"THE GREAT BOOJAE" -Chap 3-
Author : Rukee (Han Choon Hee)
Genre : Yaoi, Romance, family, Kolosal, Sosial, Budaya, Politik
Cast : Jaejoong, Yunho dll.
Rate : PG-17
Summary : ff YUNJAE! Jaejoong, seorang sekretaris kerajaan yang menjalin hubungan dengan Putra Mahkota. Apakah yang dilakukan Raja ketika mengetahui hubungan keduanya? ff abal yang menceritakan perjuangan hidup Kim Jaejoong di dalam kerajaan.
Disclaimer : ini karangan FIKSI! FF ini terinspirasi dari kegemaran author terhadap drama kolosal. Boy x boy. Don't like, don't read!
TERIMA KASIH UNTUK TEMANKU MANO YANG SUDAH MENYUMBANGKAN PENGETAHUAN SAEGUK-nya PADAKU. AKU CINTA KAMU!
TERIMA KASIH JUGA UNTUK READERS YANG SUDAH MEMBERIKAN PERHATIAN-nya PADA FF INI. KALIAN YANG TERBAIKK!
The Great Boojae
Pavilion Jungseang
Author POV
BRAAKK!
Suara hantaman kertas terdengar nyaring di atas meja berbahan jati. Setelah sempat membolak-balik arsip, tanpa ragu Jung Yunho membanting arsipnya. Arsip data diri calon permaisuri.
Perlahan tangan besarnya bergerak lembut, memijat pelipis yang nyaris kaku. Dua jam sudah sang putra raja bergelut dengan arsip-arsip calon pendampingnya. Oh, ternyata memilih permaisuri jauh lebih sulit daripada mencetuskan peraturan baru. Seharusnya tidak sesulit ini. Hanya perlu memilih satu orang dari tiga orang gadis yang diajukan ibu suri dan deputri mentri.
"yang mulia, anda baik-baik saja?"
Melodi indah yang tiba-tiba berdengung menyadarkan pangeran tampan itu. Seketika manic musangnya menangkap sosok terindah yang bias dilihat mata. Kim Jaejoong, sekretaris cantik itu berdiri di sudut ruangan. Ah, bagaimana bias Yunho melupakan keberadaan seseorang yang sangat penting baginya.
"apa yang mulia membutuhkan sesuatu?"
Manic bulat besar nan menawan itu menatap nanar tumpukan arsip yang dilempar Yunho. Pagi tadi Jaejoong mengunjungi perpustakaan dewan kerajaan untuk meminta arsip data diri calon ibu negaranya. Tapi lihatlah, arsip itu tampat tak berbentuk sekarang.
Menyangga lengan kekarnya di atas meja. Tangan besarnya tetap setia memberi pijatan di daerah dahi.
"Jaejoong-ah, berhentilah memanggilku yang mulia. Kita sudah berteman bukan? Tidak ada siapa-siapa disini. Ah, kepalaku pusing"
Matanya terpejam, mencoba menikmati pijatan tunggalnya dan berharap denyutan syarafnya berkurang.
"apa... putra mahkota ingin dipanggilkan tabib?"
"animnida"
Mata cantik itu memancarkan kekhawatiran. Pangerannya sudah duduk dua jam dengan dahi berkerut. Sekretaris cantik itu tidak pernah melihat 'teman'nya seserius ini sebelumnya. Urat-urat wajahnya terlihat jelas, sangat jelas. Pasti karena berpikir terlalu keras.
"kemarilah Jae. Mungkin kau bias membantu memijat kepalaku. Ini benar-benar sakit"
Sang sekretaris mendekati singgahsana putra mahkota. Dengan lututnya, Kim Jaejoong berdiri di belakang Jung Yunho. Jemari lentiknya perlahan terangkat. Menari dengan gemulai di permukaan tampan pangerannya. Gerakannya teratur, mengiringi desiran darah keduannya. Perlahan, mata musang itu membuta. Sungguh menikamati pijatan-pijatan lembut dari tangan halus sekretarisnya.
"Jaejoong-ah..."
