Hahaha cieeee,, author selesain part 4nya heheh :$

Langsung aja deh yahhh, jangan lupa RLCnya otee…

.

.

Aku tidak tahan mendengar isakan tertahan dari V sekarang, akhirnya ku rengkuh tubuhnya yang bergetar hebat, "Aku tidak memarahimu V? Jangan menangis lagi eoh? Sekarang ceritakan!" ujarku sambil mengangkat tubuh yang tertunduk lesu itu.

"Hikss..hiksss.. hikss mianhe? Aku bukan bermaksud menyembunyikan ini darimu hanya saja aku sudah terlalu banyak menumpuk kesedihanku padamu cookie" ucapan yeoja didepanku ini sungguh membuatku sebal.

"Aku ini siapamu?" tanyaku datar

"sahabat" gumamnya

"pernahkah kau mendengar sahabat yang memperhitungkan kesedihan seorang sahabatnya yang selalu mendengarkan ocehan tak penting darinya?" tanyaku datar, kulihat sekarang dia mulai menampakkan wajah bingungnya dan sambil menghapus jejak-jejak air matanya.

"kenapa eoh?" aku berusaha mulai tersenyum lembut padanya

"Aku hanya bingung" ucapnya datar.

"Apa yang kau bingungkan V, katakana saja, curahkan padaku. Kau mulai kecewa dengan oppamu itu?"

"Bukan kecewa, hanya saja aku merasa bodoh pernah mengungkapkan isi hatiku kepadanya, walaupun dia juga mengungkapkan tapi, bagaimana bisa sekarang seperti ini? Kenyataan bahwa dia dan Dara hikss….hiksss.. hikkss…" suara itu lagi, jangan menangis V, ayolah kau kuat…

"Aku tau itu, maafkan aku ne. dan sekarang berhentilah menangis, kau akan terlihat bodoh jika kau bertemu dengannya, kau tau. Kau cantik V, tidak ada yang bisa menolakmu, dan soal namja sok cool itu. Dia hanya bodoh atau mungkin buta dan tidak melihat ketulusanmu." Aku mencoba mencairkan suasana agar V bisa seperti dulu…

"lalu bagaimana dengan Rapmo yang dulu juga meninggalkanku, padahala jelas kami sudah lama berpacara." Tanyanya datar, dan pertanyaan itu sukses membuatku terdiam-

Hening

Hening

Hening

Hening

V masih terdiam seakan menungguku menjawab.

Dan setelah akhirnya cukup lama berdia dan kelas mulai ramai V menghapus jejak bening berharga yang terbuang percua dari matanya. Dan menatapku, aku tau apa maksudnya "Dia, dia hanya tak pantas untukmu" kurasa itu cukup membuat V tenang karena sekarang dia tengah tersenyum. Aku rindu kau V, sungguh senyummu itu lebih dari apapun…

V POV

Bel istirahat….

"Ayo kekantin, kau pasti belum sarapan karena tadi pagi kauberangkat sangat pagi sebelum ibumu menyelesaikan masakannya kan?" Cookie mangajakku kekantin, dia memang selalu tahu apa yang kualami…

Aku hanya tersenyum seadanya karena jujur aku masih memikirkan semua kejadian dalam beberapa hari ini yang cukup menceloskan hatiku "Kajja, kau emang selalu megerti" aku menggait tangan Cookie dan menariknya keluar kelas..

.

.

.

.

.

Saat dikantin aku sungguh tidka bernafsu makan, dan akhirnya sandwhich pun tidak habis ku makan ,dan sekarang hanya ada sekaleng susu yang kupegang. Aku berdiri ditepi pagar pembatas dilantai dua depan keasku sendiri dan menopang tanganku ditembok pagar itu. Saat melihat kesalah satu sudut lapangan basket, bisa kulihat GD dan Dara sedang memakan bekal bersama 'Ck… bodoh' hanya itu yang dapat ku gumamkan. Aku dalam masa percobaan melupakannya, akhirnya kualihkan padangan ku kesudut lain dan kulihat ditengah lapangan tengah melintas Jin dan Kai yang terlihat menuju kearah terowongan dibawah kelasku, dan sepertinya mereka akan ke gedung olahraga.

