Nichan_Jung Present

Kim's Love

Main cast :

Kim Mingyu , Kim Jongin , Kim Kibum, Kim Jaejoong

Jeon Wonwoo, Do Kyungsoo, Lee Jinki, Jung Yunho

Other cast: TVXQ, SHINee, EXO, & Seventeen Member

Rate: T

Genre: Romance, fluff, drama

Previous Chap...

"Tapi dari yang ku dengar dari Jihoon, Wonwoo itu tidak mudah ditaklukkan. Dia mempunyai kepribadian yang sangat unik. Kau yakin bisa membuatnya menyukaimu?"

"Aku berusaha Jinki Hyung. Apakah Jihoon mengenali Wonwoo?" tanya Mingyu antusias.

"Tentu saja. Mereka berteman dari junior high school." Jawab Jinki.

Lee Jihoon adalah adik Jinki setelah Taemin. Jihoon setahun lebih tua dari Mingyu, sama seperti Taemin yang setahun lebih tua dari Jongin.

"Kalau begitu aku akan memulainya dengan pendekatan melaui Jihoon. Setelah itu baru ke Wonwoo. Jihoon harus mau menjadi informanku atau akan ku siksa Soonyoungnya."

Kelima lelaki dewasa di ruang tersebut memasang wajah ngeri melihat semangat membara Kim Mingyu.

Sementara di rumahnya Jihoon terus terbatuk-batuk. Lain lagi dengan Wonwoo, ia sudah bersin berulang kali semenjak selesai makan malam.

"Siapa orang bodoh yang terus menyebut namaku." Wonwoo melemparkan tisu bekasnya ke tong sampah secara asal. Ia kesal. Lalu tiba-tiba ponselnya berkedip.

Mingyu Tiang... calling...

Kim's Love Chapter 4

Wonwoo berdecak kesal. Raut mukanya benar-benar terlihat tidak baik. Kantung mata tipis mewarnai mata sipitnya. Dia melangkah dengan lesu menuju meja makan.

"Kau baik-baik saja, Wonwoo-ya?" Ibu Wonwoo mendekat ke arah putra sulungnya setelah meletakkan secangkir kopi untuk suaminya. Jungkook dan ayahnya ikut melihat ke arah Wonwoo, menunggu jawaban.

"Eumm, aku baik, Bu. Hanya kurang tidur." Jawab Wonwoo dan meraih susu vanilanya, menyesapnya sedikit dan merasakan kehangatan memenuhi mulutnya.

"Sesuatu mengganggumu? Tumben sekali Hyung sampai kurang tidur begini." Jungkook tentu saja sangat hafal dengan kebiasaan kakaknya.

"Entahlah, sepanjang malam aku terus bersin dan beberapa kali terbangun karena tersentak. Seolah ada sesuatu. Aneh." Wonwoo terdengar frustasi dan kesal bersamaan.

"Mungkin ada seseorang yang terus mengingatmu sepanjang malam."

"Oh, ayolah, Yah. Sesuatu seperti itu tidak pernah ada." Wonwoo berdecak semakin malas.

"Tapi bisa saja itu terjadi, iyakan Bu? Nenek pernah mengatakan hal seperti itu." Jungkook menambahkan kefrustasian Wonwoo. Sang Ibu dengan polosnya hanya mengangguk.

"Lalu siapa orang bodoh yang tidak punya kerjaan itu?" Wonwoo menatap ketiga keluarganya.

"Entah, memangnya kau sedang dekat dengan siapa?" Selidik sang Ibu.

"Tidak ada, lagian aku sedang tidak tertarik." Jawab Wonwoo dengan cuek.

"Hyung, serius? Bukannya kemarin itu kau bilang Kim Mingyu itu menarik?"

Wonwoo mendelik ke arah Jungkook. Ibu dan ayahnya saling menatap lalu beralih ke Wonwoo.

"Kim Mingyu adiknya Jung Yunho?" Tanya sang Ayah.

