Guyss sorry banget aku baru sempet update, belakangan ini sibuk banget sih :(

thanks buat reviewers and readers, you are the best ^^


PREVIOUSLY on Fairy Art Academy

Senin Suram. Sekolah memanggil. Aku heran mengapa liburan terasa cepat sementara hari sekolah terasa lama seakan-akan waktu kehabisan baterai. Sebelum mengarah ke kelas, aku mendatangi lokerku. Buku biologi kutinggalkan di dalam sana.

"Apa itu?" gumamku pada diri sendiri ketika melihat secarik kertas berwarna biru yang dilipat. Aku nggak ingat pernah membeli kertas warna biru. Aku memutuskan untuk membukanya.

Temui aku sepulang sekolah di depan ruang kelas gitar.


CHAPTER 4

Temui aku sepulang sekolah di depan kelas gitar.

Isi surat itu masih bergema di kepalaku. Aku memikirkannya sepanjang hari. Kakiku melangkah menaiki anak tangga ke ruang kelas gitar dengan penuh rasa penasaran. Siapa sih yang mengirimiku surat itu?

Lagi-lagi aku berjalan melawan arus. Biasanya aku menunggu di kelas bersama Erza dan kawan-kawan sampai 'arus pulang' berkurang, setidaknya aku nggak berjalan di sela-sela orang seperti yang kulakukan sekarang ini.

Aku belok kanan menyusuri kelas-kelas sampai aku akhirnya tiba di depan ruang gitar. Orang yang menulis surat itu membelakangiku, menatap birunya langit dari jendela di samping pintu ruang gitar. Rambut hitamnya mengilap terkena cahaya matahari. Dia.

"Gray," aku memanggilnya. Dia menoleh lalu bersandar di tembok.

"Kamu datang." Kalau tahu itu kau, mana mungkin aku berdiri di sini. Langkah pintar. Sekarang aku terjebak di tempat ini.

"Langsung saja," aku memaksa, "apa maumu?" Hatiku sebenarnya menjerit karena perkataanku sepertinya telah melukainya, tapi otakku mengatakan bahwa orang ini pantas mendapatkannya.

"Aku tahu kamu masih marah sama aku. Tapi..." Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu. Benda itu digenggamnya erat-erat. "...tolong dengarkan ini." Perlahan-lahan ia membuka genggamannya.

Aku mengarahkan pandanganku ke telapak tangannya. Benda itu hitam dan panjangnya kira-kira sepuluh atau dua puluh senti. "Alat perekam dan pemutar musik? Untuk apa ini?"

Dia meletakkan alat itu di telapak tanganku lalu menutupnya. "Dengarkan saja. Dan makasih udah mau datang."

"Selamat siang anak-anak. Sampai jumpa besok. Jangan lupa kerjakan tugasnya ya." Ms. Elise meninggalkan kelas, begitu juga dengan teman-teman yang lain.

Aku menunggu Levy membereskan alat tulisnya dan kami berdua pun berjalan keluar dari Ruang Musik. Tugas yang baru saja diberikan Ms. Elise adalah mengaransemen lagu dan harus dikumpulkan paling lambat Kamis dua minggu lagi. Tugas mengaransemen lagu untuk kesekian kalinya di semester ini. Aku masih belum punya ide lagu apa yang akan kupakai.

Saat kami menyusuri koridor sekolah, tiba-tiba aku teringat sesuatu yang membuatku menghentikan langkah. "Ups, aku melupakan laporannya."

"Di mana? Di mana kamu taruh laporan itu?" Levy bertanya dengan nada jangan-bilang-laporan-penting-itu-ketinggalan. Memang, itu laporan OSIS untuk kegiatan bulan ini—bulan Maret. Biasanya laporan itu diserahkan saat rapat minggu terakhir tiap bulan. Tapi mengingat mulai minggu depan latihan intensif persiapan lomba telah dimulai, sebagian anggota OSIS juga ikut latihan itu, Erza pun memutuskan untuk memajukan jadwal pengumpulan laporan bulanan. Dan anggota lainnya pun tidak keberatan untuk menulis laporan lebih awal.

Kali ini Levy benar dan juga salah. Laporan itu memang ketinggalan, tapi cuma di loker. "Tenang saja." Aku berusaha meyakinkan Levy yang mulai kelihatan panik dengan senyuman. "Ada di loker kok."

Kami mampir ke lokerku sebentar. Aku menarik laporan itu dan memberikannya pada Levy. Saat aku hendak menutup pintu lokerku, aku melihat alat perekam dan pemutar musik yang diberikan Gray padaku Senin kemarin. Segera setelah menerimanya, aku menjejalkan alat itu ke dalam lokerku yang lumayan penuh.

"Tolong dengarkan ini."

