Author note di bawah; tolong dibaca
Naruto tidak tahu berapa lama Ia tertidur. Satu hal yang pasti, Ia bangun bukan dengan kemauannya sendiri.
Naruto menatap gadis di hadapannya. Great Red masih menggunakan baju yang sama, putih dengan tulisan 'Kau Mati Saat Kau di Bunuh' terpampang jelas di depannya. Naruto yakin seratus persen gadis ini tidak tau apa namanya mandi, atau menyikat rambut. Tapi dari jarak mereka yang cukup dekat ini Naruto dapat mencium bau harum yang membuat hidungnya berkedut.
Rambutnya masih terlihat begitu menarik bagi Naruto. Panjang dan bergelombang, dengan tanpa satupun bagian kusut yang terlihat. Mata Naruto terus bergerak mengikuti arah rambut merah tersebut. Matanya berhenti pada kaki putih, terlihat begitu kontras dengan lengan coklat yang berada di samp–
Tunggu dulu.
"….Kenapa kau di sini?" Naruto bertanya setelah beberapa jeda.
Sangatlah jelas Great Red sedang duduk di perut Naruto, tapi gadis itu sama sekali tidak memperdulikannya. Dari caranya duduk, punggung tegap dan dagu terpampang tinggi, Ia lebih terlihat sedang duduk di sebuah tahta dibandingkan perut sang Ninja. Sebaliknya, Naruto tidak bisa menahan darah yang mulai mengalir ke pipinya.
Baru saat inilah Naruto ingat bahwa Ia sama sekali tidak memberikan atau memasangkan celana pada Great Red. Bahkan dengan baju yang berada di antaranya, Narutio masih bisa merasakan apa yang seharusnya berada di dalam celana.
Seakan tidak melihat wajah merah Naruto –atau mungkin Ia melihatnya tapi tidak mengerti atau peduli, Great Red menggerakan tangannya untuk menunjuk perut kemudian mulut yang terbuka lebar. Bahkan tanpa penjelasan, Naruto mengerti jelas apa yang Ia maksud.
"Kau lapar?" Naruto bertanya, dijawab dengan sebuah anggukan. "Baiklah. Bisa kau menyingkir dari situ?"
Tanpa menunnggu respon, Naruto menggerakkan kedua tangannya untuk mengangkat Great Red dari perutnya dan menempatkannya di lantai. Gadis ini memiliki berat yang begitu ringan, sehingga jika Naruto tidak pernah merasakan sendiri kekuatan yang dimilikinya, Naruto tidak akan percaya Great Red adalah hal lain selain gadis lugu.
Dengan tidak adanya beban, Naruto bebas menggerakkan tubuhnya. Dengan satu gerakan terlatih Ia mengangkat tubuhnya turun dari kasur, dilanjutkan dengan melakukan beberapa gerakan untuk meregangkan tubuhnya. Merasakan setiap otot kakunya bergerak, Naruto mengeluarkan erangan puas.
Kegiatannya berhenti saat Ia melihat Great Red menatapnya dengan tatapan tajam, "Iya, iya. Akan kubelikan kau makanan." Naruto berkata.
Sebagai jawaban, Great Red mengangkat satu tangannya. Saat itulah Naruto sadar bahwa gadis itu membawa sesuatu di tanganya. Sebuah bungkus roti lebih tepatnya. Dengan satu tangan mengangkat bungkus roti tersebut dan satu lagi menunjuknya, Great Red menatap Naruto tepat dimata.
Dan tentu saja, Naruto mengerti apa maksud gestur tersebut. "Kau mau roti itu lagi?"
Great Red mengangguk cepat, wajahnya memerah dengan rambut merah yang ikut bergerak seiringan dengan anggukannya. Dia terlihat begitu senang. Pada saat Naruto melihat ekspresi tersebut, mau tidak mau Ia ikut tersenyum dan berpikir bahwa gadis ini begitu lucu dan naïf.
"OK. Kau tunggu di sini dan jangan membuat masalah, mengerti?" Anggukan lain.
Tanpa menunggu lagi, Naruto segera bergerak meninggalkan mansion setelah memastikan penampilannya cukup rapi. Sebelum pergi, Ia kembali membuat lebih dari seratus bayangan untuk melanjutkan Operasi Membersihkan.