"Kau sedang dekat dengannya?" Tambah sang Ibu. Jungkook terkekeh senang melihat kakaknya diserbu dengan pertanyaan.

"Aku berangkat duluan." Wonwoo bangkit dan meraih tasnya. Wonwoo terlalu malas menjawab pertanyaan orang tuanya. Lagipula Wonwoo juga belum mengenali Kim Mingyu dengan lebih dekat.

"Hyung, aku bisa menitipkan salammu pada Mingyu lho." Seru Jungkook saat Wonwoo sedang memakai sepatunya.

"Sialan kau Jeon Jungkook, akan ku balas." Teriak Wonwoo sebelum keluar rumah dengan sedikit membanting pintu.

Jungkook tertawa dengan sangat puas sudah berhasil membuat kakaknya semakin kesal pagi-pagi begini. Mengganggu Wonwoo selalu menjadi kesenangan buat Jungkook, padahal ia sendiri tidak mengenali Kim Mingyu secara personal. Sementara orang tuanya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua anak lelakinya.

Wonwoo ke sekolah dengan menaiki bus. Dia sedang malas berangkat bersama ayahnya ataupun di antar oleh sopirnya. Sudah menjadi hal biasa jika Wonwoo memang senang naik bus untuk berangkat ke sekolah. Alasannya ia ingin menikmati pagi harinya.

Wonwoo mendudukkan dirinya di pojokan depan, berdekatan dengan pintu keluar. Ia bukanlah orang yang terlalu pemilih untuk hal-hal kecil seperti ini. Wonwoo termasuk orang yang rasional, ia tidak mau terlalu memaksakan sesuatu. Jadi ia hanya akan menerima atau melakukan sesuatu yang sudah ada di depannya. Bukan berarti Wonwoo tidak mau berjuang, hanya saja ia berpikir jika ada yang mudah dan tidak beresiko kenapa harus menyusahkan diri?

Ponsel Wonwoo bergetar, sebuah pesan. Wonwoo membuka pesan tersebut, segaris senyuman terlukis di bibir merah mudanya. Wonwoo membalas pesan tersebut dengan singkat. Sebuah ucapan selamat pagi dan semangat beraktivitas.

Ucapan Jungkook di meja makan tadi terlintas di kepalanya. Kim Mingyu. Lelaki bertaring panjang itu memang cukup menarik perhatian Wonwoo. Tapi hanya sebatas itu, Wonwoo tidak berminat untuk mencari tahu lebih banyak tentang Mingyu. Wonwoo akan membiarkan Mingyu mendekatinya terlebih dahulu.

Lagi-lagi ada balasan dari orang yang tadi mengiriminya pesan. Kali ini senyuman Wonwoo semakin merekah lebar.

'Sepulang sekolah maukah ikut minum kopi bersama?'

'Oke'

'Aku akan menjemputmu, tunggu aku'

'Baiklah'

Begitulah percakapannya dengan seseorang. Wonwoo menyimpan kembali ponselnya dengan senyum yang tidak berkurang sedikitpun.

~ Kim's Love ~

"Kyungsoo!"

Kyungsoo menoleh ke arah samping, asal suara yang memanggil namanya. Di sana Jongin sudah berdiri dengan tas ransel di pundaknya. Kyungsoo tersenyum melihat Jongin. Ia dapat melihat Jongin yang tersenyum melangkah ke arahnya. Diam-diam Kyungsoo memerhatikan penampilan Jongin. Kasual dan trendy. Jongin selalu terlihat tampan dengan apapun yang digunakannya. Tubuh tegap dan kulit tan-nya membuat aura tampan dan sensual menguar dengan jelas dari tubuh Jongin. Kyungsoo menggeleng untuk menmgusir pemikirannya yang mulai menjurus.

"Hai, kau baik-baiak saja?" Tanya Jongin begitu sudah berhadapan dengan Kyungoo. Jongin melihat Kyungsoo menggeleng beberapa kali sebelum ia menanyakan keadaan lelaki mungil itu.

