Baekhyun tidak pernah merasa lebih buruk dari ini. Entahlah, selama Chanyeol pergi melaksanakan tugas terakhirnya, ia selalu di hantui dengan berbagai macam perasaan yang membuatnya tidak nyaman. Ditambah dengan mual pada perutnya semakin menjadi dan itu membuatnya tampak jauh lebih buruk.

Pria itu bangkit dari posisinya yang berbaring, dan menyadari jika flat kecilnya terasa sangat sunyi jika tidak ada Chanyeol. Hal itu sudah sering ia rasakan, dan sejujurnya ia benci hal tersebut. Waktu terus beralalu, Baekhyun merasa bahwa rasa kantuknya sudah hilang tak kemana, hanya meninggalkan seberkas rasa cemas yang masih bercokol di hatinya.

"Huekk.." Baekhyun mengeluh setelah di rasa mual yang belakangan ini di deritanya justru malah semakin kuat. "Huek.."

Baekhyun sedikit berlari ketika sebuah cairan yang berasal dari perutnya merambat naik ke kerongkongan. Lelaki mungil itu saat ini sudah memendam kepalanya tepat pada bibir closet dan memuntahkan cairan bening tersebut ke dalamnya.

"Uhuk.. sial, sepertinya aku benar-benar sakit." Rutuknya sembari menghapus butiran peluh.

SPECULATE

By. Railash61

.

Main Cast: Park Chanyeol x Byun Baekhyun.

Support Cast: Lee Joon, Choi Minho, Seo Youngho (Johnny)

Genre: Family, Crime

Rate: T+

Warn: Boys Love.

Typo everywhere, tidak sesuai EYD.

Summary:

Addiction is a family disease. One person may use, but the whole family suffers.

.

.

Chap 3

.

.

"Tuan, tolong buka tas anda!" Paksa si petugas kepolisian yang sudah menaruh curiga kepada Chanyeol dan Minho. "Tuan, ini akan menjadi panjang jika kau tidak menuruti perkataannku!" ancamnya.

Chanyeol dan Minho yang terdesak pun masih terdiam, mungkin hanya itu saja yang bisa mereka lakukan saat ini. Mereka tidak mungkin menyerah begitu saja, sebab jika mereka melakukan itu maka keadaan keluarga kecil mereka akan dalam bahaya.

"Hey Daesung-ssi, ada apa?" terdengar teriakan seorang petugas lain dari arah utara. Mungkin petugas itu menyadari mengapa lelaki yang bernama Daesung ini begitu lama menyatroni sebuah mobil dengan cat hitam tersebut.

Opsir lelaki bernama Daesung itu pun menolehkan kepalanya dan mundur selangkah dari posisi dimana ia berdiri, berniat menyahuti temannya yang bertanya. Dan selagi Daesung menjawab pertanyaan dari si rekan, Chanyeol yang melihat adanya sebuah celah kecil pun memantapkan keberaniannya untuk kabur melarikan diri.

Krek

"Yak, Chanyeol! Apa yang kau lakukan bodoh?!" bisik Minho ketika mendengar bunyi persneling.

Brum..

Bugh!

Dengan sengaja mobil sedan yang di kendarai Chanyeol menubruk mobil di depannya dengan tiba-tiba. "Yak! Kau! Matikan mesin mobilmu." Teriak si petugas bernama Daesung yang sekarang sudah memukul-mukul kaca jendela dengan brutal.

Selain para polisi yang terlihat sedikit panik saat mendapat sebuah perlawanan dari Chanyeol, sahutan klakson mobil di depan Chanyeol pun membuat suasana di tempat itu semakin mengundang tanya dari para pengguna jalan yang lain.

Brum..

Bugh!

Chanyeol menabrakkan kembali mobil itu ke arah mobil lain yang berada tepat di belakangnya. Lelaki itu membutakan telinga ketika mendengar umpatan-umpatan kasar dari para pengemudi lain. Dan setelah dirasa jarak yang di buat cukup untuk melarikan sedan hitam itu, Chanyeol tanpa perlu aba-aba lagi dengan cekatan menekan pedal gas hingga saat ini ia bisa keluar dari kerumunan itu. Menyisakan Daesung yang marah sekaligus terhina oleh aksi Chanyeol dan Minho, dua pria asing yang di duga membawa sesuatu yang melanggar hukum di dalam mobilnya.

"Yak! Kejar mereka!" Seru Daesung pada petugas yang lain.

Di sisi lain, Minho tampak sedikit terkejut dengn aksi tiba-tiba Chanyeol, karna lelaki dengan telinga peri itu tidak mengatakan apapun padanya mengenai acara melarikan diri dari razia dadakan tersebut, dan Chanyeol yang merasa Minho sedang memperhatikannya hanya mampu memberi anggukan bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar demi keselamatan keduanya.

Disepanjang perjalanan, Chanyeol mendengar suara sirine dan juga seruan-seruan para polisi yang memintanya untuk berhenti dan mematikan mesin. Tapi Chanyeol bukanlah orang bodoh yang dengan senang hati melakukan itu. Karna saat ini ia masih harus mengantarkan kedua paket sialan itu untuk di serahkan ke agen besar atas permintaan Tae Goo. Chanyeol sekilas melihat melalui blindspot, sekiranya ada dua buah mobil polisi yang saat ini mengikuti mereka dan berteriak untuk berhenti. Chanyeol tidak semerta-merta takut akan hal tersebut karna ini memang sudah menjadi resiko yang harus di ambilnya sebagai driver untuk sebuah kasus kejahatan. Maka ia tetap fokus untuk terus melajukan mobilnya.

"Sial Park Chanyeol! Kau bisa terkena pasal berlapis!" teriak Minho dengan tangan yang terus berpegangan erat pada pegangan di atas kepalanya. Mungkin efek terkejut akan aksi tiba-tiba Chanyeol, dan juga di tambah dengan kecepatan yang Chanyeol ambil sangat jauh di atas rata-rata.

"Perduli setan dengan pasal berlapis atau apapun itu! Apa kau akan menyerah begitu saja saat para polisi itu meminta untuk membuka tas ini?! Yang benar saja!" omelnya dengan tangan yang gesit memutar kemudi.

Minho tidak berkata-kata lagi, pasalnya ia pernah sekali mengalami kejadian ini dan sialnya waktu itu ia terjebak dengan Chanyeol pula. Namun tak bisa Minho pungkiri bahwa saat ini jauh lebih menegangkan ketimbang yang lalu.

"Lebih cepat keparat!" teriak Minho saat mendapati jarak kedua mobil bersirine itu semakin lama semakin mendekat.

Chanyeol tidak menyahuti teriakan Minho karna itu hanya akan membuang waktu dan fokusnya. Jadi ia memilih untuk tetap berkonsentrasi dengan kemudi. Saat ini Chanyeol berhasil keluar dari kawasan berbatu jalan Surim-dong meski dua mobil patroli masih setia mengikuti dibelakangnya. Chanyeol tidak tahu apa yang akan terjadi jika mereka tertangkap dan kedapatan membawa dua buah paket yang berisikan narkoba eksklusif tersebut. Mungkin jika itu ekstasi atau heroin sekalipun, Chanyeol tidak akan merasa begitu khawatir mengingat siapapun bisa membeli kedua barang tersebut. Namun saat ini mereka membawa LSD yang bahkan orang awam menyangkanya adalah sebuah kertas bergambar. Tidak banyak yang mengetahui tentang barang tersebut, dan hal itulah yang seolah mempersulit posisi Chanyeol. Dalam arti, kau bukan hanya seorang kurir narkoba dari agen murahan, tapi kau adalah seorang kurir narkoba yang mengabdi pada gembong terbesar se-Asia. Meski Chanyeol bukan dari keduanya, tapi tetap saja Chanyeol yang membawa benda sialan tersebut.