XxXxX
Setelah membelikan roti untuk Great Red dan Ramen –yang kemungkinan besar akan dimakan tanpa diseduh karena Ia tidak memiliki alat untuk memanaskan air, Naruto bertemu Asia pada perjalanan pulangnya. Bersama gadis itu adalah seorang laki-laki, teman baru Asia, bernama Hyoudou Issei.
Issei bisa dikatakan memiliki karakter yang… menarik.
Cara bicaranya sangat antusias, terkadang diiringi dengan suara besar yang tidak sesuai dengan keadaan. Namun begitu, Issei tidak terlihat seperti anak yang tidak baik bagi Naruto, hanya sedikit mengganggu saja. Dan dilihat dari bagaimana Asia melihat dan mau berteman dengannya, Naruto yakin Issei bukanlah orang yang jahat.
Anehnya, tidak tahu kenapa, Naruto merasa Issei ingin mengatakan sesuatu padanya. Sudah beberapa kali Ia lihat pria berambut coklat itu menatapnya dan membuka mulut, lalu dengan cepat menutupnya kembali. Pada saat yang sama, mata Issei selalu melihat ke arah Asia, membuat Naruto berpikir alasannya tidak mau berbicara adalah keberadaan Asia. Maka dari itu, pada saat Asia pergi ke toilet dan hanya mereka berdua yang duduk di bangku taman, Naruto tidak heran Issei langsung membuka mulutnya.
Topik permbicaraannya benar-benar di luar dugaan Naruto.
"Jadi Naruto-san," Issei berkata, wajahnya terlihat begitu serius. Membuat Naruto memutar kepala dan menatapnya dengan serius pula, "Apa yang kau suka? Blowjob? Handjob? Atau mungkin footjob? Jujur saja, aku pribadi lebih mengarah pada boobjob. Itu sangat indah untuk dilihat, kau setuju kan?" Issei berbicara cepat dengan satu nafas.
"…Huh?" Adalah yang keluar dari mulut Naruto, otaknya masih belum selesai memproses semua yang dikatakan pria di depannya.
Issei masih belum selesai berbicara, Ia masih melanjutkan setelah mengambil nafas."Bagaimana dengan bintang pornonya? Siapa yang kau suka Naruto-san? Kalau aku sih suka Anri Okita. Wajah cantik, tubuh sexy warbayah, suaranya saja bisa bikin aku keluar. Kau setujukan Naruto-san?"
Pada saat itulah Naruto sadar bahwa Issei tidak jauh berbeda dari mentornya, Jiraiya. Keduanya sama-sama mesum. Keduanya tidak malu untuk mengatakan hal apa yang membuat mereka tertarik. Bahkan dihadapan publik, mereka tidak takut untuk mengatakan apa yang mereka mau katakan. Fakta bahwa Issei cukup tahu untuk tidak mengatakan hal seperti ini di depan Asia membuat Naruto tersenyum kecil.
Dan sebagai murid dari Pria Mesum Terhormat, Naruto mengerti apa yang harus Ia lakukan saat bertemu Pria Mesum Terhormat lain.
"Oh? Aku tidak terlalu tertarik pada foreplay. Aku orang yang langsung menuju point-nya." Naruto menjawab. Tersenyum, melihat dagu Issei menurun. "Kalau masalah bintang sih, aku suka pada Yuki Zana. Cantik, dan walaupun itu-nya tidak terlalu besar, tapi cukup menarik bagiku."
Wajah Issei terlihat begitu terkejut, dengan mulut yang terbuka dan mata yang terbelalak lebar. Dan Naruto mengerti. Mungkin sedikit, atau tidak ada, orang yang akan merespon seperti yang Naruto lakukan. Kebanyakan orang pasti membalasnya dengan tatapan jijik atau langsung tidak memperdulikannya. Untuk pertama kalinya, Ia mendapat respon positif. Dan tentu saja, hal itu membuatnya terkejut.
Tapi sepertinya Issei adalah pria yang mudah beradaptasi. Karena tidak lama kemudian, Ia menutup mulut dan membalas perkataan Naruto. "Siapa Yuki Zana? Bintang baru ya? Ini pertama kali aku mendengar bintang dengan nama itu." Ujarnya, senyuman lebar terpampang jelas di wajahnya.