Suara yang penuh kebimbangan itu memberat, seberat beban yang perlahan mulai terangkat.
"... bagaimana menurutmu?"
Jaejoong menghentikan pergerakan tangannya. Mencoba berpikir maksud perkataan 'teman'nya.
"hm? Joe-joesonghamnida, aku tidak mengerti"
Plumnya mengerucut, rambut alisnya bertaut. Masih mencoba berpikir. Berharap pikirannya menjernih dan mampu menangkap maksud dari pangerannya.
PLAK.
Mata kosongnya tersentak begitu tangannya mendapat pukulan ringan.
"yak! Apa yang kau lakukan Jaejoongie? Kenapa berhenti memijatku? Cepat teruskan!"
Jung Yunho memukul lembut tangan cantik di wajahnya begitu penari-penari lincah melumpuh dari parasnya.
Sekretaris Kim kembali menggerakkan tangannya pelan. Perkataan 'teman'nya barusan terngiang dan membuatnya merona. 'Jaejoongie'. Putra mahkota memberinya nama panggilan baru. Bukankah nama itu terdengar manis?
"gadis-gadis itu, bagaimana menurutmu?"
Masih dengan mata terpejam, Yunho menunjuk arsip cacat di mejanya. Tangan cantik tetap bergeliat. Manicnya di lempar khusus ke lampion merah di langit kamar.
"hm... mereka bertiga adalah Agassi (nona) terbaik yang dipilih oleh yang mulia ibu suri dan para menteri. Yang mulia Raja sangat bijaksana, karena putra mahkota diberi wewenang untuk memilih permaisurinya sendiri. Aku rasa, siapa pun yang putra mahkota pilih, rakyat akan menyetujuinya. Putra mahkota hanya perlu menggunakan mata dan hati untuk menentukan pilihan"
Namja berhanbok coklat dengan ukiran perak itu menghela napas beratnya. Sekretarisnya benar. Tidak ada yang akan mempermasalahkan pilihannya, selama ia memilih satu dari tiga gadis yang diajukan. Bibir hatinya hanya perlu menyebut satu nama, dan setelah itu semuanya selesai, berjalan seperti yang sudah digariskan.
"aku tahu"
Mata musangnya terbuka. Menatap satu titik yang sama dengan lawan bicaranya. Lampion merah.
"tapi... tetap saja aku tidak bias memilih. Mataku, sepertinya sudah kehilangan fungsi. Aku tidak terbiasa melihat mereka. Dan... entahlah, aku tidak mengerti dengan hatiku"
Pemilik mahkota terdiam. Pijatan-pijatan yang memabukkan perlahan hilang rasa. Pikirannya teralih pada tiga nama besar yang tercetak di kertas itu. Lee-agassi, Choi-agassi, dan Go-agassi. Ah, lagi-lagi kepalanya berderit. Nama yang diharapkan tidak muncul.
"Joongie-yah..."
Jaejoong menghentikan pijatannya. Lagi-lagi terperangah dengan panggilannya yang makin terdengar manis.
"Joongie, katakan padaku! Apa... apa, apa kau benar-benar seorang namja?"
"ye?"
Mata bulatnya melebar, menatap ubun-ubun sang pangeran dari belakang. Telinga cantiknya menajam. Mencoba merespon data yang diterima menuju otaknya.
"semuanya... akan terasa mudah seandainya kau seorang yeoja. Jika itu kenyataannya, aku tidak akan berpikir dua kali untuk menemui raja dan mengatakan bahwa kau yang aku pilih menjadi ratuku"
DEG.
.
DEG.
.
DEG.
Namja cantik itu membeku. Otaknya yang terkenal tajam seketika melumpuh. Tidak mampu memikirkan apapun. Semua yang ada dipikirannya tidak bias diuji kebenarannya, semuanya kusut. Apa yang baru saja didengarnya? Apa bias… itu diulang kembali? Sungguh, Jaejoong ingin mendengarnya sekali lagi. Mungkin itu perkataan yang janggal, tapi begitu namja susu ini merasakan ribuan cacing mulai masuk menggeroggoti sisi keteganggannya, rasa ingin itu muncul. Ya Tuhan, Jaejoong melupakan posisinya. Angin yang mengalun menerpa lampion merah dan menggoyangkannya, membuat Jaejoong kembali ke kenyataan. Siapa dia? Dia hanya seorang sekretaris. Atas kuasa apa dia berharap hal yang tinggi? Tapi, apa... yang tadi itu, sebuah... lamaran?