Sampai detik ini juga aku belum memainkan alat itu. Bahkan untuk mencolokkan earphone-ku ke dalam lubang kabelnya saja nggak sempat. Harus kuakui, belakangan ini aku disibukkan dengan PR-PR matematika dan fisika. Belum lagi latihan lomba dan tugas mengaransemen lagu dari Ms. Elise. Kombinasi yang sempurna bukan?


Setibanya kami di Ruang OSIS, Erza ternyata sudah membuka rapat. Aku meminta maaf atas keterlambatan kami dan menyerahkan laporan 'keramat' itu. Aku segera menuju ke kursiku dan berharap semoga belum ketinggalan bagian pentingnya. Semoga saja teman sedivisiku mendengarkan.

"Aku ulangi lagi," nada suara Erza terdengar tegas, "yang belum mengumpulkan laporan bulanan paling lambat besok pagi," katanya sambil memegang tumpukan kertas—yang kuduga adalah laporan-laporan dari divisi lain.

Lalu terdengar suara ketukan dan pintu terbuka. Loki masuk dengan beberapa lembar kertas di tangannya. "Maaf aku terlambat." Ia langsung menerobos ruangan menuju ke tempat Erza berdiri, di depan papan tulis yang bertuliskan "MISI BULAN DEPAN?"

Setengah bagian ruangan terisi oleh enam meja berbentuk bulat dengan kursi-kursi mengelilinginya. Satu meja untuk satu divisi, yaitu divisi MPD, vocal, dance, music instruments atau biasa disingkat MUSI.

Nggak hanya buat divisi yang berhubungan dengan pengembangan bakat dan potensi. Ada juga divisi keamanan yang tugasnya patroli tiap istirahat pertama atau kedua. Kalau ada yang kehilangan barang, datangnya ke divisi keamanan. Semua barang hilang dan ditemukan didata oleh divisi ini. Kadang aku mempertanyakan tugasnya security alias satpam itu apa sih?

Sedangkan divisi sakrias (Saran, Kritik, dan Aspirasi) bertugas menerima atau mencatat pendapat-pendapat dari siswa-siswa. Divisi ini juga yang maju pertama kali menangani protes yang dilontarkan siswa yang kurang puas. Seperti, toilet nggak ada tisunya, sabun habis, kantin kotor. Sakrias akan memberitahu cleaning service tentang hal itu. Ah, pokoknya rumit deh... Aku saja masih nggak mengerti tugas-tugas apa yang mereka harus lakukan.

Dengar-dengar dari anak-anak sakrias, salah satu guru yang paling sering dikritik itu Mr. Evan. Kritikannya selalu sama, "Kok Mr. Evan sering cuti ya?" Jujur saja ya, Mr. Evan sudah pernah cuti dari jangka waktu sehari sampai baru-baru ini sebulan. Loki selalu berpartisipasi dengan aksi anak-anak fotografi mengkritik-menyarankan-meminta-penjelasan tentang seringnya Mr. Evan cuti. Fakta yang diperjuangkan Loki mati-matian. Hampir selalu kalau ada kesempatan dia akan mengungkitnya ke divisi sakrias. Maklum saja, kalau Mr. Evan absen kan yang menggantikan dia dan divisi MPD.

Setelah laporan Loki berpindah ke tangan Erza, ia duduk di meja bersama teman-teman sedivisinya. Aku memasang kuping baik-baik. Sepertinya bagian yang penting akan dimulai.


"Okay, sekarang aku mau lihat seberapa jauh persiapan kalian." Jellal yang dari tadi sepertinya lagi bad mood akhirnya melontarkan sesuatu.

Hari ini Sabtu pertama di bulan Mei. Setelah melalui pelatihan intensif seminggu ini, rasanya jariku mau remuk semua. Aku bisa saja berada di depan piano selama lebih dari enam jam. Kurang dari satu bulan lagi Magnolia Cup akan digelar. Aku sudah nggak sabar sekaligus gugup. Apa aku bisa menampilkan yang terbaik?

Jellal menyarankan, "Mungkin Erza bisa mulai duluan?" Ya... Begitulah nasibmu kalau kau adalah Ketua OSIS. Apa-apa duluan.

Semua mata tertuju ke Erza. Dia memutar CD lagunya lalu bersiap-siap. Dan selanjutnya, aku sudah melihat semua gerakan Erza sampai habis. Bahkan, akulah yang mengomentarinya sebelum Jellal bisa memuji atau mengkritik atau bahkan berkata-kata. Padahal dia instrukturnya dan aku hanya temannya. Temannya yang sangat dekat.

Sekitar lima menitan kemudian Erza berhenti. Tepuk tangan memenuhi aula. Jellal juga ikut bertepuk tangan. Erza jarang sekali merona tapi aku yakin kalau aku sedang melihat warna merah muda menghiasi wajahnya. Hampir sewarna dengan rambut merah indahnya.

"Oww," Levy memekik dengan antusias. "Erza memang selalu tampil keren! Kamu setuju kan?"