Mobil yang di pinjamkan Lee Joon itu semakin aktif berbelok ke kanan dan kiri, mengecoh kedua mobil badut yang tak henti-hentinya mengejar. Chanyeol merutuk dalam hati, bisa-bisanya jalanan malam ini begitu lengang sementara biasanya ada beratus-ratus kendaraan yang tumpah ruah, atau mungkin memang ia sedang sial malam ini?

"01H3740 segera pinggirkan kendaraan dan matikan mesin! 01H3740!" Seru seorang petugas dengan pengeras suara, petugas itu pun tak lupa menyebutkan nomor plat mobil yang Chanyeol kendarai. Beruntung tadi Lee Joon sempat mengingatkan Chanyeol untuk mengganti plat asli dari mobil ini. Karna jika tidak, maka identitas dari si pemilik mobil akan terlacak dalam hitungan menit.

"Ku ulangi 01H3740! Tolong segera menepi!"

Chanyeol menulikan telinga kembali, dan memacu kuda hitam itu lebih cepat dari yang sebelumnya. Tadi Minho sempat bertanya, Chanyeol akan membawa mereka kemana, dan Chanyeol hanya terdiam. Di samping ia terlalu fokus berkenadara, ia juga sebenarnya tidak tahu arah kemana meraka akan pergi. Karna yang terpenting sekarang adalah lepas dari kejaran dua mobil patroli tersebut.

Drrtt..

Drrttt.

Minho merasa sebuah benda bergetar pada sakunya, dan ia menyadari bahwa adanya telepon masuk yang di duga berasal dari lelaki keparat yang seringkali di panggil hyung oleh mereka.

"Sial, Hyung menelpon!" katanya setelah ia memastikan bahwa dugaannya benar jika yang menghubungi ponselnya adalah Lee Joon.

Tanpa pikir panjang, Minho dengan seenaknya mereject panggilan tersebut dan menonaktifkan ponselnya. Di dalam fikirannya, keadaan saat ini jauh lebih genting di bandingkan dengan ocehan memuakan dari lelaki itu.

"01H3740! Segera menepi!" kembali sebuah teriakan dari salah seorang petugas di antara dua mobil patrolitersebut, dan lambat laun teriakan-teriakan itu memecah konsentrasi yang Chanyeol miliki.

Dengan gegabah, Chanyeol menukik tajam tepat pada sebuah tikungan curam sehingga para opsir yang berada jauh di belakang mereka tampak sedikit terkejut akan aksi tiba-tiba dari si pengemudi. Namun Chanyeol yang tersudut, tidak lagi memperhitungkan kembali apa yang akan terjadi jika ia mengambil langkah dengan menukik tajam seperti itu. Dan akibat dari aksi tersebut, sebuah mini bus datang dari arah berlawanan dengan kecepatan yang cukup cepat untuk seukuran mobil biasa.

"PARK CHANYEOL AWAS!" Teriak Minho menyadari jika mini bus tersebut tidak berniat merendahkan kecepatan.

Chanyeol tidak dapat lagi berkonsentrasi dengan benar dan juga waktu seolah berjalan sangat cepat sehingga dalam hitungan detik, kedua kendaraan itu bertemu satu sama lain dengan hantaman yang cukup kencang.

Brak!

Bunyi akibat dari dua kendaraan yang beradu terdengar sangat nyaring. Untung saja jalanan saat itu sudah sangat sepi hingga kejadian tersebut tidak dapat di tangkap mata oleh siapapun. Disamping itu, Chanyeol yang berada di balik kemudi perlahan mulai sadar. Chanyeol mendapati kepalanya sangat pening dan juga telinganya berdengung. Dilihatnya Minho yang masih terpejam tak sadarkan diri efek dari hantaman yang cukup kencang. Beruntung mereka mengenakan sabuk pengaman saat itu karna jika tidak mungkin Chanyeol dan Minho hanya tinggal sepenggal nama.

Dalam diam Chanyeol menyadari bahwa mungkin mobil patroli yang mengejarnya masih dalam perjalanan menuju tempat dimana kecelakaan berada. Dengan cekatan Chanyeol membangunkan Minho yang masih setia terpejam. Chanyeol berfikir, ia tak mempunyai banyak waktu untuk melarikan diri karna bisa saja mobil patroli itu akan tiba dalam waktu satu menit. Maka tanpa pikir panjang lagi, Chanyeol dengan segera mencopot sabuk pengaman milik Minho lalu membopong teman se-timnya itu untuk menjauh dari kedua mobil itu, mengabaikan dua paket berisi LSD yang masih tergeletak di dalam sedan hitam tersebut.

Chanyeol berjalan mengendap-endap dengan Minho yang berada di bahu kirinya. Kakak lelaki dari Wendy itu tampak mendapatkan luka serius pada pelipisnya yang mengeluarkan sebercak darah dan sialnya cairan merah pekat itu tidak berhenti mengalir sedari tadi. Chanyeol mengedarkan pandangannya, ia tidak ingat sedang berada di mana saat ini, namun yang pasti ia telah berada di sebuah gedung tua yang tampaknya adalah sebuah pergudangan yang tidak lagi terpakai.

"Egh.." desau Minho dengan suara yang sangat parau.

"Minho-ya.. Kau bisa mendengarku?" tanya Chanyeol memastikan bahwa Minho telah tersadar.

Minho mengangguk lemah, ia merasa kepalanya sangat amat pusing. "Kita sedang berada dimana?" tanya lelaki itu.

"Aku tidak tahu." Jawab Chanyeol sembari menaruh tubuh Minho pada sebuah meja kayu yang penuh debu.

"Lalu bagaimana dengan paketnya?"

Belum sampai Chanyeol menjawab pertanyaan dari Minho, sebuah getaran pada ponselnya memecah atensi keduanya. Chanyeol tahu, ini pasti Lee Joon yang memanggilnya dari markas utama. Sebenarnya Chanyeol enggan mengangkat panggilan tersebut, namun jika di pikir kembali, ia tidak mempunyai pilihan lain lagi. Bisa saja saat ini para opsir itu sedang berpencar mencari dua lelaki mencurgiakan yang sedang bersembunyi. Belum lagi jika para pria berseragam itu menemukan LSD yang mereka bawa, bisa di pastikan seribu persen kalau Chanyeol dan Minho akan masuk daftar pencarian orang oleh kepolisian pusat.

"Aku akan mengangkatnya." Chanyeol memberitahu Minho, dan lelaki itu hanya mengangguk mengiyakan. "Halo.."

"Kau di mana bodoh! Ini sudah satu jam dan kau ataupun Minho tidak memberi laporan apapun padaku!" Gelegar Lee Joon di sebrang sana.