Naruto mengeluarkan tawa besar, tentu saja Issei tidak tahu siapa Yuki Zana itu. Akan sangat aneh jika Ia tahu, karena Yuki Zana adalah bintang porno dari Elemental Nation. Tapi tentu saja, Naruto tidak memberi tahu Issei tentang hal itu. Melainkan, Ia memilih untuk mengganti topik.
"Ah, lupakan saja itu. Beritahu tahu aku lebih banyak tentang Anri Okita ini. Ukurannya berapa?"
Dan dengan begitu, percakapan penuh hal tidak senonoh dan membuat semua telinga pendengarnya memerahpun dimulai. Tentu saja, Naruto dan Issei tidak mengeraskan ataupun mengecilkan suara mereka. Ini mengakibatkan banyak tatapan tajam di arahkan pada mereka. Orang tua yang mendengar percakapan mereka membawa anak mereka menjauh, tidak lupa untuk memberikan umpatan dengan suara cukup besar. Namun hal ini justru membuat Naruto dan Issei tertawa dan semakin mengeraskan suara mereka.
Mereka baru berhenti saat Asia kembali dari toilet. Pada saat yang sama Naruto pamit untuk pulang, mendapat sebuah pelukan dari Issei yang memohonnya untuk tetap tinggal. Tapi tentu saja, Naruto tidak bisa tinggal, ada Naga lapar di rumahnya. Naruto tidak tahu apa yang akan dilakukan Great Red saat dia benar-benar lapar, tapi yang pasti, Naruto tidak mau menjadi bahan percobaan untuk mengetahui hal itu.
Jadi, setelah melepaskan diri dari pelukan Issei dan memberikan Asia elusan di kepala, Naruto bergerak pulang. Di tengah perjalanannya pulang, Naruto mengengingat bahwa Great Red masih belum menggunakan celana. Dan dengan helaan nafas, karena ini adalah hal yang penting, Naruto harus mencarikan sepasang celana dan celana dalam untuk gadis itu.
XxXxX
Saat Naruto sampai di tempat tinggal barunya, para bayangan sudah menyelesaikan tugas yang ia berikan. Kasur, sofa dan semua hal yang perlu dicuci telah di keluarkan dari mansion untuk dicuci dan dijemur. Sekarang, dengan tanpa perintah dari Naruto, mereka tengah melakukan pembersihan di bagian luar mansion.
Melihat itu, Naruto mengangguk puas. Ia segera masuk melewati dua pintu besar yang sedang di lap oleh beberapa bayangan. Naruto langsung bergerak menuju lantai atas, lebih tepatnya kamar yang Ia tiduri selama. Di dalamnya, Great Red masih berdiri di tempat yang saat Naruto meninggalkannya. Mata emasnya langsung beralih menatap saat Naruto masuk.
Naruto memberinya tatapan aneh, "Kau berdiri di sana dari tadi? Apa kau tidak lelah?" Ia bertanya.
Great Red memiringkan kepalanya, "Apa itu lelah?"
Dan, sekali lagi, Naruto diingatkan bahwa Great Red bukanlah seorang manusia. Tidak peduli bagaimana wujud yang Ia miliki, atau betapa miripnya Ia dengan seorang manusia, Great Red bukanlah seorang manusia. Cara berpikirnya dan apa yang Ia rasakan kemungkinan besar sangat berbeda dengan Naruto. Naruto bahkan berpikir bahwa gadis di depannya ini bukanlah wujud asli dari Great Red.
"Lupakan. Ini rotimu," Naruto berkata sembari mengulurkan sebuah roti pada gadis di depannya.
Great Red bertindak dengan cepat, Ia melangkah beberapa langkah dan mengambil roti dari tangan sang Ninja. Dengan tanpa mengatakan apa-apa lagi, Ia membuka mulut untuk memakan roti tersebut.
Naruto memukul lembut kepala berambut merah itu, "Kau tidak bisa memakannya seperti itu." Ia berkata, lalu mengambil satu roti dari kantong di tangannya. "Perhatikan."
Great Red, yang tadinya menatap Naruto dengan tajam karena menganggunya makan, langsung mengalihkan pandangannya pada roti di tangan Naruto. Tatapan seriusnya membuat Naruto tertawa.
"Ikuti gerakanku." Naruto berkata sembari meletakkan tangan kirinya pada ujung bungkus roti. Saat melihat Great Red mengikuti gerakannya, Naruto menggunakan sedikit tenaga untuk membuka bungkus roti tersebut.