SREEKK.
Pangeran tampan itu menegakkan punggungnya.
"hahaha"
Ini tawa terpahit yang pernah didengar bumi. Tawa yang seakan dipermainkan takdir. Dan tawa yang bahkan lebih menyeramkan dibanding langit mendung.
"aku bercanda. Secantik apapun kau, aku tahu kau seorang namja"
Meski menyumbang lelucon, tapi tetap saja usahanya tidak membuat suasana mencair. Diraihnya cangkir keramik dari meja, menyeruput pelan teh mawar yang sudah mendingin. Tangannya bergetar kecil, mata musangnya melirik-lirik ke belakang. Belum ada tanda-tanda kehidupan sebagai reaksi dari lawan bicaranya. Seharusnya, setelah ia melontarkan kata 'bercanda', sekretarisnya akan tertawa. Tapi...
Kim Jaejoong membuang bebannya. Beberapa saat lalu namja ini sempat lupa bagaimana cara kerja organ pernapasannya. Pikiran apapun di otaknya saat ini dibuang jauh-jauh. Apapun itu, termasuk perasaannya. Calon sekretaris raja ini mencoba mengosongkan pikiran dan terus mengulang kalimat 'putra mahkota bercanda' yang tercetak tebal dalam relungnya.
"eng... Kim Jaejoong, kau boleh berhenti. Aku sudah merasa lebih baik"
"y-ye, Jeoha (yang mulia)"
Kaki mulus itu perlahan beranjak. Kembali ke tempat seharusnya seorang sekretaris sepertinya berada. Sudut ruangan. Berdiri dengan kepala tertunduk.
"hmm, Joongie. Aku benar-benar butuh bantuanmu. Aku... benar-benar tidak bias memilih. Bantu aku, katakan pendapatmu tentang nona-nona itu"
Manic kecilnya menatap jauh Jaejoong. Yang ditatap menghembus napas halus.
"aku, aku tidak tahu apa aku punya hak untuk menyampaikan pendapatku. Tapi jika putra mahkota memintaku, itu suatu kehormatan bagiku"
Jaejoong membasahi cherry sebentar. Berharap bibirnya tidak mengeluarkan kata yang salah.
"hm, pertama Lee Ji Eun agassi. Ji Eun agassi adalah putri dari ketua deputri mentri, Lee Junki. Nona Lee memiliki suara yang sangat indah dan sangat suka bernyanyi. Setiap akhir pekan, Ji Eun agassi selalu mengadakan pertunjukkan amal di Kota. Ji Eun agassi... gadis yang sangat baik. Beliau senang menghibur rakyat. Sikapnya periang dan ceria. Rakyat sangat menyukainya".
Kim Jaejoong mengutarakan pendapatnya dengan wajah tertunduk. Menatap ukiran indah di lantai kayu. Dia bangga karena bibirnya mampu mengucap kebenaran, meskipun ada sesuatu yang tertekan karena ucapannya.
Yunho menganggukan kepalanya. Ini lebih mudah daripada membaca riwayat hidup calonnya.
"lanjutkan"
Perlahan punggungnya menempel pada sandaran empuk di belakangnya. Kerutan di keningnya mulai menghilang dan menyatu dengan wajah tampannya.