"Kami mendapat sebuah kecelakaan." Ucapnya dengan tenang.

"Bagaimana bisa?!"

"Kau tahu? Kami terjebak sebuah razia dadakan tepat di daerah Surim-dong. Para polisi itu memaksa kami agar mau membuka tas yang berisikan LSD. Dan yah.. aku melarikan diri, lalu mereka mengejarku dengan waktu yang cukup lama."

"LSD! Lalu bagaimana dengan LSDnya?!"

"Barang itu masih berada pada mobilmu hyung, aku tak dapat mengambilnya karna jika aku membuang waktu ku untuk mengambil benda itu, bisa saja kau saat ini ikut terseret kedalam penjara."

"DAN SAAT INI AKU TELAH TERSERET KE DALAM MASALAH BESAR BRENGSEK!" Teriak Lee Joon geram.

Chanyeol sempat menjauhkan telinganya ketika Lee Joon berteriak dengan kemarahan yang berada di ubun-ubun. Chanyeol bukannya tidak memikirkan apa yang akan terjadi jika ia meninggalkan benda itu begitu saja pada mobilnya. Ia mengerti akan itu, ia mengerti bahwa setelah ia memutuskan untuk melangkahkan kaki tanpa membawanya, itu berarti ia telah memasukan dirinya sendiri kedalam masalah besar.

"Aku tidak punya pilihan lain."

"Park Chanyeol, aku tidak ingin dengar alasan apapun. Ku tunggu kau dan teman mu itu di ruanganku!" Kata Lee Joon dengan deru nafas memburu.

Mendengar perkataan barusan yang Lee Joon lontarkan, Chanyeol dapat menduga bahwa setelah ini, ia dan Minho memang hanya tinggal seutas nama.

"Bagaimana reaksinya?" tanya Minho.

"Ia marah besar."

"Tentu saja, itu bukan sembarang narkoba. Entahlah Chanyeol, haruskah aku berterima kasih padamu karna sudah menyelamatkanku dari kepulan polisi itu, atau haruskah aku mengumpat padamu mengenai barang yang kau tinggalkan di mobil itu."

Chanyeol tahu bahwa Minho berkata jujur mengenai apa yang sedang ia rasakan. Chanyeolpun sendiri merasa bahwa ia salah membiarkan begitu saja barang tersebut. Namun kembali, Chanyeol tidak mempunyai pilihan lain saat itu dengan waktu yang begitu sempit. Dalam hati ia berharap, bahwa keputusannya saat ini tidak akan membuat suami mungilnya terluka.

.

.

.

Baekhyun saat ini sedang berdiri di sudut kamarnya yang mempunyai sebuah jendela tunggal. Meski tidak besar layaknya jendela-jendela pada apartemen mewah, tetapi ia cukup bisa melihat indahnya pemandangan kota Seoul. Omong-omong, ini sudah pukul lima pagi dan Baekhyun benar-benar terjaga semalaman. Ia tidak tertidur sama sekali sepanjang malam. Entahlah, fikirnya selalu mengawang pada sosok suaminya yang sedang melaksanakan tugas terakhirnya. Ditambah lagi, ini adalah waktu terlama yang Chanyeol tempuh dalam menjalankan tugasnya, karna biasanya Chanyeol akan kembali pada sekitaran pukul tiga atau pukul empat, sedangkan saat ini sudah menginjak pukul lima. Apakah tugas terakhir itu memang benar-benar sulit sehingga memakan waktu lama? Dalam hati Baekhyun selalu berdoa jika Chanyeol dapat kembali dalam keadaan yang baik-baik saja.

Baekhyun melongok ke arah jendela, desau angin dengan samar meniup helaian rambutnya. Hal ini membuat perasaan dan rasa mual yang sepanjang malam di rasanya berkurang. Dalam sela-sela dirinya merasakan hembusan angin, Baekhyun mendengar sebuah ketukan pintu dari arah depan dan mungkin itu adalah Chanyeol, suaminya. Maka tak perlu waktu lama lagi, Baekhyun segera melesat menuju daun pintu dan membuka benda tersebut yang ternyata memang benar bahwa si pengetuk pintu adalah Chanyeol.

Senyuman yang tadinya bertengger manis di wajah Baekhyun lambat laun berubah ketika melihat begitu banyak luka lebam di tubuh Chanyeol, dan bahkan ada sebercak darah yang sudah mengering pada wajah suaminya. Hati Baekhyun kembali teriris untuk sekian kalinya melihat pemandangan yang paling ia benci. Chanyeol bahkan tak mampu berdiri dengan benar karna lelaki itu bertopang pada dinding di sebelah pintu. Baekhyun menangis melihat Chanyeol yang tampil kesakitan seperti itu.

"H-hai... B-baek.." Ucapnya terpotong-potong karna demi apa menggerakan bibir saja adalah hal tersulit di dunia saat ini.

"Hiks.." Baekhyun menangis, lalu memeluk lelakinya yang masih bersandar pada dinding. "Kau terluka parah." Katanya sendu sembari terisak.

"A-ku.. Tak.. Apa..." Jawab Chanyeol kepayahan.

Baekhyun merasa jika ia ingin bertukar posisi dengan Chanyeol. Merasakan puluhan luka yang berada di tubuhnya untuk di pendam sendiri. Setidaknya dengan hal itu, Chanyeol tidak perlu lagi merasakan bagaimana sakitnya di pukuli hingga ingin mati. Baekhyun kadang berfikir, apakah ia terlalu egois untuk memaksa Chanyeol keluar dari pekerjaannya? Tapi melihat Chanyeol yang kerap kali pulang dengan keadaan penuh lebam membuat Baekhyun jauh lebih sakit. Dan Baekhyun tidak ingin Chanyeol merasakan pukulan-pukulan itu lebih lama lagi.

Perlahan, setelah Baekhyun sudah bisa mengontrol tangisnya, mereka pun berjalan menuju kedalam flat dengan Baekhyun yang setia membopong Chanyeol. Baekhyun membaringkan Chanyeol di atas ranjang mereka karna mungkin hanya itulah yang paling Chanyeol butuhkan saat ini. Baekhyun tidak akan menutut penjelasan pada Chanyeol mengapa lelaki itu tampak jauh lebih buruk dari pada malam-malam yang lalu, atau bisakah Baekhyun mendengar keseluruhan kisah yang di alami suaminya dengan hati yang seolah terlapis baja? Baekhyun tidak siap sebenarnya.

Tidak perlu waktu lama bagi Chanyeol untuk tertidur di atas ranjangnya yang hangat. Tubuhnya benar-benar remuk bekas insiden kecelakaan tadi, juga di tambah dengan penyiksaan di dalam markas utama yang menyebabkan seluruh tubuhnya di penuhi luka. Chanyeol tahu, Baekhyun pasti merasa sangat terluka atas apa yang sudah di alaminya. Terbukti dengan tangisan pecah seorang Byun Baekhyun pada dadanya tadi. Dalam hati Chanyeol hanya bisa bisa melafalkan beribu maaf yang tak dapat terucapkan secara lisan.

"Maafkan aku.." Lirih Baekhyun sembari memandangi tubuh terelentang Chanyeol.