"tentu, aku baik." Jawab Kyungsoo sembari tersenyum. Jongin begitu menyukai senyum heath shape milik Kyungsoo.

"Oya, Jongin-ah. Ada apa?" Jongin kelabakan. Dia sudah lupa dengan tujuannya tadi memanggil Kyungsoo.

"Tiba-tiba aku lupa apa yang ingin aku sampaikan kepadamu." Jawab Jongin jujur seraya menggaruk tengkuknya.

Kyungsoo memiringkan kepalanya, tanda tidak mengerti. Jongin menahan diri sekuatnya untuk tidak mencubit pipi Kyungsoo. Ia sangat-sangat gemas akan sikap Kyungsoo.

"Ah, aku baru ingat. Sore ini kita latihan ya?"Jongin berharap Kyungsoo menjawab iya.

"Sore ini?"

"Eumm, kau bisa kan?"

"Entahlah, aku ada acara dengan Baekhyun sampai jam 6 sore nanti." Jawab Kyungsoo.

"Tidak masalah, kau bisa ke rumah ku setelah acara mu dengan Baekhyun selesai."

"Apakah tidak apa-apa? Bukankah itu sudah sangat sore dan bahkan mungkin bisa selesai hingga malam kan?" Kyungsoo sejujurnya tidak enak dengan keluarga Jongin jiga harus latihan sampai malam.

"Bukan masalah, Kyungsoo-ya. Nanti kau akan tahu seberapa menyenangkannya para hyungku. Kau tidak perlu sungkan." Jelas Jongin. Kyungsoo mengangguk.

"Baiklah, nanti sore aku akan ke rumahmu."

"Bagus." Seru Jongin dengan rasa senang yang berlebihan.

~ Kim's Love ~

Jaejoong sedang berada di kantornya saat Yunho datang. Mereka sudah berjanji untuk makan siang bersama, kesibukan keduanya sering kali membuat waktu bersama mereka sedikit berkurang. Seperti biasa Yunho selalu tampan dan gagah dengan apapun yang dikenakannya. Sementara Jaejoong, tubuh sempurna yang dimilikinya membuatnya menjadi incaran semua mata.

Yunho menggenggam tangan Jaejoong dan menuju mobil mewahnya. Mereka akan makan di restoran Italia, Jaejoong memang sangat suka makanan dan ia penikmat beragam macam kuliner.

"Jae."

Jaejoong menoleh ke arah Yunho yang sedang menyetir. Lalu iya bergumam kecil menjawab panggilan suaminya.

"Mengenai pernihakan Key dan Jinki, bagaimana perkembangannya? Mereka membutuhkan bantuan kita, tidak?"

"Tadi aku sudah menanyakan pada Keybum, persiapannya sudah 90%. Hanya memastikan pakaian pengantinnya saja. Kau tahu kan, Yun, Key itu sangat perfectsionis. Ia ingin semuanya terlihat sempurna. Jadi ia turun tangan sendiri dalam menyiapkan apapun." Jelas jaejoong panjang lebar.

"Tentu saja, hal yang sudah bisa di tebak dari seorang Keybum. Kalian hampir mirip pada hal seperti ini." Balas Yunho seraya tersenyum.

"Benarkah? Aku juga begitu?" Jaejoong memastikan.

"Iya, kau ingat dulu saat kita menikah? Kau benar-benar sangat sibuk bahkan hampir sakit karena kelelahan. Kau mengontrol semuanya dan tidak ingin ada kekurangan apapun. Aku dan ayahmu sampai harus memaksamu untuk istirahat."

Jaejoong terkekeh mengingat betapa keras sikapnya dulu. Baginya pernikahan adalah hal yang sakral dan berkesan, jadi Jaejooong ingin pernikahannya berharga tidak hanya baginya dan Yunho, tapi juga bagi keluarga dan sahabat-sahabatnya.

"Aku terlalu bahagia dengan pernikahan kita dan menginginkannya sesempurna mungkin, Yun."