.

.

.

Aku masih emperhatikan Jin, sampai dia menaiki tangga ke arah gedung olahraga yang berada ditingkat dua dan tepat bersebrangan dengan ruang kelasku, aku menoleh untuk sedikit melihat apa yang akan dia lakukan dan 'OMO, dia melihat kearahku. Kami saling bertatapan'…

"Apa yang kau lihat" sebuah suara berat yang terdengar sedikit berteriak itu menyadarkanku dari keterkuncian tatapan tajam dari namja yang bersuara berat itu –ternyata Jin-

"W-wae?" kataku tergagap. Terlihat dia tersenyum, bukan senyum tapi seperti smrik.

"Kau melihatku sejak tadi eoh?" katanya sambil masih memamerkan smriknya

"An-andweee" bantahku cepat "kau itu yang memandangiku bleee" aku mencoba menghilangkan kegugupanku dengan berlagak sok asik –oh ayolah V, kau salah-

Dia tidak menjawab dan langsung berlalu diikuti Kai yang sejak tadi hanya memandangi percakapan singkat kami. Aku membulatkan mataku dan bergumam 'Jangan-sampai-menjadi-gosip'…

"Hai" aku terlonjak dan langsung menoleh kearah seseorang yang menepuk punggungku itu.

"Kyaa!" Pletak "Kau mengagetkanku Cookieeeeeeeeeeee" aku menjitak anak ini.

"Kau kenapa seterkejut itu? Dan sedang apa kau melihat keraha gedung olahraga itu?" tanyanya

"ah tidak papa, aku hanya mendengar sepertinya para hoobae menikati permainan tenis meja mereka" jawabku seadanya

"OH benarkan? Kurasa aku mendengarmu berbicara dengan seseorang" tanyanya dengan sedikit senyum jahil –kurasa-

"An-andwee, ti-tidaakk ad—d-aaaa" yaa V kau bodoh kau tidak bisa berbohong jika cookie sudah seperti ini.

"Kau berbicara dengan Jin yaaa!" 'OMO! Aku tertengkap basah, dan siap saja dompetku akan kering untuk menutup mulut anak ini , aku tau dia akan menuntutku untuk bercerita dan ujung-ujungnya akan menguras isi dompetku…

Trrrrrrrrrrrrriiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnngggggggggggggg…..

'Akh, syukurlah aku akan mendoakan yang baik-baik untuk siapa yang menjadi piket pengawas bel hari ini, mereka penyelamatku'

"Akh bell,kajja masuk sebelum songsaenim mendahului kita" aku tersenyum agak canggung sambil menarik tangan cookie, dan aku tau tampang cookie sangat menyebalkan saat ini,,,,,,

JIN POV

'Kyeoptaaa~'

Aku terus saja membayangkan senyuman manis sunbaeku tadi, sebenarnya aku tau dia gugup dan aku senang melihat tampangnnya itu, dan jujur dia terlihat manis saat gugup…

"Kau pasti memikirkan sunbae manis itukan?" aku sedikit terlonjak tapi tidak juga kaget, karena sebenarnya aku dari tadi duduk bersebelahan dengan Kai, hanya saja aku asik dengan fabtasi dan sunbae itu.

"hahaha, siapa maksudmu" aku lebih baik terlihat bodoh seperti ini dari pada harus endapatkan bencana

"Aku tahu kau menyukai KIM TAEHYIN sejak awal" Kai bodoh dasar bodoh tak bisakah menjaga mulutnya itu, aku spontan menutup mulutnya karena dia terlalu member tekanan pada nama sunbaeku yang sejak tadi memang ku bayangkan dan mau tidak mau aku harus jujur kepda anak ini.

"Kyaaaaa, bisakah kau menjaga sikap dan bicaramu, kau taukan posisiku" aku memekik sebisa mungkin tak membuat keributan. Aku tau mau mencuri perhatian siswa lain yang sedang asik dengan dunianya sendri karena sepertinya kelas kami mendapat jam kosong secara Cuma-Cuma dijam terakhir ini.

.

.

.

.