Demi Tuhan Baekhyun tak dapat lagi membendung tangisnya yang tadi sempat tertahan. Aliran air itu kembali lagi mengucur dengan deras di sela-sela matanya yang mulai sembab. Baekhyun merasa batinya sudah hancur lebur melihat sang suami yang terkapar seperti itu. Rasanya ingin sekali membalaskan perbuatan setimpal pada orang yang membuat Chanyeol seperti ini. Namun apa daya, Baekhyun adalah seorang yang tidak mempunyai keberanian sebesar itu.

Perlahan, Baekhyun dapat menguasai dirinya kembali, meski hal itu sangat sulit baginya. Tapi saat ini yang Baekhyun harus lakukan adalah membuat Chanyeol merasa lebih baik dengan memberikan seluruh perhatian dan kasih sayang yang ia punya untuk pria itu. Memangnya apa lagi yang di butuhkan selain dorongan dari batin seseorang yang terluka? Hanya cinta dan kasih sayang yang mampu membuat semuanya jauh lebih baik.

Seiring berjalannya waktu, Baekhyun perlahan mulai mempersiapkan segala hal yang akan Chanyeol butuhkan ketika bangun nanti. Mulai dari membersihkan flat kecilnya, menggosokkan pakaian bersih yang akan di kenakan Chanyeol nanti, dan juga tak lupa membuat sarapan sehat untuk Chanyeol karna suaminya pasti sangat membutuhkan asupan serat dan nutrisi untuk menyembuhkan tubuhnya dari luka-luka tersebut.

"B-baek.. Hyun.." Seru Chanyeol dengan suara lemah dan terputus.

Baekhyun yang kebetulan berada di samping ranjang dengan segera mendekatkan diri pada Chanyeol, mengusap helaian hitam yang menutupi dahinya.

"Aku disini." Bisik Baekhyun lembut, "Tak apa, tidurlah kembali. Kita akan baik-baik saja."

Baekhyun melihat adanya secelah senyum yang tertarik dari bibir Chanyeol. Pria tinggi itu tahu bahwa Baekhyun memang benar berada di sisinya, bahkan saat jatuh ke dasar jurang pun Baekhyun akan tetap berada di sisinya, seperti saat ini.

"Tetaplah.. Disini." Bisik Chanyeol kembali.

Baekhyun tersenyum, lalu mendaratkan sepucuk kecupan di dahi pria yang masih terpejam, "Baiklah, aku akan disini bersamamu."

.

.

.

Few hours ago..

Sebuah Ford Mustang tua tampak berhenti di sebuah gedung yang sudah lusuh tak terawat. Terlihat dari seberapa banyak akar pohon yang merambat pada dinding, dan juga terdapat beberapa sarang laba-laba pada sudut-sudut ruangan.

Si pengemudi dengan rambut coklat kehitaman itu perlahan keluar dari mobil. Kedua matanya mengedar, mencari-cari seonggok daging bernyawa yang ia percayai sedang bersembunyi di baik gedung tua ini. Lelaki itu perlahan membawa langkah kakinya masuk jauh lebih dalam, membiarkan mobil tua warisan dari kakek buyutnya tergeletak begitu saja di pintu masuk.

"Uhuk.."

Pria itu menoleh, ia mendengar seseorang yang sedang terbatuk dengan suara yang menyedihkan. Hanya dari suara saja ia dapat mengetahui bahwa orang tersebut sedang mendapatkan luka yang serius.

Diam-diam pria tersebut menyalakan sebuah senter kecil di balik saku jaketnya, benda yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Langkah kakinya masih terus menapak, mendekat pada asal suara yang membuat dirinya yakin jika itu berasal dari orang yang di carinya saat ini.

"Chan.. Yeol.." lirih Minho yang lemas di sudut ruangan berdebu, "Di.. Belakang.. mu.." lanjutnya ketika melihat sebuah cahaya berwarna putih yang menyorot ke arah mereka.

Brak!

"Kau?!" Seru lelaki tersebut dengan raut wajah terkejut. "Yak, Chanyeol! Apa yang terjadi pada Minho?!" Sambung pria itu sembari berjalan mendekat.

"Syukurlah kau cepat datang, Johnny-ya." Ucap Chanyeol bernafas lega ketika penyelamatnya telah datang membantu. "Akan ku jelaskan ketika sampai di mobil, karna sekarang keselamatan Minho yang utama."

Chanyeol dan Johnny pun dengan sergap membopong Minho menuju mobil tua Johnny yang berada di luar gedung. Sebenarnya tadi ketika Chanyeol menerima makian dari Lee Joon untuk memintanya ke markas utama, ia sempat merasa putus asa. Ia tidak tahu bagaimana cara untuk pergi ke markas utama saat dirinya bahkan sedang di cari oleh kawanan kepolisian. Ditambah lagi keadaan Minho saat ini bisa di bilang mengenaskan dengan wajah pucat dan darah dari dahi yang tak kunjung berhenti.

Chanyeol mengingat-ingat, sekiranya siapa yang dapat menolongnya dari kesialan ini. Dan pembicaraannya dengan Johnny tempo hari mengingatkannya pada lelaki itu. Dengan harapan yang melambung tinggi, Chanyeol pun memutuskan untuk memanggil lelaki dengan bibir menawan itu agar dapat membantunya untuk keluar dari gedung tua ini.

Chanyeol sempat harap-harap cemas ketika nada tunggu yang di dengarnya tak kunjung berubah. Apakah Johnny kebetulan sedang bertugas sehingga ia tidak mengangkat telpon tersebut? Namun sepertinya Tuhan masih ingin menyelamatkan Chanyeol karna Johnny mengangkat sambungan itu pada detik-detik terakhir. Awalnya Johnny kaget bukan main ketika mendengar penuturan singkat via telepon yang Chanyeol jelaskan mengenai keadaan mereka, maka dari itu rekan kerja dari kedua lelaki tersebut langsung bergegas menuju tempat yang di instruksikan oleh Chanyeol.

Butuh waktu cukup lama bagi Johnny untuk mengetahui dimana gedung tua ini berada. Sebelumnya ia sempat bertanya-tanya pada Ten di sepanjang perjalanan menggunakan perangkat wireless yang terselip di sela-sela lubang telinganya. Dan beruntung saat Johnny menemukan gedung tersebut, Chanyeol masih belum terendus keberadaannya oleh sekumpulan pria berseragam itu.

Sekarang, ketiganya telah berada di dalam mobil tua milik Johnny, dan lelaki itu pun tanpa basa-basi lagi langsung menyalakan mesin dan menjauh dari kawasan terasebut.

"Apa kita akan ke markas sekarang?" Tanya Johnny di balik kemudi.

"Tidak, kita akan ke klinik terlebih dahulu." Jawab Chanyeol sembari melirik Minho yang sudah tak sadarkan diri kembali.

Johnny hanya mampu mengangguk, dan melajukan kendaraanya menuju sebuah klinik yang dekat dengan markas utama. Di sepanjang perjalanan, Chanyeol pun menjelaskan tentang kronologi kejadian bagaimana hal itu dapat terjadi pada mereka. Tak lupa Chanyeol menceritakan tentang narkoba jenis apa yang di bawanya.