Aku mengangguk. "Pasti."

Setelah itu Levy mengoceh tanpa henti dengan kencang sampai-sampai aku nggak bisa mendengar giliran siapa yang tampil berikutnya. Inilah yang terjadi ketika Levy lagi 'depresi' berat. Seakan-akan besok nggak ada waktu lagi buat bicara. Seminggu ini aku hanya bertemu dengannya waktu di kamar asrama.

Bisa dibilang kamar asramaku belakangan ini kosong-melompong. Mira sibuk dengan Ms. Claudia, Levy dengan band-nya, aku dengan piano tua di ruang musik serta Ms. Elise, dan Erza dengan CD player di studio dance.

Musiknya sudah mulai. Sepertinya Jellal menaikkan volume speaker-nya. Rasanya tadi saat giliran Erza suaranya tidak sekencang ini. Siapa ya kira-kira? Aku duduk di bagian agak belakang jadi nggak bisa lihat jelas. Mungkin aku seharusnya mulai menggunakan kaca mata. Atau membawa teropong. Tidak, tidak. Pasti akan kelihatan aneh.

Dan aku nggak tahu kenapa tiba-tiba Loki yang duduk di sebelah kiriku ikut-ikutan ngobrol dengan Levy yang duduk di sebelah kananku. What the hell? Aku terjebak di antara percakapan orang yang hari ini cerewet banget. Mereka berdua berbicara sangat keras sampai-sampai menenggelamkan musiknya—padahal volume-nya sudah keras sekali. Sial

"Would you please SHUT UP? Aku nggak bisa konsentrasi nontonnya," protesku. Seketika mereka berdua diam dan memperhatikan si penari yang lagi mengerahkan tariannya di depan.

"OMG! Itu kan Gray!" Levy menjerit tepat di telingaku. Rupanya dia memang benar-benar tertekan.

Tapi berkat ucapan Levy, aku jadi sadar kalau penari yang sedang memukau seisi aula termasuk Jellal yang sampai kelihatan speechless itu Gray.

Sepanjang alunan musik sepertinya Gray selalu menatapku. Aku bisa merasakan rona merah merambat naik ke pipiku. Siapa sih yang nggak bakalan leleh kalau diliatin orang seganteng dia? pikirku. Oh, tidak, tidak. Aku harus mengingat-ingat kalau sekarang aku dan Gray sedang 'bertengkar'. Lupakan dia sekarang.

Hei, tapi mungkin sebaiknya aku mencoba mendengarkan alat pemutar musik yang minggu lalu dia berikan padaku. Mungkin seharusnya aku nggak sekejam itu.

Setelah giliran Gray, Natsu maju ke depan dan menampilkan koreografinya. Aku sama sekali nggak fokus. Ya... memang setelah Jellal mengumumkan tentang Magnolia Cup aku berusaha untuk mengesampingkan perasaanku pada Natsu, atau kalau mungkin bahkan melupakannya. Menjadi hanya sekedar teman mungkin tidak seburuk itu. Apalagi katanya Natsu menyukai cewek lain. Aku bertanya-tanya siapa perempuan beruntung itu?

Operasi-Melupakan-Natsu terbukti cukup sukses. Belakangan ini aku jadi lebih santai sedikit. Rupanya Magnolia Cup ini bisa menyembuhkan sakit hati. Aku menghabiskan hari-hariku di depan piano untuk berlatih, berlatih, dan berlatih. Aku tahu seharusnya aku nggak boleh patah semangat sebelum aku menyatakan perasaanku. Setidaknya aku mencoba dulu.

Tapi bagaimana kalau Natsu memang menyukai cewek lain? Aku tak pernah mengalami penolakan dan aku sama sekali tak tahu rasanya bagaimana. Aku terlalu takut untuk tenggelam dalam luka yang menyakitkan. Luka yang menganga sulit untuk sembuh. Saat itulah aku tahu sebaiknya aku mundur. Aku tidak keberatan memanggil diriku sendiri pengecut, kalau memang itu bisa menjauhkanku dari sayatan di hati.

Rasanya ingin nangis saja. Air mata sudah mulai menggenang pelupuk mataku. Aku harus bisa menahannya. Dulu sewaktu orangtuaku meninggal akibat kecelakaan, aku masih punya bahu Gray. Aku ingat dulu aku membasahi kausnya. Aku ingat dulu dia membelikanku es krim pada hari pemakaman orangtuaku untuk menghiburku. Usaha itu gagal, tapi aku tetap menghargainya. Aku ingat setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya di hari itu. Aku ingat... Oh sial! Kenapa aku malah memikirkannya lagi! Masa-masa es krim stroberi yang indah telah berakhir.

TO BE CONTINUED


thanks buat semua yang udah baca chapter ini sampai habis \(^_^)/

don't forget to review please~!