Kalian tau sejak tadi aku menutup telingan dengan menggunakan Headphone untuk menjaga telinga ini dari serangan rengekan Kai yang entah terdengar seperti rengekan atau ancaman…. Aku menyerah dan akhirnya…

"Kajja" kataku kepada kai sambil menggait tasku kepunggung dan menariknya keluar kelas.

Ya memang belum waktunya pulang, tapi tidak ada gunanya juga aku terus menunggu disini, karena tidak ada hal bagus untuk dikerjakan lebih baik mendiamkan mulut luas kai itu lebih penting….

.

.

Setelah melewati beberapa blok dan memberi kabar kepada Tiffany bahwa aku tidak bisa pulang bersamanya ,aku dan kai sudah sampai disebuah coffe shop yang menjadi tempat favoritku. Aku dan Kai memesan apa yang ingin kami pesan dan setelah itu aku masih berdiam saja, belum berniat menjelaskan apapun kemulut LUAS yang ada didepanku ini. Sampai akhirnya sang empunya memulai…..

"Jadi, bagaimana dengan Tiffany dan tentang Taehyin?" ucapny, terdengar sedikit ragu, agak gusar dan aku mengerti…..

"Aku dan Tiffany akan selalu baik-baik saja , karena mengingat ini sudah hampir tahun kedua aku berpacaran dengannya dan aku menyayanginya, dan Taehyin sunbae manis itu, dia adalah temanku sewaktu kecil Appa dan eommanya adalah sahabat dari Appa dan eommaku tapi sewaktu kami TK dia pindah rumah ke Seoul dan aku masih di Chongdamdong. Dan saat dia pindah aku tidak dirumah aku sedang sekolag dan dia tidak berpamitan. Dan mulai dari situ kami tidak pernah bertemu lagi, dan sekarang bertemu dan kau tahu, dia lupa denganku. Aku harus berusaha untuk membantunya mengingatku." Aku menjelaskan sebisaku agar anak ini mengerti…

Kurasa aku kembali mencintainya , "Taetae"….

"Benarkah dia hanya temanmu? Tidak lebih? Aku melihat aura matamu dan air mukamu berubah ketika kau tau dia sempat melupakanmu" kenapa anak ini begitu mengintrogasi ! jujur aku frustasi menghadapi kai sekarang….

"Kau harus berjanji menjaga ini" ucapku datar dan dihadiahi anggukan semangat lelaki berkulit Tan didepanku ini..

"Ya, aku mencintainya dulu. Kurasa perasaan kamu sama, karena eomma ku mengatakan sewaktu dia pindah dan tidak melihatku dirumah dia menangis, dan butuh waktu lama agar dia berhenti menangis selama perjalanan. Dan entahlah setelah kepindahannya eommanya juga tidak menelpon kerumah dan eommaku jga tidak pernah menelpon mereka lagi aku juga bingung, setiap aku mengatakan ingin bicara dengan taetae noona, eomma selalu menjawab nanti saja noonamu lagi belajar atau mengatakan noonamu mungkin sedang istirahat, dan aku hanya menurut dan sampai suatu ketika eommaku bertemu dengan eommanya disebuah Mall, dan berbincang banyak dan ternyata anak mereka satu sekolah lagi dan setelah pulang dari sekolah eomma ku menanyakan padaku tentang yeoja yang bertanya Kim Taehyin dan eommaku bilang dia sunbaeku, aku tidak melupakannya hanya saja waktu itu aku tidak sadar apa yang eommaku katakan dan saat aku menabraknya dikantin itulah yang membuatku sadar 'dia yang selama ini aku cari'…"

"Wow…. Kurasa ceritamu pantas dibuat novel walaupu terdengar pasaran karena sudah ada beberapa film yang bercerita seperti itu hahaha…" 'ck ,,, namja ini benar-benar terbakar' gumamku sambil menatap dingin namja yang barusan saja entah meledek atau memuji..

"aku harap kau tak memberitahu siapa pun dan jangan sampai Tiffany tau" kurasa itu kalimat terakhirku sampai namja itu mengangguk dan kami keluar dari Coffe shop dan pulang kerumah masing-masing.

.

.

.

.