Great Red mengikuti gerakan Naruto, namun bedanya, seperti seseorang yang sudah lama tidak menggunakan jari-jemarinya, Ia gagal membuka bungkus roti tersebut. Dengan dahi yang mengkerut, Ia mencoba. Lagi, lagi dan lagi. Saat percobaan keenam, gadis itu terlihat begitu frustasi. Naruto yang sedari tadi memperhatikan mengeluarkan tawa besar.
"Haha.. gunakan sedikit tenaga." Naruto memberi nasihat.
Tapi, bahkan dengan nasihat tersebut, Great Red masih gagal dalam percobaan berikutnya. Pada percobaan kesepuluh, gadis itu akhirnya berhasil membuka bungkus roti tersebut. Mulutnya tersenyum lebar dan matanya berkilau melihat roti yang keluar dari bungkusnya. Tanpa menunggu lagi, Ia segera memakan roti tersebut.
Sekali lagi tertawa, Naruto juga memakan roti di tangannya. Namun, roti itu hilang dari tangan Naruto tepat sebelum masuk ke mulutnya. Dahi berkerut, Naruto menatap Great Red yang tengah menikmati rotinya dengan tangan lain memegang roti miliki Naruto.
"Hei, jangan serakah begitu. Berikan rotiku." Naruto berkata.
Great Red berhenti makan, memberi satu tatapan panjang ke wajah Naruto dan membalikan tubuhnya. Memberikan punggungnya pada Naruto. Alis Naruto berkedut.
"Bahh," Ia mendesah, "Naga serakah."
XxXxX
Setelah Great Red selesai makan dan Naruto selesai memasangkan celana padanya –kejadian yang sangat memalukan dan tidak akan pernah Ia bahas lagi, Naruto mengajak Great Red turun ke lantai bawah untuk berbincang. Sekarang, karena sofa sedang dijemur, mereka duduk di depan pintu masuk yang terbuka mengahadap gerbang besar yang tengah dibersikan oleh para bayangan.
"Kekuatanmu ini sangat menarik," Great Red adalah yang pertama bicara, mengejutkan Naruto yang duduk di sebelahnya. "Aku sering melihat Wizard dan Sorcerer menggunakan Ilusi. Tapi tidak sepertimu. Ilusimu bahkan bisa mempengaruhi dunia di sekelilingmu."
Naruto tahu yang dimaksud Great Red adalah para bayangan yang sibuk di depan mereka. Ia menggelengkan kepala, "Mereka bukan Ilusi, mereka bayangan hasil Jutsu milikku."
"Oh? Jutsu kau bilang? Menarik." Great Red memutar kepala menghadap Naruto, "Lalu, bagaimana kau melakukannya?" tanyanya.
"Melakukannya? Apa maksudmu melakukannya?" Naruto menggaruk kepala, "Tinggal alirkan Chakra, gunakan Hand-seal dan poof! Selesai."
Great Red menatap Naruto dengan tidak berkedip dan Naruto menatapnya balik dengan satu alis terangkat, keduanya tidak mengatakan apa-apa. Kemudian, untuk pertama kalinya, Great Red mengeluarkan tawa.
Kepalanya sedikit di tarik ke belakang, mata emasnya setengah tertutup dan mulut yang seharusnya mengeluarkan suara tawa tersebut sedikit terbuka. Ditambah dengan suara yang, oh, begitu merdu, mau tidak mau Naruto harus mengakui bahwa Ia terlihat sangat mempesona. Mata birunya tidak bisa dialihkan dari wujud Great Red yang sedang tertawa.
Beberapa saat kemudian, saat Great Red sudah berhenti tertawa, barulah Naruto sadar bahwa Ia dengan tanpa malu masih menatap wajah sang Naga. Dengan wajah sedikit memerah, Naruto segera memalingkan wajahnya.
"Wizard akan sangat membenci dirimu."
Mendengar kata 'benci', Naruto langsung kembali menatap gadis di sampingnya. "Apa maksudmu benci? Dan siapa 'Wizard' ini?"
Tapi Great Red tidak terlihat ingin menjawab pertanyaan dari Naruto. Gadis itu telah memutar kembali wajahnya untuk kembali menghadap ke depan, menghindari tatapan penuh tanya Naruto. Saat beberapa detik kemudian Great Red masih tidak menjawab pertanyaannya, Naruto tahu gadis ini tidak akan menjawab pertanyaan tersebut.