"Aku tau, sayang." Yunho meraih tangan Jaejoong dan mengecupnya. "Kurasa Keybum pun menginginkan hal yang sama." Lanjut Yunho. Jaejoong mengangguk mengiyakan.

"Dia bahkan membuat pakaiannya sendiri." Seru Jaejoong heboh.

"Kau tentu tidak lupa seperti apa adik cantikmu itu kan?"

"Haha, tentu saja. Seorang Diva, fashionista kece, dan tentu saja Jinki tidak akan keberatan dengan apapun yang diinginkan Keybum. Itu yang terpenting kan, Yun."

"Tentu saja, sayang. Dukungan Jinki adalah kekuatan untuk Keybum."

"Seperti dirimu adalah kekuatan bagiku." Gantian jaejoong yang mengecup tangan Yunho.

"Aku mencintaimu, Jae." Pandangan penuh cinta dan sayang diberikan Yunho untuk istri tercintanya.

"Aku bahkan lebih mencintaimu melebihi diriku sendiri." Yunho tersenyum semakin lebar dan menarik Jaejoong dalam rangkulan sebelah tangannya, bagaimanapun Yunho masih menyetir. Yunho mengecup puncak kepala Jaejoong dan itu sukses membuat Jaejoong tersenyum mendapat perlakuan manis dari suaminya.

~ Kim's Love ~

Wonwoo masih duduk di kursinya. Kelas terakhir baru saja selesai 10 menit yang lalu. Teman-teman Wonwoo sudah banyak yang keluar kelas dan pulang. Sementara Wonwoo masih menatap ponselnya dengan was-was. Ia sedang menanti seseorang.

Mood Wonwoo hari ini lumayan bagus setelah mendapatkan pesan seseorang tadi pagi. Wonwoo juga tidak paham kenapa ia bisa sebahagia ini, padahal mereka belum begitu akrab, hanya beberapa kali bertemu. Tapi ajakan ke coffee shop tadi itu membuat Wonwoo berbunga-bunga tanpa ia ketahui alasan pastinya.

Ponsel Wonwoo bergetar, sebuah panggilan masuk. Wonwoo buru-buru mengangkatnya.

"Hai, aku sudah di depan sekolahmu." Suara seorang lelaki terdengar di seberang sana. Wonwoo tersenyum.

"Baik, tunggu aku." Meskipun senang, tetap saja reaksi yang ditunjukkan Wonwoo terkesan tidak tertarik sama sekali. membuat orang yang tadi berbicara dengannya mengernyitkan dahinya, bingung.

Wonwoo berlari dari kelasnya menuju gerbang depan. Tapi ia berhenti dan menstabilkan nafas serta memperbaiki penampilannya pada belokan kelas terakhir. Wonwoo tidak ingin terlihat sangat menginginkan semuanya ini.

"Mingyu-ya." Wonwoo memanggil Mingyu, sosok yang sedang tertunduk dengan ponsel di tangannya. Mingyu lah orang yang mnghubungin Wonwoo sepanjang hari ini. Mendengar namanya dipanggil, Mingyu menengadah ke arah Wonwoo.

"Kau sudah datang?" Wonwoo mengangguk. "Baiklah, ayo kita pergi." Jawab Mingyu dengan santai dan menarik tangan Wonwoo. Keadaan ini membuat Wonwoo tersentak. Ini pertemuan ketiga mereka dan Mingyu sudah berani menggenggam tangannya dengan santai seperti ini. Mood Wonwoo langsung buruk seketika.

Wonwoo menarik tangannya dan memandang Mingyu dengan tajam. Mingyu yang ikut tersentak memandang Wonwoo seolah menanayakan apa yang terjadi.

"Kenapa kau menarik dan menggenggam tanganku?" Wonwoo itu terkadang juga sangat frontal dalam menyuarakan isi pikirannya. Menurutnya bukan hal yang wajar Mingyu sudah berani menggenggam tangannya seperti itu.

"Ah, i-itu... Eumm, maafkan aku. Itu terlalu lancang ya?" Mingyu menunjukkan wajah menyesalnya.