V POV

"Hwwaahh.. lelahnya tugas-tugas ini membuatku gila" aku baru saja pulang dari sekolah lalu ketoko buku, ke perpustakaan pusat, dan kerumah cookie untuk mengerjakan tugas dan tentu saja makan dirumah cookie, kalian tau masakan eommanya cookie sangat enak, apa lagi strawberry cakenya ,enak sekali. Bahkan lebih enak dari buatan eommaku, yak arena eomma ku tidak pernah membuatkannya, dia lebih suka membuat kue-kue kering atau pudding atau makanan lainnya selain cake, eomma bilang membuat cake susah dan butuh kesabaran dan keahlian khusus, ya eomma ku memang begituuuu….

"hyinniiee cepat turun, makan malam sudah siap dan bersihkan dulu badanmu ne, eomma dan appa menunggu dan jangan membuat adikmu juga menunggu ne" lagi-lagi eomma berteriak memanggilku, dan aku harus cepat sebelum Appa yang berteriak.

Aku bangun dari tempat tidurku berjalan lunglai dan masuk kekamar mandi untuk membersihkan kotoran yang sdah seperti le diabadanku…

.

.

.

.

Sekarang aku sudah selesai makan malam bersama keluarga kecilku dan baru saja menyelesaikan piring terakhir yang kucuci, aku membersihkan tanganku dan menuju dapur karena melihat eommaku sedang memotong buah segar, dan aku tau itu pencuci mulut yang sempurna….

Kududukkan diriku dikursi tepat didepan eomma yang masih sibuk dengan buah-buahnya, "eomma, apa dulu aku mempunyai teman kecil bernama Jin?"

"Kau sudah berteu dengannya?" aku agak sedikit bingung dan mengernyitkan keningku

"Maksud eomma apa?" jujur aku tidak mengerti dengan eommaku ini. Dia mendengus dan menatapku..

"bukankah 2 pekan yang lalu eomma sudah menanyakan tentang seok jin padamu?" katanya sedikit kesal ,aku hanya memerengkan kepadaku tanda aku bingung

"makanya jangan memikirkan rapmo yang jahat it uterus, dengarkan eomma mu ini. Kau bahkan tidakingin pertanyaan eomma itu,"

"Yaa, eomma aku tidak pernah memikitkan namja itu lagi" aku kesal pada eomma selalu saja menyangkut-nyangkutkan nama namja menyebalkan dan brengsek itu!

"Bagaimana pertemuanmu dengan seok jin-ah, baiklah eomma ceritakan ulang yang ceritanya.. 2 pekan lalu eomma bertemu dengan eomma jin dan banyak membicarakan tentang kalian dan akhirnya eomma jin bilang kalau jin bersekolah disekolah yang sama denganmu, dan bagaimana? Apakah kau dan dia kekantin bersama ?"

Aku hanya menggeleng "aku tidak kekantin dengannya aku bahkan baru beberapa kali berbicara dengannya", mata eomma ku sontak membulat…

"Apa kau bilang? Ya tuhan V bisakah kau menghilangkan sikap tidak peduli atau apalah namanya kalian itu teman sejak kecil dan sangat akrab kenapa ketika besar seperti ini, kau tau bahkan kau menangis sejadi-jadinya ketika tidak brtemu dengan Jin untuk terakhir kalinya sebelum kita pindah…"

"Benarkah? Aku tidak ingat ,dan sungguh aku pun ingat dengannya karena dia yang membantunya eomma" ucapku polos…

"perbaiki sifatmu V, lupakan Rapmo mu, jadilah seperti dulu.. eomma tau kau merindukan Jinmu…" eomma berlalu dan aku masih bingung dengan kata-kata eomma ku dan jujur sebenarnya aku tidak mengerti kenapa bisa aku melupakan kenangan bersama jin, hanya sedikit demi sedikit yang bisa ku ingat…

.

.

.

Drrtttdrttt –suara ponsel ku

'Jin' gumamku

Ya dia mengirim pesan lewat akun chatnya..

Dan aku sungguh berhasil gila dibuatnya, ada rasa aneh di dadaku yang sepertinya pernah aku rasakan dulu, perutku seperti ada ombak yang menghantam…