Kata 'benci' yang diucapkan Great Red sangat menganggu Naruto. Karena 'benci' biasanya berhubungan dengan 'musuh' dan musuh biasanya berhubungan dengan 'masalah'. Naruto tidak tahu apa atau siapa 'Wizard' yang dimaksud oleh Great Red, tapi jika yang dikatakan oleh gadis ini adalah benar, dan 'Wizard' akan membencinya hanya karena bagaimana Ia menggunakan Justunya, ini akan menjadi masalah bagi Naruto.
Dan masalah adalah sesuatu yang sangat ingin Naruto hindari. Sebisa mungkin Naruto tidak ingin menemui masalah selama Ia berada di Dunia ini. Karena itu, Ia harus mengetahui siapa atau apa 'Wizard' ini untuk menghindari masalah tersebut. Tapi sayangnya, sumber informasi yang saat ini Naruto miliki hanyalah Great Red. Dan sang Naga tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Naruto.
Naruto mengeluarkan nafas pasrah.
XxXxX
"Hei," Naruto berkata setelah diam sejenak. "Boleh aku bertanya sesuatu?"
Great Red tidak menjawab, tatapannya masih menghadap ke depan. Naruto melanjutkan.
"Bagaimana kau bisa tahu tentang aku? Bagaimana kau tahu aku bukan berasal dari Dunia ini?"
Ini adalah pertanyaan yang tidak sempat Ia tanyakan semalam. Dan juga, ini adalah pertanyaan paling penting untuk kehidupan Naruto kedepannya. Karena secara logika, jika Great Red bisa tahu tentang dirinya, maka orang atau makhluk lain juga bisa mengetahuinya. Walaupun Naruto tidak tahu alasan Great Red menemuinya, setidaknya Ia yakin, dari tingkah laku sang Naga, Ia tidak membawa masalah untuk Naruto.
Hal yang sama tidak bisa dikatakan tentang orang atau makhluk lain.
"Kita bertemu saat kau menuju Dunia ini." Lalu, seperti mengerti kekhawatiran Naruto, Great Red melanjutkan. "Hanya aku yang kau temui."
Mendengar itu, Naruto menghembuskan nafas lega. Tentu saja, Ia tidak bisa percaya penuh pada perkataan Great Red. Ia masih harus mempersiapkan diri untuk sesuatu yang tidak terduga, tapi setidaknya apa yang dikatakan Great Red bisa memberinya sedikit ketenangan.
Pertanyaan lain muncul dipikiran Naruto.
"Tunggu dulu, menuju?" Naruto melebarkan matanya terkejut saat realisasi masuk ke otaknya. "Katakan padaku, apa ada jalan menuju Dunia lain?"
Great Red menolak untuk menjawab. Emosi Naruto meningkat. Dengan cepat Ia menggenggam kedua pundak gadis itu dan memutar tubuhnya, memaksa wajah mereka untuk saling bertemu.
"Jawab aku Great Red, apa ada jalan kembali ke Duniaku?" Naruto bertanya dengan suara yang makin meningkat volume. Matanya menatap tajam sang Naga. Tangannya bergerak mengguncang gadis yang masih menolak untuk menjawab itu. "Jawab aku, Great Red! Jawab aku!"
Jika dipikirkan untuk sejenak, sangatlah mudah untuk mengerti mengapa Naruto naik emosinya. Perlu diingat, selama ini Naruto berpikir bahwa Ia tidak memiliki cara untuk kembali pulang ke Dunianya. Dan sekarang, mengetahui bahwa terdapat jalan yang memungkinkannya untuk pulang. Tapi satu-satunya orang yang tahu jalan tersebut menolak untuk bicara, tentu saja ini membuatnya emosi. Akan sangat aneh jika Naruto tidak emosi.
Great Red masih tidak menjawab, Naruto memberikan kekuatan lebih pada kedua tangannya yang meremas bahu sang Naga. "Jawab aku! Aku tidak peduli berguna atau tidak, beri aku jawaban Great Red!" Teriaknya.
Great Red tetap diam, mata emas tanpa emosinya menatap mata biru Naruto. Wajah mereka begitu berdekatan sehingga Naruto dapat merasakan dan mencium nafas yang di keluarkan Great Red. Saat itulah Naruto sadar bahwa Ia sudah terbawa emosi.