"selanjutnya Choi Sooyoung agassi. Agassi memang tidak punya hubungan yang terlalu istimewa dengan rakyat. Hanya saja, kekuatannya di dalam istana lebih kuat dibanding dua orang lainnya. Ayahnya adalah ketua militer kerajaan, Choi Seunghyun. Perdana menteri Choi Siwon adalah kakak kandungnya. Dan prajurit Choi Minho dari biro kepolisian adalah adiknya. Selain ketiga orang itu, masih ada beberapa orang keluarganya yang menduduki kursi pemerintahan. Sebenarnya, dalam enam periode terakhir, tidak ada satu pun keluarga Choi yang masuk dalam silsilah keluarga kerajaan. Tapi entah mengapa, mereka mampu membangun kekuatan mereka sendiri"
Pria berwajah kecil itu kembali mengangguk. Perlahan tangannya meraih kertas yang dilempar sebelumnya. Membuka halaman dan memperlihatkan lukisan Choi Agassi. Setelah membaca sekilas, pandangannya terhenti pada lembaran terakhir.
"bagaimana dengan nona Go?"
Namja cantik di sudut ruangan mengambil napas sebentar. Tenggorokkannya mulai terasa kering. Sepertinya ia terlalu banyak bicara hari ini.
"hmm... Go Ahra agassi. Sudah lima tahun terakhir nona Go menjadi ketua dayang. Meskipun Go Agassi lebih sering menghabiskan waktu di dalam istana, dan dia tidak mempunyai dukungan kuat di istana, tapi tidak bias dipungkiri jika kedudukan Go Agassi saat ini lebih dikenal dari daripada Lee Agassi dan Choi agassi. Dan Jika diurutkan, tuan Go Yeongwook, ayah dari Go agassi masih memiliki hubungan darah dengan pangeran Go Youngha"
Hening.
Tidak ada yang bersuara di sekitar pavilion jungseang. hanya suara gemericik dari kolam ikan di belakang pavilion yang mendominasi. Sesekali suara dentingan dari pancuran berbahan bambu terdengar. Angin juga tidak mau kehilangan kesempatan untuk menenangkan pikiran pangerannya. Ketenangan mulai menyeruak mengganti posisi ketegangan. Namja 'tertinggi' di ruangan itu menyesap ketenangan sekilas. Manic musang yang tadi memperhatikan tarian pohon, beranjak pada gulungan kertas di atas meja. Tangan besar yang sebelumnya terpaut mulai melangkah, mengambil gulungan kertas dan melebarkannya. Mengambil kuas pena dan menggoresnya di kertas itu.
SREEK.
Suara gulungan kertas menggema mengisi keheningan. Sang 'musang' menatap pekat gulungan kertas di tangannya. Berharap keputusan yang baru ditulisnya tidak akan membuat dirinya dan rakyat kecewa. Sebuah helaan nafas tersangkut di tenggorokkannya. Perlahan tangan indahnya terangkat, mengantarkan nasib yang berusaha di tolak.
"sekretaris Kim, tolong antarkan surat ini kepada yang mulia Raja"
Jaejoong menghampiri singgahsana calon Rajanya. Untuk pertama kalinya, Jaejoong berharap ia bukanlah sekretaris dari putra mahkota. Entah kenapa gulungan kertas itu terasa sangat berat begitu ia memegangnya. Tangannya bergetar, ingin sekali ia melempar kertas itu ke kolam ikan. Membiarkan air melunturkan tinta di dalamnya dan membuat ikan-ikan mencabik kasar kertas itu hingga lenyap.
Kim Jaejoong menunduk kilat sebelum memundurkan langkah menuju pintu. Begitu para dayang membuka pintu, langkahnya terhenti. Bukan karena kakinya yang membeku, tapi karena 'teman'nya memanggil.
"joongie…"
Bibir hatinya memanggil Jaejoong, tapi musangnya menatap tak rela pada gulungan kertas di tangan Jaejoong. Bahkan punggungnya yang tadi nyaman bercengkrama dengan sandaran empuk, kini kembali menegang.
Jaejoong membalikan tubuhnya. Menunduk sekedar menghindari tatapan yang mulianya.
"ye, Jeoha"
Kembali, Jaejoong memanggilnya dengan hormat. Yah, pintu telah terbuka. Tidak hanya mereka yang ada di sana. Beberapa dayang ada bersama mereka sekarang. Yah… sebenarnya para dayang selalu bersama mereka meskipun pintu di tutup. Diding kertas tentu bukan penghalang bagi telingan manapun untuk mendengar pembicaraan yang terjadi di dalam pavilion.