"Kau dalam masalah besar bung, sangat besar." Kata Johnny memperingati, "Aku memang tidak pernah berurusan dengan Tae Goo, namun teman satu flat ku pernah bermasalah dengannya. Orang itu... dia tidak akan melepaskanmu sampai kau dapat mengganti rugi kerugiannya."

"Aku tahu itu." Jawab Chanyeol pasrah sembari menyandarkan kepalanya, mencoba untuk rileks.

"Lalu apa kau sudah menemukan pekerjaan untuk mengganti rugi barang tersebut? Karna bisa di jamin Hyung tidak akan mau menanggung kerugian itu." Johnny melirik sekilas dan Chanyeol menggeleng.

"Mungkin aku bekerja serabutan, lagipula aku harus menghindar dari keramaian karna wajahku sudah terlihat oleh salah satu dari para polisi itu."

Johnny hanya bisa mengangguk, lalu menepuk bahu sebelah kanan Chanyeol, tanda bahwa ia

juga ikut prihati terhadap kemalangan yang sedang menimpa lelaki itu.

"Oh.. Seingatku, aku mempunyai seorang kenalan yang sedang membuat proyek penghancuran bangunan tua di daerah selatan Seoul. Ya, walaupun upah tidak seberapa, tetapi setidaknya itu cukup untuk menyambung hidup, bagaimana?" Tawar Johnny.

Chanyeol yang tadi berwajah sendu dan bermuram durja kini mendapat sebercah harapan yang di berikan oleh Johnny. Entahlah, ia tidak tahu harus berterima kasih dengan cara apa agar bisa membalas kebaikan pria ini. Maka tanpa banyak pertimbangan, Chanyeol pun menganggukkan kepala, setuju akan tawaran Johnny untuk bergabung dengan para pekerja paruh waktu di proyek tersebut.

Lama berselang, ketiga lelaki itu pun kini sedang berada di sebuah klinik yang jaraknya berdekatan dengan markas utama. Selagi Johnny menunggui Minho yang sedang di periksa, Chanyeol memutuskan untuk berjalan menuju tempat dimana Lee Joon berada sendirian. Ia rasa ini memanglah tanggung jawabnya yang membiarkan paket berisi narkoba itu dengan gampangnya berpindah tangan ke pihak kepolisan. Maka setelah pamit dan berterima kasih pada Johnny, Chanyeol pun bergegas menuju markas utama dimana Lee Joon telah menunggu dengan gusar.

Sesampainya di depan ruangan Lee Joon, Chanyeol menyempatkan diri untuk menghirup nafas dalam-dalam, mensugesti dirinya sendiri bahwa ia akan baik-baik saja, walau sebenarnya itu adalah harapan yang tidak mungkin terjadi saat ini.

Tok

Tok

Jika biasanya Chanyeol mendengar perintah masuk sebelum membuka pintu, maka saat ini pintu kayu tersebut telah terbuka dengan sendirinya. Melihat kejadian itu Chanyeol tahu bahwa Lee Joon tidak sendiran di ruangan itu.

Setelah pintu itu terbuka, Chanyeol merasa bahwa tebakannya benar. Ada sekiranya empat orang yang berada di sana. Hanya Lee Joon dan Taecyeon saja yang Chanyeol kenal karna kedua orang lainnya tampak asing.

"Oh, si pembawa sial sudah datang. Mana rekanmu?" ucap Lee Joon dengan tampang remeh sekaligus menahan amarah.

"Minho sedang berada di klinik depan, ia mendapat luka cukup serius akibat kecelakaan."

"Kau mendapat kecelakaan? Wah, kenapa tidak langsung mati saja?"

Chanyeol rasanya ingin sekali mendaratkan sebuah tinju pada mulut pedas Lee Joon yang membuatnya muak. Namun ia sadar diri dengan apa yang sudah di perbuatnya, jadi Chanyeol memilih untuk menahan emosinya dengan tangan yang terkepal kuat.

Salah seorang yang berada di ruangan itu berdiri dari duduknya. Lelaki dengan stelan jas mahal dan juga rahang tegas tak terbantahkan itu meilhat Chanyeol dengan tatapan menusuk. Dia adalah si bandar besar yang meminta Lee Joon untuk mempekerjakan Chanyeol dan juga Minho untuk mendistribusikan narkoba mahal tersebut. Tae Goo dan Chanyeol memang sebelumnya tidak pernah bertemu, karna mereka bekerja sama atas perantara Lee Joon. Dan sekarang Chanyeol dapat melihat sosok asli lelaki yang menyandang predikat sebagai bandar besar se-Asia tersebut.

"Baiklah aku tidak ingin berbasa-basi," Ucapnya dengan suara super rendah, "Kau tahu aku hidup di dalam dunia bisnis. Dan aku tidak mengenal kata merugi di duniaku. Sebelumnya akupun sudah membicarakan hal ini dengan Lee Joon selaku ketua dari kalian. Dan sayangnya, Lee Joon pun tidak mengenal kata merugi di dalam kamusnya."

"Aku meminta maaf akan hal itu." Chanyeol membungkuk dalam, meminta maaf secara tulus dari dasar hatinya.

"Kata maaf tidak akan bisa mengembalikan barang tersebut. Dan aku ingin kau untuk mengganti barangku yang bernilai ratusan juta won itu." Geram Tae Goo penuh penegasan, "Aku tidak akan perduli bagaimana kau bisa mengganti rugi, dengan menjual ginjal atau jantungmu pun itu bukanlah urusanku."

Chanyeol hanya tercenung, bagaimana caranya ia menceritakan beban ini kepada Baekhyun? Bagaimana jika nanti Baekhyun malah meninggalkannya karna terlalu lelah hidup berkesusahan seperti ini? Akankah Baekhyun sanggup mengerti keadaan Chanyeol saat ini? Hanya itu yang terus terlintas di pikiran lelaki itu.

"Jangan coba-coba untuk melarikan diri, karna aku bisa saja menjadi seorang pembunuh berdarah dingin jika kau berniat melakukan hal itu." Ancam Tae Goo sebelum ia berjalan ke luar ruangan dan meninggalkan Chanyeol, Lee Joon, dan juga Taecyeon.

Sepeninggal Tae Goo dan kaki tangannya, Lee Joon pun mendaratkan tatapan tajamnya pada Chanyeol dan berkata, "Well, karna kau sebelumnya sangat keras kepala untuk keluar dari pekerjaan ini maka dengan senang hati aku melepasmu pergi. Karna jika kau dan Minho masih berada di sini terus menerus, itu akan membawa kesialan untuk ku."

Sebenarnya Lee Joon bukanlah orang yang dengan mudah membuang anak buahnya begitu saja, kecuali jika orang tersebut sudah tidak berguna lagi. Dan dalam kasus Chanyeol, Lee Joon membuangnya karna ia telah mendapat sebuah kesepakatan dari Tae Goo dengan tidak ikut campur dalam andil mengganti rugi barang tersebut. Jadi jika ia sudah terlepas dari masalah tersebut, untuk apa masih merepotkan diri berurusan dengan si sumber masalah? Jauh lebih baik jika ia membuang keduanya.

"Brengsek kau!" Ledak Chanyeol namun belum sampai ia menjatuhkan tinju yang sedari tadi di tahan, lengan kekar Taecyeon ternyata lebih dulu mengenai bagian tubuhnya.