"Seharusnya kau tidak langsung memegangku seperti itu, terlalu tidak sopan." Tukas Wonwoo sarkastis.

"Baiklah, aku minta maaf, oke?" Pinta Mingyu. Wonwoo memicingkan matanya, berpikir.

"Ayo pergi." Tanpa menjawab Mingyu, Wonwoo justru melangkahkan kakinya. Mingyu yang terkejut dengan sikap tidak terduga Wonwoo masih terdiam di tempatnya. Ia hanya melihat Wonwoo yang sudah beberapa langkah di depannya.

"Tidak jadi? Aku pulang!" Wonwoo berbalik dan berseru dengan keras. Mingyu terkejut dan segera berlari menyusul Wonwoo. ia berjalan di sebelah kanan Wonwoo tanpa mengucapkan apapun.

'Wonwoo benar-benar menarik dan susah di tebak.' Batin Mingyu.

Mereka berjalan dalam kediaman sampai di depan cafe. Mingyu membukakan pintu untuk Wonwoo. lalu mereka berjalan ke dalam dan memilih sebuah meja di bagian sudut ruangan.

"Kau ingin pesan apa?" Tanya Mingyu pada Wonwoo.

"Chocholate milkshake dan sepotong cheess cake." Jawab Wonwoo.

"Eum, baiklah. Tunggu di sini, aku akan memesankannya." Mingyu melangkah ke arah kasir untuk memesan, sementara Wonwoo memerhatikan Mingyu setiap jengkalnya. Matanya tidak pernah melepaskan sosok Mingyu.

Mingyu kembali dengan nampan berisi pesanan mereka berdua. Wonwoo tersenyum demi melihat sepotong cheese cake miliknya. Sementara Mingyu memesan Ice Americano dan sepotong red velvet.

"Wonu-ya." Wonwoo mengerling ke arah Mingyu saat nama itu keluar dari bibir Mingyu, tapi Wonwoo tidak berminat untuk memprotesnya lagi.

"Hum, ada apa?" Wonwoo memasukkan sesendok kecil potongan cake-nya.

"Sepertinya aku tertarik denganmu, bisakah kita saling mengenal secara lebih dekat."

Wonwoo hampir tersedak jika saja ia tidak buru-buru menelan makanan di mulutnya. Ia kemudian meraih minumannya, menyeruputnya pelan, dan menatap Mingyu.

"Ini pertemuan ketiga kita dan kau sudah sangat berani untuk blak-blakan, Mingyu." Sergah Wonwoo.

"Aku tahu. Tapi aku tidak ingin terlalu banyak basa-basi." Jawab Mingyu dengan penuh keyakinan.

"Kau terlalu percaya diri." Wonwoo mencibir ke arah Mingyu. Wonwoo sedikit tidak tenang dengan sikap blak-blakan Mingyu.

"Dari awal aku melihatmu, aku sudah merasa tertarik denganmu. Dan ku rasa aku tidak perlu melakukan pengenalan diri yang berlebihan. Semua bisa terjadi seiring waktu." Mingyu menautkan kedua tangannya di atas meja. Ia memandang ke arah Wonwoo yang terlihat sedikit terganggu.

"Aku tidak yakin. Mungkin aku sedikit tertarik denganmu tapi aku tidak akan mengatakan iya secepat itu." Wonwoo menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

"Jadi apa yang harus aku lakukan?" Tanya Mingyu. Ia benar-benar tidak paham dengan sikap Wonwoo.

"Aku tidak tahu." Wonwoo mengangkat sebelah pundaknya, "Lakukan apa yang menurutmu perlu kau lakukan." Sambungnya.

"Huhpt, baiklah." Mingyu menghelas nafasnya dengan kasar. Seperti ucapan jinki dan Jihoon, Wonwoo itu sangat unik dan tidak mudah ditaklukkkan. Ia benar-benar harus bekerja keras untuk bisa mendapatkan perhatian lebih dari Wonwoo.