Tangan yang genggamannya dapat menghancurkan baja namun tidak dapat melakukan apa-apa pada tubuh kecil Great Red segera Naruto lepaskan. Ia mengambil tiga langkah mundur dan membungkukkan kepalanya.
"Maafkan aku," Naruto berkata, suaranya kembali seperti biasanya. "Maafkan aku. A-aku han–"
Dua tangan putih dengan jemari lentik menangkup wajahnya. Dengan perlahan, kedua tangan itu mengangkat wajahnya. Emas dan biru kembali bertemu.
"Aku mengerti."Great Red tersenyum.
Itu adalah senyum terindah yang pernah Naruto lihat.
XxXxX
Beberapa saat kemudian, saat mereka telah kembali duduk bahu bertemu bahu, Naruto bertanya.
"Hei, kau bilang kita hanya bertemu sekali. Pertemuan yang tidak aku ingat pula." Naruto memulai, "Lalu, kenapa kau mau menemui aku?" Tanyanya.
Naruto menunggu beberapa saat dan ketika masih tidak ada suara di kepalanya, Ia melirik ke sampingnya. Great Red menghadapkan wajahnya ke depan, sehingga hanya wajah bagian sampingnya yang bisa Naruto lihat. Hari telah menjelang malam, cahaya matahari yang tersisa menyinari wajah tersebut. Memberinya kilau yang membuatnya semakin mempesona.
Naruto mulai berpikir, kenapa Great Red selalu terlihat luar biasa? Tidak peduli apa yang Ia lakukan, Ia selalu terlihat cantik. Dunia seperti membantu Great Red untuk terlihat cantik, baik itu dengan pengaturan arah cahaya bulan atau matahari. Bahkan debu membantunya terlihat luar biasa. Ini adalah fenomena yang sangat membingungkan Naruto. Tapi kemudian, Ia menggelengkan kepala, mengusir pikiran tidak jelasnya dan kembali fokus pada Great Red.
Saat itulah Naruto sadar bahwa pipi Great Red bersemu merah, matanya melirik Naruto kemudian menatap arah lain. Mata emas itu sebisa mungkin tidak mau menemui mata milik Naruto. Dengan itu Naruto mengerti.
"Jangan bilang, itu karena kau tidak tahu mau kemana?" Great Red masih tidak menemui mata Naruto, "Pfftt, HAHA..."
Ia mencoba untuk menahan tawa, namun tawa tersebut keluar dengan sendirinya. Tawa Naruto begitu besar, menyebabkan wajah Great Red makin memerah. Wajah memerah itu makin membuat tawa Naruto mengeras.
"Ak-aku tidak percaya ini," Naruto berkata di sela tawaannya, "Yang terkuat diantara Naga, tidak punya tempat tinggal! Ha–UGH"
Tawa Naruto berhenti tiba-tiba saat Great Red memukulnya tepat di perut. Seakan Ia tidak puas, Great Red kembali memukul Naruto. Lantai pijakan kaki Naruto hancur –efek dari usaha Naruto agar tidak terlembar ke belakang.
"AH, iya iya aku berhenti." Naruto mengelap air mata yang keluar di ujung matanya, "Kenapa setiap wanita yang aku temui kasar semua? Dulu Sakura, sekarang kau." Ia bergumam.
Tapi jelas Great Red tidak mendengarkan dari Naruto. Matanya berfokus pada lantai yang hancur di bawah kaki Naruto. Sang Ninja mengarahkan pandangannya ke bawah, lalu kembali menatap Great Red dan tersenyum.
"Jangan dipikirkan, aku akan pikirkan cara untuk memperbaikinya." Ujarnya sembari mengibaskan tangan.
Great Red menatap Naruto lalu mulai berjalan keluar gerbang mansion.
"Ikut aku."
Naruto memandang punggung gadis itu dengan aneh. Lalu setelah mengangkat bahu, mulai bergerak mengikuti langkah sang Naga.
XxXxX
Mereka sudah berada berada cukup jauh dari mansion, namun Great Red masih tetap berjalan. Memaksa Naruto untuk tetap mengikutinya. Tentu saja, bukan Naruto namanya jika Ia tidak berbicara.