.

.

.

"Huek.."

Chanyeol tersadar dari tidurnya ketika mendapati suara-suara yang mengusik indra pendengarannya. Kedua mata besar yang terpejam itu perlahan terbuka meski berat. Ia mengendarkan pandangan dengan tubuh yang masih terlentang. Bayangkan saja, dengan posisi tidur seperti ini, Chanyeol masih bisa merasakan bagaimana sakitnya luka-luka yang di torehkan oleh Taecyeon si bajingan itu. Ya, setelah pembicaraan menegangkan antara dirinya juga Tae Goo semalam, tubuh Chanyeol dengan semerta-merta di seret oleh pria dengan badan besar itu untuk di pukuli habis-habisan. Ini adalah luka terparah yang pernah ia alami seumur hidupnya.

"Huek.."

Chanyeol mengalihkan pandangannya pada sumber suara yang berada di kamar mandi. Chanyeol tahu itu berasal dari Baekhyun yang tidak kunjung membaik sejak pertama kali lelaki itu mual tempo hari. Maka dari itu Chanyeol bangkit. Meski merasa jutaan sakit pada tubuhnya, tetapi Chanyol tetap maksakan diri, demi melihat keadaan Baekhyun yang saat ini.

"Baekhyun?" Tegur Chanyeol yang sudah berada di ambang pintu.

Baekhyun menoleh ke samping dan terkaget ketika melihat Chanyeol yang sudah bangun dari tidurnya. Lelaki itu tampak jauh lebih baik mesti wajahnya masih di penuhi lebam dan juga bercak keunguan. Setelah hanya dapat tatapan terkejut dari suami mungilnya, Chanyeol memutuskan untuk mendekat pada Baekhyun yang terjongkok di depan closet.

"Kau masih sering merasa mual?" Tanya Chanyeol dan Baekhyun hanya mampu mengangguk lemah, "Habis ini, akan ku antar kau menuju klinik untuk memeriksa kesehatanmu." Tegasnya.

"Tapi Chanyeol, aku baik-baik saja." Katanya meyakinkan diri, "Bukankah seharusnya kau yang lebih butuh perawatan ketimbang diriku?"

Chanyeol hanya tertawa geli ketika Baekhyun meraba dahinya, seolah meriksa suhu tubuh dari si tinggi. "Aku sudah baikan, Byunee." jelasnya dan sontak Baekhyun menggeleng keras.

"Tidak! Kau masih perlu perawatan!" Gertaknya si mungil tak terbantahkan.

Chanyeol kembali terkekeh melihat sikap Baekhyun, "Baiklah kalau begitu rawatlah aku." Ucapnya sembari mencondongkan wajah dan memajukan bibir tebalnya beberapa inci, mencoba mencium Baekhyun.

Puk

"Aghhh... Ini sakit Byun Baekhyun." Erang Chanyeol ketika mendapati sebuat tepukan pada pipi wajahnya, dan bisa di tebak itu adalah ulah Baekhyun.

"Kau mesum sekali sih!" Omelnya lucu, namun setelah itu ia memberi sebuah kecupan pada tempat yang sama dimana ia memukul Chanyeol. "Sudah lebih baik kan?" Ucapnya sembari mengelus pipi Chanyeol.

Baekhyun merasakan kembali gelenjar kesedihan yang memuncak saat menyentuh langsung lebam-lebam itu di wajah Chanyeol. Kilas balik seolah berlomba-lomba datang, tentang bagaimana Chanyeol bertahan ketika mendapatkan siksaan tersebut. Apakah Chanyeol telah berhasil pada misinya? Atau Chanyeol malah gagal dengan begitu banyak kesalahan yang harus di tanggung? Baekhyun hanya mampu menerka-nerka sendiri, enggan memaksa Chanyeol untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya. Baekhyun hanya mampu menunggu sampai Chanyeol bersedia bercerita padanya.

"Mau membantuku untuk membersihkan tubuh? Rasanya sedikit sulit melakukan itu sendirian saat ini." Pinta Chanyeol dan Baekhyun mengangguk dengan pasti.

Setelah itu Baekhyun dengan perlahan menanggalkan satu demi satu pakaian kotor yang menempel di tubuh Chanyeol. Perasaan Baekhyun kembali mendapat guncangan hebat ketika melihat seluruh luka tersebut secara nyata melalui mata kepalanya sendiri. Bagaimana lebam itu membengkak di sisi kiri paha Chanyeol, juga pada kulit tulang rusuk lelaki itu yang bewarna biru pekat tanda bahwa bagian itu telah di pukuli berkali-kali. Baekhyun menangis melihatnya, dan tangis Baekhyun membuat sudut hati Chanyeol jauh lebih terluka.

"Aku baik-baik saja." Ujar Chanyeol meyakinkan sembari menggenggam tangan Baekhyun.

"Hiks.. Maafkan aku." Celoteh Baekhyun.

"Tidak, kau tidak perlu meminta maaf atas apapun. Aku benar baik-baik saja." Chanyeol kembali meyakinkan, kini dengan di sertai sebuah pelukan hangat. "Jadi bagaimana? Masih ingin membantuku?" Ucapnya ceria, berusaha menghilngkan hawa berkabung yang menguar dari diri Baekhyun.

Baekhyun mengangguk berkat kenyamanan yang Chanyeol berikan padanya. Dan setelah itu pun Baekhyun dengan telaten mengusapi seluruh tubuh Chanyeol menggunakan handuk kecil. Baekhyun tahu jika saat ini tubuh Chanyeol sedang mengalami ribuan rasa sakit yang tidak tertahankan, maka dengan itu Baekhyun hanya mengusapi dengan air hangat, agar luka-luka itu terasa jauh lebih baik.

Setelah di rasa tubuh Chanyeol sudah bersih, Baekhyun pun keluar, mengambil sepotong pakaian bersih untuk suaminya kenakan. Baekhyun tak lupa juga menyalakan kompor untuk menghangatkan kebali sarapan yang telah ia buat, mengingat ini sudah pukul satu siang.

Chanyeol pada akhirnya keluar dengan tamplian yang jauh lebih baik. Ia kemudian menoleh pada Baekhyun yang berkutat dengan mini kitchen di sebelah kanan. "Butuh bantuan, dear?" Tanya Chanyeol dan Baekhyun menggeleng dengan pasti.

"Aku bisa mengatasi ini, kau duduk saja dulu, oke?"

Chanyeol melihat sebentar ke arah Baekhyun lalu beranjak mendekat pada televisi tabung yang mereka punya. Chanyeol menyalakan benda tersebut dengam mengebrak terlebih dahulu. Ya, sebuah ritual sederhana yang harus di lakukan demi membangungkan benda tua tersebut. Tak lama berselang, Baekhyun pun bergabung menuju Chanyeol dengan membawa sebuah panci berisi sup rumput laut. Juga ada beberapa hidangan lain seperti japchae, kimchi, dan juga sundae.

"Maaf aku hanya bisa membuatkan ini." Kata Baekhyun dengan kepala menunduk.

"Hei, jangan bersedih seperti itu," Chanyeol menyeret dagu Baekhyun agar tak lagi menunduk.