"Jangan bertindak gegabah dan terlalu cheessy, aku tidak suka. Jangan menggangguku ketika mood ku sedang sangat buruk. Jangan mempermainkanku atau akan ku buat kau menyesal telah berkenalan denganku." Tiba-tiba Wonwoo mengatakan itu dan Mingyu yang tidak fokus tidak mendengarkannya dengan baik.

"Kau mengatakan apa, Wonu-ya?" Mingyu benar-benar sedang tidak fokus.

"Tidak ada pengulangan dan aku benci itu." Mingyu lagi-lagi hanya bisa mendesah. Perlahan ia mulai sedikit paham dengan sikap Wonwoo.

"Ayo pergi." Ajak Wonwoo.

"Kemana?" Tanya Mingyu, ia kira mereka akan terus berada di sini sampai sore nanti.

"Ke toko buku, aku ingin membeli novel."

Jujur Mingyu sangat jarang ke toko buku. Apalagi untuk membeli novel. Mingyu paling malas membaca roman-roman percintaan, cerita-cerita misteri atau apapun itu. Intinya Mingyu malas membaca. Tapi demi pendekatan ke Wonwoo, ia akan melakukannya.

Mereka hanya berjalan kaki ke toko buku, karena memang letaknya tidak seberapa jauh dari Coffee shop tadi. Di dalam perjalanan Mingyu beberapa kali menanyakan tentang kegemaran dan kesukaan Wonwoo. Namun tidak semuanya di jawab oleh Wonwoo. Lelaki manis itu hanya menjawab sekedarnya. Mingyu sampai gemas dengan jawaban-jawaban Wonwoo.

Bau khas buku dan penampakan deretan-deretan buku yang tersusun rapi membuat Mingyu tersadar, ini adalah neraka baginya. Mingyu masih ingat dengan jalas betapa ia tidak suka dengan buku, sehingga ia tidak penah dengan sengaja membeli buku. Entahlah, tidak ada gairah yang dirasakan Mingyu untuk menyentuh sesuatu yang berbentuk persegi itu.

Hal yang sangat kontras dengan Wonwoo. Sedari awal mereka memasuki toko ini, ia tidak berhenti tersenyum. Wajahnya sangat manis dan ceria. Wonwoo melangkah dengan riang ke etalase koleksi terbaru. Di belakangnya, Mingyu tercengang menyaksikan perubahan Wonwoo. Mingyu bersumpah ini adalah sisi termanis seorang Jeon Wonwoo. Binar matanya saat menatap takjub buku-buku, gerakan tubuhnya yang segera ingin menghampiri buku-buku tersebut, semua terlihat begitu manis bagi Mingyu.

Dari kejauhan Mingyu memandang ke arah Wonwoo tanpa henti. Mingyu sangat menikmati momen ini.

"Sepertinya aku harus membuat perpustakaan di kamarku, Wonu pasti akan tertarik dengan hal itu." Mingyu terkekeh dengan ucapannya sendiri. Ia membayangkan Wonwoo akan ke rumahnya dan tiduran di kamarnya seraya membaca buku. Lalu ia akan bisa bermanja-manja pada Wonwoo ataupun bisa juga Wonwoo akan tiduran di pahanya sambil membaca deretan-deretan kalimat dalam novel roman yang disukainya. Mingyu membayangkan banyak hal yang bisa dilakukannya jika Wonwoo ke rumahnya. Akhirnya Mingyu benar-benar bertekad untuk membuat perpustakaan pribadi.

Sementara itu Wonwoo sudah melupakan keberadaan Mingyu. Ia begitu tenggelam dalam buku-buku yang selalu menarik untuknya. Dalam sekejap Wonwoo sudah memasukkan tiga buku ke dalam tas belanjaannya. Entah berapa banyak buku yang akan dia beli hari ini.

Sejam berlalu dan Mingyu sudah beberapa kali hampir tertidur di kursi yang berada di pojokan toko. Ia melihat Wonwoo masih betah berada di pinggir rak sambil membaca sinopsis sebuah buku. Mingyu memutuskan untuk menghampiri Wonwoo.