"sore ini, apa sore ini aku ada kegiatan?"
Mata kecilnya masih menatap gulungan kertas keputusannya. Sedangkan mata besar lainnya focus terhadap bayangannya di lantai kayu.
"ye, setelah jam 5 sore yang mulia baru mendapatkan jam kosong"
"baguslah. Aku ingin berendam di kolam air panas"
"ye, Jeoha. Hamba akan menyiapkan bak air panasnya"
"animnida. Aku ingin berendam di kolam. Sepertinya akan sangat indah melihat matahari terbenam sambil berendam. Dan… aku rasa bintang akan terlihat sangat cantik dari tempat itu"
"ye, algaeseumnida Jeoha"
The Great Boojae
Jaejoong POV.
Pavilion utama
Aku melangkahkan kaki perlahan. Semakin dekat dengan pavilion utama, pavilion tempat raja menjalankan tugasnya, semakin lemah pula langkahku. Ya Tuhan, ada apa denganku? Kenapa tidak ada sedikitpun kebahagian dalam diriku atas pernikahan ini. Bukankah ini pernikahan yang paling ditunggu seluruh negeri? Pernikahan ini adalah pernikahan yang dengan doa dari rakyat. Tapi aku…
"sekretaris Kim Jaejoong"
Aku mengangkat wajahku dan mendapati sekretaris Raja, Kim Hyun Joong, berdiri di depan pintu masuk pavilion. Aku tersenyum dan menghampirinya.
"ye, aboji"
Sekretaris Kim Hyun Joong membalas senyumku. Ah, aku sangat senang melihat senyumnya. Apalagi jika senyum itu karena aku. Ya, sekretaris Raja adalah ayahku. Aku tidak bias melupakan senyum kebanggan pertama ayah ketika aku diangkat menjadi sekretaris pribadi putra mahkota. Itu artinya, kelak akulah yang akan menggantikan posisinya saat ini, sebagai sekretaris pribadi Raja. Dan setelahnya, aku selalu melihat senyum itu dengan mata berbinar penuh kebanggaan. Demi apapun, aku akan selalu membuatnya tersenyum seperti ini.
"apa yang kau lakukan disini?"
Ayahku bertanya masih dengan senyumnya.
"aku mendapat perintah dari putra mahkota untuk menyampaikan surat keputusan ini kepada yang mulia Raja"
"apa… itu berkaitan dengan pernikahan istana?"
Ayahku bertanya. Aku tersenyum sedikit dan menunduk. Memberi pengertian pada ayahku, bahwa seorang sekretaris pribadi seperti kami tidak boleh membeberkan apapun yang kami ketahui. Meskipun nantinya hal itu akan di ketahui semua orang. Setidaknya itulah yang aku tiru dari ayahku.
Senyum aboji semakin mengembang. Ia menepuk bahuku beberapa kali dan menganggukan kepala.
"baiklah, aku akan menyampaikannya kepada yang mulia. Tunggulah, sampai aku menyuruhmu masuk"
"ye, aboji"
Aku membungkuk kilat mengantar kepergian ayahku ke dalam paviluin.
End POV.
The Great Boojae
Author POV.
Pavilion utama.
"Jeoha, sekretaris pribadi putra mahkota ada disini. Dia ingin menyampaikan pesan dari putra mahkota"
Kim Hyun Joong membungkuk di depan Raja yang sedang memeriksa laporan dari para menterinya. Gulungan kertas dengan banyak warna menghiasi pinggiran meja kayu itu di depannya.
SREEET.
Raja melipat kertas-kertas laporannya. Dan berdiri dari duduknya. Senyum terpampang jelas mengganti keseriusan diwajahnya sebelum ini.
"benarkah? Anakmu ada disini Hyun Joong? Persilahkan dia masuk secepatnya"
"ye, Jeoha"
Raja Jung Il Woo berjalan menuju ruangan yang biasa digunakannya menerima tamu. Seperti anak mereka. Yang mulia Raja pun bersahabat dengan sekretaris pribadinya yang bertahun-tahun mendampinginya. Hanya saja, hubungan mereka tidak sedekat yang diciptakan putra mahkota dan sekretarisnya.
