaupun begitu, Seokjin berakhir melingkarkan tangannya di pinggang Taehyung dan membalas pelukan kekasihnya.
Untuk saat ini, Taehyung merasa jika ini adalah hari tersempurna sepanjang hidupnya.
Keduanya begitu larut dalam dunia mereka sendiri. Hingga tak menyadari sepasang onyx yang memandangi keduanya dari kejauhan dengan tatapan terluka.
"Wangjanim, saya sudah membeli lampion yang anda minta."
Jeongguk disana. Berdiri di tepi jembatan sembari melihat dua orang laki-laki tengah berpelukan―Seokjin dan Taehyung. Tangannya meremat pegangan jembatan nyaris terlalu kuat, hingga buku-buku jarinya memutih. Bahkan Jeongguk memilih abai saat Kasim Park mendekatinya.
Dadanya panas. Jeongguk bahkan tak bisa menata respirasinya dengan baik saat kedua onyxnya terus terpaku pada pemandangan yang tak begitu jauh darinya. Tak menyadari jika kedua pelupuk matanya mulai menggenang. Jeongguk tak tahu lebih dominan mana, rasa marahnya atau kesedihannya.
.
To be continued...
.
Author's note :
Haiiiiiiii~ I'm back!
Ini gak lama kan ya update nya? Gak bikin kalian bosen kan nungguin Distance ini update?
Oke, disini, mari kita lupakan tentang calon istri Seokjin yang masih 10 tahun itu. Disini fokus ke moment JinV nya. Dan kalo ada yang nanyain atau minta itu, ya itu, you know what I mean, mungkin chap depan bakal naik rating.
Wait, jangan seneng dan pesta-pesta dulu karena itu masih mungkin.
Disini juga aku ganti ejaan nama Jungkook jadi Jeongguk. Entah kenapa terdengar (atau terbaca) lebih klasik/? Dibanding 'Jungkook' yang, well, modern banget (gak tau juga, tapi menurut aku begitu). Dan karena aku sukanya begitu /plak
And big thanks to my readers, and also reviewers yang review panjang-panjang, yang bikin aku senyam-senyum pas bacanya. Thank you gals.
Nah, ada minat buat review lagi di chap ini?
P.s.: Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang muslim :)
Regards,
.
Kairav