"Wonu-ya, kau sudah selesai?" tanya Mingyu dengan lembut.

"Oh, Mingyu. Aku lupa jika kau ikut bersamaku." Jawab Wonwoo histeris. "Maaf ya?"

'Jadi selama ini aku tidak dianggap ada.' Batinnya, Mingyu merasa sedih.

Mingyu mengangguk, "Kau sudah selesai kan?"

"Iya, aku akan membayarnya dulu lalu kita pulang." Mingyu mengikuti Wonwoo ke arah kasir. Petugas kasir menerima tas belanja Wonwoo dan mulai menghitung total harganya. Wonwoo memerhatikan monitor kemudian meraih dompetnya dari kantung bagian belakang celananya. Wonwoo membuka bagian slot kartu, ia mencoba mencarinya beberapa kali di setiap slot yang ada. Mendadak Wonwoo terlihat panik.

"Kenapa Wonu?" Mingyu bertanya setelah melihat wajah panik Wonwoo.

"Kartu kreditku tidak ada di dalam dompet." Jawab Wonwoo dengan sedih dan kesal sekaligus. "Pasti Jungkook yang mengambilnya. Anak itu benar-benar." Wonwoo mencoba menghitung uang tunai yang dipunyainya, lalu ia menghela nafas lagi.

"Ini bahkan tidak sepertiga dari total harganya." Wonwoo menunjukkan uang itu pada Mingyu. Lalu Wonwoo mengambil ponselnya dan menekan beberapa angka, mencoba menghubungi seseorang. Sementara itu, Mingyu mengambil dompetnya dan menyerahkan kartu kredit unllimited miliknya ke petugas kasir.

"Tolong pakai yang ini saja."

"Baik, Tuan. Sebentar." Jawab petugas kasir. Kemudian kartu tersebut diserahkannya kembnali kepada Mingyu berikut dengan belanjaan Wonwoo. Mingyu menghampiri Wonwoo yang baru saja memutuskan telefonnya.

"Ayo pulang." Ajak Mingyu.

"Tapi bukunya..." Mingyu mengangkat kantung belanjaan lalu tersenyum ke arah Wonwoo.

"Terima kasih, aku akan menggantikannya nanti." Ucap Wonwoo seraya menarik kantung belanjaannya, tetapi dilarang oleh Mingyu. Lelaki tinggi itu bersikeras untuk membawanya. Wonwoo hanya mendesah lega sekaligus tidak enak.

"Kita pulang sekarang?" Tanya Mingyu yang hanya dibalas anggukan oleh Wonwoo. Lalu saat Mingyu lagi-lagi dengan refleks memegang tangan Wonwoo, tidak ada penolakan lagi seperti sebelumnya. Malah semburat tipis rona merah jampu menjalari pipi putih Wonwoo. Ia mengikuti Mingyu tanpa berniat membantah sedikitpun.

~ Kim's Love ~

Kyungsoo berdiri di depan pintu rumah Jongin, ia baru saja membunyikan bel. Kyungsoo merasa sedikit gugup. Ini kedua kalinya ia ke rumah besar ini, tetapi kali ini malah membuatnya gugup dan cemas. Kyungsoo memerhatikan penampilannya melalui jendela kaca yang sangat besar di samping pintu. Ia merasa penampilannya sudah sangat rapi dan tidak berlebihan.

"Kau Kyungsoo kan?"

Kyungsoo kaget saat sebuah suara menyapanya dengan tiba-tiba. Kyungsoo berbalik ke belakang dan menemukan Keybum yang sedang menaiki tangga dan menuju ke arahnya.

"Iya, Hyung. Saya Kyungsoo, temannya Jongin."

"Kau manis sekali." Keybum mencubit pipi gempil Kyungsoo. Entah kenapa Keybum langsung merasa suka dengan Kyungsoo.

"Kenapa masih berdiri di luar? Kenapa tidak langsung masuk saja?" Tanya Keybum. Kyungsoo mengangguk canggung, tidak terbiasa dengan sikap ramah dengan orang yang baru dikenalnya.