Sekretaris Kim Jaejoong masuk dan memberikan hormatnya kepada yang mulia Raja. Tapi, apa yang diterimanya sebagai balasan dari rasa hormatnya sungguh mengejutkan. Raja, tanpa ragu menghampiri Jaejoong dan memeluknya dengan erat. Meski bukan keluarganya, tapi tidak dipungkiri kalau yang mulia Raja menyayangi anak sahabatnya ini. Jaejoong bahkan hamper dianggap seperti anakknya sendiri. Dan bukan hanya Jaejoong serta ayahnya yang senang ketika pengangkatannya sebagai sekretaris pribadi putra mahkota terjadi, tapi yang mulia raja pun sangat senang. Dia sangat mempercayai Jaejoong, sama seperti dia mempercayai Hyunjoong.
"Jaejoong-ah, bagaimana kabarmu?"
Raja melepaskan pelukkannya dan duduk di kursi kayu berukir kepala naga itu. Dia senang melihat Jaejoong, terlebih Jaejoong dating membawa pesan penting dari anakknya. Meskipun tidak diberitahu, tapi semua orang pasti mengetahui isi surat itu.
Jaejoong tersenyum dalam tunduknya. Dia berdiri tepat di samping ayahnya yang juga tersenyum bangga untuk anaknya.
"hamba baik yang mulia. Jeosonghamnida, karena hamba membuat yang mulia khawatir"
"animnida Jaejoong-ah. Baiklah, aku sudah sabar ingin mengetahui pilihan putraku. Aku rasa semua orang sudah dibuat penasaran dan tidak bias tidur oleh putra mahkota. Selama ini tidak ada yang bias menebak pikiran putra mahkota. Aku jadi penasaran. Hanya kau yang bias pikirannya Jaejoong-ah. Jadi pasti kau sudah tahu, siapa yang dipilih putraku"
Jaejoong, dengan tangannya yang bergetar, dia menyerahkan gulungan kertas yang sempat ingin dimusnahkannya kepada raja. Dalam sekejap, raja membukanya. Mencari tahu pilihan putranya. Jika benar, pilihan ini akan mencerminkan cara berpikir putranya. Apakah dia memilih dengan hatinya? Atau memilih dengan otaknya? Karena bagaimana pun, pilihannya akan sangat berpengaruh untuknya di masa depan.
Senyum mengembang di wajah tampan raja yang menurun pada putranya.
"putraku… benar-benar hebat. Pilihannya sangat tepat. Dia pasti berpikir sangat keras untuk membuat keputusan ini. Dan aku rasa…. Putra mahkota sudah menyadari apa yang disebut politik"
Jaejoong menunduk. Wajah cantiknya ternoda dengan senyum terburuk yang pernah dipersembahkannya. Entah kenapa pernyataan raja membuatnya sadar, bahwa orang yang selama ini di dampinginya adalah calon raja dimasa depan. Ya Tuhan, Jaejoong begitu terlena dengan pertemanan yang ditawarkan putra mahkota. Seharusnya dia sadar akan menjadi siapa 'teman'nya itu di masa depan, dan akan berada dimana posisinya kelak. Semuanya akan segera berubah. Yah, putra mahkota sudah menyadari apa itu politik. Dan politik yang akan merubah segalanya.
TBC.
Okey, ini sangat telat dan saya mohon maaf…
Kalau mau protes saya persilahkan, datangi fb saya Han Choon Hee.
saya menerima keluh kesah kalian. hehe
Saya juga meletakkan ff ini disana.
dan Saya minta maaf karena belum bias membalas review.
Mianhae!
thanks to:
novashinki, Aoi Ko Mamoru, Cho Man, Cherry Bear86 Yunjae, yoyojiji, Enno KimLee, Shippo Baby YunJae, js-ie, Kim Cherry, akane park, Kim Hyo Ra, Princess yunjae, yunjae always, Julie yunjae, kucing liar, diitactorlove, The, mimit, , desysaranghaesuju, tifafawookie, KishiZhera, dan readers yang memberikan perhatiannya!
mind to review?