"Hei, aku tidak tahu kau sadar atau tidak, tapi Great Red sangat susah untuk diucapkan. Setidaknya bagiku," Ujar Naruto, "Bagaimana kalau kau kupanggil dengan nama lain. Hm… Akano mungkin?"
Great Red tetap diam dan Naruto menganggapnya sebagai konfirmasi, "Oke, mulai sekarang aku akan memanggilmu Akano. Setuju, Akano?"
Great kembali tidak menjawab, Naruto mengangguk puas dan kembali diam.
XxXxX
Saat bulan telah berada tinggi di langit dan mereka masih berjalan menuju pedalaman hutan, Naruto kembali berbicara.
"Oh ya Grea–maksudku Akano. Bisa tidak kau bicara sepertiku? Dari mulut maksudku. Seperti manusia, lebih tepatnya." Naruto berkata, "Caramu bicara membukan bergidik ngeri. Seperti hantu yang sedang bicara." Tambahnya.
Akano akhirnya berhenti berjalan dan Naruto, sepuluh meter di belakangnya, ikut menghentikan langkahnya. Gadis itu memutar tubuh untuk bertatapan dengan Naruto.
"Ma… mak… makssss…maksudm-mu seperti ini?"
Suara keluar dari mulut Akano yang terbuka, awalnya kata tidak bersebut dengan benar. Lalu bagaikan mesin yang penuh akan karatan dan baru diberi dengan oli, kata perlahan mulai tersebut dengan sedikit hambatan hingga akhirnya Ia dapat bicara dengan benar. Dan seperti saat Ia berbicara dengan menggunakan telepati, atau apalah namanya, suara yang Ia keluarkan masih terdengar sama merdunya.
Naruto tidak tahu bagaimana tubuh Akano dapat bekerja, tapi sangatlah hebat untuknya bisa meniru bagaimana manusia berbicara hanya dalam beberapa detik. Ini membuat Naruto berdecak kagum.
"Ya benar, seperti itu."
Naruto kemudian mulai melihat sekelilingnya. Meraka sekarang berada di tengah hutan. Pohon tinggi dengan daun lebat tidak dapat menghalangi cahaya bulan, memberikan pencahayaan yang cukup bagus. Suara berbagai macam serangga dan hewan terdengar di telinganya.
"Jadi," Naruto bertanya, "Kenapa kau membawaku ke sini?"
Sebagai jawaban, Akano mengangkat kedua tangannya. Jemari terkepal dalam sebuah tinju.
Ekspresi wajah Naruto berubah, Ia mengerti betul maksud dari gestur tersebut.
"Lawan aku."
Sebagai Informasi;
1; Great Red(Akano); Sudah jelas kalau dia bukan manusia, atau iblis atau malaikat. Dipikiran saya, Great Red punya cara pikir sendiri. Cara hidup sendiri. Dia sangat berbeda dari manusia, iblis atau malaikat. Dia tidak pernah butuh pakaian, jadi untuk apa pakaian? Dia tidak pernah membuka bungkus roti, jadi bagaimana caranya? Perbedaan pemikiran seperti ini akan terus saya explore.
2; Wizard/Sorcerer; Penggunaan bahasa Inggris yang di sengaja. Dalam bahasa Indonesia arti keduanya, pada dasarnya, 'Penyihir'. Kata itu tidak sesuai dengan yang saya inginkan. Sebagai pengandaian, saya ingin membuat dunia fic saya seperti RPG. Jadi Wizard/Sorcerer adalah 'Pekerjaan/Job' yang berbeda. Kedepannya, kata seperti Gunslinger/Knight/Guardian/Death, kata yang lebih deskritif dan sesuai dibanding bahasa Indonesia-nya, akan terus bermunculan.
3; Plot; Di awal, akan mengikuti plot original dengan perubahan yang akan semakin jelas nantinya. Karakter dari series lain akan terus bermunculan. Dibandingkan mengatakan ini adalah 'Naruto/DxD Crossover, lebih baik mengatakan bahwa ini adalah 'Super-Mega-Giga-Crossover' dengan Naruto sebagai protagonisnya.
4; Naruto; OP as hell. Dia tidak akan kalah jika dibandingkan dengan Ophis, Great Red atau Sirzech. Fic ini akan lebih berfokus pada karakter Naruto itu sendiri, dibandingkan dengan 'kekuatan'.