"Tadi saya sudah membunyikan bel, tapi sepertinya belum ada yang mendengarnya." Jawab Kyungsoo dengan kikuk. Keybum menyadari hal itu lalu tertawa.

"Santai saja Kyungsoo. Jangan tegang. Bersikaplah seperti di rumah mu sendiri." Keybum beranjak dan merah gagang pintu. "Ayo masuk, Jongin pasti ada di kamarnya."

"Baik Hyung. Terima kasih." Sahut Kyungsoo.

"Aaaa, kau menggemaskan sekali Kyungie." Kyungsoo terbelalak mendengar sebutan dari Keybum untuknya. Kemudian keduanya masuk ke dalam. Keybum menyuruh Kyungsoo untuk duduk di sofa ruang tengah sementara ia memanggil Jongin di lantai atas.

Kyungsoo sedang melihat-lihat majalah fashion yang berada di atas meja saat sebuah suara mengejutkannya.

"Hyung mungil, pacarnya Jongin hyung yah?"

Lagi-lagi Kyungsoo hanya membelalakkan matanya lalu berkedip beberapa kali, tanpa sadar ia juga menggigit bibir bawahnya. Lelaki yang tadi menginterupsi kegiatannya malah terkekeh dan duduk di sampingnya. Kyungsoo terkejut dan bergeser ke kanan.

"Hyung, sejak kapan kau pacaran dengan jongin hyung?"

"H-hah? P-pa-pacaran?" Kyungsoo tergagap.

"Eiyyy,,, jujur saja hyung. Kalian pacaran kan? Seleramu benar-benar buruk, Hyung?" Si lelaki tinggi malah semakin membuat Kyungsoo kebingungan.

"Kim Mingyu sialan, berhenti mengganggunya." Teriakan Jongin dari tangga lantai dua mengagetkan Kyungsoo, lalu lelaki yang di panggil Mingyu oleh Jongin segera bangkit dan berlari ke arah dapur. Kyungsoo melihat Jongin menuruni tangga dengan tergesa-gesa.

"Hyung, pacarmu manis juga." Teriakan Mingyu dari dapur lagi-lagi membuat Jongin berang.

"Diam kau bocah!" Dan suara tawa terdengar dari arah dapur.

Sementara Kyungsoo yang sudah memahami keadaan hanya bisa tersenyum, dan tersipu.

"Jongin-ah..." Panggil Kyungsoo saat Jongin akan berlari ke arah dapur untuk mengejar Mingyu. Jongin berhenti dan berbalik ke arah Kyungsoo.

"Biarkan saja." TukasKyungsoo. Jongin mendengus kesal kemudian mendekati Kyungsoo dan menduduki dirinya di samping si lelaki mungil.

"Maafkan ketidaksopanan adikku, dia memang sangat keterlaluan." Jongin benar-benar merasa tidak enak pada Kyungsoo. Terlebih Jongin juga merasa malu, heyy Jongin menyukai Kyungsoo dan hal yang dilakukan Mingyu tadi benar-benar memalukan.

"Tidak apa-apa. Tadi Keybum hyung juga menyangka aku pacarmu." Jawab Kyungsoo tersenyum malu-malu.

"Hah? Noona juga? Ya Tuhan, ada apa dengan keluarga ini." Jongin mengusap wajahnya. Ia tidak habis pikir dengan kelaukan keluarganya yang terkadang tidak masuk akal dan cenderung memalukan.

"Sudahlah Jongin, mereka hanya bercanda." Ujar Kyungsoo seraya menepuk pundak Jongin. Perlakuan Kyungsoo membuat Jongin menjerit di dalam hati. Ia begitu senang, padahal hanya sebuah tepukan.

"Bagaimana kalau itu serius?" Tanya Jongin tiba-tiba.

"Apa maksudmu, Jongin-ah?" tanya Kyungsoo tidak mengerti.

"Bagaimana kalau benar-benar kita pacaran?"

~ TBC ~