"Ini terlihat sangat lezat, Baekki. Terima kasih telah membuatkannya untukku." Chanyeol tersenyum di akhir kalimat.

Baekhyun kemudian mengambilkan beberapa sendok nasi ke piring Chanyeol, juga menuangkan sup rumput laut kedalam mangkok yang terpisah. Baekhyun dengan cekatan melayani Chanyeol, memberikan servis terbaik untuk suami tercintanya. Chanyeol yang seluruh tenaganya terkuras melahap hidangan itu dengan sangat antusias. Terlihat dari cara makan yang tidak seperti biasanya.

Selepas dari acara makan mereka yang terbilang cepat, saat ini Chanyeol dan Baekhyun sudah berada di ranjang mereka. Keduanya menarik selimut dengan Baekhyun yang bergelung manja di dada suaminya. Baekhyun meminta Chanyeol untuk segera istirahat kembali dan Chanyeol menuruti hal tersebut asalkan Baekhyun juga ikut beristirahat. Maka jadilah mereka disini, terbaring dengan selimut yang menutupi kaki hingga batas perut.

"Baekki.." Panggil Chanyeol.

"Ya?"

"Ada yang ingin kau tanyakan padaku?"

Chanyeol bukannya tidak mengetahui tatapan mata Baekhyun yang khawatir akan apa saja yang sudah di alaminya semalam, namun enggan bertanya kepadanya secara langsung.

Melihat Baekhyun yang diam saja, Chanyeol memutuskan untuk menceritakan tentang kejadian semalam. "Maafkan aku." Katanya memulai.

Baekhyun yang tidak mengerti mengapa Chanyeol meminta maaf hanya bisa melihat wajah lelaki itu dengan kerutan di dahi. "Ada apa? Kenapa meminta maaf?" Ujarnya bertanya-tanya.

Chanyeol pada akhirnya benar-benar menceritakan apa yang sudah di alaminya. Mulai dari razia dadakan yang menghambatnya, juga tentang pengejaran dan kecelakaan yang menimpa dirinya dan Minho. Juga tak lupa Chanyeol menceritakan bagaimana dirinya mendapat pukulan-pukulan dari pria bernama Taecyeon, dan juga ia diharuskan untuk mengganti rugi barang tersebut dengan nilai yang sangat amat besar.

Baekhyun yang mendengar kisah Chanyeol pun berlinangan air mata, meraung sejadi-jadinya di dalam dekapan Chanyeol. Hatinya terasa amat sakit ketika melihat kembali lebam-lebam yang berada di sekujur tubuh Chanyeol. Baekhyun merasa bahwa dirinya sangatlah tidak berguna, ia hanya bisa menyusahkan Chanyeol dan terus memberi beban untuk Chanyeol.

"Ssstt.. baby, tak apa. Aku sudah mendapat pekerjaan lain yang jauh lebih baik." Ujar Chanyeol menenangkan Baekhyun yang masih saja terisak.

"Hiks.. aku.. aku hanya bisa menjadi beban hidupmu. Aku sangatlah tidak berguna." Ocehnya menyalahi diri sendiri.

"Tidak Baekhyun, kau tidak seperti itu. Kau adalah sumber kebahagiaanku, dan itu yang terpenting saat ini. Aku hanya butuh kau untuk mencintaiku dengan tulus, menemaniku saat aku sudah lelah dengan dunia, dan meyakinkanku bahwa kita akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari pada ini."

Chanyeol menghapus air mata Baekhyun yang tumpah untuk ke sekian kalinya pada hari ini, lalu berkata. "Semua akan baik-baik saja selama kita terus bersama." Kecupnya di dahi si mungil.

Keika sedang menenangkan Baekhyun yang masih terisak, telinga Chanyeol mendengar deringan yang berasal dari ponselnnya. Maka dengan segera Baekhyun meraih benda tersebut untuk di berikan pada Chanyeol.

"Halo.."

"Chanyeol, ini aku Johnny. Aku mendapat kabar baik untukmu mengenai proyek penghancuran gedung yang kemarin kita bicarkan."

Chanyeol tampak sangat antusias di balik teleponnya, meninggalkan Baekhyun yang bertanya-tanya di sampingnya.

"Apa aku dapat bergabung dengan proyek itu?" tanya Chanyeol dengan sudut bibir terangkat menyunggingkan senyum.

"Tentu, karna kenalanku adalah adik dari si pemilik proyek. Dan kabar baiknya adalah, kau dapat bergabung dengan proyek selanjutnya jika kinerjamu di atas rata-rata. Which is kau bisa menjadi pekerja tetap." Ujar Johnny iku bersemangat di seberang sana.

"Benarkah?"

"Apa kau pikir aku sedang bercanda? Ah, sudahlah nanti akan ku kabari nanti jika jadwal penghancuran sudah keluar. Sekarang beristirahatlah."

"Tunggu, bagaimana dengan Minho?" tanya Chanyeol teringat dengan Minho yang terakhir kali di tinggalkannya di klinik bersama Johnny.

"Dia baik, hanya saja luka di pelipisnya cukup dalam dan memerlukan dua belas jahitan. Aku baru saja keluar dari gedung flatnya. Sudah dulu ya."

Pip..

Johnny menutup sambungan itu tanpa memberikan Chanyeol kesempatan untuk mengucap terima kasih. Pantas saja jika Chanyeol tidak mengenali identitas si pemanggil yang ternyata adalah Johnny yang menggunakan jasa telpon umum. Chanyeol berjanji jika nanti kehidupannya telah jauh lebih baik, Johnny adalah orang pertama yang akan ia ingat jasa dan kebaikannya.

"Siapa yang menelpon?" Tanya Baekhyun setelah ia memastikan bahwa Chanyeol telah selesai bertelpon.

"Dia Johnny, salah satu anak buah Hyung." Jelas Chanyeol sembari menyisir helaian rambut Baekhyun ke belakang, "Ia yang menawariku pekerjaan baru, dear."

Baekhyun berlonjak sebentar tampak antusias, "Benarkah? Jadi Johnny juga yang menolongmu untuk kabur dari gedung tua itu?" Chanyeol mengangguk, "Kalau begitu kau harus berterima kasih kepadanya."

"Tentu saja, aku telah berhutang nyawa padanya."

"Lalu, pekerjaan apa yang Johnny tawarkan?"

Chanyeol bisa melihat wajah Baekhyun agak khawatir dengan si pekerjaan baru yang akan Chanyeol lakukan demi membayarkan hutang sekaligus membiayai kehidupan keduanya. Terang saja Baekhyun khawatir akan hal itu, karna bagaimanapun Baekhyun tidak ingin melihat Chanyeol kembali terluka hanya harna mengais pundi uang.

"Johnny menawariku untuk bergabung pada proyek penghancuran gedung tua di kawasan Yongsan-gu, Seoul. Ya, walaupun upah yang di tawarkan tidak seberapa, tetapi ku rasa cukup untuk menghidupi kita dan juga menyicil ganti rugi itu. Tidak apa kan jika aku bergabung dengan ajakan Johnny?" Tanya Chanyeol meminta restu.

Baekhyun mengangguk mantap dengan senyuman yang meneduhkan, "Tentu saja Chanyeollie. Hm, lantas apa Johnny juga ikut dengan proyek itu juga?" Baekhyun balik bertanya.

"Tidak, ia tidak ikut. Ia hanya menawariku pekerjaan itu. Ya, mungkin alasannya karna upah yang di hasilkan tidak sebanyak ia merampok."

Baekhyun mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengeti. Syukurlah jika Chanyeol telah menemukan pekerjaan baru yang jauh lebih baik dari pada menjadi supir untuk aksi kejahatan. Meski pekerjaan kali ini hanya mempunyai upah yang jauh lebih sedikit, tetapi Baekhyun yakin bahwa ini adalah awal yang baik untuk memulai kembali semuanya.

"Anyway... sepertinya kau melupakan saranku untuk segera ke klinik ya?" Chanyeol cemberut saat mengatakan ini. Lihatlah, sebenarnya siapa yang cocok mendapatkan julukan sebagai bayi besar?

"Aku tidak ingin ke klinik sendirian." Baekhyun juga ikut cemberut menjawabnya. Oke, kita mendapat sepasang bayi besar sekarang.

Mendengar jawaban dari Baekhyun yang enggan ke klinik sendirian, Chanyeol pun dengan segera bangkit dari tidurnya. "Akh..." si besar mengaduh sakit karna pergerakan dirinya sendiri yang tiba-tiba.

"Makanya jangan bergerak tiba-tiba begitu." Omel Baekhyun sambil membantu Chanyeol untuk terduduk di ranjang mereka.

"Ayo ke klinik." Ajak Chanyeol.

"Sekarang?"

"Tentu saja! Ini sudah hari keberapa kau mengidap mual dan juga pusing? Jangan menyepelekan penyakit, Baekki."

Baekhyun hanya mampu tersenyum kecil melihat Chanyeol kembali pada wujud aslinya, "Baiklah.. Baiklah.." Ucapnya kembali mengangguk.

Keduanyapun perlahan bangkit dan memakai mantel untuk diri mereka sendiri. Baekhyun menambahkan sebuah topi hitam untuk Chanyeol, agar wajah lebam itu dapat teralihkan oleh sorot mata orang lain. Setelah keduanya siap, Chanyeol dan Baekhyun pun berjalan keluar dari flat mereka, menuju klinik terdekat.

Di sepanjang perjalanan, Baekhyun tidak henti-hentinya tersenyum dengan tangan yang merangkul lengan Chanyeol penuh rasa sayang. Keduanya tertawa, bercerita, dan mengenang hal-hal menarik di masa lalu sembari menikmati indahnya musim gugur. Seiring berjalannya waktu, keduanya pun telah sampai pada sebuah klinik tempat dimana Baekhyun akan memeriksakan keluhannya selama beberapa hari terakhir.

"Selamat siang." Sapa seorang perawat dengan senyum ramah dan di jawab ramah pula oleh Baekhyun. Kemudian perawat itu mengajukan sebuah form data diri untuk Baekhyun isi.

Sebenarnya gedung ini terlalu besar jika di sebut dengan klinik yang notabene adalah rumah sakit kecil, karna gedung berlantaikan empat ini memiliki fasilitas yang cukup canggih. Dokter-dokter yang bekerja di sini pun terbilang cukup lengkap, hanya saja klinik ini tidak memiliki dokter ahli syaraf dan juga dokter bedah. Jadi tidak heran jika Baekhyun atau Chanyeol lebih memilih memeriksakan diri mereka ke klinik ini ketimbang ke rumah sakit besar yang membutuhkan jarah tempuh lebih jauh.

"Terima kasih." Ucap perawat itu sembari menerima data diri yang telah Baekhyun isi, "Silahkan menunggu di ruangan tunggu, tuan Byun."

Baekhyun mengangguk, lalu mengandeng kembali lengan Chanyeol dan segera duduk di tempat yang telah di sediakan. Sembari menunggu, Baekhyun menyandarkan kepalanya pada bahu Chanyeol yang tegap. Beruntung saat ini hanya beberapa pasien yang berada pada klinik tersebut sehingga Baekhyun tidak perlu berlama-lama menunggu antriannya.

"Tuan Byun." Akhirnya seorang perawat memanggil nama Baekhyun untuk memasuki ruangan pemeriksaan. Chanyeol pun mengekori Baekhyun untuk mengetahui diagnosa yang di berikan dokter untuk suaminya.

"Tuan Byun, benar? Silahkan duduk." Seorang dokter pria ber-name tag Yoo Yeonsuk itu dengan ramah menyambut pasien dan pendampingnya untuk duduk di kursi di depan mejanya. "Mual dan pusing-pusing ya?" Ucapnya setelah membaca diagnosa singkat yang sempat Baekhyun isi.

Baekhyun hanya mengangguk mengiyakan, "Kalau begitu mari saya periksa dulu." Kata si dokter mempersilahkan Baekhyun untuk naik ke matras tunggal berseprai putih bersih tersebut.

Baekhyun pun menuruti perintah Yeonsuk dan terbaring di sana sementara Chanyeol hanya bisa mengamati di balik punggung dokter berusia kepala tiga tersebut. Yeonsuk mengambil stetoskop yang menggantung di bahunya, mengarahkan pada dada Baekhyun lalu kemudian perut, dan lambung. Tak lupa Yeonsuk mengetuk-ngetukkan perut rata Baekhyun jikalau lelaki itu ternyata menderita maag yang menjadi dasar terjadinya mual-mual.

Setelah dirasa pemeriksaan yang di lakukan sudah cukup, Yeonsuk pun meminta Baekhyun untuk bangkit dan kembali duduk di samping Chanyeol. Dokter tampan itu tampak mencatat beberapa kemungkinan yang di alami oleh Baekhyun.

"Baiklah, dari hasil yang saya peroleh tadi. tuan Byun dan juga…"

"Park Chanyeol." Jawab Chanyeol merasa jika dokter itu sedang berbicara padanya juga.

"Ah ya Park Chanyeol, apa kalian rekan atau…"

"Saya suaminya." Tegas Chanyeol.

"Ah.. Aku mengerti sekarang," Yeonsuk mengangguk-anggukkan kepalanya dan tersenyum lebar. Meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun yang penuh tanda tanya.

.

.

.

To Be Continue..

.

.

.

.

Yo yo yo… whassup? Kkkk halo, apa kabar?

Akhirnya bisa update Spec malem ini, untuk merayakan ulangtahun my lovely Bee a.k.a Byun Baekhyun a.k.a pacar Park Chanyeol, okesip~

Bee, malam ini jangan main bowling atau ski-ing lagi ya sama Chanyeol, di dorm aja, bobok berduaan lol semoga makin mesra uri dumb dumb couple^^

Okay, malam ini Ai tentu tidak sendiri, banyak bangaet author lain yang ikut meramaikan pertambahan usia baby Baekki, seperti: Azova10, Hyurien92, Kang Seulla, RedApplee, Parkayoung, Baekbychuu, Ohlan94 (Wattpad), Purflowerian, Flameshinee (Wattpad), Cactus93. Jangan lupa check story line mereka ya hihi… Oh ya hampir lupa, hari ini kak Ayoungie juga ultah lhooo, selamat ulang tahun ya kak.. semoga enteng jodoh kkkkk

At last but not least… HappyBaekhyunDay!

Mind to review?^^

-R61-